Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

5 menit baca
SITI KHOLIFAH DWI RAMDANI
Ditulis oleh SITI KHOLIFAH DWI RAMDANI diterbitkan
Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)

Dimbil dari sumber Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat 2021, dijelaskan bahwa Wayang wong merupakan salah satu pertunjukkan kesenian teater tradisional dari Jawa, berasal dari gabungan antara seni drama yang berkembang di Barat dengan pertunjukkan wayang yang tumbuh dan berkembang di Jawa. Berbeda dengan wayang kulit yang menggunakan boneka untuk pertunjukannya, wayang wong menggunakan manusia untuk pertunjukannya. Wayang wong merupakan kesenian unik yang di mana pertunjukkannya tidak terlepas dari elemen penting seperti gerakan tari klasik, iringan gamelan yang harmonis, tembang, serta dialog yang dramatis dan penuh dengan penghayatan.

Cerita yang dipentaskan oleh wayang wong dan wayang kulit diambil dari cerita Mahabharata, Ramayana, Arjunasasrabau, serta mitologi Jawa seperti lakon Murwakala dan Sri Temurun yang banyak mengandung pesan moral. Cerita-cerita yang dibawakan dikemas dengan menarik. Wayang wong juga memiliki beberapa versi, contohnya seperti wayang wong gaya Surakarta, wayang wong Priangan, wayang wong Bali, dan wayang wong gaya Yogyakarta. Setiap wayang wong memiliki ciri khas nya masing masing, seperti wayang wong gaya Yogyakarta memiliki ciri khas dengan dialog antar tokoh mirip dengan pertunjukkan drama biasa, tetapi memiliki intonasi yang khas yang membedakannya dengan pertunjukkan wayang wong yang lain.

Dijelaskan pula oleh Indonesia Kaya 2020, Wayang wong tercantum dengan istilah “wayang wwang” yang dimana wayang memiliki arti bayangan, dan wwang berarti manusia seperti yang tercantum pada Prasasti Wimalasmara pada 930 Masehi dan Prasasti Balitung 907 Masehi. Ini merupakan bukti bahwa kesenian wayang wong sudah ada sejak zaman Mataram Kuno. Kesenian ini sempat terlupakan, akan tetapi ketika kerajaan Mataram Islam dibagi menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta pada tahun 1755, wayang wong kembali dilestarikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I (1755–1792) bersama dengan Mangkunegara I dari Pura Mangkunegara Surakarta merupakan tokoh yang berperan dalam mengubah dan menciptakan ulang kesenian tersebut (Soedarsono, 1989/1990; Kuswarsantyo, 2018).

Kesenian wayang wong pertama diselenggarakan pada abad ke-18 di lingkungan keraton Yogyakarta, dan hanya dipentaskan untuk acara ritual keraton seperti ulang tahun penobatan serta pernikahan anak sultan, pertunjukan wayang wong ini hanya dapat dinikmati oleh para bangsawan. Pertunjukkan pertama wayang wong mengangkat lakon Gandawardaya, sebuah cabang cerita dari kisah Mahabharata dengan menggunakan pola pertunjukkan seperti wayang kulit. wayang wong mulai mengalami banyak perubahan serta perkembangan, dari yang sebelumnya hanya digelar di dalam keraton untuk para bangsawan, kini menjadi pertunjukkan yang sudah dapat dinikmati masyarakat luas termasuk para wisatawan.

Dalam perspektif pariwisata menurut (Agustina, 2018) wayang wong gaya Yogyakarta memiliki peluang karena pertunjukannya memiliki ciri khas yang mencerminkan keluhuran budaya Jawa yang berasal dari keraton. Di sisi lain, kajian budaya masyarakat juga memanfaatkan wayang wong gaya Yogyakarta ini menjadi sebuah atraksi budaya. Masyarakat dalam penelitiannya adalah sekelompok atau sebuah paguyuban tari yang mengajarkan tarian-tarian klasik. Para pemain wayang wong adalah penari karakter yang memiliki kemahiran tinggi dalam memainkan tarian klasik dan menguasai dialog-dialog prosa liris dalam bahasa Jawa.

Wayang Wong Ramayana (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Wayang Wong Ramayana (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)

Pada pertunjukkan wayang wong, para pemeran memakai kostum serta riasan wajah yang khas seperti wayang kulit. Seperti yang dijelaskan pada Kompas.com (2024), kostum serta riasan wajah yang dipakai oleh para pemeran juga disesuaikan dengan karakter yang mereka mainkan, masing-masing memiliki ciri khasnya mulai dari bentuk mahkota, aksesoris, senjata, hingga riasan mata dan elemen lainnya. Wayang wong bukan hanya pertunjukkan kesenian biasa, di dalam pertunjukannya wayang wong juga mencerminkan nilai-nilai tata krama, etika, dan sopan santun.

Dalam menjaga daya tariknya di era modern, wayang wong terus mengalami inovasi dan modernisasi. Proses ini bertujuan untuk menarik minat generasi muda dan para audiens untuk mempertahankan esensi dan nilai-nilai budayanya. Wayang wong merupakan pertunjukan unik, yang memiliki banyak sekali nilai budayanya, maka dari itu kita harus terus selalu menjaga kelestariannya agar kesenian ini tidak hilang termakan zaman dan dapat dinikmati oleh generasi-generasi penerus selanjutnya.

Wayang wong bukan hanya sekadar pertunjukkan seni tradisional saja, tetapi juga mencerminkan perubahan sosial dan dan budaya di kalangan Masyarakat Jawa. Dulu, kesenian ini hanya dapat dinikmati oleh kalangan keraton saja, tetapi sekarang pertunjukkan ini sudah dapat dinikmati oleh Masyarakat umum. Perubahan ini menunjukkan bahwa budaya mulai lebih terbuka dan tidak terbatas lagi untuk kelompok tertentu saja.

Selain itu, perembangan wayang wong juga dipengaruhi oleh dunia pariwisata. Pertunjukkan ini sekarang sering dijadikan sebagai hiburan untuk menarik para wisatawan. Di sisi lain, ada risiko nilai-nilai asli yang terkandung di dalamnya jadi berkurang karena menyesuaikan dengan selera penonton.

Di zaman sekarang, inovasi juga memang penting agar pertunjukka tradisional seperti wayang wong ini tetap menarik, terutama bagi generasi-generasi muda. Namun, perubahan tersebut juga perlu diperhatikan dengan baik agar tidak menghilangkan ciri khas dan makna budaya yang ada di dalamnya. Jadi, ada tantang untuk menjaga keseimbangan antara mempertahankan tradisi dengan mengikuti perkembangan zaman.

Wayang wong merupakan pertunjukkan seni tradisional unik, sebuah pertunjukkan teater klasik yang berasal dari Jawa yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Sebuah pertunjukkan yang awalnya hanya dapat dipentaskan di lingkungan keraton hingga sekarang sudah dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Perubahan ini menunjukkan bahwa budaya bisa beradaprasi dengan perkembangan zaman. Dari pembahasan, terlihat bahwa wayang wong membawa dua dampak.

Di sisi lain kesenian ini menjadi lebih dikenal dan tetap dapat hidup karena adanya sebuah inovasi. Tapi di sisi lain, ada tantangan juga untuk menjaga nilai-nilai tradisionalnya agar tidak hilang. Masalah yang terletak pada wayang wong adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara melestarikan budaya dengan mengikuti perkembangan zaman. Oleh karena itu, pelestarian wayang wong tidak hanya soal mempertahankan pertunjukkannya saja, tetapi juga menjaga makna dan nilai yang ada di dalamnya supaya tetap dapat dipahami oleh generasi berikutnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

SITI KHOLIFAH DWI RAMDANI
Mahasiswa Ilmu Sejarah yang punya ketertarikan mempelajari berbagai topik sejarah yang menarik, yang kemudian dituangkan menjadi sebuah tulisan.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)