Ko Dalang Menghidupkan Warisan Wayang Golek di Tengah Arus Modernisasi Budaya

Ishanna Nagi
Ditulis oleh Ishanna Nagi diterbitkan Jumat 28 Nov 2025, 16:39 WIB
Ko Dalang menampilkan pertunjukan Wayang Golek di Saung Angklung Udjo diiringi  dengan musik tradisional Sunda, Kamis (6/11/25), Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Ishanna Nagi)

Ko Dalang menampilkan pertunjukan Wayang Golek di Saung Angklung Udjo diiringi dengan musik tradisional Sunda, Kamis (6/11/25), Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Ishanna Nagi)

Cahaya matahari menembus sela bambu dan alunan gamelan mengiring boneka kayu yang menari di bawah kendali tangan seorang dalang yang penuh semangat. Kesenian Wayang Golek menyatukan tradisi Sunda dan mengikuti perkembangan zaman di panggung Saung Angklung Udjo, Jl. Padasuka No.118, Pasirlayung, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (06/11/25).

Ko Dalang Irfan, bernama asli Irfan Azhar, adalah seorang dalang muda asal Bandung. Julukan “Ko” ia pilih sebagai bentuk branding pribadi sekaligus penanda garis keturunan Tionghoa, berbeda dari gelar tradisional “Ki” bagi dalang laki-laki. Ia mulai mendalami pedalangan sejak sebelum TK, belajar secara otodidak melalui VCD sebelum akhirnya berguru kepada Bapak Wawan Dede Amung Sutarya. Dalam tradisi pedalangan, penamaan dalang diteruskan melalui nama gurunya, sehingga nama lengkapnya dalam dunia pedalangan menjadi Irfan Wawan Dede Amung Sutarya. Sebagai seorang dalang, ia bertanggung jawab untuk menjaga keberlanjutan tradisi Sunda di tengah derasnya modernisasi budaya.

Ko Dalang menyadari bahwa generasi muda kerap merasa bosan terhadap wayang karena kendala bahasa, durasi, dan alur yang panjang.

“Jadi, saya tuh melakukan beberapa inovasi besar seiring dengan perkembangan zaman, seperti memperpendek durasi pertunjukan, menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris, bukan bahasa Pramakawi yang sulit dipahami, dan juga menyusun alur seperti film modern, sering memakai flashback dan narasi langsung ke inti cerita,” ujarnya. 

Tujuannya adalah membuat pertunjukan lebih komunikatif, kontekstual, dan menarik bagi publik luas, termasuk penonton non-Sunda dan luar negeri.

Dalam setiap pertunjukan, Ko Dalang berupaya menghidupkan karakter-karakter tersebut dengan sentuhan seperti masa kini. Tokoh seperti Cepot dan Gatotkaca tidak hanya menjadi simbol kebaikan, tetapi juga wajah manusia modern yang berjuang menghadapi perubahan zaman. Dalam pertunjukannya, beliau membicarakan tentang kejujuran, kesetiaan, hingga krisis moral yang dihadapi masyarakat. Dengan begitu, penonton tidak hanya menonton pertunjukan, tetapi juga bercermin pada realitas yang sedang mereka jalani. 

“Wayang golek adalah kehidupan itu sendiri,” ujar Ko Dalang.

Melalui kalimatnya tersebut meyakinkan bahwa, seni tradisional mampu menjadi media pembelajaran yang lembut dan mendalam. Di setiap tawa dan adegan, tersimpan pesan-pesan bijak yang menggugah kesadaran penonton akan nilai-nilai kemanusiaan, serta setiap gerak wayang, terselip keberanian, cinta, dan pengharapan. Pertunjukan di Saung Angklung Udjo menjadi bukti bahwa tradisi bisa tetap hidup di tengah modernitas kota Bandung. 

Adapun tantangan terbesar menurutnya bukan hanya dari minat penonton, tetapi juga tekanan dari kalangan dalang tradisional yang menilai inovasinya melanggar pakem. Ia juga menyoroti stigma negatif akibat film horor yang sering menggambarkan wayang atau sinden secara mistis, sehingga masyarakat menganggap seni ini menakutkan. Dengan begitu ia memanfaatkan media digital sebagai ruang baru untuk memperkenalkan wayang kepada publik yang lebih luas. Baginya, teknologi bukan ancaman, tetapi jembatan bagi seni agar bisa berbicara dalam bahasa yang dimengerti generasinya. Dalam semangatnya, tradisi dan modernisasi tidak saling meniadakan, melainkan saling menghidupkan.

Sebagai seniman muda, Ko Dalang tidak hanya mempertunjukkan seni, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap warisan leluhur.

“Saya ingin mengubah persepsi bahwa wayang itu kuno, seni tradisional bisa tetap relevan jika kita tahu cara menyampaikannya,” ujarnya.

Setiap pementasan menjadi ruang dialog antara masa lalu dan masa kini, antara tradisi dan teknologi. Baginya, inovasi bukan tentang meninggalkan akar, tetapi menumbuhkan rasa baru agar budaya tetap bertahan.

Kesenian akan mati bukan karena waktu, tapi karena manusia berhenti mencari tahu dan melestarikannya. Oleh karena itu, Ko Dalang menampilkan dan mendokumentasikan setiap pertunjukan agar tidak hilang dari ingatan. Tak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menyalurkannya kepada generasi penerus. Karena, wayang bukan sekadar tontonan, tetapi tuntunan kehidupan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ishanna Nagi
Tentang Ishanna Nagi
Mahasiswi Digital Public Relations Telkom University 2024

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 15:16

Fariz R.M. Mengasah Bermusiknya di Bandung

Pernah tinggal dan memulai menajamkan karier bermusiknya di Kota Bandung pada awal tahun 1980-an.

Fariz R.M. - Musik Rasta. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 13:51

TikTok, Trotoar, dan Eksistensi

Ihwal kreativitas digital memang layak dirayakan, tetapi ruang publik tetap menyimpan fungsi sosial yang tak bisa sepenuhnya dapat digantikan oleh layar.

Konten kreator TikTok bernyanyi secara daring menggunakan smartphone (telepon pintar) di Jalan Babakan Siliwangi, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 12:16

Strategi Industri Kuliner Jabar Menyiasati Kelangkaan Plastik Akibat Konflik Iran–Israel

Kenaikan harga dan kelangkaan plastik akibat konflik Iran–Israel memengaruhi UMKM kuliner di Jawa Barat.

Ilustrasi bahan plastik. (Sumber: Pixels | Foto: Castorly Stock)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 10:43

Bandung dan Hasrat yang Disublimasi: Membaca Fenomena Nongkrong sebagai Pelarian Psikis

Menuliskan budaya nongkrong di Kota Bandung dalam kacamata Sigmund Freud.

Salah satu suasana kafe di Kota Bandung (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Haifa Rukanta)
Sejarah 16 Apr 2026, 10:42

Hikayat Cadas Pangeran, Jejak Derita Pribumi Sepanjang Jalan Raya Daendels

Cadas Pangeran jadi saksi kerja paksa era Daendels, ribuan rakyat tewas demi proyek Jalan Raya Pos di Jawa Barat.

Jalan di Cadas Pangeran antara tahun 1910-1930-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 08:54

Dengan Puisi Bandung Menghias Sanggul Ibu Pertiwi

Bandung sangat pantas dinobatkan sebagai kota puisi, atau setidaknya kota yang sangat puitis.

Ilustrasi dengan Puisi Bandung menghias sanggul Ibu Pertiwi. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 20:00

Artemis II: Kepulangan Empat Astronot dan Langkah Menuju Misi Bulan Berikutnya

Kelanjutan kisah 4 astronot dengan Kesuksesan misi Artemis II, yang menjadi dasar evaluasi bagi misi berikutnya, yakni Artemis III dalam program eksplorasi Bulan, oleh NASA.

Empat astronot Artemis II berhasil mendarat di Samudra Pasifik, lepas pantai San Diego, setelah menyelesaikan misi mengelilingi Bulan. (Sumber: NASA)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 19:22

Belajar Membaca Jalanan Bandung dari Dalam Angkot

Angkot di Bandung bertahan tanpa sistem yang jelas. Banyak pengguna beralih ke transportasi umum daring karena kepastian layanan, namun kondisi ini justru turut memperparah kemacetan.

Sejak lama, angkot menjadi bagian dari keseharian mobilitas warga Kota Bandung, meski kini perannya mulai tergeser oleh moda transportasi umum daring. (Foto: Irfan Alfaritsi/ayobandung.com)
Bandung 15 Apr 2026, 18:23

Collab Magnet: Cara Bangun Kolaborasi yang Tepat di Era Zaman Penuh Kreativitas

Intip strategi menjadi Collab Magnet di industri kreatif bersama Mirsha Shahnaz Azahra. Pahami pentingnya relevansi, kredibilitas, dan nilai brand dalam kolaborasi.

Mirsha, Co-founder sekaligus Brand Director Monday Coffee Bandung memahami konsep kolaborasi yang efektif membutuhkan waktu, bahkan proses trial and error masih menjadi bumbu harian dalam perjalanannya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 18:01

Ketar-ketir Perajin Tahu Tempe, Adakah Insentif dari Pemkot Bandung?

Kebijakan impor kedelai yang diterapkan ternyata belum menyeimbangkan pasokan kedelai di dalam negeri.

Perajin menyelesaikan pembuatan tempe di Jalan Muararajeun, Kota Bandung, (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 17:14

Dari Bandung ke Lembang: Kota Sejuk yang Menjadi Ruang Nyaman bagi Pendatang

Perubahan suasana dari hiruk pikuk Kota Kandung menuju ketenangan yang lebih alami di Lembang.

Farmhouse Lembang. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 15 Apr 2026, 16:42

Panduan Wisata Stone Garden Padalarang, Taman Batu Karst dengan Jejak Laut Purba

Stone Garden Padalarang menawarkan lanskap batu kapur purba, jalur trekking ringan, serta nilai geologi dan arkeologi unik dalam satu destinasi wisata alam.

Objek wisata Stone Garden, Padalarang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 15 Apr 2026, 15:20

Meruntuhkan Standar Kecantikan, Mengapresiasi Keunikan

Pandangan tentang kecantikan tak lagi tunggal. Setiap individu memiliki keunikan yang layak diapresiasi, tanpa harus mengikuti standar yang membatasi.

Suasana beauty class yang hangat dan suportif, tempat para peserta belajar, bereksperimen, dan membangun rasa percaya diri bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 13:50

Jantung Konektivitas Kota yang Kurang Sehat dan Masalah Polusi Udara

Stasiun Hall adalah jantung transportasi yang setiap hari memompa sistem transportasi khususnya bagi penglaju dan pendatang.

Monumen Sepur Lempung di Stasiun Hall sebelah selatan yang merupakan ikon konektivitas kota Bandung sepanjang zaman (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)