Ko Dalang Menghidupkan Warisan Wayang Golek di Tengah Arus Modernisasi Budaya

3 menit baca
Ishanna Nagi
Ditulis oleh Ishanna Nagi diterbitkan
Ko Dalang menampilkan pertunjukan Wayang Golek di Saung Angklung Udjo diiringi  dengan musik tradisional Sunda, Kamis (6/11/25), Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Ishanna Nagi)
Ko Dalang menampilkan pertunjukan Wayang Golek di Saung Angklung Udjo diiringi dengan musik tradisional Sunda, Kamis (6/11/25), Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Ishanna Nagi)

Cahaya matahari menembus sela bambu dan alunan gamelan mengiring boneka kayu yang menari di bawah kendali tangan seorang dalang yang penuh semangat. Kesenian Wayang Golek menyatukan tradisi Sunda dan mengikuti perkembangan zaman di panggung Saung Angklung Udjo, Jl. Padasuka No.118, Pasirlayung, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (06/11/25).

Ko Dalang Irfan, bernama asli Irfan Azhar, adalah seorang dalang muda asal Bandung. Julukan “Ko” ia pilih sebagai bentuk branding pribadi sekaligus penanda garis keturunan Tionghoa, berbeda dari gelar tradisional “Ki” bagi dalang laki-laki. Ia mulai mendalami pedalangan sejak sebelum TK, belajar secara otodidak melalui VCD sebelum akhirnya berguru kepada Bapak Wawan Dede Amung Sutarya. Dalam tradisi pedalangan, penamaan dalang diteruskan melalui nama gurunya, sehingga nama lengkapnya dalam dunia pedalangan menjadi Irfan Wawan Dede Amung Sutarya. Sebagai seorang dalang, ia bertanggung jawab untuk menjaga keberlanjutan tradisi Sunda di tengah derasnya modernisasi budaya.

Ko Dalang menyadari bahwa generasi muda kerap merasa bosan terhadap wayang karena kendala bahasa, durasi, dan alur yang panjang.

“Jadi, saya tuh melakukan beberapa inovasi besar seiring dengan perkembangan zaman, seperti memperpendek durasi pertunjukan, menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris, bukan bahasa Pramakawi yang sulit dipahami, dan juga menyusun alur seperti film modern, sering memakai flashback dan narasi langsung ke inti cerita,” ujarnya. 

Tujuannya adalah membuat pertunjukan lebih komunikatif, kontekstual, dan menarik bagi publik luas, termasuk penonton non-Sunda dan luar negeri.

Dalam setiap pertunjukan, Ko Dalang berupaya menghidupkan karakter-karakter tersebut dengan sentuhan seperti masa kini. Tokoh seperti Cepot dan Gatotkaca tidak hanya menjadi simbol kebaikan, tetapi juga wajah manusia modern yang berjuang menghadapi perubahan zaman. Dalam pertunjukannya, beliau membicarakan tentang kejujuran, kesetiaan, hingga krisis moral yang dihadapi masyarakat. Dengan begitu, penonton tidak hanya menonton pertunjukan, tetapi juga bercermin pada realitas yang sedang mereka jalani. 

“Wayang golek adalah kehidupan itu sendiri,” ujar Ko Dalang.

Melalui kalimatnya tersebut meyakinkan bahwa, seni tradisional mampu menjadi media pembelajaran yang lembut dan mendalam. Di setiap tawa dan adegan, tersimpan pesan-pesan bijak yang menggugah kesadaran penonton akan nilai-nilai kemanusiaan, serta setiap gerak wayang, terselip keberanian, cinta, dan pengharapan. Pertunjukan di Saung Angklung Udjo menjadi bukti bahwa tradisi bisa tetap hidup di tengah modernitas kota Bandung. 

Adapun tantangan terbesar menurutnya bukan hanya dari minat penonton, tetapi juga tekanan dari kalangan dalang tradisional yang menilai inovasinya melanggar pakem. Ia juga menyoroti stigma negatif akibat film horor yang sering menggambarkan wayang atau sinden secara mistis, sehingga masyarakat menganggap seni ini menakutkan. Dengan begitu ia memanfaatkan media digital sebagai ruang baru untuk memperkenalkan wayang kepada publik yang lebih luas. Baginya, teknologi bukan ancaman, tetapi jembatan bagi seni agar bisa berbicara dalam bahasa yang dimengerti generasinya. Dalam semangatnya, tradisi dan modernisasi tidak saling meniadakan, melainkan saling menghidupkan.

Sebagai seniman muda, Ko Dalang tidak hanya mempertunjukkan seni, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap warisan leluhur.

“Saya ingin mengubah persepsi bahwa wayang itu kuno, seni tradisional bisa tetap relevan jika kita tahu cara menyampaikannya,” ujarnya.

Setiap pementasan menjadi ruang dialog antara masa lalu dan masa kini, antara tradisi dan teknologi. Baginya, inovasi bukan tentang meninggalkan akar, tetapi menumbuhkan rasa baru agar budaya tetap bertahan.

Kesenian akan mati bukan karena waktu, tapi karena manusia berhenti mencari tahu dan melestarikannya. Oleh karena itu, Ko Dalang menampilkan dan mendokumentasikan setiap pertunjukan agar tidak hilang dari ingatan. Tak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menyalurkannya kepada generasi penerus. Karena, wayang bukan sekadar tontonan, tetapi tuntunan kehidupan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)