Lautze, Cheng Ho, dan Gus Dur

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Senin 02 Mar 2026, 11:31 WIB
Tempat yang sangat ingin aku kunjungi. Tapi tiap kali mau mampir pasti nyasar ujung2nya putus asa. Dan Allah kasih kesempatan melalui cara yang lain. (Sumber: Instagram/@chenghoosby)

Tempat yang sangat ingin aku kunjungi. Tapi tiap kali mau mampir pasti nyasar ujung2nya putus asa. Dan Allah kasih kesempatan melalui cara yang lain. (Sumber: Instagram/@chenghoosby)

Saat asyik ngabeubeurang sambil berjalan pagi mengitari lingkungan kampus UIN Bandung, langkah terhenti sejenak tepat di depan Tugu Kujang.

Seorang kawan lama menyapa hangat dan bertegur sapa, sambil menanyakan kabar keluarga, terutama anak-anak yang tumbuh begitu cepat, seolah-olah waktu berlari tanpa jeda.

Di tengah obrolan yang mengalir ringan, laki-laki bertubuh gemuk itu tersenyum dan bertanya, “Masih suka menulis, kan?”

Kujawab singkat, "Muhun!"

"Untuk puncak Imlek 2026 kan beriringan dengan Ramadan sudah ditulis? Dua momentum keagamaan yang sama-sama sarat makna ya!" bebernya.

Semarak perayaan menyelimuti Grand Sahid Jaya Jakarta dalam gelaran Perayaan Nasional Hari Raya Keagamaan Khonghucu Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. 

Diselenggarakan oleh MATAKIN untuk ke-27 kalinya tahun ini bekerja sama dengan Kementerian Agama RI, acara ini berlangsung khidmat pada 22 Februari 2026. (Sumber: Instagram | Foto: @matakinpusat)
Semarak perayaan menyelimuti Grand Sahid Jaya Jakarta dalam gelaran Perayaan Nasional Hari Raya Keagamaan Khonghucu Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. Diselenggarakan oleh MATAKIN untuk ke-27 kalinya tahun ini bekerja sama dengan Kementerian Agama RI, acara ini berlangsung khidmat pada 22 Februari 2026. (Sumber: Instagram | Foto: @matakinpusat)

Pesan Imlek, Keadilan dan Kepedulian Energi Moral Bangsa

Kehadiran puncak perayaan Harmoni Imlek Nusantara Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang berlangsung di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (28/2/2026) yang beriringan dengan bulan Ramadhan menjadi bukti nyata harmoni kehidupan beragama dan meneguhkan kepedulian di tengah keragaman suku, budaya dan agama.

Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), Budi Santoso Tanuwibowo, menegaskan Imlek bukan sekadar perayaan budaya, melainkan peristiwa spiritual yang memiliki makna mendalam dan multidimensi, sekaligus bagian dari identitas kebangsaan Indonesia.

Tahun ini, umat Khonghucu memasuki tahun 2577 Kongzili, salah satu dari lima sistem penanggalan yang hidup berdampingan di Indonesia bersama Masehi, Hijriah, Saka, dan Jawa. Keberagaman sistem kalender ini menjadi simbol harmoni dalam kehidupan berbangsa.

Momentum ini menjadi ajakan untuk meninggalkan hal-hal buruk dan memulai lembaran baru dengan pikiran jernih.

Ingat, keadilan adalah fondasi utama kehidupan berbangsa. Kata adil termaktub dua kali dalam Pancasila, terutama pada sila kedua dan kelima, yang menegaskan pentingnya keadilan sosial dalam kehidupan nasional.

Menurutnya, apabila keadilan ditegakkan, maka persoalan kemiskinan, ketimpangan, perpecahan dapat diminimalisasi dan digantikan oleh keharmonisan.

Pasalnya, keadilan tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah tanpa partisipasi aktif masyarakat.

Dalam rangkaian perayaan Imlek tahun ini, Matakin menggelar bakti sosial serta mengajak kontribusi untuk membantu korban bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Penyaluran bantuan direncanakan bekerja sama dengan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI).

Semangat gotong royong dan solidaritas sosial tersebut menjadi kunci agar Indonesia tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan. “Saya berharap nilai-nilai keadilan, bakti, dan kepedulian yang terkandung dalam Imlek dapat terus menjadi energi moral bagi bangsa menuju masa depan yang lebih harmonis dan sejahtera,” jelasnya. (https://pusat.jakarta.go.id dan https://beritajakarta.id)

Memang perayaan Imlek erat kaitannya dengan keberpihakan penguasa terhadap rakyat. Pertimbangan utama Kongzi menyarankan digunakannya penanggalan Imlek ini agar bisa dimanfaatkan rakyat untuk memulai kegiatan pertanian karena bisa digunakan sebagai pedoman bertani, maka Imlek disebut Nong Li.

Malam hari jelang tahun baru Imlek, tiap pribadi bersembahyang ke Hadirat Tuhan, secara jujur melakukan pengakuan dan introspeksi atas kesalahan yang dibuat selama setahun.

Seminggu sesudah tahun baru, malam harinya digunakan untuk Sembahyang Besar ke Hadirat Tuhan, sambil berprasetia untuk berbuat Kebajikan sepanjang tahun.

Seminggu sebelum jatuhnya Tahun Baru Imlek, tanggal 24 bulan 12, digunakan untuk menyantuni mereka yang kurang beruntung, disebut Hari Persaudaraan. Dengan demikian Imlek mempunyai makna kepedulian sosial. (Majalah Suara Baru edisi 20/iv/Maret-April 2008:20).

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ramadan, Madrasah Empati dan Pengendalian Diri

Ramadan merupakan bulan suci dalam Islam yang diwajibkan puasa bagi umat Muslim sebagai sarana meningkatkan ketakwaan.

Ibadah puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi saran yang tepat untuk melatih pengendalian diri, empati, dan kepedulian sosial.

Di antara seluruh sarana pembentukan karakter, Ramadan menempati posisi istimewa sebagai madrasah ruhaniyah. Bulan suci ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan proses pendidikan jiwa yang komprehensif, yang mengajarkan pengendalian diri, kesabaran, dan kepedulian sosial secara terstruktur.

Puasa, sebagai ibadah utama Ramadan, tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi melatih ketahanan mental, disiplin waktu, kejujuran dalam perilaku, serta kesadaran akan hak-hak orang lain, terutama kaum dhuafa. Dengan demikian, puasa menjadi sarana nyata untuk menanamkan nilai-nilai Qurani seperti sabar, tawakal, dan empati sosial.

Rangkaian ibadah lainnya (salat tarawih, tadarus Alquran, doa malam, dan sedekah) saat puasa dapat memperkuat karakter melalui praktik yang konsisten dan bermakna.

Ramadan menekankan pentingnya pengendalian hawa nafsu dan penguatan spiritual secara menyeluruh. Aktivitas-aktivitas ibadah yang dilakukan selama bulan suci ini berfungsi sebagai latihan intensif (spiritual boot camp) yang menyiapkan individu untuk menghadapi tantangan kehidupan sepanjang tahun.

Melalui pengalaman-pengalaman ini, peserta didik spiritual belajar untuk menahan diri, bersikap jujur, memupuk empati, dan menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab moral.

Setiap momen Ramadhan menjadi kesempatan bagi individu untuk merenungkan makna hidup, memperbaiki diri, dan menata perilaku agar selaras dengan tuntunan Alquran.

Namun, pelajaran utama dari Ramadan bukan sekadar kemampuan menahan lapar dan dahaga, melainkan pada keberlanjutan nilai-nilai yang telah dilatih sepanjang bulan tersebut.

Ramadan ibarat laboratorium moral di mana karakter diuji dan dibentuk. Keberhasilan sejati tercermin ketika nilai-nilai disiplin, kesabaran, kejujuran, dan kepedulian sosial yang dipelajari selama kesabaran, kejujuran, dan kepedulian sosial yang dipelajari selama Ramadhan tetap dijaga dan diterapkan setelah Idulfitri.

Dengan kata lain, Ramadan memberikan fondasi spiritual yang kuat, namun tanggung jawab individu adalah untuk mempertahankan dan menginternalisasi nilai-nilai terbaik dalam kehidupan sehari-hari.

Ramadan sangat membuka ruang bagi keluarga dan lembaga pendidikan untuk berperan aktif dalam pembentukan karakter Qurani. Kegiatan seperti buka puasa bersama, tadarus keluarga, kajian tafsir, dan program sosial di lingkungan sekolah, masyarakat menjadi wahana konkret bagi anak-anak dan remaja untuk mengalami dan menghayati nilai-nilai Qur'ani.

Melalui pengalaman langsung ini, anak-anak belajar bahwa ibadah bukan hanya kewajiban formal, tetapi sarana membentuk karakter yang tangguh, peduli, dan berakhlak mulia.

Walhasil, Ramadan tidak hanya menjadi waktu untuk ibadah ritual, tetapi menjadi momentum pendidikan moral dan spiritual yang berdampak jangka panjang bagi individu dan komunitas. (Rangga Sa'dillah, dkk., Irsyaddur Rofiq [Editor], 2025:114-115).

Praktik zakat, infak, dan sedekah yang meningkat selama Ramadan menjadi wujud konkret solidaritas sosial dalam Islam. Walhasil, Ramadan menjadi momentum menekan egoisme individu maupun kelompok demi kemaslahatan bersama.

Nilai bakti kepada Tuhan dan orang tua dalam tradisi Khonghucu sejalan dengan ajaran Islam tentang birrul walidain dan ketaatan spiritual.

Semangat keadilan dalam Imlek dan ajaran Islam tentang keadilan sosial menunjukkan bahwa perbedaan tradisi tidak menghalangi pertemuan nilai.

30.000 warga menerima zakat Rp500 ribu per orang dari Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia bekerja sama dengan Pemkot Surabaya, dengan total dana Rp16 miliar. Penyaluran dilakukan bertahap selama 12 hari untuk menjaga ketertiban. (Sumber: Instagram @chenghoosby | Foto: Hasil tangkapan layar)
30.000 warga menerima zakat Rp500 ribu per orang dari Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia bekerja sama dengan Pemkot Surabaya, dengan total dana Rp16 miliar. Penyaluran dilakukan bertahap selama 12 hari untuk menjaga ketertiban. (Sumber: Instagram @chenghoosby | Foto: Hasil tangkapan layar)

Wajah Islam Inklusif di Surabaya dan Bandung

Setiap Ramadan selalu menghadirkan wajah Islam yang damai, hangat, rukun, harmoni.

Dengan berbagi tanpa banyak tanya, memberi tanpa memandang latar belakang. Tahun ini, potret itu terlihat jelas di Surabaya dan Bandung (dua masjid) satu semangat kepedulian.

Di Kota Pahlawan, sebanyak 30.000 warga prasejahtera dari 31 kecamatan menerima zakat tunai Rp500 ribu per orang. Program ini digagas oleh Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surabaya, dengan total dana mencapai Rp16 miliar.

Penyaluran dilakukan dalam 12 sesi selama 12 hari, rata-rata 3.000 penerima per hari. Sistem undangan dan jadwal ketat diterapkan demi menjaga ketertiban dan menghindari kerumunan.

Ketua Yayasan, Abdullah Nirawi, menyebutkan jumlah penerima tahun ini meningkat signifikan dari 16 ribu menjadi 32 ribu orang. Langkah ini diambil sebagai respons atas tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat.

Bagi Ningsih, salah satu warga menjelaskan bantuan ini sangat berarti. Di tengah harga kebutuhan pokok yang terus naik, uang itu akan digunakan untuk membeli beras dan kebutuhan dapur selama Ramadan.

Dengan adanya program ini, Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya terus berupaya dan menegaskan perannya bukan hanya sebagai pusat ibadah, tetapi menjadi bukti kuatnya semangat gotong royong, kepedulian antarwarga di Kota Pahlawan dan sebagai pusat dan gerakan solidaritas sosial yang inklusif. (https://kabarbaik.co).

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Untuk itu di Bandung, suasana berbeda namun bernapas sama terasa di Masjid Lautze 2. Berdiri sejak 2017 dan aktif menggelar buka puasa bersama sejak 2022, masjid ini menjadi ruang perjumpaan lintas latar belakang.

Setiap sore Ramadan, kajian digelar sebelum berbuka puasa bersama. Pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar duduk sejajar tanpa kursi khusus, tanpa sekat sosial.

Noneng (48), penjual kopi yang rutin datang, merasakan manfaatnya bukan hanya pada makanan, melainkan pada suasana kebersamaan, guyub.

Bagi pekerja informal, penghematan Rp15 ribu per hari bukan hal kecil. Namun lebih dari itu, suasana hangat membuatnya berharap kegiatan ini terus ada dan dijaga.

Rupanya di balik program ini, ada sosok Abah Oting (80), pendiri dan penggerak utama. Sekitar seribu boks makanan dibagikan setiap hari. Masjid yang merupakan cabang dari Masjid Lautze Jakarta ini dikenal sebagai tempat pembinaan mualaf, pada tahun ini saja, 47 orang tercatat bersyahadat.

Prinsip yang dijaga sangat sederhana. Siapa pun boleh datang, tanpa melihat identitas dan latar belakang. Identitas Tionghoa yang melekat pada Lautze bukan pembatas, melainkan simbol keterbukaan. (Ayo Bandung, Selasa 24 Feb 2026, 15:31 WIB)

Bila di Surabaya menghadirkan skala besar, dengan puluhan ribu warga menerima zakat. Bandung menghadirkan kedekatan dengan menjadi ruang (pertemuan) kecil yang mempersatukan beragam manusia dalam satu saf berbuka.

Keduanya memperlihatkan wajah Islam yang sama-sama inklusif, membumi, dan hadir menjawab kebutuhan nyata. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, justru untuk memperluas empati.

Di antara angka miliaran rupiah dan seribu boks makanan setiap hari, tersimpan makna yang lebih dalam. Keberagamaan menemukan wujud paling indahnya ketika menjelma menjadi kepedulian.

Ramadhan Bareng GUSDURian,
Quote Gus Dur #1 "Jika kita merasa muslim terhormat, maka kita akan berpuasa dengan menghormati orang yang tidak berpuasa." (Sumber: Instagram | Foto: @gusdurian_mojokerto)
Ramadhan Bareng GUSDURian, Quote Gus Dur #1 "Jika kita merasa muslim terhormat, maka kita akan berpuasa dengan menghormati orang yang tidak berpuasa." (Sumber: Instagram | Foto: @gusdurian_mojokerto)

Mari kita berusaha memaknai puasa ala Gus Dur tidak pernah berhenti sebagai ritual tahunan yang berulang tanpa makna.

Puasa adalah laku spiritual yang harus melahirkan kesadaran sosial, kemanusiaan, keberpihakan moral, dan keberanian untuk melihat realitas manusia secara jujur.

Dengan meneladani sosok Gus Dur kita dapat memaknai puasa sebagai revolusioner bukan dalam arti politis semata, tetapi revolusi batin yang mengubah cara pandang seseorang terhadap sesama agar lebih manusiawi.

Kehadiran Nyai Shinta Nuriyah, Ahad (22/02/26) dalam acara sahur bersama civitas akademika UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan menjadi lebih dari sekedar agenda Ramadan.

Momentum sahur bersama ini menjelma ruang pembelajaran nilai empati dan kemanusiaan yang nyata selaras dengan spirit pemikiran KH Abdurrahman Wahid tentang Islam yang inklusif dan menjunjung tinggi persaudaraan kemanusiaan. (https://uingusdur.ac.id dan NU Online Senin, 23 Februari 2026 | 16:30 WIB)

Jaya Suprana pernah menuliskan Belajar Kearifan Ibadah Puasa dari Gus Dur.

Saya memeroleh warisan tambahan kearifan tentang makna puasa untuk menjalin hubungan sosial setiap insan manusia dengan lingkungan sosial masing-masing.

Dari Gus Dur saya memperoleh warisan kesadaran mengenai pada hakikatnya belum cukup bahwa seorang yang tidak menunaikan ibadah puasa hukumnya wajib menghargai dan menghormati sesama warga yang menunaikan ibadah puasa.

Menurut Gus Dur, toleransi antar umat beragama belumlah lengkap secara psikososial apabila belum ditambah dengan kearifan seorang yang menunaikan ibadah puasa hukumnya wajib menghargai dan menghargai sesama warga yang tidak menunaikan ibadah puasa.

Gus Dur menyadarkan saya bahwa toleransi antar umat beragama tidak cukup satu arah namun justru dua arah demi saling menghargai dan saling menghormati. (Kompas, 12 April 2021, 08:46 WIB).

Mengakui perbedaan dan memeliharanya tidak membuat orang atau bangsa menjadi lemah. Sikap lapang dada menerima perbedaan dan ketidaksetujuan, justru membuktikan kita adalah sosok atau bangsa yang kuat.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Sejatinya dalam konteks kehadiran puncak Imlek 2577 pada ramadan 1447 ini bukan sekadar perayaan, melainkan ruang perjumpaan nilai. Imlek mengajarkan syukur, harapan baru, dan penghormatan pada keluarga.

Ramadan meneguhkan kesabaran, pengendalian diri, dan kepedulian sosial. Di titik temu itulah kepedulian pada masyarakat sekitar menemukan bentuknya yang paling nyata.

Jika di Bandung, berdiri Masjid Lautze 2 sebagai simbol harmoni yang merangkul identitas Tionghoa dan Islam dalam satu atap keimanan, maka di Surabaya, kehadiran Masjid Cheng Ho menjadi penanda ihwal perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipertemukan dalam kebajikan.

Sungguh suasana pagi itu terasa lebih dari sekadar pertemuan dua kawan lama. Ya menjadi pengingat soal tradisi menulis bukan hanya merangkai kata, tetapi merawat makna tentang kebersamaan, saling peduli, dan Indonesia yang menemukan keindahannya justru saat keberagaman dirawat, dijaga dengan tulus tanpa basa-basi. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Linimasa 05 Mar 2026, 21:19

UIN Bandung Sebelum dan Sesudah Magrib Saat Ramadan

Setiap Ramadan, kawasan UIN Sunan Gunung Djati Bandung berubah ramai oleh mahasiswa yang ngabuburit dan berburu takjil.

Suasana menjelang magrib saat Ramadan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 19:20

10 Netizen Terpilih Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Pameran Al-Qur’an Mushaf Sundawi berhias motif khas budaya Jawa Barat di Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 05 Mar 2026, 14:47

Sejarah Bandung Dijuluki Twente van Indonesië, Kota Kembang Diproyeksikan jadi Pusat Industri

Catatan koran 1949 menggambarkan Bandung dipenuhi pabrik tekstil yang membuatnya dibandingkan dengan Twente di Belanda.

Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF) di Bandung tahun 1950-an (Sumber: Wikimedia)
Mayantara 05 Mar 2026, 14:05

Kemarahan Digital Perang Iran dan Keuntungannya bagi Platform Media Sosial

Beberapa hari terakhir ini, linimasa media sosial dan juga WhatsApp Group di Indonesia dipenuhi umpatan dan kutukan.

Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 12:06

Suara Tionghoa Menyigi Ruang Dialog, Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Ruang perjumpaan dari berbagai umat beragama menjadi taman bertumbuh, tempat pengalaman yang dibagikan tanpa takut, juga tempat identitas dirayakan tanpa curiga.

Suara Tionghoa di Majalengka. (Dok. Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 11:53

Night Walk di Bulan Ramadan, Kaki Besi Perkuat Tren Komunitas Jalan Kaki di Bandung

Meski digelar pada bulan Ramadan, antusiasme peserta tidak surut. Dengan dress code serba hitam yang telah ditentukan panitia, para peserta memadati trotoar dengan tambahan aksesori khas.

Salah satu event komunitas Kaki Besi. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Seni Budaya 05 Mar 2026, 10:03

Sejarah Tari Saman, Jejak Warisan Syeikh di Dataran Tinggi Gayo

Jejak nama Saman dikaitkan dengan ulama abad ke-14 dan pengaruh Islam di Aceh, membentuk tarian komunal yang sarat syair moral.

Pagelaran Tari Saman terbesar di dunia dengan 12.262 penari. Acara kolosal ini diadakan pada 13 Agustus 2017 di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 09:25

Renungan Ramadan dan Jadwal Puasa Bandung 1969 dalam Koran Lawas

Membuka kembali lembaran surat kabar lama sering menghadirkan pengalaman yang unik.

Surat kabar Berdikari terbitan Bandung, 28 November 1969, bertepatan dengan 18 Ramadan 1389 Hijriah (57 tahun silam). (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 06:55

Berawal dari Konten Viral, Kaki Besi Menjadi Komunitas Jalan Kaki Terbesar di Bandung

Berawal dari konten viral di media sosial, Komunitas Kaki Besi berkembang menjadi komunitas jalan kaki terbesar di Bandung. Didirikan oleh Insan Buana, Kaki Besi kini memiliki puluhan ribu pengikut.

Salah satu event Komunitas Kaki Besi. Dalam waktu kurang dari satu tahun, komunitas ini mencatat ribuan anggota aktif. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Bandung 04 Mar 2026, 21:33

Menilik Eksistensi Kue Balok Kang Didin, Kuliner Legendaris Bandung sejak 1950 yang Melawan Arus Zaman

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya.

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 16:42

Kisah Ramadan dalam Lagu ‘Lebaran Sebentar Lagi’

Lagu Lebaran Sebentar Lagi merupakan salah satu lagu remake dari band Gigi yang sebelumnya dinyanyikan pertama kali oleh Bimbo. 

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 04 Mar 2026, 15:22

Hampir 9 Tahun Bertahan, Begini Cara Dagelan Jabar Mengikuti Perubahan Zaman di Instagram

Berawal dari repost meme receh khas tongkrongan warganet Jawa Barat, akun ini tak memaksa diri menjadi media berita, tetapi juga tak bertahan sebagai sekadar akun humor.

Admin Dagelan Jabar Nono Sugianto. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 15:04

Cikalintu, Tempat yang Keliru Dipilih

Dalam nama Cikalintu, kata 'Kalintu' berarti keliru atau ditukar.

Toponim Cikalintu dalam Peta Topografi Lembar Bandoeng Tahun 1905 (diperbaiki dari peta tahun 1904). Dipetakan oleh Topographisch Bureau, Batavia. (Sumber: Peta koleksi KITLV Heritage)
Sejarah 04 Mar 2026, 14:46

Misteri Danau Cipanas Rancaekek, Tempat Pemandian Bupati Bandung Zaman Dulu

Warga menyebut penambangan bukit Gunung Cipanas memicu lenyapnya sumber panas yang dulu jadi tempat rekreasi elite Bandung.

Danau Cipanas Rancaekek. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 13:30

Benny Soebardja Pelopor Progresif Rock Indonesia

Musisi rock asal Bandung, Benny Soebardja, dikenal lewat band-band yang pernah ia bentuk, mulai dari The Peels, Shark Move, hingga Giant Step.

Benny Soebardja dengan vinyl "Shark Move" (1973) di Delft, Belanda. Dijuluki oleh media asing sebagai The Godfather of Indonesian Progrock Underground. (Sumber: Istimewa)
Ikon 04 Mar 2026, 13:15

Jejak Pitalka, Roti Pipih Ramadan dari Kosovo yang Bertahan Sejak Era Ottoman

anya muncul setahun sekali di Kosovo, pitalka menjadi warisan kuliner sejak masa Ottoman yang tetap hidup di meja iftar Prizren.

Pitalka, roti khas Kosovo yang jadi iftar Ramadan.
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 11:09

Siwok Cante, Konsep Puasa dalam Masyarakat Sunda Pra-Islam

Siwok cante, merupakan salah satu hal yang harus dihindari oleh mereka yang sedang mengemban tugas negara.

Buku hasil transliterasi dan terjemahan pertama Sanghyang Siksakandang Karesian bersama dua naskah Sunda kuna lainnya oleh Tim Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda 1987. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 09:38

Bukan Sekadar Nunggu Azan Magrib, 5 Aktivitas Ngabuburit Berfaedah

Sejatinya, ngabuburit bukan sekadar cara “mengisi waktu”, menunggu azan magrib.

Aktivitas apik ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 03 Mar 2026, 20:40

Sentuhan Estetika di Balik The Edit, Titik Temu Kurasi Fashion Muslim Premium di Bandung

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia.

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 03 Mar 2026, 19:24

Rumah Tumbuh, Akses Menguat: Ujian Transformasi BTN di Tengah Rekor Pembiayaan

Di tengah lanskap itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) tampil sebagai aktor sentral.

Pekerja merampungkan proyek rumah subsidi di El Hago Residence, Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang (3/12/2020). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Deni Suhendar/Magang)