Saat asyik ngabeubeurang sambil berjalan pagi mengitari lingkungan kampus UIN Bandung, langkah terhenti sejenak tepat di depan Tugu Kujang.
Seorang kawan lama menyapa hangat dan bertegur sapa, sambil menanyakan kabar keluarga, terutama anak-anak yang tumbuh begitu cepat, seolah-olah waktu berlari tanpa jeda.
Di tengah obrolan yang mengalir ringan, laki-laki bertubuh gemuk itu tersenyum dan bertanya, “Masih suka menulis, kan?”
Kujawab singkat, "Muhun!"
"Untuk puncak Imlek 2026 kan beriringan dengan Ramadan sudah ditulis? Dua momentum keagamaan yang sama-sama sarat makna ya!" bebernya.

Pesan Imlek, Keadilan dan Kepedulian Energi Moral Bangsa
Kehadiran puncak perayaan Harmoni Imlek Nusantara Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang berlangsung di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (28/2/2026) yang beriringan dengan bulan Ramadhan menjadi bukti nyata harmoni kehidupan beragama dan meneguhkan kepedulian di tengah keragaman suku, budaya dan agama.
Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), Budi Santoso Tanuwibowo, menegaskan Imlek bukan sekadar perayaan budaya, melainkan peristiwa spiritual yang memiliki makna mendalam dan multidimensi, sekaligus bagian dari identitas kebangsaan Indonesia.
Tahun ini, umat Khonghucu memasuki tahun 2577 Kongzili, salah satu dari lima sistem penanggalan yang hidup berdampingan di Indonesia bersama Masehi, Hijriah, Saka, dan Jawa. Keberagaman sistem kalender ini menjadi simbol harmoni dalam kehidupan berbangsa.
Momentum ini menjadi ajakan untuk meninggalkan hal-hal buruk dan memulai lembaran baru dengan pikiran jernih.
Ingat, keadilan adalah fondasi utama kehidupan berbangsa. Kata adil termaktub dua kali dalam Pancasila, terutama pada sila kedua dan kelima, yang menegaskan pentingnya keadilan sosial dalam kehidupan nasional.
Menurutnya, apabila keadilan ditegakkan, maka persoalan kemiskinan, ketimpangan, perpecahan dapat diminimalisasi dan digantikan oleh keharmonisan.
Pasalnya, keadilan tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah tanpa partisipasi aktif masyarakat.
Dalam rangkaian perayaan Imlek tahun ini, Matakin menggelar bakti sosial serta mengajak kontribusi untuk membantu korban bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Penyaluran bantuan direncanakan bekerja sama dengan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI).
Semangat gotong royong dan solidaritas sosial tersebut menjadi kunci agar Indonesia tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan. “Saya berharap nilai-nilai keadilan, bakti, dan kepedulian yang terkandung dalam Imlek dapat terus menjadi energi moral bagi bangsa menuju masa depan yang lebih harmonis dan sejahtera,” jelasnya. (https://pusat.jakarta.go.id dan https://beritajakarta.id)
Memang perayaan Imlek erat kaitannya dengan keberpihakan penguasa terhadap rakyat. Pertimbangan utama Kongzi menyarankan digunakannya penanggalan Imlek ini agar bisa dimanfaatkan rakyat untuk memulai kegiatan pertanian karena bisa digunakan sebagai pedoman bertani, maka Imlek disebut Nong Li.
Malam hari jelang tahun baru Imlek, tiap pribadi bersembahyang ke Hadirat Tuhan, secara jujur melakukan pengakuan dan introspeksi atas kesalahan yang dibuat selama setahun.
Seminggu sesudah tahun baru, malam harinya digunakan untuk Sembahyang Besar ke Hadirat Tuhan, sambil berprasetia untuk berbuat Kebajikan sepanjang tahun.
Seminggu sebelum jatuhnya Tahun Baru Imlek, tanggal 24 bulan 12, digunakan untuk menyantuni mereka yang kurang beruntung, disebut Hari Persaudaraan. Dengan demikian Imlek mempunyai makna kepedulian sosial. (Majalah Suara Baru edisi 20/iv/Maret-April 2008:20).

Ramadan, Madrasah Empati dan Pengendalian Diri
Ramadan merupakan bulan suci dalam Islam yang diwajibkan puasa bagi umat Muslim sebagai sarana meningkatkan ketakwaan.
Ibadah puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi saran yang tepat untuk melatih pengendalian diri, empati, dan kepedulian sosial.
Di antara seluruh sarana pembentukan karakter, Ramadan menempati posisi istimewa sebagai madrasah ruhaniyah. Bulan suci ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan proses pendidikan jiwa yang komprehensif, yang mengajarkan pengendalian diri, kesabaran, dan kepedulian sosial secara terstruktur.
Puasa, sebagai ibadah utama Ramadan, tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi melatih ketahanan mental, disiplin waktu, kejujuran dalam perilaku, serta kesadaran akan hak-hak orang lain, terutama kaum dhuafa. Dengan demikian, puasa menjadi sarana nyata untuk menanamkan nilai-nilai Qurani seperti sabar, tawakal, dan empati sosial.
Rangkaian ibadah lainnya (salat tarawih, tadarus Alquran, doa malam, dan sedekah) saat puasa dapat memperkuat karakter melalui praktik yang konsisten dan bermakna.
Ramadan menekankan pentingnya pengendalian hawa nafsu dan penguatan spiritual secara menyeluruh. Aktivitas-aktivitas ibadah yang dilakukan selama bulan suci ini berfungsi sebagai latihan intensif (spiritual boot camp) yang menyiapkan individu untuk menghadapi tantangan kehidupan sepanjang tahun.
Melalui pengalaman-pengalaman ini, peserta didik spiritual belajar untuk menahan diri, bersikap jujur, memupuk empati, dan menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab moral.
Setiap momen Ramadhan menjadi kesempatan bagi individu untuk merenungkan makna hidup, memperbaiki diri, dan menata perilaku agar selaras dengan tuntunan Alquran.
Namun, pelajaran utama dari Ramadan bukan sekadar kemampuan menahan lapar dan dahaga, melainkan pada keberlanjutan nilai-nilai yang telah dilatih sepanjang bulan tersebut.
Ramadan ibarat laboratorium moral di mana karakter diuji dan dibentuk. Keberhasilan sejati tercermin ketika nilai-nilai disiplin, kesabaran, kejujuran, dan kepedulian sosial yang dipelajari selama kesabaran, kejujuran, dan kepedulian sosial yang dipelajari selama Ramadhan tetap dijaga dan diterapkan setelah Idulfitri.
Dengan kata lain, Ramadan memberikan fondasi spiritual yang kuat, namun tanggung jawab individu adalah untuk mempertahankan dan menginternalisasi nilai-nilai terbaik dalam kehidupan sehari-hari.
Ramadan sangat membuka ruang bagi keluarga dan lembaga pendidikan untuk berperan aktif dalam pembentukan karakter Qurani. Kegiatan seperti buka puasa bersama, tadarus keluarga, kajian tafsir, dan program sosial di lingkungan sekolah, masyarakat menjadi wahana konkret bagi anak-anak dan remaja untuk mengalami dan menghayati nilai-nilai Qur'ani.
Melalui pengalaman langsung ini, anak-anak belajar bahwa ibadah bukan hanya kewajiban formal, tetapi sarana membentuk karakter yang tangguh, peduli, dan berakhlak mulia.
Walhasil, Ramadan tidak hanya menjadi waktu untuk ibadah ritual, tetapi menjadi momentum pendidikan moral dan spiritual yang berdampak jangka panjang bagi individu dan komunitas. (Rangga Sa'dillah, dkk., Irsyaddur Rofiq [Editor], 2025:114-115).
Praktik zakat, infak, dan sedekah yang meningkat selama Ramadan menjadi wujud konkret solidaritas sosial dalam Islam. Walhasil, Ramadan menjadi momentum menekan egoisme individu maupun kelompok demi kemaslahatan bersama.
Nilai bakti kepada Tuhan dan orang tua dalam tradisi Khonghucu sejalan dengan ajaran Islam tentang birrul walidain dan ketaatan spiritual.
Semangat keadilan dalam Imlek dan ajaran Islam tentang keadilan sosial menunjukkan bahwa perbedaan tradisi tidak menghalangi pertemuan nilai.

Wajah Islam Inklusif di Surabaya dan Bandung
Setiap Ramadan selalu menghadirkan wajah Islam yang damai, hangat, rukun, harmoni.
Dengan berbagi tanpa banyak tanya, memberi tanpa memandang latar belakang. Tahun ini, potret itu terlihat jelas di Surabaya dan Bandung (dua masjid) satu semangat kepedulian.
Di Kota Pahlawan, sebanyak 30.000 warga prasejahtera dari 31 kecamatan menerima zakat tunai Rp500 ribu per orang. Program ini digagas oleh Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surabaya, dengan total dana mencapai Rp16 miliar.
Penyaluran dilakukan dalam 12 sesi selama 12 hari, rata-rata 3.000 penerima per hari. Sistem undangan dan jadwal ketat diterapkan demi menjaga ketertiban dan menghindari kerumunan.
Ketua Yayasan, Abdullah Nirawi, menyebutkan jumlah penerima tahun ini meningkat signifikan dari 16 ribu menjadi 32 ribu orang. Langkah ini diambil sebagai respons atas tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Bagi Ningsih, salah satu warga menjelaskan bantuan ini sangat berarti. Di tengah harga kebutuhan pokok yang terus naik, uang itu akan digunakan untuk membeli beras dan kebutuhan dapur selama Ramadan.
Dengan adanya program ini, Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya terus berupaya dan menegaskan perannya bukan hanya sebagai pusat ibadah, tetapi menjadi bukti kuatnya semangat gotong royong, kepedulian antarwarga di Kota Pahlawan dan sebagai pusat dan gerakan solidaritas sosial yang inklusif. (https://kabarbaik.co).

Untuk itu di Bandung, suasana berbeda namun bernapas sama terasa di Masjid Lautze 2. Berdiri sejak 2017 dan aktif menggelar buka puasa bersama sejak 2022, masjid ini menjadi ruang perjumpaan lintas latar belakang.
Setiap sore Ramadan, kajian digelar sebelum berbuka puasa bersama. Pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar duduk sejajar tanpa kursi khusus, tanpa sekat sosial.
Noneng (48), penjual kopi yang rutin datang, merasakan manfaatnya bukan hanya pada makanan, melainkan pada suasana kebersamaan, guyub.
Bagi pekerja informal, penghematan Rp15 ribu per hari bukan hal kecil. Namun lebih dari itu, suasana hangat membuatnya berharap kegiatan ini terus ada dan dijaga.
Rupanya di balik program ini, ada sosok Abah Oting (80), pendiri dan penggerak utama. Sekitar seribu boks makanan dibagikan setiap hari. Masjid yang merupakan cabang dari Masjid Lautze Jakarta ini dikenal sebagai tempat pembinaan mualaf, pada tahun ini saja, 47 orang tercatat bersyahadat.
Prinsip yang dijaga sangat sederhana. Siapa pun boleh datang, tanpa melihat identitas dan latar belakang. Identitas Tionghoa yang melekat pada Lautze bukan pembatas, melainkan simbol keterbukaan. (Ayo Bandung, Selasa 24 Feb 2026, 15:31 WIB)
Bila di Surabaya menghadirkan skala besar, dengan puluhan ribu warga menerima zakat. Bandung menghadirkan kedekatan dengan menjadi ruang (pertemuan) kecil yang mempersatukan beragam manusia dalam satu saf berbuka.
Keduanya memperlihatkan wajah Islam yang sama-sama inklusif, membumi, dan hadir menjawab kebutuhan nyata. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, justru untuk memperluas empati.
Di antara angka miliaran rupiah dan seribu boks makanan setiap hari, tersimpan makna yang lebih dalam. Keberagamaan menemukan wujud paling indahnya ketika menjelma menjadi kepedulian.

Mari kita berusaha memaknai puasa ala Gus Dur tidak pernah berhenti sebagai ritual tahunan yang berulang tanpa makna.
Puasa adalah laku spiritual yang harus melahirkan kesadaran sosial, kemanusiaan, keberpihakan moral, dan keberanian untuk melihat realitas manusia secara jujur.
Dengan meneladani sosok Gus Dur kita dapat memaknai puasa sebagai revolusioner bukan dalam arti politis semata, tetapi revolusi batin yang mengubah cara pandang seseorang terhadap sesama agar lebih manusiawi.
Kehadiran Nyai Shinta Nuriyah, Ahad (22/02/26) dalam acara sahur bersama civitas akademika UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan menjadi lebih dari sekedar agenda Ramadan.
Momentum sahur bersama ini menjelma ruang pembelajaran nilai empati dan kemanusiaan yang nyata selaras dengan spirit pemikiran KH Abdurrahman Wahid tentang Islam yang inklusif dan menjunjung tinggi persaudaraan kemanusiaan. (https://uingusdur.ac.id dan NU Online Senin, 23 Februari 2026 | 16:30 WIB)
Jaya Suprana pernah menuliskan Belajar Kearifan Ibadah Puasa dari Gus Dur.
Saya memeroleh warisan tambahan kearifan tentang makna puasa untuk menjalin hubungan sosial setiap insan manusia dengan lingkungan sosial masing-masing.
Dari Gus Dur saya memperoleh warisan kesadaran mengenai pada hakikatnya belum cukup bahwa seorang yang tidak menunaikan ibadah puasa hukumnya wajib menghargai dan menghormati sesama warga yang menunaikan ibadah puasa.
Menurut Gus Dur, toleransi antar umat beragama belumlah lengkap secara psikososial apabila belum ditambah dengan kearifan seorang yang menunaikan ibadah puasa hukumnya wajib menghargai dan menghargai sesama warga yang tidak menunaikan ibadah puasa.
Gus Dur menyadarkan saya bahwa toleransi antar umat beragama tidak cukup satu arah namun justru dua arah demi saling menghargai dan saling menghormati. (Kompas, 12 April 2021, 08:46 WIB).
Mengakui perbedaan dan memeliharanya tidak membuat orang atau bangsa menjadi lemah. Sikap lapang dada menerima perbedaan dan ketidaksetujuan, justru membuktikan kita adalah sosok atau bangsa yang kuat.

Sejatinya dalam konteks kehadiran puncak Imlek 2577 pada ramadan 1447 ini bukan sekadar perayaan, melainkan ruang perjumpaan nilai. Imlek mengajarkan syukur, harapan baru, dan penghormatan pada keluarga.
Ramadan meneguhkan kesabaran, pengendalian diri, dan kepedulian sosial. Di titik temu itulah kepedulian pada masyarakat sekitar menemukan bentuknya yang paling nyata.
Jika di Bandung, berdiri Masjid Lautze 2 sebagai simbol harmoni yang merangkul identitas Tionghoa dan Islam dalam satu atap keimanan, maka di Surabaya, kehadiran Masjid Cheng Ho menjadi penanda ihwal perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipertemukan dalam kebajikan.
Sungguh suasana pagi itu terasa lebih dari sekadar pertemuan dua kawan lama. Ya menjadi pengingat soal tradisi menulis bukan hanya merangkai kata, tetapi merawat makna tentang kebersamaan, saling peduli, dan Indonesia yang menemukan keindahannya justru saat keberagaman dirawat, dijaga dengan tulus tanpa basa-basi. (*)
