Lautze, Cheng Ho, dan Gus Dur

10 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Tempat yang sangat ingin aku kunjungi. Tapi tiap kali mau mampir pasti nyasar ujung2nya putus asa. Dan Allah kasih kesempatan melalui cara yang lain. (Sumber: Instagram/@chenghoosby)
Tempat yang sangat ingin aku kunjungi. Tapi tiap kali mau mampir pasti nyasar ujung2nya putus asa. Dan Allah kasih kesempatan melalui cara yang lain. (Sumber: Instagram/@chenghoosby)

Saat asyik ngabeubeurang sambil berjalan pagi mengitari lingkungan kampus UIN Bandung, langkah terhenti sejenak tepat di depan Tugu Kujang.

Seorang kawan lama menyapa hangat dan bertegur sapa, sambil menanyakan kabar keluarga, terutama anak-anak yang tumbuh begitu cepat, seolah-olah waktu berlari tanpa jeda.

Di tengah obrolan yang mengalir ringan, laki-laki bertubuh gemuk itu tersenyum dan bertanya, “Masih suka menulis, kan?”

Kujawab singkat, "Muhun!"

"Untuk puncak Imlek 2026 kan beriringan dengan Ramadan sudah ditulis? Dua momentum keagamaan yang sama-sama sarat makna ya!" bebernya.

Semarak perayaan menyelimuti Grand Sahid Jaya Jakarta dalam gelaran Perayaan Nasional Hari Raya Keagamaan Khonghucu Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. 

Diselenggarakan oleh MATAKIN untuk ke-27 kalinya tahun ini bekerja sama dengan Kementerian Agama RI, acara ini berlangsung khidmat pada 22 Februari 2026. (Sumber: Instagram | Foto: @matakinpusat)
Semarak perayaan menyelimuti Grand Sahid Jaya Jakarta dalam gelaran Perayaan Nasional Hari Raya Keagamaan Khonghucu Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. Diselenggarakan oleh MATAKIN untuk ke-27 kalinya tahun ini bekerja sama dengan Kementerian Agama RI, acara ini berlangsung khidmat pada 22 Februari 2026. (Sumber: Instagram | Foto: @matakinpusat)

Pesan Imlek, Keadilan dan Kepedulian Energi Moral Bangsa

Kehadiran puncak perayaan Harmoni Imlek Nusantara Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang berlangsung di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (28/2/2026) yang beriringan dengan bulan Ramadhan menjadi bukti nyata harmoni kehidupan beragama dan meneguhkan kepedulian di tengah keragaman suku, budaya dan agama.

Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), Budi Santoso Tanuwibowo, menegaskan Imlek bukan sekadar perayaan budaya, melainkan peristiwa spiritual yang memiliki makna mendalam dan multidimensi, sekaligus bagian dari identitas kebangsaan Indonesia.

Tahun ini, umat Khonghucu memasuki tahun 2577 Kongzili, salah satu dari lima sistem penanggalan yang hidup berdampingan di Indonesia bersama Masehi, Hijriah, Saka, dan Jawa. Keberagaman sistem kalender ini menjadi simbol harmoni dalam kehidupan berbangsa.

Momentum ini menjadi ajakan untuk meninggalkan hal-hal buruk dan memulai lembaran baru dengan pikiran jernih.

Ingat, keadilan adalah fondasi utama kehidupan berbangsa. Kata adil termaktub dua kali dalam Pancasila, terutama pada sila kedua dan kelima, yang menegaskan pentingnya keadilan sosial dalam kehidupan nasional.

Menurutnya, apabila keadilan ditegakkan, maka persoalan kemiskinan, ketimpangan, perpecahan dapat diminimalisasi dan digantikan oleh keharmonisan.

Pasalnya, keadilan tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah tanpa partisipasi aktif masyarakat.

Dalam rangkaian perayaan Imlek tahun ini, Matakin menggelar bakti sosial serta mengajak kontribusi untuk membantu korban bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Penyaluran bantuan direncanakan bekerja sama dengan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI).

Semangat gotong royong dan solidaritas sosial tersebut menjadi kunci agar Indonesia tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan. “Saya berharap nilai-nilai keadilan, bakti, dan kepedulian yang terkandung dalam Imlek dapat terus menjadi energi moral bagi bangsa menuju masa depan yang lebih harmonis dan sejahtera,” jelasnya. (https://pusat.jakarta.go.id dan https://beritajakarta.id)

Memang perayaan Imlek erat kaitannya dengan keberpihakan penguasa terhadap rakyat. Pertimbangan utama Kongzi menyarankan digunakannya penanggalan Imlek ini agar bisa dimanfaatkan rakyat untuk memulai kegiatan pertanian karena bisa digunakan sebagai pedoman bertani, maka Imlek disebut Nong Li.

Malam hari jelang tahun baru Imlek, tiap pribadi bersembahyang ke Hadirat Tuhan, secara jujur melakukan pengakuan dan introspeksi atas kesalahan yang dibuat selama setahun.

Seminggu sesudah tahun baru, malam harinya digunakan untuk Sembahyang Besar ke Hadirat Tuhan, sambil berprasetia untuk berbuat Kebajikan sepanjang tahun.

Seminggu sebelum jatuhnya Tahun Baru Imlek, tanggal 24 bulan 12, digunakan untuk menyantuni mereka yang kurang beruntung, disebut Hari Persaudaraan. Dengan demikian Imlek mempunyai makna kepedulian sosial. (Majalah Suara Baru edisi 20/iv/Maret-April 2008:20).

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ramadan, Madrasah Empati dan Pengendalian Diri

Ramadan merupakan bulan suci dalam Islam yang diwajibkan puasa bagi umat Muslim sebagai sarana meningkatkan ketakwaan.

Ibadah puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi saran yang tepat untuk melatih pengendalian diri, empati, dan kepedulian sosial.

Di antara seluruh sarana pembentukan karakter, Ramadan menempati posisi istimewa sebagai madrasah ruhaniyah. Bulan suci ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan proses pendidikan jiwa yang komprehensif, yang mengajarkan pengendalian diri, kesabaran, dan kepedulian sosial secara terstruktur.

Puasa, sebagai ibadah utama Ramadan, tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi melatih ketahanan mental, disiplin waktu, kejujuran dalam perilaku, serta kesadaran akan hak-hak orang lain, terutama kaum dhuafa. Dengan demikian, puasa menjadi sarana nyata untuk menanamkan nilai-nilai Qurani seperti sabar, tawakal, dan empati sosial.

Rangkaian ibadah lainnya (salat tarawih, tadarus Alquran, doa malam, dan sedekah) saat puasa dapat memperkuat karakter melalui praktik yang konsisten dan bermakna.

Ramadan menekankan pentingnya pengendalian hawa nafsu dan penguatan spiritual secara menyeluruh. Aktivitas-aktivitas ibadah yang dilakukan selama bulan suci ini berfungsi sebagai latihan intensif (spiritual boot camp) yang menyiapkan individu untuk menghadapi tantangan kehidupan sepanjang tahun.

Melalui pengalaman-pengalaman ini, peserta didik spiritual belajar untuk menahan diri, bersikap jujur, memupuk empati, dan menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab moral.

Setiap momen Ramadhan menjadi kesempatan bagi individu untuk merenungkan makna hidup, memperbaiki diri, dan menata perilaku agar selaras dengan tuntunan Alquran.

Namun, pelajaran utama dari Ramadan bukan sekadar kemampuan menahan lapar dan dahaga, melainkan pada keberlanjutan nilai-nilai yang telah dilatih sepanjang bulan tersebut.

Ramadan ibarat laboratorium moral di mana karakter diuji dan dibentuk. Keberhasilan sejati tercermin ketika nilai-nilai disiplin, kesabaran, kejujuran, dan kepedulian sosial yang dipelajari selama kesabaran, kejujuran, dan kepedulian sosial yang dipelajari selama Ramadhan tetap dijaga dan diterapkan setelah Idulfitri.

Dengan kata lain, Ramadan memberikan fondasi spiritual yang kuat, namun tanggung jawab individu adalah untuk mempertahankan dan menginternalisasi nilai-nilai terbaik dalam kehidupan sehari-hari.

Ramadan sangat membuka ruang bagi keluarga dan lembaga pendidikan untuk berperan aktif dalam pembentukan karakter Qurani. Kegiatan seperti buka puasa bersama, tadarus keluarga, kajian tafsir, dan program sosial di lingkungan sekolah, masyarakat menjadi wahana konkret bagi anak-anak dan remaja untuk mengalami dan menghayati nilai-nilai Qur'ani.

Melalui pengalaman langsung ini, anak-anak belajar bahwa ibadah bukan hanya kewajiban formal, tetapi sarana membentuk karakter yang tangguh, peduli, dan berakhlak mulia.

Walhasil, Ramadan tidak hanya menjadi waktu untuk ibadah ritual, tetapi menjadi momentum pendidikan moral dan spiritual yang berdampak jangka panjang bagi individu dan komunitas. (Rangga Sa'dillah, dkk., Irsyaddur Rofiq [Editor], 2025:114-115).

Praktik zakat, infak, dan sedekah yang meningkat selama Ramadan menjadi wujud konkret solidaritas sosial dalam Islam. Walhasil, Ramadan menjadi momentum menekan egoisme individu maupun kelompok demi kemaslahatan bersama.

Nilai bakti kepada Tuhan dan orang tua dalam tradisi Khonghucu sejalan dengan ajaran Islam tentang birrul walidain dan ketaatan spiritual.

Semangat keadilan dalam Imlek dan ajaran Islam tentang keadilan sosial menunjukkan bahwa perbedaan tradisi tidak menghalangi pertemuan nilai.

30.000 warga menerima zakat Rp500 ribu per orang dari Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia bekerja sama dengan Pemkot Surabaya, dengan total dana Rp16 miliar. Penyaluran dilakukan bertahap selama 12 hari untuk menjaga ketertiban. (Sumber: Instagram @chenghoosby | Foto: Hasil tangkapan layar)
30.000 warga menerima zakat Rp500 ribu per orang dari Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia bekerja sama dengan Pemkot Surabaya, dengan total dana Rp16 miliar. Penyaluran dilakukan bertahap selama 12 hari untuk menjaga ketertiban. (Sumber: Instagram @chenghoosby | Foto: Hasil tangkapan layar)

Wajah Islam Inklusif di Surabaya dan Bandung

Setiap Ramadan selalu menghadirkan wajah Islam yang damai, hangat, rukun, harmoni.

Dengan berbagi tanpa banyak tanya, memberi tanpa memandang latar belakang. Tahun ini, potret itu terlihat jelas di Surabaya dan Bandung (dua masjid) satu semangat kepedulian.

Di Kota Pahlawan, sebanyak 30.000 warga prasejahtera dari 31 kecamatan menerima zakat tunai Rp500 ribu per orang. Program ini digagas oleh Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surabaya, dengan total dana mencapai Rp16 miliar.

Penyaluran dilakukan dalam 12 sesi selama 12 hari, rata-rata 3.000 penerima per hari. Sistem undangan dan jadwal ketat diterapkan demi menjaga ketertiban dan menghindari kerumunan.

Ketua Yayasan, Abdullah Nirawi, menyebutkan jumlah penerima tahun ini meningkat signifikan dari 16 ribu menjadi 32 ribu orang. Langkah ini diambil sebagai respons atas tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat.

Bagi Ningsih, salah satu warga menjelaskan bantuan ini sangat berarti. Di tengah harga kebutuhan pokok yang terus naik, uang itu akan digunakan untuk membeli beras dan kebutuhan dapur selama Ramadan.

Dengan adanya program ini, Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya terus berupaya dan menegaskan perannya bukan hanya sebagai pusat ibadah, tetapi menjadi bukti kuatnya semangat gotong royong, kepedulian antarwarga di Kota Pahlawan dan sebagai pusat dan gerakan solidaritas sosial yang inklusif. (https://kabarbaik.co).

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Untuk itu di Bandung, suasana berbeda namun bernapas sama terasa di Masjid Lautze 2. Berdiri sejak 2017 dan aktif menggelar buka puasa bersama sejak 2022, masjid ini menjadi ruang perjumpaan lintas latar belakang.

Setiap sore Ramadan, kajian digelar sebelum berbuka puasa bersama. Pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar duduk sejajar tanpa kursi khusus, tanpa sekat sosial.

Noneng (48), penjual kopi yang rutin datang, merasakan manfaatnya bukan hanya pada makanan, melainkan pada suasana kebersamaan, guyub.

Bagi pekerja informal, penghematan Rp15 ribu per hari bukan hal kecil. Namun lebih dari itu, suasana hangat membuatnya berharap kegiatan ini terus ada dan dijaga.

Rupanya di balik program ini, ada sosok Abah Oting (80), pendiri dan penggerak utama. Sekitar seribu boks makanan dibagikan setiap hari. Masjid yang merupakan cabang dari Masjid Lautze Jakarta ini dikenal sebagai tempat pembinaan mualaf, pada tahun ini saja, 47 orang tercatat bersyahadat.

Prinsip yang dijaga sangat sederhana. Siapa pun boleh datang, tanpa melihat identitas dan latar belakang. Identitas Tionghoa yang melekat pada Lautze bukan pembatas, melainkan simbol keterbukaan. (Ayo Bandung, Selasa 24 Feb 2026, 15:31 WIB)

Bila di Surabaya menghadirkan skala besar, dengan puluhan ribu warga menerima zakat. Bandung menghadirkan kedekatan dengan menjadi ruang (pertemuan) kecil yang mempersatukan beragam manusia dalam satu saf berbuka.

Keduanya memperlihatkan wajah Islam yang sama-sama inklusif, membumi, dan hadir menjawab kebutuhan nyata. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, justru untuk memperluas empati.

Di antara angka miliaran rupiah dan seribu boks makanan setiap hari, tersimpan makna yang lebih dalam. Keberagamaan menemukan wujud paling indahnya ketika menjelma menjadi kepedulian.

Ramadhan Bareng GUSDURian,
Quote Gus Dur #1 "Jika kita merasa muslim terhormat, maka kita akan berpuasa dengan menghormati orang yang tidak berpuasa." (Sumber: Instagram | Foto: @gusdurian_mojokerto)
Ramadhan Bareng GUSDURian, Quote Gus Dur #1 "Jika kita merasa muslim terhormat, maka kita akan berpuasa dengan menghormati orang yang tidak berpuasa." (Sumber: Instagram | Foto: @gusdurian_mojokerto)

Mari kita berusaha memaknai puasa ala Gus Dur tidak pernah berhenti sebagai ritual tahunan yang berulang tanpa makna.

Puasa adalah laku spiritual yang harus melahirkan kesadaran sosial, kemanusiaan, keberpihakan moral, dan keberanian untuk melihat realitas manusia secara jujur.

Dengan meneladani sosok Gus Dur kita dapat memaknai puasa sebagai revolusioner bukan dalam arti politis semata, tetapi revolusi batin yang mengubah cara pandang seseorang terhadap sesama agar lebih manusiawi.

Kehadiran Nyai Shinta Nuriyah, Ahad (22/02/26) dalam acara sahur bersama civitas akademika UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan menjadi lebih dari sekedar agenda Ramadan.

Momentum sahur bersama ini menjelma ruang pembelajaran nilai empati dan kemanusiaan yang nyata selaras dengan spirit pemikiran KH Abdurrahman Wahid tentang Islam yang inklusif dan menjunjung tinggi persaudaraan kemanusiaan. (https://uingusdur.ac.id dan NU Online Senin, 23 Februari 2026 | 16:30 WIB)

Jaya Suprana pernah menuliskan Belajar Kearifan Ibadah Puasa dari Gus Dur.

Saya memeroleh warisan tambahan kearifan tentang makna puasa untuk menjalin hubungan sosial setiap insan manusia dengan lingkungan sosial masing-masing.

Dari Gus Dur saya memperoleh warisan kesadaran mengenai pada hakikatnya belum cukup bahwa seorang yang tidak menunaikan ibadah puasa hukumnya wajib menghargai dan menghormati sesama warga yang menunaikan ibadah puasa.

Menurut Gus Dur, toleransi antar umat beragama belumlah lengkap secara psikososial apabila belum ditambah dengan kearifan seorang yang menunaikan ibadah puasa hukumnya wajib menghargai dan menghargai sesama warga yang tidak menunaikan ibadah puasa.

Gus Dur menyadarkan saya bahwa toleransi antar umat beragama tidak cukup satu arah namun justru dua arah demi saling menghargai dan saling menghormati. (Kompas, 12 April 2021, 08:46 WIB).

Mengakui perbedaan dan memeliharanya tidak membuat orang atau bangsa menjadi lemah. Sikap lapang dada menerima perbedaan dan ketidaksetujuan, justru membuktikan kita adalah sosok atau bangsa yang kuat.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Sejatinya dalam konteks kehadiran puncak Imlek 2577 pada ramadan 1447 ini bukan sekadar perayaan, melainkan ruang perjumpaan nilai. Imlek mengajarkan syukur, harapan baru, dan penghormatan pada keluarga.

Ramadan meneguhkan kesabaran, pengendalian diri, dan kepedulian sosial. Di titik temu itulah kepedulian pada masyarakat sekitar menemukan bentuknya yang paling nyata.

Jika di Bandung, berdiri Masjid Lautze 2 sebagai simbol harmoni yang merangkul identitas Tionghoa dan Islam dalam satu atap keimanan, maka di Surabaya, kehadiran Masjid Cheng Ho menjadi penanda ihwal perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipertemukan dalam kebajikan.

Sungguh suasana pagi itu terasa lebih dari sekadar pertemuan dua kawan lama. Ya menjadi pengingat soal tradisi menulis bukan hanya merangkai kata, tetapi merawat makna tentang kebersamaan, saling peduli, dan Indonesia yang menemukan keindahannya justru saat keberagaman dirawat, dijaga dengan tulus tanpa basa-basi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)