Agama-Agama Tiongkok yang Melebur di Segala Arah Tanah Sunda

7 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Hio Lo Utama di Vihara Satya Budhi (Kelenteng Bandung) (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Hio Lo Utama di Vihara Satya Budhi (Kelenteng Bandung) (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Di tanah Sunda, praktik agama-agama Tiongkok bisa kita lihat lewat rumah ibadah yang berdiri di berbagai kota dan desa. Kalau pun merasa sulit menemuinya, kita bisa cari dalam statistika dulu. Satu Data Kementerian Agama 2025, mencatatnya dengan 8 klenteng di Jawa Barat dan 2 klenteng di Banten.

Kita pasti tersentak kaget. Kok sedikit sekali? Masa sih? Memang angka itu tampak kecil, sebuah permukaan dari realitas yang jauh lebih kaya.

Dalam data yang sama disebutkan, ada ratusan vihara, 222 di Jawa Barat dan 189 di Banten. Data negara memang seperti itu, tidak memberi keterangan yang rinci. Alhasil kita cenderung memberi kesan seolah-olah kultur Sunda tak punya hubungan spesial dengan berbagai ekspresi agama Tiongkok. Padahal kita tahu, banyak vihara itu punya corak yang kuat dengan identitas Tionghoa. Kentara merah yang menyala, lampion, dan relief naga yang mencolok.

M. Ikhsan Tanggok dalam “Buddhist and Confucian Relations in Indonesia: Conflict over the Ownership, Name and Function of Chinese Temples (Kelenteng)” (ICRI, 2018) menyoroti bahwa perubahan nama kelenteng menjadi vihara erat kaitannya dengan regulasi Orde Baru yang memaksa proses asimilasi warga Tionghoa dengan masyarakat lokal.

Larangan mendirikan kelenteng baru dan kewajiban mengganti nama akhirnya malah menambah jumlah rumah ibadah Buddha. Di sinilah muncul masalah. Umat Konghucu kecewa, menegaskan bahwa kelenteng tetap menjadi rumah ibadah mereka. Meski kini beberapa di antaranya harus memilih litang, rumah ibadah khusus Konghucu.

Sebaran dan dinamika keberadaan rumah ibadah yang berakar pada agama Tiongkok sebetulnya bisa ditelusuri lebih rinci melalui Open Data Jabar dengan tajuk “Keberadaan Litang/Kelenteng Berdasarkan Desa/Kelurahan di Jawa Barat” (Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa). Data ini merekam pergerakan dan penyebaran klenteng serta litang dari tahun 2019 hingga 2024.

Dan dari data ini, kita juga mulai mengerti bahwa praktik keagamaan Tiongkok bukan sekadar simbol, tetapi punya irisan dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat Sunda.

Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN), sebagai salah satu organisasi yang menaungi umat Khonghucu, turut memperkaya pemahaman kita tersebut. Dalam situs web resminya (matakin.or.id), ia memberikan data bahwa umatnya hadir melalui Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) yang tersebar di 34 cabang di Jawa Barat dan 7 cabang di Banten.

Angka yang lumayan, meski jumlahnya lebih terbatas dibandingkan dengan paguyuban agama lain. Namun begitu, kehadiran MAKIN ini sekali lagi menegaskan perannya sebagai bagian dari lanskap keagamaan di Tanah Sunda.

“Cina Benteng” di Bagian Barat Sunda

Salah satu contoh nyata dari perjumpaan yang menyukma antara Sunda dan Tionghoa dapat kita lihat dalam penelitian Billy Nathan Setiawan “Cina Benteng: The Latest Generations and Acculturation” (Jurnal Lingua Cultura, 2015). Penelitian ini menelusuri kehidupan dua generasi muda “Cina Benteng” di Tangerang, di mana tradisi leluhur, bahasa, dan praktik budaya mereka berbaur dengan denyut kehidupan lokal.

Dalam pernikahan, musik, bahkan kosakata sehari-hari, mereka menenun warisan Tionghoa dengan warna Sunda dan Betawi. Aktivitas komunitas di sungai Cisadane, dari lomba perahu hingga permainan masa kecil, menjadi fondasi bagi identitas ini. Sebuah persilangan yang lahir dari anasir-anasir yang besar.

Lebih jauh, penelitian Abdul Malik dan kawan-kawan dalam “Identity Negotiation of Cina Benteng Community in Building Tolerance” (Journal of Governance, 2022) menyoroti keberagamaan komunitas “Cina Benteng” di Desa Kalipasir, Tangerang. Dalam penelitian tersebut dikatakan bahwa sebagian besar dari warga itu memeluk Buddha dan Konghucu, sedangkan beberapa lainnya menyelipkan Tao, membentuk praktik Tridharma (tiga tradisi agama yang dihidupi secara bersama-sama). Inilah keluwesan spiritualitasnya.

Mereka juga hidup berdampingan dengan tetangga muslim dan kristiani. Bahasa Sunda menjadi jembatan dengan lingkungan sekitar. Perayaan maulid pun menjadi momen berbagi sukacita. Bahkan warung sate babi yang rawan jadi isu gesekan bisa dikendalikan dengan kesadaran sosial yang tinggi.

Semua ini menunjukkan bahwa keberagaman yang lahir di persilangan Sunda dan agama-agama Tiongkok bisa hidup di tengah-tengah kita.

Begitu juga perjumpaan ini terdokumentasi dalam bahasa mereka sendiri. Ada nyangseng yang berarti melayat, kebadi yang merujuk pada kesurupan, dan kekerejetan yang maksudnya sekarat menjelang ajal. Mereka menyebut magrib dengan menggerib dan sebagaimana orang Sunda mengenal kata sandékala dengan makna yang sama.

Kata-kata itu berlalu-lalang bersama istilah-istilah lainnya seperti te cua sebagai sembahyang kuburan atau sio poe sebagai usaha meminta restu dewa dengan melempar koin atau keping kayu setelah sembahyang.

Komunitas “Cina Benteng” diyakini lahir dari asmara di antara laki-laki Tionghoa dan perempuan Sunda di masa lalu. Jejak kisah ini masih dapat kita ditelusuri melalui praktik cio tao, sebuah tradisi sakral yang menjadi bagian penting dari upacara perkawinan mereka.

Busana pengantin perempuan mengingatkan kita pada kebaya, sementara kembang goyang yang digunakan menautkan ingatan pada siger Sunda. Selain itu, adanya sesi sawér pengantin menambah kesan kita pada upacara jatukrami yang lekat dengan budaya Sunda (Kumparan. Ikut Masuk ke Upacara Cio Tao: Tradisi Nikah Cina Benteng yang Sakral dan Langka. YouTube, 2025).

“Cina Benteng” bukan komunitas Tionghoa yang tercemar, bukan juga Sunda yang ‘log out’.

Hio Putri Ong Tien di Bagian Timur Sunda

Di ujung Pasundan, di perbatasan antara sejarah dan legenda, terbentang sebuah tanah yang menampung banyak keragaman. Di sinilah Jawa, Arab,  termasuk Sunda dan Tionghoa bertemu dalam harmoni. Tanah ini dikenal sebagai Caruban Nagari, negeri campuran yang kini riwayatnya terkenang dalam nama Cirebon.

Di pusat negeri ini, dijumpai tempat peristirahatan terakhir dari seorang perempuan terhormat yang datang dari Tiongkok. Putri Ong Tien, istri Sunan Gunung Jati sang penyebar Islam di Tanah Sunda. Makamnya menjadi saksi bisu kisah cinta yang menembus batas budaya.

Di antara nisan-nisan yang dingin dan hening, berdirilah hiolo, wadah suci tempat peziarah Tionghoa menancapkan dupa sebagai ungkapan penghormatan dan doa.

Meski Putri Ong Tien diyakini telah memeluk Islam, praktik sembahyang ini tetaplah hidup. Nyala hio menjulang, aromanya mengalir, menjadi lambang keharuman yang menegaskan bahwa praktik agama leluhur Tionghoa bisa diterima di negeri ini. Bahkan di nadi utama, di pintu masuk Islam meresap ke darah Sunda (Syaripulloh, dkk. “Makna Dupa dalam Tradisi Ziarah Makam Sunan Gunung Jati Cirebon, Jawa Barat” (PURBAWIDYA, 2024).

Asap putih itu menautkan hidung kita pada hasil pembakaran kemenyan yang membumbung dari parukuyan di sekitarnya. Sekarang kita mengerti bahwa melalui harum yang naik itu, perbedaan cara membakar dupa bertemu dalam intensi yang sakral. Dalam kepulan yang bentuknya menjadi serupa tersebut, nyata tak lagi terlihat inikah asap dari hio merah atau kemenyan putih?

Fang Sheng di Kelenteng Bandung, Praktik Keagamaan Tionghoa dan Agama Buddha yang Melepaskan Makhluk Hidup ke Alam Bebas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Fang Sheng di Kelenteng Bandung, Praktik Keagamaan Tionghoa dan Agama Buddha yang Melepaskan Makhluk Hidup ke Alam Bebas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Kelenteng yang Tersebar di Antara Barat dan Timur

Di Bogor, Cianjur, dan Bandung, kelenteng dan vihara berdiri sebagai saksi lain dari perjalanan orang Tionghoa di Tanah Sunda. Ia menempatkan dewa-dewa Tiongkok berdampingan dengan leluhur lokal. Sugiri Kustedja dan kawan-kawannya dalam “Local Deities as Symbol of Acculturated Chinese Diasporas Temples in Indonesia” (2025) mencatat keunikan ini.

Di altar Mahabrahma, dupa membumbung di hadapan Eyang Raden Surya Kencana Dinata Mankubumi, penguasa Gunung Gede, yang duduk berdampingan dengan Eyang Jugo dari Gunung Kawi, serta Buyut Gebok dan Embah Raden Mangun Jaya. Di sana batu-batu sakral yang menyimpan napas agama leluhur Sunda juga sengaja tergeletak dihormati.

Sementara di Hok Tek Bio, di antara simbol Hok Tek Ceng Sien, hadir Embah Bogor dan sekali lagi Eyang Surya Kencana, mempertemukan agama-agama Tiongkok dengan kesundaan dalam satu ruang yang sakral.

Dalam kajian yang sama, di Pacet Cipanas, Sakyawanaram menyambut peziarah dengan Rupang Sang Buddha yang agung. Namun di altar kecil hadir juga Eyang Surya Kencana. Di sudut lain Semar beserta anak-anaknya hadir, para punakawan dari cerita rakyat Sunda.

Di Bandung, Vihara Giri Toba meneguhkan tradisi yang sama. Altar untuk Eyang Semar, Wali Songo, dan keris sakral bertemu dengan kehadirat para dewa Tiongkok. Ia menghadirkan rumah ibadah yang bukan sekadar kuil, tetapi ruang perjumpaan yang hidup, tempat budaya Sunda dan agama Tiongkok saling bersapa, juga saling menghormati.

Praktik agama Tiongkok di Tanah Sunda sebagaimana ditunjukkan di atas, memperlihatkan sifatnya yang cair dan adaptif terhadap kekayaan tradisi agama lokal. Shin-yi Chao dalam pengantar “Chinese Popular Religion in Text and Acts” (2023) menekankan bahwa teks, ritual, dan simbol-simbol agama Tiongkok selalu terbuka untuk direinterpretasi sesuai kebutuhan komunitas setempat, melibatkan rakyat biasa maupun elit. Hal ini membuatnya tidak kaku melainkan selalu inklusif untuk berinteraksi dengan yang lain tanpa kehilangan karakter dasarnya.

Refleksi

Agama-agama Tiongkok ternyata telah menapak lama di Tanah Sunda. Ia berhasil menghadirkan wajahnya yang hangat dan akrab. Agama-agama Tiongkok, maafkan kami jika selama ini masih merasa ada jarak. Maafkan kami, jika para penganut ajaranmu masih kami ragukan sebagai “asing” di antara imaji pribumi.

Kini saatnya kamu dan kami membentuk “kita”, menanggalkan asumsi liar soal sekat. Kini kita mesti belajar dari warga Benteng tentang Sunda yang terbuka dan Tionghoa yang membumi, tentang perbedaan yang bisa menjadi satu tubuh.

Begitu juga seperti asap dupa dan kemenyan yang tetap putih dan semerbak harum, tak peduli pada rupa asalnya yang berbeda. Di makam Putri Ong Tien kita telah bersama-sama menimba kebijaksanaan.

Kita juga harus meniru sikap para dewa dan leluhur yang mau duduk berdampingan, yang dari altarnya mau menyediakan ruang bagi yang lain. Sebuah teladan sunyi yang tegak abadi di rumah ibadah kita. Semoga persaudaraan kita terus layeut, kian bajik dan bijak. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)