Membicarakan Yahudi di Pusat Peradaban Sunda Modern

7 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Liputan Media JTA tentang Isu Palestina dan Israel pada Momen Konferensi Asia-Afrika 1955 (Sumber: https://www.jta.org/archive/arabs-seek-censure-of-israel-at-bandung-asian-african-conference | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Liputan Media JTA tentang Isu Palestina dan Israel pada Momen Konferensi Asia-Afrika 1955 (Sumber: https://www.jta.org/archive/arabs-seek-censure-of-israel-at-bandung-asian-african-conference | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Katanya, pas zaman kolonial dulu, Jalan Braga di Bandung pernah jadi “ghetto” kecil untuk orang Yahudi. Beberapa keluarga seperti Roth, Godstein, Tatarah, Goldberg, dan Ephreim konon tinggal di sana.

Kabar bilang, mereka tidak hanya tinggal tapi juga meramaikan kota. Masuk ke dalam jaringan perdagangan, usaha, dan interaksi budaya di tengah keragaman Bandung waktu itu (Kumeok Memeh Dipacok, Agama Yahudi di Bandung Jaman Dulu, blog pribadi, Agustus 2015).

Bandung juga pernah jadi simpul gerakan Zionis. Ir. B. Wurbik di Jalan Riau dan S.I. van Creveld di Jalan Cikapayang jadi penggeraknya. Ceramah Dr. A. Goldstein pada 1927 dan kunjungan Benzion Shein pada 1934 menyalakan semangat tersebut. Dalam tiga minggu, terkumpul 14.500 gulden dari Bandung, Batavia, Semarang, dan Surabaya (Bambang Arifianto, Pikiran Rakyat, 16 Desember 2023).

Di Bawah Bayang Rezim Kolonial Hindia Belanda

Leonard Chrysostomos Epafras dan Rotem Kowner dalam “From a Colonial Settlement to a New Identity: The Rise, Fall and Reemergence of the Jewish Community in Indonesia” (2022) menerangkan soal komunitas Yahudi di Indonesia, khususnya di Bandung tersebut sebagai kisah tentang identitas yang tipis, tersebar, namun gigih meninggalkan jejaknya di tanah jajahan.

Sejak awal abad ke-20, Yahudi Belanda (Ashkenazi) dan Yahudi Baghdadi telah menjejakkan kakinya di Bandung, kota dengan latar pegunungan Sunda dan jalan-jalan yang ramai oleh aktivitas kolonial. Mereka datang sebagai pedagang, profesional, dan pegawai administrasi, membawa warisan Eropa, Levant, dan Dunia Arab, sekaligus membangun kehidupan yang berpadu dengan lanskap rezim Hindia Belanda.

Komunitas ini mendirikan majalah Erets Israel, yang awalnya lahir di Padang, lalu dipindahkan ke Bandung, sebagai jendela untuk meneguhkan identitas dan komunikasi di antara mereka. Meski tak memiliki sinagoga resmi atau rabbi, mereka tetap menjaga ikatan melalui organisasi Zionis dan jaringan sosial yang tersebar.

Pada masa itu, Bandung menjadi titik pertemuan, meski jumlah mereka tak pernah melebihi beberapa ratus jiwa.

Kedatangan mereka bukan tanpa alasan. Antisemitisme yang meningkat di Eropa, terbatasnya kesempatan, dan janji kehidupan lebih bebas di Hindia Belanda membuat Bandung menjadi semesta bagi identitas baru. Mereka beradaptasi, menjalankan perdagangan dan bisnis, sambil tetap menjaga tradisinya.

Namun sejarah berubah. Pendudukan Jepang (1942-1945) dan perjuangan kemerdekaan Indonesia menandai awal kemunduran komunitas ini. Di antara mereka akhirnya banyak yang memilih migrasi ke Belanda, tanah yang diklaim Israel, atau Amerika, meninggalkan Bandung sebagai saksi sunyi dari fragmen identitas Yahudi di Tanah Sunda.

Informasi 'Kosher', Berarti Makanan yang Sesuai Hukum Yahudi (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Informasi 'Kosher', Berarti Makanan yang Sesuai Hukum Yahudi (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Wardani Dwi Jayanti dalam skripsinya yang berjudul “Sejarah komunitas Yahudi di Indonesia Tahun 1926-1957” (Universitas Sebelas Maret, 2019) juga mencatat Bandung sebagai salah satu pusat aktivitas Yahudi yang vital di luar Pulau Jawa bagian timur. Kota ini menjadi ruang bagi Ashkenazi dan Sefardi untuk memperkuat identitas keagamaan dan budaya mereka.

Sejak 1930-an, kursus bahasa Ibrani dan pelajaran Yudaisme digelar di ruang-ruang publik seperti De Concurrent di Bragaweg (sekarang Jalan Braga) dan B.S.V School di Riouwstraat. Puluhan peserta dari berbagai usia datang untuk belajar, dipimpin tokoh seperti A. Elburg dan didukung organisasi pemuda Rewid Zahav, yang tetap aktif hingga 1942 menjelang pendudukan Jepang.

Selain pendidikan, Bandung juga menjadi markas cabang Nederlandsch Indische Zionisten Bond (NIZB) dan Vereeniging voor Joodsche Belangen (VVJB). Mereka mengkoordinasikan gerakan Zionisme, menyelenggarakan penggalangan dana melalui Keren Hajesod, sekaligus merayakan Purim dan Hanukah.

Kota ini bahkan menjadi basis militer Yahudi, Achawah. Serikat tentara Yahudi ini berdiri pada 1926. Kemudian diikuti dengan pembangunan Joodsche Militaire Tehuis, rumah singgah bagi prajurit Yahudi, simbol solidaritas di tengah KNIL.

Kehadiran mereka di Bandung bukanlah kebetulan. Kota administratif yang strategis dan lingkungan sosial yang relatif stabil memungkinkan komunitas ini berkembang tanpa gangguan signifikan hingga 1942.

Tokoh seperti P. Boeken (ketua NIZB Bandung) dan Isidore Hen (pemrakarsa Keren Hajesod) menjadi motor penggeraknya. Interaksi dengan non-Yahudi juga terjadi melalui acara publik, termasuk pemutaran film propaganda Zionis The Land of Promise (1936) yang dihadiri pejabat kolonial.

Puncak aktivitas komunitas ini berlangsung antara 1930-1941. Kursus bahasa Ibrani, pelajaran agama, dan penggalangan dana untuk pengungsi Yahudi Eropa berjalan bersamaan, paralel dengan perjuangan global melawan antisemitisme.

Meski pragmatis, semua aktivitas ini menunjukkan adaptasi komunitas Yahudi di tanah Sunda, menjadikan Bandung episentrum diaspora yang hidup dan dinamis hingga perubahan geopolitik menandai akhir rezim Hindia Belanda.

Balik Arah Setelah Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, Bandung bukan hanya kota pegunungan yang teduh sekaligus penuh dengan sejarah kolonialismenya. Ia juga tumbuh tapi jadi panggung politik dunia.

Sepuluh tahun pasca-proklamasi, April 1955, kota ini jadi pribumi bagi Konferensi Asia-Afrika. Sebuah pertemuan bersejarah yang mengumpulkan negara-negara tertindas. Di jalan-jalan yang dulu menyimpan jejak komunitas Yahudi, kini berkumpul delegasi Arab, India, Burma (Myanmar), dan Mesir, memperbincangkan isu kemanusiaan dan pembebasan di Tanah Sunda.

Dr. Mohammed Fadhil Jamali dari Irak datang lebih awal, memastikan agar masalah Israel masuk ke agenda. Gamal Abdel Nasser, pemimpin Mesir, menekan Nehru untuk ikut mengecam. Tapi India tampak ragu, diplomatnya Arthur S. Lall bahkan menyiratkan lebih baik isu itu disisihkan.

Israel sendiri tak diundang, meski U Nu dari Burma sempat mendukung. Harian Al Akbar di Kairo menulis lantang, Konferensi Bandung akan jadi panggung untuk membela Arab (Jewish Telegraphic Agency, “Arabs Seek Censure of Israel at Bandung Asian-African Conference,” 15 April 1955, Daily News Bulletin, Vol. XXII, No. 73).

Ahmad Rizky M. Umar dan kawan-kawannya dalam “Bandung Conference 70 Years On: Visions of Decolonisation for a Multipolar World Order.” (Global South Review, 2025), menulis, bahwa meski puluhan tahun telah berlalu dan 116 negara telah meraih kemerdekaan setelah peristiwa itu, bayangan kolonialisme belum sepenuhnya sirna.

Satu contoh yang paling nyata adalah Palestina. Di tengah gema solidaritas Asia-Afrika, hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa Palestina terus tertunda. 

Bandung tampil sebagai kota penuh paradoks. Di pusat peradaban Sunda modern ini, jejak Zionisme pernah bersemi dan berkelindan dengan bayang kolonialisme yang terpatri pada rezim Hindia Belanda. Beberapa keluarga Yahudi menetap, berbisnis, dan hidup berdampingan, menambah warna bagi mosaik Bandung yang kosmopolit pada awal abad ke-20.

Demonstrasi di Depan Gedung Merdeka, Tempat Berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika 1955 (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Demonstrasi di Depan Gedung Merdeka, Tempat Berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika 1955 (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Namun secara ironi, di kota yang sama, hanya beberapa dekade kemudian, suara berlawanan bergema. Setelah Indonesia merdeka, Bandung justru menjelma panggung yang mengutuk kolonialisme, dan menyuarakan solidaritas bagi Palestina yang tertindas oleh proyek Zionisme.

Kota yang pernah jadi ruang hidup bagi komunitas Yahudi di Indonesia,  berbalik arah menjadi ruang lahirnya seruan melawan ketidakadilan. Bandung seolah menampilkan wajah ganda sejarah, satu sisi keterhubungan dengan kolonialisme, sisi lain keberpihakan pada kemerdekaan sejati.

Menjernihkan Pikir dengan Mehidupi Semangat KAA

Dalam pikiran kita, sering kali istilah Yahudi, Yudaisme, Israel, dan Zionisme dicampuradukkan seolah-olah satu maknanya. Padahal nama-nama tersebut memiliki konteks berbeda yang perlu dipahami agar tidak jatuh pada kesalahpahaman.

Yahudi adalah identitas agama sekaligus kebangsaan yang sudah ada ribuan tahun, hadir dalam diaspora di berbagai belahan dunia, termasuk di Tatar Sunda. Yudaisme cenderung merujuk pada sistem religinya, kita biasa menyebut dengan agama Yahudi.

Israel sendiri punya dua pengertian. Dalam tradisi keagamaan, ia menunjuk pada Bani Israel, sebuah identitas spiritual yang berakar pada narasi kitab suci. Sementara dalam arti modern, Israel adalah negara yang diklaim berdiri pada 1948 sebagai hasil dari proyek politik tertentu.

Adapun Zionisme adalah ideologi politik yang muncul pada akhir abad ke-19, bertujuan mendirikan dan mempertahankan negara tersebut di Palestina.

Ketika batas-batas ini dikaburkan, muncullah mispersepsi publik. Dalam konteks kolonialisme dan konflik global, kebencian terhadap Zionisme seringkali bergeser menjadi kebencian terhadap orang Yahudi secara keseluruhan. 

“Zionisme didirikan atas keyakinan bahwa antisemitisme tidak mungkin bisa dihapus sepenuhnya, hanya bisa dikurangi. Tapi hari ini semakin jelas bahwa proyek Zionis telah gagal dalam misinya yang katanya untuk menjamin keselamatan orang Yahudi.” (Shane Burley dan Ben Lorber, 2024)

Inilah yang melahirkan antisemitisme, sebuah bias yang menempatkan identitas etnis dan agama sebagai musuh, padahal problem utamanya adalah proyek kolonial Zionisme. Kita

bisa membaca itu semua dengan jelas dalam, Susan Landau, “‘Thou Shalt Not Stand Idly By’: Jews of Conscience on Palestine” (2025).

Bandung, yang pernah menyaksikan jejak komunitas Yahudi sekaligus menjadi panggung anti-kolonial, memberi kita pelajaran penting bahwa melawan penindasan tidak berarti menghapus identitas orang atau kelompok tertentu.

Semangat Konferensi Asia-Afrika 1955 jelas, menolak segala bentuk kolonialisme. Spirit ini relevan untuk menegaskan bahwa perlawanan terhadap Zionisme adalah bagian dari solidaritas global melawan penjajahan, bukan seruan untuk menghapus eksistensi Yahudi.

Anti-kolonialisme di Bandung menolak penindasan atas bangsa Palestina, sekaligus menolak jebakan kebencian yang buta. Dengan meluruskan jejak ini, kita bisa menjaga warisan Bandung sebagai ruang perlawanan yang adil. Kita mengutuk kolonialisme, tapi tetap menghormati keberadaan identitas dan tradisi Yahudi yang berbeda dari Zionisme itu sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)