Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Jumat 09 Jan 2026, 16:00 WIB
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)

Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID - Jauh sebelum Kawah Putih Ciwidey dipadati bus pariwisata dan ponsel yang sibuk mencari sudut foto terbaik, tempat ini sudah lebih dulu membuat orang Eropa terdiam. Bukan karena sinyal hilang, melainkan karena sunyi yang terasa terlalu sempurna.

Dalam buku panduan wisata Gids van Bandoeng en Midden-Priangan terbitan 1927, Kawah Putih digambarkan bukan sekadar objek tamasya, melainkan pengalaman fisik sekaligus mental. Datang ke sana berarti bersiap berjalan, mendaki, berkeringat, lalu dihadiahi lanskap yang terasa asing bahkan bagi lidah kolonial yang sudah kenyang melihat gunung tropis.

Perjalanan dimulai dengan meninggalkan mobil di titik tertentu, lalu dilanjutkan berjalan kaki dipandu seorang pemandu dari Rancabolang. Dalam logika pariwisata kolonial, pemandu bukan hanya penunjuk jalan, tetapi juga semacam jaminan keselamatan agar pelancong tidak tersesat di alam yang dianggap liar dan penuh kejutan.

Baca Juga: Hikayat Tamasya Zaman Baheula di Curug Dago Bandung

Jalur menuju kawah disebut tidak terlalu berat, meski ada satu catatan kecil yang terasa seperti peringatan halus: sekitar 400 anak tangga. Angka ini ditulis tanpa ekspresi, tetapi cukup untuk membayangkan betis Eropa yang terbiasa berjalan di trotoar kota harus bernegosiasi dengan gravitasi Gunung Patuha.

Setelah sekitar satu setengah jam berjalan dari batas Rancabolang dan perkebunan teh Patuhawatee (Patoehawattie), barulah Kawah Putih menampakkan diri.

Di hadapan pelancong kolonial, terbentang danau belerang yang mati, dingin, dan menyilaukan putihnya. Kata mati di sini bukan metafora berlebihan. Airnya tidak mengundang kehidupan, dan suasananya tidak ramah bagi kicau burung. Gelembung gas yang muncul di permukaan danau justru memperkuat kesan bahwa tempat ini lebih cocok untuk direnungkan ketimbang diramaikan.

Suasananya Sunyi Sampai Suara Petasan Terpantul Ratusan Kali

Panduan wisata itu mencatat kesan kesunyian Kawah Putih sebagai sesuatu yang menekan. Bukan sunyi romantis seperti taman kota di pagi hari, melainkan keheningan mutlak yang terasa terlalu utuh. Bahkan burung pun enggan ambil bagian. Dalam kondisi seperti itu, muncul godaan aneh yang dicatat dengan jujur: keinginan untuk memecah sunyi.

Disebutkan bahwa suara tembakan atau petasan kecil yang dilemparkan ke dalam kawah akan dipantulkan ratusan kali oleh dinding batu. Pantulan itu seolah memberi pelepasan sementara dari tekanan suasana. Catatan ini memperlihatkan bahwa saat zaman baheula, Kawah Putih Ciwidey adalah kawasan wisata yang begitu sunyi nan sepi. Dalam kosakata anak muda zaman kiwari, lokasi macam ini akan masuk kategori tempat healing idaman yang benar-banar membuat pelancongya menjaga jarak dari bisingnya kenyataan.

Baca Juga: Sejarah Oleh-oleh Bandung, dari Peuyeum Kampung hingga Pisang Bolen Ikon Kota

Secara topografi, Kawah Putih dikelilingi dinding batu di tiga sisi, tertutup hutan, sebagian hampir tegak lurus. Dari titik pandang utama, terdapat penurunan yang sangat mudah, tidak lebih dari sepuluh meter, menuju ladang belerang dan danau putih. Kemudahan ini tampaknya sengaja ditekankan untuk menenangkan calon pelancong yang mungkin sudah lelah setelah menaklukkan ratusan anak tangga.

Panduan tersebut juga menyebutkan jalur alternatif yang bisa ditempuh dari jalan besar. Cara ini tidak lebih cepat, tetapi jauh lebih ramah bagi mereka yang ingin mengurangi kerja kaki. Dengan mengambil jalan kendaraan pertama ke kanan setelah melewati Rancabolang, pelancong dapat mendekat ke kawasan Patuhawatee menggunakan mobil. Jalan kendaraan ini disebut baru dibangun dan cukup curam di beberapa bagian, sebuah detail yang mengisyaratkan optimisme kolonial terhadap teknologi dan infrastruktur.

Kawah Putih Ciwidey tahun 1932. (Sumber: Tropenmuseum)
Kawah Putih Ciwidey tahun 1932. (Sumber: Tropenmuseum)

Jika administrator kebun teh diberi kabar lebih dulu melalui telepon, kuda tunggang akan disediakan dengan senang hati. Kuda di sini berfungsi ganda: alat transportasi sekaligus simbol kenyamanan yang ditawarkan kolonialisme bagi tamu-tamunya. Setelah pendakian singkat, jalur setapak datar yang terawat membawa pelancong langsung ke Kawah Putih, lengkap dengan papan penunjuk arah.

Sepanjang perjalanan, mata dimanjakan oleh pemandangan Situ Patengan, perkebunan-perkebunan di sekitarnya, pegunungan, hingga Samudra Hindia di kejauhan. Kawah Putih, dalam narasi ini, bukan berdiri sendiri, melainkan bagian dari rangkaian panorama besar Priangan Selatan yang ditawarkan sebagai paket visual lengkap.

Baca Juga: Hikayat Oleh-oleh Bandung, dari Celebrity Cake hingga Tiramisusu Kekinian

Dari Kawah Putih ke Puncak Patuha

Panduan 1927 itu tidak berhenti di Kawah Putih. Dari sana, sebuah jalan setapak menghubungkannya dengan Kawah Patuha di puncak Patuha Kaler. Jalur ini membuka pemandangan ke arah danau belerang di kedalaman, seolah mengingatkan pelancong bahwa keindahan sering kali datang bersama risiko.

Setelah mendaki sekitar tiga perempat jam, tibalah di Kawah Patuha, sebuah kawah hampir bulat yang telah sepenuhnya mati. Dinding-dindingnya jatuh tegak lurus, membuat pelancong diingatkan untuk tetap berada di jalur. Jurang di kiri dan kanan bukan sekadar elemen dramatis, melainkan ancaman nyata bagi siapa pun yang terlalu percaya diri.

Dengan mengikuti tepi kawah, pelancong akan sampai di titik tertinggi, sekitar delapan ribu kaki, tempat sebuah tugu triangulasi berdiri. Dari sinilah pandangan bebas terbentang ke segala arah. Ke utara tampak jajaran pegunungan Dataran Tinggi Bandung, lebih jauh Gunung Gede dan Salak. Ke selatan, Pegunungan Selatan memanjang hingga gelombang Samudra Hindia yang tampak sangat jauh dan sepi.

Baca Juga: Gunung Tangkubanparahu, Ikon Wisata Bandung Sejak Zaman Kolonial

Di bawah sana terlihat Soreang, Cisondari, Telaga Patengan, lembah Cibuum, serta jaringan jalan yang menghubungkan perkebunan Sukahati dan Sperata dengan Rancabali. Lebih ke timur, mata dapat mengikuti deretan gunung dari Pangalengan, Malabar, Papandayan, Guntur, Cikuray, hingga Slamet. Pemandangan ini menempatkan pelancong kolonial sebagai penonton di atas panggung alam yang luas, sebuah posisi yang sangat disukai dalam imajinasi imperium.

Menariknya, panduan tersebut juga mencatat penemuan sebuah kawah kecil lain pada tahun 1925 melalui pengamatan dari pesawat terbang di lereng barat Gunung Patuha. Kawah ini digambar di peta sketsa, tetapi hingga saat itu belum pernah dikunjungi dan belum memiliki jalur. Catatan ini terasa seperti janji terbuka, bahwa Priangan masih menyimpan rahasia yang belum sepenuhnya dijinakkan.

Dalam pandangan kolonial tahun 1927, Kawah Putih Ciwidey bukan sekadar tempat indah. Ia adalah lanskap sunyi yang menguji fisik, memancing rasa tidak nyaman, sekaligus menawarkan kepuasan visual yang sulit ditandingi. Hampir seabad kemudian, sunyi itu memang sudah banyak berkurang. Namun jika dibaca ulang, kesan lama tentang Kawah Putih tetap terasa: sebuah tempat yang sejak awal tidak pernah sepenuhnya jinak, bahkan bagi mereka yang datang dengan buku panduan di tangan.

News Update

Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 26 Mei 2026, 09:51

Dupan, Ketika Citarum Menolak Surut

Banjir kembali merendam Sapan Bandung. Luapan Sungai Citarum membuat Dupan terus hidup sebagai langganan genangan warga.

Banjir Citarum di Sapan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 09:29

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026

PT PLN Nusantara Power UP Cirata sukses memborong penghargaan bergengsi TOP CSR Awards 2026 atas komitmen keberlanjutan sosial mereka.

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 08:21

Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar.

Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 07:40

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Fenomena mematikan centang biru WhatsApp mencerminkan perubahan etika komunikasi digital antara kebutuhan privasi, kenyamanan, dan ekspektasi respons instan.

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 19:25

Bandung Kembali Berpestapora untuk Tiga Kali Berturut-turut

Persib Bandung resmi menyambit gelar Liga Indonesia yang ke-5 kalinya dalam tiga kali berturut-turut. Euforia perayaan di Kota Bandung pun kembali menjadi perhatian.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2025/2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis).
Ayo Biz 25 Mei 2026, 18:51

Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal bagi Desa Margamukti.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)
Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)