Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID - Jauh sebelum Kawah Putih Ciwidey dipadati bus pariwisata dan ponsel yang sibuk mencari sudut foto terbaik, tempat ini sudah lebih dulu membuat orang Eropa terdiam. Bukan karena sinyal hilang, melainkan karena sunyi yang terasa terlalu sempurna.

Dalam buku panduan wisata Gids van Bandoeng en Midden-Priangan terbitan 1927, Kawah Putih digambarkan bukan sekadar objek tamasya, melainkan pengalaman fisik sekaligus mental. Datang ke sana berarti bersiap berjalan, mendaki, berkeringat, lalu dihadiahi lanskap yang terasa asing bahkan bagi lidah kolonial yang sudah kenyang melihat gunung tropis.

Perjalanan dimulai dengan meninggalkan mobil di titik tertentu, lalu dilanjutkan berjalan kaki dipandu seorang pemandu dari Rancabolang. Dalam logika pariwisata kolonial, pemandu bukan hanya penunjuk jalan, tetapi juga semacam jaminan keselamatan agar pelancong tidak tersesat di alam yang dianggap liar dan penuh kejutan.

Baca Juga: Hikayat Tamasya Zaman Baheula di Curug Dago Bandung

Jalur menuju kawah disebut tidak terlalu berat, meski ada satu catatan kecil yang terasa seperti peringatan halus: sekitar 400 anak tangga. Angka ini ditulis tanpa ekspresi, tetapi cukup untuk membayangkan betis Eropa yang terbiasa berjalan di trotoar kota harus bernegosiasi dengan gravitasi Gunung Patuha.

Setelah sekitar satu setengah jam berjalan dari batas Rancabolang dan perkebunan teh Patuhawatee (Patoehawattie), barulah Kawah Putih menampakkan diri.

Di hadapan pelancong kolonial, terbentang danau belerang yang mati, dingin, dan menyilaukan putihnya. Kata mati di sini bukan metafora berlebihan. Airnya tidak mengundang kehidupan, dan suasananya tidak ramah bagi kicau burung. Gelembung gas yang muncul di permukaan danau justru memperkuat kesan bahwa tempat ini lebih cocok untuk direnungkan ketimbang diramaikan.

Suasananya Sunyi Sampai Suara Petasan Terpantul Ratusan Kali

Panduan wisata itu mencatat kesan kesunyian Kawah Putih sebagai sesuatu yang menekan. Bukan sunyi romantis seperti taman kota di pagi hari, melainkan keheningan mutlak yang terasa terlalu utuh. Bahkan burung pun enggan ambil bagian. Dalam kondisi seperti itu, muncul godaan aneh yang dicatat dengan jujur: keinginan untuk memecah sunyi.

Disebutkan bahwa suara tembakan atau petasan kecil yang dilemparkan ke dalam kawah akan dipantulkan ratusan kali oleh dinding batu. Pantulan itu seolah memberi pelepasan sementara dari tekanan suasana. Catatan ini memperlihatkan bahwa saat zaman baheula, Kawah Putih Ciwidey adalah kawasan wisata yang begitu sunyi nan sepi. Dalam kosakata anak muda zaman kiwari, lokasi macam ini akan masuk kategori tempat healing idaman yang benar-banar membuat pelancongya menjaga jarak dari bisingnya kenyataan.

Baca Juga: Sejarah Oleh-oleh Bandung, dari Peuyeum Kampung hingga Pisang Bolen Ikon Kota

Secara topografi, Kawah Putih dikelilingi dinding batu di tiga sisi, tertutup hutan, sebagian hampir tegak lurus. Dari titik pandang utama, terdapat penurunan yang sangat mudah, tidak lebih dari sepuluh meter, menuju ladang belerang dan danau putih. Kemudahan ini tampaknya sengaja ditekankan untuk menenangkan calon pelancong yang mungkin sudah lelah setelah menaklukkan ratusan anak tangga.

Panduan tersebut juga menyebutkan jalur alternatif yang bisa ditempuh dari jalan besar. Cara ini tidak lebih cepat, tetapi jauh lebih ramah bagi mereka yang ingin mengurangi kerja kaki. Dengan mengambil jalan kendaraan pertama ke kanan setelah melewati Rancabolang, pelancong dapat mendekat ke kawasan Patuhawatee menggunakan mobil. Jalan kendaraan ini disebut baru dibangun dan cukup curam di beberapa bagian, sebuah detail yang mengisyaratkan optimisme kolonial terhadap teknologi dan infrastruktur.

Kawah Putih Ciwidey tahun 1932. (Sumber: Tropenmuseum)
Kawah Putih Ciwidey tahun 1932. (Sumber: Tropenmuseum)

Jika administrator kebun teh diberi kabar lebih dulu melalui telepon, kuda tunggang akan disediakan dengan senang hati. Kuda di sini berfungsi ganda: alat transportasi sekaligus simbol kenyamanan yang ditawarkan kolonialisme bagi tamu-tamunya. Setelah pendakian singkat, jalur setapak datar yang terawat membawa pelancong langsung ke Kawah Putih, lengkap dengan papan penunjuk arah.

Sepanjang perjalanan, mata dimanjakan oleh pemandangan Situ Patengan, perkebunan-perkebunan di sekitarnya, pegunungan, hingga Samudra Hindia di kejauhan. Kawah Putih, dalam narasi ini, bukan berdiri sendiri, melainkan bagian dari rangkaian panorama besar Priangan Selatan yang ditawarkan sebagai paket visual lengkap.

Baca Juga: Hikayat Oleh-oleh Bandung, dari Celebrity Cake hingga Tiramisusu Kekinian

Dari Kawah Putih ke Puncak Patuha

Panduan 1927 itu tidak berhenti di Kawah Putih. Dari sana, sebuah jalan setapak menghubungkannya dengan Kawah Patuha di puncak Patuha Kaler. Jalur ini membuka pemandangan ke arah danau belerang di kedalaman, seolah mengingatkan pelancong bahwa keindahan sering kali datang bersama risiko.

Setelah mendaki sekitar tiga perempat jam, tibalah di Kawah Patuha, sebuah kawah hampir bulat yang telah sepenuhnya mati. Dinding-dindingnya jatuh tegak lurus, membuat pelancong diingatkan untuk tetap berada di jalur. Jurang di kiri dan kanan bukan sekadar elemen dramatis, melainkan ancaman nyata bagi siapa pun yang terlalu percaya diri.

Dengan mengikuti tepi kawah, pelancong akan sampai di titik tertinggi, sekitar delapan ribu kaki, tempat sebuah tugu triangulasi berdiri. Dari sinilah pandangan bebas terbentang ke segala arah. Ke utara tampak jajaran pegunungan Dataran Tinggi Bandung, lebih jauh Gunung Gede dan Salak. Ke selatan, Pegunungan Selatan memanjang hingga gelombang Samudra Hindia yang tampak sangat jauh dan sepi.

Baca Juga: Gunung Tangkubanparahu, Ikon Wisata Bandung Sejak Zaman Kolonial

Di bawah sana terlihat Soreang, Cisondari, Telaga Patengan, lembah Cibuum, serta jaringan jalan yang menghubungkan perkebunan Sukahati dan Sperata dengan Rancabali. Lebih ke timur, mata dapat mengikuti deretan gunung dari Pangalengan, Malabar, Papandayan, Guntur, Cikuray, hingga Slamet. Pemandangan ini menempatkan pelancong kolonial sebagai penonton di atas panggung alam yang luas, sebuah posisi yang sangat disukai dalam imajinasi imperium.

Menariknya, panduan tersebut juga mencatat penemuan sebuah kawah kecil lain pada tahun 1925 melalui pengamatan dari pesawat terbang di lereng barat Gunung Patuha. Kawah ini digambar di peta sketsa, tetapi hingga saat itu belum pernah dikunjungi dan belum memiliki jalur. Catatan ini terasa seperti janji terbuka, bahwa Priangan masih menyimpan rahasia yang belum sepenuhnya dijinakkan.

Dalam pandangan kolonial tahun 1927, Kawah Putih Ciwidey bukan sekadar tempat indah. Ia adalah lanskap sunyi yang menguji fisik, memancing rasa tidak nyaman, sekaligus menawarkan kepuasan visual yang sulit ditandingi. Hampir seabad kemudian, sunyi itu memang sudah banyak berkurang. Namun jika dibaca ulang, kesan lama tentang Kawah Putih tetap terasa: sebuah tempat yang sejak awal tidak pernah sepenuhnya jinak, bahkan bagi mereka yang datang dengan buku panduan di tangan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)