Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Jumat 09 Jan 2026, 16:00 WIB
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)

Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID - Jauh sebelum Kawah Putih Ciwidey dipadati bus pariwisata dan ponsel yang sibuk mencari sudut foto terbaik, tempat ini sudah lebih dulu membuat orang Eropa terdiam. Bukan karena sinyal hilang, melainkan karena sunyi yang terasa terlalu sempurna.

Dalam buku panduan wisata Gids van Bandoeng en Midden-Priangan terbitan 1927, Kawah Putih digambarkan bukan sekadar objek tamasya, melainkan pengalaman fisik sekaligus mental. Datang ke sana berarti bersiap berjalan, mendaki, berkeringat, lalu dihadiahi lanskap yang terasa asing bahkan bagi lidah kolonial yang sudah kenyang melihat gunung tropis.

Perjalanan dimulai dengan meninggalkan mobil di titik tertentu, lalu dilanjutkan berjalan kaki dipandu seorang pemandu dari Rancabolang. Dalam logika pariwisata kolonial, pemandu bukan hanya penunjuk jalan, tetapi juga semacam jaminan keselamatan agar pelancong tidak tersesat di alam yang dianggap liar dan penuh kejutan.

Baca Juga: Hikayat Tamasya Zaman Baheula di Curug Dago Bandung

Jalur menuju kawah disebut tidak terlalu berat, meski ada satu catatan kecil yang terasa seperti peringatan halus: sekitar 400 anak tangga. Angka ini ditulis tanpa ekspresi, tetapi cukup untuk membayangkan betis Eropa yang terbiasa berjalan di trotoar kota harus bernegosiasi dengan gravitasi Gunung Patuha.

Setelah sekitar satu setengah jam berjalan dari batas Rancabolang dan perkebunan teh Patuhawatee (Patoehawattie), barulah Kawah Putih menampakkan diri.

Di hadapan pelancong kolonial, terbentang danau belerang yang mati, dingin, dan menyilaukan putihnya. Kata mati di sini bukan metafora berlebihan. Airnya tidak mengundang kehidupan, dan suasananya tidak ramah bagi kicau burung. Gelembung gas yang muncul di permukaan danau justru memperkuat kesan bahwa tempat ini lebih cocok untuk direnungkan ketimbang diramaikan.

Suasananya Sunyi Sampai Suara Petasan Terpantul Ratusan Kali

Panduan wisata itu mencatat kesan kesunyian Kawah Putih sebagai sesuatu yang menekan. Bukan sunyi romantis seperti taman kota di pagi hari, melainkan keheningan mutlak yang terasa terlalu utuh. Bahkan burung pun enggan ambil bagian. Dalam kondisi seperti itu, muncul godaan aneh yang dicatat dengan jujur: keinginan untuk memecah sunyi.

Disebutkan bahwa suara tembakan atau petasan kecil yang dilemparkan ke dalam kawah akan dipantulkan ratusan kali oleh dinding batu. Pantulan itu seolah memberi pelepasan sementara dari tekanan suasana. Catatan ini memperlihatkan bahwa saat zaman baheula, Kawah Putih Ciwidey adalah kawasan wisata yang begitu sunyi nan sepi. Dalam kosakata anak muda zaman kiwari, lokasi macam ini akan masuk kategori tempat healing idaman yang benar-banar membuat pelancongya menjaga jarak dari bisingnya kenyataan.

Baca Juga: Sejarah Oleh-oleh Bandung, dari Peuyeum Kampung hingga Pisang Bolen Ikon Kota

Secara topografi, Kawah Putih dikelilingi dinding batu di tiga sisi, tertutup hutan, sebagian hampir tegak lurus. Dari titik pandang utama, terdapat penurunan yang sangat mudah, tidak lebih dari sepuluh meter, menuju ladang belerang dan danau putih. Kemudahan ini tampaknya sengaja ditekankan untuk menenangkan calon pelancong yang mungkin sudah lelah setelah menaklukkan ratusan anak tangga.

Panduan tersebut juga menyebutkan jalur alternatif yang bisa ditempuh dari jalan besar. Cara ini tidak lebih cepat, tetapi jauh lebih ramah bagi mereka yang ingin mengurangi kerja kaki. Dengan mengambil jalan kendaraan pertama ke kanan setelah melewati Rancabolang, pelancong dapat mendekat ke kawasan Patuhawatee menggunakan mobil. Jalan kendaraan ini disebut baru dibangun dan cukup curam di beberapa bagian, sebuah detail yang mengisyaratkan optimisme kolonial terhadap teknologi dan infrastruktur.

Kawah Putih Ciwidey tahun 1932. (Sumber: Tropenmuseum)
Kawah Putih Ciwidey tahun 1932. (Sumber: Tropenmuseum)

Jika administrator kebun teh diberi kabar lebih dulu melalui telepon, kuda tunggang akan disediakan dengan senang hati. Kuda di sini berfungsi ganda: alat transportasi sekaligus simbol kenyamanan yang ditawarkan kolonialisme bagi tamu-tamunya. Setelah pendakian singkat, jalur setapak datar yang terawat membawa pelancong langsung ke Kawah Putih, lengkap dengan papan penunjuk arah.

Sepanjang perjalanan, mata dimanjakan oleh pemandangan Situ Patengan, perkebunan-perkebunan di sekitarnya, pegunungan, hingga Samudra Hindia di kejauhan. Kawah Putih, dalam narasi ini, bukan berdiri sendiri, melainkan bagian dari rangkaian panorama besar Priangan Selatan yang ditawarkan sebagai paket visual lengkap.

Baca Juga: Hikayat Oleh-oleh Bandung, dari Celebrity Cake hingga Tiramisusu Kekinian

Dari Kawah Putih ke Puncak Patuha

Panduan 1927 itu tidak berhenti di Kawah Putih. Dari sana, sebuah jalan setapak menghubungkannya dengan Kawah Patuha di puncak Patuha Kaler. Jalur ini membuka pemandangan ke arah danau belerang di kedalaman, seolah mengingatkan pelancong bahwa keindahan sering kali datang bersama risiko.

Setelah mendaki sekitar tiga perempat jam, tibalah di Kawah Patuha, sebuah kawah hampir bulat yang telah sepenuhnya mati. Dinding-dindingnya jatuh tegak lurus, membuat pelancong diingatkan untuk tetap berada di jalur. Jurang di kiri dan kanan bukan sekadar elemen dramatis, melainkan ancaman nyata bagi siapa pun yang terlalu percaya diri.

Dengan mengikuti tepi kawah, pelancong akan sampai di titik tertinggi, sekitar delapan ribu kaki, tempat sebuah tugu triangulasi berdiri. Dari sinilah pandangan bebas terbentang ke segala arah. Ke utara tampak jajaran pegunungan Dataran Tinggi Bandung, lebih jauh Gunung Gede dan Salak. Ke selatan, Pegunungan Selatan memanjang hingga gelombang Samudra Hindia yang tampak sangat jauh dan sepi.

Baca Juga: Gunung Tangkubanparahu, Ikon Wisata Bandung Sejak Zaman Kolonial

Di bawah sana terlihat Soreang, Cisondari, Telaga Patengan, lembah Cibuum, serta jaringan jalan yang menghubungkan perkebunan Sukahati dan Sperata dengan Rancabali. Lebih ke timur, mata dapat mengikuti deretan gunung dari Pangalengan, Malabar, Papandayan, Guntur, Cikuray, hingga Slamet. Pemandangan ini menempatkan pelancong kolonial sebagai penonton di atas panggung alam yang luas, sebuah posisi yang sangat disukai dalam imajinasi imperium.

Menariknya, panduan tersebut juga mencatat penemuan sebuah kawah kecil lain pada tahun 1925 melalui pengamatan dari pesawat terbang di lereng barat Gunung Patuha. Kawah ini digambar di peta sketsa, tetapi hingga saat itu belum pernah dikunjungi dan belum memiliki jalur. Catatan ini terasa seperti janji terbuka, bahwa Priangan masih menyimpan rahasia yang belum sepenuhnya dijinakkan.

Dalam pandangan kolonial tahun 1927, Kawah Putih Ciwidey bukan sekadar tempat indah. Ia adalah lanskap sunyi yang menguji fisik, memancing rasa tidak nyaman, sekaligus menawarkan kepuasan visual yang sulit ditandingi. Hampir seabad kemudian, sunyi itu memang sudah banyak berkurang. Namun jika dibaca ulang, kesan lama tentang Kawah Putih tetap terasa: sebuah tempat yang sejak awal tidak pernah sepenuhnya jinak, bahkan bagi mereka yang datang dengan buku panduan di tangan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 08 Jun 2026, 15:07

Gor Saparua sebagai Ruang Ekspresi Anak Muda dan Panggung Musik Kota Bandung

Satu tempat yang sekarang banyak dipakai orang untuk mencurahkan keringat selama 1990-an-2000-an.

Gor Saparua Bandung. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Zikri)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 12:00

Perempuan yang Menjerit-Membuncah Keheningan Malam Kota Bandung

Bahkan di keheningan malam pun perempuan selalu ramai dengan isi kepalanya.

Suasana alam di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: KOSONGDANSATU)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 10:41

Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

Hujan mikroplastik di Ibu Kota dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun.

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:43

Fenomena Geologi Mata Air Asin dalam Memori Kolektif dan Toponimi Desa Ciuyah

Fenomena mata air asin di Desa Ciuyah, Kab. Sumedang, berasal dari air laut purba (connate water).

Kondisi terkini situs mata air asin purba (connate water) di Desa Ciuyah, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat didokumentasikan pada 28 Maret 2026 pukul 10.50 WIB. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Fatia Siti Biladi)
Wisata & Kuliner 08 Jun 2026, 09:42

Panduan Wisata Sea World: Dunia Bawah Laut yang Bisa Dijelajahi dalam 3 Jam

Panduan lengkap Sea World Ancol mulai dari harga tiket, Antasena Tunnel, feeding shark, Jellyfish Sphere, hingga tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Sea World Indonesia. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:02

Rompi "Psikolog Klinis" di Puskesmas: Niat Baik yang Menabrak Aturan

Pemasangan rompi bertuliskan "Psikolog Klinis" di puskesmas menuai sorotan. Di balik niat baik meningkatkan layanan, ada aturan profesi yang dipertanyakan.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 08:26

Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi.

Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 19:05

Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

Pancasila tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari pergulatan pemikiran yang panjang. Ironisnya, bangsa yang mewarisinya justru semakin terbiasa menghafal daripada memahami.

Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bandung 07 Jun 2026, 18:19

Dari K-Pop hingga Kuliner, Mengintip Cara Bandung dan Korea Selatan Ubah Hubungan Kultural Jadi Peluang Bisnis Kreatif

Dari kegemaran menikmati musik hingga tren produk kecantikan, adaptasi kultural ini perlahan tapi pasti membuka ruang-ruang usaha baru yang melibatkan para pelaku industri kreatif lokal.

“Oullim Korea: Rhythm & Recipes” yang memadati 23 Paskal Shopping Center, Bandung, pada 5–7 Juni 2026.
Bandung 07 Jun 2026, 15:04

Dari Tren Jadi Cuan, Kisah Mawaru Matcha Ekspansi Ratusan Gerai Lewat Minuman Kalcer

Gelombang hype yang mengakar dari tren makanan hingga minuman kalcer masa kini seperti dessert, kopi, sampai matcha greentea, kian menarik respons positif masyarakat.

Mawaru Matcha. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 06 Jun 2026, 12:29

Sasapedahan

Saatnya memberi kesempatan kepada sepeda untuk menunjukkan kemampuannya.

Asyiknya bermain sepeda. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 20:28

Tanara Berarti Tanah Merah

Toponim Tanara merujuk pada keadaan kawasan tersebut, yaitu tanah yang berwarna merah.

SD Negeri Tanara di Kampung Cibolang, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 19:09

Antara Batik dan Jas: Gaya Berpakaian Pribumi di Batavia

Evolusi berpakaian pribumi di Batavia pada tahun 1900-1942.

Kumpulan pribumi menggenakan jas dan sarung batik. (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:32

Obsesi Nasi: Hilangnya Diversitas Pangan Pokok Indonesia & Lingkaran Setan Food Estate

Membedah kebijakan penguasa membuat rakyat Indonesia ketergantungan beras dan kehilangan keragaman pangan lokal.

Presiden Soeharto panen padi perdana di Desa Jatimulya, Kec. Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat (8/7/1987). (Sumber: Perpusnas | Foto: Perpusnas)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:05

10 Netizen Terpilih Mei 2026 dan Format Baru untuk Bulan Berikutnya

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Warga beraktivitas di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 17:04

Bahan Bakar Plastik Menyisakan Risiko Lingkungan

Sampah dapat berkurang, tapi pencemarannya belum tentu hilang. Inilah sisi lain dari pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif yang jarang dibahas.

Tumpukan sampah plastik di Indonesia. (Sumber: pexels | Foto: Tom Fisk)