Gunung Tangkubanparahu, Ikon Wisata Bandung Sejak Zaman Kolonial

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Gunung Tangkubanparahu tahun 1910-an. (Sumber: Wikimedia)
Gunung Tangkubanparahu tahun 1910-an. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID - Gunung Tangkubanparahu sudah lama menjadi semacam kartu pos alam yang tak pernah selesai difoto orang. Sejak zaman ketika Bandung masih tenang-tenang saja di bawah naungan pemerintah kolonial, gunung berkawah itu sudah dilirik sebagai tempat pelesiran.

Jalan-jalan dari arah Lembang memang menggoda siapa pun untuk naik. Udara sejuk, lereng tak terlalu curam, dan kawah yang tampak seperti ceret raksasa membuat banyak orang Belanda terpikir bahwa kota ini punya daya pikat yang tidak dimiliki kota-kota lain di Priangan.

Rujukan awal yang paling sering disebut para penjelajah kolonial adalah Gids van Bandoeng en Midden-Priangan, buku panduan yang beredar pada awal abad ke-20. Di situ dijelaskan bahwa jalur menuju puncak Tangkubanparahu dari Lembang hanya butuh sedikit kecakapan mendaki, dengan bonus lanskap hutan saninten, tebing cadas, dan kawah yang kepulan uapnya kadang terdengar seperti desahan gunung yang baru bangun tidur.

Dalam panduan yang sama, para pelancong zaman itu diarahkan untuk mampir ke area Kawah Upas dan Kawah Ratu, lengkap dengan peringatan halus bahwa kadar gas di beberapa titik bisa membuat siapa pun tiba-tiba lemas kalau nekat turun terlalu jauh. Catatan itu menjadi semacam bekal keberanian bagi wisatawan yang dulu datang dengan baju wol tebal dan sepatu bot kulit.

Bagi orang Eropa di Bandung, perjalanan ke Tangkubanparahu bukan soal menaklukkan alam, melainkan menikmati transisi lanskap. Dari Lembang, jalur pendakian diceritakan mengalir pelan, melewati makam Junghuhn, ladang alang alang bekas kebun kina Djajagiri, hingga perlahan memasuki wilayah yang lebih tinggi, lebih sejuk, dan lebih sunyi.

Baca Juga: Sejarah Lembang, Kawasan Wisata Primadona Bandung Sejak Zaman Kolonial

Bentang alam digambarkan seperti tirai yang dibuka sedikit demi sedikit. Dataran Lembang tertinggal di belakang, lalu Bandung terlihat mengecil, putih dan merah, tersusun rapi seperti miniatur kota yang sengaja dipamerkan dari ketinggian.

Di titik ini, Tangkubanparahu mulai menunjukkan sisi megahnya. Tubuh gunung tidak digambarkan gagah dengan tebing curam seperti gunung lain, melainkan halus dan memanjang, mirip perahu terbalik yang entah bagaimana bisa tersangkut di utara Bandung. Gunung ini mudah dikenali, kata panduan itu, karena bentuknya nyaris teatrikal. Ia tidak agresif dalam rupa, tetapi sangat percaya diri. Dari kejauhan saja, kehadirannya sudah cukup untuk mengundang legenda, ingatan, dan rasa ingin tahu.

Ketika jalur memasuki batas hutan, nada ceritanya berubah. Hutan Tangkubanparahu dalam panduan kolonial bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan ruang sunyi yang sarat aroma dan bunyi. Udara membawa bau anggrek tanah gandasoli, tanah lembap, dan dedaunan tua. Setiap pohon digambarkan seperti dunia kecil dengan lumut, liana, dan anggrek yang menempel tanpa permisi. Burung doedoe sesekali memecah kesunyian, seolah sengaja mengingatkan bahwa tempat ini bukan taman kota.

Di sinilah alam Tangkubanparahu mencapai kemegahannya yang sesungguhnya. Bukan pada letusan atau kawah, melainkan pada keheningan yang terasa serius. Hutan ini tidak menjelaskan dirinya, tidak menawarkan hiburan, hanya hadir apa adanya. Bagi wisatawan Eropa, suasana seperti ini memberi kesan eksotis yang halus. Alam tropis tidak perlu berisik untuk terlihat agung.

Baca Juga: Gunung Burangrang, Eksotisme Kaldera Tropis dalam Imajinasi Wisata Kolonial Priangan

Saat mendekati puncak, alam kembali berubah. Angin membawa bau belerang, tanda bahwa gunung yang terlihat jinak ini sejatinya selalu bekerja di bawah permukaan. Kawah Baru, solfatara di atas Kawah Upas, menjadi pengantar sebelum pemandangan utama tersaji. Jalur bercabang, pepohonan mati bekas letusan 1829 terlihat hangus, dan lanskap mendadak terasa lebih terbuka, lebih keras, dan lebih jujur.

Wisatawan di Tangkubanparahu tahun 1955-an. (Sumber: Wikimedia)
Wisatawan di Tangkubanparahu tahun 1955-an. (Sumber: Wikimedia)

Kawah Upas muncul dengan air berwarna hijau zamrud yang beriak pelan, dingin, dan asam. Warna itu tidak pernah dipersepsikan sebagai ancaman, justru sebagai tontonan yang memikat. Beberapa langkah kemudian, Kawah Ratu terbentang lebih luas, dindingnya curam dan nyaris tak bervegetasi. Dalam catatan kolonial, kawah ini digambarkan mengerikan sekaligus indah, dua kata yang tampaknya tidak saling bertentangan di hadapan alam.

Dari tepi kawah, panorama terbuka ke arah utara. Hutan dan ladang Pamanoekan serta Ciasem membentang hingga Laut Jawa, yang tampak biru pucat di kejauhan. Di titik ini, Tangkubanparahu menjelma menara pandang alami. Pengunjung berdiri hampir dua ribu meter di atas permukaan laut, memandang Jawa dari perspektif yang membuat segala sesuatu di bawah terasa kecil dan teratur. Alam seakan mengizinkan manusia meminjam pandangannya sebentar.

Keindahan ini tidak berhenti pada apa yang terlihat ke luar kawah. Ketika pandangan diarahkan kembali ke dalam, Kawah Upas berkilau misterius, sementara dasar Kawah Ratu menyimpan sisa sisa danau yang hampir menghilang pasca letusan 1910. Panduan wisata kolonial mencatat ukuran kawah dengan ketelitian yang nyaris ilmiah. Diameter, kedalaman, dan ketinggian ditulis rapi, seolah dengan memberi angka, keganasan alam bisa dijinakkan dalam barisan data.

Punggungan sempit di antara dua kawah menjadi jalur turun yang dianggap sangat berharga. Di sana, pengunjung dapat melihat batuan vulkanik, fumarola, dan napas gunung yang keluar dari celah tanah. Tangkubanparahu tidak sepenuhnya diam, hanya pandai menunggu. Air danau belerang yang dingin dan getir, aliran sungai kecil Tjikahoeripan, hingga lapangan kawah Kawah Domas dengan uap putih yang menggelegar, semuanya memperlihatkan bahwa gunung ini hidup dengan caranya sendiri.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Wisata Bandung Zaman Kolonial, Plesiran Orang Eropa dalam Lintasan Sejarah

Panduan era kolonial juga menyelipkan peringatan. Lembah gas beracun telah merenggut korban. Jalur penyelamatan disiapkan. Menuruni kawah tanpa pemandu dianggap berbahaya. Di sini, Gunung Tangkubanparahu seolah mengingatkan bahwa ia bukan sekadar objek piknik, melainkan kekuatan alam yang hanya sedang bersedia dipandang dari jauh.

Buku-buku kolonial lain seperti laporan kartografi De Wilde dan Horsfield juga menyinggung Tangkubanparahu sebagai salah satu gunung paling mudah dijangkau di sekitar Bandung. Sementara Junghuhn dalam karya geologinya lebih sibuk menyebut vegetasi khas pegunungan Priangan: saninten yang menguasai lembah, lumut yang menempel pada batang seolah sedang main panjat tebing, serta anggrek hutan yang tumbuh tanpa peduli siapa yang memotret.

Para ilmuwan itu mungkin tidak bermaksud mempromosikan pariwisata, tetapi catatan-catatan mereka justru membuat Tangkubanparahu tampil sebagai gunung yang akrab dan tidak menakutkan bagi pendatang.

Wisata yang Bertumbuh Bersama Kota

Pada dekade 1920-an, Bandung mulai berkembang menjadi kota dengan gaya hidup modern ala Eropa. Rencana pembangunan akses transportasi ke Tangkubanparahu pun ikut muncul di majalah lokal dan dokumen Bandoeng Vooruit.

Para insinyur membayangkan jalan mobil yang membelah lereng, membuat siapa pun bisa mencapai pinggir kawah tanpa perlu berjalan kaki. Walaupun sebagian rencana itu tak pernah benar-benar selesai, gairah untuk mempercantik kawasan wisata sudah terlihat. Kedai-kedai kecil dan pos pengamatan mulai bermunculan meski fasilitasnya sederhana.

Pada masa itu, perjalanan menuju kawah bukan sekadar piknik, tetapi juga semacam ritual akhir pekan. Para tuan dan nyonya Belanda akan berangkat pagi-pagi sekali, berhenti sejenak di Lembang untuk minum kopi, lalu melanjutkan perjalanan dengan kuda atau mobil.

Di kawah, mereka berdiri sambil menatap cekungan besar yang mengepulkan uap, mungkin sambil bertanya-tanya mengapa kawah itu terlihat seperti perahu terbalik. Para penduduk setempat tentu punya ceritanya sendiri, tetapi para wisatawan kolonial lebih tertarik pada sensasi alamnya yang eksotis daripada legenda Sangkuriang.

Sejak masa kolonial hingga sekarang, Tangkubanparahu tidak pernah kehilangan pamornya. Gunung itu menjadi alasan banyak orang datang ke Bandung tidak hanya untuk berbelanja atau makan stroberi Lembang. Kawah-kawahnya tetap sama seperti dulu: hangat, beruap, dan terasa seperti panggung terbuka tempat bumi memperlihatkan rahasia kecilnya.

Perubahan zaman hanya menghadirkan parkiran lebih luas, kios suvenir, dan jalur beraspal yang jauh lebih ramah bagi wisata keluarga.

Di saat banyak tempat wisata baru berlomba-lomba menawarkan konsep kekinian, Tangkubanparahu tetap menjadi ikon yang tidak perlu terlalu banyak usaha untuk memikat hati. Udara sejuk, pemandangan dramatis, dan kisah sejarah yang panjang membuatnya tetap menjadi rujukan wisata Bandung yang tidak lekang oleh waktu.

Perjalanan waktu tidak membuat Tangkubanparahu kehilangan wibawanya. Kota di bawahnya boleh tumbuh dan berubah, tetapi gunung itu tetap menawarkan pesona yang sama sejak zaman kolonial. Di tepi kawah, angin membawa bau belerang yang terasa seperti salam hangat dari perut bumi. Pengunjung berdiri dan menatap cekungan luas yang selalu tampil dramatis. Tidak ada wahana atau lampu warna warni. Yang ada hanya alam yang terus bekerja. Justru kesederhanaan itulah yang membuat Tangkubanparahu tetap memikat dari masa ke masa.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)