Hikayat Pangalengan, Kota Teh Kolonial yang jadi Ikon Wisata Bandung Selatan

7 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID- Kabut sering naik paling duluan sebelum matahari bekerja, terutama di sebuah dataran tinggi yang menggulung pelan di selatan Bandung. Dari kejauhan, Pangalengan tampak seperti desa yang lupa ikut tumbuh cepat bersama tetangganya. Suhu yang menggigit ringan, bukit yang bersandar pada Gunung Malabar, dan ladang teh yang tersusun rapi seperti baris-baris tulisan di buku latihan sekolah dasar, memberi kesan bahwa waktu di tempat ini berjalan dengan versinya sendiri.

Tapi di balik kesan itu, wilayah ini menyimpan jejak sejarah yang tidak pelan sama sekali. Pangalengan pernah berdiri sebagai halaman depan eksperimen kolonial, pusat tanam komoditas mahal, dan arena tempat orang Eropa bekerja keras supaya tubuh mereka tidak habis dimakan malaria dan pasar global tetap lapar pada apa yang tumbuh di tanah Priangan.

Jejak nama Pangalengan sendiri, bila ditarik dari cerita para pemerhati sejarah lokal, punya akar yang lucu. Ada yang menyebutnya sebagai turunan dari kata kaleng yang dirangkai jadi pangalengan, semacam tempat atau proses pengalengan kopi. Versi lain berputar di kisah seorang bupati yang begitu bahagia melihat tanaman kopi tumbuh subur sampai memeluk camatnya dengan antusias.

Dalam bahasa Sunda, momen memeluk ini disebut ngaleng, dan dari situlah muncul nama yang lama tinggal di peta sampai sekarang. Perdebatan etimologi itu sudah seperti lauk tambahan yang selalu ada di meja makan, tapi tidak mengubah rasa hidangan utamanya. Faktanya, sejak abad ke-19, Pangalengan menjadi panggung besar bagi komoditas yang menentukan arah sejarah ekonomi Hindia Belanda.

Baca Juga: Sejarah Soreang dari Tapak Pengelana hingga jadi Pusat Pemerintahan Kabupaten Bandung

Perkebunan Besar dan Para Tokoh di Balik Emas Hijau

Pada pertengahan abad ke-19, seorang pria berkaca mata bulat dan rambut agak berantakan bernama Frans Wilhelm Junghuhn berkeliling mencari tanah yang cocok untuk tanaman kina. Ia menemukan lereng barat Gunung Malabar dan langsung jatuh cinta. Suhu yang dingin, curah hujan yang menetes sepanjang tahun, serta kontur tanah yang tidak rewel membuat tempat ini sempurna bagi kulit pohon yang kelak menyembuhkan banyak manusia dari malaria.

Tanaman kina membutuhkan rumah yang lembap dan tekun, dan Pangalengan memberikannya tanpa kompromi. Dari sinilah usaha itu berkembang cepat. Dalam beberapa dekade, produksi kulit kina melonjak seperti anak kecil yang baru tahu ada ayunan di halaman rumah. Jawa akhirnya memasok lebih dari sembilan puluh persen kebutuhan kina dunia.

Kina memang komoditas gemilang, tetapi Pangalengan punya panggung yang lebih luas. Teh datang sebagai komoditas yang kemudian membentuk lanskap sosial dan ekonomi kawasan ini. Kisah teh di Pangalengan tidak bisa dilepaskan dari seorang pria tinggi besar bernama Karel Albert Robert Bosscha. Ia mengurus Perkebunan Teh Malabar sejak akhir abad ke-19, dan usahanya membuat Priangan identik dengan aroma pucuk hijau yang direbus pelan di pabrik-pabrik kolonial.

Bosscha dikenal teliti, tekun, dan sedikit gila bekerja. Ia menata kebun teh di Malabar seperti seseorang menata koleksi buku kesayangan. Bersih, sistematis, dan betul-betul memanjakan mata.

Pemandian Air Panas Cibolang di Pangalengan, Kabupaten Bandung, yang sudah berdiri sezak zaman kolonial. (Sumber: KITLV)
Pemandian Air Panas Cibolang di Pangalengan, Kabupaten Bandung, yang sudah berdiri sezak zaman kolonial. (Sumber: KITLV)

Yang membuatnya berbeda, Bosscha tidak sekadar menanam dan memetik. Ia membangun sekolah untuk anak-anak pekerja dan memberi kesempatan belajar tanpa pungutan. Ia juga memikirkan masa depan ilmu pengetahuan hingga turut mendorong berdirinya sekolah teknik yang kelak menjadi Institut Teknologi Bandung. Bahkan kecintaannya pada astronomi membuat pendapatan teh mengalir sampai ke puncak Lembang, tepatnya ke kubah putih Observatorium Bosscha.

Baca Juga: Sejarah Lembang, Kawasan Wisata Primadona Bandung Sejak Zaman Kolonial

Perkebunan teh tumbuh seperti kota kecil yang sibuk. Orang datang dari berbagai kampung untuk mencari kerja. Mereka membentuk permukiman buruh, membuat warung, mengurus anak, dan hidup dalam ritme enam hari kerja seminggu. Para pemetik teh memulai pagi sebelum matahari membentuk bayangan panjang. Setiap daun dipetik dengan cara yang sama, gerakan yang sudah mereka hafalkan seperti napas.

Perkebunan besar ini bukan hanya mesin ekonomi. Ia juga magnet yang mendatangkan infrastruktur. Pangalengan pun berubah wajah.

Pembangunan Infrastruktur Kota Kecil Kolonial

Pada tahun 1920-an, ketika listrik masih dianggap barang mewah, pemerintah kolonial memutuskan bahwa daerah ini pantas memiliki pembangkit modern. Dibangunlah PLTA Lamajan di tepi tebing yang curam dan penuh semak. Pembangkit itu memanfaatkan aliran Sungai Cisarua dan Sungai Cisangkuy. Mesin-mesin besar didatangkan dari Belanda, dirakit dengan sabar, lalu diletakkan di dalam bangunan yang menempel pada jurang seperti rumah burung walet yang dibuat dengan teknologi insinyur.

Jalan ke pembangkit ini tidak seperti gedung kantor biasa. Orang harus menumpang lori kecil yang turun melalui rel miring sepanjang lebih dari dua ratus meter. Lori itu ditarik dengan tali baja, dan ketegangannya bisa membuat lutut siapa pun gemetar, terutama ketika melihat tebing yang menunggu di bawah. Tapi lori itu bandel. Ia masih beroperasi sampai hari ini, mengangkut manusia dan peralatan seolah sedang mempertahankan tradisi yang tidak ingin hilang dari ingatan.

Baca Juga: Hikayat Banjaran, dari Serambi Priangan ke Simpang Tiga Zaman Bandung

Teknologi air yang berputar membawa perubahan besar. Lampu-lampu di Bandung menyala dengan lebih stabil, pabrik bergerak lebih lancar, dan kota kolonial tumbuh semakin percaya diri. Bersamaan dengan itu, Pangalengan tidak hanya terkenal karena kebunnya, tetapi juga karena listrik yang berasal dari kejernihan dua sungai.

Sementara itu, di sisi lain daerah yang sama, Situ Cileunca mulai terbentuk. Danau buatan ini adalah hasil keputusan kolonial untuk mengatur air demi irigasi dan pasokan yang lebih terencana. Tidak ada yang tahu apakah para insinyur pada saat itu membayangkan bahwa seratus tahun kemudian, tubuh air tenang itu akan menjadi tempat favorit wisatawan untuk mengabadikan siluet matahari pagi. Yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana air bisa disimpan, dialirkan, dan dipakai menghidupi ladang-ladang.

Situ Cileunca tumbuh menjadi nadi yang mengalirkan kehidupan. Sungai Palayangan yang keluar dari danau itu memiliki debit stabil, membuatnya ideal untuk aktivitas apa pun dari pertanian sampai olahraga arung jeram. Air yang dulu hanya dipikirkan sebagai alat kolonial pengatur panen kini menjadi alasan orang datang dari jauh untuk merasakan dinginnya Pangalengan langsung di permukaan kulit.

Situ Cileunca di Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Situ Cileunca di Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)

Perubahan tidak berhenti di sana. Sebelum Perang Dunia II, Pangalengan berkembang menjadi kota kecil kolonial dengan rumah-rumah Eropa yang berjajar, beberapa di antaranya berdinding kayu tebal dan beratap lebar. Orang-orang Belanda yang bekerja di perkebunan, peternakan, dan bidang teknik tinggal di sini. Mereka membentuk komunitas sendiri, melengkapi diri dengan fasilitas yang mencerminkan gaya hidup kolonial di dataran tinggi.

Tetapi masa emas itu tidak bertahan lama. Konflik setelah Indonesia merdeka menghancurkan banyak bangunan kolonial pada tahun 1947, meninggalkan kenangan yang lebih banyak tersimpan dalam cerita daripada dalam bentuk fisik.

Kendati begitu, pola ekonomi yang mereka ciptakan bertahan jauh lebih lama dari bangunannya. Pertanian, perkebunan, dan peternakan tetap menjadi tulang punggung kawasan hingga hari ini.

Sejarah kopi, misalnya, tetap berputar dalam ritme yang konsisten. Arabika tumbuh apik di ketinggian 1.400 meter, di ladang-ladang yang diolah petani kecil dengan rata-rata lahan dua hektare. Kopi dari Pangalengan belakangan menjadi favorit para peracik lokal yang ingin rasa asam seimbang dengan aroma tanah basah khas pegunungan.

Baca Juga: Sejarah Kopo Bandung, Berawal dari Hikayat Sesepuh hingga Jadi Distrik Ikon Kemacetan

Setelah masa kemerdekaan, sapi-sapi perah datang sebagai babak baru. Koperasi Peternakan Bandung Selatan Pangalengan mengelola pengumpulan susu, pemeliharaan peternak, serta jalur distribusinya. Botol-botol susu yang mendingin di kulkas rumah-rumah perkotaan hari ini diam-diam membawa aroma rumput dari Pangalengan. Dari pagi buta sampai siang menjelang, itu semua adalah hasil kerja para peternak yang bangun lebih pagi daripada matahari.

Warisan kolonial, pertanian, air, dan perbukitan itu kini hidup berdampingan dengan pariwisata modern. Taman Langit dan berbagai perkemahan hits tumbuh di antara ladang teh. Rumah Bosscha dirawat seperti museum hidup. PLTA Lamajan masih bekerja dengan tubuh mesin yang kebanyakan umurnya lebih tua dari semua pengunjung yang datang memandanginya.

Pangalengan bukan sekadar titik di peta Jawa Barat. Ia adalah cerita panjang yang tidak selesai-selesai. Ada kina yang pahit tapi menyelamatkan banyak orang. Ada teh yang mengalirkan dana sampai ke ilmu pengetahuan. Ada susu yang menghidupi keluarga peternak. Ada sungai yang berputar menjaga lampu menyala. Ada danau yang menahan air seperti ibu yang menenangkan anaknya.

Dari masa VOC sampai masa media sosial, Pangalengan terus menulis bab berikutnya dengan caranya sendiri. Tak tergesa, tak lambat, persis seperti kabut yang naik pagi-pagi di kaki Gunung Malabar

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)