Sejarah Lembang, Kawasan Wisata Primadona Bandung Sejak Zaman Kolonial

9 menit baca
Restu Nugraha Sauqi Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi , Hengky Sulaksono diterbitkan
Gunung Tangkubanparahu Tahun 1910-an. (Sumber: KITLV)
Gunung Tangkubanparahu Tahun 1910-an. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Hari ini, Lembang dikenal sebagai tempat pelarian paling masuk akal bagi warga Bandung yang sudah penat dengan kemacetan, cicilan rumah, dan udara panas. Di sanalah mereka mencari kesejukan, entah dengan menyeruput kopi hangat di pinggir jalan atau berswafoto di tengah kabut tipis. Tapi siapa sangka, di balik wangi harum kopi dan aroma teh dari lereng Tangkuban Perahu, Lembang punya sejarah yang lebih tua dari semua papan nama Instagrammable di sana.

Cerita sejarah panjang Lembang tidak bisa dilepaskan dari legenda Sangkuriang, kisah klasik Sunda tentang cinta terlarang antara anak dan ibu yang membentuk lanskap geografis Bandung Raya. Legenda ini bukan sekadar mitos hiburan, tapi juga refleksi bagaimana orang Sunda zaman dulu menjelaskan keanehan alam sekitarnya—seperti kenapa ada gunung berbentuk perahu terbalik, atau kenapa Lembang selalu terlihat seperti cekungan besar tempat air betah berlama-lama. Manuskrip kuno Bujangga Manik mencatat kisah ini di daun lontar pada akhir abad ke-15, jauh sebelum orang Belanda tahu cara mengeja kata Priangan.

Tentang asal usul nama Lembang sendiri punya cerita linguistik yang lumayan rumit. Dalam bahasa Sunda, kata ini berarti genangan air atau permukaan tanah yang menurun. Tapi T. Bachtiar, penulis buku Toponimi: Susur Galur Nama Tempat di Jawa Barat, menemukan versi-versi lain. Menurutnya, ada kamus yang menyebut Lembang sebagai nama serangga kecil di sawah, sebesar kuku ibu jari, yang suka menggigiti batang padi muda. Ada pula yang menafsirkan Lembang sebagai sejenis rumput. Tapi tafsir ketiga yaitu “air yang menggenang” paling masuk akal, karena memang itulah wajah topografi Lembang sejak zaman prasejarah: tanah cekung tempat air berkumpul, ngalémbang, kata orang Sunda.

Baca Juga: Sejarah Kopo Bandung, Berawal dari Hikayat Sesepuh hingga Jadi Distrik Ikon Kemacetan

Secara geologis, genangan itu bukan kebetulan. Lembang berdiri di atas patahan aktif yang membentang sepanjang 29 kilometer dari timur ke barat. Dari arah utara, kalau dilihat dari Gunung Putri, dinding tanah raksasa itu tampak seperti tembok alam. Patahan inilah yang membuat air permukaan tertahan di dataran Lembang, lalu meluber menjadi rawa dan situ. Dari sinilah lahir Situ Umar, Situ Cihideung, dan Situ Panyairan. Semua situ itu adalah bekas genangan air yang lama-lama diurug demi sawah, ladang, dan perumahan. Orang yang tinggal di atas patahan itu mungkin tidak sadar sedang berdiri di atas bom waktu geologi, tapi toh, begitulah manusia: baru sadar bahaya setelah gempa datang.

Pemandangan jalan menuju Observatorium Bosscha. (Sumber: KITLV)
Pemandangan jalan menuju Observatorium Bosscha. (Sumber: KITLV)

Dari Perkebunan Teh sampai Observatorium Bosscha

Ketika VOC tiba di Jawa pada abad ke-17, Lembang belum dikenal sebagai tempat wisata. Ia hanyalah dataran tinggi berhawa sejuk yang diselimuti hutan lebat. Namun bagi para kolonial, udara Lembang adalah kemewahan. Dari panas Batavia yang pengap, naiklah mereka ke utara Bandung untuk mencari tempat bernafas dan minum teh panas. Lembang pun segera berubah jadi taman eksperimen kolonial: lahan-lahan hutan dibuka, perkebunan kopi dan teh bermunculan, dan penduduk lokal beralih jadi buruh di kebun monokultur yang hasilnya dikirim jauh ke Rotterdam.

Pada akhir abad ke-19, sebuah nama asing muncul di tanah sejuk itu: keluarga Ursone, imigran asal Italia. Mereka bukan siapa-siapa di Eropa, tapi di Hindia Belanda, mereka seperti tuan kecil. Ursone membuka perkebunan kina dan peternakan sapi, bahkan menguasai sebagian besar tanah di Lembang. Dari tangan mereka pula lahir hibah 16 hektare untuk Observatorium Bosscha, sebuah sumbangan kecil bagi kemajuan astronomi, tapi besar bagi sejarah Lembang. Rumah keluarga Ursone masih berdiri di daerah Baru Adjak, sering dibilang angker oleh warga sekitar. Ya, mungkin karena rumah kolonial tua memang cenderung lebih sukses jadi lokasi syuting acara misteri ketimbang museum sejarah.

Bosscha sendiri adalah tokoh besar di balik perubahan Lembang dari kampung perkebunan menjadi pusat sains Hindia Belanda. Ia bukan cuma pengusaha teh yang sukses di Malabar, tapi juga ilmuwan dan filantropis yang percaya bahwa kemajuan teknologi bisa tumbuh di tanah tropis. Ia mendirikan perusahaan telepon pertama di Bandung, mendukung pendirian Technische Hoogeschool yang kini dikenal sebagai ITB, dan memperkenalkan sistem metrik agar orang berhenti mengukur jarak dengan “poles” atau langkah kaki. Tapi warisan terbesarnya tentu Observatorium Bosscha, yang berdiri sejak 1923 di bawah naungan Nederlandsch-Indische Sterrekundige Vereeniging. Di situlah teleskop Zeiss raksasa mengintip bintang-bintang dari langit Lembang, membuktikan bahwa di balik kabut dan dingin, ada sejumput pengetahuan yang bercahaya.

Observatorium Bosscha (Sumber: ITB)
Observatorium Bosscha (Sumber: ITB)

Baca Juga: Sejarah Padalarang dari Gua Pawon ke Rel Kolonial, hingga Industrialisasi dan Tambang Zaman Kiwari

Lembang di masa itu bukan hanya tempat kerja dan penelitian, tapi juga tempat bersantai. Para pejabat kolonial yang stres di Batavia membangun villa-villa mewah di sepanjang jalan Hooglandweg, kini dikenal sebagai Jalan Raya Lembang. Udara sejuk dan pemandangan pegunungan membuat kawasan ini jadi Swiss-nya Hindia Belanda. Grand Hotel Lembang, dibangun tahun 1916, menjadi simbol glamor era itu. Hotel ini berdiri di lahan tujuh hektare, lengkap dengan taman, lapangan tenis, dan pemandangan Gunung Tangkuban Perahu. Dikelola oleh Bruno Treipl, seorang Jerman muda yang kabur dari kamp tahanan perang Inggris, hotel ini jadi tempat nongkrong para bangsawan dan penjelajah. Lembang pun resmi naik kelas: dari genangan air jadi resor pegunungan.

Tapi jangan dikira semuanya tentang leisure. Pemerintah kolonial tahu bahwa dataran tinggi ini punya nilai strategis. Selain perkebunan dan villa, Belanda membangun jaringan benteng di sekitar Lembang: Benteng Gunung Putri, Benteng Jayagiri, dan Benteng Cikahuripan, semua berfungsi sebagai titik pertahanan militer. Dari catatan Departement van Gouvernementsbedrijven di Den Haag, ada pula landasan udara darurat di Cibogo bernama Noodlanding Terreinen Tjibogo, dibangun tahun 1930-an. Panjangnya cuma 500 meter, tapi cukup untuk mendaratkan pesawat tempur kecil. Kini, bekas landasan itu sudah berubah jadi kawasan pelatihan vokasi. Ironisnya, banyak warga yang tinggal di sana bahkan tidak tahu bahwa rumah mereka berdiri di atas bekas lapangan terbang kolonial.

Secara administratif, Lembang mendapat status onderdistrik pada tahun 1882. Alun-alun dibangun, masjid agung berdiri, dan kantor distrik muncul berdampingan dengan penjara kecil, karena di zaman kolonial, setiap pusat pemerintahan harus punya tempat menaruh orang yang melawan. Tata kotanya mengikuti model Jawa-Belanda: beringin kembar, pendopo, dan jalan lurus menuju pasar. Tak lama kemudian, perkebunan teh Ciumbuleuit, Baroe Adjak, dan Sukawana menjadikan Lembang sebagai jantung ekonomi baru Priangan. Dari sinilah reputasi teh Priangan mendunia, menandingi teh India dan Ceylon di pasar Eropa.

Baca Juga: Hikayat Lara di Baleendah, Langganan Banjir yang Gagal Jadi Ibu Kota

Kawasan Wisata Sejak Zaman Baheula

Sejak abad ke-19, Lembang telah dirancang sebagai ruang pelarian. Di masa ketika Bandung masih berupa kota garnisun dengan debu yang tak pernah benar-benar habis, Lembang muncul sebagai balkon alami. Orang-orang Eropa naik ke sini untuk mendinginkan kepala, menghindari malaria, atau sekadar merasa seperti berada di Eropa kecil yang tersesat di bawah garis khatulistiwa. Dari sinilah jejak panjang pariwisata Lembang mulai tertera, jauh sebelum tempat selfie dan kafe tematik segala rupa hadir di Instagram.

Pada masa itu, kerja sama antara pemerintah kolonial dan kelompok swasta seperti Vereeniging tot nut van Bandoeng en Omstreken menjadi semacam mesin produksi citra untuk membangun Lembang sebagai destinasi yang pantasties di brosur-brosur mereka. Perkebunan teh dan kopi yang dibuka Belanda bukan hanya mesin ekonomi; taman-taman hijau itu juga berubah menjadi halaman depan bagi villa-villa kolonial yang menjadi prototipe resor modern. Mereka membawa imajinasi tentang Mooi Indie, “Hindia yang Indah”, yang memanjakan mata dan mengabaikan kenyataan bahwa warga pribumi bekerja tanpa kenal lelah di balik pemandangannya.

Tak heran Lembang muncul dalam Gids van Bandoeng en Midden-Priangan (1927), panduan wisata Belanda untuk orang-orang yang ingin bersantai sambil tetap merasa superior secara sosial. Dalam buku itu, Lembang digambarkan seperti Swiss versi tropis: sejuk, hijau, penuh objek alam eksotis, dan tentu saja, jauh lebih nyaman dibanding dataran rendah yang dianggap kurang beradab. Gunung Tangkuban Perahu menjadi salah satu bintang utama. Kolaborasi antara legenda lokal Sangkuriang dan obsesi Eropa pada kawah belerang menjadikan gunung itu hadir sebagai magnet wisata sejak awal abad ke-18. Bahkan pembangunan jalan Hooglandweg muncul untuk memudahkan kunjungan para petualang Eropa yang ingin melihat kawah sambil tetap memakai sepatu mengkilat.

Situ Lembang. (Sumber: Wikimedia)
Situ Lembang. (Sumber: Wikimedia)

Situ Lembang juga tidak luput dari promosi. Majalah Mooi Bandoeng pada 1939 menyebut kawasan danau pegunungan itu sebagai tujuan ekskursi akhir pekan. Jika sekarang orang Bandung naik ke Lembang untuk merayakan ulang tahun, dulu orang Belanda naik ke sana untuk merayakan kolonialisme sambil piknik.

Semua ini menunjukkan satu hal: sebelum jadi ikon wisata lokal, Lembang sudah jadi panggung pariwisata kolonial. Hawa dingin adalah komoditas, dan pemandangan adalah propaganda.

Bahkan, saking stratgisnya Lembang, kawasan ini pernah akan dibangunkan jalan kereta. Tapi, tidak semua rencana kolonial tentang Lembang berjalan mulus. Satu ambisi yang selalu gagal adalah membangun jalur kereta ke tanah tinggi ini. Tahun 1883, N.H. Niertrasz datang dengan proposal yang besar—rel dari Bandung ke Lembang, lalu terus ke Cikalong. Pemerintah kolonial menolak tanpa banyak penjelasan, meski bisa ditebak alasannya: tanjakan Lembang terlalu “menggigit”. Tahun berikutnya, ia mencoba lagi lewat perantara lain. Hasilnya sama: ditolak.

Baca Juga: Hikayat Kiaracondong, Tujuan Urbanisasi Kaum Pekerja Zaman Baheula

Kemudian, nama-nama lain datang silih berganti: J.B. Hubenet, disusul W.H.J. Keuchenius pada 1898, dan R.P.F. Hagenaar pada 1910. Semuanya membawa rute berbeda, semuanya digugurkan. Yang terakhir bahkan sempat dapat konsesi sebelum akhirnya dicabut. Pada 1915, pemerintah kolonial akhirnya angkat tangan: Lembang dianggap terlalu mahal dan terlalu rumit untuk dilintasi rel besi. Mereka memilih membangun jalur lain di selatan Bandung—lebih mudah, lebih murah, lebih realistis.

Tetapi Lembang tidak sepenuhnya absen dari peta infrastruktur modern kolonial. Di Cibogo, didirikan sebuah lapangan pacu darurat: Noodlanding Terreinen Tjibogo. Namanya sulit, fungsinya sederhana: tempat pesawat mendarat jika cuaca atau bensin memaksa. Dengan ketinggian lebih dari seribu meter, panjang 500 meter, dan bentang rumput yang sangat baik menurut laporan pemerintah kolonial tahun 1931, lapangan kecil ini menjadi bagian dari jaringan penerbangan Hindia Belanda. Ia berdiri berdekatan dengan Observatorium Bosscha—pusat sains yang kala itu menjadi simbol ambisi kolonial di bidang astronomi.

Ketibaan masa pendudukan Jepang pada 1942 membawa babak kelam. Banyak villa dijarah, perkebunan terbengkalai, dan rakyat dipaksa menjadi romusha. Setelah perang usai, Lembang menjadi saksi pertempuran sengit antara pasukan Belanda dan pejuang Indonesia pada 1945. Arsip video sekutu menunjukkan rumah-rumah terbakar dan warga sipil melarikan diri ke pegunungan. Setelah Indonesia merdeka, wilayah ini bangkit pelan-pelan. Tahun 1956, pemerintah mendirikan Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), yang menjadikan Lembang pionir dalam riset agrikultur dataran tinggi.

Pada era 1980-an, wajah Lembang mulai berubah lagi. Dari kawasan agraris menjadi wisata populer. Floating Market, De Ranch, dan Farmhouse muncul di dekade 2010-an, menyulap lahan-lahan bekas perkebunan menjadi taman hiburan tematik. Di sisi lain, Observatorium Bosscha tetap berdiri gagah, seperti penjaga tua yang menatap bintang-bintang sementara manusia di bawah sibuk berfoto di antara bunga plastik.

Lembang memang sudah jauh dari masa saat airnya tergenang di lembah. Tapi dalam cara yang aneh, sejarahnya tetap mengalir di setiap kabut yang turun. Dari legenda Sangkuriang hingga teleskop Zeiss, dari rawa-rawa Sunda kuno sampai villa kolonial dan tempat wisata kekinian, Lembang adalah bukti bahwa genangan pun bisa naik derajat, asal tahu cara menjual pemandangan dan susu segar dengan harga tiket masuk.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)