Sejarah Lembang, Kawasan Wisata Primadona Bandung Sejak Zaman Kolonial

9 menit baca
Restu Nugraha Sauqi Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi , Hengky Sulaksono diterbitkan
Gunung Tangkubanparahu Tahun 1910-an. (Sumber: KITLV)
Gunung Tangkubanparahu Tahun 1910-an. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Hari ini, Lembang dikenal sebagai tempat pelarian paling masuk akal bagi warga Bandung yang sudah penat dengan kemacetan, cicilan rumah, dan udara panas. Di sanalah mereka mencari kesejukan, entah dengan menyeruput kopi hangat di pinggir jalan atau berswafoto di tengah kabut tipis. Tapi siapa sangka, di balik wangi harum kopi dan aroma teh dari lereng Tangkuban Perahu, Lembang punya sejarah yang lebih tua dari semua papan nama Instagrammable di sana.

Cerita sejarah panjang Lembang tidak bisa dilepaskan dari legenda Sangkuriang, kisah klasik Sunda tentang cinta terlarang antara anak dan ibu yang membentuk lanskap geografis Bandung Raya. Legenda ini bukan sekadar mitos hiburan, tapi juga refleksi bagaimana orang Sunda zaman dulu menjelaskan keanehan alam sekitarnya—seperti kenapa ada gunung berbentuk perahu terbalik, atau kenapa Lembang selalu terlihat seperti cekungan besar tempat air betah berlama-lama. Manuskrip kuno Bujangga Manik mencatat kisah ini di daun lontar pada akhir abad ke-15, jauh sebelum orang Belanda tahu cara mengeja kata Priangan.

Tentang asal usul nama Lembang sendiri punya cerita linguistik yang lumayan rumit. Dalam bahasa Sunda, kata ini berarti genangan air atau permukaan tanah yang menurun. Tapi T. Bachtiar, penulis buku Toponimi: Susur Galur Nama Tempat di Jawa Barat, menemukan versi-versi lain. Menurutnya, ada kamus yang menyebut Lembang sebagai nama serangga kecil di sawah, sebesar kuku ibu jari, yang suka menggigiti batang padi muda. Ada pula yang menafsirkan Lembang sebagai sejenis rumput. Tapi tafsir ketiga yaitu “air yang menggenang” paling masuk akal, karena memang itulah wajah topografi Lembang sejak zaman prasejarah: tanah cekung tempat air berkumpul, ngalémbang, kata orang Sunda.

Baca Juga: Sejarah Kopo Bandung, Berawal dari Hikayat Sesepuh hingga Jadi Distrik Ikon Kemacetan

Secara geologis, genangan itu bukan kebetulan. Lembang berdiri di atas patahan aktif yang membentang sepanjang 29 kilometer dari timur ke barat. Dari arah utara, kalau dilihat dari Gunung Putri, dinding tanah raksasa itu tampak seperti tembok alam. Patahan inilah yang membuat air permukaan tertahan di dataran Lembang, lalu meluber menjadi rawa dan situ. Dari sinilah lahir Situ Umar, Situ Cihideung, dan Situ Panyairan. Semua situ itu adalah bekas genangan air yang lama-lama diurug demi sawah, ladang, dan perumahan. Orang yang tinggal di atas patahan itu mungkin tidak sadar sedang berdiri di atas bom waktu geologi, tapi toh, begitulah manusia: baru sadar bahaya setelah gempa datang.

Pemandangan jalan menuju Observatorium Bosscha. (Sumber: KITLV)
Pemandangan jalan menuju Observatorium Bosscha. (Sumber: KITLV)

Dari Perkebunan Teh sampai Observatorium Bosscha

Ketika VOC tiba di Jawa pada abad ke-17, Lembang belum dikenal sebagai tempat wisata. Ia hanyalah dataran tinggi berhawa sejuk yang diselimuti hutan lebat. Namun bagi para kolonial, udara Lembang adalah kemewahan. Dari panas Batavia yang pengap, naiklah mereka ke utara Bandung untuk mencari tempat bernafas dan minum teh panas. Lembang pun segera berubah jadi taman eksperimen kolonial: lahan-lahan hutan dibuka, perkebunan kopi dan teh bermunculan, dan penduduk lokal beralih jadi buruh di kebun monokultur yang hasilnya dikirim jauh ke Rotterdam.

Pada akhir abad ke-19, sebuah nama asing muncul di tanah sejuk itu: keluarga Ursone, imigran asal Italia. Mereka bukan siapa-siapa di Eropa, tapi di Hindia Belanda, mereka seperti tuan kecil. Ursone membuka perkebunan kina dan peternakan sapi, bahkan menguasai sebagian besar tanah di Lembang. Dari tangan mereka pula lahir hibah 16 hektare untuk Observatorium Bosscha, sebuah sumbangan kecil bagi kemajuan astronomi, tapi besar bagi sejarah Lembang. Rumah keluarga Ursone masih berdiri di daerah Baru Adjak, sering dibilang angker oleh warga sekitar. Ya, mungkin karena rumah kolonial tua memang cenderung lebih sukses jadi lokasi syuting acara misteri ketimbang museum sejarah.

Bosscha sendiri adalah tokoh besar di balik perubahan Lembang dari kampung perkebunan menjadi pusat sains Hindia Belanda. Ia bukan cuma pengusaha teh yang sukses di Malabar, tapi juga ilmuwan dan filantropis yang percaya bahwa kemajuan teknologi bisa tumbuh di tanah tropis. Ia mendirikan perusahaan telepon pertama di Bandung, mendukung pendirian Technische Hoogeschool yang kini dikenal sebagai ITB, dan memperkenalkan sistem metrik agar orang berhenti mengukur jarak dengan “poles” atau langkah kaki. Tapi warisan terbesarnya tentu Observatorium Bosscha, yang berdiri sejak 1923 di bawah naungan Nederlandsch-Indische Sterrekundige Vereeniging. Di situlah teleskop Zeiss raksasa mengintip bintang-bintang dari langit Lembang, membuktikan bahwa di balik kabut dan dingin, ada sejumput pengetahuan yang bercahaya.

Observatorium Bosscha (Sumber: ITB)
Observatorium Bosscha (Sumber: ITB)

Baca Juga: Sejarah Padalarang dari Gua Pawon ke Rel Kolonial, hingga Industrialisasi dan Tambang Zaman Kiwari

Lembang di masa itu bukan hanya tempat kerja dan penelitian, tapi juga tempat bersantai. Para pejabat kolonial yang stres di Batavia membangun villa-villa mewah di sepanjang jalan Hooglandweg, kini dikenal sebagai Jalan Raya Lembang. Udara sejuk dan pemandangan pegunungan membuat kawasan ini jadi Swiss-nya Hindia Belanda. Grand Hotel Lembang, dibangun tahun 1916, menjadi simbol glamor era itu. Hotel ini berdiri di lahan tujuh hektare, lengkap dengan taman, lapangan tenis, dan pemandangan Gunung Tangkuban Perahu. Dikelola oleh Bruno Treipl, seorang Jerman muda yang kabur dari kamp tahanan perang Inggris, hotel ini jadi tempat nongkrong para bangsawan dan penjelajah. Lembang pun resmi naik kelas: dari genangan air jadi resor pegunungan.

Tapi jangan dikira semuanya tentang leisure. Pemerintah kolonial tahu bahwa dataran tinggi ini punya nilai strategis. Selain perkebunan dan villa, Belanda membangun jaringan benteng di sekitar Lembang: Benteng Gunung Putri, Benteng Jayagiri, dan Benteng Cikahuripan, semua berfungsi sebagai titik pertahanan militer. Dari catatan Departement van Gouvernementsbedrijven di Den Haag, ada pula landasan udara darurat di Cibogo bernama Noodlanding Terreinen Tjibogo, dibangun tahun 1930-an. Panjangnya cuma 500 meter, tapi cukup untuk mendaratkan pesawat tempur kecil. Kini, bekas landasan itu sudah berubah jadi kawasan pelatihan vokasi. Ironisnya, banyak warga yang tinggal di sana bahkan tidak tahu bahwa rumah mereka berdiri di atas bekas lapangan terbang kolonial.

Secara administratif, Lembang mendapat status onderdistrik pada tahun 1882. Alun-alun dibangun, masjid agung berdiri, dan kantor distrik muncul berdampingan dengan penjara kecil, karena di zaman kolonial, setiap pusat pemerintahan harus punya tempat menaruh orang yang melawan. Tata kotanya mengikuti model Jawa-Belanda: beringin kembar, pendopo, dan jalan lurus menuju pasar. Tak lama kemudian, perkebunan teh Ciumbuleuit, Baroe Adjak, dan Sukawana menjadikan Lembang sebagai jantung ekonomi baru Priangan. Dari sinilah reputasi teh Priangan mendunia, menandingi teh India dan Ceylon di pasar Eropa.

Baca Juga: Hikayat Lara di Baleendah, Langganan Banjir yang Gagal Jadi Ibu Kota

Kawasan Wisata Sejak Zaman Baheula

Sejak abad ke-19, Lembang telah dirancang sebagai ruang pelarian. Di masa ketika Bandung masih berupa kota garnisun dengan debu yang tak pernah benar-benar habis, Lembang muncul sebagai balkon alami. Orang-orang Eropa naik ke sini untuk mendinginkan kepala, menghindari malaria, atau sekadar merasa seperti berada di Eropa kecil yang tersesat di bawah garis khatulistiwa. Dari sinilah jejak panjang pariwisata Lembang mulai tertera, jauh sebelum tempat selfie dan kafe tematik segala rupa hadir di Instagram.

Pada masa itu, kerja sama antara pemerintah kolonial dan kelompok swasta seperti Vereeniging tot nut van Bandoeng en Omstreken menjadi semacam mesin produksi citra untuk membangun Lembang sebagai destinasi yang pantasties di brosur-brosur mereka. Perkebunan teh dan kopi yang dibuka Belanda bukan hanya mesin ekonomi; taman-taman hijau itu juga berubah menjadi halaman depan bagi villa-villa kolonial yang menjadi prototipe resor modern. Mereka membawa imajinasi tentang Mooi Indie, “Hindia yang Indah”, yang memanjakan mata dan mengabaikan kenyataan bahwa warga pribumi bekerja tanpa kenal lelah di balik pemandangannya.

Tak heran Lembang muncul dalam Gids van Bandoeng en Midden-Priangan (1927), panduan wisata Belanda untuk orang-orang yang ingin bersantai sambil tetap merasa superior secara sosial. Dalam buku itu, Lembang digambarkan seperti Swiss versi tropis: sejuk, hijau, penuh objek alam eksotis, dan tentu saja, jauh lebih nyaman dibanding dataran rendah yang dianggap kurang beradab. Gunung Tangkuban Perahu menjadi salah satu bintang utama. Kolaborasi antara legenda lokal Sangkuriang dan obsesi Eropa pada kawah belerang menjadikan gunung itu hadir sebagai magnet wisata sejak awal abad ke-18. Bahkan pembangunan jalan Hooglandweg muncul untuk memudahkan kunjungan para petualang Eropa yang ingin melihat kawah sambil tetap memakai sepatu mengkilat.

Situ Lembang. (Sumber: Wikimedia)
Situ Lembang. (Sumber: Wikimedia)

Situ Lembang juga tidak luput dari promosi. Majalah Mooi Bandoeng pada 1939 menyebut kawasan danau pegunungan itu sebagai tujuan ekskursi akhir pekan. Jika sekarang orang Bandung naik ke Lembang untuk merayakan ulang tahun, dulu orang Belanda naik ke sana untuk merayakan kolonialisme sambil piknik.

Semua ini menunjukkan satu hal: sebelum jadi ikon wisata lokal, Lembang sudah jadi panggung pariwisata kolonial. Hawa dingin adalah komoditas, dan pemandangan adalah propaganda.

Bahkan, saking stratgisnya Lembang, kawasan ini pernah akan dibangunkan jalan kereta. Tapi, tidak semua rencana kolonial tentang Lembang berjalan mulus. Satu ambisi yang selalu gagal adalah membangun jalur kereta ke tanah tinggi ini. Tahun 1883, N.H. Niertrasz datang dengan proposal yang besar—rel dari Bandung ke Lembang, lalu terus ke Cikalong. Pemerintah kolonial menolak tanpa banyak penjelasan, meski bisa ditebak alasannya: tanjakan Lembang terlalu “menggigit”. Tahun berikutnya, ia mencoba lagi lewat perantara lain. Hasilnya sama: ditolak.

Baca Juga: Hikayat Kiaracondong, Tujuan Urbanisasi Kaum Pekerja Zaman Baheula

Kemudian, nama-nama lain datang silih berganti: J.B. Hubenet, disusul W.H.J. Keuchenius pada 1898, dan R.P.F. Hagenaar pada 1910. Semuanya membawa rute berbeda, semuanya digugurkan. Yang terakhir bahkan sempat dapat konsesi sebelum akhirnya dicabut. Pada 1915, pemerintah kolonial akhirnya angkat tangan: Lembang dianggap terlalu mahal dan terlalu rumit untuk dilintasi rel besi. Mereka memilih membangun jalur lain di selatan Bandung—lebih mudah, lebih murah, lebih realistis.

Tetapi Lembang tidak sepenuhnya absen dari peta infrastruktur modern kolonial. Di Cibogo, didirikan sebuah lapangan pacu darurat: Noodlanding Terreinen Tjibogo. Namanya sulit, fungsinya sederhana: tempat pesawat mendarat jika cuaca atau bensin memaksa. Dengan ketinggian lebih dari seribu meter, panjang 500 meter, dan bentang rumput yang sangat baik menurut laporan pemerintah kolonial tahun 1931, lapangan kecil ini menjadi bagian dari jaringan penerbangan Hindia Belanda. Ia berdiri berdekatan dengan Observatorium Bosscha—pusat sains yang kala itu menjadi simbol ambisi kolonial di bidang astronomi.

Ketibaan masa pendudukan Jepang pada 1942 membawa babak kelam. Banyak villa dijarah, perkebunan terbengkalai, dan rakyat dipaksa menjadi romusha. Setelah perang usai, Lembang menjadi saksi pertempuran sengit antara pasukan Belanda dan pejuang Indonesia pada 1945. Arsip video sekutu menunjukkan rumah-rumah terbakar dan warga sipil melarikan diri ke pegunungan. Setelah Indonesia merdeka, wilayah ini bangkit pelan-pelan. Tahun 1956, pemerintah mendirikan Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), yang menjadikan Lembang pionir dalam riset agrikultur dataran tinggi.

Pada era 1980-an, wajah Lembang mulai berubah lagi. Dari kawasan agraris menjadi wisata populer. Floating Market, De Ranch, dan Farmhouse muncul di dekade 2010-an, menyulap lahan-lahan bekas perkebunan menjadi taman hiburan tematik. Di sisi lain, Observatorium Bosscha tetap berdiri gagah, seperti penjaga tua yang menatap bintang-bintang sementara manusia di bawah sibuk berfoto di antara bunga plastik.

Lembang memang sudah jauh dari masa saat airnya tergenang di lembah. Tapi dalam cara yang aneh, sejarahnya tetap mengalir di setiap kabut yang turun. Dari legenda Sangkuriang hingga teleskop Zeiss, dari rawa-rawa Sunda kuno sampai villa kolonial dan tempat wisata kekinian, Lembang adalah bukti bahwa genangan pun bisa naik derajat, asal tahu cara menjual pemandangan dan susu segar dengan harga tiket masuk.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)