Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Jumat 09 Jan 2026, 20:34 WIB
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)

Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)

Kita selalu merindukan Bandung. Bukan hanya karena kita telah melaluinya pada masa-masa kita kuliah kemarin, atau membekaskan banyak memori bersama orang yang pernah kita sayangi. Tapi memang tentang berkelimpahan berkas yang tidak mudah dilewatkan begitu saja.

Bandung tak pernah henti menorehkan peninggalan. Pada hal-hal yang serius, sekaligus hal-hal yang tampak remeh-temeh. Juga pada masa lalu kita sebagai warga kota.

Di sana kita menatap menatap masa depan yang memang selalu menuntut keberanian baru. Kita diajak untuk banyak menyirnakan hal-hal buruk yang sudah berlalu. Tapi dirayu juga untuk menoleh ke belakang, menatap rentang sejarah, menyaksikan lakon di masa lampau.

Dan sialnya semua ini tidak sesederhana melupakan yang sudah-sudah atau justru terjebak dalam romantisisme. Sebab dalam beberapa hal, ada ukiran tertentu yang terpatri kuat, menancap mendalam. Itu bisa saja terlalu layak buat dikenang, atau bahkan sebaliknya. Sebuah luka dalam ingatan, yang menganga, tak pernah kering. Menjalar pada seluruh tubuh ekosistem Bandung.   

Kita akan berbicara tentang akibat kekerasan, serupa trauma tapi bukan memar-memar sebagaimana habis digebuk, juga bayangan-bayangan dalam mimpi buruk.  Kita akan meraba cara berpikir, cara mengada kita di dalam Bandung. Suatu selera yang selama ini menahan napas kota.

Kolonialisme di Bandung tampak sudah selesai puluhan tahun lalu. Tapi setiap menjejakkan kaki di tahun yang baru, 2026 ini misalnya, rasa-rasanya belum juga pulih. Kekerasan yang dilakukan oleh kaki tangan penjajah tidak sebatas membuat kita miskin dan mati, juga membentuk mental sekalian karakter sebagai subjek yang kini singgah di dalam kota. 

Ini bukan utopia. Ia hadir, bersemayam di dua ruang yang berbeda tapi saling tumpang tindih. Di kursi-kursi pemangku kekuasaan dan ruang hidup masyarakat.

Kekuasaan sebagai Labirin

Di gedung-gedung yang ekslusif, di balik stempel resmi, kita menemukan wajah kolonial yang masih tersisa. Prosedur yang bertele-tele. Tata kelola kota dan birokrasi yang berlapis-lapis seperti labirin. Setiap keputusan harus melewati gerbang gelar, jabatan, dan kedekatan politik, bukan lagi pada substansi.

Kita mesti rela menunggu, berkeluh. Menyaksikan pemindahan-pemindahan peladen, “disposisi” katanya. Ribet. Ada banyak syarat administratif yang berulang. Pindai KTP, verifikasi nomor apalah, jam 14.00 meja loket sudah ditutup, datang minggu depan. Layanan publik macam apa?

Hukum di sini seperti puisi yang dibaca terbalik. Indah dibaca-baca sebagai capaian daerah, tapi kehilangan makna di praktik. Ia tidak menjadi jembatan, corong, dan harapan tentang tujuan keberlangsungan kota. Ia lebih suka menjadi penjegal, menjadi “Oh maaf ya, belum sesuai dengan prosedurnya”. “Menurut aturannya juga tidak begini.” Dan besok lusa pun segalanya bisa saja cepat berganti-ganti.

Kita melihat bahwa pelayan rakyat masih butuh sanjungan, tepuk tangan, dan swafoto. Mereka dihormat secara berlebih bukan karena gagasan yang mereka lahirkan, tetapi karena posisi yang mereka duduki. Karena populisme, karena citra, karena PNS, karena mobil dinas berplat merah, karena dapat tunjangan, karena menjadi penguasa.

Tidak berhenti pada feodalisme baru. Militeristik dan orientasi keamanan yang berlebihan membuat kota terasa seperti benteng. Warga bergerak dengan penuh kehati-hatian, inovasi dipasung, dan setiap langkah diawasi. Ada banyak kejadian cipta kondisi untuk penangkapan, untuk pelarangan yang semata agar disiplin. Agar mereka tidak dibuat repot dengan demokrasi, kebebasan sipil, pers, dan hak asasi manusia.

Merangsek ke Sehari-hari

Masyarakat Bandung tampak terpapar kemajuan. Melek teknologi segala terkoneksi dengan internet, lantatur di restoran, belanja daring, dan pembayaran lewat pindai layar. Rasa-rasanya keren saja jika saban pekan berbelanja ke mal, swalayan, dan nonton ke bioskop. Rasa-rasanya menjadi warga kota yang konsumtif adalah capaian hidup.

Pengetahuan saintifik menjelma dalam bentuk kampus-kampus. Menara gading yang kemudian mencetak elit baru kita. Mengoreksi cara hidup masyarakat pinggiran. Mengklaim si paling intelektualis. Berijazah, entahlah antara dijajah atau menjajah.

Galeri lukisan menghiasi salah satu sudut di Jalan Braga, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Galeri lukisan menghiasi salah satu sudut di Jalan Braga, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)

Istilah-istilah berbahasa asing jadi kebanggan yang berseliweran. Di temukan di berbagai jenama, pola komunikasi di media sosial, sampai obrolan juga gosip. Begitupun dunia industri, raksasa kapitalis, korporasi, selalu dipandang sempurna sebagai labuhan kerja-kerja kita.

Selera seni dan hiburan, paradigma wisata, dan fashion, semua tetap konsisten menunjuk pada modernitas. Yang lokal banyak, tapi kerap kali ujung-ujungnya subordinat pada yang Barat.  Festival acara kota, kafe ternama, bahkan tren, banyak meniru standar impor.

Di sinilah masyarakat menjadi korban kolonialisme baru dari apa yang sudah kita kenal soal “Paris van Java”. Yang mengejar kemapanan tapi ukurannya ditentukan oleh warisan kolonial. Aspirasi untuk hidup bukan sepenuhnya milik warga, sayang beribu sayang ia datang dibungkus standar, budaya, dan dunia Barat.

Mengulang-ulang Gaya Lama

Jika kita tarik garis dari ruang kekuasaan hingga lapangan di akar rumput, tampak jelas bahwa Bandung tidak sedang mengalami krisis secara kebetulan. Yang terjadi adalah pengulangan warisan. Gaya lama, kolonialisme, yang tidak lagi hadir sebagai serdadu atau senapan, tetapi sebagai cara kerja  dan cara mendudukkan dirinya sendiri. Ia menyusup rapi ke dalam birokrasi, lalu mengalir ke dalam selera, mimpi, dan definisi tentang kota yang kita hidupi ini.

Di level kekuasaan, kolonialisme hidup dalam bentuk yang hirarkis, prosedural, dan feodal. Negara lewat penyelenggaraan kota di daerah tidak hadir sebagai pengurus kehidupan, melainkan sebagai penjaga gerbang. Warga, sebagai manusia, tidak ditempatkan sebagai subjek melainkan sebagai pihak yang harus menyesuaikan diri. Di sini, mandat rakyat kehilangan watak etikanya dan berubah menjadi bahasa teknis yang dingin.

di level masyarakat, kolonialisme bekerja lebih senyap bahkan nyaris tidak terasa. Ia hadir sebagai aspirasi. Sebagai standar hidup. Sebagai ukuran keberhasilan. Masyarakat kota didorong untuk percaya bahwa menjadi modern berarti menjadi serupa dengan Barat. Bahwa kemajuan identik dengan teknologi impor, pendidikan bergaya Eropa, bahasa asing, dan konsumsi tanpa henti. Dengan cara inilah, kolonialisme tidak perlu lagi memaksa kita. Ia cukup membuat kita selalu merasa ingin seperti yang lain.

Inilah dua potret yang paling berbahaya. Ketika penjajahan tidak lagi dipaksakan, melainkan dirindukan. Didokumentasikan dalam konten-konten kita yang dinilai estetik. Dalam cerita urban dan ekspedisi tentang hantu-hantu noni dan tentara Belanda. Dalam decak kagum pada bangunan, alunan musik, dan gaya-gaya penjajah.

Masyarakat Bandung kiranya hidup dalam paradoks. Mereka tampak bergerak maju, tetapi sesungguhnya berjalan di jalur yang sudah digariskan lama. Kampus mencetak elit baru yang fasih berbahasa teori, namun kerap gagap membaca realitas sekitarnya. Industri menjanjikan kesejahteraan, tetapi menuntut kepatuhan pada logika kapital global. Budaya lokal dipamerkan, tetapi hanya sejauh ia bisa dikemas sesuai selera pasar.

Dalam kondisi ini, warga tentu tidak sepenuhnya salah. Mereka adalah korban dari sistem yang sejak awal tidak memberi pilihan adil. Ketika seluruh infrastruktur seperti pendidikan, ekonomi, budaya, bahkan imajinasi dibangun dengan rujukan kolonial, maka mengikuti arus bukanlah keputusan bebas, melainkan bentuk bertahan hidup.

Bandung, dengan segala romantismenya, akhirnya menjadi sebuah kota yang terjebak di antara kenangan dan peniruan. Kita diajak mencintai masa lalu, tetapi hanya yang sudah dibingkai rapi. Kita didorong menatap masa depan, tetapi hanya melalui cermin milik orang lain. Di antara keduanya, warga berdiri limbung, membawa trauma yang tidak pernah betul-betul disembuhkan.

Dan inilah, sebuah kehidupan di dalam ibu kota dari bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang pernah terjajah. Dari 70 tahun yang lalu, yang hingga kini kita ditinggalkannya Gedung Merdeka. Dengan tanpa makna yang berarti apa-apa. 

Baca Juga: Sejarah Masjid Raya Bandung, Bale Bambu Penanda Zaman Kota Kolonial

Penyembuhan

Maka berbicara tentang Bandung 2026 bagi kita bukan soal mimpi besar perubahan. Ini soal kejujuran kolektif. Bahwa kolonialisme tidak selesai ketika bendera diturunkan, tetapi terus hidup dalam sistem, dalam selera, dalam cara kita memandang diri sendiri.

Resolusi Bandung, jika sungguh ingin bermakna, harus berangkat dari kesadaran tersebut. Bahwa luka tidak bisa disembuhkan dengan kosmetik kebijakan. Bahwa modernitas tidak otomatis berarti pembebasan yang hakiki. Bahwa kemajuan tanpa refleksi hanya akan melahirkan penjajahan baru, dengan wajah yang lebih ramah dan bahasa yang lebih canggih.

Yakinlah Bandung tidak kekurangan kreativitas, juga tidak kekurangan kecerdasan. Yang kurang adalah keberanian kembali untuk berhenti meniru dan mulai bertanya, untuk apa berbangga-bangga dengan embel-embel asing?

Sepanjang pertanyaan itu belum tuntas dijawab, Bandung akan terus menjadi kota yang sibuk bergumul tanpa arah. Kota yang penuh sejarah, tetapi menyimpan bayangan yang mengaburkan langkah. Duh Bandung kita sudah tak sudi lagi menjadi tawanan kota. Dan mungkin, dari pengakuan itulah, penyembuhan kita bisa dimulai di awal tahun ini. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 20:20

Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding.

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 16:20

Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Berikut kumpulan kata khas Ramadan yang sering digunakan beserta maknanya.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Bandung 23 Feb 2026, 15:25

Strategi Bertahan Gado Gado Gerobakan Cibadak Menembus Batas Zaman dan Pandemi

Merintis bisnis bukanlah wacana yang mudah. Perencanaan yang matang hingga eksekusi bisnis sampai di tahap mempunyai pelanggan setia, bukanlah proses yang mudah.

Kuliner tradisional yakni gado-gado gerobakan di kawasan Cibadak milik Efendi Wahyudin. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 14:18

Di Balik Kumpulan Kata Khas Ramadan, Memahami Bahasa dan Makna Sosial

Memahami istilah-istilah khas Ramadan berarti memahami bagaimana bahasa berfungsi sebagai medium pengalaman kolektif.

Seorang anak sedang mengaji. (Sumber: Pixabay | Foto: Joko_Narimo)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 12:13

Bahasa yang Menjadi Kontrol Sosial Kala Ramadan

Di Bulan Suci ini, bahasa menjaga puasa kita tetap tuntas dengan baik.

Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 09:07

Mendadak Pasar Takjil Ramadan

Yang membuat Pasar Takjil menarik, di antaranya adalah suasananya yang meriah dan penuh kejutan.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 18:04

Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Kisah Es Cendol Elizabeth berawal dari cerita Haji Rohman pada 1972 yang ditinggal pergi ayahnya.

Es Cendol Elizabeth. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Bandung 22 Feb 2026, 15:08

Manisnya Berkah Ramadan di Jalan Cibadak, Kisah Pak Heri Merawat Tradisi Es Goyobod di Tengah Gempuran Zaman

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini.

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 15:02

Ngabuburead: Menemukan Ketenangan di Tengah Riuh Ramadan Jawa Barat

Inilah tren 'Ngabuburead', cara baru menepi lewat konten digital yang lebih intim dan berisi.

Media digital. (Sumber: Unsplash | Foto: @felirbe)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 11:43

Lembang Tempo Dulu

Dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 09:36

Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

Denyut pers Sunda sebenarnya telah terdengar sejak akhir abad ke-19 melalui penerbitan seperti Sunda Almanak (1894) dan Panemu Guru (1906).

Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 22 Feb 2026, 07:10

Tak Ada yang Berbuka Sendirian: Cerita Ramadan, Relawan, dan Sampah yang Dipilah di Salman ITB

Saat azan Magrib mendekat, halaman sekitar Masjid Salman ITB dipenuhi aroma makanan berbuka yang tertata rapi di atas meja-meja panjang

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)