Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

6 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)

Kita selalu merindukan Bandung. Bukan hanya karena kita telah melaluinya pada masa-masa kita kuliah kemarin, atau membekaskan banyak memori bersama orang yang pernah kita sayangi. Tapi memang tentang berkelimpahan berkas yang tidak mudah dilewatkan begitu saja.

Bandung tak pernah henti menorehkan peninggalan. Pada hal-hal yang serius, sekaligus hal-hal yang tampak remeh-temeh. Juga pada masa lalu kita sebagai warga kota.

Di sana kita menatap menatap masa depan yang memang selalu menuntut keberanian baru. Kita diajak untuk banyak menyirnakan hal-hal buruk yang sudah berlalu. Tapi dirayu juga untuk menoleh ke belakang, menatap rentang sejarah, menyaksikan lakon di masa lampau.

Dan sialnya semua ini tidak sesederhana melupakan yang sudah-sudah atau justru terjebak dalam romantisisme. Sebab dalam beberapa hal, ada ukiran tertentu yang terpatri kuat, menancap mendalam. Itu bisa saja terlalu layak buat dikenang, atau bahkan sebaliknya. Sebuah luka dalam ingatan, yang menganga, tak pernah kering. Menjalar pada seluruh tubuh ekosistem Bandung.   

Kita akan berbicara tentang akibat kekerasan, serupa trauma tapi bukan memar-memar sebagaimana habis digebuk, juga bayangan-bayangan dalam mimpi buruk.  Kita akan meraba cara berpikir, cara mengada kita di dalam Bandung. Suatu selera yang selama ini menahan napas kota.

Kolonialisme di Bandung tampak sudah selesai puluhan tahun lalu. Tapi setiap menjejakkan kaki di tahun yang baru, 2026 ini misalnya, rasa-rasanya belum juga pulih. Kekerasan yang dilakukan oleh kaki tangan penjajah tidak sebatas membuat kita miskin dan mati, juga membentuk mental sekalian karakter sebagai subjek yang kini singgah di dalam kota. 

Ini bukan utopia. Ia hadir, bersemayam di dua ruang yang berbeda tapi saling tumpang tindih. Di kursi-kursi pemangku kekuasaan dan ruang hidup masyarakat.

Kekuasaan sebagai Labirin

Di gedung-gedung yang ekslusif, di balik stempel resmi, kita menemukan wajah kolonial yang masih tersisa. Prosedur yang bertele-tele. Tata kelola kota dan birokrasi yang berlapis-lapis seperti labirin. Setiap keputusan harus melewati gerbang gelar, jabatan, dan kedekatan politik, bukan lagi pada substansi.

Kita mesti rela menunggu, berkeluh. Menyaksikan pemindahan-pemindahan peladen, “disposisi” katanya. Ribet. Ada banyak syarat administratif yang berulang. Pindai KTP, verifikasi nomor apalah, jam 14.00 meja loket sudah ditutup, datang minggu depan. Layanan publik macam apa?

Hukum di sini seperti puisi yang dibaca terbalik. Indah dibaca-baca sebagai capaian daerah, tapi kehilangan makna di praktik. Ia tidak menjadi jembatan, corong, dan harapan tentang tujuan keberlangsungan kota. Ia lebih suka menjadi penjegal, menjadi “Oh maaf ya, belum sesuai dengan prosedurnya”. “Menurut aturannya juga tidak begini.” Dan besok lusa pun segalanya bisa saja cepat berganti-ganti.

Kita melihat bahwa pelayan rakyat masih butuh sanjungan, tepuk tangan, dan swafoto. Mereka dihormat secara berlebih bukan karena gagasan yang mereka lahirkan, tetapi karena posisi yang mereka duduki. Karena populisme, karena citra, karena PNS, karena mobil dinas berplat merah, karena dapat tunjangan, karena menjadi penguasa.

Tidak berhenti pada feodalisme baru. Militeristik dan orientasi keamanan yang berlebihan membuat kota terasa seperti benteng. Warga bergerak dengan penuh kehati-hatian, inovasi dipasung, dan setiap langkah diawasi. Ada banyak kejadian cipta kondisi untuk penangkapan, untuk pelarangan yang semata agar disiplin. Agar mereka tidak dibuat repot dengan demokrasi, kebebasan sipil, pers, dan hak asasi manusia.

Merangsek ke Sehari-hari

Masyarakat Bandung tampak terpapar kemajuan. Melek teknologi segala terkoneksi dengan internet, lantatur di restoran, belanja daring, dan pembayaran lewat pindai layar. Rasa-rasanya keren saja jika saban pekan berbelanja ke mal, swalayan, dan nonton ke bioskop. Rasa-rasanya menjadi warga kota yang konsumtif adalah capaian hidup.

Pengetahuan saintifik menjelma dalam bentuk kampus-kampus. Menara gading yang kemudian mencetak elit baru kita. Mengoreksi cara hidup masyarakat pinggiran. Mengklaim si paling intelektualis. Berijazah, entahlah antara dijajah atau menjajah.

Galeri lukisan menghiasi salah satu sudut di Jalan Braga, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Galeri lukisan menghiasi salah satu sudut di Jalan Braga, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)

Istilah-istilah berbahasa asing jadi kebanggan yang berseliweran. Di temukan di berbagai jenama, pola komunikasi di media sosial, sampai obrolan juga gosip. Begitupun dunia industri, raksasa kapitalis, korporasi, selalu dipandang sempurna sebagai labuhan kerja-kerja kita.

Selera seni dan hiburan, paradigma wisata, dan fashion, semua tetap konsisten menunjuk pada modernitas. Yang lokal banyak, tapi kerap kali ujung-ujungnya subordinat pada yang Barat.  Festival acara kota, kafe ternama, bahkan tren, banyak meniru standar impor.

Di sinilah masyarakat menjadi korban kolonialisme baru dari apa yang sudah kita kenal soal “Paris van Java”. Yang mengejar kemapanan tapi ukurannya ditentukan oleh warisan kolonial. Aspirasi untuk hidup bukan sepenuhnya milik warga, sayang beribu sayang ia datang dibungkus standar, budaya, dan dunia Barat.

Mengulang-ulang Gaya Lama

Jika kita tarik garis dari ruang kekuasaan hingga lapangan di akar rumput, tampak jelas bahwa Bandung tidak sedang mengalami krisis secara kebetulan. Yang terjadi adalah pengulangan warisan. Gaya lama, kolonialisme, yang tidak lagi hadir sebagai serdadu atau senapan, tetapi sebagai cara kerja  dan cara mendudukkan dirinya sendiri. Ia menyusup rapi ke dalam birokrasi, lalu mengalir ke dalam selera, mimpi, dan definisi tentang kota yang kita hidupi ini.

Di level kekuasaan, kolonialisme hidup dalam bentuk yang hirarkis, prosedural, dan feodal. Negara lewat penyelenggaraan kota di daerah tidak hadir sebagai pengurus kehidupan, melainkan sebagai penjaga gerbang. Warga, sebagai manusia, tidak ditempatkan sebagai subjek melainkan sebagai pihak yang harus menyesuaikan diri. Di sini, mandat rakyat kehilangan watak etikanya dan berubah menjadi bahasa teknis yang dingin.

di level masyarakat, kolonialisme bekerja lebih senyap bahkan nyaris tidak terasa. Ia hadir sebagai aspirasi. Sebagai standar hidup. Sebagai ukuran keberhasilan. Masyarakat kota didorong untuk percaya bahwa menjadi modern berarti menjadi serupa dengan Barat. Bahwa kemajuan identik dengan teknologi impor, pendidikan bergaya Eropa, bahasa asing, dan konsumsi tanpa henti. Dengan cara inilah, kolonialisme tidak perlu lagi memaksa kita. Ia cukup membuat kita selalu merasa ingin seperti yang lain.

Inilah dua potret yang paling berbahaya. Ketika penjajahan tidak lagi dipaksakan, melainkan dirindukan. Didokumentasikan dalam konten-konten kita yang dinilai estetik. Dalam cerita urban dan ekspedisi tentang hantu-hantu noni dan tentara Belanda. Dalam decak kagum pada bangunan, alunan musik, dan gaya-gaya penjajah.

Masyarakat Bandung kiranya hidup dalam paradoks. Mereka tampak bergerak maju, tetapi sesungguhnya berjalan di jalur yang sudah digariskan lama. Kampus mencetak elit baru yang fasih berbahasa teori, namun kerap gagap membaca realitas sekitarnya. Industri menjanjikan kesejahteraan, tetapi menuntut kepatuhan pada logika kapital global. Budaya lokal dipamerkan, tetapi hanya sejauh ia bisa dikemas sesuai selera pasar.

Dalam kondisi ini, warga tentu tidak sepenuhnya salah. Mereka adalah korban dari sistem yang sejak awal tidak memberi pilihan adil. Ketika seluruh infrastruktur seperti pendidikan, ekonomi, budaya, bahkan imajinasi dibangun dengan rujukan kolonial, maka mengikuti arus bukanlah keputusan bebas, melainkan bentuk bertahan hidup.

Bandung, dengan segala romantismenya, akhirnya menjadi sebuah kota yang terjebak di antara kenangan dan peniruan. Kita diajak mencintai masa lalu, tetapi hanya yang sudah dibingkai rapi. Kita didorong menatap masa depan, tetapi hanya melalui cermin milik orang lain. Di antara keduanya, warga berdiri limbung, membawa trauma yang tidak pernah betul-betul disembuhkan.

Dan inilah, sebuah kehidupan di dalam ibu kota dari bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang pernah terjajah. Dari 70 tahun yang lalu, yang hingga kini kita ditinggalkannya Gedung Merdeka. Dengan tanpa makna yang berarti apa-apa. 

Baca Juga: Sejarah Masjid Raya Bandung, Bale Bambu Penanda Zaman Kota Kolonial

Penyembuhan

Maka berbicara tentang Bandung 2026 bagi kita bukan soal mimpi besar perubahan. Ini soal kejujuran kolektif. Bahwa kolonialisme tidak selesai ketika bendera diturunkan, tetapi terus hidup dalam sistem, dalam selera, dalam cara kita memandang diri sendiri.

Resolusi Bandung, jika sungguh ingin bermakna, harus berangkat dari kesadaran tersebut. Bahwa luka tidak bisa disembuhkan dengan kosmetik kebijakan. Bahwa modernitas tidak otomatis berarti pembebasan yang hakiki. Bahwa kemajuan tanpa refleksi hanya akan melahirkan penjajahan baru, dengan wajah yang lebih ramah dan bahasa yang lebih canggih.

Yakinlah Bandung tidak kekurangan kreativitas, juga tidak kekurangan kecerdasan. Yang kurang adalah keberanian kembali untuk berhenti meniru dan mulai bertanya, untuk apa berbangga-bangga dengan embel-embel asing?

Sepanjang pertanyaan itu belum tuntas dijawab, Bandung akan terus menjadi kota yang sibuk bergumul tanpa arah. Kota yang penuh sejarah, tetapi menyimpan bayangan yang mengaburkan langkah. Duh Bandung kita sudah tak sudi lagi menjadi tawanan kota. Dan mungkin, dari pengakuan itulah, penyembuhan kita bisa dimulai di awal tahun ini. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)