Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Jumat 09 Jan 2026, 20:34 WIB
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)

Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)

Kita selalu merindukan Bandung. Bukan hanya karena kita telah melaluinya pada masa-masa kita kuliah kemarin, atau membekaskan banyak memori bersama orang yang pernah kita sayangi. Tapi memang tentang berkelimpahan berkas yang tidak mudah dilewatkan begitu saja.

Bandung tak pernah henti menorehkan peninggalan. Pada hal-hal yang serius, sekaligus hal-hal yang tampak remeh-temeh. Juga pada masa lalu kita sebagai warga kota.

Di sana kita menatap menatap masa depan yang memang selalu menuntut keberanian baru. Kita diajak untuk banyak menyirnakan hal-hal buruk yang sudah berlalu. Tapi dirayu juga untuk menoleh ke belakang, menatap rentang sejarah, menyaksikan lakon di masa lampau.

Dan sialnya semua ini tidak sesederhana melupakan yang sudah-sudah atau justru terjebak dalam romantisisme. Sebab dalam beberapa hal, ada ukiran tertentu yang terpatri kuat, menancap mendalam. Itu bisa saja terlalu layak buat dikenang, atau bahkan sebaliknya. Sebuah luka dalam ingatan, yang menganga, tak pernah kering. Menjalar pada seluruh tubuh ekosistem Bandung.   

Kita akan berbicara tentang akibat kekerasan, serupa trauma tapi bukan memar-memar sebagaimana habis digebuk, juga bayangan-bayangan dalam mimpi buruk.  Kita akan meraba cara berpikir, cara mengada kita di dalam Bandung. Suatu selera yang selama ini menahan napas kota.

Kolonialisme di Bandung tampak sudah selesai puluhan tahun lalu. Tapi setiap menjejakkan kaki di tahun yang baru, 2026 ini misalnya, rasa-rasanya belum juga pulih. Kekerasan yang dilakukan oleh kaki tangan penjajah tidak sebatas membuat kita miskin dan mati, juga membentuk mental sekalian karakter sebagai subjek yang kini singgah di dalam kota. 

Ini bukan utopia. Ia hadir, bersemayam di dua ruang yang berbeda tapi saling tumpang tindih. Di kursi-kursi pemangku kekuasaan dan ruang hidup masyarakat.

Kekuasaan sebagai Labirin

Di gedung-gedung yang ekslusif, di balik stempel resmi, kita menemukan wajah kolonial yang masih tersisa. Prosedur yang bertele-tele. Tata kelola kota dan birokrasi yang berlapis-lapis seperti labirin. Setiap keputusan harus melewati gerbang gelar, jabatan, dan kedekatan politik, bukan lagi pada substansi.

Kita mesti rela menunggu, berkeluh. Menyaksikan pemindahan-pemindahan peladen, “disposisi” katanya. Ribet. Ada banyak syarat administratif yang berulang. Pindai KTP, verifikasi nomor apalah, jam 14.00 meja loket sudah ditutup, datang minggu depan. Layanan publik macam apa?

Hukum di sini seperti puisi yang dibaca terbalik. Indah dibaca-baca sebagai capaian daerah, tapi kehilangan makna di praktik. Ia tidak menjadi jembatan, corong, dan harapan tentang tujuan keberlangsungan kota. Ia lebih suka menjadi penjegal, menjadi “Oh maaf ya, belum sesuai dengan prosedurnya”. “Menurut aturannya juga tidak begini.” Dan besok lusa pun segalanya bisa saja cepat berganti-ganti.

Kita melihat bahwa pelayan rakyat masih butuh sanjungan, tepuk tangan, dan swafoto. Mereka dihormat secara berlebih bukan karena gagasan yang mereka lahirkan, tetapi karena posisi yang mereka duduki. Karena populisme, karena citra, karena PNS, karena mobil dinas berplat merah, karena dapat tunjangan, karena menjadi penguasa.

Tidak berhenti pada feodalisme baru. Militeristik dan orientasi keamanan yang berlebihan membuat kota terasa seperti benteng. Warga bergerak dengan penuh kehati-hatian, inovasi dipasung, dan setiap langkah diawasi. Ada banyak kejadian cipta kondisi untuk penangkapan, untuk pelarangan yang semata agar disiplin. Agar mereka tidak dibuat repot dengan demokrasi, kebebasan sipil, pers, dan hak asasi manusia.

Merangsek ke Sehari-hari

Masyarakat Bandung tampak terpapar kemajuan. Melek teknologi segala terkoneksi dengan internet, lantatur di restoran, belanja daring, dan pembayaran lewat pindai layar. Rasa-rasanya keren saja jika saban pekan berbelanja ke mal, swalayan, dan nonton ke bioskop. Rasa-rasanya menjadi warga kota yang konsumtif adalah capaian hidup.

Pengetahuan saintifik menjelma dalam bentuk kampus-kampus. Menara gading yang kemudian mencetak elit baru kita. Mengoreksi cara hidup masyarakat pinggiran. Mengklaim si paling intelektualis. Berijazah, entahlah antara dijajah atau menjajah.

Galeri lukisan menghiasi salah satu sudut di Jalan Braga, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Galeri lukisan menghiasi salah satu sudut di Jalan Braga, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)

Istilah-istilah berbahasa asing jadi kebanggan yang berseliweran. Di temukan di berbagai jenama, pola komunikasi di media sosial, sampai obrolan juga gosip. Begitupun dunia industri, raksasa kapitalis, korporasi, selalu dipandang sempurna sebagai labuhan kerja-kerja kita.

Selera seni dan hiburan, paradigma wisata, dan fashion, semua tetap konsisten menunjuk pada modernitas. Yang lokal banyak, tapi kerap kali ujung-ujungnya subordinat pada yang Barat.  Festival acara kota, kafe ternama, bahkan tren, banyak meniru standar impor.

Di sinilah masyarakat menjadi korban kolonialisme baru dari apa yang sudah kita kenal soal “Paris van Java”. Yang mengejar kemapanan tapi ukurannya ditentukan oleh warisan kolonial. Aspirasi untuk hidup bukan sepenuhnya milik warga, sayang beribu sayang ia datang dibungkus standar, budaya, dan dunia Barat.

Mengulang-ulang Gaya Lama

Jika kita tarik garis dari ruang kekuasaan hingga lapangan di akar rumput, tampak jelas bahwa Bandung tidak sedang mengalami krisis secara kebetulan. Yang terjadi adalah pengulangan warisan. Gaya lama, kolonialisme, yang tidak lagi hadir sebagai serdadu atau senapan, tetapi sebagai cara kerja  dan cara mendudukkan dirinya sendiri. Ia menyusup rapi ke dalam birokrasi, lalu mengalir ke dalam selera, mimpi, dan definisi tentang kota yang kita hidupi ini.

Di level kekuasaan, kolonialisme hidup dalam bentuk yang hirarkis, prosedural, dan feodal. Negara lewat penyelenggaraan kota di daerah tidak hadir sebagai pengurus kehidupan, melainkan sebagai penjaga gerbang. Warga, sebagai manusia, tidak ditempatkan sebagai subjek melainkan sebagai pihak yang harus menyesuaikan diri. Di sini, mandat rakyat kehilangan watak etikanya dan berubah menjadi bahasa teknis yang dingin.

di level masyarakat, kolonialisme bekerja lebih senyap bahkan nyaris tidak terasa. Ia hadir sebagai aspirasi. Sebagai standar hidup. Sebagai ukuran keberhasilan. Masyarakat kota didorong untuk percaya bahwa menjadi modern berarti menjadi serupa dengan Barat. Bahwa kemajuan identik dengan teknologi impor, pendidikan bergaya Eropa, bahasa asing, dan konsumsi tanpa henti. Dengan cara inilah, kolonialisme tidak perlu lagi memaksa kita. Ia cukup membuat kita selalu merasa ingin seperti yang lain.

Inilah dua potret yang paling berbahaya. Ketika penjajahan tidak lagi dipaksakan, melainkan dirindukan. Didokumentasikan dalam konten-konten kita yang dinilai estetik. Dalam cerita urban dan ekspedisi tentang hantu-hantu noni dan tentara Belanda. Dalam decak kagum pada bangunan, alunan musik, dan gaya-gaya penjajah.

Masyarakat Bandung kiranya hidup dalam paradoks. Mereka tampak bergerak maju, tetapi sesungguhnya berjalan di jalur yang sudah digariskan lama. Kampus mencetak elit baru yang fasih berbahasa teori, namun kerap gagap membaca realitas sekitarnya. Industri menjanjikan kesejahteraan, tetapi menuntut kepatuhan pada logika kapital global. Budaya lokal dipamerkan, tetapi hanya sejauh ia bisa dikemas sesuai selera pasar.

Dalam kondisi ini, warga tentu tidak sepenuhnya salah. Mereka adalah korban dari sistem yang sejak awal tidak memberi pilihan adil. Ketika seluruh infrastruktur seperti pendidikan, ekonomi, budaya, bahkan imajinasi dibangun dengan rujukan kolonial, maka mengikuti arus bukanlah keputusan bebas, melainkan bentuk bertahan hidup.

Bandung, dengan segala romantismenya, akhirnya menjadi sebuah kota yang terjebak di antara kenangan dan peniruan. Kita diajak mencintai masa lalu, tetapi hanya yang sudah dibingkai rapi. Kita didorong menatap masa depan, tetapi hanya melalui cermin milik orang lain. Di antara keduanya, warga berdiri limbung, membawa trauma yang tidak pernah betul-betul disembuhkan.

Dan inilah, sebuah kehidupan di dalam ibu kota dari bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang pernah terjajah. Dari 70 tahun yang lalu, yang hingga kini kita ditinggalkannya Gedung Merdeka. Dengan tanpa makna yang berarti apa-apa. 

Baca Juga: Sejarah Masjid Raya Bandung, Bale Bambu Penanda Zaman Kota Kolonial

Penyembuhan

Maka berbicara tentang Bandung 2026 bagi kita bukan soal mimpi besar perubahan. Ini soal kejujuran kolektif. Bahwa kolonialisme tidak selesai ketika bendera diturunkan, tetapi terus hidup dalam sistem, dalam selera, dalam cara kita memandang diri sendiri.

Resolusi Bandung, jika sungguh ingin bermakna, harus berangkat dari kesadaran tersebut. Bahwa luka tidak bisa disembuhkan dengan kosmetik kebijakan. Bahwa modernitas tidak otomatis berarti pembebasan yang hakiki. Bahwa kemajuan tanpa refleksi hanya akan melahirkan penjajahan baru, dengan wajah yang lebih ramah dan bahasa yang lebih canggih.

Yakinlah Bandung tidak kekurangan kreativitas, juga tidak kekurangan kecerdasan. Yang kurang adalah keberanian kembali untuk berhenti meniru dan mulai bertanya, untuk apa berbangga-bangga dengan embel-embel asing?

Sepanjang pertanyaan itu belum tuntas dijawab, Bandung akan terus menjadi kota yang sibuk bergumul tanpa arah. Kota yang penuh sejarah, tetapi menyimpan bayangan yang mengaburkan langkah. Duh Bandung kita sudah tak sudi lagi menjadi tawanan kota. Dan mungkin, dari pengakuan itulah, penyembuhan kita bisa dimulai di awal tahun ini. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 26 Mei 2026, 09:51

Dupan, Ketika Citarum Menolak Surut

Banjir kembali merendam Sapan Bandung. Luapan Sungai Citarum membuat Dupan terus hidup sebagai langganan genangan warga.

Banjir Citarum di Sapan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 09:29

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026

PT PLN Nusantara Power UP Cirata sukses memborong penghargaan bergengsi TOP CSR Awards 2026 atas komitmen keberlanjutan sosial mereka.

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 08:21

Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar.

Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 07:40

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Fenomena mematikan centang biru WhatsApp mencerminkan perubahan etika komunikasi digital antara kebutuhan privasi, kenyamanan, dan ekspektasi respons instan.

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 19:25

Bandung Kembali Berpestapora untuk Tiga Kali Berturut-turut

Persib Bandung resmi menyambit gelar Liga Indonesia yang ke-5 kalinya dalam tiga kali berturut-turut. Euforia perayaan di Kota Bandung pun kembali menjadi perhatian.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2025/2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis).
Ayo Biz 25 Mei 2026, 18:51

Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal bagi Desa Margamukti.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)
Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)