Yang Kita Telan sebagai Kota: Makanan, Gaya Hidup, dan Bandung 2026

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Kamis 08 Jan 2026, 15:15 WIB
Pasar Cihapit (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)

Pasar Cihapit (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)

Di luaran sana kita menemukan gerobak-gerobak kecil “Siomay Bandung”, “Batagor Bandung”, “Cuanki Bandung”. Nama Bandung seakan jadi penanda selera sekaligus identitas. Ini menarik, sebab Bandung tidak hanya dikenal sebagai kota.

Tentu saja di Bandung sendiri punya rupa-rupa referensi. Ada aci culture semisal cireng, cimol, cilok, cilor, cipuk, jajanan olahan tepung tapioka yang menjamur di depan gerbang sekolah, kampus, kompleks perumahan, sampai sudut jalan. Murah, lentur, gampang diolah. Aci adalah cara kota ini bertahan, lewat kreativitas, lewat adaptasi yang terus bergerak.

Lalu kembangkitan kembali seblak. Dari makanan rumahan kerupuk basah yang pedas, tiba-tiba ditambah ceker, seafood, iga, dumpling, sampai mozzarella. Ada yang jeletot, ada yang legendaris nyempil di gang, atau malah sajian bebas pilih prasmanan. Kini seblak itu jadi ruang perjumpaan, kencur sebagai rempah ingatan lokal bertemu dengan selera global.

Bandung juga punya dunia oleh-oleh yang berkesan. Bolu, bolen, kue-kue dengan kemasan estetik, logo, lagi jenama. Begitupun peuyeum, colenak, basreng, tahu, dan keripik tempe, mereka setia mengabarkan pada dunia bahwa tidak semua yang baik harus sambil lalu meninggalkan bumi yang dipijak, tidak semua yang enak harus viral.

Dan tentu saja, lalapan sambal. Rumah makan Sunda ada di mana-mana. Dari warung sederhana sampai restoran besar. Di sana ada kesegaran, kedekatan dengan alam, dan keugaharian. Duduk lesehan berdekatan, berbagi hidangan, makan bareng. Ada rasa setara, ada jukut goreng, ada menu-menu yang bisa diterima di lidah para pelancong.

Malam hari, kota ini menggelar street food. Tenda, lapak dadakan. Lampu temaram, asap pembakaran tipis, suara penggorengan. Selalu hadir hal-hal baru yang layak dijelajahi. Dari jajanan ringan seperti dimsum mentai sampai makanan berat serupa bebek bakar. Budaya nongkrong lalu berkelindan dengan coffee shop, kopitiam, dan ruang-ruang temu yang mungkin sempit tapi selalu menakjubkan. Tempat orang bekerja sambil menbambat internet, diskusi sambil mengemil, atau sekadar duduk lama tanpa tujuan jelas.

Di Kota ini Bandung, banyak hal dilakukan sembari makan-makan. Rapat, healing, perayaan, patah hati. Makanan sudah lama bukan lagi sekadar menjadi pengisi perut. Ia adalah gaya hidup.

Yang Bisa Kita Mengerti

Suasana di Jalan Braga, Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Reynaldo Yodia)
Suasana di Jalan Braga, Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Reynaldo Yodia)

Belakangan ini, ritme makan orang Bandung bergerak lebih cepat. Bangun, buka ponsel, lapar sedikit, online food delivery. Kurir datang. Makan. Itu pun seringkali dilakukan dengan sangat tergesa-gesa sembari scrolling media sosial, berbenah, atau apapun.

 Kita merasa tidak perlu tahu dari mana bahan itu berasal, siapa yang menanam, siapa yang mengolah, ke mana sisa-sisanya pergi. Makanan hadir sebatas produk jadi. Rasanya praktis. Modern kekinian. Efisien. Tapi pelan-pelan, jarak antara kita dan dunia pangan kian menganga.

Kota ini penuh pilihan. Promo, diskon, menu viral, inovasi tidak pernah henti. Industri F&B tumbuh cepat, jadi kebanggaan ekonomi kreatif. Semua ini layak dirayakan. Tapi bersamaan dengan itu, muncul paradoks. Makanan di sekitar kita melimpah, tapi kenapa tubuh sering lelah? Kita kenyang, tapi tidak selalu merasa cukup.

Ada yang selalu kosong. Ada yang ingin terus-terusan dimasukan lagi. Begah dan keroncongan hilir mudik. Tapi ini bukan tentang mulut dan perut saja. Mungkin hilang tidak lagi tentang stok makanan. Sebab nugget, soda kalengan, mi kemasan, kopi literan, semuanya masih menumpuk. Namun cara kita hidup rasa-rasanya kian menghambar. Makan jadi respons cepat atas bosan, cemas, atau sekadar takut ketinggalan tren.

Kota mengajarkan kita untuk tidak berhenti, memilih-milih menu, memesan lagi dan lagi, membayar, QRIS, paylatter, voucher, unggah di fitur cerita, bergengsi, uang habis, dan semuanya diulangi. Dalam ritme seperti ini, kita sulit membedakan mana lapar tubuh, mana lapar pikiran, mana lapar yang diciptakan iklan dan algoritma. Dan ternyata yang kosong itu bukan perut semata, tapi ruang untuk merasa cukup.

Alarm Yang Sebaiknya Didengarkan

Bandung, dengan populasi lebih dari 2,5 juta jiwa dan tingkat kunjungan wisata yang tinggi, menjadi lahan subur bagi pertumbuhan bisnis kuliner berbasis mie. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung, dengan populasi lebih dari 2,5 juta jiwa dan tingkat kunjungan wisata yang tinggi, menjadi lahan subur bagi pertumbuhan bisnis kuliner berbasis mie. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Penyakit metabolik datang diam-diam. Diabetes, hipertensi, kolesterol. Di waktu yang sama, isu stunting dan kekurangan gizi masih ada di sekitar kita. Ini bukan soal salah pilih menu semata. Ini tentang gaya hidup kolektif yang dibentuk oleh karakter urban modern dan logika pasar.

Yang masuk ke tubuh kita tidak pernah netral. Gula, garam, dan lemak beredar mengikuti jalur ekonomi. Yang murah, awet, dan mudah dipasarkan justru paling banyak dikonsumsi oleh mereka yang pilihan hidupnya paling sempit. Sedangkan makanan berkualitas sering kali berjarak secara harga dan akses. Tubuh-tubuh kota lalu menjadi medan ketimpangan. Satu sisi berlebih, sisi lain kekurangan. Penyakit-penyakit tumbuh dari sistem yang sama, dari distribusi pangan yang timpang. Ini bukan sekadar krisis kesehatan, tapi cermin dari ketidakadilan sosial yang kita telan setiap hari.

Makanan ultra-proses dan junk food berkeliaran. Sementara makanan segar lokal dengan segala proses pengolahan masaknya sering terasa ribet dan mahal. Dari sini, sadarkah kita bahwa selera kita dibentuk, bahkan sebelum kita sempat memilih?

Di balik semua itu, terang benderanglah bahwa krisis literasi menghantui kita semua. Kita tidak pernah benar-benar diajari membaca makanan, memahami gizi, mengenali proses produksi, membedakan kebutuhan tubuh dengan godaan pasar. Pendidikan kita lebih sibuk mengejar kecepatan dan capaian, ketimbang membekali kepekaan sehari-hari. Akibatnya, urusan makan dianggap remeh.

Mengerikan. Alarm telah berdering berkali-kali, kita masih saja pulas tertidur.

Menata Meja dan Kota

Lengkong Alit (LA), sebuah pusat streetfood di kawasan Lengkong Kecil yang mengangkat kembali semangat lokal dengan sentuhan kekinian. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Lengkong Alit (LA), sebuah pusat streetfood di kawasan Lengkong Kecil yang mengangkat kembali semangat lokal dengan sentuhan kekinian. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Bandung, punya budaya makan yang dekat dengan alam dan kebersamaan. Gaya hidup lama, mungkin, tapi berpihak pada keseimbangan, daya lentur, dan keberlanjutan. Jejak-jejak itu bertebaran. Hanya saja kita luput, tak lagi peka seperti dulu.

Lokal tidak harus beku. Sebab seblak boleh berevolusi. Cilok boleh naik kelas. Malah mungkin harus, malah mungkin keniscayaan. Tapi relasi dengan bahan, tubuh, rakyat, dan lingkungan jangan pernah putus.

Dalam budaya kita, makan selalu punya dimensi sosial, ekologis, dan spiritual yang mendalam. Makan bersama mengajarkan kesetaraan. Menawarkan dan berbagi makanan mengajarkan kecukupan. Tidak membuang-buang nasi mengajarkan keberterimaan. Tapi sayang gaya hidup kota sering mendorong sebaliknya. Ialah konsumsi tanpa sadar. 

Baca Juga: Harmoni Tradisi: Melestarikan Budaya Munggahan di Babakan Ciparay

Kesadaran pangan hari ini bukan tentang ajakan romantisisme ke masa lalu. Bukan juga menghakimi selera. Bukan sependek kembali berburu dan meramu, semua mengandalkan tungku dan kayu bakar. Bukan menolak matcha, salted egg, atau brown sugar sebagai rasa-rasa yang enak didengar dan dikecap. Tapi semua ini adalah ajakan untuk lebih sadar soal apa yang kita makan, dari mana asalnya, dan dampaknya terutama bagi tubuh, lingkungan, dan orang lain.

Resolusi kita untuk Bandung 2026, semoga bisa dimulai dari hal-hal kecil. Memasak sendiri misalnya, menjawab stereotip gender, membangun kemandirian, berinteraksi dengan irisan bawang dan ulekan. Mengurangi sampah makanan. Membeli dari pedagang sayur lokal. Menikmati ubi dan singkong. Makan lebih pelan. Berpuasa. Berbagi di rantang sayur. Membawa bekal makan siang.

Mengubah cara makan adalah mengubah cara hidup. Dari sekadar konsumen menjadi warga kota yang lebih peka, yang lebih hidup seutuhnya. Karena pada akhirnya, cara kita makan hari ini adalah bayangan tentang Bandung yang sedang kita bangun untuk esok-esok hari.  (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 20:20

Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding.

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 16:20

Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Berikut kumpulan kata khas Ramadan yang sering digunakan beserta maknanya.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Bandung 23 Feb 2026, 15:25

Strategi Bertahan Gado Gado Gerobakan Cibadak Menembus Batas Zaman dan Pandemi

Merintis bisnis bukanlah wacana yang mudah. Perencanaan yang matang hingga eksekusi bisnis sampai di tahap mempunyai pelanggan setia, bukanlah proses yang mudah.

Kuliner tradisional yakni gado-gado gerobakan di kawasan Cibadak milik Efendi Wahyudin. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 14:18

Di Balik Kumpulan Kata Khas Ramadan, Memahami Bahasa dan Makna Sosial

Memahami istilah-istilah khas Ramadan berarti memahami bagaimana bahasa berfungsi sebagai medium pengalaman kolektif.

Seorang anak sedang mengaji. (Sumber: Pixabay | Foto: Joko_Narimo)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 12:13

Bahasa yang Menjadi Kontrol Sosial Kala Ramadan

Di Bulan Suci ini, bahasa menjaga puasa kita tetap tuntas dengan baik.

Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 09:07

Mendadak Pasar Takjil Ramadan

Yang membuat Pasar Takjil menarik, di antaranya adalah suasananya yang meriah dan penuh kejutan.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 18:04

Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Kisah Es Cendol Elizabeth berawal dari cerita Haji Rohman pada 1972 yang ditinggal pergi ayahnya.

Es Cendol Elizabeth. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Bandung 22 Feb 2026, 15:08

Manisnya Berkah Ramadan di Jalan Cibadak, Kisah Pak Heri Merawat Tradisi Es Goyobod di Tengah Gempuran Zaman

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini.

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 15:02

Ngabuburead: Menemukan Ketenangan di Tengah Riuh Ramadan Jawa Barat

Inilah tren 'Ngabuburead', cara baru menepi lewat konten digital yang lebih intim dan berisi.

Media digital. (Sumber: Unsplash | Foto: @felirbe)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 11:43

Lembang Tempo Dulu

Dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 09:36

Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

Denyut pers Sunda sebenarnya telah terdengar sejak akhir abad ke-19 melalui penerbitan seperti Sunda Almanak (1894) dan Panemu Guru (1906).

Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 22 Feb 2026, 07:10

Tak Ada yang Berbuka Sendirian: Cerita Ramadan, Relawan, dan Sampah yang Dipilah di Salman ITB

Saat azan Magrib mendekat, halaman sekitar Masjid Salman ITB dipenuhi aroma makanan berbuka yang tertata rapi di atas meja-meja panjang

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)