Udara yang segar dan hijaunya bandung tidak pernah luput dari budayanya, budaya yang menjadi ciri khas utama bandung mulai dari budaya tradisional hingga budaya kemacetan. Bandung masih belum berhasil mengurangi macet dan masih belum bisa membangun transportasi umum yang dapat diandalkan seperti di jalan terusan Buah Batu.
Haifa Nuha K, warga Bandung asli mengatakan bahwa kemacetan di Bandung bukan sekedar kepadatan musiman, melainkan kondisi yang berlangsung setiap hari dengan pola yang mungkin dapat diprediksi dengan mudah. Menurutnya kawasan buah batu menjadi jalur utama mahasiswa menuju kampus menjadi salah satu titik paling padat.
“kalau weekday saya lewat Buah Batu, macet banget, pagi buat jam berangkat dan sore untuk jam pulang. Kalau hujan besar, macetnya semakin parah,” ujarnya pada Rabu (03/12/25).
Daerah lain seperti Dago, Sunda dan Gasibu pun mengalami hal serupa. Dago hampir setiap harinya padat karena menjadi akses wisata dan rekreasi. Gasibu penuh setiap Minggu pagi karena pasar kaget. Kepadatan ini menunjukkan bahwa mobilitas warga Bandung tersebar merata ke seluruh kota, bukan cuma terpusat di jalur tertentu.
Bagi banyak warga, kemacetan tidak bisa dilepaskan dari lemahnya layanan transportasi publik. Haifa menilai bahwa pilihan transportasi umum saat ini tidak cukup menarik bagi masyarakat.
“Dulu masih ada angkot yang jalan. Sekarang makin jarang. Bus kota ada, tapi rutenya sedikit dan jarak kedatangannya lama. Nggak efektif,” jelasnya.
Bandung belum memiliki jalur khusus bus seperti TransJakarta yang mengakibatkan bus terjebak dalam kemacetan yang sama seperti kendaraan pribadi. Situasi ini membuat warga kembali memilih kendaraan pribadi atau ojek online, yang pada akhirnya memperparah volume kendaraan di jalan.
Baca Juga: Keberaniannya Nangkap Ular Bawa “Bocil Dika” Bertemu KDM di Lembur Pakuan
Terkait respons Walikota Bandung, M. Farhan terhadap kondisi kemacetan, wanita berkerudung tersebut mengaku tidak melihat perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan setelah tiga kali mengikuti pemilihan wali kota, ia menilai belum ada pemimpin yang benar-benar mampu menangani masalah mobilitas Bandung.
“Selalu dibilang mau atasi macet, tapi sampai sekarang belum terlihat hasilnya. Ada halte baru, iya, tapi saya khawatir itu cuma proyek sesaat. Sudah pernah kejadian sebelumnya,” ungkapnya
Pemerintah provinsi memang mulai memperbarui halte dan menyediakan papan informasi waktu kedatangan bus. Namun tanpa peningkatan armada, rute, dan rekayasa lalu lintas yang memadai, pembaruan fasilitas tidak cukup mengubah kondisi lapangan.
Walaupun mengutarakan banyak kritik, Haifa tetap menyimpan banyak harapan. Ia berharap Bandung mampu menghadirkan sistem transportasi yang murah, mudah diakses, memiliki jangkauan luas, dan berkelanjutan. Ia juga menekankan pentingnya kampanye publik agar masyarakat lebih memahami manfaat menggunakan transportasi umum. (*)
