Bukan Sekadar Bangun Pagi, 5 Tradisi Sahur Penuh Cinta

9 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Tradisi membangunkan sahur di kota dan pedesaan. (Sumber: Instagram | Foto: @sekeloaselatann)
Tradisi membangunkan sahur di kota dan pedesaan. (Sumber: Instagram | Foto: @sekeloaselatann)

Ramadan mengajarkan kepada kita soal lapar bukan sekadar menahan diri, melainkan menata batin. Saat tiba waktunya sahur menjadi latihan bangun sebelum cahaya, agar hati terbiasa mencari terang, hatta sekalipun ketika gelap masih panjang.

Aktivitas sahur bukan hanya tentang makan sebelum fajar. Melainkan ikhtiar merawat dan mengingat sebelum lupa.

Ihwal bangun sebelum benar-benar terjaga dan pulang, walau hanya sejenak, semuanya kembali kepada Yang Maha Ada.

Berikut ini lima tradisi membangunkan sahur di kota dan pedesaan:

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

1. Sahur Keliling, Patroli ala Karang Taruna

Anak-anak muda berkeliling kampung, gang (jalan tikus) RT, RW (kompleks) sambil membangunkan warga dengan musik dan tabuhan sederhana. Tak jarang, kegiatan ini disertai aksi sosial seperti berbagi makanan sahur.

Untuk di wilayah Cibiru, termasuk Babakan Dangdeur, Pasir Biru, Kota Bandung, kesenian reak dan dogdog kerap menjadi andalan untuk meramaikan suasana sahur. Biasanya dilakukan sejak pukul 02.00 sampai jam 03.30 WIB.

Di Bandung dan sekitarnya, warga mengenalnya dengan nama patrol. Saat melakukan patrol, berbagai alat digunakan untuk memunculkan bebunyian. Ada alat musik tradisional seperti kohkol, kentongan bambu, rebana, hingga kecrek.

Seiring waktu, musiknya menyesuaikan dengan zaman. Pelakunya, yang sebagian besar adalah petani, anak muda, memainkan tarling dangdut.

Tidak hanya suara beduk, iring-iringan warga ini memukul galon mineral dan botol kaca, hingga membunyikan sirene. Namun, di antara itu semua, kerap kali rombongan mengumandangkan shalawat. (Kompas, 1 Maret 2025).

Dalam liputan bertajuk RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan dijelaskan Fajar Tresna (28), tentang kegiatan yang mereka jalankan setiap Ramadan.

Tradisi bangunin sahur di wilayahnya bukanlah hal baru. “Sudah ada sejak 2007. Jadi ini bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul karena sekarang viral. Dulu, waktu saya masih kecil, sudah diajak ikut sama kakak-kakak angkatan sebelumnya. Sekarang kami cuma meneruskan saja. Nanti adik-adik yang sekarang ikut juga akan jadi generasi berikutnya,” ujar Fajar.

Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan. “Kalau ditanya tujuannya apa, ya banyak. Tradisi, iya. Cari amal, iya. Hiburan juga iya. Tapi yang paling terasa itu silaturahmi. Karena di luar Ramadan jarang sekali bisa kumpul seramai ini. Ada yang kerja, ada yang sekolah, masing-masing punya kesibukan,” katanya.

Kadang justru warga yang mempertanyakan jika rombongan mereka tidak melewati satu gang. “Pernah ada yang bilang, ‘kok kelewat rumah saya?’ Jadi sebenarnya, bagi sebagian warga, ini sudah jadi bagian dari suasana Ramadan. Bukan cuma kami yang merasakan,” ujarnya sambil tersenyum. (Ayo Bandung, Selasa 24 Feb 2026, 11:52 WIB)

Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

2. Pengeras Suara Masjid

Murotal Alquran, lantunan shalawat, tahrim khas Sunda, nasyid, pengumuman sahur dari masjid menjadi cara paling umum membangunkan warga.

Suara itu mengalun lembut, menyusup ke rumah-rumah, mengajak bangun dengan nuansa spiritual.

Biasanya dilakukan sejak pukul 03.00 sampai jam 04.00 WIB.

Dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa bacaan Alquran memiliki pengaruh positif terhadap kesehatan mental.

Lantunan ayat-ayat suci terbukti mampu membantu menurunkan tingkat stres, menstabilkan ritme jantung, meningkatkan fokus dan konsentrasi.

Efek suara yang teratur dan penuh makna ini memberikan respons relaksasi pada tubuh, sehingga tercipta ketenangan batin bagi pendengarnya.

Di banyak rumah, masjid, dan tempat kerja, Alquran kerap diperdengarkan untuk menghadirkan suasana yang damai dan menenangkan.

Kebiasaan ini diyakini dapat membantu mengurangi dampak kebisingan dan hiruk-pikuk aktivitas duniawi yang berpotensi mengganggu ketenteraman jiwa. Lingkungan yang dihiasi lantunan ayat suci pun menjadi lebih kondusif bagi ketenangan spiritual.

Dalam ajaran Islam, umat dianjurkan untuk selektif terhadap apa yang didengar, termasuk membiasakan diri mendengarkan Alquran. Suara yang baik dan penuh nilai kebaikan dipercaya dapat membentuk karakter, memperkuat keimanan, meningkatkan kesejahteraan spiritual seseorang.

Dengan demikian, kebiasaan ini bukan hanya bernilai ibadah, tetapi dapat berkontribusi pada pembinaan diri secara menyeluruh.

Mendengarkan Alquran tidak hanya dipahami sebagai bentuk ibadah, tetapi sebagai terapi spiritual yang membawa ketenangan jiwa. Setiap ayat mengandung hikmah dan petunjuk hidup yang dapat menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai persoalan sehari-hari, sehingga membantu individu menjalani kehidupan dengan lebih tenang dan terarah.

Pada bulan Ramadan, (yang diawali saat bangun sahur) momentum ini menjadi semakin relevan.

Stres yang muncul selama menjalankan ibadah puasa dapat diatasi dengan berbagai cara, salah satunya dengan mendengarkan lantunan ayat suci.

Dokter spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan dari RS Primaya Depok, dr. Ahmad Wahyudin, Sp.THT, menyampaikan bahwa sejumlah penelitian menemukan bahwa mendengarkan ayat suci dapat memicu tubuh menjadi lebih rileks. “Mendengarkan lantunan ayat suci Alquran memberi getaran ke telinga dan disalurkan ke otak sehingga menghasilkan hormon endorfin secara alami yang dapat menurunkan stres dan membuat tubuh merasa lebih rileks. Mendengarkan saja manfaatnya luar biasa, apalagi dengan membacanya.” (detikHealth, Jumat, 24 Mar 2023 11:01 WIB dan www.muhammadiyah.or.id)

Bedug di masjid Darussalam Bungbulang Garut Kidul, Selasa, 2 April 2024. (Sumber: Istimewa | Foto: Nuralimat Hakiah (pun alo))
Bedug di masjid Darussalam Bungbulang Garut Kidul, Selasa, 2 April 2024. (Sumber: Istimewa | Foto: Nuralimat Hakiah (pun alo))

3. Kentongan, Bedug Masjid

Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) memukul kentongan, bedug sebagai penanda waktu sahur. Suaranya khas, menggema dari gang ke gang, menjadi alarm tradisional yang penuh keakraban.

Tradisi ngadulag (bedug keliling) masih dijumpai di pedesaan, termasuk di Darussalam, Bungbulang, Garut wilayah Pakidulan.

Dahulu, saat masih kecil di Pasar Lama suka ikut-ikutan membangunkan sahur bersama anak-anak remaja (pamuda bardal, barudak Darussalam) yang dikomandoi oleh A Ipan, anak Ua.

Arak-arakan nakolan kohkol, kentongan, ember cat yang dijadikan alat musik ala kadarnya "Sahur, sahur, sahur, Bapak-bapak, Ibu-ibu sahur, sahur, sahur!" dimulai dari pos ronda dekat rumah Pak RW (guru SD, Ua Enjang) jalan ke atas kira-kira 50 meter untuk ke Pasantren dengan melewati jarian, tempat pembuangan sampah yang berada di samping heleran (tempat penggilingan padi Mang Eman).

Saat hari-hari biasa jarang orang melewati daerah ini kecuali buang sampah. Sebab rimbun, ditumbuhi pohon bambu-bambu (awi gombong, awi surat, caringin yang besar), sedikit gelap, banyak sampah. Sering orang tua dulu melarang anaknya untuk pergi ke jarian, "Bisi kasabet jurig jarian."

Pernah suatu hari Mang Pidin, rumahnya yang berbeda didepan heleran menakut-nakuti anak-anak saat bertemu di pos ronda, "Jang muterna tong ka jarian nya, bisi aya jurig?"

A Ipan langsung menjawabnya, "Wios Mang, biasana pas puasa mah jurigna oge dirangket atawa dicang-cang nya. Jadi moal aya!" Sambil memukul-mukul alat seadanya, "Sahur, sahur, sahur, Bapak-bapak, Ibu-ibu sahur, sahur, sahur!"

Dari tempat penggilingan padi jalan terus sekitar 50 meter belok kiri menuju sekolah dasar (Bungbulang I dan II) untuk memutar alun-alun, melewati KUA, masjid Agung, Rumah Sakit, terkadang bertemu (berpapasan) dengan rombongan lain dari Kaum, Panyingkiran, Pasantren yang sama-sama ikut membangunkan sahur, jalan terus melewati GOR (pasar ceplak sekarang) menuju jalan perapatan stamplat (terminal bus Eka Jaya, elf, Indomaret sekarang) terus mengikuti jalan Kandangwesi, dekat masjid Sabilissalam belok kiri untuk ke Pasar Lama.

Sesekali dari Rumah Sakit belok kiri ke kantor Desa Bungbulang yang berdampingan dengan kantor Kecamatan (Kawadanaan dulu) belok kanan untuk ke Pasar Lama jalur rumah Pak Haji Hasan. Semuanya berakhir di masjid Darussalam. Setelah itu bubar atau malah ikut sahur bersama orangtua pas lilikuran di masjid Darussalam. Asyik balakecrakan sahurnya.

Lodong adalah permainan meriam bambu yang konon berasal dari budaya Sunda. (Sumber: Istimewa | Foto: Dudung Ridwan)
Lodong adalah permainan meriam bambu yang konon berasal dari budaya Sunda. (Sumber: Istimewa | Foto: Dudung Ridwan)

4. Helaran Obor dan Lodong

Di beberapa kampung, anak-anak berjalan berkeliling membawa obor bambu menjelang sahur, biasanya dengan pengawasan orang tua. Tradisi ini menghadirkan suasana hangat sekaligus meriah.

Ada pula bunyi petasan meriam bambu yang disebut lodong, dentumannya keras, membelah sunyi dini hari, menjadi penanda bahwa waktu sahur telah tiba.

Dalam satu kesempatan, anak-anak bardal pernah sekali membangunkan sahur dengan cara ngalodong di Joglo, sawah dekat rumah Mang Ujang (pedagang layangan yang asyik buat ngabuburit) tepat posisi di atas kolam Mang Apud, biasa dipanggil, yang terhalang satu kolam samping masjid Darussalam.

Selesai ngaji subuh, sambil ngabeubeurang, A Ipan mengajak teman sebayanya untuk pergi ke Cikaret, mata cai yang aliran airnya diarahkan ke balong milik Pak Haji Hasan, posisi sumber air ini tepat sebelum daerah Cangkudu untuk mencari pohon bambu, ternyata masih kecil dan tak cukup untuk dibuat lodong. Konon, tempat ini terkenal dengan mitos "Awas aya leled samak" kata orang tua, agar anak-anak tidak main ke Cikaret. Karena ditanami pohon cokelat, kapolaga, kelapa, kakao, bambu kuning, awi surat!

"Hayu barudak urang ka Cibalubur Loa ngala awina," ajak A Ipan. Memang sepanjang jalan menuju kuburan Astana Anyar Cangkudu terdapat awi surat yang tinggi dan besar milik Pa Haji, saat itu kebetulan Mang Obar, tukang kebun, penjaga kolam Pa Haji ada meminta izin untuk mengambil bambu yang akan dibuatkan lodong. "Mangga sa leunjeur wae, teras engke ngalodong na tong di Joglo nya, tapi di Inpres atawa ka Cibalubur wae da sepi!"

Selesai diambil bambunya dibuat lodong. Ruas bambu bagian dalamnya dikosongkan, pada ujung bambu diikat karet biar tidak pecah, karbit diberi air, ditutup dan disulut.

Ada yang dibagi tugas untuk pergi ke pasar membeli karbit, memikul lodong untuk dihantarkan ke pamatang sawah, dekat leuit (tempat menyimpan padi), samping SD Inpres (instruksi presiden era Soeharto).

Setelah mendapatkan karbit, bukan untuk mematangkan pisang tapi dipakai tes lodong, dicoba-coba berkali-kali dan berhasil menyala lodongnya. Doar, Doar, Doar, mengeluarkan dentuman suara yang besar, menggelegar. Hore berhasil!

Muncul keinginan iseng untuk ikut membangunkan sahur dengan memakai lodong. Tiba waktunya, malah dimarahin tetangga karena menyalakannya di Joglo. "Dasar barudak, ari ngalodong mah di Cibalubur pas ngabuburit lain ayeuna rek sahur," umpat Mang Ujang.

Selesai ngaji Subuh, ajengan bertanya. "Saha tadi nu ngalodong pas sahur? Engke deui mah biasa mending nguriling muter ka alun-alun bari bawa kohkol nya ker tatalu! Lain nyeuneut lodong sagala," ujar ajengan.

Alarm Sahur Day 7. (Sumber: Instagram | Foto: @ghosty_comic)
Alarm Sahur Day 7. (Sumber: Instagram | Foto: @ghosty_comic)

5. Sentuhan Teknologi

Di tengah perkembangan zaman, alarm ponsel dan pesan pengingat di grup WhatsApp warga sering kali menjadi cara paling praktis dan efektif. Meski tanpa irama tabuhan, obor menyala. Tujuannya tetap sama untuk saling membangunkan dalam kebaikan.

Apa pun caranya, membangunkan sahur adalah wujud kepedulian, solidaritas, dan gotong royong. Semuanya atas nama cinta dan saling mengajak dalam kebaikan. Ya bukan sekadar tradisi, melainkan cara sederhana untuk saling menjaga dan merawat, agar tak ada yang tertinggal dalam keberkahan waktu sebelum fajar.

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa dalam sahur terdapat keberkahan. Ngalap berkah bukan semata tentang banyaknya makanan, melainkan tentang nilai yang tersembunyi di baliknya.

Sepiring hidangan sederhana saat sahur dapat menjadi saksi ketaatan, bukti bahwa manusia rela menahan diri demi sesuatu yang lebih tinggi daripada sekadar rasa lapar dan kenyang.

Kita teringat pesan orang tua, kiai, dan ajengan: “Pahala ngagugahkeun nu sahur téh kacida ageungna. Teras sahur, kanggé ngalakonan ibadah puasa salami Ramadan!”

Harapannya, warga tidak kesiangan saat sahur sehingga dapat menjalankan ibadah puasa dengan baik. Aktivitas di siang hari pun tetap berjalan lancar, tidak lemas, tidak malas dan tetap produktif dalam bekerja.

Baik di kota (Bandung) maupun di desa (Bungbulang), suara yang membangunkan sahur pada akhirnya bukan hanya lantunan dari luar. Justru tumbuh dan bergema dari dalam, suara nurani yang mengetuk, lebih halus daripada kentongan, bedug, dog-dog, reak, lodong. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)