Bukan Sekadar Bangun Pagi, 5 Tradisi Sahur Penuh Cinta

9 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Tradisi membangunkan sahur di kota dan pedesaan. (Sumber: Instagram | Foto: @sekeloaselatann)
Tradisi membangunkan sahur di kota dan pedesaan. (Sumber: Instagram | Foto: @sekeloaselatann)

Ramadan mengajarkan kepada kita soal lapar bukan sekadar menahan diri, melainkan menata batin. Saat tiba waktunya sahur menjadi latihan bangun sebelum cahaya, agar hati terbiasa mencari terang, hatta sekalipun ketika gelap masih panjang.

Aktivitas sahur bukan hanya tentang makan sebelum fajar. Melainkan ikhtiar merawat dan mengingat sebelum lupa.

Ihwal bangun sebelum benar-benar terjaga dan pulang, walau hanya sejenak, semuanya kembali kepada Yang Maha Ada.

Berikut ini lima tradisi membangunkan sahur di kota dan pedesaan:

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

1. Sahur Keliling, Patroli ala Karang Taruna

Anak-anak muda berkeliling kampung, gang (jalan tikus) RT, RW (kompleks) sambil membangunkan warga dengan musik dan tabuhan sederhana. Tak jarang, kegiatan ini disertai aksi sosial seperti berbagi makanan sahur.

Untuk di wilayah Cibiru, termasuk Babakan Dangdeur, Pasir Biru, Kota Bandung, kesenian reak dan dogdog kerap menjadi andalan untuk meramaikan suasana sahur. Biasanya dilakukan sejak pukul 02.00 sampai jam 03.30 WIB.

Di Bandung dan sekitarnya, warga mengenalnya dengan nama patrol. Saat melakukan patrol, berbagai alat digunakan untuk memunculkan bebunyian. Ada alat musik tradisional seperti kohkol, kentongan bambu, rebana, hingga kecrek.

Seiring waktu, musiknya menyesuaikan dengan zaman. Pelakunya, yang sebagian besar adalah petani, anak muda, memainkan tarling dangdut.

Tidak hanya suara beduk, iring-iringan warga ini memukul galon mineral dan botol kaca, hingga membunyikan sirene. Namun, di antara itu semua, kerap kali rombongan mengumandangkan shalawat. (Kompas, 1 Maret 2025).

Dalam liputan bertajuk RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan dijelaskan Fajar Tresna (28), tentang kegiatan yang mereka jalankan setiap Ramadan.

Tradisi bangunin sahur di wilayahnya bukanlah hal baru. “Sudah ada sejak 2007. Jadi ini bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul karena sekarang viral. Dulu, waktu saya masih kecil, sudah diajak ikut sama kakak-kakak angkatan sebelumnya. Sekarang kami cuma meneruskan saja. Nanti adik-adik yang sekarang ikut juga akan jadi generasi berikutnya,” ujar Fajar.

Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan. “Kalau ditanya tujuannya apa, ya banyak. Tradisi, iya. Cari amal, iya. Hiburan juga iya. Tapi yang paling terasa itu silaturahmi. Karena di luar Ramadan jarang sekali bisa kumpul seramai ini. Ada yang kerja, ada yang sekolah, masing-masing punya kesibukan,” katanya.

Kadang justru warga yang mempertanyakan jika rombongan mereka tidak melewati satu gang. “Pernah ada yang bilang, ‘kok kelewat rumah saya?’ Jadi sebenarnya, bagi sebagian warga, ini sudah jadi bagian dari suasana Ramadan. Bukan cuma kami yang merasakan,” ujarnya sambil tersenyum. (Ayo Bandung, Selasa 24 Feb 2026, 11:52 WIB)

Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

2. Pengeras Suara Masjid

Murotal Alquran, lantunan shalawat, tahrim khas Sunda, nasyid, pengumuman sahur dari masjid menjadi cara paling umum membangunkan warga.

Suara itu mengalun lembut, menyusup ke rumah-rumah, mengajak bangun dengan nuansa spiritual.

Biasanya dilakukan sejak pukul 03.00 sampai jam 04.00 WIB.

Dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa bacaan Alquran memiliki pengaruh positif terhadap kesehatan mental.

Lantunan ayat-ayat suci terbukti mampu membantu menurunkan tingkat stres, menstabilkan ritme jantung, meningkatkan fokus dan konsentrasi.

Efek suara yang teratur dan penuh makna ini memberikan respons relaksasi pada tubuh, sehingga tercipta ketenangan batin bagi pendengarnya.

Di banyak rumah, masjid, dan tempat kerja, Alquran kerap diperdengarkan untuk menghadirkan suasana yang damai dan menenangkan.

Kebiasaan ini diyakini dapat membantu mengurangi dampak kebisingan dan hiruk-pikuk aktivitas duniawi yang berpotensi mengganggu ketenteraman jiwa. Lingkungan yang dihiasi lantunan ayat suci pun menjadi lebih kondusif bagi ketenangan spiritual.

Dalam ajaran Islam, umat dianjurkan untuk selektif terhadap apa yang didengar, termasuk membiasakan diri mendengarkan Alquran. Suara yang baik dan penuh nilai kebaikan dipercaya dapat membentuk karakter, memperkuat keimanan, meningkatkan kesejahteraan spiritual seseorang.

Dengan demikian, kebiasaan ini bukan hanya bernilai ibadah, tetapi dapat berkontribusi pada pembinaan diri secara menyeluruh.

Mendengarkan Alquran tidak hanya dipahami sebagai bentuk ibadah, tetapi sebagai terapi spiritual yang membawa ketenangan jiwa. Setiap ayat mengandung hikmah dan petunjuk hidup yang dapat menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai persoalan sehari-hari, sehingga membantu individu menjalani kehidupan dengan lebih tenang dan terarah.

Pada bulan Ramadan, (yang diawali saat bangun sahur) momentum ini menjadi semakin relevan.

Stres yang muncul selama menjalankan ibadah puasa dapat diatasi dengan berbagai cara, salah satunya dengan mendengarkan lantunan ayat suci.

Dokter spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan dari RS Primaya Depok, dr. Ahmad Wahyudin, Sp.THT, menyampaikan bahwa sejumlah penelitian menemukan bahwa mendengarkan ayat suci dapat memicu tubuh menjadi lebih rileks. “Mendengarkan lantunan ayat suci Alquran memberi getaran ke telinga dan disalurkan ke otak sehingga menghasilkan hormon endorfin secara alami yang dapat menurunkan stres dan membuat tubuh merasa lebih rileks. Mendengarkan saja manfaatnya luar biasa, apalagi dengan membacanya.” (detikHealth, Jumat, 24 Mar 2023 11:01 WIB dan www.muhammadiyah.or.id)

Bedug di masjid Darussalam Bungbulang Garut Kidul, Selasa, 2 April 2024. (Sumber: Istimewa | Foto: Nuralimat Hakiah (pun alo))
Bedug di masjid Darussalam Bungbulang Garut Kidul, Selasa, 2 April 2024. (Sumber: Istimewa | Foto: Nuralimat Hakiah (pun alo))

3. Kentongan, Bedug Masjid

Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) memukul kentongan, bedug sebagai penanda waktu sahur. Suaranya khas, menggema dari gang ke gang, menjadi alarm tradisional yang penuh keakraban.

Tradisi ngadulag (bedug keliling) masih dijumpai di pedesaan, termasuk di Darussalam, Bungbulang, Garut wilayah Pakidulan.

Dahulu, saat masih kecil di Pasar Lama suka ikut-ikutan membangunkan sahur bersama anak-anak remaja (pamuda bardal, barudak Darussalam) yang dikomandoi oleh A Ipan, anak Ua.

Arak-arakan nakolan kohkol, kentongan, ember cat yang dijadikan alat musik ala kadarnya "Sahur, sahur, sahur, Bapak-bapak, Ibu-ibu sahur, sahur, sahur!" dimulai dari pos ronda dekat rumah Pak RW (guru SD, Ua Enjang) jalan ke atas kira-kira 50 meter untuk ke Pasantren dengan melewati jarian, tempat pembuangan sampah yang berada di samping heleran (tempat penggilingan padi Mang Eman).

Saat hari-hari biasa jarang orang melewati daerah ini kecuali buang sampah. Sebab rimbun, ditumbuhi pohon bambu-bambu (awi gombong, awi surat, caringin yang besar), sedikit gelap, banyak sampah. Sering orang tua dulu melarang anaknya untuk pergi ke jarian, "Bisi kasabet jurig jarian."

Pernah suatu hari Mang Pidin, rumahnya yang berbeda didepan heleran menakut-nakuti anak-anak saat bertemu di pos ronda, "Jang muterna tong ka jarian nya, bisi aya jurig?"

A Ipan langsung menjawabnya, "Wios Mang, biasana pas puasa mah jurigna oge dirangket atawa dicang-cang nya. Jadi moal aya!" Sambil memukul-mukul alat seadanya, "Sahur, sahur, sahur, Bapak-bapak, Ibu-ibu sahur, sahur, sahur!"

Dari tempat penggilingan padi jalan terus sekitar 50 meter belok kiri menuju sekolah dasar (Bungbulang I dan II) untuk memutar alun-alun, melewati KUA, masjid Agung, Rumah Sakit, terkadang bertemu (berpapasan) dengan rombongan lain dari Kaum, Panyingkiran, Pasantren yang sama-sama ikut membangunkan sahur, jalan terus melewati GOR (pasar ceplak sekarang) menuju jalan perapatan stamplat (terminal bus Eka Jaya, elf, Indomaret sekarang) terus mengikuti jalan Kandangwesi, dekat masjid Sabilissalam belok kiri untuk ke Pasar Lama.

Sesekali dari Rumah Sakit belok kiri ke kantor Desa Bungbulang yang berdampingan dengan kantor Kecamatan (Kawadanaan dulu) belok kanan untuk ke Pasar Lama jalur rumah Pak Haji Hasan. Semuanya berakhir di masjid Darussalam. Setelah itu bubar atau malah ikut sahur bersama orangtua pas lilikuran di masjid Darussalam. Asyik balakecrakan sahurnya.

Lodong adalah permainan meriam bambu yang konon berasal dari budaya Sunda. (Sumber: Istimewa | Foto: Dudung Ridwan)
Lodong adalah permainan meriam bambu yang konon berasal dari budaya Sunda. (Sumber: Istimewa | Foto: Dudung Ridwan)

4. Helaran Obor dan Lodong

Di beberapa kampung, anak-anak berjalan berkeliling membawa obor bambu menjelang sahur, biasanya dengan pengawasan orang tua. Tradisi ini menghadirkan suasana hangat sekaligus meriah.

Ada pula bunyi petasan meriam bambu yang disebut lodong, dentumannya keras, membelah sunyi dini hari, menjadi penanda bahwa waktu sahur telah tiba.

Dalam satu kesempatan, anak-anak bardal pernah sekali membangunkan sahur dengan cara ngalodong di Joglo, sawah dekat rumah Mang Ujang (pedagang layangan yang asyik buat ngabuburit) tepat posisi di atas kolam Mang Apud, biasa dipanggil, yang terhalang satu kolam samping masjid Darussalam.

Selesai ngaji subuh, sambil ngabeubeurang, A Ipan mengajak teman sebayanya untuk pergi ke Cikaret, mata cai yang aliran airnya diarahkan ke balong milik Pak Haji Hasan, posisi sumber air ini tepat sebelum daerah Cangkudu untuk mencari pohon bambu, ternyata masih kecil dan tak cukup untuk dibuat lodong. Konon, tempat ini terkenal dengan mitos "Awas aya leled samak" kata orang tua, agar anak-anak tidak main ke Cikaret. Karena ditanami pohon cokelat, kapolaga, kelapa, kakao, bambu kuning, awi surat!

"Hayu barudak urang ka Cibalubur Loa ngala awina," ajak A Ipan. Memang sepanjang jalan menuju kuburan Astana Anyar Cangkudu terdapat awi surat yang tinggi dan besar milik Pa Haji, saat itu kebetulan Mang Obar, tukang kebun, penjaga kolam Pa Haji ada meminta izin untuk mengambil bambu yang akan dibuatkan lodong. "Mangga sa leunjeur wae, teras engke ngalodong na tong di Joglo nya, tapi di Inpres atawa ka Cibalubur wae da sepi!"

Selesai diambil bambunya dibuat lodong. Ruas bambu bagian dalamnya dikosongkan, pada ujung bambu diikat karet biar tidak pecah, karbit diberi air, ditutup dan disulut.

Ada yang dibagi tugas untuk pergi ke pasar membeli karbit, memikul lodong untuk dihantarkan ke pamatang sawah, dekat leuit (tempat menyimpan padi), samping SD Inpres (instruksi presiden era Soeharto).

Setelah mendapatkan karbit, bukan untuk mematangkan pisang tapi dipakai tes lodong, dicoba-coba berkali-kali dan berhasil menyala lodongnya. Doar, Doar, Doar, mengeluarkan dentuman suara yang besar, menggelegar. Hore berhasil!

Muncul keinginan iseng untuk ikut membangunkan sahur dengan memakai lodong. Tiba waktunya, malah dimarahin tetangga karena menyalakannya di Joglo. "Dasar barudak, ari ngalodong mah di Cibalubur pas ngabuburit lain ayeuna rek sahur," umpat Mang Ujang.

Selesai ngaji Subuh, ajengan bertanya. "Saha tadi nu ngalodong pas sahur? Engke deui mah biasa mending nguriling muter ka alun-alun bari bawa kohkol nya ker tatalu! Lain nyeuneut lodong sagala," ujar ajengan.

Alarm Sahur Day 7. (Sumber: Instagram | Foto: @ghosty_comic)
Alarm Sahur Day 7. (Sumber: Instagram | Foto: @ghosty_comic)

5. Sentuhan Teknologi

Di tengah perkembangan zaman, alarm ponsel dan pesan pengingat di grup WhatsApp warga sering kali menjadi cara paling praktis dan efektif. Meski tanpa irama tabuhan, obor menyala. Tujuannya tetap sama untuk saling membangunkan dalam kebaikan.

Apa pun caranya, membangunkan sahur adalah wujud kepedulian, solidaritas, dan gotong royong. Semuanya atas nama cinta dan saling mengajak dalam kebaikan. Ya bukan sekadar tradisi, melainkan cara sederhana untuk saling menjaga dan merawat, agar tak ada yang tertinggal dalam keberkahan waktu sebelum fajar.

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa dalam sahur terdapat keberkahan. Ngalap berkah bukan semata tentang banyaknya makanan, melainkan tentang nilai yang tersembunyi di baliknya.

Sepiring hidangan sederhana saat sahur dapat menjadi saksi ketaatan, bukti bahwa manusia rela menahan diri demi sesuatu yang lebih tinggi daripada sekadar rasa lapar dan kenyang.

Kita teringat pesan orang tua, kiai, dan ajengan: “Pahala ngagugahkeun nu sahur téh kacida ageungna. Teras sahur, kanggé ngalakonan ibadah puasa salami Ramadan!”

Harapannya, warga tidak kesiangan saat sahur sehingga dapat menjalankan ibadah puasa dengan baik. Aktivitas di siang hari pun tetap berjalan lancar, tidak lemas, tidak malas dan tetap produktif dalam bekerja.

Baik di kota (Bandung) maupun di desa (Bungbulang), suara yang membangunkan sahur pada akhirnya bukan hanya lantunan dari luar. Justru tumbuh dan bergema dari dalam, suara nurani yang mengetuk, lebih halus daripada kentongan, bedug, dog-dog, reak, lodong. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 31 Agu 2026, 19:02

Dua Wajah Paten UMKM Bandung, Dua Jalan Berbeda untuk Naik Kelas di Pasar Digital

Kisah kontras Koku Footwear dan Dimsum Inmons, dua UMKM Bandung yang sama-sama tumbuh lewat Shopee namun dengan tingkat ketergantungan yang jauh berbeda.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin (pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear) dan Ani Andriyani (pemilik Dimsum Inmons). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 17:25

Maut Menjemput Putri Diana, Dunia Berduka

Catatan Nostalgia dan In Memoriam 29 Tahun Kepergian “Lady Di”.

Berita kepergian Putri Diana menjadi perhatian utama berbagai media cetak di Indonesia, mencerminkan besarnya duka dan perhatian masyarakat terhadap sosok Princess of Wales tersebut. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 16:28

Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

Dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu.

Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 31 Agu 2026, 16:20

PLN Nusantara Power UP Cirata Overhaul Unit 5 dan 6 Demi Keandalan Pasokan Listrik

PLN Nusantara Power UP Cirata melakukan overhaul Unit 5 dan 6 PLTA Cirata untuk menjaga keandalan pasokan listrik pelanggan.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat keandalan PLTA Cirata melalui overhaul Unit 5 dan Unit 6 demi pelayanan listrik pelanggan.
Beranda 31 Agu 2026, 16:13

Hari Pelanggan Nasional, PLN NP UP Cirata Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Desa Ciroyom

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Milangkala Desa Ciroyom ke-171 di Hari Pelanggan Nasional.

PLN Nusantara Power UP Cirata berpartisipasi dalam Milangkala Desa Ciroyom ke-171 sebagai wujud sinergi bersama masyarakat dan lingkungan.
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)