Bukan Sekadar Bangun Pagi, 5 Tradisi Sahur Penuh Cinta

9 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Tradisi membangunkan sahur di kota dan pedesaan. (Sumber: Instagram | Foto: @sekeloaselatann)
Tradisi membangunkan sahur di kota dan pedesaan. (Sumber: Instagram | Foto: @sekeloaselatann)

Ramadan mengajarkan kepada kita soal lapar bukan sekadar menahan diri, melainkan menata batin. Saat tiba waktunya sahur menjadi latihan bangun sebelum cahaya, agar hati terbiasa mencari terang, hatta sekalipun ketika gelap masih panjang.

Aktivitas sahur bukan hanya tentang makan sebelum fajar. Melainkan ikhtiar merawat dan mengingat sebelum lupa.

Ihwal bangun sebelum benar-benar terjaga dan pulang, walau hanya sejenak, semuanya kembali kepada Yang Maha Ada.

Berikut ini lima tradisi membangunkan sahur di kota dan pedesaan:

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

1. Sahur Keliling, Patroli ala Karang Taruna

Anak-anak muda berkeliling kampung, gang (jalan tikus) RT, RW (kompleks) sambil membangunkan warga dengan musik dan tabuhan sederhana. Tak jarang, kegiatan ini disertai aksi sosial seperti berbagi makanan sahur.

Untuk di wilayah Cibiru, termasuk Babakan Dangdeur, Pasir Biru, Kota Bandung, kesenian reak dan dogdog kerap menjadi andalan untuk meramaikan suasana sahur. Biasanya dilakukan sejak pukul 02.00 sampai jam 03.30 WIB.

Di Bandung dan sekitarnya, warga mengenalnya dengan nama patrol. Saat melakukan patrol, berbagai alat digunakan untuk memunculkan bebunyian. Ada alat musik tradisional seperti kohkol, kentongan bambu, rebana, hingga kecrek.

Seiring waktu, musiknya menyesuaikan dengan zaman. Pelakunya, yang sebagian besar adalah petani, anak muda, memainkan tarling dangdut.

Tidak hanya suara beduk, iring-iringan warga ini memukul galon mineral dan botol kaca, hingga membunyikan sirene. Namun, di antara itu semua, kerap kali rombongan mengumandangkan shalawat. (Kompas, 1 Maret 2025).

Dalam liputan bertajuk RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan dijelaskan Fajar Tresna (28), tentang kegiatan yang mereka jalankan setiap Ramadan.

Tradisi bangunin sahur di wilayahnya bukanlah hal baru. “Sudah ada sejak 2007. Jadi ini bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul karena sekarang viral. Dulu, waktu saya masih kecil, sudah diajak ikut sama kakak-kakak angkatan sebelumnya. Sekarang kami cuma meneruskan saja. Nanti adik-adik yang sekarang ikut juga akan jadi generasi berikutnya,” ujar Fajar.

Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan. “Kalau ditanya tujuannya apa, ya banyak. Tradisi, iya. Cari amal, iya. Hiburan juga iya. Tapi yang paling terasa itu silaturahmi. Karena di luar Ramadan jarang sekali bisa kumpul seramai ini. Ada yang kerja, ada yang sekolah, masing-masing punya kesibukan,” katanya.

Kadang justru warga yang mempertanyakan jika rombongan mereka tidak melewati satu gang. “Pernah ada yang bilang, ‘kok kelewat rumah saya?’ Jadi sebenarnya, bagi sebagian warga, ini sudah jadi bagian dari suasana Ramadan. Bukan cuma kami yang merasakan,” ujarnya sambil tersenyum. (Ayo Bandung, Selasa 24 Feb 2026, 11:52 WIB)

Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

2. Pengeras Suara Masjid

Murotal Alquran, lantunan shalawat, tahrim khas Sunda, nasyid, pengumuman sahur dari masjid menjadi cara paling umum membangunkan warga.

Suara itu mengalun lembut, menyusup ke rumah-rumah, mengajak bangun dengan nuansa spiritual.

Biasanya dilakukan sejak pukul 03.00 sampai jam 04.00 WIB.

Dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa bacaan Alquran memiliki pengaruh positif terhadap kesehatan mental.

Lantunan ayat-ayat suci terbukti mampu membantu menurunkan tingkat stres, menstabilkan ritme jantung, meningkatkan fokus dan konsentrasi.

Efek suara yang teratur dan penuh makna ini memberikan respons relaksasi pada tubuh, sehingga tercipta ketenangan batin bagi pendengarnya.

Di banyak rumah, masjid, dan tempat kerja, Alquran kerap diperdengarkan untuk menghadirkan suasana yang damai dan menenangkan.

Kebiasaan ini diyakini dapat membantu mengurangi dampak kebisingan dan hiruk-pikuk aktivitas duniawi yang berpotensi mengganggu ketenteraman jiwa. Lingkungan yang dihiasi lantunan ayat suci pun menjadi lebih kondusif bagi ketenangan spiritual.

Dalam ajaran Islam, umat dianjurkan untuk selektif terhadap apa yang didengar, termasuk membiasakan diri mendengarkan Alquran. Suara yang baik dan penuh nilai kebaikan dipercaya dapat membentuk karakter, memperkuat keimanan, meningkatkan kesejahteraan spiritual seseorang.

Dengan demikian, kebiasaan ini bukan hanya bernilai ibadah, tetapi dapat berkontribusi pada pembinaan diri secara menyeluruh.

Mendengarkan Alquran tidak hanya dipahami sebagai bentuk ibadah, tetapi sebagai terapi spiritual yang membawa ketenangan jiwa. Setiap ayat mengandung hikmah dan petunjuk hidup yang dapat menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai persoalan sehari-hari, sehingga membantu individu menjalani kehidupan dengan lebih tenang dan terarah.

Pada bulan Ramadan, (yang diawali saat bangun sahur) momentum ini menjadi semakin relevan.

Stres yang muncul selama menjalankan ibadah puasa dapat diatasi dengan berbagai cara, salah satunya dengan mendengarkan lantunan ayat suci.

Dokter spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan dari RS Primaya Depok, dr. Ahmad Wahyudin, Sp.THT, menyampaikan bahwa sejumlah penelitian menemukan bahwa mendengarkan ayat suci dapat memicu tubuh menjadi lebih rileks. “Mendengarkan lantunan ayat suci Alquran memberi getaran ke telinga dan disalurkan ke otak sehingga menghasilkan hormon endorfin secara alami yang dapat menurunkan stres dan membuat tubuh merasa lebih rileks. Mendengarkan saja manfaatnya luar biasa, apalagi dengan membacanya.” (detikHealth, Jumat, 24 Mar 2023 11:01 WIB dan www.muhammadiyah.or.id)

Bedug di masjid Darussalam Bungbulang Garut Kidul, Selasa, 2 April 2024. (Sumber: Istimewa | Foto: Nuralimat Hakiah (pun alo))
Bedug di masjid Darussalam Bungbulang Garut Kidul, Selasa, 2 April 2024. (Sumber: Istimewa | Foto: Nuralimat Hakiah (pun alo))

3. Kentongan, Bedug Masjid

Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) memukul kentongan, bedug sebagai penanda waktu sahur. Suaranya khas, menggema dari gang ke gang, menjadi alarm tradisional yang penuh keakraban.

Tradisi ngadulag (bedug keliling) masih dijumpai di pedesaan, termasuk di Darussalam, Bungbulang, Garut wilayah Pakidulan.

Dahulu, saat masih kecil di Pasar Lama suka ikut-ikutan membangunkan sahur bersama anak-anak remaja (pamuda bardal, barudak Darussalam) yang dikomandoi oleh A Ipan, anak Ua.

Arak-arakan nakolan kohkol, kentongan, ember cat yang dijadikan alat musik ala kadarnya "Sahur, sahur, sahur, Bapak-bapak, Ibu-ibu sahur, sahur, sahur!" dimulai dari pos ronda dekat rumah Pak RW (guru SD, Ua Enjang) jalan ke atas kira-kira 50 meter untuk ke Pasantren dengan melewati jarian, tempat pembuangan sampah yang berada di samping heleran (tempat penggilingan padi Mang Eman).

Saat hari-hari biasa jarang orang melewati daerah ini kecuali buang sampah. Sebab rimbun, ditumbuhi pohon bambu-bambu (awi gombong, awi surat, caringin yang besar), sedikit gelap, banyak sampah. Sering orang tua dulu melarang anaknya untuk pergi ke jarian, "Bisi kasabet jurig jarian."

Pernah suatu hari Mang Pidin, rumahnya yang berbeda didepan heleran menakut-nakuti anak-anak saat bertemu di pos ronda, "Jang muterna tong ka jarian nya, bisi aya jurig?"

A Ipan langsung menjawabnya, "Wios Mang, biasana pas puasa mah jurigna oge dirangket atawa dicang-cang nya. Jadi moal aya!" Sambil memukul-mukul alat seadanya, "Sahur, sahur, sahur, Bapak-bapak, Ibu-ibu sahur, sahur, sahur!"

Dari tempat penggilingan padi jalan terus sekitar 50 meter belok kiri menuju sekolah dasar (Bungbulang I dan II) untuk memutar alun-alun, melewati KUA, masjid Agung, Rumah Sakit, terkadang bertemu (berpapasan) dengan rombongan lain dari Kaum, Panyingkiran, Pasantren yang sama-sama ikut membangunkan sahur, jalan terus melewati GOR (pasar ceplak sekarang) menuju jalan perapatan stamplat (terminal bus Eka Jaya, elf, Indomaret sekarang) terus mengikuti jalan Kandangwesi, dekat masjid Sabilissalam belok kiri untuk ke Pasar Lama.

Sesekali dari Rumah Sakit belok kiri ke kantor Desa Bungbulang yang berdampingan dengan kantor Kecamatan (Kawadanaan dulu) belok kanan untuk ke Pasar Lama jalur rumah Pak Haji Hasan. Semuanya berakhir di masjid Darussalam. Setelah itu bubar atau malah ikut sahur bersama orangtua pas lilikuran di masjid Darussalam. Asyik balakecrakan sahurnya.

Lodong adalah permainan meriam bambu yang konon berasal dari budaya Sunda. (Sumber: Istimewa | Foto: Dudung Ridwan)
Lodong adalah permainan meriam bambu yang konon berasal dari budaya Sunda. (Sumber: Istimewa | Foto: Dudung Ridwan)

4. Helaran Obor dan Lodong

Di beberapa kampung, anak-anak berjalan berkeliling membawa obor bambu menjelang sahur, biasanya dengan pengawasan orang tua. Tradisi ini menghadirkan suasana hangat sekaligus meriah.

Ada pula bunyi petasan meriam bambu yang disebut lodong, dentumannya keras, membelah sunyi dini hari, menjadi penanda bahwa waktu sahur telah tiba.

Dalam satu kesempatan, anak-anak bardal pernah sekali membangunkan sahur dengan cara ngalodong di Joglo, sawah dekat rumah Mang Ujang (pedagang layangan yang asyik buat ngabuburit) tepat posisi di atas kolam Mang Apud, biasa dipanggil, yang terhalang satu kolam samping masjid Darussalam.

Selesai ngaji subuh, sambil ngabeubeurang, A Ipan mengajak teman sebayanya untuk pergi ke Cikaret, mata cai yang aliran airnya diarahkan ke balong milik Pak Haji Hasan, posisi sumber air ini tepat sebelum daerah Cangkudu untuk mencari pohon bambu, ternyata masih kecil dan tak cukup untuk dibuat lodong. Konon, tempat ini terkenal dengan mitos "Awas aya leled samak" kata orang tua, agar anak-anak tidak main ke Cikaret. Karena ditanami pohon cokelat, kapolaga, kelapa, kakao, bambu kuning, awi surat!

"Hayu barudak urang ka Cibalubur Loa ngala awina," ajak A Ipan. Memang sepanjang jalan menuju kuburan Astana Anyar Cangkudu terdapat awi surat yang tinggi dan besar milik Pa Haji, saat itu kebetulan Mang Obar, tukang kebun, penjaga kolam Pa Haji ada meminta izin untuk mengambil bambu yang akan dibuatkan lodong. "Mangga sa leunjeur wae, teras engke ngalodong na tong di Joglo nya, tapi di Inpres atawa ka Cibalubur wae da sepi!"

Selesai diambil bambunya dibuat lodong. Ruas bambu bagian dalamnya dikosongkan, pada ujung bambu diikat karet biar tidak pecah, karbit diberi air, ditutup dan disulut.

Ada yang dibagi tugas untuk pergi ke pasar membeli karbit, memikul lodong untuk dihantarkan ke pamatang sawah, dekat leuit (tempat menyimpan padi), samping SD Inpres (instruksi presiden era Soeharto).

Setelah mendapatkan karbit, bukan untuk mematangkan pisang tapi dipakai tes lodong, dicoba-coba berkali-kali dan berhasil menyala lodongnya. Doar, Doar, Doar, mengeluarkan dentuman suara yang besar, menggelegar. Hore berhasil!

Muncul keinginan iseng untuk ikut membangunkan sahur dengan memakai lodong. Tiba waktunya, malah dimarahin tetangga karena menyalakannya di Joglo. "Dasar barudak, ari ngalodong mah di Cibalubur pas ngabuburit lain ayeuna rek sahur," umpat Mang Ujang.

Selesai ngaji Subuh, ajengan bertanya. "Saha tadi nu ngalodong pas sahur? Engke deui mah biasa mending nguriling muter ka alun-alun bari bawa kohkol nya ker tatalu! Lain nyeuneut lodong sagala," ujar ajengan.

Alarm Sahur Day 7. (Sumber: Instagram | Foto: @ghosty_comic)
Alarm Sahur Day 7. (Sumber: Instagram | Foto: @ghosty_comic)

5. Sentuhan Teknologi

Di tengah perkembangan zaman, alarm ponsel dan pesan pengingat di grup WhatsApp warga sering kali menjadi cara paling praktis dan efektif. Meski tanpa irama tabuhan, obor menyala. Tujuannya tetap sama untuk saling membangunkan dalam kebaikan.

Apa pun caranya, membangunkan sahur adalah wujud kepedulian, solidaritas, dan gotong royong. Semuanya atas nama cinta dan saling mengajak dalam kebaikan. Ya bukan sekadar tradisi, melainkan cara sederhana untuk saling menjaga dan merawat, agar tak ada yang tertinggal dalam keberkahan waktu sebelum fajar.

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa dalam sahur terdapat keberkahan. Ngalap berkah bukan semata tentang banyaknya makanan, melainkan tentang nilai yang tersembunyi di baliknya.

Sepiring hidangan sederhana saat sahur dapat menjadi saksi ketaatan, bukti bahwa manusia rela menahan diri demi sesuatu yang lebih tinggi daripada sekadar rasa lapar dan kenyang.

Kita teringat pesan orang tua, kiai, dan ajengan: “Pahala ngagugahkeun nu sahur téh kacida ageungna. Teras sahur, kanggé ngalakonan ibadah puasa salami Ramadan!”

Harapannya, warga tidak kesiangan saat sahur sehingga dapat menjalankan ibadah puasa dengan baik. Aktivitas di siang hari pun tetap berjalan lancar, tidak lemas, tidak malas dan tetap produktif dalam bekerja.

Baik di kota (Bandung) maupun di desa (Bungbulang), suara yang membangunkan sahur pada akhirnya bukan hanya lantunan dari luar. Justru tumbuh dan bergema dari dalam, suara nurani yang mengetuk, lebih halus daripada kentongan, bedug, dog-dog, reak, lodong. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)