Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

6 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Senin 25 Mei 2026, 18:51 WIB
Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID — Di atas lahan seluas 261 hektare yang lebih dari separuhnya adalah hamparan sawah, Desa Margamukti menyimpan cerita yang tidak biasa. Desa yang terletak di bagian barat laut Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, ini bukan desa wisata, bukan pula desa industri. Tetapi dari sinilah sebuah model ekonomi desa yang diam-diam tumbuh dari bawah kini mendapat pengakuan nasional, dengan masuk 15 Besar dalam ajang Desa BRILiaN 2025 Batch 1, program pemberdayaan desa yang diinisiasi oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) bersama Universitas Airlangga.

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Marga Makmur adalah jantung dari pencapaian ini. Dibentuk berdasarkan Peraturan Desa Margamukti Nomor 7 Tahun 2021, lembaga ini kini mengelola beberapa unit usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan.

Dari unit-unit tersebut, tiga menjadi fokus utama pengembangan saat ini: melon premium, ternak ayam kampung, dan layanan keuangan melalui Agen BRILink.

Bagaimanapun, segenap prestasi Desa Margamukti bukanlah warisan. Menurut, Iman Romansyah (KAUR Umum Tata Usaha dan Koordinator BUMDes), semua itu adalah hasil dari kerja keras kolektif yang dimulai dari berbagai perubahan signifikan, termasuk sektor ekonomi desa.

“Jadi dulu itu kita banyak sekali masalah, mulai dari masalah sampah, angka pengangguran juga tinggi, dan stunting juga mengkhawatirkan. Roda putaran ekonomi di desa ini sama sekali tidak berjalan. Kebetulan kepala desa yang terpilih (Siti Nuraeni Sofa) kemudian mulai menyelesaikan masalah-masalah ini secara tinjauan akademik, pengaturan perangkat desa pun disesuaikan dengan keilmuan dan kemampuan masing-masing, dan mulai membuat strategi bagaimana caranya dari semua masalah itu bisa menjadi ‘peluang’. Misalnya dari masalah sampah, kita bentuk tim pengelolaan sampah dengan sistem sirkulasi ekonomi. Sampai kemudian berjalan beberapa tahun kita mulai juga beberapa program pemberdayaan masyarakat lainnya melalui BUMDes Marga Makmur,” buka Iman kepada Ayobandung.id, di Kantor Desa Margamukti, (22/52026).

Perubahan Desa Margamukti pun tergolong tegas dengan target tidak hanya meningkatkan ekonomi, tetapi juga mengubah pola pikir. Dalam program bantuan sosial, misalnya, yang biasanya dibagikan secara asal dalam bentuk nominal, diubah jadi program ‘hak dan kewajiban. Melalui program ini masyarakat akan mendapatkan reward hanya ketika ikut andil dalam kegiatan pemerintah atau proaktif dalam proyeksi desa terhadap mental wirausaha.

“Kita membuat inovasi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, yang bisa menggiring warga untuk proaktif membangun desa. Jadi kami meningkatkan rasa sosial kultural. Di samping itu, setelah mereka rajin, kita berikan reward dalam bentuk pemberdayaan usaha. Misalkan yang rajin per bulan ini ada 500 orang, maka kami berikan sesuai dana desa sesuai dengan keterampilan mereka, seperti ayam dan kandang, modal jualan bagi yang bisa dagang, dan pupuk untuk kemampuannya bertani. Semua itu dikontrol oleh BUMDes,” sambung Iman.

Maka melalui pendidikan mental dan praktik penyaluran yang bagus dari BUMDes Marga Makmur, Desa Margamukti pun berhasil mengembangkan pertanian melon premium dengan memanfaatkan teknologi pertanian modern dan metode tanam yang ramah lingkungan. Hasilnya adalah buah melon dengan kualitas tinggi, rasa manis alami, dan tampilan menarik. Melon premium dari Margamukti kini menjadi primadona dalam berbagai event pameran pertanian, dan permintaan pasar modern terus meningkat.

Selain melon premium, kini, unit peternakan BUMDes Marga Makmur juga fokus pada budidaya ayam kampung unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Dengan sistem pemeliharaan alami dan pakan sehat, ayam kampung produksinya dikenal lebih gurih dan sehat, sehingga banyak diminati pasar lokal dan luar desa, sekaligus membuka peluang kerja bagi warga dalam kegiatan perawatan dan distribusi ternak.

Desa BRILiaN: Seleksi Ketat, Pengakuan Nyata

Iman Romansyah (baju orange), KAUR Umum Tata Usaha dan Koordinator BUMDes Margamukti, Sumedang, bersama seorang warga peternak ayam, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Iman Romansyah (baju orange), KAUR Umum Tata Usaha dan Koordinator BUMDes Margamukti, Sumedang, bersama seorang warga peternak ayam, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Masuk ke 15 besar bukan hal mudah. Program Desa BRILiaN menerapkan empat indikator seleksi yang ketat sekaligus mengukur hal-hal yang selama ini kerap luput dari perhatian. Bukan hanya soal aset, tapi juga soal karakter.

Dewi Hestiningrum S., Regional CEO BRI Regional Office Bandung (Region 9), menjelaskan bahwa pengakuan yang telah Desa Margamukti ini layak menjadi teladan bagi desa-desa lainnya.

"Kami menggunakan empat indikator utama dalam seleksi: pertama, keberadaan BUMDes yang aktif dan beroperasi; kedua, inovasi desa dalam memecahkan persoalan ekonomi lokal; ketiga, tingkat digitalisasi, khususnya pemanfaatan produk perbankan dalam tata kelola desa; dan keempat, keberlanjutan program ekonomi yang sudah berjalan. Di luar empat indikator tersebut, komitmen aparat desa dan partisipasi masyarakat menjadi faktor kunci. Kami percaya, tanpa kepemimpinan lokal yang kuat, program apa pun akan sulit berkelanjutan," papar Dewi dalam pernyataan resminya kepada Ayobandung.id

Dari keempat indikator itu, Desa Margamukti memenuhi semuanya: BUMDes aktif dengan beberapa unit usaha, inovasi sirkular ekonomi yang sudah diakui Pemerintah Kabupaten sejak 2023, pemanfaatan layanan perbankan melalui BRILink, dan program ekonomi yang tidak bersifat proyek sesaat.

Bagi BRI, keberhasilan seperti Margamukti bukan sekadar angka peserta program. Dewi Hestiningrum menggambarkan dampak program ini secara lebih luas.

"Dampak yang kami catat di lapangan cukup beragam dan berlapis. Pertama, peningkatan kapasitas produksi UMKM setempat seiring kemudahan akses pembiayaan dan pelatihan. Kedua, terciptanya lapangan kerja baru di tingkat desa, sehingga mengurangi tekanan urbanisasi. Ketiga, tata kelola keuangan BUMDes yang semakin profesional dan akuntabel. Dan keempat, terbangunnya integrasi rantai pasok lokal yang lebih kuat, dari produsen, pengolah, hingga pemasaran, sehingga ekonomi desa berputar lebih cepat dan nilai tambah tetap berada di tangan masyarakat," lanjut Dewi.

Sebagai Koordinator BUMDes Margamukti, Iman pun menyebut desanya bangga bisa mendapatkan pengakuan secara nasional dan penghargaan istimewa melalui program BRI.

“Pada waktu perangkingan 2025 itu di pemerintahan nasional kita masuk kategori BUMDes Maju, kalau di kemendes ini tergolong level tinggi. Kriteria dan faktornya dari laporan keuangan dan dari persentase masyarakat yang berhasil diberdayakan,” tutur Iman.

495 Desa, Satu Komitmen

Budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Desa Margamukti bukan satu-satunya. Di seluruh wilayah kerja BRI Regional Office Bandung, program ini sudah menjangkau ratusan desa.

"Saat ini, terdapat 495 Desa BRILian yang tersebar di seluruh wilayah kerja BRI Regional Office Bandung. Mayoritas dari desa-desa tersebut bergerak di sektor pariwisata dan industri pengolahan, dua sektor yang memang menjadi kekuatan ekonomi Jawa Barat. Pada tahun 2026, kami menambah 17 desa baru yang saat ini sedang mengikuti tahap pelatihan program Desa BRILian. Desa-desa tersebut tersebar di Kabupaten Ciamis, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Garut, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Tasikmalaya. Implementasi di lapangan berjalan secara bertahap, dengan pendampingan langsung dari Mantri BRI dan tim Ultra Micro Business Region 9 Bandung," jelas Dewi.

Keberlanjutan, bagi BRI, dijaga bukan hanya lewat program sesaat. Dewi menegaskan Kunci keberlanjutan ada pada pendampingan yang konsisten. 

“Kami menugaskan Mantri BRI sebagai pendamping yang secara rutin mendampingi desa dalam pengelolaan keuangan, akses pembiayaan, dan literasi perbankan. Selain itu, kami menyediakan pelatihan lanjutan, akses Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta menghubungkan produk unggulan desa ke pasar yang lebih luas, baik melalui pameran, platform digital, maupun jaringan mitra BRI. Dengan begitu, Desa BRILian tidak berhenti pada level binaan, tetapi bertumbuh menjadi sentra ekonomi yang mandiri," sambung Dewi.

***

Terlepas dari penghargaan yang diterima melalui Desa BRILian, Pemerintah Desa Margamukti bersama seluruh elemen masyarakatnya terus mendorong pengembangan inovasi dan perluasan pasar dari setiap unit usaha. Harapannya, kata Iman, BUMDes Marga Makmur dapat menjadi ikon desa mandiri dan inspirasi bagi desa-desa lainnya di Indonesia. 

Ambisi itu sudah mendapat momentum. Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal dari pertarungan berikutnya dengan tuntutan inovasi yang kudu tetap bermanfaat bagi warga desa. Margamukti pun berharap apresiasi dari BRI tidak hanya sekadar seremoni, harus menjadi program jangka panjang yang memberdayakan warga desa.

“Kita ingin Desa BRILiaN ini bisa memberikan manfaat tidak hanya sekadar program untuk diselebrasikan. Bahwa BRI, sebagai BUMN, bisa benar-benar paham apa yang dibutuhkan oleh BUMD. Karena secara praktik, bagi kita yang tinggal di desa-desa Sumedang ini produk BRI sudah menyebar penggunaannya, karena paling simpel, ya. Jadi inginnya programnya pun bisa lebih dimonitor oleh mereka,” tutup Iman. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 08 Jun 2026, 19:34

Menilik Eksistensi Dawa Rempah, Racikan Minuman Herbal Tradisional dengan Sentuhan Modern

Gaya hidup sehat turut menjadi tren kekinian yang santer digandrungi oleh masyarakat di masa kini. Salah satu caranya lewat menjaga kesehatan dan kebugaran.

Dawa Rempah (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:31

Hari Laut Sedunia, Masih Adakah Prospek Galangan Kapal di Jabar?

Masih sedikit industri galangan kapal di Jabar. Padahal provinsi ini memiliki sebelas pelabuhan yang bisa digunakan sebagai prasarana galangan kapal.

Ilustrasi Hari Laut Sedunia 2026, pemandangan Pantai Jayanti di Kecamatan Cidaun. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Muhammad Ikhsan)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:01

Polemik Penggusuran Perumahan Warga di Anyer Dalam akibat Pembangunan oleh KAI

Perumahan Warga di Anyer Dalam digusur untuk pembangunan yang dilakukan oleh oleh KAI merupakan kejadian yang terjadi 5 tahun yang lalu.

Foto Grafiti Bekas 2021 di Tembok Menyusuri di Jalan Serang menyusuri Jalan Anyer Dalam, 17 April 2026. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hikmat Nur Hidayat)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 17:29

Polemik SPPG Sukabumi: Antara Harapan Gizi dan Alarm Nyata bagi Gen Z

Tercatat sudah tiga kali gelombang unjuk rasa terjadi di pertengahan tahun ini.

Dokumentasi demo SPPG Sukabumi
Beranda 08 Jun 2026, 17:04

Bandung Pernah Jadi Kiblat Musik Indie, Kini Para Musisi Berusaha Merebutnya Kembali

Bandung pernah menjadi salah satu pusat musik independen Indonesia. Melalui Bandung Music Indie, para musisi kini berupaya membangun kembali ruang bersama dan semangat kolektif yang mulai memudar.

Atmosfer hangat dan akrab mewarnai gelaran Bandung Music Indie saat musisi lintas generasi dan penikmat musik bertemu dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 16:53

Gedung BAT Cirebon, Pusat Industri yang Kini Hidup sebagai Cagar Budaya Kota

Bukan hanya bangunan kosong, Gedung BAT Cirebon merupakan saksi bisu kejayaan industri kolonial di Kota Cirebon.

Potret Gedung BAT Cirebon saat ini (Sumber: siceppot.cirebonkota.go.id)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 15:07

Gor Saparua sebagai Ruang Ekspresi Anak Muda dan Panggung Musik Kota Bandung

Satu tempat yang sekarang banyak dipakai orang untuk mencurahkan keringat selama 1990-an-2000-an.

Gor Saparua Bandung. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Zikri)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 12:00

Perempuan yang Menjerit-Membuncah Keheningan Malam Kota Bandung

Bahkan di keheningan malam pun perempuan selalu ramai dengan isi kepalanya.

Suasana alam di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: KOSONGDANSATU)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 10:41

Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

Hujan mikroplastik di Ibu Kota dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun.

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:43

Fenomena Geologi Mata Air Asin dalam Memori Kolektif dan Toponimi Desa Ciuyah

Fenomena mata air asin di Desa Ciuyah, Kab. Sumedang, berasal dari air laut purba (connate water).

Kondisi terkini situs mata air asin purba (connate water) di Desa Ciuyah, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat didokumentasikan pada 28 Maret 2026 pukul 10.50 WIB. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Fatia Siti Biladi)
Wisata & Kuliner 08 Jun 2026, 09:42

Panduan Wisata Sea World: Dunia Bawah Laut yang Bisa Dijelajahi dalam 3 Jam

Panduan lengkap Sea World Ancol mulai dari harga tiket, Antasena Tunnel, feeding shark, Jellyfish Sphere, hingga tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Sea World Indonesia. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:02

Rompi "Psikolog Klinis" di Puskesmas: Niat Baik yang Menabrak Aturan

Pemasangan rompi bertuliskan "Psikolog Klinis" di puskesmas menuai sorotan. Di balik niat baik meningkatkan layanan, ada aturan profesi yang dipertanyakan.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 08:26

Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi.

Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 19:05

Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

Pancasila tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari pergulatan pemikiran yang panjang. Ironisnya, bangsa yang mewarisinya justru semakin terbiasa menghafal daripada memahami.

Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bandung 07 Jun 2026, 18:19

Dari K-Pop hingga Kuliner, Mengintip Cara Bandung dan Korea Selatan Ubah Hubungan Kultural Jadi Peluang Bisnis Kreatif

Dari kegemaran menikmati musik hingga tren produk kecantikan, adaptasi kultural ini perlahan tapi pasti membuka ruang-ruang usaha baru yang melibatkan para pelaku industri kreatif lokal.

“Oullim Korea: Rhythm & Recipes” yang memadati 23 Paskal Shopping Center, Bandung, pada 5–7 Juni 2026.
Bandung 07 Jun 2026, 15:04

Dari Tren Jadi Cuan, Kisah Mawaru Matcha Ekspansi Ratusan Gerai Lewat Minuman Kalcer

Gelombang hype yang mengakar dari tren makanan hingga minuman kalcer masa kini seperti dessert, kopi, sampai matcha greentea, kian menarik respons positif masyarakat.

Mawaru Matcha. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)