Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

6 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)
Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID — Di atas lahan seluas 261 hektare yang lebih dari separuhnya adalah hamparan sawah, Desa Margamukti menyimpan cerita yang tidak biasa. Desa yang terletak di bagian barat laut Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, ini bukan desa wisata, bukan pula desa industri. Tetapi dari sinilah sebuah model ekonomi desa yang diam-diam tumbuh dari bawah kini mendapat pengakuan nasional, dengan masuk 15 Besar dalam ajang Desa BRILiaN 2025 Batch 1, program pemberdayaan desa yang diinisiasi oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) bersama Universitas Airlangga.

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Marga Makmur adalah jantung dari pencapaian ini. Dibentuk berdasarkan Peraturan Desa Margamukti Nomor 7 Tahun 2021, lembaga ini kini mengelola beberapa unit usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan.

Dari unit-unit tersebut, tiga menjadi fokus utama pengembangan saat ini: melon premium, ternak ayam kampung, dan layanan keuangan melalui Agen BRILink.

Bagaimanapun, segenap prestasi Desa Margamukti bukanlah warisan. Menurut, Iman Romansyah (KAUR Umum Tata Usaha dan Koordinator BUMDes), semua itu adalah hasil dari kerja keras kolektif yang dimulai dari berbagai perubahan signifikan, termasuk sektor ekonomi desa.

“Jadi dulu itu kita banyak sekali masalah, mulai dari masalah sampah, angka pengangguran juga tinggi, dan stunting juga mengkhawatirkan. Roda putaran ekonomi di desa ini sama sekali tidak berjalan. Kebetulan kepala desa yang terpilih (Siti Nuraeni Sofa) kemudian mulai menyelesaikan masalah-masalah ini secara tinjauan akademik, pengaturan perangkat desa pun disesuaikan dengan keilmuan dan kemampuan masing-masing, dan mulai membuat strategi bagaimana caranya dari semua masalah itu bisa menjadi ‘peluang’. Misalnya dari masalah sampah, kita bentuk tim pengelolaan sampah dengan sistem sirkulasi ekonomi. Sampai kemudian berjalan beberapa tahun kita mulai juga beberapa program pemberdayaan masyarakat lainnya melalui BUMDes Marga Makmur,” buka Iman kepada Ayobandung.id, di Kantor Desa Margamukti, (22/52026).

Perubahan Desa Margamukti pun tergolong tegas dengan target tidak hanya meningkatkan ekonomi, tetapi juga mengubah pola pikir. Dalam program bantuan sosial, misalnya, yang biasanya dibagikan secara asal dalam bentuk nominal, diubah jadi program ‘hak dan kewajiban. Melalui program ini masyarakat akan mendapatkan reward hanya ketika ikut andil dalam kegiatan pemerintah atau proaktif dalam proyeksi desa terhadap mental wirausaha.

“Kita membuat inovasi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, yang bisa menggiring warga untuk proaktif membangun desa. Jadi kami meningkatkan rasa sosial kultural. Di samping itu, setelah mereka rajin, kita berikan reward dalam bentuk pemberdayaan usaha. Misalkan yang rajin per bulan ini ada 500 orang, maka kami berikan sesuai dana desa sesuai dengan keterampilan mereka, seperti ayam dan kandang, modal jualan bagi yang bisa dagang, dan pupuk untuk kemampuannya bertani. Semua itu dikontrol oleh BUMDes,” sambung Iman.

Maka melalui pendidikan mental dan praktik penyaluran yang bagus dari BUMDes Marga Makmur, Desa Margamukti pun berhasil mengembangkan pertanian melon premium dengan memanfaatkan teknologi pertanian modern dan metode tanam yang ramah lingkungan. Hasilnya adalah buah melon dengan kualitas tinggi, rasa manis alami, dan tampilan menarik. Melon premium dari Margamukti kini menjadi primadona dalam berbagai event pameran pertanian, dan permintaan pasar modern terus meningkat.

Selain melon premium, kini, unit peternakan BUMDes Marga Makmur juga fokus pada budidaya ayam kampung unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Dengan sistem pemeliharaan alami dan pakan sehat, ayam kampung produksinya dikenal lebih gurih dan sehat, sehingga banyak diminati pasar lokal dan luar desa, sekaligus membuka peluang kerja bagi warga dalam kegiatan perawatan dan distribusi ternak.

Desa BRILiaN: Seleksi Ketat, Pengakuan Nyata

Iman Romansyah (baju orange), KAUR Umum Tata Usaha dan Koordinator BUMDes Margamukti, Sumedang, bersama seorang warga peternak ayam, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Iman Romansyah (baju orange), KAUR Umum Tata Usaha dan Koordinator BUMDes Margamukti, Sumedang, bersama seorang warga peternak ayam, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Masuk ke 15 besar bukan hal mudah. Program Desa BRILiaN menerapkan empat indikator seleksi yang ketat sekaligus mengukur hal-hal yang selama ini kerap luput dari perhatian. Bukan hanya soal aset, tapi juga soal karakter.

Dewi Hestiningrum S., Regional CEO BRI Regional Office Bandung (Region 9), menjelaskan bahwa pengakuan yang telah Desa Margamukti ini layak menjadi teladan bagi desa-desa lainnya.

"Kami menggunakan empat indikator utama dalam seleksi: pertama, keberadaan BUMDes yang aktif dan beroperasi; kedua, inovasi desa dalam memecahkan persoalan ekonomi lokal; ketiga, tingkat digitalisasi, khususnya pemanfaatan produk perbankan dalam tata kelola desa; dan keempat, keberlanjutan program ekonomi yang sudah berjalan. Di luar empat indikator tersebut, komitmen aparat desa dan partisipasi masyarakat menjadi faktor kunci. Kami percaya, tanpa kepemimpinan lokal yang kuat, program apa pun akan sulit berkelanjutan," papar Dewi dalam pernyataan resminya kepada Ayobandung.id

Dari keempat indikator itu, Desa Margamukti memenuhi semuanya: BUMDes aktif dengan beberapa unit usaha, inovasi sirkular ekonomi yang sudah diakui Pemerintah Kabupaten sejak 2023, pemanfaatan layanan perbankan melalui BRILink, dan program ekonomi yang tidak bersifat proyek sesaat.

Bagi BRI, keberhasilan seperti Margamukti bukan sekadar angka peserta program. Dewi Hestiningrum menggambarkan dampak program ini secara lebih luas.

"Dampak yang kami catat di lapangan cukup beragam dan berlapis. Pertama, peningkatan kapasitas produksi UMKM setempat seiring kemudahan akses pembiayaan dan pelatihan. Kedua, terciptanya lapangan kerja baru di tingkat desa, sehingga mengurangi tekanan urbanisasi. Ketiga, tata kelola keuangan BUMDes yang semakin profesional dan akuntabel. Dan keempat, terbangunnya integrasi rantai pasok lokal yang lebih kuat, dari produsen, pengolah, hingga pemasaran, sehingga ekonomi desa berputar lebih cepat dan nilai tambah tetap berada di tangan masyarakat," lanjut Dewi.

Sebagai Koordinator BUMDes Margamukti, Iman pun menyebut desanya bangga bisa mendapatkan pengakuan secara nasional dan penghargaan istimewa melalui program BRI.

“Pada waktu perangkingan 2025 itu di pemerintahan nasional kita masuk kategori BUMDes Maju, kalau di kemendes ini tergolong level tinggi. Kriteria dan faktornya dari laporan keuangan dan dari persentase masyarakat yang berhasil diberdayakan,” tutur Iman.

495 Desa, Satu Komitmen

Budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Desa Margamukti bukan satu-satunya. Di seluruh wilayah kerja BRI Regional Office Bandung, program ini sudah menjangkau ratusan desa.

"Saat ini, terdapat 495 Desa BRILian yang tersebar di seluruh wilayah kerja BRI Regional Office Bandung. Mayoritas dari desa-desa tersebut bergerak di sektor pariwisata dan industri pengolahan, dua sektor yang memang menjadi kekuatan ekonomi Jawa Barat. Pada tahun 2026, kami menambah 17 desa baru yang saat ini sedang mengikuti tahap pelatihan program Desa BRILian. Desa-desa tersebut tersebar di Kabupaten Ciamis, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Garut, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Tasikmalaya. Implementasi di lapangan berjalan secara bertahap, dengan pendampingan langsung dari Mantri BRI dan tim Ultra Micro Business Region 9 Bandung," jelas Dewi.

Keberlanjutan, bagi BRI, dijaga bukan hanya lewat program sesaat. Dewi menegaskan Kunci keberlanjutan ada pada pendampingan yang konsisten. 

“Kami menugaskan Mantri BRI sebagai pendamping yang secara rutin mendampingi desa dalam pengelolaan keuangan, akses pembiayaan, dan literasi perbankan. Selain itu, kami menyediakan pelatihan lanjutan, akses Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta menghubungkan produk unggulan desa ke pasar yang lebih luas, baik melalui pameran, platform digital, maupun jaringan mitra BRI. Dengan begitu, Desa BRILian tidak berhenti pada level binaan, tetapi bertumbuh menjadi sentra ekonomi yang mandiri," sambung Dewi.

***

Terlepas dari penghargaan yang diterima melalui Desa BRILian, Pemerintah Desa Margamukti bersama seluruh elemen masyarakatnya terus mendorong pengembangan inovasi dan perluasan pasar dari setiap unit usaha. Harapannya, kata Iman, BUMDes Marga Makmur dapat menjadi ikon desa mandiri dan inspirasi bagi desa-desa lainnya di Indonesia. 

Ambisi itu sudah mendapat momentum. Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal dari pertarungan berikutnya dengan tuntutan inovasi yang kudu tetap bermanfaat bagi warga desa. Margamukti pun berharap apresiasi dari BRI tidak hanya sekadar seremoni, harus menjadi program jangka panjang yang memberdayakan warga desa.

“Kita ingin Desa BRILiaN ini bisa memberikan manfaat tidak hanya sekadar program untuk diselebrasikan. Bahwa BRI, sebagai BUMN, bisa benar-benar paham apa yang dibutuhkan oleh BUMD. Karena secara praktik, bagi kita yang tinggal di desa-desa Sumedang ini produk BRI sudah menyebar penggunaannya, karena paling simpel, ya. Jadi inginnya programnya pun bisa lebih dimonitor oleh mereka,” tutup Iman. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Jul 2026, 19:52

Menilik Komunikasi Digital dalam Publikasi Peluncuran Layanan Kereta Api

Penggunaan kata kunci pada website dan Instagram memiliki fokus informasi yang sama kepada seluruh masyarakat pembaca digital.

Ilustrasi komunikasi digital layanan kereta api. (AI)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 17:12

Propaganda Masa Pendudukan Jepang di Bandung

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik.

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik. (Foto: wowshack.com)
Wisata & Kuliner 21 Jul 2026, 17:05

Lontong Balap, Kuliner Ikonik Surabaya yang Lahir dari Para Pedagang Berlari

Sejarah lontong balap Surabaya, dari tradisi pedagang memikul kemaron hingga menjadi salah satu makanan khas Jawa Timur yang paling legendaris.

Lontong Balap khas Surabaya. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:20

Time Travel Seru bareng Cerita Bunda: Menguak Sejarah dan Thrifting Perangko di Museum Pos Bandung!

Kemarin, hari Sabtu tanggal 18 Juli 2026, saya bareng 20 orang teman-teman dari komunitas Cerita Bunda, main ke Museum Pos Indonesia. Mari simak keseruannya!

Foto 1 Peserta Komunitas Cerita Bunda Sedang Thrifting Perangko dan Postcard. (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:07

Tren Manusia Digital: Ketika Live Streamer menjadi Pekerjaan Baru bagi Masyarakat

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun dibalik gemerlap dunia maya seringkali menyisakan moral dan budaya yang semakin terkikis.

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun terkadang ada harga yang dibayar untuk moral. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 15:32

Kampanye Digital Akhir Tahun Terbesar Raih Lebih dari 200 Juta Pengguna dalam Satu Hari

Spotify Wrapped 2025 jadi kampanye digital akhir tahun terbesar dengan lebih dari 200 juta pengguna dalam 24 jam pertama dan lebih dari 500 juta kali dibagikan di TikTok, Instagram, dan X.

Ilustrasi platform musik. (Sumber: Pexels | Foto: Breakingpic)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 14:48

Pengembangan Stadion GBLA dan Pusat Produk Peralatan Olahraga

Pentingnya transformasi stadion olahraga dengan ekosistem yang memberikan tempat untuk menumbuhkan industri produk peralatan olahraga

Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 12:06

Tangkis Tengkes untuk Generasi Emas Bandung

Urusan stunting pada dasarnya kompleks dan penuh perjuangan dengan menggunakan pendekatan multi sektor dan multi disiplin.

Pencegahan stunting di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 21 Jul 2026, 11:51

Debu Kapur Tak Kenal Batas Administratif, Derita Warga Cipatat Berlanjut

Sejauh ini, arah angin itu selalu membawa debu ke rumah-rumah warga, bukan ke meja rapat para pejabat yang seharusnya menanganinya sejak lama.

Pemandangan udara menunjukkan aktivitas pabrik pengolahan batu gamping di Kecamatan Cipatat, yang dilalui jalur utama penghubung Bandung menuju Padalarang dan Cianjur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 10:34

Adaptasi Batik terhadap Perubahan Gaya Hidup Masyarakat Modern

Adaptasi kain batik terhadap tren di era modern.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 21 Jul 2026, 10:33

Tamasya ke Leuwi Jurig Garut, Grand Canyon Sunda di Bungbulang

Panduan lengkap wisata Leuwi Jurig Garut, mulai dari harga tiket, jam buka, rute menuju lokasi, fasilitas, hingga peringatan keselamatan saat berenang.

Leuwi Jurig Bungbulang Garut. (Sumber: YouTube budi ahmadr)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 09:41

Belajar tentang Desain dari Monumen Jenderal Soedirman di Soreang

Di balik sebuah monumen, ternyata tumbuh ruang publik yang menghidupkan interaksi sosial, aktivitas ekonomi, dan kebersamaan masyarakat.

Monumen Jenderal Soedirman di Jalan Panglima Besar Jenderal Soedirman, Soreang. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 19:14

Urgensi Sekolah Ramah, Aman dan Nyaman

Penciptaan lingkungan belajar yang berfokus pada daya dukung psikologis dan keterampilan sosial juga mampu dipenuhi praktik implementasi kerjasama dan empati.

Suasana MPLS di sekolah. (Sumber: Kemendikdasmen.go.id | Foto: Kemendikdasmen)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 18:01

Darurat Penerangan dan Melonjaknya Kriminalitas di Jalanan Kota Bandung

Bandung kini berbeda dan kenyamanan kotanya tak lagi sama. Kian hari tingkat kecelakaan lalu lintas dan tindak kriminalitas kian menjamur tanpa ada solusi yang nyata untuk menyelesaikannya.

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Magang Foto/Lukman Hidayat)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 17:00

Pendidikan di Bandung pada Masa Pendudukan Jepang

Pendidikan dalam masa penjajahan Jepang diawali dengan dibukanya kembali sebagian dari sekolah-sekolah yang dahulu pernah berdiri.

Museum Geologi saat Masa Pendudukan Jepang. (Sumber: Koleksi Museum Geologi Bandung)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 16:01

Bandung Begal, Beungal, dan Bedul

Memberantas begal tidak cukup hanya dengan menangkap pelakunya.

Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 15:15

Pembongkaran Perpustakaan Gasibu Picu Kekecewaan Pembaca Buku di Bandung

Pembongkaran fisik Perpustakaan Gasibu Bandung memicu banyak kekecewan dari warga sekitar dan pegiat literasi.

Perpustakaan Gasibu yang dibongkar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 14:34

Posisi Strategis Ibu dalam Pelestarian Bahasa Ibu

Pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah tidak bisa lepas dari peran ibu sendiri.

Ilustrasi masyarakat tradisional Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Wahyu Prabowo)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 13:14

Legitnya Peuyeum Ciruluk, Warisan Kuliner Khas Kalijati Subang

Sebuah kuliner tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, yakni Peuyeum Ciruluk, tape ketan hijau yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.

Peuyeum Ciruluk khas Kalijati, Kabupaten Subang, memiliki ciri khas dibungkus menggunakan daun muncang (daun kemiri), sehingga tampil alami sekaligus membantu menjaga cita rasa dan kualitas produknya. (Foto: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 20 Jul 2026, 11:47

Hikayat Pasar Andir Pusat Grosir Fesyen Bandung yang Mencoba Terus Bertahan

Pasar Andir pernah menjadi pusat grosir fesyen Bandung dan kini berjuang menghadapi perubahan perilaku belanja masyarakat.

Suasana Pasar Andir, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)