Cikopi Mang Eko dan Jalan Panjang ‘UMKM Naik Kelas’

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Senin 18 Mei 2026, 10:05 WIB
Muchtar Koswara pemiliki Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Muchtar Koswara pemiliki Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.IDTahun 2022, Muchtar Koswara sedang berada di titik paling rendah dalam hidupnya sebagai pengusaha. Cikopi Mang Eko, bisnis kopi yang ia bangun dari Rp 9 juta sejak 2016, nyaris ia lepas. Omzet yang sebelumnya mencapai Rp 3 miliar per tahun anjlok ke angka Rp 300 juta di puncak pandemi. 

Saat itu pria yang akrab disapa Mang Eko baru keluar dari ICU setelah sebulan penuh dirawat akibat COVID-19, dan seluruh asetnya habis terkuras untuk biaya rumah sakit. Harga yang ia pasang untuk menjual bisnis itu: Rp 2 miliar. Tidak ada pembeli yang cocok.

Hari-hari itu ia lewati sambil terus menjalankan tokonya di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung. Meski perputaran modalnya seret, meski pelanggan belum kembali seperti dulu, meski ia belum tahu harus melakukan apa lagi.

Sampai suatu malam ia membuka Instagram. Dan menemukan sebuah postingan dari Rumah BUMN Bandung tentang program BRIncubator.

"Kondisi itu tahun 2022 usaha saya masih recovery COVID-19. Masih bingung harus melakukan apa lagi agar bangkit seperti dahulu. Saat scrolling Instagram, saya lihat posting-an Rumah BUMN tentang BRIncubator. Ini untuk inkubasi bisnis UMKM; dan saya lihat kayaknya seru juga dan butuh ilmu baru. Akhirnya join-lah, daftar," kenangnya.

Keputusan kecil ini ternyata mengubah arah bisnisnya. Memulai kebangkitan.

Belajar "Wirausaha yang Sebenarnya"

Rumah BUMN Bandung berdiri sejak 2017 atas inisiasi Kementerian BUMN, berkantor di Jalan Jurang No. 50, Sukajadi. Tujuan utamanya satu: pemberdayaan UMKM. Dari pelatihan, literasi keuangan, sertifikasi, hingga pendampingan ekspor. Semuanya tersedia, dan semuanya gratis bagi anggota yang mendaftar.

Di sinilah konsep "naik kelas" bekerja secara konkret. A. Radinal Pramudha Sirat, CEO Rumah BUMN Bandung, menjelaskan cukup rinci sistem yang diterapkan terhadap UMKM.

"Syarat untuk jadi anggota tinggal daftar saja, gratis, dan nanti ikut disurvei agar kita tahu ini usahanya di 'kelas' mana. Ada 4 kelas. Kalau masih basic kelas 1, dia belum punya laporan keuangan, kita ajarin bikin laporan keuangan. Lalu misalnya dia kelas 2 karena dia ternyata sudah punya akun digital, lalu naik ke kelas 3 karena dia sudah bisa jualan melalui sarana digital tersebut. Kalau kelas 4 itu sudah siap ekspor," tegasnya.

A. Radinal Pramudha Sirat CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
A. Radinal Pramudha Sirat CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Ketika Mang Eko mendaftar, ia sudah memenuhi syarat-syarat UMKM Kelas 3. Bisnisnya sudah berjalan, sudah punya pelanggan, sudah aktif di kanal digital. Akan tetapi ada yang masih kosong: fondasi manajerial yang profesional, laporan keuangan yang rapi, proposal bisnis yang bisa dipresentasikan, dan pitch deck yang layak dibawa ke hadapan investor atau buyer internasional.

"Bermula dari BRIncubator itu saya belajar tentang wirausaha yang sebenarnya, karena sebelumnya saya cuma dagang saja dengan ilmu ala kadarnya. Saya belajar bikin company profile, diajarin cara bikin pitch deck, dan berbagai hal penting yang sebelumnya tidak tahu," ungkapnya.

Selama dua bulan di program BRIncubator, ia belajar membangun visi misi bisnis, memperbaiki kemasan, berpromosi di media sosial, hingga membangun jaringan pemasaran. Dan setelah berjuang sebagai yang terbaik dalam program itu, ia terpilih menjadi satu dari empat UMKM yang mewakili Rumah BUMN Bandung di pameran Brilianpreneur 2023 di Jakarta Convention Centre (JCC).

Mang Eko mengaku kaget melihat ramainya pameran di JCC itu. Produk andalannya, 9 Jawara Kopi, habis terjual di hari pertama. Tapi kejutan terbesar datang bukan dari lapak penjualan, melainkan dari layar laptop di sesi pitching online.

"Pas Brilianpreneur itu ada yang namanya pitching online. Bingung pada saat itu, karena mau mengobrol dengan orang Taiwan. Ternyata pihak BRI menyediakan penerjemah. Di acara JCC, buyer dari Taiwan itu juga datang ke booth kita; dan di sana pun ia didampingi oleh penerjemah yang dipersiapkan BRI. Saya takjub, sekeren itu loh BRI," semringah Mang Eko.

Di tahun yang sama, ia mendapatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp 100 juta. Modal yang ia gunakan terutama untuk membeli bahan baku. Biji kopi berkualitas tinggi seperti wine bisa mencapai Rp 10 juta per karung; karena tanpa modal yang cukup, pilihan varietas yang bisa ia tawarkan ke pelanggan sangat terbatas.

KUR bukan sekadar pinjaman. Bagi Mang Eko, ini adalah jembatan antara kapasitas produksi yang ada dengan permintaan pasar yang mulai tumbuh kembali.

Kelas 3 yang Sedang Menggapai Kelas 4

Radinal menyebut bahwa Rumah BUMN dan BRI prinsip yang tegas soal expo internasional. Tidak sembarang UMKM bisa diundang untuk pamer produknya. 

"Tidak mungkin kelas 1 kita terjunkan ke expo skala internasional." Artinya, setiap undangan pameran besar yang difasilitasi Rumah BUMN adalah cermin dari sejauh mana seorang UMKM sudah naik kelas.

Mang Eko saat ini masih tercatat sebagai UMKM Kelas 3 di Rumah BUMN Bandung. Tapi pencapaiannya sudah melampaui batas kelas itu. Ia sudah rutin mengekspor kopi single origin Bandung ke dua kafe di Kuala Lumpur dan Malaka. Ia sudah tampil di panggung Specialty Coffee Expo 2025 di Houston, Texas—ajang kopi spesialti terbesar di dunia, difasilitasi BRI melalui Kantor Perwakilan BRI New York dan KBRI Washington DC. Dari tiga hari di Houston itu, potensi kesepakatan bisnis yang dicatatkan bersama satu UMKM lain mencapai USD 945.000.

Dari 10 kilogram per bulan di awal berdiri, kini di saat sepi sekalipun Cikopi Mang Eko mampu menjual 1 hingga 1,5 ton kopi per bulan. Tiga mesin roasting berputar di tokonya dengan kapasitas teknis hingga enam ton per bulan. Kapasitas yang masih jauh dari terpakai penuh, dan itu berarti ruang ekspansi yang masih sangat besar.

Itulah paradoks yang menarik dari sistem empat kelas ini: seorang UMKM bisa secara administratif berada di Kelas 3, sementara secara praktis ia sudah menjejakkan kaki di Kelas 4. Apa yang membedakan bukan kemampuan, melainkan kelengkapan dokumen, standarisasi proses, dan kesiapan manajerial untuk menanggung konsistensi ekspor dalam jangka panjang.

Dan itu persis yang sedang dikerjakan Mang Eko.

Muchtar Koswara atau yang lebih akrab dipanggil Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Muchtar Koswara atau yang lebih akrab dipanggil Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

“Mudah-mudahan Rumah BUMN di bawah Bank BRI dan acara-acara pelatihan yang sudah dilakukan itu jangan sampai hilang. Saya lihat sekarang dengan manajemen baru, ya, dengan Kang Radinal, kayaknya lebih oke. Saya mengikuti banget soalnya Rumah BUMN ini, mulai dari pelatihannya dan  segala macamnya, sekarang sudah lebih solutif. Mudah-mudahan tetap bisa merangkul dan ikut memberdayakan yang khususnya ada di Kota Bandung,” harapnya.

***

Apa yang terjadi pada Cikopi Mang Eko bukan keberuntungan, dan bukan pula semata kerja keras individual. Semua itu merupakan hasil dari ekosistem yang, ketika semua simpulnya bekerja bersama, benar-benar mampu mengangkat sebuah usaha dari titik hampir bangkrut menuju panggung internasional.

Pertama: Rumah BUMN sebagai ruang belajar dan kurasi. Tidak sekadar memberikan pelatihan, tetapi juga memilihkan UMKM mana yang siap naik ke level berikutnya, dan mendampinginya dengan kurikulum yang terstruktur.

Kedua: KUR BRI sebagai akses permodalan. Bukan pinjaman tanpa arah, tapi modal yang masuk tepat waktu ketika fondasi bisnis sudah cukup kuat untuk menanggungnya.

Ketiga: ekosistem event BRI (dari Brilianpreneur di Jakarta hingga Specialty Coffee Expo di Houston) sebagai jembatan ke pasar yang tidak mungkin dijangkau sendiri oleh seorang pengusaha kopi dari Arcamanik.

Mang Eko sama sekali tidak menyangka bahwa semenjak bergabung jadi anggota Rumah BUMN banyak event BRI yang kemudian bisa ia ikuti. Makin banyak kenalan, kian banyak klien, semakin harum nama brand-nya.

Juga fakta yang tak boleh dilupakan, di balik semua perjalanan UMKM naik kelas itu, ada seorang pria yang pada 2022 hampir menyerahkan usahanya, tapi takdir tidak mengizinkan.

"Cikopi Mang Eko sempat akan dijual. Akan dijual semuanya, termasuk toko online-nya, media sosialnya, dan peralatannya. Hanya saja waktu itu belum ketemu angka yang pas," kenangnya. Kini ia bersyukur tidak pernah ketemu angka itu.

Kini, saat berbicara tentang ekspektasi lima tahun ke depan, Mang Eko sudah punya rencana pensiun. Bukan berhenti bekerja, tetapi jadi petani. Memulai lagi dari hulu, dari tanah, dari biji yang belum disangrai. Dan sebelum itu, masih ada satu kelas lagi yang harus ia naiki. (*)

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 18 Mei 2026, 11:14

Semula, Ada Pandai Kuningan di Sayang dan di Bojongsayang

Di Jawa Barat, banyak toponim yang memakai kata sayang.

Contoh bokor yang dibuat dari kuningan. Tempat pembuatannya disebut sayang. (Sumber: Istimewa)
Beranda 18 Mei 2026, 10:43

Saat Manusia Asing dengan Tanahnya Sendiri dan Nama Tempat Tinggalnya

T. Bachtiar menjelaskan bagaimana nama tempat menyimpan jejak alam dan budaya, sekaligus mengungkap krisis ingatan manusia terhadap ruang hidupnya.

Pemandangan kota Bandung, jembatan Pasupati dengan latar belakang Gunung Tangkuban Parahu, Rabu 20 Juli 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Biz 18 Mei 2026, 10:05

Cikopi Mang Eko dan Jalan Panjang ‘UMKM Naik Kelas’

Mang Eko hampir menjual segala jerih payahnya. Lalu iseng membuka Instagram Rumah BUMN Bandung; dan nasib bisnisnya berubah.

Muchtar Koswara pemiliki Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 18 Mei 2026, 09:21

Antapani, Jalur yang Menghabiskan Umur Warga Kota Bandung

Jalan Terusan Jakarta di Antapani kerap dipenuhi antrean kendaraan akibat banjir, persimpangan padat, dan arus permukiman.

Situasi Jalan Ahmad Yani di kawasan Antapani Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 09:19

Di Serambi Masjid, Warga Bandung Belajar Arti Berkorban Melalui Donor Darah

Donor darah di Masjid Baitul Mu’min menjadi momen warga Bandung berbagi harapan melalui setetes darah, kepedulian, dan pengorbanan.

 Donor darah di Masjid Baitul Mu’min menjadi momen warga Bandung berbagi harapan melalui setetes darah, kepedulian, dan pengorbanan. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Uwes Fatoni)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 08:03

Semangkuk Soto dan Kepulan Asap Rokok

Apakah menjadi hal yang berlebihan ketika memimpikan Bandung yang bersih dari asap rokok sehingga aroma soto bisa dinikmati secara utuh?

Semangkuk Soto Madura di pagi yang dingin di Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Biz 17 Mei 2026, 19:36

Dari Excelso ke Houston: Perjalanan Dua Dekade Mang Eko Membangun ‘Legacy’ Kopi di Bandung

Mang Eko memilih jadi pemasok. Bukan kedai kopi biasa; dan pilihan itu membawa banyak perubahan dalam hidupnya.

Muchtar Koswara pemilik Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 17 Mei 2026, 15:20

Rawat Perbedaan, Perkuat Harmoni, dan Rayakan Kebersamaan

Rumah ibadah yang dihancurkan bukan hanya merobohkan bangunan. Justru melukai rasa kemanusiaan. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang berhasil menyeragamkan perbedaan

Suasana Upacara Kampung Adat Cireundeu (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 17 Mei 2026, 15:03

Camilan Gitrek Khas Subang, Singkong Bumbu Kencur Renyah dari Kasomalang

Ulasan gitrek singkong Subang dari produksi rumahan di Kasomalang, proses pembuatan berbasis singkong, hingga distribusi sebagai oleh-oleh populer.

Gitrek singkong khas Subang. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 17 Mei 2026, 12:52

Bukan Perdebatan Ilmiah, Kekonyolan Semata yang Sebabkan Cerita ‘Tahun Lahir Persib 1919’ Tidak Punya Nilai!

Perdebatan semacam apakah Persib lahir 1919 atau 1933 dst. rupanya sudah tidak lagi penting dipersoalkan.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 17 Mei 2026, 12:41

Inovasi Tiramisu Push Pop, Strategi Memissu Pikat Pencinta Dessert di Bandung

Memissu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat urban yang menginginkan produk dessert modern yang estetis, praktis, dan dinamis.

Memissu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat urban yang menginginkan produk dessert modern yang estetis, praktis, dan dinamis. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 17 Mei 2026, 11:19

Ketika Tren Generasi Z Lebih Takut Menikah, daripada Takut Kehilangan Arah

Generasi Z makin takut menikah, tapi pergaulan bebas justru makin dinormalisasi. Sedang terjadi apa hari ini?

Pernikahan adalah wujud keseriusan dalam membangun arah masa depan (Sumber: Pixeabay | Foto: Rizky_Motion)
Ayo Netizen 17 Mei 2026, 09:01

Pengorbanan Mang Dadang Berbuah Manis

Pengorbanan Mang Dadang adalah kebahagiaan untuk keluarga dan para pembeli kupat tahu petisnya serta kontribusi dia turut memutarkan cakra perekonomian.

Mang Dadang penjual kupat tahu petis (Sumber: dok penulis | Foto: Bram Herdiana)
Ayo Netizen 17 Mei 2026, 08:28

Mengapa TNKB Harus Sesuai Standar?

Pelanggaran TNKB masih sering ditemukan di jalan raya. Padahal, plat nomor sesuai standar penting untuk mendukung penegakan hukum, keselamatan, dan ketertiban lalu lintas.

Bentuk pelanggaran TNKB yang paling umum, yaitu modifikasi bentuk huruf dan penggunaan penutup plat berbahan mika gelap. (Sumber: Dok. Penulis)
Beranda 16 Mei 2026, 16:57

Lewat Titik Kumpul Cigadung, Mitigasi Bencana Bisa Sesantai Budaya Nongkrong

Sesar Lembang Kalcer mengajak warga Bandung memahami mitigasi bencana lewat musik, seni, dan ruang komunitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di Sesar Lembang Kalcer, anak-anak diajak belajar mitigasi sambil bermain. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)
Komunitas 16 Mei 2026, 16:46

Di Balik Kalcer Bandung, Ada Tanah Bergerak yang Membentuk Cara Warganya Hidup

Di balik kalcer Bandung, tersimpan kisah tentang alam, Sesar Lembang, dan kreativitas warga yang tumbuh dari tanah yang terus bergerak.

Kegiatan komunitas Sesar Lembang Kalcer yang mencoba menghubungkan mitigasi bencana dengan budaya dan keseharian warga Bandung. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 20:08

'Jejak Rupa', Ruang Refleksi Perjalanan Seni Tjetjep Rohendi Rohidi

Pameran “Jejak Rupa” menghadirkan 123 karya Tjetjep Rohendi Rohidi yang merekam hubungan manusia dengan alam, ingatan, dan perubahan zaman.

Poster Jejak Rupa. (Sumber: Galeri Dago Thee Huis)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 17:11

Pengorbanan Tidak Pernah Mati dalam Kehidupan Manusia

Peringatan Hari Kenaikan Yesus Kristus menjadi refleksi bahwa manusia perlahan mulai memanfaatkan ketulusan seseorang dibanding menghargai pengorbanannya.

Ilustrasi peristiwa Kenaikan Yesus Kristus yang dimaknai sebagai simbol pengorbanan, harapan, dan ketulusan dalam kehidupan manusia. (Sumber: Designed by Freepik)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 14:22

Media Liberal sebagai 'Sekolah Kedua' dan Krisis Moral Pelajar

Media liberal telah menjadi “sekolah kedua” yang membentuk pelajar dengan nilai kekerasan, hedonisme, dan kebebasan tanpa batas dalam sistem sekuler kapitalistik.

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Wisata & Kuliner 15 Mei 2026, 10:56

Panduan Wisata Kebun Raya Cibodas, Taman Tertua di Kaki Gede Pangrango

Panduan wisata Kebun Raya Cibodas mencakup sejarah, koleksi tanaman, taman sakura, akses lokasi, harga tiket, serta tips berkunjung di kawasan dataran tinggi.

Kebun Raya Cibodas. (Sumber: Wikimedia)