Cikopi Mang Eko dan Jalan Panjang ‘UMKM Naik Kelas’

6 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Muchtar Koswara pemiliki Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Muchtar Koswara pemiliki Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID – Tahun 2022, Muchtar Koswara sedang berada di titik paling rendah dalam hidupnya sebagai pengusaha. Cikopi Mang Eko, bisnis kopi yang ia bangun dari Rp 9 juta sejak 2016, nyaris ia lepas. Omzet yang sebelumnya mencapai Rp 3 miliar per tahun anjlok ke angka Rp 300 juta di puncak pandemi. 

Saat itu pria yang akrab disapa Mang Eko baru keluar dari ICU setelah sebulan penuh dirawat akibat COVID-19, dan seluruh asetnya habis terkuras untuk biaya rumah sakit. Harga yang ia pasang untuk menjual bisnis itu: Rp 2 miliar. Tidak ada pembeli yang cocok.

Hari-hari itu ia lewati sambil terus menjalankan tokonya di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung. Meski perputaran modalnya seret, meski pelanggan belum kembali seperti dulu, meski ia belum tahu harus melakukan apa lagi.

Sampai suatu malam ia membuka Instagram. Dan menemukan sebuah postingan dari Rumah BUMN Bandung tentang program BRIncubator.

"Kondisi itu tahun 2022 usaha saya masih recovery COVID-19. Masih bingung harus melakukan apa lagi agar bangkit seperti dahulu. Saat scrolling Instagram, saya lihat posting-an Rumah BUMN tentang BRIncubator. Ini untuk inkubasi bisnis UMKM; dan saya lihat kayaknya seru juga dan butuh ilmu baru. Akhirnya join-lah, daftar," kenangnya.

Keputusan kecil ini ternyata mengubah arah bisnisnya. Memulai kebangkitan.

Belajar "Wirausaha yang Sebenarnya"

Rumah BUMN Bandung berdiri sejak 2017 atas inisiasi Kementerian BUMN, berkantor di Jalan Jurang No. 50, Sukajadi. Tujuan utamanya satu: pemberdayaan UMKM. Dari pelatihan, literasi keuangan, sertifikasi, hingga pendampingan ekspor. Semuanya tersedia, dan semuanya gratis bagi anggota yang mendaftar.

Di sinilah konsep "naik kelas" bekerja secara konkret. A. Radinal Pramudha Sirat, CEO Rumah BUMN Bandung, menjelaskan cukup rinci sistem yang diterapkan terhadap UMKM.

"Syarat untuk jadi anggota tinggal daftar saja, gratis, dan nanti ikut disurvei agar kita tahu ini usahanya di 'kelas' mana. Ada 4 kelas. Kalau masih basic kelas 1, dia belum punya laporan keuangan, kita ajarin bikin laporan keuangan. Lalu misalnya dia kelas 2 karena dia ternyata sudah punya akun digital, lalu naik ke kelas 3 karena dia sudah bisa jualan melalui sarana digital tersebut. Kalau kelas 4 itu sudah siap ekspor," tegasnya.

A. Radinal Pramudha Sirat CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
A. Radinal Pramudha Sirat CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Ketika Mang Eko mendaftar, ia sudah memenuhi syarat-syarat UMKM Kelas 3. Bisnisnya sudah berjalan, sudah punya pelanggan, sudah aktif di kanal digital. Akan tetapi ada yang masih kosong: fondasi manajerial yang profesional, laporan keuangan yang rapi, proposal bisnis yang bisa dipresentasikan, dan pitch deck yang layak dibawa ke hadapan investor atau buyer internasional.

"Bermula dari BRIncubator itu saya belajar tentang wirausaha yang sebenarnya, karena sebelumnya saya cuma dagang saja dengan ilmu ala kadarnya. Saya belajar bikin company profile, diajarin cara bikin pitch deck, dan berbagai hal penting yang sebelumnya tidak tahu," ungkapnya.

Selama dua bulan di program BRIncubator, ia belajar membangun visi misi bisnis, memperbaiki kemasan, berpromosi di media sosial, hingga membangun jaringan pemasaran. Dan setelah berjuang sebagai yang terbaik dalam program itu, ia terpilih menjadi satu dari empat UMKM yang mewakili Rumah BUMN Bandung di pameran Brilianpreneur 2023 di Jakarta Convention Centre (JCC).

Mang Eko mengaku kaget melihat ramainya pameran di JCC itu. Produk andalannya, 9 Jawara Kopi, habis terjual di hari pertama. Tapi kejutan terbesar datang bukan dari lapak penjualan, melainkan dari layar laptop di sesi pitching online.

"Pas Brilianpreneur itu ada yang namanya pitching online. Bingung pada saat itu, karena mau mengobrol dengan orang Taiwan. Ternyata pihak BRI menyediakan penerjemah. Di acara JCC, buyer dari Taiwan itu juga datang ke booth kita; dan di sana pun ia didampingi oleh penerjemah yang dipersiapkan BRI. Saya takjub, sekeren itu loh BRI," semringah Mang Eko.

Di tahun yang sama, ia mendapatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp 100 juta. Modal yang ia gunakan terutama untuk membeli bahan baku. Biji kopi berkualitas tinggi seperti wine bisa mencapai Rp 10 juta per karung; karena tanpa modal yang cukup, pilihan varietas yang bisa ia tawarkan ke pelanggan sangat terbatas.

KUR bukan sekadar pinjaman. Bagi Mang Eko, ini adalah jembatan antara kapasitas produksi yang ada dengan permintaan pasar yang mulai tumbuh kembali.

Kelas 3 yang Sedang Menggapai Kelas 4

Radinal menyebut bahwa Rumah BUMN dan BRI prinsip yang tegas soal expo internasional. Tidak sembarang UMKM bisa diundang untuk pamer produknya. 

"Tidak mungkin kelas 1 kita terjunkan ke expo skala internasional." Artinya, setiap undangan pameran besar yang difasilitasi Rumah BUMN adalah cermin dari sejauh mana seorang UMKM sudah naik kelas.

Mang Eko saat ini masih tercatat sebagai UMKM Kelas 3 di Rumah BUMN Bandung. Tapi pencapaiannya sudah melampaui batas kelas itu. Ia sudah rutin mengekspor kopi single origin Bandung ke dua kafe di Kuala Lumpur dan Malaka. Ia sudah tampil di panggung Specialty Coffee Expo 2025 di Houston, Texas—ajang kopi spesialti terbesar di dunia, difasilitasi BRI melalui Kantor Perwakilan BRI New York dan KBRI Washington DC. Dari tiga hari di Houston itu, potensi kesepakatan bisnis yang dicatatkan bersama satu UMKM lain mencapai USD 945.000.

Dari 10 kilogram per bulan di awal berdiri, kini di saat sepi sekalipun Cikopi Mang Eko mampu menjual 1 hingga 1,5 ton kopi per bulan. Tiga mesin roasting berputar di tokonya dengan kapasitas teknis hingga enam ton per bulan. Kapasitas yang masih jauh dari terpakai penuh, dan itu berarti ruang ekspansi yang masih sangat besar.

Itulah paradoks yang menarik dari sistem empat kelas ini: seorang UMKM bisa secara administratif berada di Kelas 3, sementara secara praktis ia sudah menjejakkan kaki di Kelas 4. Apa yang membedakan bukan kemampuan, melainkan kelengkapan dokumen, standarisasi proses, dan kesiapan manajerial untuk menanggung konsistensi ekspor dalam jangka panjang.

Dan itu persis yang sedang dikerjakan Mang Eko.

Muchtar Koswara atau yang lebih akrab dipanggil Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Muchtar Koswara atau yang lebih akrab dipanggil Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

“Mudah-mudahan Rumah BUMN di bawah Bank BRI dan acara-acara pelatihan yang sudah dilakukan itu jangan sampai hilang. Saya lihat sekarang dengan manajemen baru, ya, dengan Kang Radinal, kayaknya lebih oke. Saya mengikuti banget soalnya Rumah BUMN ini, mulai dari pelatihannya dan  segala macamnya, sekarang sudah lebih solutif. Mudah-mudahan tetap bisa merangkul dan ikut memberdayakan yang khususnya ada di Kota Bandung,” harapnya.

***

Apa yang terjadi pada Cikopi Mang Eko bukan keberuntungan, dan bukan pula semata kerja keras individual. Semua itu merupakan hasil dari ekosistem yang, ketika semua simpulnya bekerja bersama, benar-benar mampu mengangkat sebuah usaha dari titik hampir bangkrut menuju panggung internasional.

Pertama: Rumah BUMN sebagai ruang belajar dan kurasi. Tidak sekadar memberikan pelatihan, tetapi juga memilihkan UMKM mana yang siap naik ke level berikutnya, dan mendampinginya dengan kurikulum yang terstruktur.

Kedua: KUR BRI sebagai akses permodalan. Bukan pinjaman tanpa arah, tapi modal yang masuk tepat waktu ketika fondasi bisnis sudah cukup kuat untuk menanggungnya.

Ketiga: ekosistem event BRI (dari Brilianpreneur di Jakarta hingga Specialty Coffee Expo di Houston) sebagai jembatan ke pasar yang tidak mungkin dijangkau sendiri oleh seorang pengusaha kopi dari Arcamanik.

Mang Eko sama sekali tidak menyangka bahwa semenjak bergabung jadi anggota Rumah BUMN banyak event BRI yang kemudian bisa ia ikuti. Makin banyak kenalan, kian banyak klien, semakin harum nama brand-nya.

Juga fakta yang tak boleh dilupakan, di balik semua perjalanan UMKM naik kelas itu, ada seorang pria yang pada 2022 hampir menyerahkan usahanya, tapi takdir tidak mengizinkan.

"Cikopi Mang Eko sempat akan dijual. Akan dijual semuanya, termasuk toko online-nya, media sosialnya, dan peralatannya. Hanya saja waktu itu belum ketemu angka yang pas," kenangnya. Kini ia bersyukur tidak pernah ketemu angka itu.

Kini, saat berbicara tentang ekspektasi lima tahun ke depan, Mang Eko sudah punya rencana pensiun. Bukan berhenti bekerja, tetapi jadi petani. Memulai lagi dari hulu, dari tanah, dari biji yang belum disangrai. Dan sebelum itu, masih ada satu kelas lagi yang harus ia naiki. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)