Di Tengah Janji Energi Bersih, Warga Lereng Gunung Cemas Kehilangan Air, Lahan, dan Masa Depan

6 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Dani Setiawan, petani sayur di kaki Gunung Gede Pangrango, menyuarakan kekhawatirannya terhadap proyek geotermal yang dinilai dapat mengancam sumber air, lahan pertanian, dan ruang hidup warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Dani Setiawan, petani sayur di kaki Gunung Gede Pangrango, menyuarakan kekhawatirannya terhadap proyek geotermal yang dinilai dapat mengancam sumber air, lahan pertanian, dan ruang hidup warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Bagi warga yang hidup di lereng gunung, pegunungan bukan sekadar bentang alam yang mereka pandangi setiap hari. Dari sana mengalir air untuk kebutuhan rumah tangga, tumbuh tanaman yang menjadi sumber penghidupan, dan tersimpan harapan agar anak-anak mereka tetap bisa hidup dari tanah yang diwariskan leluhur. Karena itu, ketika proyek panas bumi atau geothermal mulai mendekati kawasan tempat tinggal mereka, yang muncul bukan hanya perdebatan soal energi, melainkan kecemasan tentang masa depan ruang hidup yang selama ini mereka jaga.

Kecemasan itu mengemuka dalam pertemuan warga Jaringan Warga di Kaki Gunung Jawa Bagian Barat di Perpustakaan Bunga di Tembok, Minggu 7 Juni 2026.

Di sela-sela pertemuan, Dani Setiawan (25) mulai menceritakan kondisi pelik di kawasan tempat tinggalnya.

Kabut pagi masih menggantung di lereng Gunung Gede Pangrango ketika Dani memulai harinya sebagai petani. Di kampungnya, Gunung Putri, yang berada di kaki gunung itu, kehidupan berjalan dengan ritme yang nyaris tak berubah selama puluhan tahun. Air mengalir jernih dari mata air pegunungan, sayuran tumbuh subur di lahan pertanian, dan warga menggantungkan hidup sepenuhnya dari tanah yang mereka garap sendiri.

Namun, beberapa tahun terakhir, ketenangan di rumah-rumah warga perlahan terusik. Badai kecemasan itu datang bukan karena gagal panen akibat hama atau cuaca ekstrem, melainkan karena bayang-bayang proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) atau geothermal yang merangkak semakin dekat ke halaman rumah mereka.

“Kalau saya mah hidup dari gunung. Minum dari gunung, ngolah lahan dari gunung, hasilnya juga dari gunung,” ujar Dani.

Dani lahir dan besar di sana. Meski sempat mencoba peruntungan di luar kota, ikatan batin membuat pemuda ini pulang dan memilih menjadi petani sayur. Bersama delapan anggota keluarga yang tinggal serumah, Dani memikul tanggung jawab besar. Gunung baginya bukan sekadar lanskap hijau yang indah saat membuka jendela. Gunung adalah tandon ekonomi dan kepastian isi piring makan keluarganya.

“Kalau enggak ada gunung, kayaknya kita enggak bakal hidup,” katanya.

Dapur yang Menyusut dan Retaknya Kekerabatan

Kecemasan Dani bukan tanpa alasan. Ia mengingat kembali tahun 2020, saat alat-alat berat mulai membuka akses jalur proyek geothermal. Kendati pengeboran belum menyentuh perut bumi dan proyek belum beroperasi sepenuhnya, getaran dampaknya sudah merembet ke urusan dapur rumah tangga.

“Yang paling terasa ekonomi. Menurun,” ujarnya singkat.

Dani membeberkan hitung-hitungan mikro yang pahit. Akibat gangguan aktivitas pembukaan lahan di sekitar kawasan, hasil pertanian sayur keluarganya merosot tajam. Jika sebelumnya mereka bisa menikmati masa panen tiga hingga empat kali dalam setahun, kini hanya dua kali.

“Dulu bisa tiga sampai empat kali panen. Sekarang dua kali,” katanya.

Penghasilan keluarga pun ikut anjlok. Dari yang sebelumnya stabil di angka 100 persen, kini turun menjadi sekitar 90 hingga 83 persen. Di tengah pendapatan yang menyusut itu, biaya kebutuhan pokok justru semakin membebani.

“Kebutuhan rumah tangga yang paling berdampak itu beras. Beras jadi terasa mahal,” keluh Dani.

Bukan hanya urusan perut yang terganggu, proyek energi ini menurutnya perlahan merusak tatanan sosial di kampung. Dani menyaksikan fenomena yang menurutnya menyedihkan: disintegrasi sosial akibat uang kompensasi. Perusahaan mulai menyokong sebagian warga lokal untuk memengaruhi warga lainnya.

Jika sebelumnya masyarakat fokus bergotong royong di kebun, kini hampir 40 hingga 50 persen warga terlibat dalam pusaran pembebasan lahan.

“Banyak yang jadi biong (makelar) tanah. Orang proyek menyokong orang sana, akhirnya warga kita sendiri yang malah mengajak warga lainnya untuk menjual tanahnya,” ungkap Dani dengan nada kecewa.

Fenomena itu membuatnya khawatir. Sebab sedikit demi sedikit, orientasi kampung yang selama ini bertumpu pada pertanian mulai bergeser.

"Kurang lebih hampir separuh warga sudah masuk ke situ," ujarnya.

Meski debit mata air keluarganya belum berubah secara drastis, ketakutan terbesar Dani adalah masa depan jangka panjang.

“Takutnya kemanfaatan tanah hilang, kemanfaatan air hilang, kesejahteraan hilang,” tegas pemuda yang bersumpah tidak akan pernah meninggalkan kampung halamannya demi menjaga warisan leluhur.

“Enggak kepikiran pindah. Kita lahir di sana. Mau ada fasilitas apa pun di luar, tetap pengin menjaga kampung sendiri,” ujarnya mantap.

Trauma Setengah Hektare di Hulu Tampomas

Keresahan serupa juga datang dari lereng Gunung Tampomas, Sumedang. Di usianya yang kini menginjak 63 tahun, Maman Juherman masih mengingat jelas dua bencana longsor yang pernah terjadi di kampung halamannya, Kampung Pentas, Desa Cilangkap, Kecamatan Buahdua.

Memori kelam itu terjadi puluhan tahun lalu. Menurut Maman, longsor pertama dipicu oleh kebakaran hutan hebat di puncak gunung. Sementara longsor kedua terjadi tak lama setelah lereng hijau Tampomas dibabat untuk dijadikan perkebunan tembakau komersial.

Padahal, kenang Maman, lahan hutan yang dibuka saat itu terhitung sangat kecil.

“Hanya sekitar setengah hektare. Kecil sekali,” kata Maman.

Namun dampak dari kerusakan setengah hektare itu sanggup membuat warga satu desa dicekam ketakutan akibat ancaman batu dan lumpur yang meluncur deras dari atas gunung.

Pengalaman traumatis itulah yang membuat bulu kuduk Maman berdiri ketika mendengar kabar bahwa Kementerian ESDM kembali melelang proyek geothermal di Gunung Tampomas setelah sempat ditolak warga beberapa tahun lalu.

“Nah sekarang, kalau geotermal ini jadi, lahannya bisa memakan puluhan hektare kawasan hutan. Saya tidak bisa membayangkan besarnya bencana yang akan terjadi. Ini ancaman keselamatan jiwa bagi masyarakat,” desis Maman.

Belakangan masyarakat kembali resah setelah muncul informasi dari Sekretaris Daerah (Sekda) Sumedang bahwa pemenang tender proyek tersebut sudah diputuskan.

“Makanya masyarakat bangkit lagi. Tetap menolak,” kata Maman.

Sebagai mantan pengelola media massa di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumedang, Maman mengaku memahami motif di balik dorongan pemerintah untuk meloloskan proyek ini meskipun mendapat penolakan warga.

“Ini hanya ambisi dari pihak pemerintah untuk mendapatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Karena yang saya tahu, PAD Kabupaten Sumedang itu minus. Makanya pemerintah berusaha keras meningkatkan PAD dengan menyambut proyek geotermal, tanpa memikirkan dampaknya bagi masyarakat,” cecar Maman.

Bagi Maman, rekayasa teknologi industri secanggih apa pun tidak akan pernah mampu membentengi desa dari longsor dan banjir bandang jika titik pengeboran dipaksakan berada di kawasan suci Puncak Manik.

“Kampung halaman saya, rumah, sawah, dan kebun peninggalan orang tua itu posisinya berada persis di bawah titik pengeboran. Kalau proyek ini dipaksakan jalan, yang hancur bukan cuma tanah warisan, tapi seluruh kehidupan kami,” kata Maman.

Ia meminta pemerintah berpikir jernih dan mencari alternatif pendapatan daerah lain selain merusak gunung.

Ahmad Afif Yusuf, perwakilan warga dari kawasan Gunung Ciremai, menyampaikan keresahan masyarakat pegunungan terhadap rencana pengembangan proyek panas bumi di Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ahmad Afif Yusuf, perwakilan warga dari kawasan Gunung Ciremai, menyampaikan keresahan masyarakat pegunungan terhadap rencana pengembangan proyek panas bumi di Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Hulu Mulai Dilanda Banjir Bandang

Suara lirih dari meja makan keluarga Dani di Gede Pangrango dan ketakutan Maman di Tampomas selaras dengan fakta yang diceritakan Ahmad Afif Yusuf (25), pemuda dari kaki Gunung Ciremai, Kuningan.

Bagi Afif, apa yang dikhawatirkan warga bukan sekadar ketakutan fiktif, melainkan ancaman nyata yang tanda-tandanya mulai muncul di permukaan.

Afif menuturkan bahwa rusaknya benteng resapan di pegunungan akibat pembukaan lahan infrastruktur mulai mengacaukan keselamatan warga di dataran tinggi.

"Tahun kemarin di Kuningan intensitas kerawanan longsor sudah lumayan berat. Bahkan baru-baru ini, di wilayah jalur pendakian Gunung Ciremai yang merupakan dataran tinggi saja sudah mulai banjir bandang. Di kecamatan saya yang masuk area konservasi Taman Nasional pun banjir," ungkap Afif cemas.

Logika sederhana para petani pun terusik. Jika wilayah hulu yang berada di dataran tinggi saja mulai terjangkit banjir bandang dan longsor akibat pembukaan lahan, bagaimana nasib permukiman warga yang berada jauh di bawah kaki gunung?

Kondisi menyusutnya pendapatan petani sayur akibat rusaknya ekosistem pegunungan dinilai Afif sebagai bentuk pengkhianatan terhadap cita-cita besar negara di sektor pangan.

"Negara ini kan selalu berbicara tinggi tentang menginginkan adanya swasembada pangan. Nah, bagaimana swasembada pangan ini bisa terlaksana kalau tanah dan air untuk memproduksi bahan pangan itu sendiri dirusak dan dihilangkan oleh proyek geotermal?" kritik Afif tajam.

Apalagi, menurut analisis warga, Jawa Barat saat ini sebenarnya sudah mengalami surplus pasokan listrik. Memaksakan proyek energi ekstraktif yang mengorbankan hajat hidup masyarakat dinilai hanya akan membebani rakyat.

"Jabar itu sudah surplus listrik. Kalau proyek ini tetap dipaksakan dan nantinya merugi, yang menanggung kan tetap APBN. APBN itu uang dari masyarakat, dari pajak yang dibayar oleh keluarga-keluarga kita. Ujung-ujungnya, rakyat lagi yang dirugikan dua kali: ruang hidupnya rusak, uang pajaknya disedot untuk proyek yang menyengsarakan mereka," cetus Afif.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)