Di Tengah Janji Energi Bersih, Warga Lereng Gunung Cemas Kehilangan Air, Lahan, dan Masa Depan

6 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Rabu 10 Jun 2026, 10:12 WIB
Dani Setiawan, petani sayur di kaki Gunung Gede Pangrango, menyuarakan kekhawatirannya terhadap proyek geotermal yang dinilai dapat mengancam sumber air, lahan pertanian, dan ruang hidup warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Dani Setiawan, petani sayur di kaki Gunung Gede Pangrango, menyuarakan kekhawatirannya terhadap proyek geotermal yang dinilai dapat mengancam sumber air, lahan pertanian, dan ruang hidup warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Bagi warga yang hidup di lereng gunung, pegunungan bukan sekadar bentang alam yang mereka pandangi setiap hari. Dari sana mengalir air untuk kebutuhan rumah tangga, tumbuh tanaman yang menjadi sumber penghidupan, dan tersimpan harapan agar anak-anak mereka tetap bisa hidup dari tanah yang diwariskan leluhur. Karena itu, ketika proyek panas bumi atau geothermal mulai mendekati kawasan tempat tinggal mereka, yang muncul bukan hanya perdebatan soal energi, melainkan kecemasan tentang masa depan ruang hidup yang selama ini mereka jaga.

Kecemasan itu mengemuka dalam pertemuan warga Jaringan Warga di Kaki Gunung Jawa Bagian Barat di Perpustakaan Bunga di Tembok, Minggu 7 Juni 2026.

Di sela-sela pertemuan, Dani Setiawan (25) mulai menceritakan kondisi pelik di kawasan tempat tinggalnya.

Kabut pagi masih menggantung di lereng Gunung Gede Pangrango ketika Dani memulai harinya sebagai petani. Di kampungnya, Gunung Putri, yang berada di kaki gunung itu, kehidupan berjalan dengan ritme yang nyaris tak berubah selama puluhan tahun. Air mengalir jernih dari mata air pegunungan, sayuran tumbuh subur di lahan pertanian, dan warga menggantungkan hidup sepenuhnya dari tanah yang mereka garap sendiri.

Namun, beberapa tahun terakhir, ketenangan di rumah-rumah warga perlahan terusik. Badai kecemasan itu datang bukan karena gagal panen akibat hama atau cuaca ekstrem, melainkan karena bayang-bayang proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) atau geothermal yang merangkak semakin dekat ke halaman rumah mereka.

“Kalau saya mah hidup dari gunung. Minum dari gunung, ngolah lahan dari gunung, hasilnya juga dari gunung,” ujar Dani.

Dani lahir dan besar di sana. Meski sempat mencoba peruntungan di luar kota, ikatan batin membuat pemuda ini pulang dan memilih menjadi petani sayur. Bersama delapan anggota keluarga yang tinggal serumah, Dani memikul tanggung jawab besar. Gunung baginya bukan sekadar lanskap hijau yang indah saat membuka jendela. Gunung adalah tandon ekonomi dan kepastian isi piring makan keluarganya.

“Kalau enggak ada gunung, kayaknya kita enggak bakal hidup,” katanya.

Dapur yang Menyusut dan Retaknya Kekerabatan

Kecemasan Dani bukan tanpa alasan. Ia mengingat kembali tahun 2020, saat alat-alat berat mulai membuka akses jalur proyek geothermal. Kendati pengeboran belum menyentuh perut bumi dan proyek belum beroperasi sepenuhnya, getaran dampaknya sudah merembet ke urusan dapur rumah tangga.

“Yang paling terasa ekonomi. Menurun,” ujarnya singkat.

Dani membeberkan hitung-hitungan mikro yang pahit. Akibat gangguan aktivitas pembukaan lahan di sekitar kawasan, hasil pertanian sayur keluarganya merosot tajam. Jika sebelumnya mereka bisa menikmati masa panen tiga hingga empat kali dalam setahun, kini hanya dua kali.

“Dulu bisa tiga sampai empat kali panen. Sekarang dua kali,” katanya.

Penghasilan keluarga pun ikut anjlok. Dari yang sebelumnya stabil di angka 100 persen, kini turun menjadi sekitar 90 hingga 83 persen. Di tengah pendapatan yang menyusut itu, biaya kebutuhan pokok justru semakin membebani.

“Kebutuhan rumah tangga yang paling berdampak itu beras. Beras jadi terasa mahal,” keluh Dani.

Bukan hanya urusan perut yang terganggu, proyek energi ini menurutnya perlahan merusak tatanan sosial di kampung. Dani menyaksikan fenomena yang menurutnya menyedihkan: disintegrasi sosial akibat uang kompensasi. Perusahaan mulai menyokong sebagian warga lokal untuk memengaruhi warga lainnya.

Jika sebelumnya masyarakat fokus bergotong royong di kebun, kini hampir 40 hingga 50 persen warga terlibat dalam pusaran pembebasan lahan.

“Banyak yang jadi biong (makelar) tanah. Orang proyek menyokong orang sana, akhirnya warga kita sendiri yang malah mengajak warga lainnya untuk menjual tanahnya,” ungkap Dani dengan nada kecewa.

Fenomena itu membuatnya khawatir. Sebab sedikit demi sedikit, orientasi kampung yang selama ini bertumpu pada pertanian mulai bergeser.

"Kurang lebih hampir separuh warga sudah masuk ke situ," ujarnya.

Meski debit mata air keluarganya belum berubah secara drastis, ketakutan terbesar Dani adalah masa depan jangka panjang.

“Takutnya kemanfaatan tanah hilang, kemanfaatan air hilang, kesejahteraan hilang,” tegas pemuda yang bersumpah tidak akan pernah meninggalkan kampung halamannya demi menjaga warisan leluhur.

“Enggak kepikiran pindah. Kita lahir di sana. Mau ada fasilitas apa pun di luar, tetap pengin menjaga kampung sendiri,” ujarnya mantap.

Trauma Setengah Hektare di Hulu Tampomas

Keresahan serupa juga datang dari lereng Gunung Tampomas, Sumedang. Di usianya yang kini menginjak 63 tahun, Maman Juherman masih mengingat jelas dua bencana longsor yang pernah terjadi di kampung halamannya, Kampung Pentas, Desa Cilangkap, Kecamatan Buahdua.

Memori kelam itu terjadi puluhan tahun lalu. Menurut Maman, longsor pertama dipicu oleh kebakaran hutan hebat di puncak gunung. Sementara longsor kedua terjadi tak lama setelah lereng hijau Tampomas dibabat untuk dijadikan perkebunan tembakau komersial.

Padahal, kenang Maman, lahan hutan yang dibuka saat itu terhitung sangat kecil.

“Hanya sekitar setengah hektare. Kecil sekali,” kata Maman.

Namun dampak dari kerusakan setengah hektare itu sanggup membuat warga satu desa dicekam ketakutan akibat ancaman batu dan lumpur yang meluncur deras dari atas gunung.

Pengalaman traumatis itulah yang membuat bulu kuduk Maman berdiri ketika mendengar kabar bahwa Kementerian ESDM kembali melelang proyek geothermal di Gunung Tampomas setelah sempat ditolak warga beberapa tahun lalu.

“Nah sekarang, kalau geotermal ini jadi, lahannya bisa memakan puluhan hektare kawasan hutan. Saya tidak bisa membayangkan besarnya bencana yang akan terjadi. Ini ancaman keselamatan jiwa bagi masyarakat,” desis Maman.

Belakangan masyarakat kembali resah setelah muncul informasi dari Sekretaris Daerah (Sekda) Sumedang bahwa pemenang tender proyek tersebut sudah diputuskan.

“Makanya masyarakat bangkit lagi. Tetap menolak,” kata Maman.

Sebagai mantan pengelola media massa di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumedang, Maman mengaku memahami motif di balik dorongan pemerintah untuk meloloskan proyek ini meskipun mendapat penolakan warga.

“Ini hanya ambisi dari pihak pemerintah untuk mendapatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Karena yang saya tahu, PAD Kabupaten Sumedang itu minus. Makanya pemerintah berusaha keras meningkatkan PAD dengan menyambut proyek geotermal, tanpa memikirkan dampaknya bagi masyarakat,” cecar Maman.

Bagi Maman, rekayasa teknologi industri secanggih apa pun tidak akan pernah mampu membentengi desa dari longsor dan banjir bandang jika titik pengeboran dipaksakan berada di kawasan suci Puncak Manik.

“Kampung halaman saya, rumah, sawah, dan kebun peninggalan orang tua itu posisinya berada persis di bawah titik pengeboran. Kalau proyek ini dipaksakan jalan, yang hancur bukan cuma tanah warisan, tapi seluruh kehidupan kami,” kata Maman.

Ia meminta pemerintah berpikir jernih dan mencari alternatif pendapatan daerah lain selain merusak gunung.

Ahmad Afif Yusuf, perwakilan warga dari kawasan Gunung Ciremai, menyampaikan keresahan masyarakat pegunungan terhadap rencana pengembangan proyek panas bumi di Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ahmad Afif Yusuf, perwakilan warga dari kawasan Gunung Ciremai, menyampaikan keresahan masyarakat pegunungan terhadap rencana pengembangan proyek panas bumi di Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Hulu Mulai Dilanda Banjir Bandang

Suara lirih dari meja makan keluarga Dani di Gede Pangrango dan ketakutan Maman di Tampomas selaras dengan fakta yang diceritakan Ahmad Afif Yusuf (25), pemuda dari kaki Gunung Ciremai, Kuningan.

Bagi Afif, apa yang dikhawatirkan warga bukan sekadar ketakutan fiktif, melainkan ancaman nyata yang tanda-tandanya mulai muncul di permukaan.

Afif menuturkan bahwa rusaknya benteng resapan di pegunungan akibat pembukaan lahan infrastruktur mulai mengacaukan keselamatan warga di dataran tinggi.

"Tahun kemarin di Kuningan intensitas kerawanan longsor sudah lumayan berat. Bahkan baru-baru ini, di wilayah jalur pendakian Gunung Ciremai yang merupakan dataran tinggi saja sudah mulai banjir bandang. Di kecamatan saya yang masuk area konservasi Taman Nasional pun banjir," ungkap Afif cemas.

Logika sederhana para petani pun terusik. Jika wilayah hulu yang berada di dataran tinggi saja mulai terjangkit banjir bandang dan longsor akibat pembukaan lahan, bagaimana nasib permukiman warga yang berada jauh di bawah kaki gunung?

Kondisi menyusutnya pendapatan petani sayur akibat rusaknya ekosistem pegunungan dinilai Afif sebagai bentuk pengkhianatan terhadap cita-cita besar negara di sektor pangan.

"Negara ini kan selalu berbicara tinggi tentang menginginkan adanya swasembada pangan. Nah, bagaimana swasembada pangan ini bisa terlaksana kalau tanah dan air untuk memproduksi bahan pangan itu sendiri dirusak dan dihilangkan oleh proyek geotermal?" kritik Afif tajam.

Apalagi, menurut analisis warga, Jawa Barat saat ini sebenarnya sudah mengalami surplus pasokan listrik. Memaksakan proyek energi ekstraktif yang mengorbankan hajat hidup masyarakat dinilai hanya akan membebani rakyat.

"Jabar itu sudah surplus listrik. Kalau proyek ini tetap dipaksakan dan nantinya merugi, yang menanggung kan tetap APBN. APBN itu uang dari masyarakat, dari pajak yang dibayar oleh keluarga-keluarga kita. Ujung-ujungnya, rakyat lagi yang dirugikan dua kali: ruang hidupnya rusak, uang pajaknya disedot untuk proyek yang menyengsarakan mereka," cetus Afif.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 10 Jun 2026, 12:49

Filosofi Kendi, Animo Pemakaian Tumbler dan Mesin Air Minum Gratis

Kendi adalah ikon sosialisme air minum pada zamannya.

Ilustrasi kendi yang merupakan ikon sosialisme air minum warisan budaya bangsa. (Sumber: Pexels | Foto: Eda Yılmaz)
Sejarah 10 Jun 2026, 12:21

Jelajah Candi-candi di Bandung, Jejak Peradaban Kuno yang yang Hampir Terlupakan

Jejak peninggalan Hindu kuno di Bandung masih bertahan, tetapi kondisi situsnya memerlukan perhatian serius.

Situs Candi Bojongemas di Solokanjeruk Kabupaten Bandung memprihatinkan dan tak terawat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 11:29

Toponimi Lembang (Bagian 1)

Lembang berasal dari bahasa Sunda yaitu “Ngalembang” yang berarti air yang tergenang.

Buku Toponimi Lembang. (Foto: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 10:18

Gedung Juang 45: Transformasi Bangunan Kolonial Menjadi Museum Berbasis Digital

Revitalisasi Gedung Juang 45 Bekasi dari bangunan cagar budaya yang sempat terbengkalai menjadi museum modern berbasis teknologi digital.

Gedung Juang 45 Kota Bekasi (Sumber: bekasikab.go.id | Foto: Situs Pemerintah)
Beranda 10 Jun 2026, 10:12

Di Tengah Janji Energi Bersih, Warga Lereng Gunung Cemas Kehilangan Air, Lahan, dan Masa Depan

Di balik janji energi bersih dari proyek geotermal, warga di sejumlah lereng gunung di Jawa Barat menyuarakan kekhawatiran atas ancaman terhadap sumber air, lahan pertanian, dan ma

Dani Setiawan, petani sayur di kaki Gunung Gede Pangrango, menyuarakan kekhawatirannya terhadap proyek geotermal yang dinilai dapat mengancam sumber air, lahan pertanian, dan ruang hidup warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 09:17

Mengenal Peuyeum sebagai Makanan Tradisional Khas Jawa Barat

Peuyeum sebagai makanan tradisional khas Jawa Barat

Peuyeum Bandung. (Foto: Sofi Putri)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 08:38

Taat Rambu Lalu Lintas adalah Hal Sepele tapi Menyelamatkan Nafas Kehidupan

Satu detik yang menurut kita sepele bisa saja jadi harapan kehidupan bagi orang lain.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 20:22

Pasang Surut Era Trem di Batavia

Transportasi trem di Batavia yang kini sudah tidak ada di Indonesia.

Tram Gondangdia di Batavia. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 16:31

Wisata Candi Borobudur: Panduan Lengkap Tiket, Sunrise, dan Sunset Experience

Panduan lengkap wisata Candi Borobudur 2026, mulai dari harga tiket, kuota naik candi, aturan penggunaan upanat, hingga waktu terbaik untuk berkunjung.

Candi Borobudur. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Biz 09 Jun 2026, 16:27

Kisah para Juara 1 BRIncubator, Konsisten Berdayakan Pekerja Lokal

Program inkubasi bergengsi dari BRI itu setiap tahunnya mengangkat segelintir UMKM ke panggung yang lebih besar.

Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Beranda 09 Jun 2026, 16:05

Bandung Raya di Ambang Krisis Sampah, TPA Sarimukti Diperkirakan Penuh Oktober 2026

TPA Sarimukti diperkirakan penuh pada Oktober 2026, memicu ancaman krisis sampah di Bandung Raya yang masih bergantung pada pembuangan akhir dan minim pengolahan dari sumbernya.

Kendaraan pengangkut sampah terparkir di Jalan Tamansari, Kota Bandung, Rabu 6 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 15:08

Sesat Logika, Tantangan dalam Berbahasa

Transformasi digital telah membuka ruang publik semakin luas, tetapi membawa dampak pada kerusakan bahasa akibat kesalahan-kesalahan penafsiran masyarakat

Ilustrasi rak buku. (Sumber: Pexels | Foto: Yazid N)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 14:21

Sedia Payung sebelum Perusahaan Melakukan Pengrumahan Sementara hingga Tutup Permanen

Secara hukum lock out merupakan hak pengusaha untuk menolak pekerja masuk dalam rangka perselisihan industrial, namun pelaksanaannya wajib mematuhi aturan hukum yang berlaku.

Ilustrasi penutupan perusahaan atau lock out. (Sumber: Meta AI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 13:28

Dari Tambang ke Kanvas: Jejak Warna Biru dari Timur

Warna biru punya sejarah panjang yang dimulai dari ketiadaan, mari kita lihat perjalanannya.

Lapis Lazuli (Sumber: WikiMedia | Foto: Hannes Grobe)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 13:02

#NowForClimate: Bersepeda sebagai Aksi Nyata untuk Masa Depan yang Lebih Hijau

#NowForClimate mengingatkan bahwa aksi iklim dapat dimulai dari pilihan moda transportasi sehari-hari.

Dampak global jika semua orang di dunia bersepeda sebanyak rata-rata orang Denmark dan Belanda. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 11:03

Mabrur, Kabur, dan Syukur

Boneka unta yang dipeluk kakek bukan sekadar cendera mata. Melainkan bahasa kasih sayang yang sederhana.

Oleh-oleh haji dan umrah di salah satu toko kawasan Pasar Baru Trade Center, Jalan Otto Iskandar Dinata, Kota Bandung, Jumat 29 Mei 2026 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 09 Jun 2026, 10:38

Petisi Warga Empat Lereng Gunung untuk Gubernur Dedi Mulyadi

Kalau beliau mengajak masyarakat menjaga gunung dan lingkungan, maka kami juga mengajak beliau untuk konsisten terhadap apa yang sudah disampaikan

Perwakilan warga lerenng Gunung Ciremai, Gede Pangrango, Tampomas, dan Halimun saat membacakan petisi untuk Gubernur Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 10:32

Gunung Gede Pangrango, Antara Keindahan Alam dan Ancaman Eksploitasi Panas Bumi

Pesona Gunung Gede Pangrango berpadu dengan perdebatan antara kebutuhan listrik dan pelestarian alam.

Puncak Gunung Gede Pangrango. (Sumber: Wikimedia)
Linimasa 09 Jun 2026, 09:53

Jejak Becak, GPS Kota Bandung yang Terpinggirkan

Kisah tukang becak Bandung yang dulu jadi penunjuk jalan, kini bertahan di tengah gempuran transportasi modern.

Becak yang dulu sempat berjaya kini semakin terpinggirkan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)