Stamp Hunting di Kota Kembang: Fenomena Demam “Museum Passport” dan Candu Baru Kaum Metropolis Bandung

8 menit baca
Maya Maulyda
Ditulis oleh Maya Maulyda diterbitkan
Para Stamp Hunter Peserta Komunitas Cerita Bunda Lintas Generasi Berfoto di Museum KAA (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Para Stamp Hunter Peserta Komunitas Cerita Bunda Lintas Generasi Berfoto di Museum KAA (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)

Siapa sangka selembar kertas dan ketukan tinta bisa memicu adrenalin sedahsyat ini? Di Jakarta, demam stamp hunting sudah lebih dulu meledak. Pemicunya adalah rilisan Museum Passport dari Indonesian Heritage Agency yang langsung memicu fenomena war sengit di website resmi maupun rak-rak toko buku Gramedia. Mendapatkan buku paspor itu susahnya setengah mati, seperti berebut tiket konser!

Gregetnya makin menjadi-jadi saat momen HUT Jakarta ke-499 pada 22 Juni 2026. Berkat tarif transportasi umum Rp1 dan akses masuk museum gratis di tengah musim liburan sekolah, warga Jakarta, bahkan pelancong dari Jabodetabek dan Bandung, berbondong-bondong menyerbu museum-museum di bawah naungan Indonesian Heritage Agency serta kawasan Kota Tua Jakarta. Museum-museum tua yang merupakan bangunan peninggalan Belanda yang biasanya sepi mendadak dipadati antrean mengular, bersolek megah dengan sentuhan teknologi immersive dan media interaktif digital.

Kini, histeria berburu stempel itu menular dan menjangkiti Kota Bandung! Bukan cuma dari museum ke museum, tren ini bahkan meluas menjadi kolaborasi seru antar-brand lokal. Pada Sabtu, 18 Juli 2026, saya bersama rombongan Komunitas Cerita Bunda untuk membuktikannya langsung.

Harapan kedepannya, ekosistem transportasi kita seperti PT KAI dan KCIC Whoosh bisa segera menyediakan stempel ikonik di tiap stasiun untuk memanjakan para stamp hunter. Bagi toko-toko retail, jangan pernah alergi atau risih saat ada orang datang sekadar meminta stempel. Aktivitas ini justru menjadi magnet yang mendatangkan keramaian massa. Dari yang awalnya cuma ingin menstempel buku jurnal, ujung-ujungnya pasti tergoda untuk jajan dan berbelanja!

Menelusuri Sejarah Stamp Hunting: Dari Tradisi Eki-Stamp Jepang hingga Tren Metropolis Global

Berdasarkan sumber berita dari nationalgeographic.com yang ditulis oleh Kate Crockett dan dirilis pada tanggal 12 April 2025, aktivitas mengoleksi stempel di lokasi wisata sebenarnya memiliki akar sejarah yang panjang di dunia. Konsep stamp hunting di ruang publik ini awalnya dipopulerkan di Jepang pada tahun 1931 dengan sebutan Eki-Stamp (stempel stasiun). Dimulai dari Stasiun Kereta Api Fukui, pihak kereta api memasang stempel unik sebagai bukti ikonik bahwa pelancong telah mengunjungi kota tersebut. Tradisi ini kemudian meluas ke kuil-kuil (Goshuinchou), taman nasional, hingga museum di seluruh dunia, termasuk diadopsi oleh negara-negara Eropa seperti Jerman dan Belanda.

Foto 2 Koleksi Stempel Stasiun KA Jepang (Eki Stamps)                                                                          Biasanya Dapat Ditemukan di Luar Gerbang Tiket Utama Stasiun (Sumber: Facebook Stamp Rally Community 7 February 2025 | Foto: Joey Tran)
Foto 2 Koleksi Stempel Stasiun KA Jepang (Eki Stamps) Biasanya Dapat Ditemukan di Luar Gerbang Tiket Utama Stasiun (Sumber: Facebook Stamp Rally Community 7 February 2025 | Foto: Joey Tran)

Di tengah kehidupan masyarakat metropolis yang serba digital, kilat, dan kadang menjenuhkan, stamp hunting menawarkan vibes analog yang menyenangkan. Aktivitas ini memberikan kepuasan psikologis tersendiri bagi masyarakat urban. Mengunjungi museum bukan lagi sekadar melihat-lihat lalu pulang, melainkan sebuah petualangan berburu pengalaman. Setiap goresan tinta stempel di dalam buku jurnal atau Museum Passport menjadi bukti fisik kehadiran, pencapaian, sekaligus memorabilia personal yang tidak bisa digantikan oleh foto digital di media sosial.

Rute Rally "Stamp Hunting" Komunitas Cerita Bunda

  • Museum Konperensi Asia Afrika (KAA)

Jalan Asia Afrika No.65, Braga, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung.

Pukul 08.30 WIB, rombongan kami sudah bersiap di titik kumpul. Kami beruntung menjadi 20 orang pertama yang masuk begitu pintu gerbang dibuka pukul 09.00 WIB! Masuknya gratis, cukup dengan menunjukkan bukti booking form pesanan yang sudah kami amankan beberapa hari sebelumnya. Sebelum melangkah masuk, saya sebagai pemandu hari ini membuka kegiatan dengan perkenalan, sesi dokumentasi dan doa bersama. Wah, ternyata Museum KAA ini keren sekali! Setelah masuk kami dibagikan lembaran khusus stempel yang sudah di-desain lengkap dengan penjelasan 7 stempel sejarah KAA plus 2 stempel tambahan, jadi ada 9 stempel disini. Kami ikut mengantre stempel Museum Passport di sini, melihat isi koleksi, dan ditutup dengan sesi foto bersama di podium utama.

  •  Graha Pos Indonesia

Jalan Banda No. 30, Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung.

Di sini, kami membeli prangko asli untuk kemudian dicap langsung di buku jurnal masing-masing. Bapak petugas yang berjualan sampai terheran-heran sekaligus kagum melihat rombongan ibu-ibu dan bapak-bapak yang datang beramai-ramai. "Jarang ada yang begini, hebat!" katanya sambil mengacungkan jempol, sembari curhat kalau hari-hari biasa tempat tersebut cenderung sepi.

  • Museum Gedung Sate

Jalan Diponegoro No.22, Citarum, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung.

Cukup membayar tiket masuk sebesar Rp5.000, kami langsung menjelajahi museum yang sudah dikelola sangat modern dan jauh dari kesan membosankan ini. Kami membeli stiker Gedung Sate untuk tambahan koleksi jurnal dan mendapatkan 1 cap stempel utama. Setelah puas keliling di dalam dan sempat berpapasan dengan rombongan turis asing, kami bergeser ke toko kopi yang ada di area museum. Iseng-iseng kami bertanya apakah mereka punya stempel toko, dan barista yang ramah langsung memberikan capnya kepada kami!

  • Museum Pos Indonesia

Jalan Cilaki No. 73, Kelurahan Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung.

Terletak persis di dekat Gedung Sate, museum ini bisa diakses secara gratis. Menyimpan cerita detail yang sempat saya ulas di artikel sebelumnya, kami sukses mengamankan 1 stempel klasik di sini.

  •  Museum Geologi

Jalan Diponegoro No. 57, Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung.

Kami langsung mengisi form kunjungan di tempat dan membeli tiket seharga Rp5.000 yang ditukar dengan gelang kertas penanda masuk. Museum ini sangat asyik, interaktif, dan tidak membosankan. Kami mengamankan 1 stempel ikonik. Serunya lagi, di hari-hari tertentu mereka juga kerap menggelar program "Malam Museum" bagi yang ingin merasakan sensasi menjelajah sejarah di malam Minggu.

  •  Museum ITB

Jl. Tamansari No. 73, Lantai 4 Gedung Sasana Budaya Ganesha ITB, Kota Bandung.

Awalnya kami berencana menuju Monumen Perjuangan (Monju), namun waktu sudah sangat mepet karena kami harus mengejar slot masuk di Museum ITB jam 13.00 WIB yang sudah kami booking jauh-jauh hari. Setelah menunaikan ibadah shalat di lingkungan Museum Geologi, kami bergegas lari-lari kecil untuk makan siang di seputaran Jalan Cisangkuy demi mengisi perut yang keroncongan setelah lelah berlarian mengejar stempel. Selanjutnya kami segera beranjak ke Museum ITB.

Setibanya kami di kawasan Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), suasana antusiasme sudah terasa. Saat ini, Museum ITB memang belum dibuka secara resmi untuk umum, akses masuknya masih terbatas dan digratiskan khusus bagi alumni serta keluarga besar ITB saja. Begitu melangkah masuk, kami langsung dibuat takjub! Museum ini tampil luar biasa keren dan modern, terutama berkat kehadiran fasilitas 360° Dome Theatre yang menghadirkan pengalaman imersif yang memadukan teknologi dan narasi sejarah.

Menyaksikan tayangan visual yang melingkari seluruh sudut ruangan memberikan sensasi sinematik yang futuristik, meskipun sayang sekali durasi pemutarannya terasa sangat singkat. Beruntung, antrean saat kami datang belum terlalu panjang. Namun, kami sempat menyayangkan area lorong antriannya yang terbilang cukup sempit. Jika nanti museum ini sudah resmi dibuka untuk masyarakat umum, sudut ini dipastikan akan sangat padat dan penuh sesak karena daya tariknya yang luar biasa.

Di sini, koleksi kami resmi bertambah dengan 1 stempel eksklusif ITB. Tak hanya itu, mata kami juga dimanjakan oleh deretan merchandise yang sangat menarik, terutama produk kartu pos (postcard) dan stiker estetiknya. Tanpa pikir panjang, kami langsung membeli kartu pos tersebut, dan asyiknya lagi, kartu pos yang kami beli boleh ikut dibubuhi stempel resmi Museum ITB sebagai memorabilia yang manis!

Foto 3 Hasil Stamp Hunting Museum to Museum (Sumber: Pribadi | Foto: Maya Maulyda)
Foto 3 Hasil Stamp Hunting Museum to Museum (Sumber: Pribadi | Foto: Maya Maulyda)

Berburu Stempel ke Brand Retail Lokal: Dari Kebingungan Jadi Ketertarikan

Tepat pukul 15.00 WIB, acara resmi kami tutup karena sebagian anggota rombongan harus segera pulang. Namun, petualangan belum benar-benar usai bagi kami yang masih tersisa. Kami memutuskan untuk lanjut jajan sore menyisir beberapa brand komersial yang cerdik memanfaatkan tren ini.

Lucunya, saat kami mampir ke toko-toko ini dan bertanya, "Kak, di sini ada stempel toko enggak?", para staf toko sempat kebingungan dan balik bertanya penuh heran, "Hah? AdaFoto 3 Hasil Stamp Hunting Museum to Museum (Sumber: Pribadi | Foto: Maya Maulyda) stempel... tapi buat apa, ya?"

Sambil tersenyum, kami langsung memperlihatkan buku jurnal dan Museum Passport kami yang sudah penuh dengan ketukan tinta estetik. Begitu melihat deretan stempel warna-warni yang menggemaskan itu, ekspresi bingung mereka langsung berubah jadi takjub! "Waah, unik banget! Boleh-boleh, ini silakan distempel!" seru mereka dengan antusias. Interaksi spontan ini benar-benar seru dan menghidupkan suasana perjalanan kami:

  • Toko Bolen Mayasari

Jl. Siliwangi No. 1, Lebak Siliwangi, Kecamatan Coblong, Kota Bandung.

Toko kue legendaris ini ternyata sedang mengadakan event seru bertajuk Bandung Treasure Hunt di cabang-cabangnya. Caranya mudah, cukup belanja produk mereka, lalu kita bisa menebus gantungan kunci seharga Rp10.000 yang bisa ditempel patch koleksi, plus mendapatkan bonus makanan ringan dan 1 stempel toko. Di sana juga ada konter es krim cup Gelato yang punya 1 stempel lucu, jadi langsung kami sikat sekalian!

  •  Toko Scentsored Perfumery

Jalan Diponegoro No. 3a, Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung.

Toko parfum estetik ini menyuguhkan pengalaman unik. Selain bisa mengamankan 1 stempel toko untuk jurnal, kami juga disuguhi aktivitas seru meracik dan mendesain aroma parfum personal sesuai dengan kepribadian masing-masing.

  • Toko Gramedia Merdeka

Jalan Merdeka No. 43, Babakan Ciamis, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung.

Titik pamungkas kami hari ini. Kami mampir untuk membeli perintilan untuk jurnaling. Berbeda dengan di Jakarta yang ludes, stok buku Museum Passport di Gramedia Merdeka ini untungnya masih relatif aman. Pilihan warna ribbon (pink) masih banyak tersedia, sementara varian warna periwinkle (lilac) dan sunset coral (jingga) sudah ludes terjual karena jadi rebutan. Tak lupa, kami meminta 1 stempel resmi dari Gramedia sebagai penutup.

Petualangan satu hari kemarin tentu baru menyentuh sebagian kecil dari kekayaan sejarah Kota Kembang. Bagi para stamp hunter lain—atau untuk agenda jalan-jalan Komunitas Cerita Bunda berikutnya—masih ada sederet museum di Bandung yang wajib dikunjungi untuk dilihat koleksinya, dicek dan diburu koleksi stempelnya.

Foto 4 Hasil Stamp Dalam Buku Jurnal Milik Salah Satu Anggota Komunitas Cerita Bunda (Sumber: Kuchiwalang Art | Foto: Ratna Lia)
Foto 4 Hasil Stamp Dalam Buku Jurnal Milik Salah Satu Anggota Komunitas Cerita Bunda (Sumber: Kuchiwalang Art | Foto: Ratna Lia)

Akhir Kata: Jurnal Penuh, Hati Puas!

Perjalanan seharian penuh peluh dari museum hingga ke toko parfum membuktikan satu hal: stamp hunting telah sukses mengubah lanskap wisata urban di Bandung. Aktivitas ini berhasil mengawinkan edukasi sejarah yang bernilai tinggi dengan keseruan gaya hidup metropolis yang estetik. Ketukan stempel di atas lembar kertas bukan lagi sekadar tinta mati, melainkan sebuah prasasti visual yang menegaskan bahwa "Saya pernah berada di sini, dan saya merayakan sejarah ini."

Jadi, tunggu apa lagi? Ambil buku jurnalmu, pakai sepatu ternyamanmu, dan mari kita penuhi tiap halamannya dengan jejak-jejak petualangan di mana pun, khususnya di Kota Kembang! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Maya Maulyda
Tentang Maya Maulyda
Penikmat wisata sejarah dan walking tour

News Update

Ayo Netizen 25 Jul 2026, 21:02

Stamp Hunting di Kota Kembang: Fenomena Demam “Museum Passport” dan Candu Baru Kaum Metropolis Bandung

Siapa sangka selembar kertas dan ketukan tinta bisa memicu adrenalin sedahsyat ini? Di Jakarta, demam stamp hunting sudah lebih dulu meledak. Sekarang fenomenanya menular ke Kota Bandung.

Para Stamp Hunter Peserta Komunitas Cerita Bunda Lintas Generasi Berfoto di Museum KAA (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 19:06

Ketika Pelajar Diminta Pulang Cepat, Apakah Bandung Menjadi Lebih Aman?

Jika seorang pelajar dianggap aman hanya karena berada di rumah setelah pukul 21.00, lalu bagaimana dengan keamanan kota setelah jam itu?

Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)
Linimasa 24 Jul 2026, 18:41

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari

Seni ukir kayu menjadi cara warga Kampung Bunisakti, Arjasari, memperkenalkan daerahnya. Beragam ukiran bernilai seni diproduksi dengan teknik khas.

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 18:33

5 'Warung' Sarapan di Pilihan Bandung, dari Kedai Legendaris hingga Hidden Gem

Jelajahi 5 kedai sarapan favorit di Bandung dengan pilihan menu rumahan, panorama asri, hingga hidden gem yang cocok untuk memulai hari.

Sajian di Sepiring Pagi.
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 17:15

Di Balik Kampanye Digital Jakarta International Marathon 2025: Analisis Merek Air Mineral Nasional

Membedah hal-hal yang tidak terlihat di balik kampanye digital.

Ilustrasi. (Sumber: AI)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 16:18

Pesta Kesenian Bali sebagai Bukti Apresiasi Seni yang Perlu Ditularkan ke Provinsi Lain

Ketika suatu festival seni dapat memberi inspirasi bagi daerah lain.

Pertunjukan Pesta Kesenian Bali tahun 2026 (Sumber: Youtube: Disbud Prov. Bali)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:27

Mega Korupsi Era 90-an Skandal Bapindo dan Eddy Tansil Mengguncang Indonesia

Pengusaha bernama lengkap Edy Tansil (Tan Tjoa Ing) dituntut hukuman penjara seumur hidup serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp800 miliar.

Surat kabar Bandung Pos edisi akhir Juli 1994 yang menampilkan berita utama mengenai kasus mega korupsi Eddy Tansil. (Sumber: Foto dan koleksi surat kabar Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:10

Modernisasi Berkebaya yang Berbudaya

Tidak dapat ditawar lagi dengan berkebaya. Kebaya sudah menjadi identitas yang sangat penting bagi Indonesia.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 14:17

Telusur Arca Derenten: Ikonografi Durga-Agastya, Omon-Omon dari Kebun Binatang ke Museum Kota

Pengejawantahan arkeolog sebagai 'detektif masa lalu': mengkaji ikonografi Arca batu, menelusuri jejak hilangnya, hingga mengurai urgensi lembaga Museum Kota

Pintu masuk kebun binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 13:40

Pentingnya Patuh Minum Obat Hipertensi: Penyuluhan Mahasiswa PKPA UMB di Puskesmas Cibiru

Kegiatan kolaborasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan praktisi fasilitas pelayanan kesehatan di puskesmas dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien di puskesmas cibiru.

Mahasiswa PKPA Universitas Muhammadiyah Bandung sedang melaksanakan Penyuluhan di Puskesmas Cibiru. Kamis (23/6/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Indri Wahyuni A)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 13:22

Lontong Goreng Gasibu, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Gedung Sate Bandung

Cari sarapan enak di Bandung? Lontong Goreng Gasibu menawarkan lontong goreng hangat dan tahu Sumedang dengan harga mulai Rp4.000 di kawasan Lapangan Gasibu.

Lontong Goreng Gasibu. (Sumber: Instagram @hayulahgaskeun)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 10:22

Sate, Sang Mahakarya Kuliner Nusantara: Dari Warisan Budaya hingga Diplomasi Rasa Dunia

Indonesia boleh dibilang merupakan "Negeri Seribu Sate".

Pedagang sate. (Sumber: Pexels | Foto: nourrie zein)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 07:55

Kesantunan Berdigital bagi Anak

Kecerdasan buatan tidak boleh membatasi proses tumbuh kembang anak.

Orang tua dan anaknya. (Sumber: Pexels/Lgh_9)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 19:42

Gunung Alit Telah Lahir di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu

Gunung Alit ini lahir di sisi utara Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu.

Gunung Alit lahir di dalam Kawah Ratu pascaletusan Juli–Agustus 2019. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 18:02

Serunya Belajar di Alam Bebas

Pendidikan terbaik bukan selalu tentang seberapa cepat anak mampu membaca, menulis, berhitung. Melainkan ketika anak tumbuh menjadi manusia yang rasa ingin tahunya tetap hidup, hatinya tetap lembut

Asyiknya Kakang naik Bebek Gowes di Pondok Tandang Bakti Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Ahad (31/5/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 17:00

Hari Anak Nasional: Kenalkan Proses Kreatif Sejak Dini Lewat Program Little Creator

Kreativitas di segala bidang kehidupan adalah kunci masa depan anak.

Program Kreator Cilik yang diselenggarakan oleh Omochatoys menekankan proses kreatif sejak usia dini (Foto: dok Omochatoys)
Wisata & Kuliner 23 Jul 2026, 16:22

Wahana Pilihan TMII, dari Kereta Gantung hingga Drone Show Gratis

Rencanakan kunjungan ke TMII dengan panduan wahana terbaik, lengkap dengan tiket, museum pilihan, Jagat Satwa Nusantara, dan tips berkunjung hemat.

Museum Indonesia TMII. (Sumber: TMII)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 16:21

Hari Anak Nasional: Sudahkah Anak-Anak Indonesia Merdeka?

Apakah anak-anak layak dikatakan sudah merdeka? jika rasa aman, nyaman dan hak-hak dasar dalam hidup mereka belum sepenuhnya bisa ditunaikan.

Seorang anak sekolah di Aceh yang menyebrangi jembatan tali menuju sekolah. (Sumber: Generated AI (Terinspirasi dari Video Asli di Aceh))
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 15:11

Hari Anak Nasional Menjadi Momen Tumbuhnya Generasi Kuat dan Cerdas

Seharusnya peringatan Hari Anak Nasional dijadikan momentum penting untuk membangun anak-anak yang kuat dan cerdas.

Butuh kerjasama dan partisipasi dari berbagai pihak dalam rangka mewujudkan pendidikan terbaik bagi anak-anak negeri ini. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 14:39

Ketika Kritik Tenggelam dalam Kebisingan

Status quo tidak selalu bertahan karena kritik dibungkam, tetapi karena perhatian kita terlalu mudah dialihkan.

Sebuah pagelaran seni dog-dog di tengah sebuah aksi. (Foto: Dokumen pribadi)