Siapa sangka selembar kertas dan ketukan tinta bisa memicu adrenalin sedahsyat ini? Di Jakarta, demam stamp hunting sudah lebih dulu meledak. Pemicunya adalah rilisan Museum Passport dari Indonesian Heritage Agency yang langsung memicu fenomena war sengit di website resmi maupun rak-rak toko buku Gramedia. Mendapatkan buku paspor itu susahnya setengah mati, seperti berebut tiket konser!
Gregetnya makin menjadi-jadi saat momen HUT Jakarta ke-499 pada 22 Juni 2026. Berkat tarif transportasi umum Rp1 dan akses masuk museum gratis di tengah musim liburan sekolah, warga Jakarta, bahkan pelancong dari Jabodetabek dan Bandung, berbondong-bondong menyerbu museum-museum di bawah naungan Indonesian Heritage Agency serta kawasan Kota Tua Jakarta. Museum-museum tua yang merupakan bangunan peninggalan Belanda yang biasanya sepi mendadak dipadati antrean mengular, bersolek megah dengan sentuhan teknologi immersive dan media interaktif digital.
Kini, histeria berburu stempel itu menular dan menjangkiti Kota Bandung! Bukan cuma dari museum ke museum, tren ini bahkan meluas menjadi kolaborasi seru antar-brand lokal. Pada Sabtu, 18 Juli 2026, saya bersama rombongan Komunitas Cerita Bunda untuk membuktikannya langsung.
Harapan kedepannya, ekosistem transportasi kita seperti PT KAI dan KCIC Whoosh bisa segera menyediakan stempel ikonik di tiap stasiun untuk memanjakan para stamp hunter. Bagi toko-toko retail, jangan pernah alergi atau risih saat ada orang datang sekadar meminta stempel. Aktivitas ini justru menjadi magnet yang mendatangkan keramaian massa. Dari yang awalnya cuma ingin menstempel buku jurnal, ujung-ujungnya pasti tergoda untuk jajan dan berbelanja!
Menelusuri Sejarah Stamp Hunting: Dari Tradisi Eki-Stamp Jepang hingga Tren Metropolis Global
Berdasarkan sumber berita dari nationalgeographic.com yang ditulis oleh Kate Crockett dan dirilis pada tanggal 12 April 2025, aktivitas mengoleksi stempel di lokasi wisata sebenarnya memiliki akar sejarah yang panjang di dunia. Konsep stamp hunting di ruang publik ini awalnya dipopulerkan di Jepang pada tahun 1931 dengan sebutan Eki-Stamp (stempel stasiun). Dimulai dari Stasiun Kereta Api Fukui, pihak kereta api memasang stempel unik sebagai bukti ikonik bahwa pelancong telah mengunjungi kota tersebut. Tradisi ini kemudian meluas ke kuil-kuil (Goshuinchou), taman nasional, hingga museum di seluruh dunia, termasuk diadopsi oleh negara-negara Eropa seperti Jerman dan Belanda.

Di tengah kehidupan masyarakat metropolis yang serba digital, kilat, dan kadang menjenuhkan, stamp hunting menawarkan vibes analog yang menyenangkan. Aktivitas ini memberikan kepuasan psikologis tersendiri bagi masyarakat urban. Mengunjungi museum bukan lagi sekadar melihat-lihat lalu pulang, melainkan sebuah petualangan berburu pengalaman. Setiap goresan tinta stempel di dalam buku jurnal atau Museum Passport menjadi bukti fisik kehadiran, pencapaian, sekaligus memorabilia personal yang tidak bisa digantikan oleh foto digital di media sosial.
Rute Rally "Stamp Hunting" Komunitas Cerita Bunda
- Museum Konperensi Asia Afrika (KAA)
Jalan Asia Afrika No.65, Braga, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung.
Pukul 08.30 WIB, rombongan kami sudah bersiap di titik kumpul. Kami beruntung menjadi 20 orang pertama yang masuk begitu pintu gerbang dibuka pukul 09.00 WIB! Masuknya gratis, cukup dengan menunjukkan bukti booking form pesanan yang sudah kami amankan beberapa hari sebelumnya. Sebelum melangkah masuk, saya sebagai pemandu hari ini membuka kegiatan dengan perkenalan, sesi dokumentasi dan doa bersama. Wah, ternyata Museum KAA ini keren sekali! Setelah masuk kami dibagikan lembaran khusus stempel yang sudah di-desain lengkap dengan penjelasan 7 stempel sejarah KAA plus 2 stempel tambahan, jadi ada 9 stempel disini. Kami ikut mengantre stempel Museum Passport di sini, melihat isi koleksi, dan ditutup dengan sesi foto bersama di podium utama.
Graha Pos Indonesia
Jalan Banda No. 30, Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung.
Di sini, kami membeli prangko asli untuk kemudian dicap langsung di buku jurnal masing-masing. Bapak petugas yang berjualan sampai terheran-heran sekaligus kagum melihat rombongan ibu-ibu dan bapak-bapak yang datang beramai-ramai. "Jarang ada yang begini, hebat!" katanya sambil mengacungkan jempol, sembari curhat kalau hari-hari biasa tempat tersebut cenderung sepi.
Museum Gedung Sate
Jalan Diponegoro No.22, Citarum, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung.
Cukup membayar tiket masuk sebesar Rp5.000, kami langsung menjelajahi museum yang sudah dikelola sangat modern dan jauh dari kesan membosankan ini. Kami membeli stiker Gedung Sate untuk tambahan koleksi jurnal dan mendapatkan 1 cap stempel utama. Setelah puas keliling di dalam dan sempat berpapasan dengan rombongan turis asing, kami bergeser ke toko kopi yang ada di area museum. Iseng-iseng kami bertanya apakah mereka punya stempel toko, dan barista yang ramah langsung memberikan capnya kepada kami!
Museum Pos Indonesia
Jalan Cilaki No. 73, Kelurahan Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung.
Terletak persis di dekat Gedung Sate, museum ini bisa diakses secara gratis. Menyimpan cerita detail yang sempat saya ulas di artikel sebelumnya, kami sukses mengamankan 1 stempel klasik di sini.
Museum Geologi
Jalan Diponegoro No. 57, Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung.
Kami langsung mengisi form kunjungan di tempat dan membeli tiket seharga Rp5.000 yang ditukar dengan gelang kertas penanda masuk. Museum ini sangat asyik, interaktif, dan tidak membosankan. Kami mengamankan 1 stempel ikonik. Serunya lagi, di hari-hari tertentu mereka juga kerap menggelar program "Malam Museum" bagi yang ingin merasakan sensasi menjelajah sejarah di malam Minggu.
Museum ITB
Jl. Tamansari No. 73, Lantai 4 Gedung Sasana Budaya Ganesha ITB, Kota Bandung.
Awalnya kami berencana menuju Monumen Perjuangan (Monju), namun waktu sudah sangat mepet karena kami harus mengejar slot masuk di Museum ITB jam 13.00 WIB yang sudah kami booking jauh-jauh hari. Setelah menunaikan ibadah shalat di lingkungan Museum Geologi, kami bergegas lari-lari kecil untuk makan siang di seputaran Jalan Cisangkuy demi mengisi perut yang keroncongan setelah lelah berlarian mengejar stempel. Selanjutnya kami segera beranjak ke Museum ITB.
Setibanya kami di kawasan Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), suasana antusiasme sudah terasa. Saat ini, Museum ITB memang belum dibuka secara resmi untuk umum, akses masuknya masih terbatas dan digratiskan khusus bagi alumni serta keluarga besar ITB saja. Begitu melangkah masuk, kami langsung dibuat takjub! Museum ini tampil luar biasa keren dan modern, terutama berkat kehadiran fasilitas 360° Dome Theatre yang menghadirkan pengalaman imersif yang memadukan teknologi dan narasi sejarah.
Menyaksikan tayangan visual yang melingkari seluruh sudut ruangan memberikan sensasi sinematik yang futuristik, meskipun sayang sekali durasi pemutarannya terasa sangat singkat. Beruntung, antrean saat kami datang belum terlalu panjang. Namun, kami sempat menyayangkan area lorong antriannya yang terbilang cukup sempit. Jika nanti museum ini sudah resmi dibuka untuk masyarakat umum, sudut ini dipastikan akan sangat padat dan penuh sesak karena daya tariknya yang luar biasa.
Di sini, koleksi kami resmi bertambah dengan 1 stempel eksklusif ITB. Tak hanya itu, mata kami juga dimanjakan oleh deretan merchandise yang sangat menarik, terutama produk kartu pos (postcard) dan stiker estetiknya. Tanpa pikir panjang, kami langsung membeli kartu pos tersebut, dan asyiknya lagi, kartu pos yang kami beli boleh ikut dibubuhi stempel resmi Museum ITB sebagai memorabilia yang manis!

Berburu Stempel ke Brand Retail Lokal: Dari Kebingungan Jadi Ketertarikan
Tepat pukul 15.00 WIB, acara resmi kami tutup karena sebagian anggota rombongan harus segera pulang. Namun, petualangan belum benar-benar usai bagi kami yang masih tersisa. Kami memutuskan untuk lanjut jajan sore menyisir beberapa brand komersial yang cerdik memanfaatkan tren ini.
Lucunya, saat kami mampir ke toko-toko ini dan bertanya, "Kak, di sini ada stempel toko enggak?", para staf toko sempat kebingungan dan balik bertanya penuh heran, "Hah? AdaFoto 3 Hasil Stamp Hunting Museum to Museum (Sumber: Pribadi | Foto: Maya Maulyda) stempel... tapi buat apa, ya?"
Sambil tersenyum, kami langsung memperlihatkan buku jurnal dan Museum Passport kami yang sudah penuh dengan ketukan tinta estetik. Begitu melihat deretan stempel warna-warni yang menggemaskan itu, ekspresi bingung mereka langsung berubah jadi takjub! "Waah, unik banget! Boleh-boleh, ini silakan distempel!" seru mereka dengan antusias. Interaksi spontan ini benar-benar seru dan menghidupkan suasana perjalanan kami:
- Toko Bolen Mayasari
Jl. Siliwangi No. 1, Lebak Siliwangi, Kecamatan Coblong, Kota Bandung.
Toko kue legendaris ini ternyata sedang mengadakan event seru bertajuk Bandung Treasure Hunt di cabang-cabangnya. Caranya mudah, cukup belanja produk mereka, lalu kita bisa menebus gantungan kunci seharga Rp10.000 yang bisa ditempel patch koleksi, plus mendapatkan bonus makanan ringan dan 1 stempel toko. Di sana juga ada konter es krim cup Gelato yang punya 1 stempel lucu, jadi langsung kami sikat sekalian!
Toko Scentsored Perfumery
Jalan Diponegoro No. 3a, Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung.
Toko parfum estetik ini menyuguhkan pengalaman unik. Selain bisa mengamankan 1 stempel toko untuk jurnal, kami juga disuguhi aktivitas seru meracik dan mendesain aroma parfum personal sesuai dengan kepribadian masing-masing.
- Toko Gramedia Merdeka
Jalan Merdeka No. 43, Babakan Ciamis, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung.
Titik pamungkas kami hari ini. Kami mampir untuk membeli perintilan untuk jurnaling. Berbeda dengan di Jakarta yang ludes, stok buku Museum Passport di Gramedia Merdeka ini untungnya masih relatif aman. Pilihan warna ribbon (pink) masih banyak tersedia, sementara varian warna periwinkle (lilac) dan sunset coral (jingga) sudah ludes terjual karena jadi rebutan. Tak lupa, kami meminta 1 stempel resmi dari Gramedia sebagai penutup.
Petualangan satu hari kemarin tentu baru menyentuh sebagian kecil dari kekayaan sejarah Kota Kembang. Bagi para stamp hunter lain—atau untuk agenda jalan-jalan Komunitas Cerita Bunda berikutnya—masih ada sederet museum di Bandung yang wajib dikunjungi untuk dilihat koleksinya, dicek dan diburu koleksi stempelnya.

Akhir Kata: Jurnal Penuh, Hati Puas!
Perjalanan seharian penuh peluh dari museum hingga ke toko parfum membuktikan satu hal: stamp hunting telah sukses mengubah lanskap wisata urban di Bandung. Aktivitas ini berhasil mengawinkan edukasi sejarah yang bernilai tinggi dengan keseruan gaya hidup metropolis yang estetik. Ketukan stempel di atas lembar kertas bukan lagi sekadar tinta mati, melainkan sebuah prasasti visual yang menegaskan bahwa "Saya pernah berada di sini, dan saya merayakan sejarah ini."
Jadi, tunggu apa lagi? Ambil buku jurnalmu, pakai sepatu ternyamanmu, dan mari kita penuhi tiap halamannya dengan jejak-jejak petualangan di mana pun, khususnya di Kota Kembang! (*)