Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

5 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Sebuah ironi yang patut direnungkan setiap kali kita memperingati Hari Aksara Internasional. Kita hidup dalam zaman ketika hampir seluruh pengetahuan manusia berada dalam genggaman gawai.

  • Ukuran keberhasilan literasi seharusnya tidak berhenti pada berapa banyak sekolah yang memiliki program literasi atau berapa banyak buku yang dibagikan.

  • Membaca juga berarti membaca kekuasaan. Ada dimensi lain yang sering hilang dalam perbincangan literasi: dimensi politik dan demokrasi.

Sebuah ironi yang patut direnungkan setiap kali kita memperingati Hari Aksara Internasional. Kita hidup dalam zaman ketika hampir seluruh pengetahuan manusia berada dalam genggaman gawai. Telepon pintar memungkinkan seorang anak di pelosok negeri mengakses perpustakaan dunia. Mesin pencari dapat menjawab hampir semua pertanyaan. Kecerdasan artifisial bahkan sanggup merangkum buku, menerjemahkan bahasa, menyusun tulisan, dan menghasilkan informasi dalam hitungan detik.

Namun, di tengah kelimpahan informasi itu, kita masih menghadapi persoalan mendasar: kemampuan membaca belum otomatis menjadi kemampuan memahami. Di sinilah makna Hari Aksara Internasional menjadi jauh lebih penting daripada sekadar perayaan kemampuan baca-tulis.

UNESCO memperingati Hari Aksara Internasional pada 8 September. Pada 2026, peringatan ini memasuki tahun ke-60 dengan tema “Literacy for People, the Planet and Prosperity”—literasi untuk manusia, planet, dan kemakmuran. UNESCO mengingatkan bahwa literasi harus terus dibaca dalam konteks perubahan dunia, termasuk tantangan baru di era digital.

Tema tersebut relevan bagi Indonesia. Sebab persoalan literasi kita tidak lagi semata-mata apakah seorang anak dapat membaca huruf dan menyusun kalimat. Persoalannya adalah apakah ia mampu memahami bacaan, menilai informasi, membedakan fakta dari opini, membaca data, mengenali manipulasi, dan menggunakan pengetahuan untuk memecahkan persoalan kehidupan.

Dengan kata lain, tantangan terbesar pendidikan Indonesia bukan lagi sekadar memberantas buta aksara, tetapi mengatasi buta makna.

Data PISA seharusnya membuat kita berhenti sejenak dari kebiasaan merayakan keberhasilan pendidikan melalui seremoni dan slogan. Dalam PISA 2022, hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia berusia 15 tahun yang mencapai Level 2 atau lebih dalam literasi membaca, sedangkan rata-rata OECD mencapai 74 persen. Sebaliknya, sekitar 75 persen siswa Indonesia berada di bawah Level 2. Hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau lebih, sementara rata-rata OECD sekitar 7 persen.

Dengan demikian, persoalannya bukan semata-mata anak Indonesia tidak bisa membaca. Mereka membaca, tetapi terlalu banyak yang belum mampu membaca secara mendalam. Dan ini persoalan serius. Sebab seseorang yang hanya mampu membaca kalimat tetapi tidak mampu memahami argumentasi akan mudah dipengaruhi. Seseorang yang dapat membaca berita tetapi tidak mampu memeriksa sumber akan mudah menjadi korban disinformasi. Seseorang yang dapat membaca statistik tetapi tidak memahami konteks akan mudah menerima manipulasi angka.

Literasi pada akhirnya bukan sekadar kemampuan teknis. Literasi adalah kemampuan untuk tidak mudah dibohongi oleh dunia. Sekolah tidak boleh hanya mengajarkan jawaban. Salah satu persoalan pendidikan kita adalah kecenderungan untuk terlalu sibuk mengajarkan jawaban dan kurang memberikan ruang bagi pertanyaan.

Mereka mengejar nilai. Mereka mengumpulkan tugas. Mereka memperoleh ijazah. Tetapi apakah mereka benar-benar belajar berpikir? Pertanyaan ini penting karena kehidupan tidak datang dalam bentuk pilihan ganda.

OECD sendiri mendefinisikan literasi membaca bukan hanya sebagai kemampuan memahami teks, tetapi juga menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan, dan terlibat dengan teks untuk mengembangkan pengetahuan serta berpartisipasi dalam masyarakat. Dalam lingkungan digital, kemampuan tersebut bahkan mencakup penelusuran berbagai sumber dan pembedaan fakta dari opini.

Artinya, membaca adalah aktivitas intelektual, bukan sekadar aktivitas visual. Kita terlalu sering membangun program, tetapi kurang membangun budaya. Di sekolah-sekolah, gerakan literasi bukan sesuatu yang asing. Ada pojok baca. Ada program membaca. Ada perpustakaan. Ada lomba menulis. Ada gerakan membaca sebelum pelajaran. Ada berbagai kegiatan literasi.

Tetapi pertanyaan pentingnya: apakah semua itu telah mengubah budaya belajar? Sebab program dan budaya adalah dua hal berbeda. Program mempunyai awal dan akhir. Budaya berlangsung terus-menerus. Program literasi dapat selesai ketika anggaran selesai. Budaya membaca tidak. Program dapat dibuat oleh pemerintah. Budaya membaca harus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, ukuran keberhasilan literasi seharusnya tidak berhenti pada berapa banyak sekolah yang memiliki program literasi atau berapa banyak buku yang dibagikan. Pertanyaan yang lebih substantif adalah: berapa banyak anak yang membaca secara sukarela, memahami bacaan secara kritis, mampu menulis gagasan sendiri, dan menjadikan pengetahuan sebagai dasar mengambil keputusan?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)

Persoalan paling berat adalah ketimpangan. Kita juga harus jujur bahwa standar kompetensi aksara tidak dapat dicapai dengan kebijakan yang seragam untuk kondisi yang tidak seragam. Anak di pusat kota yang mempunyai perpustakaan, internet cepat, buku berlimpah, guru lengkap, dan dukungan keluarga tidak berada dalam posisi yang sama dengan anak di wilayah terpencil yang harus menghadapi keterbatasan guru, buku, fasilitas, bahkan jaringan komunikasi.

Yang dibutuhkan adalah ekosistem pendidikan: guru berkualitas dan berkelanjutan, fasilitas belajar, perpustakaan, bahan bacaan, konektivitas, dukungan keluarga, dan kebijakan yang konsisten.

Jika negara memberikan standar yang sama tetapi sumber daya yang sangat berbeda, maka standar itu berpotensi menjadi instrumen reproduksi ketimpangan. Kesetaraan bukan berarti memberikan sesuatu yang sama kepada semua orang. Kesetaraan berarti memastikan setiap anak memperoleh kesempatan yang cukup untuk mencapai standar yang ditetapkan.

UNESCO menegaskan bahwa membaca dan menulis saja tidak lagi cukup dalam era digital; literasi media dan informasi perlu diintegrasikan dalam pendidikan agar masyarakat mampu menghadapi ekosistem informasi yang semakin kompleks.

Karena itu, anak-anak Indonesia harus diajarkan bukan hanya bagaimana menggunakan AI, tetapi juga bagaimana meragukan AI. Mereka harus belajar memeriksa sumber, membandingkan informasi, menemukan kesalahan, mengenali bias, dan mempertanggungjawabkan apa yang mereka tulis.

Teknologi boleh semakin pintar. Tetapi manusia tidak boleh semakin malas berpikir. Membaca juga berarti membaca kekuasaan. Ada dimensi lain yang sering hilang dalam perbincangan literasi: dimensi politik dan demokrasi.

Warga yang literat mampu membaca kebijakan, memahami anggaran, mempertanyakan keputusan pemerintah, memeriksa informasi, dan menyampaikan kritik berdasarkan argumen. Karena itu, literasi bukan sekadar program pendidikan. Literasi adalah infrastruktur demokrasi.

Bangsa yang literat bukan bangsa yang seluruh penduduknya gemar membaca novel atau buku tebal. Bangsa yang literat adalah bangsa yang warganya mampu menggunakan pengetahuan untuk mengambil keputusan secara sadar. Di titik inilah pendidikan bertemu dengan kewarganegaraan.

Pendidikan membutuhkan kesinambungan. Anak membutuhkan waktu untuk tumbuh. Budaya membaca membutuhkan generasi. Membaca kata, membaca zaman. Pada akhirnya, Hari Aksara Internasional bukan perayaan tentang huruf. Ia adalah perayaan tentang manusia. Tentang kemampuan manusia memahami dunia dan menentukan sikap terhadapnya.

Pendidikan Indonesia harus berani bergerak dari literasi sebagai program menuju literasi sebagai kebudayaan. Sebab bangsa yang literat bukan bangsa yang paling banyak memiliki buku, melainkan bangsa yang menjadikan pengetahuan sebagai cara hidup. Dan dalam zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia memahaminya, tugas pendidikan menjadi semakin jelas: Mengajarkan manusia bukan hanya bagaimana membaca kata, tetapi bagaimana membaca dunia; bukan hanya bagaimana menulis kalimat, tetapi bagaimana menyusun gagasan; bukan hanya bagaimana menjawab pertanyaan, tetapi bagaimana mempertanyakan keadaan.

Hari Aksara Internasional semestinya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: Jika anak-anak kita telah mampu membaca, apakah mereka juga telah mampu memahami? Sebab masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak manusia yang dapat mengeja huruf. Masa depan ditentukan oleh berapa banyak manusia yang mampu membaca realitas, berpikir kritis, dan menggunakan pengetahuan untuk mengubah kehidupan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Vito Prasetyo
Tentang Vito Prasetyo
Malang

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)