Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Rencana Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menata kembali Teras Cihampelas pada tahun 2027 patut  kita beri apresiasi. Kawasan itu memang membutuhkan pembenahan. 

  • Persoalan revitalisasi Teras Cihampelas 2027 perlu berfokus pada apa yang kira-kira membuat urang Bandung maupun wisatawan luar Bandung sengaja memasukkan Cihampelas ke dalam rencana perjalanan mereka.

  • Maka, yang perlu dipersiapkan dan dibangun pemerintah di Cihampelas bukan memperbanyak latar belakang untuk foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

KOTA tidak membutuhkan ruang publik yang sekadar fotogenik. Kota membutuhkan ruang publik yang benar-benar berfungsi dan digunakan. 

Rencana Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menata kembali Teras Cihampelas pada tahun 2027 patut  kita beri apresiasi. Kawasan itu memang membutuhkan pembenahan. 

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, seperti dikutip sejumlah media, bahkan menyebut hanya sekitar 15 pedagang yang masih aktif di Teras Cihampelas saat ini. Padahal, ketika fasilitas itu mulai beroperasi pada 2017 lampau, jumlah pedagang jauh lebih banyak. 

Sebuah studi akademik mencatat pada awal pengoperasian Teras Cihampela terdapat sekitar 192 pedagang kaki lima (PKL), terdiri atas 140 kios suvenir dan 52 kios kuliner.

Kalau ruang yang dahulu dihuni ratusan pedagang kemudian tinggal menyisakan belasan, maka persoalannya kemungkinan bukan sekadar konstruksi yang kurang bagus atau lampu yang kurang terang. Pastinya ada sesuatu yang lebih mendasar, yakni ruang itu kehilangan fungsi ekonominya, kehilangan arus pengunjungnya, atau kehilangan alasan bagi orang untuk berada di sana.

Persoalan tersebut penting dikaji lebih jauh lantaran sebuah ruang publik bukan benda mati. Ia bekerja seperti ekosistem. Ada orang yang datang, berjalan, berhenti, makan, membeli sesuatu, bertemu teman, mengambil foto, menonton pertunjukan, kemudian pulang. 

Pedagang tentu saja membutuhkan arus manusia. Adapun pengunjung membutuhkan alasan-alasan untuk datang ke sebuah tempat. Sedangkan pemerintah membutuhkan biaya untuk merawatnya. Nah, ketiganya saling menghidupi. Begitu salah satu putus, ruang itu perlahan bisa menjadi sepi -- mati suri, seperti Teras Cihampelas sekarang ini.

Kinerja penjualan

Dalam sebuah kajian menyangkut kawasan perdagangan di Seoul, peneliti menemukan hubungan antara akses pejalan kaki, visibilitas toko, dan kinerja penjualan. Semakin baik akses dan keterlihatan toko bagi pejalan kaki, semakin besar peluang kinerja ekonominya membaik. Kajian lain tentang pedestrianisasi di sejumlah kota di Spanyol juga menemukan bahwa perubahan ruang untuk lebih ramah pejalan kaki dapat meningkatkan volume penjualan toko di sekitarnya.

Namun demikian, ada satu catatan penting, yakni trotoar yang bagus tidak otomatis menciptakan pejalan kaki. Bagaimanapun, orang berjalan kaki karena ada tujuan. Mereka berhenti karena ada sesuatu yang menarik. Mereka kembali karena pengalaman sebelumnya menyenangkan. 

Jadi, jangan membalik hubungan sebab-akibat. Jangan mengira dengan memasang bangku yang enakeun, maka orang otomatis bakal datang. Lantas,  karena orang datang, maka perdagangan otomatis hidup. Bisa saja bangkunya bagus dan enakeun, tetapi tidak ada yang ingin duduk.

Project for Public Spaces, lembaga yang lama mengkaji ruang publik, menemukan empat unsur yang berulang pada ruang publik yang berhasil menggaet pengunjung. Keempat unsur itu adalah: mudah diakses dan terhubung, nyaman, memiliki aktivitas yang menarik orang, serta menjadi tempat yang membuat orang ingin berkumpul dan kembali. Dengan kata lain, ruang publik yang hidup bukan hanya ruang yang sekadar enak dilihat, tetapi ruang yang punya kehidupan di dalamnya.

Karena itu, persoalan revitalisasi Teras Cihampelas 2027 perlu berfokus pada apa yang kira-kira membuat urang Bandung maupun wisatawan luar Bandung sengaja memasukkan Cihampelas ke dalam rencana perjalanan mereka.

Dahulu pisan, orang menyambangi Cihampelas untuk mencari jeans. Bahkan, identitas Cihampelas sebagai pusat jeans pernah begitu kokoh sehingga nama kawasan itu sendiri menjadi semacam trade mark

Pada 2008,  koran berbahasa Inggris terbitan ibukota, The Jakarta Post, pernah menggambarkan Cihampelas sebagai tujuan belanja jeans dengan toko-toko yang dihiasi patung-patung superhero raksasa. Daya tarik Cihampelas kala itu bukan karena pemerintah membuat sebuah ruang publik yang geulis. Daya tariknya muncul dari kombinasi perdagangan, keunikan visual, kuliner dan pengalaman jalanan yang khas.

Jujur saja, Cihampelas dahulu tidak menunggu pemerintah menciptakan daya tarik. Daya tarik itu tumbuh dari aktivitas ekonomi dan kreativitas para pelaku usaha. Patung Superman, Batman atau Rambo di depan toko mungkin sekarang terlihat norak. Tetapi, pada zamannya, justru kenorakan itulah yang membuat orang berhenti, melihat, berpose, dan masuk toko.

Maka, jangan-jangan masalah Cihampelas hari ini bukan kekurangan estetika, melainkan kekurangan alasan bagi orang untuk berkunjung. Jeans sendiri saat ini bukan lagi monopoli Cihampelas. Pola belanja pakaian sudah berubah. Orang bisa mencari barang melalui marketplace dari rumah. Belum lagi destinasi kuliner tumbuh ceuyah di banyak sudut Bandung. Persaingan Cihampelas bukan lagi hanya dengan jalan di sebelahnya atau dengan kawasan lain. Ia bersaing pula dengan seluruh pelosok kota, bahkan dengan layar telepon genggam.

Karena itu, mengembalikan Cihampelas tidak berarti harus mengembalikan Cihampelas persis seperti tahun 1990-an. Nostalgia tidak cukup menjadi strategi ampuh ekonomi. Orang tidak akan datang hanya karena pemerintah mengatakan, misalnya, "Ini dulu terkenal sebagai kawasan jeans." 

Yang harus dihidupkan saat ini adalah alasan-alasan baru bagi orang-orang untuk menyambangi dan mengalami Cihampelas.

Mungkin jeans tetap menjadi bagian penting. Tetapi ia bisa lebih dikembangkan menjadi ekosistem denim, mulai dari toko, desain, produksi skala kecil, custom jeans, workshop, reparasi, pameran, sejarah mode Bandung dan ruang bagi para desainer muda. Artinya, wisatawan datang bukan hanya membeli celana wungkul. Mereka bisa pula melihat bagaimana celana dibuat, memilih bahan, menentukan model, bahkan membawa pulang produk yang dibuat khusus dan ekslusif untuk dirinya. Dengan begitu, barang yang dibeli bukan sekadar jeans. Ia menjadi pengalaman otentik.

Sensor sosial

Potret Teras Cihampelas saat di sambangi pada Kamis, 3 Juli 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Potret Teras Cihampelas saat di sambangi pada Kamis, 3 Juli 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Masih adanya lima belas pedagang yang masih bertahan di Teras Cihampelas kiwari tentu saja bukan sekadar angka dalam laporan pemerintah. Mereka adalah semacam sensor sosial. Mereka pasti tahu jam ramai, jam sepi, barang yang dicari orang, kebiasaan pembeli dan alasan pelanggan tidak kembali. Maka, pemerintah seyogianya pula banyak mendengar dari mereka. Dalam pendekatan placemaking, pengguna ruang dan calon pengguna justru dianggap memiliki pengetahuan penting untuk menentukan bagaimana sebuah tempat seharusnya berfungsi.

Pemerintah juga bisa menguji konsep sebelum membangun secara permanen Teras Cihampelas versi baru. Misalnya, sebagian ruas dibuat sebagai kawasan pedestrian pada hari tertentu. Diadakan pasar denim, pertunjukan musik, kuliner malam, pameran desain atau kegiatan komunitas selama beberapa bulan. Lalu diukur berapa orang yang datang, berapa lama mereka tinggal, berapa yang membeli sesuatu, berapa omzet pedagang, dan apakah pengunjung kembali pada momen-momen berikutnya. Pengelola kota bisa belajar banyak dengan melakukan sejumlah eksperimen.

Penelitian mengenai tactical urbanism dan pedestrianisasi menunjukkan bahwa perubahan sementara pada ruang jalan dapat digunakan untuk menguji dampak ekonomi terhadap toko-toko di sekitarnya. Bahkan penelitian terbaru menggunakan data transaksi untuk mengukur perubahan penjualan setelah intervensi pejalan kaki. Artinya, sebelum pemerintah mengeluarkan biaya besar, sebagian gagasan bisa diuji lebih dulu dalam skala kecil.

Ada pula hal lain yang patut diperhatikan. Apakah para orang tua -- terutama lansia -- nyaman berjalan di sana,  apakah anak-anak aman, apakah perempuan merasa aman pada malam hari, apakah penyandang disabilitas bisa bergerak tanpa bantuan, apakah pedagang bisa memperoleh penghasilan, apakah wisatawan memiliki sesuatu yang tidak mereka dapatkan dari pusat perbelanjaan? 

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu bakal memastikan seberapa bagus kualitas penataan di Cihampelas nanti.

Terlalu rapi

Sebaiknya pula Cihampelas jangan dibuat terlalu steril. Ruang kota yang terlalu rapi kadang justru kehilangan daya hidupnya. Bising suara pedagang, aroma makanan, musisi jalanan, toko/jongko kecil yang nyentrik dan aktivitas spontan bisa menjadi bagian dari daya tarik kawasan.  Kota adalah tempat manusia melakukan hal-hal yang tidak selalu bisa direncanakan pemerintah.

Karena itu, jangan fokus membangun Teras Cihampelas hanya untuk Instagram. Kepentingan untuk Instagram dipikirkan belakangan saja. Kalau tempatnya hidup, orang akan memotretnya sendiri. Kalau pedagangnya mendapatkan pembeli, mereka akan bercerita sendiri. Kalau wisatawan menemukan pengalaman yang berbeda, mereka akan mengunggah ke media sosial tanpa perlu diminta.

Maka, yang perlu dipersiapkan dan dibangun pemerintah di Cihampelas bukan memperbanyak latar belakang untuk foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Kita tidak berharap Teras Cihampelas yang baru nanti ngan endah sewaktu difoto, namun tiiseun setelah kamera dimatikan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 17:03

Dari Layar ke Media Sosial: Cara Film Animasi Membangun Percakapan

Disney dan Pixar menerapkan strategi komunikasi pemasaran terpadu melalui berbagai platform digital untuk memaksimalkan publikasi global dari film animasi Inside Out 2.

Film animasi "Inside Out 2". (Sumber: Walt Disney Studios Motion Pictures)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 16:00

Mengulas Strategi Komunikasi Digital Pembentukan Opini Publik pada Publikasi Produk Fashion

Strategi komunikasi digital menyesuaikan karakter setiap platform, tetapi tetap menjaga konsistensi pesan untuk membentuk identitas produk dan pemahaman publik.

Ilustrasi produk fashion.
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 15:20

Menyusuri Jejak Peristiwa Era 80-an dalam Lembaran Majalah Zaman

Majalah Zaman edisi 1984 bukan sekadar bacaan lama, melainkan rekaman suasana, budaya, dan cara pandang masyarakat Indonesia pada sebuah masa yang kini telah berlalu.

Majalah Zaman edisi September 1984, terbit sekitar 42 tahun silam. Sampul mukanya menampilkan lukisan bergaya airbrush penyanyi asal Cimahi, Ria Angelina, yang menjadi salah satu wajah hiburan populer pada era 1980-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 13:11

R. Ipik Gandamana Sumawinata Layak sebagai Pahlawan Nasional dari Jawa Barat asal Purwakarta

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 10:29

Spiderman, Perdamaian, dan Pahlawan

Segala penghargaan bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Piagam bisa menguning. Justru nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya bisa hidup jauh lebih lama. Selamat Kang!

Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)