81 Tahun Merdeka, Jejak Belanda Masih Terasa Lewat Perkedel hingga Semur

4 menit baca
bram herdiana
Ditulis oleh bram herdiana diterbitkan
Jejak kuliner Belanda masih dapat ditemukan dalam berbagai makanan yang akrab di meja makan masyarakat Indonesia. (Sumber: magnific.com | Foto: stockking)
Jejak kuliner Belanda masih dapat ditemukan dalam berbagai makanan yang akrab di meja makan masyarakat Indonesia. (Sumber: magnific.com | Foto: stockking)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Indonesia telah merdeka secara politik tetapi selama lebih dari delapan dekade, jejak salah satu penjajah yaitu Belanda, masih sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari, terutama di meja hidangan.

  • Perkedel, semur, sayur kacang, risoles, kroket, kue lapis, klaaptart, nastar, kastengel dan kue cubit memiliki akar sejarah yang kuat dengan budaya kuliner Belanda.

  • Masyarakat Indonesia tidak hanya meniru resep Belanda. Mereka mengubah, menyesuaikan, dan memperkaya cita rasanya dengan bahan-bahan lokal.

Bangsa Indonesia merayakan ke 81 tahun kemerdekaan dari penjajahan tahun ini. Bendera merah putih berkibar, lagu-lagu perjuangan dinyanyikan, dan semangat nasionalisme kembali digaungkan. Namun, ada satu hal yang menarik untuk direnungkan meskipun Indonesia telah merdeka secara politik tetapi selama lebih dari delapan dekade, jejak salah satu penjajah yaitu Belanda, masih sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari, terutama di meja hidangan.

Tengok saja menu yang sering muncul dalam acara keluarga, hajatan, atau bahkan restoran tradisional diantaranya seperti perkedel, semur, sayur kacang, risoles, kroket, kue lapis, klaaptart, nastar, kastengel dan kue cubit. Banyak orang menganggap makanan-makanan tersebut sebagai bagian dari kuliner Indonesia, padahal, sebagian besar memiliki akar sejarah yang kuat dengan budaya kuliner Belanda. Dalam relasi ini dapat dikatakan bahwa Indonesia belum sepenuhnya “merdeka” dari makanan Belanda.

Pernyataan tersebut di atas, bukan berarti Indonesia masih dijajah secara budaya. Sebaliknya, hal ini menunjukkan bagaimana sejarah kolonial meninggalkan warisan yang begitu kuat sehingga menjadi bagian dari identitas kuliner bangsa. Salah satu contoh paling populer adalah perkedel atau frikadeller. Banyak orang mengira perkedel merupakan makanan asli Nusantara.

Faktanya, makanan ini berasal dari kata Belanda frikadeller, yaitu olahan daging cincang yang dibentuk bulat atau pipih. Ketika masuk ke Indonesia pada masa kolonial, bahan dan cara pembuatannya mengalami penyesuaian. Daging yang relatif mahal digantikan oleh kentang yang lebih mudah diperoleh. Hasilnya adalah perkedel kentang yang kini menjadi lauk favorit masyarakat Indonesia.

Makanan lainnya adalah semur yang berasal dari bahasa Belanda smoor, yang berarti memasak perlahan dalam cairan hingga lunak. Teknik memasak ini kemudian berkembang di Indonesia dengan sentuhan rempah-rempah lokal seperti pala, cengkih, kayu manis, dan kecap manis. Jika semur Belanda cenderung memiliki cita rasa gurih sederhana, semur Indonesia justru kaya rasa dan lebih manis.

Masa kini semur menjadi salah satu makanan yang identik dengan masakan rumahan Indonesia. Semur daging, semur ayam, bahkan semur jengkol dapat ditemukan di berbagai daerah. Menariknya, banyak orang lebih mengenal semur sebagai makanan khas Indonesia dibandingkan sebagai warisan kuliner kolonial.

Kroket juga merupakan contoh kudapan yang menarik. Di Belanda, kroket adalah kudapan berbahan ragout atau daging yang dibalut tepung panir dan digoreng. Makanan ini kemudian dibawa ke Hindia Belanda dan menjadi populer di kalangan masyarakat perkotaan. Seiring waktu, isi kroket mengalami perubahan sesuai selera lokal. Ada kroket berisi ayam, kentang, sayuran, hingga keju. Dalam banyak kesempatan, kroket dianggap sebagai makanan tradisional yang sudah menyatu dengan budaya lokal, meski akar sejarahnya berasal dari Belanda.

Begitu pula dengan kue lapis atau spekkoek, meskipun Indonesia memiliki banyak jenis kue lapis tradisional, beberapa varian populer menunjukkan pengaruh kuat dari teknik pembuatan kue Belanda. Penggunaan mentega, telur dalam jumlah besar, serta metode memanggang berlapis-lapis merupakan ciri khas yang berkembang pada masa kolonial. Kue lapis legit, misalnya, sering disebut sebagai hasil pertemuan antara teknik baking Eropa dan kekayaan rempah Nusantara. Hingga kini lapis legit masih dianggap sebagai kue premium yang sering disajikan saat hari raya dan perayaan keluarga.

Transformasi tersebut menunjukkan kemampuan masyarakat Indonesia dalam mengadaptasi budaya asing. Misalnya perkedel yang awalnya merupakan makanan Eropa berubah menjadi hidangan yang terasa sangat lokal. Bahkan banyak orang Indonesia yang tidak lagi menyadari hubungan makanan tersebut dengan Belanda.

Selain itu, masyarakat Indonesia tidak hanya meniru resep Belanda. Mereka mengubah, menyesuaikan, dan memperkaya cita rasanya dengan bahan-bahan lokal. Kecap manis, santan, cabai, pala, cengkih, dan berbagai rempah Nusantara menjadikan makanan-makanan tersebut memiliki karakter yang berbeda dari versi aslinya.

Di sisi lain, keberadaan makanan-makanan warisan Belanda juga menunjukkan bahwa identitas bangsa tidak selalu dibangun dari unsur yang benar-benar asli. Identitas sering kali terbentuk melalui proses pertemuan, pertukaran, dan adaptasi budaya. Indonesia sendiri merupakan hasil dari interaksi panjang berbagai peradaban, mulai dari India, Arab, Tiongkok, Eropa, hingga budaya lokal Nusantara.

Ironisnya, banyak makanan yang dianggap asing justru telah menjadi bagian dari kenangan kolektif masyarakat Indonesia. Semur sering hadir saat Lebaran, perkedel menjadi pelengkap soto dan nasi tumpeng, kroket menemani acara keluarga, sementara kue lapis legit menjadi sajian istimewa saat hari besar. Dalam konteks ini, makanan-makanan tersebut tidak lagi milik Belanda ataupun Indonesia semata, melainkan milik sejarah bersama.

Pada akhirnya, Indonesia memang telah merdeka dari penjajahan Belanda. Namun, pengaruh Belanda di bidang kuliner masih hidup dan berkembang hingga sekarang. Perkedel, semur, kroket, dan kue lapis misalnya, menjadi bukti bahwa jejak sejarah tidak selalu tersimpan dalam arsip atau bangunan tua, tetapi nampak di piring makanan kita sehari-hari.

Kita tidak lagi berbicara dalam bahasa Belanda, tidak lagi hidup di bawah pemerintahan kolonial, dan tidak lagi tunduk pada kekuasaan asing. Namun, setiap kali menikmati semur hangat, perkedel gurih, kroket renyah, atau sepotong kue lapis legit, kue cubit serta nastar, sebenarnya kita sedang menikmati warisan sejarah yang telah bertransformasi menjadi bagian dari identitas Indonesia modern. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

bram herdiana
Tentang bram herdiana
GURU SMK PARIWISATA TELKOM BANDUNG

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)