Seragam Khaki

6 menit baca
mufti wibowo
Ditulis oleh mufti wibowo diterbitkan
Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)

*Cerita Pendek

Dia mengambil jalan berbeda, pulang meninggalkan ibunya yang tengah melawan masa kritis pascamelahirkan dan aku yang kepayahan. Sebagai lelaki aku bersedih, tapi tak setitik pun air lolos dari sudut mataku. Aku menceritakan pengalaman getir itu di hadapan tiga tamu yang kutemui di keramaian kantin rumah sakit. Mereka menyimaknya dengan khidmat, seolah itu adalah khutbah misa. Palang pintu otomatis parkir tak hentinya bekerja naik dan turun seolah tak memedulikan hujan yang turun sepanjang hari. Bagiku hujan itu adalah penghormatan langit untuk menyambutnya. Silih berganti aku membaui wangi bayi dan tanah yang menguar dari kedua tanganku. Sebenarnya aku tak ingin bertemu dan berbicara dengan siapa pun saat itu. Akan tetapi, aku tak mungkin menolak ketiga tamuku itu.

“Dia belum mengetahui kabar kepergian anaknya,” terangku dalam intonasi yang mungkin terdengar belum usai di telinga mereka, “aku bahkan belum tahu bagaimana nanti mesti menjelaskan padanya.” Mendengar kalimatku, bertiga tampak trenyuh. Tentu saja aku sadar betapa aku tampak begitu berantakan selagi bertarung melawan rasa lelah. Di tempat lain, aku hanya mendengar—anak pertamaku yang sedang dalam masa ungsi di rumah neneknya menyusul untuk menjalani opname. Pelik. Entah bagaimana aku tiba-tiba mengingat baju khaki yang tergantung di belakang pintu kamar yang telah pudar warnanya saking seringnya dicuci dan setrika. Sudah empat kali senin aku tak mengenakan baju itu karena teguran halus dari kepala sekolah agar aku berpakaian lebih pantas saat mengajar. 

“Setelah administrasi yang rumit dikelindani protokol pandemi di rumah sakit, jam 2 (dini hari) kami baru bisa membawa jenazah. Padahal, sejak jam 7 malam, aku sudah mendapat izin pemakaman dari kades. Berselang sejam dari izin itu, liang lahat selesai tersedia. Akhirnya, hanya kami berdua yang mengurus pemakaman itu,” urai salah seorang dari tamuku. Kurasa dia tak tidur semalaman. Sebelum dikuburkan, aku memberinya nama Sahid.

Di kantin itu, kami menawar rasa dingin dengan memesan kopi, mi rebus, gorengan, dan asap rokok. Hujan mengguyur hampir sepanjang hari di tengah musim kering. Bukan perkara galib selalu memancing takwil suka-suka oleh siapa saja tentu saja, pikirku. 

***

Pagi hari setelah pemakaman anak keduaku yang konon menurut dokter mati karena terlambat dirujuk, aku hadir di sekolah dengan sisa-sisa kekuatan fisik. Aku merasa pikiranku masih cukup mampu untuk menyelesaikan tugas-tugas yang telah menumpuk. Pada kenyataannya, hari itu aku lupa kembali memakai baju khaki itu. Hari itu juga, semesta mempertemukanku dengan orang istimewa. Seorang wali kelas memberitahu bahwa salah seorang di kelasnya memerlukan bantuan konseling. Jujur saja aku tak pernah berpikir akan menangani seorang bocah yang belum genap tiga belas tahun itu menginginkan kematiannya? Aku terenyak karenanya. Wajah anakku muncul di benak.

Dia hanya bocah yang sedang tak habis pikir dengan rambut halus yang mulai tumbuh di ketiak dan kemaluannya pikirku awalnya. Wajahnya manis dengan mata agak redup yang mengingatkanku pada ibuku. Caranya berpikir dan bicara menunjukkan betapa dia telah berkarib dengan derita dan pilu. Pengalaman bertahun-tahun memberitahuku hal-hal semacam itu. Dan, aku jarang mengoreksi syak wasangka semacam itu.

Ya, dia kehilangan ayah dan ibu selagi usianya belum genap sepuluh. Dengan paman dari pihak ibunya, ia bersama neneknya diboyong menyeberang ke tanah Jawa ini. Ya, aku bisa mendengar aksen dari lidahnya yang sangat akrab dengan asam cuka dan amis ikan Musi. Tapi, pelarian itu justru mempertemukannya dengan derita lain untuk pamannya—yang juga berarti untuk dirinya. Di Jawa, pamannya tak kunjung menemukan pekerjaan yang layak sementara neneknya sekarat tak berkesudahan. Jadilah dia dititipkan di panti asuhan. Pamannya kembali menyeberang dengan niat bekerja dan membawa pulang anaknya yang kini tinggal dengan ibunya dengan suami barunya. 

Dia bilang tak betah tinggal di tempat barunya sekarang, tanpa gawai dan uang jajan cukup, sesuatu yang didapat teman-teman sekelasnya di sekolah. Dari sana juga, dia mulai mengakrabi berbagai jenis hukuman karena keusilannya sendiri yang ia namai senang-senang. 

“Kamu pernah kehilangan sesuatu?” seharusnya aku tak pernah menanyakan itu hanya untuk tahu bahwa ayah dan ibunya telah mati. Ia mengangguk ringan dengan senyum getir. Hening.

“Kehilangan apa ya? Uang paling.”

“Kamu punya uang?”

“Iya, aturannya di sana ngga boleh pegang uang. Kalo ketahuan akan diminta.”

“Kok bisa kamu pegang uang itu? Sebelum kehilangan itu maksudku.”

“Ada lah. Padahal udah disimpan di tempat yang nggak mudah ditemukan.”

“Apa perasaanmu kalau melihat orang lain kehilangan sesuatu?”

Dia tersenyum seolah tak tahu harus menjawab apa.

“Temanmu baru saja kehilangan ponselnya di kelas, kamu tahu itu?”

“Saya juga sering kehilangan”, tukasnya seolah ingin mengatakan itu hal yang normal dan semua orang termasuk aku harus menyikapinya dengan cara yang sama.

“Kamu pernah mengambil barang yang bukan milik kamu?”

“Iya, karena iseng. Atau hal kecil. Ngambil sampo atau sabun teman di kamar mandi.”

“Kamu tahu itu merugikan orang lain?”

“Aku membayarnya dengan hukuman.”

Dia belum tahu bahwa semua orang menuduhnya sebagai pelaku pencurian ponsel teman sekelasnya. Karena itu sekarang kami berhadap-hadapan. “Apa yang mengganggu pikiranmu sekarang, Nak?”

“Nenek sepertinya akan mati, dia sering sakit. Aku takut karena paman belum juga pulang sejak pamit untuk menyeberang. Aku ingin tinggal dengan nenek saja, tidak lagi di panti,” dia mengatakan itu dengan mata berkaca. Aku tahu ia tulus.

“Masih ada yang belum kamu katakan? Hanya kejujuran yang akan membuatmu selamat. Katakan saja,” bujukku dengan suara yang rendah, hampir seperti bisikan di telinganya.

Di depan kami, monitor menampakkan rekaman kamera cctv yang menampakkan aktivitas ilegalnya saat semua siswa mestinya sedang mengikuti kegiatan keagamaan. 

Setelah sama-sama melihatnya, air matanya menyungai, tanpa isak, tampak dadanya begitu penuh dan sesak. Kedua tangannya menggenggam kuat dan memukul-mukul bagian lengan kursi kayu berpelitur gelap tempatnya duduk. Aku memegang pundaknya.

“Bapak bisa menolong saya?”

“Tentu saja, Nak. Apa itu?”

“Saya ingin mati sekarang. Saya tak mau paman, nenek, dan orang panti...”

“Kenapa? Kamu takut?”

Tak ada jawaban, baik anggukan maupun kata-kata. Tapi, air mata yang berpadu dengan isak itu lebih dari cukup untuk menjelaskan semua. Hati kami sama-sama remuk redam.

Setelah usahaku gagal meyakinkan sekolah untuk mempertahankannya, aku bertamu kepada wali bocah itu untuk memberitahukan bahwa bocah itu mesti mencari tempat sekolah baru. 

***

Dia menjatuhkan beberapa bulir air mata ke dalam susu yang sedang ia seduh untuk anak pertamanya. Pada saat yang sama, mesin cucinya yang tua itu tengah bekerja membersihkan baju-baju kotor anaknya. Di sampingnya aku tengah mengaduk kopi yang baru seduh air termos. “Ini susu terakhir, Mas? Ini bahkan belum pertengahan bulan.” 

“Kamu akan tetap menyapihnya.”

“Kamu kapan akan mulai berhenti merokok?”

“Bukan itu masalahnya.”

“Tapi kenyataan berkata yang sebaliknya.”

“Maksudku bukan itu yang akan menyelesaikan masalahnya.”

“Kamu hanya mengatakan bukan dan tidak, tapi tak menunjukkan jawaban yang tepat. Itulah masalah sebenarnya.”

“Lusa aku pulang ke tempat bapak.”

“Sebaiknya tidak. Kita bahkan belum membayar utang dua kambing akikah.”

“Apa kamu tadi sedang menyetrika?”

“Astaga!” teriaknya gusar. Hidung kami membaui sesuatu yang terbakar. Dengan setengah berteriak, dia hendak memburu, “Bajumu, Mas!”

“Terlambat. Sudah terbakar sebelum pertengkaran kita.”

“Itu baju khakimu, Mas.”

“Tak apa.”

“Tak apa bagaimana.”

“Aku memang sudah berniat takkan lagi mengenakannya.” (*)

  • Fakuntsin, 23-24
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)