*Cerita Pendek
Dia mengambil jalan berbeda, pulang meninggalkan ibunya yang tengah melawan masa kritis pascamelahirkan dan aku yang kepayahan. Sebagai lelaki aku bersedih, tapi tak setitik pun air lolos dari sudut mataku. Aku menceritakan pengalaman getir itu di hadapan tiga tamu yang kutemui di keramaian kantin rumah sakit. Mereka menyimaknya dengan khidmat, seolah itu adalah khutbah misa. Palang pintu otomatis parkir tak hentinya bekerja naik dan turun seolah tak memedulikan hujan yang turun sepanjang hari. Bagiku hujan itu adalah penghormatan langit untuk menyambutnya. Silih berganti aku membaui wangi bayi dan tanah yang menguar dari kedua tanganku. Sebenarnya aku tak ingin bertemu dan berbicara dengan siapa pun saat itu. Akan tetapi, aku tak mungkin menolak ketiga tamuku itu.
“Dia belum mengetahui kabar kepergian anaknya,” terangku dalam intonasi yang mungkin terdengar belum usai di telinga mereka, “aku bahkan belum tahu bagaimana nanti mesti menjelaskan padanya.” Mendengar kalimatku, bertiga tampak trenyuh. Tentu saja aku sadar betapa aku tampak begitu berantakan selagi bertarung melawan rasa lelah. Di tempat lain, aku hanya mendengar—anak pertamaku yang sedang dalam masa ungsi di rumah neneknya menyusul untuk menjalani opname. Pelik. Entah bagaimana aku tiba-tiba mengingat baju khaki yang tergantung di belakang pintu kamar yang telah pudar warnanya saking seringnya dicuci dan setrika. Sudah empat kali senin aku tak mengenakan baju itu karena teguran halus dari kepala sekolah agar aku berpakaian lebih pantas saat mengajar.
“Setelah administrasi yang rumit dikelindani protokol pandemi di rumah sakit, jam 2 (dini hari) kami baru bisa membawa jenazah. Padahal, sejak jam 7 malam, aku sudah mendapat izin pemakaman dari kades. Berselang sejam dari izin itu, liang lahat selesai tersedia. Akhirnya, hanya kami berdua yang mengurus pemakaman itu,” urai salah seorang dari tamuku. Kurasa dia tak tidur semalaman. Sebelum dikuburkan, aku memberinya nama Sahid.
Di kantin itu, kami menawar rasa dingin dengan memesan kopi, mi rebus, gorengan, dan asap rokok. Hujan mengguyur hampir sepanjang hari di tengah musim kering. Bukan perkara galib selalu memancing takwil suka-suka oleh siapa saja tentu saja, pikirku.
***
Pagi hari setelah pemakaman anak keduaku yang konon menurut dokter mati karena terlambat dirujuk, aku hadir di sekolah dengan sisa-sisa kekuatan fisik. Aku merasa pikiranku masih cukup mampu untuk menyelesaikan tugas-tugas yang telah menumpuk. Pada kenyataannya, hari itu aku lupa kembali memakai baju khaki itu. Hari itu juga, semesta mempertemukanku dengan orang istimewa. Seorang wali kelas memberitahu bahwa salah seorang di kelasnya memerlukan bantuan konseling. Jujur saja aku tak pernah berpikir akan menangani seorang bocah yang belum genap tiga belas tahun itu menginginkan kematiannya? Aku terenyak karenanya. Wajah anakku muncul di benak.
Dia hanya bocah yang sedang tak habis pikir dengan rambut halus yang mulai tumbuh di ketiak dan kemaluannya pikirku awalnya. Wajahnya manis dengan mata agak redup yang mengingatkanku pada ibuku. Caranya berpikir dan bicara menunjukkan betapa dia telah berkarib dengan derita dan pilu. Pengalaman bertahun-tahun memberitahuku hal-hal semacam itu. Dan, aku jarang mengoreksi syak wasangka semacam itu.
Ya, dia kehilangan ayah dan ibu selagi usianya belum genap sepuluh. Dengan paman dari pihak ibunya, ia bersama neneknya diboyong menyeberang ke tanah Jawa ini. Ya, aku bisa mendengar aksen dari lidahnya yang sangat akrab dengan asam cuka dan amis ikan Musi. Tapi, pelarian itu justru mempertemukannya dengan derita lain untuk pamannya—yang juga berarti untuk dirinya. Di Jawa, pamannya tak kunjung menemukan pekerjaan yang layak sementara neneknya sekarat tak berkesudahan. Jadilah dia dititipkan di panti asuhan. Pamannya kembali menyeberang dengan niat bekerja dan membawa pulang anaknya yang kini tinggal dengan ibunya dengan suami barunya.
Dia bilang tak betah tinggal di tempat barunya sekarang, tanpa gawai dan uang jajan cukup, sesuatu yang didapat teman-teman sekelasnya di sekolah. Dari sana juga, dia mulai mengakrabi berbagai jenis hukuman karena keusilannya sendiri yang ia namai senang-senang.
“Kamu pernah kehilangan sesuatu?” seharusnya aku tak pernah menanyakan itu hanya untuk tahu bahwa ayah dan ibunya telah mati. Ia mengangguk ringan dengan senyum getir. Hening.
“Kehilangan apa ya? Uang paling.”
“Kamu punya uang?”
“Iya, aturannya di sana ngga boleh pegang uang. Kalo ketahuan akan diminta.”
“Kok bisa kamu pegang uang itu? Sebelum kehilangan itu maksudku.”
“Ada lah. Padahal udah disimpan di tempat yang nggak mudah ditemukan.”
“Apa perasaanmu kalau melihat orang lain kehilangan sesuatu?”
Dia tersenyum seolah tak tahu harus menjawab apa.
“Temanmu baru saja kehilangan ponselnya di kelas, kamu tahu itu?”
“Saya juga sering kehilangan”, tukasnya seolah ingin mengatakan itu hal yang normal dan semua orang termasuk aku harus menyikapinya dengan cara yang sama.
“Kamu pernah mengambil barang yang bukan milik kamu?”
“Iya, karena iseng. Atau hal kecil. Ngambil sampo atau sabun teman di kamar mandi.”
“Kamu tahu itu merugikan orang lain?”
“Aku membayarnya dengan hukuman.”
Dia belum tahu bahwa semua orang menuduhnya sebagai pelaku pencurian ponsel teman sekelasnya. Karena itu sekarang kami berhadap-hadapan. “Apa yang mengganggu pikiranmu sekarang, Nak?”
“Nenek sepertinya akan mati, dia sering sakit. Aku takut karena paman belum juga pulang sejak pamit untuk menyeberang. Aku ingin tinggal dengan nenek saja, tidak lagi di panti,” dia mengatakan itu dengan mata berkaca. Aku tahu ia tulus.
“Masih ada yang belum kamu katakan? Hanya kejujuran yang akan membuatmu selamat. Katakan saja,” bujukku dengan suara yang rendah, hampir seperti bisikan di telinganya.
Di depan kami, monitor menampakkan rekaman kamera cctv yang menampakkan aktivitas ilegalnya saat semua siswa mestinya sedang mengikuti kegiatan keagamaan.
Setelah sama-sama melihatnya, air matanya menyungai, tanpa isak, tampak dadanya begitu penuh dan sesak. Kedua tangannya menggenggam kuat dan memukul-mukul bagian lengan kursi kayu berpelitur gelap tempatnya duduk. Aku memegang pundaknya.
“Bapak bisa menolong saya?”
“Tentu saja, Nak. Apa itu?”
“Saya ingin mati sekarang. Saya tak mau paman, nenek, dan orang panti...”
“Kenapa? Kamu takut?”
Tak ada jawaban, baik anggukan maupun kata-kata. Tapi, air mata yang berpadu dengan isak itu lebih dari cukup untuk menjelaskan semua. Hati kami sama-sama remuk redam.
Setelah usahaku gagal meyakinkan sekolah untuk mempertahankannya, aku bertamu kepada wali bocah itu untuk memberitahukan bahwa bocah itu mesti mencari tempat sekolah baru.
***
Dia menjatuhkan beberapa bulir air mata ke dalam susu yang sedang ia seduh untuk anak pertamanya. Pada saat yang sama, mesin cucinya yang tua itu tengah bekerja membersihkan baju-baju kotor anaknya. Di sampingnya aku tengah mengaduk kopi yang baru seduh air termos. “Ini susu terakhir, Mas? Ini bahkan belum pertengahan bulan.”
“Kamu akan tetap menyapihnya.”
“Kamu kapan akan mulai berhenti merokok?”
“Bukan itu masalahnya.”
“Tapi kenyataan berkata yang sebaliknya.”
“Maksudku bukan itu yang akan menyelesaikan masalahnya.”
“Kamu hanya mengatakan bukan dan tidak, tapi tak menunjukkan jawaban yang tepat. Itulah masalah sebenarnya.”
“Lusa aku pulang ke tempat bapak.”
“Sebaiknya tidak. Kita bahkan belum membayar utang dua kambing akikah.”
“Apa kamu tadi sedang menyetrika?”
“Astaga!” teriaknya gusar. Hidung kami membaui sesuatu yang terbakar. Dengan setengah berteriak, dia hendak memburu, “Bajumu, Mas!”
“Terlambat. Sudah terbakar sebelum pertengkaran kita.”
“Itu baju khakimu, Mas.”
“Tak apa.”
“Tak apa bagaimana.”
“Aku memang sudah berniat takkan lagi mengenakannya.” (*)
- Fakuntsin, 23-24