Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

4 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan
Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

  • Masjid menara mulanya hanya diperuntukan bagi laki-laki. Namun, karena banyak perempuan yang sedang dalam perjalanan, akhirnya dibangun ruangan untuk sembahyang perempuan.

  • Namanya bertambah menjadi Masjid Menara Layur, karena berada di Jln. Layur di Kampung Melayu, Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang.

Hingga abad ke-17, Semarang belum menjadi pusat perhatian. Pelayaran perdagangan masih berpusat di pelabuhan Kesultanan Demak. Selama satu abad, perairan antara Gunung Muria dengan Pulau Jawa masih berupa selat yang hidup sebagai jalur perdagangan. Di selat itulah perahu-perahu antar pulau, kapal-kapal antara Negara, dan kapal-kapal Jung Jawa, ramai ke luar masuk selat membawa komoditas perdagangan.

Ada dua sebab utama yang menjadikan Selat Muria mendangkal, sehingga tak bisa dilayari lagi. Pertama terjadi penurunan muka laut global, sehingga kerajaan-kerajaan yang semula di sekitar muara sungai, di pinggir pantai, menjadi berada jauh dari pantai. Kerajaan-kerajaan yang semula berjaya karena adanya kemudahan dalam berniaga melalui jalur laut, kini menjadi di daratan yang jauh dari muara sungai dan pantai. 

Sebagai contoh, di pantai Utara Karawang, ada Kerajaan Tarumanagara, yang berjaya beberapa generasi. Namun, keadaan alam menjadikan kerajaan ini memudar, ketika pusat kerajaan semakin jauh dari laut. Upaya membuat parit yang dirayakan dengan memotong hewan, tak membantu mempertahankan kejayaan kerajaan. Begitu pun dengan Kesultanan Demak di mulut sisi selatan Selat Muria. Sebab kedua adalah pelumpuran yang sangat tinggi, sehingga secara perlahan membuat perairan laut itu mendangkal.

Pada tahun 1657, Selat Muria benar-benar sudah sangat dangkal, namun di beberapa tempat masih dapat dilayari dengan sampan. Pada tahun itu, ada rencana membuat saluran panjang dari Demak di barat hingga Juwana di timur. Namun, sepertinya tidak jadi, karena tidak ada berita yang meyakinkan bahwa rencana itu dilaksanakan. Akhirnya Selat Muria benar-benar tidak bisa dilayari, dan berangsur-angsur menjadi daratan. Berbarengan dengan itu, kegiatan perdagangan di sana menurun drastis, pelabuhan Kesultanan Demak tidak lagi menjadi pusat perniagaan global.

Ketika itulah para pedagang antar pulau dan pedagang global, ada yang beralih ke pelabuhan Jepara, dan ada yang mulai melirik pelabuhan alam yang berada di muara sungai di sebelah baratdaya Demak, yaitu daerah yang bernama Semarang. 

Pelabuhan Semarang terus bertumbuh, dan menjadi pusat perdagangan global. Anak-anak sungai dan sungai menjadi nadi perekonomian strategis, yang menghubungkan pusat perdagangan di darat dengan pelabuhan tempat bersandarnya kapal-kapal besar di tempuran sungai dengan laut. Satu sungai yang sangat hidup pada abad ke-17 sampai abad ke 19, adalah Kali Semarang, yang dapat dilayari kapal-kapal Jung Jawa yang terkenal itu. Hingga akhir abad ke-19 dan awal abad ke 20, perahu kecil, tongkang, sampan, menjadi sarana transportasi utama yang memuat beragam barang antara pelabuhan ke pergudangan, kantor dagang, dan jantung perekonomian di Pecinan, Kampung Melayu, dan Kota Lama. 

Di Pelabuhan dan di dermaga-dermaga sungai itulah para pelaut-pedagang dari berbagai daerah di Nusantara dan para pedagang antar Negara, bermukim berbulan-bulan, menunggu angin musim berbalik menuju daerah asalnya. Juga sambil menunggu terpenuhinya jumlah komoditas untuk satu kapal, agar biaya kapalnya menjadi lebih efisien. 

Karena alasan daya rekat budaya antara etnis, para pelaut-pedagang itu bermukim mengelompok, membentuk kantung-kantung perkampungan, seperti Kampung Melayu, Kampung Arab, Kampung India, Pecinan, dll, yang kemudian berbaur dengan penduduk pribumi. Dalam penantian musim dan jumlah komoditas, sering terjadi kawin-mawin antar etnis, sehingga kota pelabuhan menjadi tempat berbaurnya multi etnis, yang membentuk warna tersendiri kawasan tersebut.

Di dermaga Kali Semarang di Kampung Melayu, di antaranya terdapat komunitas pedagang Arab dari Yaman. Di sanalah mereka mendirikan masjid, yang sangat terhubung dengan sungai, bukan dengan jalan. Sangat mungkin, sungai jauh lebih hidup daripada jalan, atau bisa jadi jalan saat itu belum menjadi perhatian utama. Masjidnya didirikan tahun 1802 M, di dekat mercusuar, menara berlampu yang memberikan tanda arah bagi para pelaut. Itulah yang menyebabkan masyarakat sangat mengenal masjid itu sebagai Masjid Menara. Kemudian, namanya bertambah menjadi Masjid Menara Layur, karena berada di Jln. Layur di Kampung Melayu, Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang.

Semula, masjid itu dibangun dua lantai. Lantai dasar untuk madrasah, pengajian, dan lantai duanya untuk sembahyang. Namun, karena secara regional terjadi penurunan muka air tanah yang menyebabkan penurunan permukaan tanah di atasnya, serta pada musim penghujan terjadi rob, menyebabkan masjid ini sering kebanjiran. Papan kayu jati di lantai dua menjadi rusak. Akhirnya pelataran masjid yang menghadap ke jalan Layur diratakan setinggi permukaan jalan, nyaris menutupi pintu ruang lantai satu. Akhirnya ruang lantai satu masjid ditimbun. Kusen pintu jati berwarna hijau muda, menjadi penanda, seberapa tinggi pelataran masjid telah ditimbun.  

Baca Juga: Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Masjid menara mulanya hanya diperuntukan bagi laki-laki. Namun, karena banyak perempuan yang sedang dalam perjalanan, akhirnya dibangun ruangan untuk sembahyang perempuan.

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang. Selayaknya, penataan kawasan Netherland Kecil ini, jangan melupakan keterkaitan dengan nadi transportasi utama saat itu, yaitu sungai. Penataan lanskap pinggiran Kali Semarang, terutama di situs-situs penting dan utama, penataannya perlu memperhitungkan fungsi pada awalnya. Jangan sampai melupakan purwadaksi-nya, melupakan asal-usulnya. Penataan pinggir sungai tidak sekedar dibeton tegak lurus, yang menghilangkan keterkaitan sosiokultural manusia penghuninya yang menghidupkan sungai itu. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)