AYOBANDUNG.ID - Sebelum azan subuh berkumandang, Sahidin atau Didin sudah lebih dulu berada di masjid. Tangannya menyapu lantai, merapikan sajadah, dan memastikan tempat ibadah itu bersih sebelum jemaah datang. Selama lebih dari satu dekade, pria 60 tahun ini menjaga masjid di Kota Bandung—pekerjaan sunyi yang ia jalani dengan penghasilan sekitar Rp1 juta setiap bulan.
Di banyak masjid, marbot seperti Didin sering menjadi orang pertama yang datang dan terakhir yang pulang. Mereka membuka pintu masjid, membersihkan ruangan, menyiapkan pengeras suara, hingga memastikan tempat ibadah tetap nyaman digunakan jemaah setiap hari. Meski perannya penting dalam menjaga aktivitas masjid, kehidupan para marbot jarang menjadi perhatian.
“Satu juta, kalau nggak kerja dipotong,” ucap Didin sambil tersenyum saat ditemui di pelataran masjid.
Aktivitas di masjid sering dimulai bahkan sebelum matahari benar-benar terbit. Saat sebagian orang masih terlelap, Didin sudah membuka pintu masjid, menyalakan lampu, dan memastikan tempat ibadah itu siap menyambut para jemaah.
Rutinitas itu telah ia jalani lebih dari satu dekade. Sejak 2015, Didin dipercaya menjadi marbot di salah satu masjid di Kota Bandung.
Kini usianya menginjak 60 tahun. Wajahnya tetap tampak sumringah ketika menceritakan perjalanan panjangnya merawat masjid yang telah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
“Saya sudah jadi marbot di sini sekitar 10 tahun lebih, dari sekitar 2015 sebelum pandemi,” ujar Didin.
Awal yang Sederhana
Perjalanan Didin menjadi marbot tidak dimulai dari rencana besar. Pekerjaan yang ia tekuni selama lebih dari sepuluh tahun ini justru berawal dari kebiasaan sederhana: membantu mengumandangkan azan.
Suatu hari, seorang temannya mengajaknya ikut mengurus masjid.
“Waktu itu saya sering bantu azan di sini. Terus ada teman yang bilang, mau ikut nggak bersih-bersih dan ngurus masjid,” kenangnya.
Tanpa berpikir panjang, Didin menerima ajakan itu. Sejak saat itu, tanggung jawab merawat masjid perlahan menjadi bagian dari kesehariannya.
“Ya sudah, sampai sekarang alhamdulillah saya dipercaya,” ungkapnya.
Menjadi marbot berarti menjalani pekerjaan yang nyaris tanpa jeda. Setiap hari Didin membersihkan lantai, menyapu halaman, merapikan ruangan, serta memastikan tempat wudu dan toilet tetap bersih.
Selain itu, ia juga kerap menjadi muazin, bahkan imam salat jika diperlukan.
“Di sini setiap hari nyapu, ngepel, bersih-bersih, azan. Kadang jadi imam juga,” kata Didin.
Rutinitas itu berjalan terus-menerus tanpa hari libur.
“Tidak ada liburnya,” ujarnya.
Pada hari biasa, Didin sudah berada di masjid sebelum subuh. Namun ketika Ramadan tiba, harinya dimulai lebih awal lagi.
Sekitar pukul empat pagi, ia datang untuk melakukan tarhim—membaca ayat Al-Qur’an melalui pengeras suara sebagai tradisi membangunkan warga untuk sahur.
“Kalau bulan puasa saya datang jam 4 pagi,” kata Didin.
“Biasanya saya tarhim, ngaji lewat speaker untuk membangunkan orang sahur,” tambahnya.
Setelah salat subuh selesai, pekerjaannya belum berhenti. Ia kembali membersihkan masjid sebelum para jemaah datang untuk salat berikutnya.
Menyembelih Hewan Kurban hingga Memandikan Jenazah
Tugas marbot tidak berhenti pada urusan kebersihan masjid. Dalam berbagai kesempatan, Didin juga terlibat dalam kegiatan sosial keagamaan di lingkungan sekitar.
Saat Idul Adha, misalnya, ia membantu mengurus hewan kurban.
“Kalau Idul Adha pekerjaan nambah, harus ngurus kambing kurban juga,” kata Didin.
Ia juga sering membantu ketika ada warga yang meninggal dunia. Bersama marbot lainnya, Didin biasanya membuka masjid untuk prosesi salat jenazah, bahkan kadang ikut memandikan jenazah.
“Kalau ada orang meninggal, kami juga yang pegang kunci masjid. Kadang ikut memandikan jenazah,” ujarnya.
“Di Masjid Tidak Ada Kata Pahit”
Meski rutinitasnya panjang dan cukup menguras tenaga, Didin mengaku tidak pernah menganggap pekerjaannya sebagai beban.
“Tidak ada yang berat buat saya,” katanya.
Baginya, merawat masjid adalah bagian dari ibadah. Karena itu, rasa lelah yang muncul dari aktivitas sehari-hari tidak pernah ia jadikan keluhan.
“Kalau di masjid tidak ada kata pahit,” ujar Didin dengan sorot mata yang mulai berkaca-kaca.
Selama lebih dari sepuluh tahun mengabdi, Didin menerima honor sekitar satu juta rupiah setiap bulan dari dana yang dihimpun jemaah dan pengurus masjid.
“Honor saya satu juta sebulan,” katanya.
Sebagian besar uang itu digunakan untuk membayar kontrakan tempat tinggalnya. Ia tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah kontrakan dengan biaya sekitar Rp540 ribu per bulan.
“Saya tinggal di kontrakan, bayar 540 ribu sebulan,” ujar Didin.
Meski demikian, ia tetap merasa cukup dengan apa yang dimilikinya.
“Alhamdulillah cukup. Karena kalau Allah kasih berkah, cukup saja,” katanya.
Harapan untuk Para Marbot
Walau menjalani pekerjaannya dengan sepenuh hati, Didin berharap profesi marbot mendapatkan perhatian lebih.
Menurutnya, banyak marbot bekerja dengan penghasilan terbatas dan jarang mendapatkan dukungan dari pemerintah.
“Mudah-mudahan ada perhatian dari pemerintah untuk marbot,” katanya.
Harapan itu tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk marbot lain yang menjalani kehidupan serupa.
“Kalau bukan untuk saya, ya untuk marbot yang lain juga,” ucapnya.
Menjelang waktu salat berikutnya, Didin kembali berdiri dari kursinya di sudut masjid. Ia mengambil sapu dan mulai membersihkan lantai yang baru saja dilewati beberapa jemaah.
Rutinitas itu sudah ia lakukan bertahun-tahun: membuka pintu sebelum subuh, membersihkan ruangan, lalu memastikan masjid siap digunakan siapa saja yang datang untuk beribadah.
Tak ada papan nama khusus yang mencatat pengabdiannya. Namun bagi Didin, itu bukan hal yang penting.
“Selama saya masih dipercaya, saya akan terus merawat masjid ini,” kata Didin pelan.
Di luar, suara kendaraan Kota Bandung mulai ramai. Sementara di dalam masjid, Didin kembali menyapu lantai—seperti hari-hari sebelumnya.
