Marbot yang Merawat Masjid Setiap Hari dengan Honor Sejuta Rupiah

4 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Didin menjalankan rutinitas membersihkan masjid. Selama lebih dari satu dekade ia bekerja sebagai marbot. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Didin menjalankan rutinitas membersihkan masjid. Selama lebih dari satu dekade ia bekerja sebagai marbot. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Sebelum azan subuh berkumandang, Sahidin atau Didin sudah lebih dulu berada di masjid. Tangannya menyapu lantai, merapikan sajadah, dan memastikan tempat ibadah itu bersih sebelum jemaah datang. Selama lebih dari satu dekade, pria 60 tahun ini menjaga masjid di Kota Bandung—pekerjaan sunyi yang ia jalani dengan penghasilan sekitar Rp1 juta setiap bulan.

Di banyak masjid, marbot seperti Didin sering menjadi orang pertama yang datang dan terakhir yang pulang. Mereka membuka pintu masjid, membersihkan ruangan, menyiapkan pengeras suara, hingga memastikan tempat ibadah tetap nyaman digunakan jemaah setiap hari. Meski perannya penting dalam menjaga aktivitas masjid, kehidupan para marbot jarang menjadi perhatian.

“Satu juta, kalau nggak kerja dipotong,” ucap Didin sambil tersenyum saat ditemui di pelataran masjid.

Aktivitas di masjid sering dimulai bahkan sebelum matahari benar-benar terbit. Saat sebagian orang masih terlelap, Didin sudah membuka pintu masjid, menyalakan lampu, dan memastikan tempat ibadah itu siap menyambut para jemaah.

Rutinitas itu telah ia jalani lebih dari satu dekade. Sejak 2015, Didin dipercaya menjadi marbot di salah satu masjid di Kota Bandung.

Kini usianya menginjak 60 tahun. Wajahnya tetap tampak sumringah ketika menceritakan perjalanan panjangnya merawat masjid yang telah menjadi bagian penting dalam hidupnya.

“Saya sudah jadi marbot di sini sekitar 10 tahun lebih, dari sekitar 2015 sebelum pandemi,” ujar Didin.

Awal yang Sederhana

Perjalanan Didin menjadi marbot tidak dimulai dari rencana besar. Pekerjaan yang ia tekuni selama lebih dari sepuluh tahun ini justru berawal dari kebiasaan sederhana: membantu mengumandangkan azan.

Suatu hari, seorang temannya mengajaknya ikut mengurus masjid.

“Waktu itu saya sering bantu azan di sini. Terus ada teman yang bilang, mau ikut nggak bersih-bersih dan ngurus masjid,” kenangnya.

Tanpa berpikir panjang, Didin menerima ajakan itu. Sejak saat itu, tanggung jawab merawat masjid perlahan menjadi bagian dari kesehariannya.

“Ya sudah, sampai sekarang alhamdulillah saya dipercaya,” ungkapnya.

Menjadi marbot berarti menjalani pekerjaan yang nyaris tanpa jeda. Setiap hari Didin membersihkan lantai, menyapu halaman, merapikan ruangan, serta memastikan tempat wudu dan toilet tetap bersih.

Selain itu, ia juga kerap menjadi muazin, bahkan imam salat jika diperlukan.

“Di sini setiap hari nyapu, ngepel, bersih-bersih, azan. Kadang jadi imam juga,” kata Didin.

Rutinitas itu berjalan terus-menerus tanpa hari libur.

“Tidak ada liburnya,” ujarnya.

Pada hari biasa, Didin sudah berada di masjid sebelum subuh. Namun ketika Ramadan tiba, harinya dimulai lebih awal lagi.

Sekitar pukul empat pagi, ia datang untuk melakukan tarhim—membaca ayat Al-Qur’an melalui pengeras suara sebagai tradisi membangunkan warga untuk sahur.

“Kalau bulan puasa saya datang jam 4 pagi,” kata Didin.

“Biasanya saya tarhim, ngaji lewat speaker untuk membangunkan orang sahur,” tambahnya.

Setelah salat subuh selesai, pekerjaannya belum berhenti. Ia kembali membersihkan masjid sebelum para jemaah datang untuk salat berikutnya.

Menyembelih Hewan Kurban hingga Memandikan Jenazah

Tugas marbot tidak berhenti pada urusan kebersihan masjid. Dalam berbagai kesempatan, Didin juga terlibat dalam kegiatan sosial keagamaan di lingkungan sekitar.

Saat Idul Adha, misalnya, ia membantu mengurus hewan kurban.

“Kalau Idul Adha pekerjaan nambah, harus ngurus kambing kurban juga,” kata Didin.

Ia juga sering membantu ketika ada warga yang meninggal dunia. Bersama marbot lainnya, Didin biasanya membuka masjid untuk prosesi salat jenazah, bahkan kadang ikut memandikan jenazah.

“Kalau ada orang meninggal, kami juga yang pegang kunci masjid. Kadang ikut memandikan jenazah,” ujarnya.

“Di Masjid Tidak Ada Kata Pahit”

Meski rutinitasnya panjang dan cukup menguras tenaga, Didin mengaku tidak pernah menganggap pekerjaannya sebagai beban.

“Tidak ada yang berat buat saya,” katanya.

Baginya, merawat masjid adalah bagian dari ibadah. Karena itu, rasa lelah yang muncul dari aktivitas sehari-hari tidak pernah ia jadikan keluhan.

“Kalau di masjid tidak ada kata pahit,” ujar Didin dengan sorot mata yang mulai berkaca-kaca.

Selama lebih dari sepuluh tahun mengabdi, Didin menerima honor sekitar satu juta rupiah setiap bulan dari dana yang dihimpun jemaah dan pengurus masjid.

“Honor saya satu juta sebulan,” katanya.

Sebagian besar uang itu digunakan untuk membayar kontrakan tempat tinggalnya. Ia tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah kontrakan dengan biaya sekitar Rp540 ribu per bulan.

“Saya tinggal di kontrakan, bayar 540 ribu sebulan,” ujar Didin.

Meski demikian, ia tetap merasa cukup dengan apa yang dimilikinya.

“Alhamdulillah cukup. Karena kalau Allah kasih berkah, cukup saja,” katanya.

Harapan untuk Para Marbot

Walau menjalani pekerjaannya dengan sepenuh hati, Didin berharap profesi marbot mendapatkan perhatian lebih.

Menurutnya, banyak marbot bekerja dengan penghasilan terbatas dan jarang mendapatkan dukungan dari pemerintah.

“Mudah-mudahan ada perhatian dari pemerintah untuk marbot,” katanya.

Harapan itu tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk marbot lain yang menjalani kehidupan serupa.

“Kalau bukan untuk saya, ya untuk marbot yang lain juga,” ucapnya.

Menjelang waktu salat berikutnya, Didin kembali berdiri dari kursinya di sudut masjid. Ia mengambil sapu dan mulai membersihkan lantai yang baru saja dilewati beberapa jemaah.

Rutinitas itu sudah ia lakukan bertahun-tahun: membuka pintu sebelum subuh, membersihkan ruangan, lalu memastikan masjid siap digunakan siapa saja yang datang untuk beribadah.

Tak ada papan nama khusus yang mencatat pengabdiannya. Namun bagi Didin, itu bukan hal yang penting.

“Selama saya masih dipercaya, saya akan terus merawat masjid ini,” kata Didin pelan.

Di luar, suara kendaraan Kota Bandung mulai ramai. Sementara di dalam masjid, Didin kembali menyapu lantai—seperti hari-hari sebelumnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 12:36

Romantisme Membaca Majalah Vista September 1983: Ketika Radio, Kaset, Bioskop dan Idola Menghidupkan Kenangan

Membaca Vista hari ini seperti memutar kembali sebuah kaset lama.

Majalah Vista, salah satu majalah hiburan populer pada era 1980–1990-an. Majalah ini menyajikan beragam informasi seputar musik, film, dan perkembangan dunia hiburan. (Sumber: Koleksi Majalah Vista milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 10:03

Waspadai Sindikat Penjualan Bayi dan Perbaiki Tata Kelola Adopsi

Pembentukan keluarga melalui jalur adopsi, proses ini masih sering dihadapkan pada tantangan yang rumit.

Ilustrasi adopsi bayi dalam sebuah keluarga (Sumber: dokpri dengan bantuan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 08:29

Manusia Gerobak, Manusia Statistik, Manusia Bandung

Istilah manusia gerobak mungkin terdengar seperti deskripsi visual. Padahal, ia membawa beban moral yang tidak enteng.

Manusia gerobak. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ANTARA via ayobandung.com)