Marbot yang Merawat Masjid Setiap Hari dengan Honor Sejuta Rupiah

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Jumat 13 Mar 2026, 06:35 WIB
Didin menjalankan rutinitas membersihkan masjid. Selama lebih dari satu dekade ia bekerja sebagai marbot. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Didin menjalankan rutinitas membersihkan masjid. Selama lebih dari satu dekade ia bekerja sebagai marbot. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Sebelum azan subuh berkumandang, Sahidin atau Didin sudah lebih dulu berada di masjid. Tangannya menyapu lantai, merapikan sajadah, dan memastikan tempat ibadah itu bersih sebelum jemaah datang. Selama lebih dari satu dekade, pria 60 tahun ini menjaga masjid di Kota Bandung—pekerjaan sunyi yang ia jalani dengan penghasilan sekitar Rp1 juta setiap bulan.

Di banyak masjid, marbot seperti Didin sering menjadi orang pertama yang datang dan terakhir yang pulang. Mereka membuka pintu masjid, membersihkan ruangan, menyiapkan pengeras suara, hingga memastikan tempat ibadah tetap nyaman digunakan jemaah setiap hari. Meski perannya penting dalam menjaga aktivitas masjid, kehidupan para marbot jarang menjadi perhatian.

“Satu juta, kalau nggak kerja dipotong,” ucap Didin sambil tersenyum saat ditemui di pelataran masjid.

Aktivitas di masjid sering dimulai bahkan sebelum matahari benar-benar terbit. Saat sebagian orang masih terlelap, Didin sudah membuka pintu masjid, menyalakan lampu, dan memastikan tempat ibadah itu siap menyambut para jemaah.

Rutinitas itu telah ia jalani lebih dari satu dekade. Sejak 2015, Didin dipercaya menjadi marbot di salah satu masjid di Kota Bandung.

Kini usianya menginjak 60 tahun. Wajahnya tetap tampak sumringah ketika menceritakan perjalanan panjangnya merawat masjid yang telah menjadi bagian penting dalam hidupnya.

“Saya sudah jadi marbot di sini sekitar 10 tahun lebih, dari sekitar 2015 sebelum pandemi,” ujar Didin.

Awal yang Sederhana

Perjalanan Didin menjadi marbot tidak dimulai dari rencana besar. Pekerjaan yang ia tekuni selama lebih dari sepuluh tahun ini justru berawal dari kebiasaan sederhana: membantu mengumandangkan azan.

Suatu hari, seorang temannya mengajaknya ikut mengurus masjid.

“Waktu itu saya sering bantu azan di sini. Terus ada teman yang bilang, mau ikut nggak bersih-bersih dan ngurus masjid,” kenangnya.

Tanpa berpikir panjang, Didin menerima ajakan itu. Sejak saat itu, tanggung jawab merawat masjid perlahan menjadi bagian dari kesehariannya.

“Ya sudah, sampai sekarang alhamdulillah saya dipercaya,” ungkapnya.

Menjadi marbot berarti menjalani pekerjaan yang nyaris tanpa jeda. Setiap hari Didin membersihkan lantai, menyapu halaman, merapikan ruangan, serta memastikan tempat wudu dan toilet tetap bersih.

Selain itu, ia juga kerap menjadi muazin, bahkan imam salat jika diperlukan.

“Di sini setiap hari nyapu, ngepel, bersih-bersih, azan. Kadang jadi imam juga,” kata Didin.

Rutinitas itu berjalan terus-menerus tanpa hari libur.

“Tidak ada liburnya,” ujarnya.

Pada hari biasa, Didin sudah berada di masjid sebelum subuh. Namun ketika Ramadan tiba, harinya dimulai lebih awal lagi.

Sekitar pukul empat pagi, ia datang untuk melakukan tarhim—membaca ayat Al-Qur’an melalui pengeras suara sebagai tradisi membangunkan warga untuk sahur.

“Kalau bulan puasa saya datang jam 4 pagi,” kata Didin.

“Biasanya saya tarhim, ngaji lewat speaker untuk membangunkan orang sahur,” tambahnya.

Setelah salat subuh selesai, pekerjaannya belum berhenti. Ia kembali membersihkan masjid sebelum para jemaah datang untuk salat berikutnya.

Menyembelih Hewan Kurban hingga Memandikan Jenazah

Tugas marbot tidak berhenti pada urusan kebersihan masjid. Dalam berbagai kesempatan, Didin juga terlibat dalam kegiatan sosial keagamaan di lingkungan sekitar.

Saat Idul Adha, misalnya, ia membantu mengurus hewan kurban.

“Kalau Idul Adha pekerjaan nambah, harus ngurus kambing kurban juga,” kata Didin.

Ia juga sering membantu ketika ada warga yang meninggal dunia. Bersama marbot lainnya, Didin biasanya membuka masjid untuk prosesi salat jenazah, bahkan kadang ikut memandikan jenazah.

“Kalau ada orang meninggal, kami juga yang pegang kunci masjid. Kadang ikut memandikan jenazah,” ujarnya.

“Di Masjid Tidak Ada Kata Pahit”

Meski rutinitasnya panjang dan cukup menguras tenaga, Didin mengaku tidak pernah menganggap pekerjaannya sebagai beban.

“Tidak ada yang berat buat saya,” katanya.

Baginya, merawat masjid adalah bagian dari ibadah. Karena itu, rasa lelah yang muncul dari aktivitas sehari-hari tidak pernah ia jadikan keluhan.

“Kalau di masjid tidak ada kata pahit,” ujar Didin dengan sorot mata yang mulai berkaca-kaca.

Selama lebih dari sepuluh tahun mengabdi, Didin menerima honor sekitar satu juta rupiah setiap bulan dari dana yang dihimpun jemaah dan pengurus masjid.

“Honor saya satu juta sebulan,” katanya.

Sebagian besar uang itu digunakan untuk membayar kontrakan tempat tinggalnya. Ia tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah kontrakan dengan biaya sekitar Rp540 ribu per bulan.

“Saya tinggal di kontrakan, bayar 540 ribu sebulan,” ujar Didin.

Meski demikian, ia tetap merasa cukup dengan apa yang dimilikinya.

“Alhamdulillah cukup. Karena kalau Allah kasih berkah, cukup saja,” katanya.

Harapan untuk Para Marbot

Walau menjalani pekerjaannya dengan sepenuh hati, Didin berharap profesi marbot mendapatkan perhatian lebih.

Menurutnya, banyak marbot bekerja dengan penghasilan terbatas dan jarang mendapatkan dukungan dari pemerintah.

“Mudah-mudahan ada perhatian dari pemerintah untuk marbot,” katanya.

Harapan itu tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk marbot lain yang menjalani kehidupan serupa.

“Kalau bukan untuk saya, ya untuk marbot yang lain juga,” ucapnya.

Menjelang waktu salat berikutnya, Didin kembali berdiri dari kursinya di sudut masjid. Ia mengambil sapu dan mulai membersihkan lantai yang baru saja dilewati beberapa jemaah.

Rutinitas itu sudah ia lakukan bertahun-tahun: membuka pintu sebelum subuh, membersihkan ruangan, lalu memastikan masjid siap digunakan siapa saja yang datang untuk beribadah.

Tak ada papan nama khusus yang mencatat pengabdiannya. Namun bagi Didin, itu bukan hal yang penting.

“Selama saya masih dipercaya, saya akan terus merawat masjid ini,” kata Didin pelan.

Di luar, suara kendaraan Kota Bandung mulai ramai. Sementara di dalam masjid, Didin kembali menyapu lantai—seperti hari-hari sebelumnya.

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)