Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

6 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID Siang itu (5/6/2026), sebuah rumah di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, tampak berbeda dari rumah-rumah di sekitarnya. Di halamannya tertata kursi panjang, gerobak, meja panggang, dengan desain warna kuning menyala, lengkap dengan banner bertuliskan "KebabFactory.id" beserta daftar menu dan harganya. Dua orang pegawai sudah sibuk menata bahan baku, menyambut ojek online yang datang bergantian mengambil pesanan.

Di tengah kesibukan itu, Widya Ratna Puspita menyapa ramah. Sosoknya mungkin tak terduga sebagai pemilik usaha kebab yang produknya sudah merambah Malaysia dan Singapura. Sebelumnya, perempuan ini menghabiskan 10 tahun kariernya sebagai karyawan di salah satu bank milik pemerintah, BRI.

Setelah mempersilakan ayobandung.id duduk di ruang depan rumah produksi, Widya pun menceritakan perjalanannya membangun Kebab Factory, sedari awal hingga kondisi saat ini.

"Dulu saya bayangkan jadi pengusaha itu kerjaannya cuma duduk-duduk terima laporan. Ternyata setiap hari ada saja yang harus dipikirkan, dari bahan baku, karyawan, sampai pesanan yang masuk dari berbagai kota," ujarnya sambil tersenyum membuka obrolan.

Keputusan untuk resign di penghujung tahun 2018 bukan hal sepele. Posisi sebagai karywan di bank pemerintah memberikan penghasilan di atas UMR, sesuatu yang sulit dilepaskan begitu saja. 

Namun setelah satu dekade mengabdi, Widya merasa ada yang berubah dalam dirinya. Ia ingin lebih fokus mengurus dua anaknya, sekaligus mengejar mimpi lama yang selama ini terpendam: menjadi pengusaha. Sejak kecil, berjualan memang sudah jadi "bakat terpendam"-nya, mulai dari menjual poster dan kartu boy band semasa sekolah, hingga berjualan pakaian saat kuliah.

Tak banyak yang mendukung keputusannya dari pihak luar. Cuma keluarga terdekat yang terus memberi keyakinan. Langkah awal sebagai pengusaha pun tak mulus, usaha pertamanya di bidang fesyen gagal, tak lama setelah dijalankan.

"Waktu itu banyak yang bilang saya nekat, sudah enak kerja kantoran malah keluar. Tapi keluarga saya selalu bilang, rezeki itu enggak cuma datang dari gaji bulanan. Sekarang, kalau saya lihat ke belakang, saya enggak pernah menyesal, meskipun jalannya jauh lebih berliku dari yang saya kira," lanjut Widya.

Dari kegagalan di bisnis fesyen, Widya mencoba peruntungan di usaha kuliner. Pilihan jatuh pada kebab, terinspirasi dari kesukaan anak-anaknya pada kuliner asal Turki tersebut. Tapi alih-alih mengikuti pasar yang umumnya menawarkan kebab rasa beef atau chicken, Widya melihat ada celah untuk tampil beda.

Lahirlah berbagai varian kebab yang tak biasa: choco kebab, beng-beng kebab, ice cream kebab, hingga kebab tematik seperti kebab peuyeum keju (saat HUT Bandung), kebab baso aci, kebab "black pink" untuk pasangan di momen Valentine, hingga kebab rendang dan kebab curry. Selain variasi rasa, Kebab Factory juga membuat kebab dengan berbagai ukuran dan kemasan, termasuk "kebab sekat" yang bisa dinikmati bersama-sama dalam satu kemasan berisi 12 pcs mini kebab.

"Saya selalu mikirnya, kalau orang lain jual kebab rasa daging ya saya harus punya sesuatu yang enggak ada di tempat lain. Ide-ide itu kadang muncul dari hal sederhana. Anak saya minta es krim, ya saya coba gimana kalau es krimnya dimasukkan ke kebab. Awalnya banyak yang skeptis, tapi begitu dicoba, malah jadi favorit," tutur Widya.

Titik Pijak Lebih Tinggi

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Sebelum aktif di Rumah BUMN Bandung menjelang akhir tahun 2022, Widya sebatas memasukkan produknya ke sejumlah toko ritel, kafe dan beberapa store offline. Saat itu dirinya belum memahami hal-hal mendasar seperti pengurusan label halal atau izin pendukung lainnya. Widya bilang, hanya tahu cara berjualan konvensional.

Di Rumah BUMN Bandung, Widya menyadari bahwa menjadi pelaku usaha bukan sekadar soal berjualan dan mendapat keuntungan. Ada banyak hal lain yang perlu dicapai, mulai dari perizinan hingga program pelatihan dan peningkatan kapasitas (skill up).

Pendampingan di Rumah BUMN Bandung sendiri dirancang berjenjang. Menurut Regional CEO BRI Regional Office Bandung, Dewi Hestiningrum S., Rumah BUMN Bandung diposisikan sebagai pusat inkubasi dan kolaborasi strategis bagi UMKM Jawa Barat, dengan fokus pada pelaku usaha di sektor kreatif, fesyen, kuliner, dan kriya (sektor yang menjadi kekhasan Jawa Barat). Pendampingannya melalui empat tahap: Go Modern (penguatan manajemen dan kemasan), Go Digital (literasi teknologi dasar), Go Online (pemasaran daring dan e-commerce), hingga Go Global (persiapan ekspor). 

"Pendekatan bertahap ini memastikan UMKM tumbuh secara organik dan berkelanjutan, bukan sekadar mengejar target sesaat," ujar Dewi.

Bagi Widya, Rumah BUMN bukan sekadar tempat pelatihan. Dia menyebutnya sebagai "rumah kedua", bahkan "sekolah wajib bagi para pelaku UMKM".

"Hampir semua ilmu yang saya pakai sekarang, sumbernya dari Rumah BUMN. Dulu fokus saya cuma jualan online lewat marketplace dan distributor titip jual. Setelah ikut pembinaan, saya baru ngerti caranya membangun usaha yang punya sistem, bukan cuma jualan, tapi juga bagaimana mengelola tim, kemitraan, sampai legalitas," jelas Widya.

Dari Satu Gerobak ke Jaringan Kemitraan

Tampilan menu KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Tampilan menu KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Seiring berjalannya waktu, skala usaha Kebab Factory pun ikut bertumbuh. Saat ini, Widya sudah mengoperasikan 3 store dengan dibantu 12 karyawan. Pencapaian yang jauh berbeda dari titik awal usahanya yang berbasis pesanan dengan sistem bayar per order.

Ia kemudian membuka jalan bagi orang lain untuk turut merasakan peluang yang sama, namun dengan pendekatan yang ia sebut berbeda dari franchise pada umumnya.

 "Bedanya sama franchise, kami masih skala UMKM. Modelnya kemitraan, jadi siapa pun bisa membuka Kebab Factory mulai dari modal Rp17,5 juta. Kami juga bantu carikan tempat jual, misalnya di Alfamidi, lengkap dengan kepastian asuransinya," ucap wanita kelahiran 1986 ini.

Saat ini sudah ada 5 mitra yang bergabung dengan model kemitraan tersebut. Selain itu, Widya juga membuka dua jalur usaha dengan modal lebih ringan: program reseller dengan modal Rp1 juta dan diskon 10 persen, serta program agent dengan modal Rp5 juta dan diskon 15 persen. Kedua program ini, menurut Widya, sengaja dirancang untuk menyasar ibu rumah tangga yang ingin mendapat penghasilan tambahan tanpa harus membuka gerai sendiri.

"Reseller dan agent itu fleksibel, cocok buat ibu-ibu yang mau jualan dari rumah dulu. Bahkan kalau mau jadi reseller sekaligus agent juga boleh, supaya penghasilannya bisa lebih maksimal," tambahnya.

Menariknya, seluruh pengetahuan untuk merancang sistem kemitraan berjenjang ini (dari yang sebelumnya hanya berfokus sebagai distributor dan toko online, menjadi model bisnis yang lebih terstruktur seperti sekarang) Widya akui bersumber dari pembinaan yang ia ikuti di Rumah BUMN Bandung.

Pencapaian yang menurut Widya paling membanggakan adalah keberhasilan mengirim produknya ke luar negeri (masih berjalan hingga kini, meski dalam jumlah yang belum besar). Cerita bermula dari kerabat jauh di Malaysia yang awalnya memesan untuk konsumsi pribadi, lalu produk tersebut disukai rekan-rekan kerjanya. Dari sana, "the power of medsos", sebutan Widya untuk peran media sosial, membawa permintaan rutin dari Malaysia dan Singapura.

Ambisi ini selaras dengan fase "Go Global" yang menjadi tahap akhir pendampingan Rumah BUMN. Dewi Hestiningrum menjelaskan bahwa integrasi antara pembinaan dan akses pembiayaan seperti KUR dirancang berkesinambungan. Progres UMKM binaan, yang terlihat dari peningkatan transaksi, perbaikan manajemen, dan kelengkapan administrasi, menjadi landasan historis yang kuat bagi pengajuan KUR. 

"Pelaku UMKM tidak harus memulai dari nol saat mengajukan pembiayaan, karena rekam jejak pembinaan di Rumah BUMN telah menjadi referensi credit assessment yang valid," ujar Dewi.

***

Bagi Widya, perjalanan dari ruang kerja perbankan ke dapur produksi kebab mengajarkan satu hal: rezeki tidak selalu berbentuk uang. Melihat anak-anaknya sehat, mampu membayar gaji karyawan, dan usahanya tetap bertahan bahkan di tengah pandemi. Semua itu menjadi bentuk kesyukuran tersendiri. Namun ia juga jujur soal konsekuensinya bahwa menjadi pengusaha berarti siap menerima ketidakpastian yang tidak akan ia temui sebagai karyawan.

"Pesan saya buat yang mau mulai usaha, jangan takut belajar dari nol. Manfaatkan program-program seperti di Rumah BUMN, karena ilmu yang saya dapat di sana benar-benar mengubah cara saya melihat bisnis. Harapan saya, Kebab Factory bisa terus bertumbuh, membuka lebih banyak peluang buat mitra-mitra baru, dan tetap menghadirkan inovasi yang bikin orang senyum setiap menggigit kebabnya," tutup Widya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 18:09

Pandemi Senyap Kapitalisme dalam Industri Gula dan Obat-obatan

Membongkar masalah ketimpangan yang serius di balik industri gula dan obat-obatan. Keduanya berkolaborasi dalam industri kematian yang mengancam masyarakat berpenghasilan rendah.

Pabrik gula. (Sumber: Pexels | Foto: Deepak Sharma)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 17:07

Mengapa Kampanye Mi Nyemek Jogja Mudah Diingat?

Menganalisis bagaimana Mi Nyemek Ala Jogja Rasa Rendang dipublikasikan dengan pesan yang konsisten, sehingga informasi produk dapat diterima publik secara luas dan jelas.

Ilustrasi mie nyemek Jogja. (Sumber: Youtube | Foto: DewiRistiyaniKitchen)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 16:00

Dari Kasus Penebangan Pohon hingga Persib-Persija, Isu Menarik Pekan Ini untuk Ayo Netizen

Bagi penulis Ayo Netizen yang masih mencari ide segar, berikut beberapa isu yang layak diangkat dalam beberapa hari ke depan.

Lokasi pohon-pohon yang diduga ditebang tanpa izin pemerintah. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 15:02

Mengapa Kampanye Jumbo Mudah Diingat? Jawabannya Ada pada Konsistensi Pesan

Kolaborasi antara Fore Coffe dan film animasi Jumbo menjadi salah satu strategi pemasaran yang menarik untuk di teliti karena menghadirkan pengalaman yang baru bagi konsumen.

Ilustrasi kampanye film Jumbo yang masih tetap konsisten sampai saat ini. (Istimewa)
Sejarah 03 Agu 2026, 13:10

Sejarah Peuyeum Ketan Kuningan, Tradisi Fermentasi yang jadi Identitas Daerah

Peuyeum ketan Kuningan lahir dari tradisi kampung, berkembang menjadi oleh-oleh populer, dan tetap mempertahankan proses fermentasi tradisional.

Peuyeum atau tape ketan Kuningan.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 12:38

Momentum Agustus 2026: Saatnya Menggali Cerita dari Kemerdekaan hingga Budaya Bandung

Bulan Agustus selalu menghadirkan banyak momentum yang layak dijadikan bahan tulisan.

Sejumlah ibu rumah tangga mengikuti berbagai lomba 17 Agustus di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 10:05

Mengenang Acara Radio Favorit GANESHA IWAN FALS (GIF)

Lagu-lagu Iwan Fals menyebar dari kaset, panggung konser, hingga gelombang radio.

Sosok musisi legendaris Iwan Fals menghiasi berbagai halaman depan tabloid dan majalah musik populer sepanjang era 1990-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)