Kisah para Juara 1 BRIncubator, Konsisten Berdayakan Pekerja Lokal

9 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID – Di sebuah gang sempit kawasan Cicadas, Kota Bandung, aroma kukusan mengepul setiap pagi dari dapur rumahan yang sederhana. Sementara di Kabupaten Bandung, di lorong workshop Cibaduyut, bunyi palu kecil berirama dan desis jarum menembus kulit tebal sudah terdengar sebelum matahari benar-benar tinggi. Kedua tempat itu terlihat biasa saja dari luar. Namun dari dua titik itulah lahir kisah wirausaha yang hari ini dikenal jauh melampaui batas gang tempat mereka bermula.

Ani Andriyani dan Mochamad Indra Yusuf Wahyudin mungkin tidak saling kenal, baik ketika pertama kali merintis usahanya atau setelah sukses saat ini. Tetapi di tahun 2023, nama keduanya berdampingan dalam satu catatan yang sama: Juara 1 BRIncubator (Batch I dan II). 

Program inkubasi bergengsi dari BRI itu setiap tahunnya mengangkat segelintir UMKM ke panggung yang lebih besar.

Bisnis Tidak Selalu sesuai Background

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Tidak ada yang menduga Indra akan menjadi produsen sepatu kulit. Di atas kertas, ia adalah akademisi bahasa—lulusan S1 Sastra Inggris Universitas Kristen Maranatha, lalu melanjutkan S2 Pendidikan Bahasa Inggris di UPI. Namun Cibaduyut, kawasan tempatnya tumbuh besar, sudah mencetak passion-nya jauh sebelum ijazah itu ada. 

Ia sering berkunjung ke rumah teman-teman kecilnya yang orang tuanya bekerja sebagai perajin sepatu. Dari sana, rasa ingin tahu itu bersemi pelan-pelan, sampai suatu hari ia berdiri di depan etalase mal dan memutuskan: kalau tidak bisa membeli, lebih baik membuat. Nama mereknya pun lahir dari kesederhanaan yang sama.

"Pemilihan nama merek 'Koku' itu sederhana, karena mirip aja pelafalannya seperti 'kaki'. Jadi supaya gampang diingat mereknya, namanya Koku," ungkap Indra, pendiri Koku Footwear.

Ani pun bukan jebolan tata boga. Perempuan kelahiran Bandung 1982 ini sebelumnya bekerja sebagai HRD, sambil merangkap sebagai makeup artist dan desainer kerudung. Pertemuannya dengan dimsum bukan di ruang produksi, melainkan di meja makan restoran ternama yang harganya membuat dahi berkerut. Ia menceritakannya dengan runtut:

"Dimsum Inmons bermula tahun 2017. Awalnya saya tertarik ke dimsum karena saya makan ke salah satu restoran yang menurut saya mahal dan kok ini enak banget, ya? Saya suka banget makan dimsum, tapi saya gak mungkin sering ke sana dan saya juga gak mungkin sering bawa keluarga ke sana. Jadi saya pun ingin bagaimana caranya ya supaya dimsum seenak ini bisa dimakan oleh semua kalangan? Akhirnya saya bawa dimsum tersebut ke rumah, mulai nih eksplorasi selama 6 bulan," tutur Ani Andriyani mengenai perjalanan awalnya membuat Dimsum Inmons.

Keduanya bukan "orang dalam" dari industri yang kemudian mereka masuki. Dan mungkin justru itu yang membuat mereka melihat sesuatu yang orang lain sudah terlalu terbiasa untuk mempertanyakan.

Indra memulai dengan Rp200.000. Uang itu ia bawa ke perajin Cibaduyut untuk membuat sepasang sepatu pertama. Sepatu itu kemudian ia foto, ia unggah ke Kaskus dan Facebook, dan jadilah alat promosi pertamanya. Tahun-tahun awal tidak mudah, dan ia tidak menyembunyikan itu:

"Pas awal bikin sepatu itu saya masih kuliah S2, tidak laku, sebab harganya tergolong mahal Rp300 ribu untuk saat itu tahun 2009. Setelah lulus kuliah, saya coba pasarkan di Kaskus, masih sepi juga di tahun pertama. Barulah di tahun kedua ada pesanan pre-order dan di tahun ketiga memberanikan diri untuk buka bengkel sepatu sendiri, dengan pegawai sekitar 4 orang," lanjut Indra.

Semetara Ani memulai dengan modal Rp5–10 juta. Modal itu bukan untuk langsung membuka toko, melainkan untuk enam bulan eksplorasi di dapur rumahnya sendiri. Ketika akhirnya mulai berjualan, ia pun menghadapi tantangan yang tidak biasa: berdagang dari dalam gang. Tapi alih-alih mundur, ia menemukan caranya yang unik.

"Dahulu saya belum punya uang buat bikin store. Akhirnya kita usaha di rumah, sedangkan rumah kita ini memang daerah gang. Memang dahulu yang ditakutkan itu tetangga komplain karena ada driver yang mungkin antre untuk ambil orderan, tetapi ya mau tak mau saya berpikir bahwa punya usaha itu tidak harus bikin tempat besar dulu. Jadi ketika mau bermimpi, bermimpi dulu yang kecil, nanti akan jadi besar," beber Ani.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung yang lahir dari sebuah gang kecil Cicadas. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung yang lahir dari sebuah gang kecil Cicadas. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Keduanya memulai dari angka yang terlihat mustahil untuk tumbuh. Tapi keduanya tidak menunggu modal besar untuk mulai bergerak; dan berkat sikap inilah kisah keduanya melampaui sekadar cerita sukses bisnis.

Ketika workshop Koku Footwear mulai tumbuh, Indra melihat ironi yang menyakitkan di sekelilingnya. Para perajin sepatu Cibaduyut yang mewarisi keahlian turun-temurun justru hidup dalam kesulitan. Pesanan semakin berkurang, kalah bersaing dengan produk pabrikan murah. Beberapa mulai mempertimbangkan berhenti. 

Memantau situasi itu, Indra memilih untuk merekrut mereka, satu per satu. Bukan sekadar sebagai tenaga kerja, melainkan sebagai mitra yang keahliannya dihargai dan dibayar layak. Keputusan membuka workshop sendiri pun lahir bukan semata dari kalkulasi bisnis, melainkan dari pengalaman pahit mencari vendor yang bisa dipercaya.

"Dahulu sepanjang tahun 2010-2012, bagian tersulitnya itu di vendor, karena saya tidak produksi sendiri jadi mencari vendor. Nah, cari vendor yang amanah itu susah. Sering kali kepercayaan pembeli terhadap Koku Footwear terhambat, karena ada saja gangguan produksi dari vendor. Akhirnya, sebab susah sekali mencari vendor yang bisa dipercaya, saya bikin sendiri," sambung Indra.

Dari empat orang di awal, kini sekitar 33 perajin dan 5 karyawan pemasaran bekerja bersamanya. Semuanya tetap di kawasan Cibaduyut. Dan motivasi di baliknya jauh lebih dalam dari sekadar kebutuhan produksi:

"Salah satu tujuan saya buka wirausaha berangkat dari keinginan agar warga lokal lebih sejahtera. Karena upah pegawai sepatu di Cibaduyut sejak dulu lazimnya kecil dan jauh dari UMP, tidak ada THR, dan banyak keterbatasan. Pendidikan mereka juga tidak tinggi, rata-rata hanya lulusan SD, dan ada karyawan saya juga tidak bisa baca. Oleh karena itu, saya menekankan Koku Footwear untuk menyejahterakan mereka, membayar upah lebih layak, pun dengan jaminan THR," lanjutnya.

Ani menempuh jalan yang serupa dengan caranya sendiri. Ketika bisnis berkembang, ia tidak sekadar menambah tenaga kerja, namun memperkuat administrasi dan SOP bisnisnya. Kini sekitar 37 orang bekerja bersamanya. Ia juga secara sadar membangun ekosistem yang lebih luas, termasuk menjadikan kompetitor sebagai bagian dari strateginya:

"Selama 9 tahun ini, dari yang awalnya di daerah sini hanya saya seorang pemain dimsum, sekarang sudah hampir ada 38 kompetitor. Tapi mau gak mau bisnis seperti itu dan kompetitor itu penting agar kita tidak terlena. Sekarang market kita harus makin luas, karena pesaing kita ialah orang-orang terdekat. Kita pun berpikir bagaimana caranya kompetitor tetap bermunculan, tetapi apa yang mereka cari? Ternyata mereka mencari supplier dan saya akhirnya merasa harus sustain di sini," ucap Ani.

Bagi keduanya, wirausaha bukan hanya soal menghasilkan produk yang laku. Ia adalah cara untuk memastikan orang-orang di sekitar mereka ikut naik kelas.

BRIncubator ialah Katalis, Bukan Titik Akhir

Pada 2023 Dimsum Inmons terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator. (Sumber: Dokumentasi Narasumber)
Pada 2023 Dimsum Inmons terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator. (Sumber: Dokumentasi Narasumber)

Penting untuk menegaskan satu hal: BRI tidak menciptakan Koku Footwear atau Dimsum Inmons. Keduanya sudah tumbuh dengan caranya masing-masing jauh sebelum bergabung ke ekosistem BRI.

Tapi ada yang berubah ketika mereka masuk. Indra mulai mengikuti pelatihan di Rumah BUMN Bandung sejak 2018. Di sana ia mendapat lebih dari sekadar pelatihan teknis:

"Pas 2018 itu saya sering ikut pelatihan BRI dan di sinilah saya belajar tentang bagaimana membuat produk yang bagus, bukan hanya kualitasnya, tapi secara pemasaran. Saya pun belajar digital marketing, sampai menata pitch deck. Ilmunya bagus banget, karena kita jadi jelas arah bisnisnya," kata Indra.

Sementara itu, Ani merasakan manfaat serupa, bahkan lebih spesifik pada aspek yang selama ini menjadi titik lemah banyak UMKM.

"Di Rumah BUMN Bandung saat itu yang paling saya pelajari ialah masalah SDM, finance, terus juga tentang digital marketing, dan itu kan semuanya terpakai ilmunya untuk wirausaha. Setelah itu ada BRIncubator, kita juara 1, dan kita dilihat banget oleh BRI sebagai UMKM yang sustain, yang kemudian kita dibawa oleh mereka ke berbagai event. Paling terasa dari manfaat program dan acara BRI ini lebih ke branding produk dan personal branding. Dari situ kita mulai scale up," tutur Ani.

Pendekatan Rumah BUMN Bandung sendiri memang dirancang berjenjang. A. Radinal Pramudha Sirat, CEO Rumah BUMN Bandung, menjelaskan maksud dari eksistensinya terhadap UMKM.

"Rumah BUMN Bandung ini inisiasi dari Kementerian BUMN. Tujuan utamanya pemberdayaan UMKM, dari pelatihan, literasi keuangan mendasar, sertifikasi, dan sebagainya, kita ajarkan semua di sini." papar Radinal.

Di tahun 2023, dari dua titik wilayah yang berbeda, keduanya keluar membawa gelar yang sama: Juara 1 BRIncubator 2023. Penghargaan ini bisa menjadi titik puncak (menjadi jenuh dan mandeg setelahnya), tapi bisa juga menjadi titik tolak. Beruntung bagi keduanya, justru moeman kedua yang terjadi.

Setelah jadi Juara 1 BRIncubator 2023, Koku Footwear mencatat omzet Rp4,9 miliar di tahun 2024. Lonjakan ini bukan sesuatu yang datang tiba-tiba, melainkan hasil dari fondasi online yang dibangun sejak awal.

"Karena dasar pemasaran produk ini online, jadi pas pandemi itu justru jadi titik melesat omzetnya. Sebelum pandemi (mulai pembukuan 2018) itu kisaran per tahun omzetnya Rp1 miliar, dan pas pandemi mulai mereda tahun 2023 itu sudah sampai Rp3 miliar dalam setahun," beber Indra.

Dimsum Inmons bergerak di jalur yang tak kalah impresif. Kapasitas produksi kini mencapai 2.500 kilogram per bulan, dengan jaringan distribusi yang menjangkau Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan, Sumatera, hingga Sulawesi. Dari satu titik gang sempit, kini ada enam store yang beroperasi dan terus bertambah, dengan omzet bulanan tidak kurang dari Rp350 juta. Inovasi produk pun tak berhenti, dengan lebih dari 80 varian menu lahir dari kesadaran bahwa diferensiasi adalah kunci.

"Saya mempelajari apa sih kekurangan dari mayoritas pengusaha dimsum, apa kelemahan mereka yang harus saya tutupi? Ternyata dari kebanyakan mereka menu-nya itu tidak pernah lebih dari 10-15 varian. Dari situ, kelebihan kita punya lebih dari 80 varian... Selain itu, kita bikin daya tarik juga agar mereka mau memilih Dimsum Inmons, kita bikin sausnya dari ubi Cilembu, karena kita ingin menegaskan bahwa orang Bandung bisa bikin dimsum yang khas," kata Ani.

***

Keduanya sudah juara. Tetapi keduanya tahu bahwa gelar itu bukan tujuan akhir.

Indra menyimpan kegelisahan yang tidak pernah benar-benar pergi. Cibaduyut hari ini bukan Cibaduyut yang ia kenal di masa kecil. Dari ratusan perajin yang dulu ramai, kini data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat mencatat hanya sekitar 50 perajin yang tersisa. Bahan baku sol kulit lokal yang dulu diproduksi dari Magetan atau Malang banyak yang bangkrut sejak 2022, memaksanya beralih ke impor. Dan yang paling ia sesalkan adalah ketiadaan ekosistem pendidikan yang bisa mewariskan keahlian ini.

"Sayangnya, Cibaduyut yang terkenal akan industri sepatu kulit ini tidak didukung oleh pendidikan formal terkait. Bahkan dahulu Cibaduyut terkenal oleh banyaknya perajin sepatu kelas Italia (blake stitch). Harapan saya, jika bisa didukung oleh pemerintah, adakan sekolahnya di Bandung, seperti di Yogyakarta, semacam politeknik industri kulit. Industri sepatu di Bandung ini selalu jadi barometer tertinggi secara nasional, baik model ataupun kekuatan tahan lamanya, jadi sangat memprihatinkan jika kian lama malah menuju kematian," ucap Indra.

Ani punya mimpinya sendiri. Ia tahu bahwa untuk bertahan, sebuah merek tidak bisa hanya mengandalkan momentum.

"UMKM itu harus tetap punya branding yang kuat dan tetap harus didampingi, karena kita inginnya bukan sekadar brand lokal dengan ekosistem yang terus meluas. Oleh karena itu, kita perlu wadah seperti Rumah BUMN dan program-program seperti dari BRI. Secara personal, mungkin untuk 5 tahun ke depan, saya ingin B2B tidak hanya di Bandung, inginnya ada spot agent yang merambah sampai luar Bandung Raya," tutup Ani (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)