Kisah para Juara 1 BRIncubator, Konsisten Berdayakan Pekerja Lokal

9 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.IDDi sebuah gang sempit kawasan Cicadas, Kota Bandung, aroma kukusan mengepul setiap pagi dari dapur rumahan yang sederhana. Sementara di Kabupaten Bandung, di lorong workshop Cibaduyut, bunyi palu kecil berirama dan desis jarum menembus kulit tebal sudah terdengar sebelum matahari benar-benar tinggi. Kedua tempat itu terlihat biasa saja dari luar. Namun dari dua titik itulah lahir kisah wirausaha yang hari ini dikenal jauh melampaui batas gang tempat mereka bermula.

Ani Andriyani dan Mochamad Indra Yusuf Wahyudin mungkin tidak saling kenal, baik ketika pertama kali merintis usahanya atau setelah sukses saat ini. Tetapi di tahun 2023, nama keduanya berdampingan dalam satu catatan yang sama: Juara 1 BRIncubator (Batch I dan II). 

Program inkubasi bergengsi dari BRI itu setiap tahunnya mengangkat segelintir UMKM ke panggung yang lebih besar.

Bisnis Tidak Selalu sesuai Background

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Tidak ada yang menduga Indra akan menjadi produsen sepatu kulit. Di atas kertas, ia adalah akademisi bahasa—lulusan S1 Sastra Inggris Universitas Kristen Maranatha, lalu melanjutkan S2 Pendidikan Bahasa Inggris di UPI. Namun Cibaduyut, kawasan tempatnya tumbuh besar, sudah mencetak passion-nya jauh sebelum ijazah itu ada. 

Ia sering berkunjung ke rumah teman-teman kecilnya yang orang tuanya bekerja sebagai perajin sepatu. Dari sana, rasa ingin tahu itu bersemi pelan-pelan, sampai suatu hari ia berdiri di depan etalase mal dan memutuskan: kalau tidak bisa membeli, lebih baik membuat. Nama mereknya pun lahir dari kesederhanaan yang sama.

"Pemilihan nama merek 'Koku' itu sederhana, karena mirip aja pelafalannya seperti 'kaki'. Jadi supaya gampang diingat mereknya, namanya Koku," ungkap Indra, pendiri Koku Footwear.

Ani pun bukan jebolan tata boga. Perempuan kelahiran Bandung 1982 ini sebelumnya bekerja sebagai HRD, sambil merangkap sebagai makeup artist dan desainer kerudung. Pertemuannya dengan dimsum bukan di ruang produksi, melainkan di meja makan restoran ternama yang harganya membuat dahi berkerut. Ia menceritakannya dengan runtut:

"Dimsum Inmons bermula tahun 2017. Awalnya saya tertarik ke dimsum karena saya makan ke salah satu restoran yang menurut saya mahal dan kok ini enak banget, ya? Saya suka banget makan dimsum, tapi saya gak mungkin sering ke sana dan saya juga gak mungkin sering bawa keluarga ke sana. Jadi saya pun ingin bagaimana caranya ya supaya dimsum seenak ini bisa dimakan oleh semua kalangan? Akhirnya saya bawa dimsum tersebut ke rumah, mulai nih eksplorasi selama 6 bulan," tutur Ani Andriyani mengenai perjalanan awalnya membuat Dimsum Inmons.

Keduanya bukan "orang dalam" dari industri yang kemudian mereka masuki. Dan mungkin justru itu yang membuat mereka melihat sesuatu yang orang lain sudah terlalu terbiasa untuk mempertanyakan.

Indra memulai dengan Rp200.000. Uang itu ia bawa ke perajin Cibaduyut untuk membuat sepasang sepatu pertama. Sepatu itu kemudian ia foto, ia unggah ke Kaskus dan Facebook, dan jadilah alat promosi pertamanya. Tahun-tahun awal tidak mudah, dan ia tidak menyembunyikan itu:

"Pas awal bikin sepatu itu saya masih kuliah S2, tidak laku, sebab harganya tergolong mahal Rp300 ribu untuk saat itu tahun 2009. Setelah lulus kuliah, saya coba pasarkan di Kaskus, masih sepi juga di tahun pertama. Barulah di tahun kedua ada pesanan pre-order dan di tahun ketiga memberanikan diri untuk buka bengkel sepatu sendiri, dengan pegawai sekitar 4 orang," lanjut Indra.

Semetara Ani memulai dengan modal Rp5–10 juta. Modal itu bukan untuk langsung membuka toko, melainkan untuk enam bulan eksplorasi di dapur rumahnya sendiri. Ketika akhirnya mulai berjualan, ia pun menghadapi tantangan yang tidak biasa: berdagang dari dalam gang. Tapi alih-alih mundur, ia menemukan caranya yang unik.

"Dahulu saya belum punya uang buat bikin store. Akhirnya kita usaha di rumah, sedangkan rumah kita ini memang daerah gang. Memang dahulu yang ditakutkan itu tetangga komplain karena ada driver yang mungkin antre untuk ambil orderan, tetapi ya mau tak mau saya berpikir bahwa punya usaha itu tidak harus bikin tempat besar dulu. Jadi ketika mau bermimpi, bermimpi dulu yang kecil, nanti akan jadi besar," beber Ani.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung yang lahir dari sebuah gang kecil Cicadas. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung yang lahir dari sebuah gang kecil Cicadas. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Keduanya memulai dari angka yang terlihat mustahil untuk tumbuh. Tapi keduanya tidak menunggu modal besar untuk mulai bergerak; dan berkat sikap inilah kisah keduanya melampaui sekadar cerita sukses bisnis.

Ketika workshop Koku Footwear mulai tumbuh, Indra melihat ironi yang menyakitkan di sekelilingnya. Para perajin sepatu Cibaduyut yang mewarisi keahlian turun-temurun justru hidup dalam kesulitan. Pesanan semakin berkurang, kalah bersaing dengan produk pabrikan murah. Beberapa mulai mempertimbangkan berhenti. 

Memantau situasi itu, Indra memilih untuk merekrut mereka, satu per satu. Bukan sekadar sebagai tenaga kerja, melainkan sebagai mitra yang keahliannya dihargai dan dibayar layak. Keputusan membuka workshop sendiri pun lahir bukan semata dari kalkulasi bisnis, melainkan dari pengalaman pahit mencari vendor yang bisa dipercaya.

"Dahulu sepanjang tahun 2010-2012, bagian tersulitnya itu di vendor, karena saya tidak produksi sendiri jadi mencari vendor. Nah, cari vendor yang amanah itu susah. Sering kali kepercayaan pembeli terhadap Koku Footwear terhambat, karena ada saja gangguan produksi dari vendor. Akhirnya, sebab susah sekali mencari vendor yang bisa dipercaya, saya bikin sendiri," sambung Indra.

Dari empat orang di awal, kini sekitar 33 perajin dan 5 karyawan pemasaran bekerja bersamanya. Semuanya tetap di kawasan Cibaduyut. Dan motivasi di baliknya jauh lebih dalam dari sekadar kebutuhan produksi:

"Salah satu tujuan saya buka wirausaha berangkat dari keinginan agar warga lokal lebih sejahtera. Karena upah pegawai sepatu di Cibaduyut sejak dulu lazimnya kecil dan jauh dari UMP, tidak ada THR, dan banyak keterbatasan. Pendidikan mereka juga tidak tinggi, rata-rata hanya lulusan SD, dan ada karyawan saya juga tidak bisa baca. Oleh karena itu, saya menekankan Koku Footwear untuk menyejahterakan mereka, membayar upah lebih layak, pun dengan jaminan THR," lanjutnya.

Ani menempuh jalan yang serupa dengan caranya sendiri. Ketika bisnis berkembang, ia tidak sekadar menambah tenaga kerja, namun memperkuat administrasi dan SOP bisnisnya. Kini sekitar 37 orang bekerja bersamanya. Ia juga secara sadar membangun ekosistem yang lebih luas, termasuk menjadikan kompetitor sebagai bagian dari strateginya:

"Selama 9 tahun ini, dari yang awalnya di daerah sini hanya saya seorang pemain dimsum, sekarang sudah hampir ada 38 kompetitor. Tapi mau gak mau bisnis seperti itu dan kompetitor itu penting agar kita tidak terlena. Sekarang market kita harus makin luas, karena pesaing kita ialah orang-orang terdekat. Kita pun berpikir bagaimana caranya kompetitor tetap bermunculan, tetapi apa yang mereka cari? Ternyata mereka mencari supplier dan saya akhirnya merasa harus sustain di sini," ucap Ani.

Bagi keduanya, wirausaha bukan hanya soal menghasilkan produk yang laku. Ia adalah cara untuk memastikan orang-orang di sekitar mereka ikut naik kelas.

BRIncubator ialah Katalis, Bukan Titik Akhir

Pada 2023 Dimsum Inmons terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator. (Sumber: Dokumentasi Narasumber)
Pada 2023 Dimsum Inmons terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator. (Sumber: Dokumentasi Narasumber)

Penting untuk menegaskan satu hal: BRI tidak menciptakan Koku Footwear atau Dimsum Inmons. Keduanya sudah tumbuh dengan caranya masing-masing jauh sebelum bergabung ke ekosistem BRI.

Tapi ada yang berubah ketika mereka masuk. Indra mulai mengikuti pelatihan di Rumah BUMN Bandung sejak 2018. Di sana ia mendapat lebih dari sekadar pelatihan teknis:

"Pas 2018 itu saya sering ikut pelatihan BRI dan di sinilah saya belajar tentang bagaimana membuat produk yang bagus, bukan hanya kualitasnya, tapi secara pemasaran. Saya pun belajar digital marketing, sampai menata pitch deck. Ilmunya bagus banget, karena kita jadi jelas arah bisnisnya," kata Indra.

Sementara itu, Ani merasakan manfaat serupa, bahkan lebih spesifik pada aspek yang selama ini menjadi titik lemah banyak UMKM.

"Di Rumah BUMN Bandung saat itu yang paling saya pelajari ialah masalah SDM, finance, terus juga tentang digital marketing, dan itu kan semuanya terpakai ilmunya untuk wirausaha. Setelah itu ada BRIncubator, kita juara 1, dan kita dilihat banget oleh BRI sebagai UMKM yang sustain, yang kemudian kita dibawa oleh mereka ke berbagai event. Paling terasa dari manfaat program dan acara BRI ini lebih ke branding produk dan personal branding. Dari situ kita mulai scale up," tutur Ani.

Pendekatan Rumah BUMN Bandung sendiri memang dirancang berjenjang. A. Radinal Pramudha Sirat, CEO Rumah BUMN Bandung, menjelaskan maksud dari eksistensinya terhadap UMKM.

"Rumah BUMN Bandung ini inisiasi dari Kementerian BUMN. Tujuan utamanya pemberdayaan UMKM, dari pelatihan, literasi keuangan mendasar, sertifikasi, dan sebagainya, kita ajarkan semua di sini." papar Radinal.

Di tahun 2023, dari dua titik wilayah yang berbeda, keduanya keluar membawa gelar yang sama: Juara 1 BRIncubator 2023. Penghargaan ini bisa menjadi titik puncak (menjadi jenuh dan mandeg setelahnya), tapi bisa juga menjadi titik tolak. Beruntung bagi keduanya, justru moeman kedua yang terjadi.

Setelah jadi Juara 1 BRIncubator 2023, Koku Footwear mencatat omzet Rp4,9 miliar di tahun 2024. Lonjakan ini bukan sesuatu yang datang tiba-tiba, melainkan hasil dari fondasi online yang dibangun sejak awal.

"Karena dasar pemasaran produk ini online, jadi pas pandemi itu justru jadi titik melesat omzetnya. Sebelum pandemi (mulai pembukuan 2018) itu kisaran per tahun omzetnya Rp1 miliar, dan pas pandemi mulai mereda tahun 2023 itu sudah sampai Rp3 miliar dalam setahun," beber Indra.

Dimsum Inmons bergerak di jalur yang tak kalah impresif. Kapasitas produksi kini mencapai 2.500 kilogram per bulan, dengan jaringan distribusi yang menjangkau Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan, Sumatera, hingga Sulawesi. Dari satu titik gang sempit, kini ada enam store yang beroperasi dan terus bertambah, dengan omzet bulanan tidak kurang dari Rp350 juta. Inovasi produk pun tak berhenti, dengan lebih dari 80 varian menu lahir dari kesadaran bahwa diferensiasi adalah kunci.

"Saya mempelajari apa sih kekurangan dari mayoritas pengusaha dimsum, apa kelemahan mereka yang harus saya tutupi? Ternyata dari kebanyakan mereka menu-nya itu tidak pernah lebih dari 10-15 varian. Dari situ, kelebihan kita punya lebih dari 80 varian... Selain itu, kita bikin daya tarik juga agar mereka mau memilih Dimsum Inmons, kita bikin sausnya dari ubi Cilembu, karena kita ingin menegaskan bahwa orang Bandung bisa bikin dimsum yang khas," kata Ani.

***

Keduanya sudah juara. Tetapi keduanya tahu bahwa gelar itu bukan tujuan akhir.

Indra menyimpan kegelisahan yang tidak pernah benar-benar pergi. Cibaduyut hari ini bukan Cibaduyut yang ia kenal di masa kecil. Dari ratusan perajin yang dulu ramai, kini data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat mencatat hanya sekitar 50 perajin yang tersisa. Bahan baku sol kulit lokal yang dulu diproduksi dari Magetan atau Malang banyak yang bangkrut sejak 2022, memaksanya beralih ke impor. Dan yang paling ia sesalkan adalah ketiadaan ekosistem pendidikan yang bisa mewariskan keahlian ini.

"Sayangnya, Cibaduyut yang terkenal akan industri sepatu kulit ini tidak didukung oleh pendidikan formal terkait. Bahkan dahulu Cibaduyut terkenal oleh banyaknya perajin sepatu kelas Italia (blake stitch). Harapan saya, jika bisa didukung oleh pemerintah, adakan sekolahnya di Bandung, seperti di Yogyakarta, semacam politeknik industri kulit. Industri sepatu di Bandung ini selalu jadi barometer tertinggi secara nasional, baik model ataupun kekuatan tahan lamanya, jadi sangat memprihatinkan jika kian lama malah menuju kematian," ucap Indra.

Ani punya mimpinya sendiri. Ia tahu bahwa untuk bertahan, sebuah merek tidak bisa hanya mengandalkan momentum.

"UMKM itu harus tetap punya branding yang kuat dan tetap harus didampingi, karena kita inginnya bukan sekadar brand lokal dengan ekosistem yang terus meluas. Oleh karena itu, kita perlu wadah seperti Rumah BUMN dan program-program seperti dari BRI. Secara personal, mungkin untuk 5 tahun ke depan, saya ingin B2B tidak hanya di Bandung, inginnya ada spot agent yang merambah sampai luar Bandung Raya," tutup Ani (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)