Kisah para Juara 1 BRIncubator, Konsisten Berdayakan Pekerja Lokal

9 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Selasa 09 Jun 2026, 16:27 WIB
Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.IDDi sebuah gang sempit kawasan Cicadas, Kota Bandung, aroma kukusan mengepul setiap pagi dari dapur rumahan yang sederhana. Sementara di Kabupaten Bandung, di lorong workshop Cibaduyut, bunyi palu kecil berirama dan desis jarum menembus kulit tebal sudah terdengar sebelum matahari benar-benar tinggi. Kedua tempat itu terlihat biasa saja dari luar. Namun dari dua titik itulah lahir kisah wirausaha yang hari ini dikenal jauh melampaui batas gang tempat mereka bermula.

Ani Andriyani dan Mochamad Indra Yusuf Wahyudin mungkin tidak saling kenal, baik ketika pertama kali merintis usahanya atau setelah sukses saat ini. Tetapi di tahun 2023, nama keduanya berdampingan dalam satu catatan yang sama: Juara 1 BRIncubator (Batch I dan II). 

Program inkubasi bergengsi dari BRI itu setiap tahunnya mengangkat segelintir UMKM ke panggung yang lebih besar.

Bisnis Tidak Selalu sesuai Background

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Tidak ada yang menduga Indra akan menjadi produsen sepatu kulit. Di atas kertas, ia adalah akademisi bahasa—lulusan S1 Sastra Inggris Universitas Kristen Maranatha, lalu melanjutkan S2 Pendidikan Bahasa Inggris di UPI. Namun Cibaduyut, kawasan tempatnya tumbuh besar, sudah mencetak passion-nya jauh sebelum ijazah itu ada. 

Ia sering berkunjung ke rumah teman-teman kecilnya yang orang tuanya bekerja sebagai perajin sepatu. Dari sana, rasa ingin tahu itu bersemi pelan-pelan, sampai suatu hari ia berdiri di depan etalase mal dan memutuskan: kalau tidak bisa membeli, lebih baik membuat. Nama mereknya pun lahir dari kesederhanaan yang sama.

"Pemilihan nama merek 'Koku' itu sederhana, karena mirip aja pelafalannya seperti 'kaki'. Jadi supaya gampang diingat mereknya, namanya Koku," ungkap Indra, pendiri Koku Footwear.

Ani pun bukan jebolan tata boga. Perempuan kelahiran Bandung 1982 ini sebelumnya bekerja sebagai HRD, sambil merangkap sebagai makeup artist dan desainer kerudung. Pertemuannya dengan dimsum bukan di ruang produksi, melainkan di meja makan restoran ternama yang harganya membuat dahi berkerut. Ia menceritakannya dengan runtut:

"Dimsum Inmons bermula tahun 2017. Awalnya saya tertarik ke dimsum karena saya makan ke salah satu restoran yang menurut saya mahal dan kok ini enak banget, ya? Saya suka banget makan dimsum, tapi saya gak mungkin sering ke sana dan saya juga gak mungkin sering bawa keluarga ke sana. Jadi saya pun ingin bagaimana caranya ya supaya dimsum seenak ini bisa dimakan oleh semua kalangan? Akhirnya saya bawa dimsum tersebut ke rumah, mulai nih eksplorasi selama 6 bulan," tutur Ani Andriyani mengenai perjalanan awalnya membuat Dimsum Inmons.

Keduanya bukan "orang dalam" dari industri yang kemudian mereka masuki. Dan mungkin justru itu yang membuat mereka melihat sesuatu yang orang lain sudah terlalu terbiasa untuk mempertanyakan.

Indra memulai dengan Rp200.000. Uang itu ia bawa ke perajin Cibaduyut untuk membuat sepasang sepatu pertama. Sepatu itu kemudian ia foto, ia unggah ke Kaskus dan Facebook, dan jadilah alat promosi pertamanya. Tahun-tahun awal tidak mudah, dan ia tidak menyembunyikan itu:

"Pas awal bikin sepatu itu saya masih kuliah S2, tidak laku, sebab harganya tergolong mahal Rp300 ribu untuk saat itu tahun 2009. Setelah lulus kuliah, saya coba pasarkan di Kaskus, masih sepi juga di tahun pertama. Barulah di tahun kedua ada pesanan pre-order dan di tahun ketiga memberanikan diri untuk buka bengkel sepatu sendiri, dengan pegawai sekitar 4 orang," lanjut Indra.

Semetara Ani memulai dengan modal Rp5–10 juta. Modal itu bukan untuk langsung membuka toko, melainkan untuk enam bulan eksplorasi di dapur rumahnya sendiri. Ketika akhirnya mulai berjualan, ia pun menghadapi tantangan yang tidak biasa: berdagang dari dalam gang. Tapi alih-alih mundur, ia menemukan caranya yang unik.

"Dahulu saya belum punya uang buat bikin store. Akhirnya kita usaha di rumah, sedangkan rumah kita ini memang daerah gang. Memang dahulu yang ditakutkan itu tetangga komplain karena ada driver yang mungkin antre untuk ambil orderan, tetapi ya mau tak mau saya berpikir bahwa punya usaha itu tidak harus bikin tempat besar dulu. Jadi ketika mau bermimpi, bermimpi dulu yang kecil, nanti akan jadi besar," beber Ani.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung yang lahir dari sebuah gang kecil Cicadas. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung yang lahir dari sebuah gang kecil Cicadas. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Keduanya memulai dari angka yang terlihat mustahil untuk tumbuh. Tapi keduanya tidak menunggu modal besar untuk mulai bergerak; dan berkat sikap inilah kisah keduanya melampaui sekadar cerita sukses bisnis.

Ketika workshop Koku Footwear mulai tumbuh, Indra melihat ironi yang menyakitkan di sekelilingnya. Para perajin sepatu Cibaduyut yang mewarisi keahlian turun-temurun justru hidup dalam kesulitan. Pesanan semakin berkurang, kalah bersaing dengan produk pabrikan murah. Beberapa mulai mempertimbangkan berhenti. 

Memantau situasi itu, Indra memilih untuk merekrut mereka, satu per satu. Bukan sekadar sebagai tenaga kerja, melainkan sebagai mitra yang keahliannya dihargai dan dibayar layak. Keputusan membuka workshop sendiri pun lahir bukan semata dari kalkulasi bisnis, melainkan dari pengalaman pahit mencari vendor yang bisa dipercaya.

"Dahulu sepanjang tahun 2010-2012, bagian tersulitnya itu di vendor, karena saya tidak produksi sendiri jadi mencari vendor. Nah, cari vendor yang amanah itu susah. Sering kali kepercayaan pembeli terhadap Koku Footwear terhambat, karena ada saja gangguan produksi dari vendor. Akhirnya, sebab susah sekali mencari vendor yang bisa dipercaya, saya bikin sendiri," sambung Indra.

Dari empat orang di awal, kini sekitar 33 perajin dan 5 karyawan pemasaran bekerja bersamanya. Semuanya tetap di kawasan Cibaduyut. Dan motivasi di baliknya jauh lebih dalam dari sekadar kebutuhan produksi:

"Salah satu tujuan saya buka wirausaha berangkat dari keinginan agar warga lokal lebih sejahtera. Karena upah pegawai sepatu di Cibaduyut sejak dulu lazimnya kecil dan jauh dari UMP, tidak ada THR, dan banyak keterbatasan. Pendidikan mereka juga tidak tinggi, rata-rata hanya lulusan SD, dan ada karyawan saya juga tidak bisa baca. Oleh karena itu, saya menekankan Koku Footwear untuk menyejahterakan mereka, membayar upah lebih layak, pun dengan jaminan THR," lanjutnya.

Ani menempuh jalan yang serupa dengan caranya sendiri. Ketika bisnis berkembang, ia tidak sekadar menambah tenaga kerja, namun memperkuat administrasi dan SOP bisnisnya. Kini sekitar 37 orang bekerja bersamanya. Ia juga secara sadar membangun ekosistem yang lebih luas, termasuk menjadikan kompetitor sebagai bagian dari strateginya:

"Selama 9 tahun ini, dari yang awalnya di daerah sini hanya saya seorang pemain dimsum, sekarang sudah hampir ada 38 kompetitor. Tapi mau gak mau bisnis seperti itu dan kompetitor itu penting agar kita tidak terlena. Sekarang market kita harus makin luas, karena pesaing kita ialah orang-orang terdekat. Kita pun berpikir bagaimana caranya kompetitor tetap bermunculan, tetapi apa yang mereka cari? Ternyata mereka mencari supplier dan saya akhirnya merasa harus sustain di sini," ucap Ani.

Bagi keduanya, wirausaha bukan hanya soal menghasilkan produk yang laku. Ia adalah cara untuk memastikan orang-orang di sekitar mereka ikut naik kelas.

BRIncubator ialah Katalis, Bukan Titik Akhir

Pada 2023 Dimsum Inmons terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator. (Sumber: Dokumentasi Narasumber)
Pada 2023 Dimsum Inmons terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator. (Sumber: Dokumentasi Narasumber)

Penting untuk menegaskan satu hal: BRI tidak menciptakan Koku Footwear atau Dimsum Inmons. Keduanya sudah tumbuh dengan caranya masing-masing jauh sebelum bergabung ke ekosistem BRI.

Tapi ada yang berubah ketika mereka masuk. Indra mulai mengikuti pelatihan di Rumah BUMN Bandung sejak 2018. Di sana ia mendapat lebih dari sekadar pelatihan teknis:

"Pas 2018 itu saya sering ikut pelatihan BRI dan di sinilah saya belajar tentang bagaimana membuat produk yang bagus, bukan hanya kualitasnya, tapi secara pemasaran. Saya pun belajar digital marketing, sampai menata pitch deck. Ilmunya bagus banget, karena kita jadi jelas arah bisnisnya," kata Indra.

Sementara itu, Ani merasakan manfaat serupa, bahkan lebih spesifik pada aspek yang selama ini menjadi titik lemah banyak UMKM.

"Di Rumah BUMN Bandung saat itu yang paling saya pelajari ialah masalah SDM, finance, terus juga tentang digital marketing, dan itu kan semuanya terpakai ilmunya untuk wirausaha. Setelah itu ada BRIncubator, kita juara 1, dan kita dilihat banget oleh BRI sebagai UMKM yang sustain, yang kemudian kita dibawa oleh mereka ke berbagai event. Paling terasa dari manfaat program dan acara BRI ini lebih ke branding produk dan personal branding. Dari situ kita mulai scale up," tutur Ani.

Pendekatan Rumah BUMN Bandung sendiri memang dirancang berjenjang. A. Radinal Pramudha Sirat, CEO Rumah BUMN Bandung, menjelaskan maksud dari eksistensinya terhadap UMKM.

"Rumah BUMN Bandung ini inisiasi dari Kementerian BUMN. Tujuan utamanya pemberdayaan UMKM, dari pelatihan, literasi keuangan mendasar, sertifikasi, dan sebagainya, kita ajarkan semua di sini." papar Radinal.

Di tahun 2023, dari dua titik wilayah yang berbeda, keduanya keluar membawa gelar yang sama: Juara 1 BRIncubator 2023. Penghargaan ini bisa menjadi titik puncak (menjadi jenuh dan mandeg setelahnya), tapi bisa juga menjadi titik tolak. Beruntung bagi keduanya, justru moeman kedua yang terjadi.

Setelah jadi Juara 1 BRIncubator 2023, Koku Footwear mencatat omzet Rp4,9 miliar di tahun 2024. Lonjakan ini bukan sesuatu yang datang tiba-tiba, melainkan hasil dari fondasi online yang dibangun sejak awal.

"Karena dasar pemasaran produk ini online, jadi pas pandemi itu justru jadi titik melesat omzetnya. Sebelum pandemi (mulai pembukuan 2018) itu kisaran per tahun omzetnya Rp1 miliar, dan pas pandemi mulai mereda tahun 2023 itu sudah sampai Rp3 miliar dalam setahun," beber Indra.

Dimsum Inmons bergerak di jalur yang tak kalah impresif. Kapasitas produksi kini mencapai 2.500 kilogram per bulan, dengan jaringan distribusi yang menjangkau Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan, Sumatera, hingga Sulawesi. Dari satu titik gang sempit, kini ada enam store yang beroperasi dan terus bertambah, dengan omzet bulanan tidak kurang dari Rp350 juta. Inovasi produk pun tak berhenti, dengan lebih dari 80 varian menu lahir dari kesadaran bahwa diferensiasi adalah kunci.

"Saya mempelajari apa sih kekurangan dari mayoritas pengusaha dimsum, apa kelemahan mereka yang harus saya tutupi? Ternyata dari kebanyakan mereka menu-nya itu tidak pernah lebih dari 10-15 varian. Dari situ, kelebihan kita punya lebih dari 80 varian... Selain itu, kita bikin daya tarik juga agar mereka mau memilih Dimsum Inmons, kita bikin sausnya dari ubi Cilembu, karena kita ingin menegaskan bahwa orang Bandung bisa bikin dimsum yang khas," kata Ani.

***

Keduanya sudah juara. Tetapi keduanya tahu bahwa gelar itu bukan tujuan akhir.

Indra menyimpan kegelisahan yang tidak pernah benar-benar pergi. Cibaduyut hari ini bukan Cibaduyut yang ia kenal di masa kecil. Dari ratusan perajin yang dulu ramai, kini data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat mencatat hanya sekitar 50 perajin yang tersisa. Bahan baku sol kulit lokal yang dulu diproduksi dari Magetan atau Malang banyak yang bangkrut sejak 2022, memaksanya beralih ke impor. Dan yang paling ia sesalkan adalah ketiadaan ekosistem pendidikan yang bisa mewariskan keahlian ini.

"Sayangnya, Cibaduyut yang terkenal akan industri sepatu kulit ini tidak didukung oleh pendidikan formal terkait. Bahkan dahulu Cibaduyut terkenal oleh banyaknya perajin sepatu kelas Italia (blake stitch). Harapan saya, jika bisa didukung oleh pemerintah, adakan sekolahnya di Bandung, seperti di Yogyakarta, semacam politeknik industri kulit. Industri sepatu di Bandung ini selalu jadi barometer tertinggi secara nasional, baik model ataupun kekuatan tahan lamanya, jadi sangat memprihatinkan jika kian lama malah menuju kematian," ucap Indra.

Ani punya mimpinya sendiri. Ia tahu bahwa untuk bertahan, sebuah merek tidak bisa hanya mengandalkan momentum.

"UMKM itu harus tetap punya branding yang kuat dan tetap harus didampingi, karena kita inginnya bukan sekadar brand lokal dengan ekosistem yang terus meluas. Oleh karena itu, kita perlu wadah seperti Rumah BUMN dan program-program seperti dari BRI. Secara personal, mungkin untuk 5 tahun ke depan, saya ingin B2B tidak hanya di Bandung, inginnya ada spot agent yang merambah sampai luar Bandung Raya," tutup Ani (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Jun 2026, 20:22

Pasang Surut Era Trem di Batavia

Transportasi trem di Batavia yang kini sudah tidak ada di Indonesia.

Tram Gondangdia di Batavia. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 16:31

Wisata Candi Borobudur: Panduan Lengkap Tiket, Sunrise, dan Sunset Experience

Panduan lengkap wisata Candi Borobudur 2026, mulai dari harga tiket, kuota naik candi, aturan penggunaan upanat, hingga waktu terbaik untuk berkunjung.

Candi Borobudur. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Biz 09 Jun 2026, 16:27

Kisah para Juara 1 BRIncubator, Konsisten Berdayakan Pekerja Lokal

Program inkubasi bergengsi dari BRI itu setiap tahunnya mengangkat segelintir UMKM ke panggung yang lebih besar.

Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Beranda 09 Jun 2026, 16:05

Bandung Raya di Ambang Krisis Sampah, TPA Sarimukti Diperkirakan Penuh Oktober 2026

TPA Sarimukti diperkirakan penuh pada Oktober 2026, memicu ancaman krisis sampah di Bandung Raya yang masih bergantung pada pembuangan akhir dan minim pengolahan dari sumbernya.

Kendaraan pengangkut sampah terparkir di Jalan Tamansari, Kota Bandung, Rabu 6 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 15:08

Sesat Logika, Tantangan dalam Berbahasa

Transformasi digital telah membuka ruang publik semakin luas, tetapi membawa dampak pada kerusakan bahasa akibat kesalahan-kesalahan penafsiran masyarakat

Ilustrasi rak buku. (Sumber: Pexels | Foto: Yazid N)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 14:21

Sedia Payung sebelum Perusahaan Melakukan Pengrumahan Sementara hingga Tutup Permanen

Secara hukum lock out merupakan hak pengusaha untuk menolak pekerja masuk dalam rangka perselisihan industrial, namun pelaksanaannya wajib mematuhi aturan hukum yang berlaku.

Ilustrasi penutupan perusahaan atau lock out. (Sumber: Meta AI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 13:28

Dari Tambang ke Kanvas: Jejak Warna Biru dari Timur

Warna biru punya sejarah panjang yang dimulai dari ketiadaan, mari kita lihat perjalanannya.

Lapis Lazuli (Sumber: WikiMedia | Foto: Hannes Grobe)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 13:02

#NowForClimate: Bersepeda sebagai Aksi Nyata untuk Masa Depan yang Lebih Hijau

#NowForClimate mengingatkan bahwa aksi iklim dapat dimulai dari pilihan moda transportasi sehari-hari.

Dampak global jika semua orang di dunia bersepeda sebanyak rata-rata orang Denmark dan Belanda. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 11:03

Mabrur, Kabur, dan Syukur

Boneka unta yang dipeluk kakek bukan sekadar cendera mata. Melainkan bahasa kasih sayang yang sederhana.

Oleh-oleh haji dan umrah di salah satu toko kawasan Pasar Baru Trade Center, Jalan Otto Iskandar Dinata, Kota Bandung, Jumat 29 Mei 2026 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 09 Jun 2026, 10:38

Petisi Warga Empat Lereng Gunung untuk Gubernur Dedi Mulyadi

Kalau beliau mengajak masyarakat menjaga gunung dan lingkungan, maka kami juga mengajak beliau untuk konsisten terhadap apa yang sudah disampaikan

Perwakilan warga lerenng Gunung Ciremai, Gede Pangrango, Tampomas, dan Halimun saat membacakan petisi untuk Gubernur Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 10:32

Gunung Gede Pangrango, Antara Keindahan Alam dan Ancaman Eksploitasi Panas Bumi

Pesona Gunung Gede Pangrango berpadu dengan perdebatan antara kebutuhan listrik dan pelestarian alam.

Puncak Gunung Gede Pangrango. (Sumber: Wikimedia)
Linimasa 09 Jun 2026, 09:53

Jejak Becak, GPS Kota Bandung yang Terpinggirkan

Kisah tukang becak Bandung yang dulu jadi penunjuk jalan, kini bertahan di tengah gempuran transportasi modern.

Becak yang dulu sempat berjaya kini semakin terpinggirkan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 09:11

Potret Bandung Empat Dekade Silam di Koran Gala Lawas

Salah satu surat kabar yang pernah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Jawa Barat adalah Harian Umum GALA.

Kin Sanubary memperlihatkan surat kabar GALA, salah satu harian yang terbit di Bandung 40 tahun silam. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 08:45

Mengetahui Pelaksanaan Tradisi Nyawen dan Makna Filosofisnya

Desa Bingkeng memiliki salah satu tradisi yang masih dilestarikan yaitu nyawen.

Mengetahui pelaksanaan Tradisi Nyawen. (Sumber: images.pexels.com | Foto: Kevin Yung)
Bandung 08 Jun 2026, 19:34

Menilik Eksistensi Dawa Rempah, Racikan Minuman Herbal Tradisional dengan Sentuhan Modern

Gaya hidup sehat turut menjadi tren kekinian yang santer digandrungi oleh masyarakat di masa kini. Salah satu caranya lewat menjaga kesehatan dan kebugaran.

Dawa Rempah (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:31

Hari Laut Sedunia, Masih Adakah Prospek Galangan Kapal di Jabar?

Masih sedikit industri galangan kapal di Jabar. Padahal provinsi ini memiliki sebelas pelabuhan yang bisa digunakan sebagai prasarana galangan kapal.

Ilustrasi Hari Laut Sedunia 2026, pemandangan Pantai Jayanti di Kecamatan Cidaun. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Muhammad Ikhsan)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:01

Polemik Penggusuran Perumahan Warga di Anyer Dalam akibat Pembangunan oleh KAI

Perumahan Warga di Anyer Dalam digusur untuk pembangunan yang dilakukan oleh oleh KAI merupakan kejadian yang terjadi 5 tahun yang lalu.

Foto Grafiti Bekas 2021 di Tembok Menyusuri di Jalan Serang menyusuri Jalan Anyer Dalam, 17 April 2026. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hikmat Nur Hidayat)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 17:29

Polemik SPPG Sukabumi: Antara Harapan Gizi dan Alarm Nyata bagi Gen Z

Tercatat sudah tiga kali gelombang unjuk rasa terjadi di pertengahan tahun ini.

Dokumentasi demo SPPG Sukabumi
Beranda 08 Jun 2026, 17:04

Bandung Pernah Jadi Kiblat Musik Indie, Kini Para Musisi Berusaha Merebutnya Kembali

Bandung pernah menjadi salah satu pusat musik independen Indonesia. Melalui Bandung Music Indie, para musisi kini berupaya membangun kembali ruang bersama dan semangat kolektif yang mulai memudar.

Atmosfer hangat dan akrab mewarnai gelaran Bandung Music Indie saat musisi lintas generasi dan penikmat musik bertemu dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)