Dari Tangan ke Kaki: Mimpi Sepatu Cibaduyut yang Tak Boleh Mati

10 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Perajin sepatu kulit Koku Footwear di Cibaduyut, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Perajin sepatu kulit Koku Footwear di Cibaduyut, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID Langkah kaki saya melambat begitu memasuki gang kecil di samping Taman Cibaduyut Indah, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada siang hari (26/5/2026). Bukan karena jalan yang sempit, melainkan karena sesuatu yang terdengar sebelum terlihat. Bunyi pukulan palu kecil yang berirama, diselingi desis jarum yang menembus kulit tebal. Di dalam sebuah ruangan yang sederhana namun penuh aktivitas, belasan tangan tengah bergerak dengan tenang dan teliti. 

Seorang bapak di sudut kiri memotong lembar kulit cokelat dengan pisau khusus, mengikuti pola yang sudah ia hafal bertahun-tahun. Di sebelahnya, seorang lain menjahit bagian upper sepatu dengan ekspresi yang hampir meditatif. Tak ada yang terburu-buru. Setiap gerakan terukur, seolah mereka tahu bahwa satu kesalahan kecil akan terbaca seumur hidup pada sepatu yang akan dipakai seseorang.

Di sinilah workshop Koku Footwear, produsen sepatu pria. Mimpi Mochamad Indra Yusuf Wahyudin yang hidup setiap harinya. Menghidupkan asa, sekalian menghidupi warga.

Siapa sangka, pria yang kini memimpin salah satu produsen sepatu kulit handmade paling dikenal dari Cibaduyut ini bukan berlatar belakang desain, teknik, apalagi industri alas kaki. Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, besar di lingkungan yang sudah akrab dengan bunyi palu dan bau kulit. Di kawasan Cibaduyut, sentra sepatu legendaris Bandung yang sudah ada sejak era 1920-an.

Indra menempuh pendidikan S1 Sastra Inggris di Universitas Kristen Maranatha, lalu melanjutkan S2 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Di atas kertas, ia seorang akademisi bahasa. Namun di dalam hatinya, ada sepatu kulit yang terus memanggil.

Ketertarikannya pada sepatu bukan sekadar hobi konsumen. Ia tumbuh di antara para perajin, sering berkunjung ke rumah teman-teman kecilnya yang orang tuanya bekerja sebagai pembuat sepatu. Dari sana, rasa ingin tahu itu bersemi pelan-pelan, sampai akhirnya ia memutuskan untuk mencoba membuat sendiri.

Sepasang Keberanian

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Titik awal bisnis ini lahir dari sebuah frustasi yang sederhana. Suatu hari, saat masih berstatus mahasiswa, Indra berdiri di depan etalase toko sepatu di salah satu mal Bandung. Sepatu kulit yang ia idamkan terpajang dengan anggun, lengkap dengan label harga yang langsung membuatnya berbalik pergi. Jutaan rupiah untuk sepasang sepatu bukan angka yang masuk akal bagi mahasiswa kala itu.

Alih-alih menyerah pada keinginan itu, Indra memutar arah menuju Cibaduyut. Dengan modal sekitar Rp200.000, ia mendatangi perajin sepatu di kawasan tempatnya tumbuh besar. Modal itu ia gunakan untuk membuat satu pasang sepatu untuk dirinya sendiri, mengikuti model yang ia lihat dari internet.

“Pemilihan nama merek ‘Koku’ itu sederhana, karena mirip aja pelafalannya seperti ‘kaki’. Jadi supaya gampang diingat mereknya, namanya Koku,” buka Indra kepada Ayobandung.id, Jumat (26/5/2026).

Sepatu itu kemudian menjadi alat promosinya yang pertama. Ia kenakan, ia foto, ia unggah ke Kaskus dan Facebook dengan sistem pre-order. Minim risiko, minim modal, hanya dengan keyakinan maksimal.

Tahun pertama tidak mudah. Pesanan nyaris nihil. Nama Koku Footwear belum dikenal siapa pun. Namun Indra tidak bergeser dari pendiriannya. Di tahun kedua, ia membuat 10 sampel sepatu untuk mengisi katalog pre-order, dan dari sanalah roda mulai berputar.

"Pas awal bikin sepatu itu saya masih kuliah S2, tidak laku, sebab harganya tergolong mahal Rp300 ribu untuk saat itu tahun 2009. Setelah lulus kuliah, saya coba pasarkan di Kaskus, masih sepi juga di tahun pertama. Barulah di tahun kedua ada pesanan pre-order dan di tahun ketiga memberanikan diri untuk buka bengkel sepatu sendiri, dengan pegawai sekitar 4 orang," sambungnya.

Ketika bisnisnya mulai tumbuh, Indra melihat satu ironi yang menyakitkan di sekelilingnya: para perajin sepatu yang telah mewarisi keahlian turun-temurun, yang tangannya menyimpan pengetahuan yang tidak ada di buku manapun, justru hidup dalam kesulitan. Pesanan yang berkurang. Kalah bersaing dengan sepatu pabrikan yang murah dan diproduksi massal. Beberapa dari mereka bahkan mulai mempertimbangkan untuk berhenti.

Bagi Indra, Koku Footwear bukan semata urusan bisnis. Banyak keterkaitan emosi soal kelangsungan sebuah legacy.

Setelah ia memutuskan untuk membuka workshop sendiri pada 2013, Indra pun satu per satu merekrut para perajin lokal Cibaduyut. Bukan hanya sebagai tenaga kerja, melainkan sebagai mitra yang keahliannya dihargai dan dibayar layak. Dari empat orang di awal, kini sekitar 33 perajin dan 5 karyawan pemasaran bekerja bersamanya (dua lokasi workshop dan satu store) yang ketiganya tetap berada di kawasan Cibaduyut.

Bagaimanapun perjalanannya membuka bengkel sepatu milik sendiri tidak mulus. Banyak kendala dan kesulitan yang telah terjadi, sehingga pada akhirnya ia memutuskan “punya sendiri” lebih mudah dikontrol sekalipun lebih memusingkan.

"Dahulu sepanjang tahun 2010-2012, bagian tersulitnya itu di vendor, karena saya tidak produksi sendiri jadi mencari vendor. Nah, cari vendor yang amanah itu susah. Sering kali kepercayaan pembeli terhadap Koku Footwear terhambat, karena ada saja gangguan produksi dari vendor. Akhirnya, sebab susah sekali mencari vendor yang bisa dipercaya, saya bikin sendiri,” tutur Indra.

Teknik pembuatan yang digunakan pun bukan sekadar asal jadi. Koku Footwear mempertahankan metode tradisional seperti hand welting, blake stitch, dan stitch down. Teknik-teknik yang butuh jam terbang panjang untuk dikuasai dan semakin langka dikerjakan di era mesin. Bahan bakunya pun dipilih serius: kulit sapi asli dari Cianjur dan Garut, kualitas ekspor, yang mudah dibentuk dan diwarnai secara manual.

Hasilnya adalah sepatu yang bukan sekadar alas kaki, melainkan sebuah pernyataan bahwa tangan manusia masih bisa mengalahkan mesin, jika diberi kesempatan.

Pada 2015, untuk pertama kalinya sebuah paket berisi sepatu kulit buatan tangan dari gang kecil di Cibaduyut dikirimkan ke luar negeri. Itu adalah tonggak kecil yang maknanya besar. Membuktikan bahwa kualitas perajin lokal bisa bicara di panggung internasional.

Kini, sekitar 10 persen dari total produksi Koku Footwear diserap oleh pasar luar negeri, terutama di kawasan Asia Tenggara. Dalam sebulan, workshop mereka mampu menghasilkan hingga 300 pasang sepatu. Produk-produknya (mulai dari Oxford klasik, logger boots, dress boot, hingga casual boots) dijual di kisaran Rp800.000 hingga Rp2.500.000, bahkan ada yang mencapai belasan juta untuk pesanan khusus.

Menariknya, titik loncatan pendapatan bagi Indra justru terjadi semasa COVID-19 mengguncang berbagai sektor di Indonesia. Ketika banyak perusahaan gulung tikar, Koku Footwear justru memijakkan kaki di tangga lebih tinggi.

"Karena dasar pemasaran produk ini online, jadi pas pandemi itu justru jadi titik melesat omzetnya. Sebelum pandemi (mulai pembukuan 2018) itu kisaran per tahun omzetnya Rp1 miliar, dan pas pademi mulai mereda tahun 2023 itu sudah sampai Rp3 miliar dalam setahun,” ungkap pria kelahiran 1986 itu.

Pada 2024, omzet Koku Footwear menyentuh angka Rp4,9 miliar. Sebuah angka yang sulit dibayangkan ketika Indra pertama kali berdiri di depan etalase sepatu di mal itu dua dekade lalu.

Bertemu BRI, Langkah Kian Panjang

Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Koku Footwear tumbuh dari ketekunan. Tapi ada satu momen yang menjadi akselerator nyata dalam perjalanan bisnis Indra: bergabungnya ia dengan ekosistem pemberdayaan UMKM dari BRI.

Melalui Rumah BUMN Bandung, Indra mendapatkan lebih dari sekadar pinjaman modal. Ia mendapat pendampingan bisnis yang terstruktur, pelatihan tentang prosedur ekspor, hingga akses ke jaringan pameran internasional yang mempertemukannya langsung dengan calon pembeli dari luar negeri. Fasilitas merchant BRI (mesin EDC, QRIS, dan rekening usaha) turut merapikan operasional bisnisnya yang sebelumnya banyak bergantung pada sistem manual.

“Pas 2018 itu saya sering ikut pelatihan BRI dan di sinilah saya belajar tentang bagaimana membuat produk yang bagus, bukan hanya kualitasnya, tapi secara pemasaran. Saya pun belajar digital marketing, sampai menata pitch deck. Ilmunya bagus banget, karena kita jadi jelas arah bisnisnya,” papar pria 40 tahun itu.

Faktanya, Rumah BUMN memang bukan sekadar tempat pelatihan. Tempat ini sering kali jadi titik pertama di mana UMKM diajarkan untuk melihat bisnisnya secara profesional. Dikurasi untuk naik ke level berikutnya. Pendekatannya berjenjang: Go Modern untuk penguatan manajemen dan kemasan, Go Digital untuk literasi teknologi dasar, Go Online untuk pemasaran daring, hingga Go Global untuk persiapan ekspor. Empat tahap yang terlihat sederhana, tapi menuntut konsistensi yang tidak semua pelaku usaha siap jalani.

A. Radinal Pramudha Sirat, CEO Rumah BUMN Bandung, menjelaskan sistem ini dengan istilah yang lebih spesifik: empat kelas. Kelas 1 untuk UMKM yang belum punya laporan keuangan. Kelas 2 ketika pengelolaan keuangan sudah rapi dan baru mulai mengembangkan akun digital untuk promosi. Kelas 3 ketika sudah bisa berjualan secara masif melalui kanal digital (bukan sekadar promosi). Kelas 4 ketika sudah siap ekspor. Setiap kenaikan kelas bukan formalitas, melainkan cermin dari seberapa jauh kapasitas telah bertumbuh.

“Rumah BUMN Bandung ini inisiasi dari Kementerian BUMN. Tujuan utamanya pemberdayaan UMKM, dari pelatihan, literasi keuangan mendasar, sertifikasi, dan sebagainya, kita ajarkan semua di sini," papar Radinal kepada ayobandung.id (10/4/2026).

Puncaknya datang pada 2023, ketika Koku Footwear dinobatkan sebagai Juara 1 BRIncubator 2023, sebuah program inkubasi bergengsi dari BRI yang mengangkat UMKM ke level lebih tinggi. Penghargaan ini bukan sekadar trofi, tapi juga membuka pintu ke pameran-pameran lebih besar, dengan jangkauan buyer yang semakin luas. Setelah itu, Koku Footwear pun menyabet gelar juara 1 dalam Brilianpreneur di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat.

Jahitan Belum Selesai

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Indah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Indah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Namun di balik semua pencapaian itu, ada kegelisahan yang tidak pernah benar-benar pergi dari pikiran Indra.

Cibaduyut hari ini bukan Cibaduyut yang ia kenal di masa kecil. Dari ratusan perajin yang dulu ramai memenuhi kawasan ini, kini data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat mencatat hanya sekitar 50 perajin yang tersisa. Regenerasi mandek. Banyak anak-anak perajin yang didorong orang tuanya sendiri untuk mengambil jalan lain, seperti sekolah tinggi, bekerja kantoran, dan tradisi itu perlahan kehilangan penerusnya.

Indra memperkirakan, dari seluruh pelaku usaha sepatu yang masih ada di Cibaduyut, hanya sekitar lima persen yang benar-benar mempertahankan kualitas handmade. Selebihnya sudah beralih ke mesin, mengejar kuantitas dengan mengorbankan kekhasan.

Kesepian yang mulai mematikan industri sepatu kulit sebenarnya tidak hanya terjadi di ruang final produksi. Secara bahan baku, penyedia lokal pun banyak yang gulung tikar.

“Misalnya untuk sol kulit, dulu itu banyak yang produksi lokal semua, seperti dari Magetan atau Malang, tetapi sejak 2022 banyak yang bangkrut. Jadi sekarang mau tidak mau saya harus impor, termasuk bahan untuk bagian lainnya,” imbuh Indra.

Kesulitan bahan baku lokal yang berkualitas bagus ini secara langsung memengaruhi harga. Indra mengaku terpaksa mesti menaikkan harga jual sepatunya sebab mesti rutin impor.

Selain keinginan untuk menghidupkan lagi produsen kulit lokal, Indra pun bermimpi ada sekolah atau lembaga pendidikan formal yang secara serius mengajarkan teknik pembuatan sepatu kulit secara tradisional, lengkap dengan pemahaman digital marketing agar para perajin juga bisa menjual produknya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain.

“Sayangnya, Cibaduyut yang terkenal akan industri sepatu kulit ini tidak didukung oleh pendidikan formal terkait. Bahkan dahulu Cibaduyut terkenal oleh banyaknya perajin sepatu kelas Italia (blake stitch). Harapan saya, jika bisa didukung oleh pemerintah, adakan sekolahnya di Bandung, seperti di Yogyakarta, semacam politeknik industri kulit. Industri sepatu di Bandung ini selalu jadi barometer tertinggi secara nasional, baik model ataupun kekuatan tahan lamanya, jadi sangat memprihatinkan jika kian lama malah menuju kematian,” ucapnya.

Di tangan Indra, karyawannya, dan para perajinnya, Cibaduyut bukan sekadar nama jalan. Predikat “sentra sepatu lokal” itu terus dijahit, setiap hari, satu sepatu dalam satu waktu. Koku Footwear pun teguh menyerap tenaga lokal, untuk secara konsisten memberdayakan masyarakat sekitar rumah produksi.

“Salah satu tujuan saya buka wirausaha berangkat dari keinginan agar warga lokal lebih sejahtera. Karena upah pegawai sepatu di Cibaduyut sejak dulu lazimnya kecil dan jauh dari UMP, tidak ada THR, dan banyak keterbatasan. Pendidikan mereka juga tidak tinggi, rata-rata hanya lulusan SD, dan ada karyawan saya juga tidak bisa baca. Oleh karena itu, saya menekankan Koku Footwear untuk menyejahterakan mereka, membayar upah lebih layak, pun dengan jaminan THR,” pungkas Indra. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 17:03

Dari Layar ke Media Sosial: Cara Film Animasi Membangun Percakapan

Disney dan Pixar menerapkan strategi komunikasi pemasaran terpadu melalui berbagai platform digital untuk memaksimalkan publikasi global dari film animasi Inside Out 2.

Film animasi "Inside Out 2". (Sumber: Walt Disney Studios Motion Pictures)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 16:00

Mengulas Strategi Komunikasi Digital Pembentukan Opini Publik pada Publikasi Produk Fashion

Strategi komunikasi digital menyesuaikan karakter setiap platform, tetapi tetap menjaga konsistensi pesan untuk membentuk identitas produk dan pemahaman publik.

Ilustrasi produk fashion.
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 15:20

Menyusuri Jejak Peristiwa Era 80-an dalam Lembaran Majalah Zaman

Majalah Zaman edisi 1984 bukan sekadar bacaan lama, melainkan rekaman suasana, budaya, dan cara pandang masyarakat Indonesia pada sebuah masa yang kini telah berlalu.

Majalah Zaman edisi September 1984, terbit sekitar 42 tahun silam. Sampul mukanya menampilkan lukisan bergaya airbrush penyanyi asal Cimahi, Ria Angelina, yang menjadi salah satu wajah hiburan populer pada era 1980-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 13:11

R. Ipik Gandamana Sumawinata Layak sebagai Pahlawan Nasional dari Jawa Barat asal Purwakarta

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 10:29

Spiderman, Perdamaian, dan Pahlawan

Segala penghargaan bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Piagam bisa menguning. Justru nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya bisa hidup jauh lebih lama. Selamat Kang!

Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 07:46

KDM Ada di Mana-mana, Jawa Barat Ada di Mana?

Sebesar apa pun panggung nasional yang dimasukinya, mandat KDM tetap berada di Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 20:55

Adakah Solusi Masalah Kualitas Udara di Lingkungan Sekolah?

Sebagian besar sekolah negeri di Bandung masih mengandalkan ventilasi alami,

Ilustrasi masalah kualitas udara di ruang kelas di kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 17:41

200 Ikon Bandung #1 Mahanagari

Mahanagari pernah menjadi salah satu cara kreatif mengenalkan identitas dan kebanggaan terhadap Bandung melalui desain, komunitas, dan kearifan lokal.

Sebuah buku yang berjudul 200 ikon Bandung. (Sumber: Malia Nur Alifa)