Dari Tangan ke Kaki: Mimpi Sepatu Cibaduyut yang Tak Boleh Mati

10 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Perajin sepatu kulit Koku Footwear di Cibaduyut, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Perajin sepatu kulit Koku Footwear di Cibaduyut, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID – Langkah kaki saya melambat begitu memasuki gang kecil di samping Taman Cibaduyut Indah, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada siang hari (26/5/2026). Bukan karena jalan yang sempit, melainkan karena sesuatu yang terdengar sebelum terlihat. Bunyi pukulan palu kecil yang berirama, diselingi desis jarum yang menembus kulit tebal. Di dalam sebuah ruangan yang sederhana namun penuh aktivitas, belasan tangan tengah bergerak dengan tenang dan teliti. 

Seorang bapak di sudut kiri memotong lembar kulit cokelat dengan pisau khusus, mengikuti pola yang sudah ia hafal bertahun-tahun. Di sebelahnya, seorang lain menjahit bagian upper sepatu dengan ekspresi yang hampir meditatif. Tak ada yang terburu-buru. Setiap gerakan terukur, seolah mereka tahu bahwa satu kesalahan kecil akan terbaca seumur hidup pada sepatu yang akan dipakai seseorang.

Di sinilah workshop Koku Footwear, produsen sepatu pria. Mimpi Mochamad Indra Yusuf Wahyudin yang hidup setiap harinya. Menghidupkan asa, sekalian menghidupi warga.

Siapa sangka, pria yang kini memimpin salah satu produsen sepatu kulit handmade paling dikenal dari Cibaduyut ini bukan berlatar belakang desain, teknik, apalagi industri alas kaki. Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, besar di lingkungan yang sudah akrab dengan bunyi palu dan bau kulit. Di kawasan Cibaduyut, sentra sepatu legendaris Bandung yang sudah ada sejak era 1920-an.

Indra menempuh pendidikan S1 Sastra Inggris di Universitas Kristen Maranatha, lalu melanjutkan S2 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Di atas kertas, ia seorang akademisi bahasa. Namun di dalam hatinya, ada sepatu kulit yang terus memanggil.

Ketertarikannya pada sepatu bukan sekadar hobi konsumen. Ia tumbuh di antara para perajin, sering berkunjung ke rumah teman-teman kecilnya yang orang tuanya bekerja sebagai pembuat sepatu. Dari sana, rasa ingin tahu itu bersemi pelan-pelan, sampai akhirnya ia memutuskan untuk mencoba membuat sendiri.

Sepasang Keberanian

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Titik awal bisnis ini lahir dari sebuah frustasi yang sederhana. Suatu hari, saat masih berstatus mahasiswa, Indra berdiri di depan etalase toko sepatu di salah satu mal Bandung. Sepatu kulit yang ia idamkan terpajang dengan anggun, lengkap dengan label harga yang langsung membuatnya berbalik pergi. Jutaan rupiah untuk sepasang sepatu bukan angka yang masuk akal bagi mahasiswa kala itu.

Alih-alih menyerah pada keinginan itu, Indra memutar arah menuju Cibaduyut. Dengan modal sekitar Rp200.000, ia mendatangi perajin sepatu di kawasan tempatnya tumbuh besar. Modal itu ia gunakan untuk membuat satu pasang sepatu untuk dirinya sendiri, mengikuti model yang ia lihat dari internet.

“Pemilihan nama merek ‘Koku’ itu sederhana, karena mirip aja pelafalannya seperti ‘kaki’. Jadi supaya gampang diingat mereknya, namanya Koku,” buka Indra kepada Ayobandung.id, Jumat (26/5/2026).

Sepatu itu kemudian menjadi alat promosinya yang pertama. Ia kenakan, ia foto, ia unggah ke Kaskus dan Facebook dengan sistem pre-order. Minim risiko, minim modal, hanya dengan keyakinan maksimal.

Tahun pertama tidak mudah. Pesanan nyaris nihil. Nama Koku Footwear belum dikenal siapa pun. Namun Indra tidak bergeser dari pendiriannya. Di tahun kedua, ia membuat 10 sampel sepatu untuk mengisi katalog pre-order, dan dari sanalah roda mulai berputar.

"Pas awal bikin sepatu itu saya masih kuliah S2, tidak laku, sebab harganya tergolong mahal Rp300 ribu untuk saat itu tahun 2009. Setelah lulus kuliah, saya coba pasarkan di Kaskus, masih sepi juga di tahun pertama. Barulah di tahun kedua ada pesanan pre-order dan di tahun ketiga memberanikan diri untuk buka bengkel sepatu sendiri, dengan pegawai sekitar 4 orang," sambungnya.

Ketika bisnisnya mulai tumbuh, Indra melihat satu ironi yang menyakitkan di sekelilingnya: para perajin sepatu yang telah mewarisi keahlian turun-temurun, yang tangannya menyimpan pengetahuan yang tidak ada di buku manapun, justru hidup dalam kesulitan. Pesanan yang berkurang. Kalah bersaing dengan sepatu pabrikan yang murah dan diproduksi massal. Beberapa dari mereka bahkan mulai mempertimbangkan untuk berhenti.

Bagi Indra, Koku Footwear bukan semata urusan bisnis. Banyak keterkaitan emosi soal kelangsungan sebuah legacy.

Setelah ia memutuskan untuk membuka workshop sendiri pada 2013, Indra pun satu per satu merekrut para perajin lokal Cibaduyut. Bukan hanya sebagai tenaga kerja, melainkan sebagai mitra yang keahliannya dihargai dan dibayar layak. Dari empat orang di awal, kini sekitar 33 perajin dan 5 karyawan pemasaran bekerja bersamanya (dua lokasi workshop dan satu store) yang ketiganya tetap berada di kawasan Cibaduyut.

Bagaimanapun perjalanannya membuka bengkel sepatu milik sendiri tidak mulus. Banyak kendala dan kesulitan yang telah terjadi, sehingga pada akhirnya ia memutuskan “punya sendiri” lebih mudah dikontrol sekalipun lebih memusingkan.

"Dahulu sepanjang tahun 2010-2012, bagian tersulitnya itu di vendor, karena saya tidak produksi sendiri jadi mencari vendor. Nah, cari vendor yang amanah itu susah. Sering kali kepercayaan pembeli terhadap Koku Footwear terhambat, karena ada saja gangguan produksi dari vendor. Akhirnya, sebab susah sekali mencari vendor yang bisa dipercaya, saya bikin sendiri,” tutur Indra.

Teknik pembuatan yang digunakan pun bukan sekadar asal jadi. Koku Footwear mempertahankan metode tradisional seperti hand welting, blake stitch, dan stitch down. Teknik-teknik yang butuh jam terbang panjang untuk dikuasai dan semakin langka dikerjakan di era mesin. Bahan bakunya pun dipilih serius: kulit sapi asli dari Cianjur dan Garut, kualitas ekspor, yang mudah dibentuk dan diwarnai secara manual.

Hasilnya adalah sepatu yang bukan sekadar alas kaki, melainkan sebuah pernyataan bahwa tangan manusia masih bisa mengalahkan mesin, jika diberi kesempatan.

Pada 2015, untuk pertama kalinya sebuah paket berisi sepatu kulit buatan tangan dari gang kecil di Cibaduyut dikirimkan ke luar negeri. Itu adalah tonggak kecil yang maknanya besar. Membuktikan bahwa kualitas perajin lokal bisa bicara di panggung internasional.

Kini, sekitar 10 persen dari total produksi Koku Footwear diserap oleh pasar luar negeri, terutama di kawasan Asia Tenggara. Dalam sebulan, workshop mereka mampu menghasilkan hingga 300 pasang sepatu. Produk-produknya (mulai dari Oxford klasik, logger boots, dress boot, hingga casual boots) dijual di kisaran Rp800.000 hingga Rp2.500.000, bahkan ada yang mencapai belasan juta untuk pesanan khusus.

Menariknya, titik loncatan pendapatan bagi Indra justru terjadi semasa COVID-19 mengguncang berbagai sektor di Indonesia. Ketika banyak perusahaan gulung tikar, Koku Footwear justru memijakkan kaki di tangga lebih tinggi.

"Karena dasar pemasaran produk ini online, jadi pas pandemi itu justru jadi titik melesat omzetnya. Sebelum pandemi (mulai pembukuan 2018) itu kisaran per tahun omzetnya Rp1 miliar, dan pas pademi mulai mereda tahun 2023 itu sudah sampai Rp3 miliar dalam setahun,” ungkap pria kelahiran 1986 itu.

Pada 2024, omzet Koku Footwear menyentuh angka Rp4,9 miliar. Sebuah angka yang sulit dibayangkan ketika Indra pertama kali berdiri di depan etalase sepatu di mal itu dua dekade lalu.

Bertemu BRI, Langkah Kian Panjang

Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Koku Footwear tumbuh dari ketekunan. Tapi ada satu momen yang menjadi akselerator nyata dalam perjalanan bisnis Indra: bergabungnya ia dengan ekosistem pemberdayaan UMKM dari BRI.

Melalui Rumah BUMN Bandung, Indra mendapatkan lebih dari sekadar pinjaman modal. Ia mendapat pendampingan bisnis yang terstruktur, pelatihan tentang prosedur ekspor, hingga akses ke jaringan pameran internasional yang mempertemukannya langsung dengan calon pembeli dari luar negeri. Fasilitas merchant BRI (mesin EDC, QRIS, dan rekening usaha) turut merapikan operasional bisnisnya yang sebelumnya banyak bergantung pada sistem manual.

“Pas 2018 itu saya sering ikut pelatihan BRI dan di sinilah saya belajar tentang bagaimana membuat produk yang bagus, bukan hanya kualitasnya, tapi secara pemasaran. Saya pun belajar digital marketing, sampai menata pitch deck. Ilmunya bagus banget, karena kita jadi jelas arah bisnisnya,” papar pria 40 tahun itu.

Faktanya, Rumah BUMN memang bukan sekadar tempat pelatihan. Tempat ini sering kali jadi titik pertama di mana UMKM diajarkan untuk melihat bisnisnya secara profesional. Dikurasi untuk naik ke level berikutnya. Pendekatannya berjenjang: Go Modern untuk penguatan manajemen dan kemasan, Go Digital untuk literasi teknologi dasar, Go Online untuk pemasaran daring, hingga Go Global untuk persiapan ekspor. Empat tahap yang terlihat sederhana, tapi menuntut konsistensi yang tidak semua pelaku usaha siap jalani.

A. Radinal Pramudha Sirat, CEO Rumah BUMN Bandung, menjelaskan sistem ini dengan istilah yang lebih spesifik: empat kelas. Kelas 1 untuk UMKM yang belum punya laporan keuangan. Kelas 2 ketika pengelolaan keuangan sudah rapi dan baru mulai mengembangkan akun digital untuk promosi. Kelas 3 ketika sudah bisa berjualan secara masif melalui kanal digital (bukan sekadar promosi). Kelas 4 ketika sudah siap ekspor. Setiap kenaikan kelas bukan formalitas, melainkan cermin dari seberapa jauh kapasitas telah bertumbuh.

“Rumah BUMN Bandung ini inisiasi dari Kementerian BUMN. Tujuan utamanya pemberdayaan UMKM, dari pelatihan, literasi keuangan mendasar, sertifikasi, dan sebagainya, kita ajarkan semua di sini," papar Radinal kepada ayobandung.id (10/4/2026).

Puncaknya datang pada 2023, ketika Koku Footwear dinobatkan sebagai Juara 1 BRIncubator 2023, sebuah program inkubasi bergengsi dari BRI yang mengangkat UMKM ke level lebih tinggi. Penghargaan ini bukan sekadar trofi, tapi juga membuka pintu ke pameran-pameran lebih besar, dengan jangkauan buyer yang semakin luas. Setelah itu, Koku Footwear pun menyabet gelar juara 1 dalam Brilianpreneur di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat.

Jahitan Belum Selesai

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Indah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Indah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Namun di balik semua pencapaian itu, ada kegelisahan yang tidak pernah benar-benar pergi dari pikiran Indra.

Cibaduyut hari ini bukan Cibaduyut yang ia kenal di masa kecil. Dari ratusan perajin yang dulu ramai memenuhi kawasan ini, kini data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat mencatat hanya sekitar 50 perajin yang tersisa. Regenerasi mandek. Banyak anak-anak perajin yang didorong orang tuanya sendiri untuk mengambil jalan lain, seperti sekolah tinggi, bekerja kantoran, dan tradisi itu perlahan kehilangan penerusnya.

Indra memperkirakan, dari seluruh pelaku usaha sepatu yang masih ada di Cibaduyut, hanya sekitar lima persen yang benar-benar mempertahankan kualitas handmade. Selebihnya sudah beralih ke mesin, mengejar kuantitas dengan mengorbankan kekhasan.

Kesepian yang mulai mematikan industri sepatu kulit sebenarnya tidak hanya terjadi di ruang final produksi. Secara bahan baku, penyedia lokal pun banyak yang gulung tikar.

“Misalnya untuk sol kulit, dulu itu banyak yang produksi lokal semua, seperti dari Magetan atau Malang, tetapi sejak 2022 banyak yang bangkrut. Jadi sekarang mau tidak mau saya harus impor, termasuk bahan untuk bagian lainnya,” imbuh Indra.

Kesulitan bahan baku lokal yang berkualitas bagus ini secara langsung memengaruhi harga. Indra mengaku terpaksa mesti menaikkan harga jual sepatunya sebab mesti rutin impor.

Selain keinginan untuk menghidupkan lagi produsen kulit lokal, Indra pun bermimpi ada sekolah atau lembaga pendidikan formal yang secara serius mengajarkan teknik pembuatan sepatu kulit secara tradisional, lengkap dengan pemahaman digital marketing agar para perajin juga bisa menjual produknya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain.

“Sayangnya, Cibaduyut yang terkenal akan industri sepatu kulit ini tidak didukung oleh pendidikan formal terkait. Bahkan dahulu Cibaduyut terkenal oleh banyaknya perajin sepatu kelas Italia (blake stitch). Harapan saya, jika bisa didukung oleh pemerintah, adakan sekolahnya di Bandung, seperti di Yogyakarta, semacam politeknik industri kulit. Industri sepatu di Bandung ini selalu jadi barometer tertinggi secara nasional, baik model ataupun kekuatan tahan lamanya, jadi sangat memprihatinkan jika kian lama malah menuju kematian,” ucapnya.

Di tangan Indra, karyawannya, dan para perajinnya, Cibaduyut bukan sekadar nama jalan. Predikat “sentra sepatu lokal” itu terus dijahit, setiap hari, satu sepatu dalam satu waktu. Koku Footwear pun teguh menyerap tenaga lokal, untuk secara konsisten memberdayakan masyarakat sekitar rumah produksi.

“Salah satu tujuan saya buka wirausaha berangkat dari keinginan agar warga lokal lebih sejahtera. Karena upah pegawai sepatu di Cibaduyut sejak dulu lazimnya kecil dan jauh dari UMP, tidak ada THR, dan banyak keterbatasan. Pendidikan mereka juga tidak tinggi, rata-rata hanya lulusan SD, dan ada karyawan saya juga tidak bisa baca. Oleh karena itu, saya menekankan Koku Footwear untuk menyejahterakan mereka, membayar upah lebih layak, pun dengan jaminan THR,” pungkas Indra. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)