Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Selasa 26 Mei 2026, 17:05 WIB
Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID — Tidak ada yang kebetulan dari dua pilihan usaha BUMDes Marga Makmur, Desa Margamukti, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang. Melon premium dan ternak ayam kampung bukan sekadar komoditas. Keduanya adalah jawaban atas pertanyaan: bagaimana desa bisa menghasilkan nilai tambah dari potensi lokal yang selama ini ada di depan mata, tanpa harus bergantung pada bantuan dari luar?

Dari jawaban atas pertanyaan itulah BUMDes Marga Makmur membangun fondasinya. Sebagai motor penggerak ekonomi lokal, BUMDes Marga Makmur mengelola unit-unit usaha strategis yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat. Dua di antaranya kini menjadi tulang punggung: budidaya melon premium dan peternakan ayam kampung unggulan.

Menariknya, menurut pemaparan Iman Romansyah (KAUR Umum Tata Usaha dan Koordinator BUMDes) kepada ayobandung.id pada Jumat (22/5/2026), dua unit usaha unggulan dari Desa Margamukti tidak dibangun atas dasar keunikan produk, melainkan atas kuatnya jaringan dagang.

“Secara umum potensi Desa Margamukti ini sebetulnya mirip-mirip dengan desa-desa tetangga yang demografis atau geografisnya sama. Kita untuk menciptakan suatu yang unik, produk atau makanan, itu memang susah. Kita tidak punya keunikan khas, baik sosial, budaya, atapun makanan. Tetapi menciptakan suatu sistem wirausaha, itulah yang kami coba gali di sini,” ungkap Iman.

BUMDes Marga Makmur memang sukses mengembangkan pertanian melon premium dengan memanfaatkan teknologi pertanian modern dan metode tanam yang ramah lingkungan, menghasilkan buah melon berkualitas tinggi dengan rasa manis alami dan tampilan menarik. Hanya saja metode yang canggih saja tidak cukup untuk memastikan produk laku di pasaran. Perlu pemasaran yang handal pasca produksi.

“Misalkan gini, produk BUMDes Marga Makmur ini adalah melon dan ayam, saya yakin semua desa juga bisa membudidayakannya. Tetapi sampai menciptakan ekosistem jaringan usaha, dari mulai produksi sampai pemasaran, yang tidak bergantung pada rantai distribusi orang lain, itu yang paling susah. ” sambungnya. 

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli. Terutama untuk melon premium, mereka sudah berhasil bikin jaringan Business-to-Business (B2B) yang solid.

“Untuk membangun ekosistem itu kita benar-benar merombak mindset dari para pengurus tata usaha. Tujuannya agar tidak terjebak pola pikir usang yang merugikan. Misalnya, ketika bikin ternak, biasanya hanya sekadar dikasih modal, setelah itu habis. Jadi otomatis kita memaksa mereka agar produktif atau memberdayakan orang-orang yang punya kemampuan di sana. Contohnya juga melon premium, ini produk yang masyarakat biasa jarang beli, karena harganya Rp 35 ribu ke atas. Tetapi dengan adanya tantangan tersebut kita harus harus menciptakan segmentasi pasar sendiri. Alhasil kita harus membuka jaringan dan memperluas market ke pihak luar secara mandiri,” lanjut Iman.

Budidaya yang Dibanggakan Warga Desa

Budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Secara teknis, budidaya melon berbasis greenhouse memiliki keunggulan yang terukur. Budidaya melon dalam greenhouse memungkinkan dihasilkannya melon bermutu premium hingga 90 persen, karena lingkungan yang lebih terkontrol meminimalkan serangan hama dan penyakit sehingga kulit buah melon bisa mulus. Ongkos produksi per tanaman hanya berkisar Rp7.000, termasuk investasi rumah tanam, atau hanya Rp5.000 per kilogram jika hanya menghitung biaya perawatan dan pupuk. Standar kualitas melon premium pun memiliki tolok ukur yang jelas di pasar. Varietas melon premium memiliki tingkat kemanisan rata-rata 14 brix, dengan proses dari penyemaian hingga panen membutuhkan waktu sekitar 70 hari menggunakan sistem hidroponik. 

Adapun Melon premium dari Margamukti sudah menjadi primadona dalam berbagai event pameran pertanian, dan permintaan pasar modern terus meningkat. Dari sisi harga, melon Margamukti dijual pada kisaran Rp30.000 hingga Rp45.000 per kilogram, tergantung varietas yang dipanen. Harga ini mencerminkan kualitas premium yang dihasilkan dan pasar meresponsnya dengan baik. 

Alhamdulillah perjuangan unit melon ini sudah berjalan 3 tahunan, dari 2022, sampai sekarang bisa menciptakan ekosistem se-Jawa Barat. Sampai kita juga punya pasarnya dengan segmentasi khusus, yang biasanya toko-toko buah yang lazimnya untuk kalangan menengah ke atas,” ungkapnya.

Secara kuota penjualan, unit melon premium dari Desa Margamukti biasanya mencapai 3-4 ton per bulan. Kondisi ini mendorong omzet unit melon BUMDes Marga Makmur tercatat mencapai Rp18 juta hingga Rp25 juta per bulan, menjadikannya unit usaha dengan kontribusi terbesar bagi pendapatan BUMDes saat ini.

Salah satu keuntungan bagi BUMDes Marga Makmur juga lantaran salah satu pengurusnya menjadi ketua Asosiasi Melon Premium Jawa Barat. Hal ini membuat Desa Margamukti menjadi induk dari plasma-plasma di asosiasi tersebut.

“Jaringan sudah kuat, rantai distribusi sudah kuat, otomatis karena kita yang punya pasar dan segmentasi maka harga tidak akan ditentukan oleh orang lain. Kita yang menentukan harga dan inilah enaknya,” bangga Iman.

Untuk pemasaran saat ini, unit budidaya melon premium BUMDes Marga Makmur sudah punya klien tetap di hotel-hotel, toko buah premium (seperti Rumah Buah dan Omah Buah), serta ke jaringan supermarket seperti Griya.

Iman Romansyah (baju orange), KAUR Umum Tata Usaha dan Koordinator BUMDes Margamukti, Sumedang, bersama seorang warga peternak ayam, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Iman Romansyah (baju orange), KAUR Umum Tata Usaha dan Koordinator BUMDes Margamukti, Sumedang, bersama seorang warga peternak ayam, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Jika melon menjawab kebutuhan pasar buah premium, unit peternakan ayam kampung menjawab kebutuhan yang lebih mendasar untuk protein hewani berkualitas bagi masyarakat lokal, sekaligus sumber pendapatan yang stabil bagi warga desa.

Unit peternakan BUMDes Marga Makmur fokus pada budidaya ayam kampung unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Dengan sistem pemeliharaan alami dan pakan sehat, ayam kampung produksinya dikenal lebih gurih dan sehat, sehingga banyak diminati pasar lokal dan luar desa, sekaligus membuka peluang kerja bagi warga desa khususnya dalam kegiatan perawatan dan distribusi ternak.

“Unit ayam ini dikelola oleh generasi muda milenial juga oleh salah satu warga desa yang dahulu diberi beasiswa kuliah oleh BUMDes. Alhamdulillah, mereka semangat sekali kerjanya dan visinya bagus karena anak-anak milenial ini benar-benar bekerja sesuai hobinya,” imbuh Iman.

Adapun pemilihan ayam kampung KUB Sentul ialah merupakan hasil revisi dari percobaan-percobaan sebelumnya. Percobaan sebelumnya tidak selalu berhasil, namun memberikan ilmu baru dari setiap jatuh bangunnya proses.

Saat ini, unit peternakan ayam kampung BUMDes Marga Makmur menjual setiap ekor ayam dengan harga Rp35.000, dengan omzet yang dicatatkan mencapai Rp6 juta hingga Rp10 juta per bulan. Angka yang terbilang solid untuk unit usaha berbasis peternakan lokal di tingkat desa.

“Waktu dulu itu kami masih bergantung kepada bandar ketika menjual, sering juga dipermainkan harga, sampai akhirnya saat ini kami bisa punya pasar sendiri,” syukur Iman.

Ketahanan Pangan dari Dalam Desa

Peternakan ayam kampung KUB Sentul di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Peternakan ayam kampung KUB Sentul di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Melon dan ayam kampung bukan dua unit usaha yang berdiri sendiri. Keduanya adalah bagian dari satu strategi besar untuk membangun ketahanan pangan desa dari dalam, bukan menunggu pasokan dari luar.

Budidaya ayam kampung pun masuk dalam kategori program ketahanan pangan desa yang didorong pemerintah, dengan target memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat, meningkatkan pendapatan rumah tangga petani, dan mewujudkan desa yang mandiri dan tahan terhadap krisis pangan.

Dewi Hestiningrum S., Regional CEO BRI Regional Office Bandung, melihat model seperti ini sebagai inti dari apa yang ingin dibangun program Desa BRILiaN.

"Terbangunnya integrasi rantai pasok lokal yang lebih kuat, dari produsen, pengolah, hingga pemasaran, sehingga ekonomi desa berputar lebih cepat dan nilai tambah tetap berada di tangan masyarakat," buka Dewi dalam pernyataan resminya kepada Ayobandung.id

Pun bagi BRI, keberlanjutan model seperti Desa BRILiaN Margamukti bukan sekadar soal panen yang bagus musiman semata, melainkan tentang membangun ekosistem yang tahan jangka panjang.

"Kunci keberlanjutan ada pada pendampingan yang konsisten. Kami menugaskan Mantri BRI sebagai pendamping yang secara rutin mendampingi desa dalam pengelolaan keuangan, akses pembiayaan, dan literasi perbankan. Selain itu, kami menyediakan pelatihan lanjutan, akses Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta menghubungkan produk unggulan desa ke pasar yang lebih luas, baik melalui pameran, platform digital, maupun jaringan mitra BRI. Dengan begitu, Desa BRILian tidak berhenti pada level binaan, tetapi bertumbuh menjadi sentra ekonomi yang mandiri," lanjutnya.

Dampak paling terasa dari dua unit usaha ini bukan hanya pada omzet BUMDes, tetapi pada pergerakan ekonomi warga secara langsung.

BUMDes Marga Makmur juga membangun kios untuk para pedagang UMKM lokal (khusus warga desa yang memiliki usaha) sehingga difasilitasi tempat yang layak untuk berjualan, sebagai bagian dari upaya meningkatkan produksi dan ketersediaan pangan lokal serta mengembangkan produk pangan yang bernilai tambah.

Kehadiran ekosistem usaha yang tumbuh dari bawah inilah yang menjadi penguat paling organik. Desa tidak menunggu investor dari luar. Desa membangun dengan apa yang sudah ada: lahan, tenaga warga, dan kemauan untuk berinovasi.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

“Kalau secara brand dan keunikan, melon premium ini memang lebih menjanjikan dan menjadi kebanggaan tersendiri untuk BUMDes dari Desa Margamukti. Begitu pun untuk jaringan yang kami miliki di unit usaha ini, sangat mendukung segmentasi dan ekosistemnya. Meski begitu, ternak ayam kampung ini masih vital, karena menjadi stabilitas cash flow bagi BUMDes,” papar Iman. 

Gabungan omzet kedua unit usaha ini (melon premium dan ayam kampung) berpotensi menyentuh Rp24 juta hingga Rp35 juta per bulan. Sebuah angka yang tidak kecil untuk Desa BRILiaN Margamukti dengan total populasi sekitar 216 jiwa, dan menjadi bukti bahwa ekonomi desa yang produktif bukan lagi sekadar cita-cita.

Dewi Hestiningrum mengingatkan bahwa peluang bagi desa-desa seperti Margamukti untuk naik kelas tidak berhenti pada level lokal.

"Kami menghubungkan produk unggulan desa ke pasar yang lebih luas, baik melalui pameran, platform digital, maupun jaringan mitra BRI," pungkas Dewi.

Melon premium dan ayam kampung dari Margamukti lahir dari lahan biasa, seluas beberapa ratus meter saja. Akan tetapi dengan tata kelola yang benar, pendampingan yang konsisten, dan pasar yang terus terbuka, keduanya berpotensi menjadi nama yang lebih dikenal bukan hanya di Sumedang, tetapi di rak-rak pasar modern yang lebih jauh. (*)

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 26 Mei 2026, 09:51

Dupan, Ketika Citarum Menolak Surut

Banjir kembali merendam Sapan Bandung. Luapan Sungai Citarum membuat Dupan terus hidup sebagai langganan genangan warga.

Banjir Citarum di Sapan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 09:29

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026

PT PLN Nusantara Power UP Cirata sukses memborong penghargaan bergengsi TOP CSR Awards 2026 atas komitmen keberlanjutan sosial mereka.

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 08:21

Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar.

Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 07:40

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Fenomena mematikan centang biru WhatsApp mencerminkan perubahan etika komunikasi digital antara kebutuhan privasi, kenyamanan, dan ekspektasi respons instan.

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 19:25

Bandung Kembali Berpestapora untuk Tiga Kali Berturut-turut

Persib Bandung resmi menyambit gelar Liga Indonesia yang ke-5 kalinya dalam tiga kali berturut-turut. Euforia perayaan di Kota Bandung pun kembali menjadi perhatian.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2025/2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis).
Ayo Biz 25 Mei 2026, 18:51

Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal bagi Desa Margamukti.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)
Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)