Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

8 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID — Tidak ada yang kebetulan dari dua pilihan usaha BUMDes Marga Makmur, Desa Margamukti, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang. Melon premium dan ternak ayam kampung bukan sekadar komoditas. Keduanya adalah jawaban atas pertanyaan: bagaimana desa bisa menghasilkan nilai tambah dari potensi lokal yang selama ini ada di depan mata, tanpa harus bergantung pada bantuan dari luar?

Dari jawaban atas pertanyaan itulah BUMDes Marga Makmur membangun fondasinya. Sebagai motor penggerak ekonomi lokal, BUMDes Marga Makmur mengelola unit-unit usaha strategis yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat. Dua di antaranya kini menjadi tulang punggung: budidaya melon premium dan peternakan ayam kampung unggulan.

Menariknya, menurut pemaparan Iman Romansyah (KAUR Umum Tata Usaha dan Koordinator BUMDes) kepada ayobandung.id pada Jumat (22/5/2026), dua unit usaha unggulan dari Desa Margamukti tidak dibangun atas dasar keunikan produk, melainkan atas kuatnya jaringan dagang.

“Secara umum potensi Desa Margamukti ini sebetulnya mirip-mirip dengan desa-desa tetangga yang demografis atau geografisnya sama. Kita untuk menciptakan suatu yang unik, produk atau makanan, itu memang susah. Kita tidak punya keunikan khas, baik sosial, budaya, atapun makanan. Tetapi menciptakan suatu sistem wirausaha, itulah yang kami coba gali di sini,” ungkap Iman.

BUMDes Marga Makmur memang sukses mengembangkan pertanian melon premium dengan memanfaatkan teknologi pertanian modern dan metode tanam yang ramah lingkungan, menghasilkan buah melon berkualitas tinggi dengan rasa manis alami dan tampilan menarik. Hanya saja metode yang canggih saja tidak cukup untuk memastikan produk laku di pasaran. Perlu pemasaran yang handal pasca produksi.

“Misalkan gini, produk BUMDes Marga Makmur ini adalah melon dan ayam, saya yakin semua desa juga bisa membudidayakannya. Tetapi sampai menciptakan ekosistem jaringan usaha, dari mulai produksi sampai pemasaran, yang tidak bergantung pada rantai distribusi orang lain, itu yang paling susah. ” sambungnya. 

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli. Terutama untuk melon premium, mereka sudah berhasil bikin jaringan Business-to-Business (B2B) yang solid.

“Untuk membangun ekosistem itu kita benar-benar merombak mindset dari para pengurus tata usaha. Tujuannya agar tidak terjebak pola pikir usang yang merugikan. Misalnya, ketika bikin ternak, biasanya hanya sekadar dikasih modal, setelah itu habis. Jadi otomatis kita memaksa mereka agar produktif atau memberdayakan orang-orang yang punya kemampuan di sana. Contohnya juga melon premium, ini produk yang masyarakat biasa jarang beli, karena harganya Rp 35 ribu ke atas. Tetapi dengan adanya tantangan tersebut kita harus harus menciptakan segmentasi pasar sendiri. Alhasil kita harus membuka jaringan dan memperluas market ke pihak luar secara mandiri,” lanjut Iman.

Budidaya yang Dibanggakan Warga Desa

Budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Secara teknis, budidaya melon berbasis greenhouse memiliki keunggulan yang terukur. Budidaya melon dalam greenhouse memungkinkan dihasilkannya melon bermutu premium hingga 90 persen, karena lingkungan yang lebih terkontrol meminimalkan serangan hama dan penyakit sehingga kulit buah melon bisa mulus. Ongkos produksi per tanaman hanya berkisar Rp7.000, termasuk investasi rumah tanam, atau hanya Rp5.000 per kilogram jika hanya menghitung biaya perawatan dan pupuk. Standar kualitas melon premium pun memiliki tolok ukur yang jelas di pasar. Varietas melon premium memiliki tingkat kemanisan rata-rata 14 brix, dengan proses dari penyemaian hingga panen membutuhkan waktu sekitar 70 hari menggunakan sistem hidroponik. 

Adapun Melon premium dari Margamukti sudah menjadi primadona dalam berbagai event pameran pertanian, dan permintaan pasar modern terus meningkat. Dari sisi harga, melon Margamukti dijual pada kisaran Rp30.000 hingga Rp45.000 per kilogram, tergantung varietas yang dipanen. Harga ini mencerminkan kualitas premium yang dihasilkan dan pasar meresponsnya dengan baik. 

Alhamdulillah perjuangan unit melon ini sudah berjalan 3 tahunan, dari 2022, sampai sekarang bisa menciptakan ekosistem se-Jawa Barat. Sampai kita juga punya pasarnya dengan segmentasi khusus, yang biasanya toko-toko buah yang lazimnya untuk kalangan menengah ke atas,” ungkapnya.

Secara kuota penjualan, unit melon premium dari Desa Margamukti biasanya mencapai 3-4 ton per bulan. Kondisi ini mendorong omzet unit melon BUMDes Marga Makmur tercatat mencapai Rp18 juta hingga Rp25 juta per bulan, menjadikannya unit usaha dengan kontribusi terbesar bagi pendapatan BUMDes saat ini.

Salah satu keuntungan bagi BUMDes Marga Makmur juga lantaran salah satu pengurusnya menjadi ketua Asosiasi Melon Premium Jawa Barat. Hal ini membuat Desa Margamukti menjadi induk dari plasma-plasma di asosiasi tersebut.

“Jaringan sudah kuat, rantai distribusi sudah kuat, otomatis karena kita yang punya pasar dan segmentasi maka harga tidak akan ditentukan oleh orang lain. Kita yang menentukan harga dan inilah enaknya,” bangga Iman.

Untuk pemasaran saat ini, unit budidaya melon premium BUMDes Marga Makmur sudah punya klien tetap di hotel-hotel, toko buah premium (seperti Rumah Buah dan Omah Buah), serta ke jaringan supermarket seperti Griya.

Iman Romansyah (baju orange), KAUR Umum Tata Usaha dan Koordinator BUMDes Margamukti, Sumedang, bersama seorang warga peternak ayam, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Iman Romansyah (baju orange), KAUR Umum Tata Usaha dan Koordinator BUMDes Margamukti, Sumedang, bersama seorang warga peternak ayam, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Jika melon menjawab kebutuhan pasar buah premium, unit peternakan ayam kampung menjawab kebutuhan yang lebih mendasar untuk protein hewani berkualitas bagi masyarakat lokal, sekaligus sumber pendapatan yang stabil bagi warga desa.

Unit peternakan BUMDes Marga Makmur fokus pada budidaya ayam kampung unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Dengan sistem pemeliharaan alami dan pakan sehat, ayam kampung produksinya dikenal lebih gurih dan sehat, sehingga banyak diminati pasar lokal dan luar desa, sekaligus membuka peluang kerja bagi warga desa khususnya dalam kegiatan perawatan dan distribusi ternak.

“Unit ayam ini dikelola oleh generasi muda milenial juga oleh salah satu warga desa yang dahulu diberi beasiswa kuliah oleh BUMDes. Alhamdulillah, mereka semangat sekali kerjanya dan visinya bagus karena anak-anak milenial ini benar-benar bekerja sesuai hobinya,” imbuh Iman.

Adapun pemilihan ayam kampung KUB Sentul ialah merupakan hasil revisi dari percobaan-percobaan sebelumnya. Percobaan sebelumnya tidak selalu berhasil, namun memberikan ilmu baru dari setiap jatuh bangunnya proses.

Saat ini, unit peternakan ayam kampung BUMDes Marga Makmur menjual setiap ekor ayam dengan harga Rp35.000, dengan omzet yang dicatatkan mencapai Rp6 juta hingga Rp10 juta per bulan. Angka yang terbilang solid untuk unit usaha berbasis peternakan lokal di tingkat desa.

“Waktu dulu itu kami masih bergantung kepada bandar ketika menjual, sering juga dipermainkan harga, sampai akhirnya saat ini kami bisa punya pasar sendiri,” syukur Iman.

Ketahanan Pangan dari Dalam Desa

Peternakan ayam kampung KUB Sentul di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Peternakan ayam kampung KUB Sentul di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Melon dan ayam kampung bukan dua unit usaha yang berdiri sendiri. Keduanya adalah bagian dari satu strategi besar untuk membangun ketahanan pangan desa dari dalam, bukan menunggu pasokan dari luar.

Budidaya ayam kampung pun masuk dalam kategori program ketahanan pangan desa yang didorong pemerintah, dengan target memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat, meningkatkan pendapatan rumah tangga petani, dan mewujudkan desa yang mandiri dan tahan terhadap krisis pangan.

Dewi Hestiningrum S., Regional CEO BRI Regional Office Bandung, melihat model seperti ini sebagai inti dari apa yang ingin dibangun program Desa BRILiaN.

"Terbangunnya integrasi rantai pasok lokal yang lebih kuat, dari produsen, pengolah, hingga pemasaran, sehingga ekonomi desa berputar lebih cepat dan nilai tambah tetap berada di tangan masyarakat," buka Dewi dalam pernyataan resminya kepada Ayobandung.id

Pun bagi BRI, keberlanjutan model seperti Desa BRILiaN Margamukti bukan sekadar soal panen yang bagus musiman semata, melainkan tentang membangun ekosistem yang tahan jangka panjang.

"Kunci keberlanjutan ada pada pendampingan yang konsisten. Kami menugaskan Mantri BRI sebagai pendamping yang secara rutin mendampingi desa dalam pengelolaan keuangan, akses pembiayaan, dan literasi perbankan. Selain itu, kami menyediakan pelatihan lanjutan, akses Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta menghubungkan produk unggulan desa ke pasar yang lebih luas, baik melalui pameran, platform digital, maupun jaringan mitra BRI. Dengan begitu, Desa BRILian tidak berhenti pada level binaan, tetapi bertumbuh menjadi sentra ekonomi yang mandiri," lanjutnya.

Dampak paling terasa dari dua unit usaha ini bukan hanya pada omzet BUMDes, tetapi pada pergerakan ekonomi warga secara langsung.

BUMDes Marga Makmur juga membangun kios untuk para pedagang UMKM lokal (khusus warga desa yang memiliki usaha) sehingga difasilitasi tempat yang layak untuk berjualan, sebagai bagian dari upaya meningkatkan produksi dan ketersediaan pangan lokal serta mengembangkan produk pangan yang bernilai tambah.

Kehadiran ekosistem usaha yang tumbuh dari bawah inilah yang menjadi penguat paling organik. Desa tidak menunggu investor dari luar. Desa membangun dengan apa yang sudah ada: lahan, tenaga warga, dan kemauan untuk berinovasi.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

“Kalau secara brand dan keunikan, melon premium ini memang lebih menjanjikan dan menjadi kebanggaan tersendiri untuk BUMDes dari Desa Margamukti. Begitu pun untuk jaringan yang kami miliki di unit usaha ini, sangat mendukung segmentasi dan ekosistemnya. Meski begitu, ternak ayam kampung ini masih vital, karena menjadi stabilitas cash flow bagi BUMDes,” papar Iman. 

Gabungan omzet kedua unit usaha ini (melon premium dan ayam kampung) berpotensi menyentuh Rp24 juta hingga Rp35 juta per bulan. Sebuah angka yang tidak kecil untuk Desa BRILiaN Margamukti dengan total populasi sekitar 25.028 jiwa, dan menjadi bukti bahwa ekonomi desa yang produktif bukan lagi sekadar cita-cita.

Dewi Hestiningrum mengingatkan bahwa peluang bagi desa-desa seperti Margamukti untuk naik kelas tidak berhenti pada level lokal.

"Kami menghubungkan produk unggulan desa ke pasar yang lebih luas, baik melalui pameran, platform digital, maupun jaringan mitra BRI," pungkas Dewi.

Melon premium dan ayam kampung dari Margamukti lahir dari lahan biasa, seluas beberapa ratus meter saja. Akan tetapi dengan tata kelola yang benar, pendampingan yang konsisten, dan pasar yang terus terbuka, keduanya berpotensi menjadi nama yang lebih dikenal bukan hanya di Sumedang, tetapi di rak-rak pasar modern yang lebih jauh. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Jul 2026, 19:52

Menilik Komunikasi Digital dalam Publikasi Peluncuran Layanan Kereta Api

Penggunaan kata kunci pada website dan Instagram memiliki fokus informasi yang sama kepada seluruh masyarakat pembaca digital.

Ilustrasi komunikasi digital layanan kereta api. (AI)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 17:12

Propaganda Masa Pendudukan Jepang di Bandung

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik.

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik. (Foto: wowshack.com)
Wisata & Kuliner 21 Jul 2026, 17:05

Lontong Balap, Kuliner Ikonik Surabaya yang Lahir dari Para Pedagang Berlari

Sejarah lontong balap Surabaya, dari tradisi pedagang memikul kemaron hingga menjadi salah satu makanan khas Jawa Timur yang paling legendaris.

Lontong Balap khas Surabaya. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:20

Time Travel Seru bareng Cerita Bunda: Menguak Sejarah dan Thrifting Perangko di Museum Pos Bandung!

Kemarin, hari Sabtu tanggal 18 Juli 2026, saya bareng 20 orang teman-teman dari komunitas Cerita Bunda, main ke Museum Pos Indonesia. Mari simak keseruannya!

Foto 1 Peserta Komunitas Cerita Bunda Sedang Thrifting Perangko dan Postcard. (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:07

Tren Manusia Digital: Ketika Live Streamer menjadi Pekerjaan Baru bagi Masyarakat

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun dibalik gemerlap dunia maya seringkali menyisakan moral dan budaya yang semakin terkikis.

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun terkadang ada harga yang dibayar untuk moral. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 15:32

Kampanye Digital Akhir Tahun Terbesar Raih Lebih dari 200 Juta Pengguna dalam Satu Hari

Spotify Wrapped 2025 jadi kampanye digital akhir tahun terbesar dengan lebih dari 200 juta pengguna dalam 24 jam pertama dan lebih dari 500 juta kali dibagikan di TikTok, Instagram, dan X.

Ilustrasi platform musik. (Sumber: Pexels | Foto: Breakingpic)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 14:48

Pengembangan Stadion GBLA dan Pusat Produk Peralatan Olahraga

Pentingnya transformasi stadion olahraga dengan ekosistem yang memberikan tempat untuk menumbuhkan industri produk peralatan olahraga

Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 12:06

Tangkis Tengkes untuk Generasi Emas Bandung

Urusan stunting pada dasarnya kompleks dan penuh perjuangan dengan menggunakan pendekatan multi sektor dan multi disiplin.

Pencegahan stunting di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 21 Jul 2026, 11:51

Debu Kapur Tak Kenal Batas Administratif, Derita Warga Cipatat Berlanjut

Sejauh ini, arah angin itu selalu membawa debu ke rumah-rumah warga, bukan ke meja rapat para pejabat yang seharusnya menanganinya sejak lama.

Pemandangan udara menunjukkan aktivitas pabrik pengolahan batu gamping di Kecamatan Cipatat, yang dilalui jalur utama penghubung Bandung menuju Padalarang dan Cianjur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 10:34

Adaptasi Batik terhadap Perubahan Gaya Hidup Masyarakat Modern

Adaptasi kain batik terhadap tren di era modern.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 21 Jul 2026, 10:33

Tamasya ke Leuwi Jurig Garut, Grand Canyon Sunda di Bungbulang

Panduan lengkap wisata Leuwi Jurig Garut, mulai dari harga tiket, jam buka, rute menuju lokasi, fasilitas, hingga peringatan keselamatan saat berenang.

Leuwi Jurig Bungbulang Garut. (Sumber: YouTube budi ahmadr)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 09:41

Belajar tentang Desain dari Monumen Jenderal Soedirman di Soreang

Di balik sebuah monumen, ternyata tumbuh ruang publik yang menghidupkan interaksi sosial, aktivitas ekonomi, dan kebersamaan masyarakat.

Monumen Jenderal Soedirman di Jalan Panglima Besar Jenderal Soedirman, Soreang. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 19:14

Urgensi Sekolah Ramah, Aman dan Nyaman

Penciptaan lingkungan belajar yang berfokus pada daya dukung psikologis dan keterampilan sosial juga mampu dipenuhi praktik implementasi kerjasama dan empati.

Suasana MPLS di sekolah. (Sumber: Kemendikdasmen.go.id | Foto: Kemendikdasmen)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 18:01

Darurat Penerangan dan Melonjaknya Kriminalitas di Jalanan Kota Bandung

Bandung kini berbeda dan kenyamanan kotanya tak lagi sama. Kian hari tingkat kecelakaan lalu lintas dan tindak kriminalitas kian menjamur tanpa ada solusi yang nyata untuk menyelesaikannya.

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Magang Foto/Lukman Hidayat)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 17:00

Pendidikan di Bandung pada Masa Pendudukan Jepang

Pendidikan dalam masa penjajahan Jepang diawali dengan dibukanya kembali sebagian dari sekolah-sekolah yang dahulu pernah berdiri.

Museum Geologi saat Masa Pendudukan Jepang. (Sumber: Koleksi Museum Geologi Bandung)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 16:01

Bandung Begal, Beungal, dan Bedul

Memberantas begal tidak cukup hanya dengan menangkap pelakunya.

Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 15:15

Pembongkaran Perpustakaan Gasibu Picu Kekecewaan Pembaca Buku di Bandung

Pembongkaran fisik Perpustakaan Gasibu Bandung memicu banyak kekecewan dari warga sekitar dan pegiat literasi.

Perpustakaan Gasibu yang dibongkar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 14:34

Posisi Strategis Ibu dalam Pelestarian Bahasa Ibu

Pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah tidak bisa lepas dari peran ibu sendiri.

Ilustrasi masyarakat tradisional Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Wahyu Prabowo)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 13:14

Legitnya Peuyeum Ciruluk, Warisan Kuliner Khas Kalijati Subang

Sebuah kuliner tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, yakni Peuyeum Ciruluk, tape ketan hijau yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.

Peuyeum Ciruluk khas Kalijati, Kabupaten Subang, memiliki ciri khas dibungkus menggunakan daun muncang (daun kemiri), sehingga tampil alami sekaligus membantu menjaga cita rasa dan kualitas produknya. (Foto: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 20 Jul 2026, 11:47

Hikayat Pasar Andir Pusat Grosir Fesyen Bandung yang Mencoba Terus Bertahan

Pasar Andir pernah menjadi pusat grosir fesyen Bandung dan kini berjuang menghadapi perubahan perilaku belanja masyarakat.

Suasana Pasar Andir, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)