Bandung Begal, Beungal, dan Bedul

6 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)

Pagi itu langit Babakan Dangdeur Cibiru Bandung tampak sedikit muram. Secangkir air hangat mengepulkan di pojok meja kerja. Ya, seperti biasa, sebelum memulai aktivitas, selalu menyempatkan untuk membuka Koran kebanggaan urang Jabar.

Di tengah-tengah derasnya arus informasi digital, membaca koran masih memberi kenikmatan tersendiri. Pasalnya, lembar demi halaman, rubrik mengajak pembacanya berhenti sejenak, membaca lebih perlahan, agar memberi ruang untuk merenung.

Suasana pagi hari itu cukup lama berhenti pada satu halaman utama. Berita tentang maraknya aksi begal di Kota Bandung kembali menghiasi pemberitaan.

Rasanya kabar semacam ini terlalu akrab. Cuma lokasinya berganti, korbannya berbeda, tetapi rasa cemas yang ditinggalkan selalu sama. Mengerikan!

Padahal, jalan yang seharusnya menjadi ruang untuk pulang perlahan berubah menjadi ruang yang membuat orang menoleh ke belakang berkali-kali.

Hati-hati saat berteduh takut kena begal (Sumber: Ayobandung.com)
Hati-hati saat berteduh takut kena begal (Sumber: Ayobandung.com)

Darurat Begal, Bandung Red Zone

Keresahan itu rupanya bukan sekadar perasaan. Dalam beberapa pekan terakhir, media massa hampir setiap hari memberitakan aksi begal di Kota Bandung. Untuk di media sosial muncul sebutan Bandung sebagai "red zone" istilah yang menggambarkan meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap kejahatan jalanan.

Betapa tidak, dalam rentang sekitar dua bulan terakhir, seorang kurir paket menjadi korban pembegalan pada siang hari. Pengemudi ojek daring diserang dua pelaku bersenjata tajam di Jalan Cikawao. Salah satu warga bernama Azmy menjadi korban begal bermodus debt collector di Jalan BKR.

Kasus lain terjadi di Jalan Babakan Ciparay ketika pria kehilangan telepon genggamnya akibat perampasan. Kasus terbaru, seorang pria terluka setelah mempertahankan barang berharganya dari serangan komplotan begal di kawasan Kampus Maranatha, Sukajadi.

Rangkaian peristiwa itu memperlihatkan kejahatan jalanan tidak lagi mengenal waktu. Siang ataupun malam, rasa aman masyarakat sama-sama diuji. (CNN Indonesia, "Marak Begal, Polisi Tingkatkan Patroli di Bandung", Sabtu, 18 Juli 2026).

Waktu menutup koran perlahan. Belum sempat cai bodas habis, telepon genggam di samping meja menampilkan video dari Guz Man (@guzman_sige). Ya seperti biasanya, stand up menyampaikan kegelisahan melalui parodi komedi. Video itu dibuka dengan narasi, "Bandung red zone, soalnya sekarang lagi marak kasus begal."

Gus Man tertawa, lalu menimpali, "Asa ti baheula da. Asa unggal tahun urang stand up ngabawakeun materi begal teh."

Sambil ikut tersenyum. Tetapi tawa itu justru menyisakan pertanyaan. Mengapa sesuatu yang seharusnya menjadi alarm justru terasa seperti cerita lama yang terus berulang? Mengapa begal seolah menjadi bagian dari percakapan rutin warga kota?

Dengan mengingatkan masyarakat agar waspada saat beraktivitas pada malam hari.

Gus Man menyambung dengan gaya satirenya. Warga sudah memiliki terlalu banyak jobdesk mulai dari bekerja mencari nafkah, membayar pajak, menghadapi parkir liar, bergelut dengan kemacetan, hingga berbagi jalan dengan ulah geng motor. Kini masih harus memikul tugas tambahan untuk selalu waspada terhadap begal.

Kutertawa kecil. Lalu terdiam. Ingat, humor yang baik memang tidak hanya mengundang tawa, tetapi memaksa kita berpikir.

Ketika menyarankan masyarakat menghindari jalan-jalan yang gelap pada malam hari, Guz Man spontan bertanya, "Eh punten, palih mana anu caang?"

Meski kalimat itu terdengar lucu, tapi semakin dipikirkan, terasa dalam maknanya. Sesungguhnya yang sedang dicari (dibutuhkan) masyarakat bukan hanya jalan yang terang oleh lampu dan yang mereka rindukan itu jalan yang terang oleh rasa aman.

Pasalnya, seterang apa pun penerangan kota, apabila seseorang masih menggenggam setang motor dengan rasa takut, sesungguhnya kota itu belum benar-benar bercahaya.

Bagian yang paling mengendapkan justru hadir di penghujung video. "Ya sudah, untuk sementara warga jaga warga."

Guz Man langsung menjawab, "Ogah. Urang mah hayang dijagaan hungkul." Sambil membayangkan kalimat yang ingin didengar masyarakat. "Warga, sok sing jongjon. Kalem, abi nu jaga."

Yuk hubungi 110 jika dalam bahaya, termasuk begal (Sumber: Ayobandung.com)
Yuk hubungi 110 jika dalam bahaya, termasuk begal (Sumber: Ayobandung.com)

Aman bukan Hadiah, Hak Setiap Warga

Waktu berhenti cukup lama setelah mendengar ungkapan kalimat itu. Pikiranku melayang, di situlah komedi berubah menjadi kritik sosial.

Masyarakat tentu siap menjaga lingkungannya. Gotong royong sudah menjadi bagian dari budaya kita. Tapi rakyat ingin merasakan negara hadir melalui aparatnya. Rasa aman bukanlah hadiah, melainkan hak setiap warga negara.

Tak lama berselang menemukan unggahan Humas Polda Jawa Barat. Isinya sederhana dan sarat makna. Keselamatan lebih berharga daripada harta benda.

Masyarakat diimbau memilih rute yang ramai dan terang, menggunakan helm berstandar SNI, tidak menggunakan telepon genggam saat berkendara, menyimpan barang berharga di tempat yang aman, jika memungkinkan bepergian bersama rekan (rombongan).

Apabila menjadi korban begal, masyarakat diminta tidak melawan jika situasi membahayakan. Keselamatan diri harus menjadi prioritas, segera melapor ke kantor polisi terdekat atau menghubungi Call Center Polri 110.

Membaca imbauan itu, memang memahami kewaspadaan menjadi bagian dari ikhtiar. Namun di saat yang sama, justru muncul pertanyaan, apakah rasa aman cukup dibangun hanya dengan meminta masyarakat semakin waspada?

Rupanya, keresahan ini ternyata bukan hanya milik warga Bandung. Polda Metro Jaya mencatat 1.283 laporan kejahatan jalanan sepanjang 1 hingga 22 Mei 2026. Dari jumlah itu, 651 kasus pencurian dengan pemberatan, 396 kasus pencurian biasa, 209 kasus pencurian kendaraan bermotor, dan 27 kasus pencurian dengan kekerasan.

Untuk menekan angka itu, Polda Metro Jaya membentuk Tim Pemburu Begal yang hingga saat itu telah menangkap 173 orang terduga pelaku, 413 perkara lainnya masih dalam proses penyelidikan. Polisi menyita 466 barang bukti, mulai dari telepon genggam, kendaraan bermotor, senjata api, senjata tajam, hingga berbagai barang hasil kejahatan lainnya.

Para pelaku dijerat dengan sejumlah pasal dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dengan ancaman hukuman hingga 15 tahun penjara.

Deretan angka-angka itu menunjukkan begal bukan lagi sekadar insiden yang berdiri sendiri, melainkan gejala sosial yang memerlukan penanganan menyeluruh, mulai dari pencegahan, penegakan hukum, hingga penguatan pendidikan karakter. (Tempo, "Tren Begal Meningkat, Polisi Telusuri Jaringan Pelaku", 23 Mei 2026).

Begal ditangkap usai ambil ponsel (Sumber: Ayobandung.com)
Begal ditangkap usai ambil ponsel (Sumber: Ayobandung.com)

Prinsip Khazanah Lokal

Dalam suasana itu teringat tiga istilah Sunda yang sering dilontarkan oleh orang tua di kampung halaman, Bungbulang Garut Pakidulan. Begal, Beungal jeung Bedul. "Ari hirup teh tong beungal, komo bari ngabegal mah, dasar bedul, ontolohod!"

Tiga kata yang bunyinya hampir sama, tetapi menyimpan makna yang berbeda. Begal itu tindakan kriminal yang merampas harta, rasa aman. Beungal kenekatan yang kehilangan akal sehat.

Bedul itu tumpul (kebodohan, sombong) yang membuat seseorang tidak lagi mampu membedakan benar dan salah. Jangan-jangan begal hanyalah puncak gunung es.

Bila di bawahnya ada beungal yang tumbuh karena kemarahan tidak pernah diajari cara berdamai. Ya, di bawah beungal ada bedul yang lahir ketika pendidikan hanya mengejar nilai, tetapi lupa membentuk karakter, norma, dogma.

Saat keluarga kehilangan waktu untuk bercakap, ngobrol. Sekolah lebih sibuk mengejar prestasi daripada menumbuhkan empati. Keberadaan media sosial lebih sering menghadirkan sensasi, selebrasi daripada keteladanan.

Walhasil, kekerasan perlahan dianggap biasa. Jangan heran apabila suatu hari ada anak-anak yang tumbuh tanpa lagi merasa bersalah saat melukai orang lain.

Dengan demikian, memberantas begal tidak cukup hanya dengan menangkap pelakunya. Kita memang membutuhkan aparat yang sigap, patroli yang konsisten, penegakan hukum yang tegas, dan kota yang terang.

Semua itu tidak akan pernah cukup bila keluarga berhenti menanamkan kejujuran, sekolah lupa mengajarkan empati, masyarakat membiarkan kekerasan menjadi tontonan, dan kita kehilangan kepedulian terhadap sesama. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 17:03

Dari Layar ke Media Sosial: Cara Film Animasi Membangun Percakapan

Disney dan Pixar menerapkan strategi komunikasi pemasaran terpadu melalui berbagai platform digital untuk memaksimalkan publikasi global dari film animasi Inside Out 2.

Film animasi "Inside Out 2". (Sumber: Walt Disney Studios Motion Pictures)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 16:00

Mengulas Strategi Komunikasi Digital Pembentukan Opini Publik pada Publikasi Produk Fashion

Strategi komunikasi digital menyesuaikan karakter setiap platform, tetapi tetap menjaga konsistensi pesan untuk membentuk identitas produk dan pemahaman publik.

Ilustrasi produk fashion.
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 15:20

Menyusuri Jejak Peristiwa Era 80-an dalam Lembaran Majalah Zaman

Majalah Zaman edisi 1984 bukan sekadar bacaan lama, melainkan rekaman suasana, budaya, dan cara pandang masyarakat Indonesia pada sebuah masa yang kini telah berlalu.

Majalah Zaman edisi September 1984, terbit sekitar 42 tahun silam. Sampul mukanya menampilkan lukisan bergaya airbrush penyanyi asal Cimahi, Ria Angelina, yang menjadi salah satu wajah hiburan populer pada era 1980-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 13:11

R. Ipik Gandamana Sumawinata Layak sebagai Pahlawan Nasional dari Jawa Barat asal Purwakarta

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 10:29

Spiderman, Perdamaian, dan Pahlawan

Segala penghargaan bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Piagam bisa menguning. Justru nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya bisa hidup jauh lebih lama. Selamat Kang!

Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 07:46

KDM Ada di Mana-mana, Jawa Barat Ada di Mana?

Sebesar apa pun panggung nasional yang dimasukinya, mandat KDM tetap berada di Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 20:55

Adakah Solusi Masalah Kualitas Udara di Lingkungan Sekolah?

Sebagian besar sekolah negeri di Bandung masih mengandalkan ventilasi alami,

Ilustrasi masalah kualitas udara di ruang kelas di kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 17:41

200 Ikon Bandung #1 Mahanagari

Mahanagari pernah menjadi salah satu cara kreatif mengenalkan identitas dan kebanggaan terhadap Bandung melalui desain, komunitas, dan kearifan lokal.

Sebuah buku yang berjudul 200 ikon Bandung. (Sumber: Malia Nur Alifa)