Urgensi Sekolah Ramah, Aman dan Nyaman

4 menit baca
Muhamad Hafiatul Annur
Ditulis oleh Muhamad Hafiatul Annur diterbitkan
Suasana MPLS di sekolah. (Sumber: Kemendikdasmen.go.id | Foto: Kemendikdasmen)
Suasana MPLS di sekolah. (Sumber: Kemendikdasmen.go.id | Foto: Kemendikdasmen)

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun 2026 telah dilaksanakan di berbagai daerah, sebagai tanda masuknya tahun ajaran baru, masa yang wajib diikuti oleh murid baru di berbagai jenjang pendidikan selalu memberikan ceritanya tersendiri.

Yang mungkin masih melekat, MPLS yang dulu dikenal dengan istilah Masa Orientasi Siswa (MOS) kadangkala masih menyajikan persoalan adanya kasus kekerasan, perpeloncoan bagi murid baru. Dengan dalih senioritas bimbingan, khususnya di tingkat menengah, masa awal belajar justru berubah menjadi aktivitas yang kurang mendidik.

Kini, dalam upaya mencegah hal negatif demikian, sekaligus merekonstruksi penyelenggaraannya, MPLS Ramah 2026 diluncurkan Kementerian Pendidikan Mendasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI , lebih konkret, Peraturan Mendikdasmen Nomor 12 2026 tentang MPLS pun hadir sebagai landasan hukumnya. Tak hanya itu, demi menjangkau pengaturannya yang lebih luas, penerbitan Surat Edaran Mendiksasmen No 17 2026 tentang MPLS lingkungan sekolah informal dan non formal juga dilakukan.

Melengkapi upaya tersebut, Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (Gernas RANA) juga resmi diluncurkan pemerintah melalui kerja sama lintas kementerian. Dilihat dari tujuannya secara umum, peluncuran ini merupakan bukti komitmen pemerintah dalam penyediaan ruang perlindungan yang nyata bagi seluruh anak di Indonesia. Yang menarik, rangkaian momentum peluncurannya, di mana waktu penyelenggaraan MPLS di sekolah mulai dilaksanakan tentu memberikan satu padu upaya komprehensif.

Namun dalam praktiknya, apakah MPLS Ramah dan Gernas RANA mampu memberikan efek yang sistemik?, Pencegahan?, Edukatif? Atau formalitas belaka?. Utamanya bagi pribadi murid baru yang seringkali menjadi korban di masa awal belajarnya?. Beberapa uraian analisis, berangkat dari perspektif psikologi dan coba penulis sajikan.

Safe Challenge bagi Murid

Lingkungan sekolah yang aman dan nyaman tentu akan memberikan daya dukung psikologi yang positif. karena lingkungan yang aman dan nyaman inilah, masa transisi yang dilalui oleh murid baru yang seringkali kali memunculkan kecemasan bisa diminimalisir. Dalam transisi ini, ketidakmampuan memahami situasi dengan cepat tentu menjadi tantangan tersendiri bagi setiap murid baru. Maka dengan proses yang berorientasi pada nihilnya perploncoan, intimidatif dan keramahtamahan tentu akan mengubah persepsi masa awal belajar murid menjadi 'tantangan' yang kian aman (safe challenge).

Nancy Schossberg (1989) dalam teorinya menyebutkan, bahwa keberhasilan individu dalam menghadapi tantangan transisi bergantung pada beberapa aspek seperti situasi (situation), diri sendiri (self), dukungan eksternal (support), dan strategi (strategies).

Baik MPLS Ramah dan Gernas RANA, benang merah keduanya tersimpul pada upaya menciptakan ekosistem di mana murid baru mampu memahami masa awal belajar penuh percaya diri, semangat baru, kehangatan dan menyenangkan. Research dalam Journal of Adolescence menunjukkan bahwa transisi sekolah yang penuh stres tanpa dukungan emosional berkorelasi kuat dengan penurunan kesehatan mental dan peningkatan depresi pada remaja. Sebaliknya, orientasi yang berfokus pada adaptasi sosial menurunkan tingkat hormon kortisol (stres).

Dukungan Sosial

Sebagai pendidik, peran penting dalam mendukung dan mendampingi tumbuh kembang keterampilan sosial dan emosional remaja di lingkungan sekolah yang inklusif tentu perlu terus kerjakan. Lingkungan yang memberikan interkoneksi sehat melalui interaksi yang baik antara sesama murid dan tenaga kependidikan nantinya mampu membangun rasa aman dan meningkatkan keterlibatan akademik yang baik pula. (Anderson, 2021).

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Penciptaan lingkungan belajar yang berfokus pada daya dukung psikologis dan keterampilan sosial juga mampu dipenuhi praktik implementasi kerjasama dan empati terbukti efektif mampu meningkatkan kemapuan adaptasi sosial remaja di dalam maupun diluar lingkungan sekolah (Henderson, 2020).

Pemenuhan Kebutuhan Dasar

Selanjutnya, MPLS Ramah & Gernas RANA juga sejalan dengan usaha pemenuhan kebutuhan dasar psikologis (basic psychology needs) murid baru, lingkungan yang aman dan nyaman nyaman bagi anak yang menyajikan kesempatan pengenalan awal belajar penuh dengan interaksi hangat antar individu penuh kehangatan tentu akan mampu memenuhi kebutuhan dasar psikologisya sehingga berdampak pada optimalnya pertumbuhan fungsi mental remajanya.

Self Determination Theory (SDT) oleh Edward L. Deci an Richard M. Ryan (1985) menguraikan, manusia pada dasarnya memiliki 3 kebutuhan yakni, otonomi, kompetensi an keterhubungan. MPLS Ramah an Gernas RANA yang inklusif menyediakan stimulasi murid baru kebebasan murid baru melewati masa pengenalan non intimidatif, penuh substantif dan keterhubungan yang baik antara kaka kelas, pendidikan dan lainnya.

Meningkatkan Efikasi Diri

Lingkungan yang aman dan nyaman juga memberikan kesempatan murid baru untuk meningkatkan manajemen efikasi diri (Self-Efficacy) di mana karena melalui materi MPLS yang edukatif dan daya dukung lingkungannya yang tidak menyediakan kesempatan praktik-praktik yang menjatuhkan mental seperti aktivitas kekerasan dan lain sebagainya. Misalnya dengan memberikan edukasi literasi digital, pengenalan ekskul dan persepsi atas spiritualitas bertumbuh (growth mindset).

Dari sini, murid baru terus terjaga stimulasinya atas kemampuan dan kepercayaan diri dalam mengarungi berbagai tantang pendidikan barunya. Albert Bandura (1986) dalam teori kognitif sosial (Sosial Cognitive Teory) mengelaborasi, bahwa manusia belajar dari pengamatan, peniruan dan pemodelan perilaku yang didapatinya. Pemodelan sosial dan daya dukung sosialis yang dilakukan MPLS Ramah an Gernas RANA yang muncul akibat hadirnya ekosistem non diskriminasi, penuh tanggung jawab dan moralitas nantinya akan berpengaruh langsung pada efikasi diri setiap murid baru.

Pada akhirnya, kesadaran atas kerja sama semua pihak, dalam mewujudkan lingkungan yang aman dan nyaman belajar adalah kunci utama yang tak boleh terlewat. Semoga setiap murid kita, sebagai generasi bangsa masa depan mampu mewujudkan setiap mimpinya, Aamiin. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhamad Hafiatul Annur
Mahasiswa Universitas Negeri Malang

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 17:03

Dari Layar ke Media Sosial: Cara Film Animasi Membangun Percakapan

Disney dan Pixar menerapkan strategi komunikasi pemasaran terpadu melalui berbagai platform digital untuk memaksimalkan publikasi global dari film animasi Inside Out 2.

Film animasi "Inside Out 2". (Sumber: Walt Disney Studios Motion Pictures)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 16:00

Mengulas Strategi Komunikasi Digital Pembentukan Opini Publik pada Publikasi Produk Fashion

Strategi komunikasi digital menyesuaikan karakter setiap platform, tetapi tetap menjaga konsistensi pesan untuk membentuk identitas produk dan pemahaman publik.

Ilustrasi produk fashion.
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 15:20

Menyusuri Jejak Peristiwa Era 80-an dalam Lembaran Majalah Zaman

Majalah Zaman edisi 1984 bukan sekadar bacaan lama, melainkan rekaman suasana, budaya, dan cara pandang masyarakat Indonesia pada sebuah masa yang kini telah berlalu.

Majalah Zaman edisi September 1984, terbit sekitar 42 tahun silam. Sampul mukanya menampilkan lukisan bergaya airbrush penyanyi asal Cimahi, Ria Angelina, yang menjadi salah satu wajah hiburan populer pada era 1980-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 13:11

R. Ipik Gandamana Sumawinata Layak sebagai Pahlawan Nasional dari Jawa Barat asal Purwakarta

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 10:29

Spiderman, Perdamaian, dan Pahlawan

Segala penghargaan bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Piagam bisa menguning. Justru nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya bisa hidup jauh lebih lama. Selamat Kang!

Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 07:46

KDM Ada di Mana-mana, Jawa Barat Ada di Mana?

Sebesar apa pun panggung nasional yang dimasukinya, mandat KDM tetap berada di Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 20:55

Adakah Solusi Masalah Kualitas Udara di Lingkungan Sekolah?

Sebagian besar sekolah negeri di Bandung masih mengandalkan ventilasi alami,

Ilustrasi masalah kualitas udara di ruang kelas di kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 17:41

200 Ikon Bandung #1 Mahanagari

Mahanagari pernah menjadi salah satu cara kreatif mengenalkan identitas dan kebanggaan terhadap Bandung melalui desain, komunitas, dan kearifan lokal.

Sebuah buku yang berjudul 200 ikon Bandung. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 15:30

Esti Bhakti Warapsari Representasi Perempuan Berdaya

Stigma perempuan tidak bisa masuk ke ruang yang maskulin, ternyata dapat dibantahkan. Tahun 1948 tepatnya tanggal 1 bulan September, merupakan sejarah yang tidak dapat terhapuskan.

Stigma perempuan tidak bisa masuk ke ruang yang maskulin, ternyata dapat dibantahkan. Tahun 1948 tepatnya tanggal 1 bulan September, merupakan sejarah yang tidak dapat terhapuskan. (Sumber: Pexels | Foto: Adi Pratama)