Menghapus Sekat Pendidikan dari Pinggiran Nusantara

4 menit baca
Eka Nurmawati
Ditulis oleh Eka Nurmawati diterbitkan
Ilustrasi visual berbasis kecerdasan buatan (AI) (Foto: Artificial Intelligence (AI))
Ilustrasi visual berbasis kecerdasan buatan (AI) (Foto: Artificial Intelligence (AI))

Presiden Prabowo Subianto sering menekankan bahwa pendidikan adalah kunci kebangkitan bangsa. Komitmen ini bukan sekadar kalimat manis di podium, melainkan langkah nyata yang kini terlihat di pelosok Nusantara. Melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), pemerintah secara masif melakukan revitalisasi satuan pendidikan, terutama di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Fokusnya jelas yakni memastikan tidak ada lagi siswa yang bertaruh nyawa atau belajar di bawah atap bocor hanya karena mereka tinggal jauh dari pusat kota.

Langkah ini sejalan dengan teori dalam jurnal Educational Facilities yang menyebutkan bahwa kualitas fisik bangunan sekolah berkorelasi langsung dengan kesehatan mental dan fokus belajar siswa. Anggaran sebesar Rp1,38 triliun pada tahun 2025 telah dikucurkan khusus untuk 62 kabupaten di daerah 3T. Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa langkah ini adalah upaya untuk menjamin lingkungan belajar yang aman dan layak bagi anak-anak bangsa (Kemendikdasmen, 2025). Sekolah-sekolah yang sebelumnya rusak berat atau terdampak bencana kini mulai bersalin rupa menjadi ruang yang manusiawi dan memadai.

Capaian ini menciptakan efek domino positif terhadap semangat belajar di daerah. Dengan gedung sekolah yang kokoh, tingkat kehadiran siswa dan guru di daerah 3T menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Hal ini membuktikan bahwa infrastruktur bukan sekadar masalah fisik, melainkan masalah martabat nasional. Sebagaimana ditulis oleh E.W. Castaldi dalam bukunya Educational Facilities: Planning, Modernization, and Management, lingkungan fisik yang baik adalah "guru diam" yang membentuk karakter siswa sejak dini. Negara hadir untuk memastikan bahwa pendidikan terbaik bukan hanya milik anak-anak di kota besar, tapi juga hak mutlak bagi putra-putri di Kupang hingga Seram Bagian Barat.

Menghapus Jarak Digital Antar Siswa

Lompatan berikutnya yang tak kalah prestisius adalah transformasi digital yang menjangkau 288.865 satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Dengan realisasi capaian 100%, perangkat digital seperti papan interaktif dan laptop kini bukan lagi barang mewah yang hanya ada di sekolah elit. Transformasi ini memungkinkan guru di daerah pelosok untuk mengakses sumber belajar yang sama canggihnya dengan sekolah di Jakarta atau Surabaya. Ini adalah cara pemerintah melakukan demokratisasi ilmu pengetahuan secara instan melalui teknologi.

Di era ini, literasi digital adalah harga mati untuk bersaing di kancah global. Kehadiran perangkat digital di sekolah-sekolah 3T membantu siswa mengenal dunia luar tanpa harus meninggalkan desa mereka. Kemendikdasmen menyadari bahwa infrastruktur digital adalah "jembatan udara" yang paling efektif untuk mengejar ketertinggalan literasi. Data realisasi 100% ini menjadi bukti bahwa birokrasi pendidikan kita telah bergerak lebih cepat dan transparan dalam mengeksekusi program prioritas nasional (Kemendikdasmen, 2026). Hal ini senada dengan riset dalam jurnal International Journal of Educational Development yang menyatakan bahwa integrasi teknologi adalah kunci untuk memangkas kesenjangan pendidikan di negara kepulauan.

Untuk menciptakan pendidikan yang bermutu, kita dihadapkan pada sederet tantangan. (Sumber: Pexels/muallim nur)
Untuk menciptakan pendidikan yang bermutu, kita dihadapkan pada sederet tantangan. (Sumber: Pexels/muallim nur)

Respon publik terhadap langkah cepat ini sangat luar biasa. Berdasarkan survei terbaru dari GoodStats, IndoStrategi, dan Tajuk Nasional pada awal 2026, Kemendikdasmen berhasil masuk dalam jajaran 10 Kementerian dengan Kinerja Terbaik. Bahkan, Mendikdasmen Abdul Mu’ti tercatat sebagai salah satu menteri paling berprestasi versi anak muda. Publik melihat bahwa keberhasilan digitalisasi ini bukan sekadar pembagian barang, melainkan persiapan serius untuk menyongsong generasi yang adaptif terhadap masa depan digital.

Bantuan PIP Uang Saku yang Menjaga Anak Tetap Sekolah

Program Indonesia Pintar (PIP) tahun 2025 tampil sebagai pahlawan bagi jutaan keluarga dengan realisasi penyaluran mencapai 102,18% dari target. Anggaran sebesar Rp13,4 triliun telah terserap untuk 19 juta siswa dari jenjang SD hingga SMK. Kelebihan realisasi ini menandakan bahwa sistem pendataan pemerintah semakin akurat dalam menjangkau mereka yang benar-benar membutuhkan. PIP bukan sekadar bantuan tunai, melainkan jaring pengaman agar tidak ada lagi anak Indonesia yang putus sekolah karena kendala biaya.

Di daerah 3T, dampak PIP sangat masif dan menyentuh angka-angka yang konkret. Di NTT saja, wilayah seperti Kabupaten Kupang, Manggarai Timur, dan Sumba Barat Daya menerima total bantuan lebih dari Rp100 miliar yang tersebar untuk ratusan ribu siswa. Begitu pula di Seram Bagian Barat, Maluku, yang menerima Rp18,6 miliar. Bantuan ini memastikan bahwa kebutuhan dasar sekolah seperti seragam, buku, dan transportasi bukan lagi beban yang menghalangi mimpi anak-anak di sana (Kemendikdasmen, 2025). Hal ini mencerminkan konsep Social Justice in Education yang sering dibahas dalam literatur sosiologi pendidikan, di mana negara aktif menghilangkan hambatan ekonomi demi kesetaraan intelektual.

Capaian partisipasi sekolah dasar yang menyentuh 99,23% adalah buah manis dari sinergi kebijakan ini. Dengan fondasi yang kuat ini, Kemendikdasmen kini siap melompat ke kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun, yang mencakup satu tahun prasekolah. Mulai tahun 2026, sasaran PIP bahkan akan diperluas hingga jenjang PAUD/TK. Langkah visioner ini bertujuan untuk memastikan pembangunan manusia Indonesia dimulai sejak usia dini, demi menjemput fajar Indonesia Emas 2045 yang berdaulat dan kompetitif.

Besar harapan kita agar momentum prestasi ini terus dijaga konsistensinya. Sinergi antara pusat dan daerah harus diperkuat agar fasilitas digital yang sudah dibagikan dapat dirawat dan dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan literasi siswa. Pendidikan harus menjadi alat pembebasan bagi mereka yang berada di pinggiran. Semoga di masa depan, tidak ada lagi sekat "pelosok" dan "kota" karena kualitas pendidikan kita sudah menyatu dalam satu standar keunggulan yang sama.

 Sebagaimana pesan dari tokoh pendidikan dunia, Nelson Mandela:

"Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan pendidikan Anda bisa mengubah dunia." (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Eka Nurmawati
Tentang Eka Nurmawati
Seorang pembelajar yang suka dunia literasi

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 12:24

Ayam Bekakak: Eksplorasi Gastronomi, Akar Historis, dan Filosofi Budaya Sunda

Dalam peta kuliner Tatar Pasundan, Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam) bukan sekadar sajian pemuas lapar.

Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)