Menghapus Sekat Pendidikan dari Pinggiran Nusantara

Eka Nurmawati
Ditulis oleh Eka Nurmawati diterbitkan Minggu 10 Mei 2026, 13:15 WIB
Ilustrasi visual berbasis kecerdasan buatan (AI) (Foto: Artificial Intelligence (AI))

Ilustrasi visual berbasis kecerdasan buatan (AI) (Foto: Artificial Intelligence (AI))

Presiden Prabowo Subianto sering menekankan bahwa pendidikan adalah kunci kebangkitan bangsa. Komitmen ini bukan sekadar kalimat manis di podium, melainkan langkah nyata yang kini terlihat di pelosok Nusantara. Melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), pemerintah secara masif melakukan revitalisasi satuan pendidikan, terutama di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Fokusnya jelas yakni memastikan tidak ada lagi siswa yang bertaruh nyawa atau belajar di bawah atap bocor hanya karena mereka tinggal jauh dari pusat kota.

Langkah ini sejalan dengan teori dalam jurnal Educational Facilities yang menyebutkan bahwa kualitas fisik bangunan sekolah berkorelasi langsung dengan kesehatan mental dan fokus belajar siswa. Anggaran sebesar Rp1,38 triliun pada tahun 2025 telah dikucurkan khusus untuk 62 kabupaten di daerah 3T. Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa langkah ini adalah upaya untuk menjamin lingkungan belajar yang aman dan layak bagi anak-anak bangsa (Kemendikdasmen, 2025). Sekolah-sekolah yang sebelumnya rusak berat atau terdampak bencana kini mulai bersalin rupa menjadi ruang yang manusiawi dan memadai.

Capaian ini menciptakan efek domino positif terhadap semangat belajar di daerah. Dengan gedung sekolah yang kokoh, tingkat kehadiran siswa dan guru di daerah 3T menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Hal ini membuktikan bahwa infrastruktur bukan sekadar masalah fisik, melainkan masalah martabat nasional. Sebagaimana ditulis oleh E.W. Castaldi dalam bukunya Educational Facilities: Planning, Modernization, and Management, lingkungan fisik yang baik adalah "guru diam" yang membentuk karakter siswa sejak dini. Negara hadir untuk memastikan bahwa pendidikan terbaik bukan hanya milik anak-anak di kota besar, tapi juga hak mutlak bagi putra-putri di Kupang hingga Seram Bagian Barat.

Menghapus Jarak Digital Antar Siswa

Lompatan berikutnya yang tak kalah prestisius adalah transformasi digital yang menjangkau 288.865 satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Dengan realisasi capaian 100%, perangkat digital seperti papan interaktif dan laptop kini bukan lagi barang mewah yang hanya ada di sekolah elit. Transformasi ini memungkinkan guru di daerah pelosok untuk mengakses sumber belajar yang sama canggihnya dengan sekolah di Jakarta atau Surabaya. Ini adalah cara pemerintah melakukan demokratisasi ilmu pengetahuan secara instan melalui teknologi.

Di era ini, literasi digital adalah harga mati untuk bersaing di kancah global. Kehadiran perangkat digital di sekolah-sekolah 3T membantu siswa mengenal dunia luar tanpa harus meninggalkan desa mereka. Kemendikdasmen menyadari bahwa infrastruktur digital adalah "jembatan udara" yang paling efektif untuk mengejar ketertinggalan literasi. Data realisasi 100% ini menjadi bukti bahwa birokrasi pendidikan kita telah bergerak lebih cepat dan transparan dalam mengeksekusi program prioritas nasional (Kemendikdasmen, 2026). Hal ini senada dengan riset dalam jurnal International Journal of Educational Development yang menyatakan bahwa integrasi teknologi adalah kunci untuk memangkas kesenjangan pendidikan di negara kepulauan.

Untuk menciptakan pendidikan yang bermutu, kita dihadapkan pada sederet tantangan. (Sumber: Pexels/muallim nur)
Untuk menciptakan pendidikan yang bermutu, kita dihadapkan pada sederet tantangan. (Sumber: Pexels/muallim nur)

Respon publik terhadap langkah cepat ini sangat luar biasa. Berdasarkan survei terbaru dari GoodStats, IndoStrategi, dan Tajuk Nasional pada awal 2026, Kemendikdasmen berhasil masuk dalam jajaran 10 Kementerian dengan Kinerja Terbaik. Bahkan, Mendikdasmen Abdul Mu’ti tercatat sebagai salah satu menteri paling berprestasi versi anak muda. Publik melihat bahwa keberhasilan digitalisasi ini bukan sekadar pembagian barang, melainkan persiapan serius untuk menyongsong generasi yang adaptif terhadap masa depan digital.

Bantuan PIP Uang Saku yang Menjaga Anak Tetap Sekolah

Program Indonesia Pintar (PIP) tahun 2025 tampil sebagai pahlawan bagi jutaan keluarga dengan realisasi penyaluran mencapai 102,18% dari target. Anggaran sebesar Rp13,4 triliun telah terserap untuk 19 juta siswa dari jenjang SD hingga SMK. Kelebihan realisasi ini menandakan bahwa sistem pendataan pemerintah semakin akurat dalam menjangkau mereka yang benar-benar membutuhkan. PIP bukan sekadar bantuan tunai, melainkan jaring pengaman agar tidak ada lagi anak Indonesia yang putus sekolah karena kendala biaya.

Di daerah 3T, dampak PIP sangat masif dan menyentuh angka-angka yang konkret. Di NTT saja, wilayah seperti Kabupaten Kupang, Manggarai Timur, dan Sumba Barat Daya menerima total bantuan lebih dari Rp100 miliar yang tersebar untuk ratusan ribu siswa. Begitu pula di Seram Bagian Barat, Maluku, yang menerima Rp18,6 miliar. Bantuan ini memastikan bahwa kebutuhan dasar sekolah seperti seragam, buku, dan transportasi bukan lagi beban yang menghalangi mimpi anak-anak di sana (Kemendikdasmen, 2025). Hal ini mencerminkan konsep Social Justice in Education yang sering dibahas dalam literatur sosiologi pendidikan, di mana negara aktif menghilangkan hambatan ekonomi demi kesetaraan intelektual.

Capaian partisipasi sekolah dasar yang menyentuh 99,23% adalah buah manis dari sinergi kebijakan ini. Dengan fondasi yang kuat ini, Kemendikdasmen kini siap melompat ke kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun, yang mencakup satu tahun prasekolah. Mulai tahun 2026, sasaran PIP bahkan akan diperluas hingga jenjang PAUD/TK. Langkah visioner ini bertujuan untuk memastikan pembangunan manusia Indonesia dimulai sejak usia dini, demi menjemput fajar Indonesia Emas 2045 yang berdaulat dan kompetitif.

Besar harapan kita agar momentum prestasi ini terus dijaga konsistensinya. Sinergi antara pusat dan daerah harus diperkuat agar fasilitas digital yang sudah dibagikan dapat dirawat dan dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan literasi siswa. Pendidikan harus menjadi alat pembebasan bagi mereka yang berada di pinggiran. Semoga di masa depan, tidak ada lagi sekat "pelosok" dan "kota" karena kualitas pendidikan kita sudah menyatu dalam satu standar keunggulan yang sama.

 Sebagaimana pesan dari tokoh pendidikan dunia, Nelson Mandela:

"Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan pendidikan Anda bisa mengubah dunia." (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Eka Nurmawati
Tentang Eka Nurmawati
Seorang pembelajar yang suka dunia literasi

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Mei 2026, 13:15

Menghapus Sekat Pendidikan dari Pinggiran Nusantara

Negara hadir di daerah 3T lewat revitalisasi sekolah Rp1,38T & digitalisasi 100%. Prestasi Kemendikdasmen ini kunci mutu pendidikan & martabat guru menuju Indonesia Emas 2045!

Ilustrasi visual berbasis kecerdasan buatan (AI) (Foto: Artificial Intelligence (AI))
Wisata & Kuliner 10 Mei 2026, 09:42

Panduan Wisata Sentul Paradise Park, Curug dan Kolam Rekreasi di Pinggiran Bogor

Panduan lengkap Sentul Paradise Park, dari tiket, akses, fasilitas, hingga tips berkunjung ke wisata air dengan Curug Bidadari di kawasan Sentul.

Sentul Paradise Park.
Ayo Netizen 10 Mei 2026, 09:41

Bandung Tak Lagi Sama, Jalanannya Mengajarkan Orang-Orang Bertahan Hidup

Perjalanan Cimahi-Bandung bukan sekadar rutinitas, tapi perjuangan menghadapi macet, hujan, dan lelah yang datang setiap hari.

Suasana Kota. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Sifa Nurfauziah)
Beranda 09 Mei 2026, 19:04

Anton Solihin, Pengumpul ‘Runtah’ Budaya yang Menjaga Batu Api Selama 27 Tahun

Perpustakaan Batu Api di Jatinangor bertahan selama puluhan tahun lewat ribuan koleksi buku, arsip, dan dedikasi Anton Solihin menjaga ruang literasi alternatif.

Pendiri Perpustakaan Batu Api, Anton Solihin, duduk di tengah tumpukan buku koleksi pribadinya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Biz 09 Mei 2026, 17:10

Menjaga Mimpi di Tengah Efisiensi: Peran Rumah BUMN di Masa Anggaran Ketat

Di sinilah cerita tentang ekosistem pemberdayaan UMKM yang belum sempurna bermula.

A. Radinal Pramudha Sirat CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Biz 09 Mei 2026, 12:46

Inklusi di Atas Kain: Batik Difabel Cimahi dan Kriya yang Istimewa

Di sinilah, di Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat.

Nurdin (di kursi roda), penyandang polio, pertama kali datang ke GHD pada 2020. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 22:35

Ketika Persija, Persib, dan Persis Bantu Korban Tragedi Trowek

Tiga tim sepak bola beda kota menggelar laga segitiga yang seru di Lapangan Ikada. Hasil keuntungan pertandingan disumbangkan untuk korban kecelakaan KA yang mengenaskan di Trowek, Jawa Barat.

Pemandangan mengenaskan kecelakaan kereta api di Trowek, Tasikmalaya, Jawa Barat pada 28 Mei 1959. (Sumber: Harian Umum)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 21:06

Desa Kasturi, Tempat Tumbuh Mangga Kasturi 

Di Jawa Barat, sedikitnya ada dua nama geografis Kasturi.

Buah kasturi (Mangifera casturi) sudah tidak dikenali lagi di Jawa Barat, tapi abadi dalam toponim Desa Kasturi yang terdapat di Kabupaten Majalengka dan di Kabupaten Kuningan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 19:32

Sepatu Berlubang untuk Mengukir Masa Depan

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi--yang ada proses bertahan yang selalu harus terus diperjuangkan untuk terus bertahan sebagai manusia dan juga menjadi masyarakat Kota Bandung yang lebih baik.

Pendidikan adalah senjata utama untuk keluar dari kemiskinan struktural. (Sumber: Pexels | Foto: Partiu Kenai)
Linimasa 08 Mei 2026, 17:40

Tanaman Pemangsa Serangga Ini Dibudidayakan di Rumah Pemuda Bandung

Seorang pemuda di Dayeuhkolot sukses membudidayakan tanaman karnivora hingga meraup omzet belasan juta rupiah.

Tanaman pemangsa hewan Venus flytrap yang dibudiayakan Khoerul Anwar di Dayeuhkolot. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 17:20

Bandung dan Mereka yang Pulang dalam Lelah

Di balik gemerlap dan ramainya Bandung, ada banyak orang yang tetap kembali bangun esok pagi meski lelah terus menjadi bagian dari hidup mereka—agar kota dan kehidupan mereka tetap berjalan.

ekanan hidup di kota membuat banyak masyarakat terus berjalan, meski lelah perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 17:08

Merawat Kebersamaan, Meraih Kebahagiaan

Kebahagiaan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian materi, justru dari kemampuan manusia menemukan makna hidup, menjaga keseimbangan batin, membangun hubungan yang sehat dengan Tuhan, diri sendiri

Sejumlah siswa Al Irsyad Satya Islamic School mengikuti tadarus Al-Quran di Masjid Al-Irsyad pada Kamis, 21 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 08 Mei 2026, 13:38

Jelajah Citarum, Sungai Pemberi Kehidupan Bagi Masyarakat

Di balik pencemaran dan banjir, Sungai Citarum masih menjadi sumber penghidupan masyarakat di sepanjang DAS.

Sungai Citarum jadi sumber kehidupan masyarakat di sekitarnya. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 13:34

Berangkat Ke Bandung : D'Renced Tampil Memberikan Suasana Jernih tapi Berisik

Bandung, bukan tanpa alasan band Pop Punk asal Majalengka (D'Renced) memilih kota ini untuk memperluas jangkauan gerakan perlawanan yang dibalut karya musik bergenre pop punk.

Live performance debut single D'Renced at Waroeng Bako Bandung. (Foto: Moga Yudha melalui Screenshoot Video)
Wisata & Kuliner 08 Mei 2026, 13:13

Tamasya ke Karang Resik Tasikmalaya, Wisata Keluarga dengan Sejarah Tersembunyi

Panduan wisata Karang Resik Tasikmalaya, taman hiburan keluarga yang berdiri di lokasi sejarah Agresi Militer Belanda 1947.

Wisata Karang Resik Tasikmalaya. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 12:34

Kesabaran Pedagang Pasar Baleendah dan ‘Lautan Sampah’ yang Tiada Akhir

Persoalan “lautan sampah” yang menimbulkan bau tak sedap ini bukan persoalan Pasar Baleendah saja.

Tumpukan sampah di kawasan Jalan Siliwangi, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Kamis, 5 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 09:55

Pasang Surut Perkembangan Radio Siaran di Bandung

Di tengah gempuran platform digital, radio sesungguhnya masih memiliki kekuatan yang sulit tergantikan, yakni kedekatan emosional dan interaktivitas yang alami.

Penulis bersama para penyiar B-Radio Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 08:35

Tentang Angka dan Ketakberhinggaan dalam Pelestarian Cagar Budaya

Katanya, hidup ini adalah tentang angka. Lantas, bagaimana dengan cagar budaya? Berapa angka yang akan kita sematkan pada warisan budaya kebendaan ini?

Salah satu gedung cagar budaya di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 07 Mei 2026, 20:32

Strategi Monel Gaet Konsumen Hijab, Andalkan Uniqueness Warna dan Diskon Agresif di Event Fashion

Hijab tak lagi hanya sekedar kebutuhan dalam hal berpakaian. Hijab kini bertransformasi jadi bagian ekspresi gaya hingga pembuktian identitas pada wanita muslim.

Band hijab Monel mengandalkan strategi diskon besar beserta eksplorasi beragam warna yang ditampilkan pada etalasenya supaya menarik atensi pengunjung. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 07 Mei 2026, 19:59

Lembang 1994-1997: Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Bagian 2)

Lembang tahun 1994 merujuk pada satu kata, “Hening”.

Kawasan Situ Umar masa kolonial, terlihat Gunung Burangrang di kejauhan. Kawasan Situ Umar kini berganti menjadi wisata selfie floating market Lembang. (Sumber: KITLV)