Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

DI atas trotoar yang sempit, juga renjul, di sela-sela tiang lampu lalu-lintas yang penuh spanduk, maupun di depan deretan ruko bertabur billboard, pedagang kaki lima (PKL) bisa saja hadir. Mereka ada di situ bukan karena ruang sengaja telah disediakan secara khusus buat mereka, melainkan karena ruang itu mereka temukan. Namun, dari situ pula dilema bermula, yakni pilihan antara tertib-rapi atau mati pelan-pelan.

Bagi sebagian orang, PKL adalah gangguan. Mereka dianggap merampas hak pejalan kaki, memicu kemacetan, dan merusak paras kota. Namun, bagi para PKL, status PKL dan aktivitas mereka sangat boleh jadi adalah jalan terakhir ketika pintu kerja lain tertutup rapat.

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia. Bahkan, lebih dari separuh angkatan kerja terserap di sektor ini . Dalam konteks ini, PKL adalah konsekuensi logis dari struktur ekonomi yang belum mampu menyerap tenaga kerja secara formal.

Di kota-kota besar, termasuk Kota Bandung, fenomena PKL semakin kentara. Ini didasari realita bahwa urbanisasi membawa harapan, tetapi tidak selalu memberikan pekerjaan. Alhasil, banyak pendatang yang tiba ke kota tidak terserap industri formal.  Ujungnya, mereka masuk ke sektor informal, termasuk menjadi PKL. Kota memang selau menjanjikan peluang ekonomi. Sayangnya, tidak selalu menyediakan tempat.

PKL sendiri hidup dalam logika yang berbeda dari ekonomi formal. Mereka tidak sekadar menjual barang. Mereka membaca arus manusia. Keramaian adalah pasar bagi mereka. Karena itu, trotoar, bahu jalan, dan ruang publik lain menjadi pilihan rasional untuk menggelar dagangan, walau itu jelas-jelas pelanggaran.

Statis dan dinamis

Kebijakan kota umumnya melihat ruang sebagai sesuatu yang statis: ada fungsi, ada batas, ada aturan. Adapun PKL melihat ruang sebagai sesuatu yang dinamis: di mana ada orang, di situ ada peluang untuk berdagang.

Karenanya, program relokasi sering kali gagal bukan karena PKL menolak aturan, tetapi karena mereka kehilangan ekosistem. Contohnya, memindahkan PKL ke tempat sepi sama saja memindahkan usaha ke ruang tanpa pasar. Dalam ekonomi mikro, lokasi bukan sekadar alamat atau tempat, melainkan adalah sumber peluang ekonomi.

Struktur biaya PKL sendiri bisa dibilang sangat sensitif. Margin keuntungan mereka rata-rata tipis. Sedikit saja penurunan pembeli, usaha bisa hancur. Tidak heran jika banyak PKL yang kembali ke lokasi lama setelah ditertibkan. Mereka mungkin bukan untuk membangkang, melainkan cuma untuk bertahan.

Fenomena “ PKL balik lagi” usai ditertibkan ini sering disederhanakan sebagai masalah kedisiplinan. Padahal, secara sosiologis, itu adalah respons terhadap kegagalan kebijakan yang tidak menyentuh akar persoalan utama.

Penyangga konsumsi

Secara ekonomi, PKL memainkan peran penting ekonomi. Mereka menyediakan barang murah, cepat, dan dekat. Dalam banyak kasus, mereka justru menjadi penyangga konsumsi masyarakat berpendapatan rendah.

Selain itu, PKL menciptakan efek berantai. Mereka membeli bahan baku dari pasar, menggunakan tenaga kerja keluarga, dan memutar uang dalam skala lokal. Dalam bahasa ekonomi, mereka adalah penggerak ekonomi mikro berbasis komunitas.

Namun, kontribusi itu sering tidak terlihat karena tidak tercatat secara formal. Nah, ketika sesuatu tidak masuk statistik resmi, maka ia cenderung dianggap tidak ada.

Di sisi lain, masalah yang ditimbulkan PKL juga nyata. Contohnya, penyempitan trotoar, kemacetan, hingga persoalan kebersihan adalah dampak yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Padahal, kota membutuhkan keteraturan dan ketertiban.

Sejumlah spanduk penolakan pembangunan jalur BRT yang dipasang oleh para pedagang terlihat di depan lapak PKL, Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, (17/12026). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah spanduk penolakan pembangunan jalur BRT yang dipasang oleh para pedagang terlihat di depan lapak PKL, Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, (17/12026). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Memperbaiki tata kota

Pada dasarnya, menertibkan PKL berarti memperbaiki tata kota, tetapi berisiko pula menghilangkan sumber penghidupan mereka. Membiarkan mereka berarti menjaga ekonomi rakyat, tetapi juga mengorbankan keteraturan ruang kota.

Pendekatan hitam-putih pun menjadi tidak memadai. PKL bukan sekadar pelanggar, tetapi juga bukan tanpa dampak. Mereka berada di wilayah abu-abu yang membutuhkan kebijakan lebih cermat.

Dilihat dari kacamata perencanaan kota, keberadaan PKL menunjukkan bahwa desain ruang publik kita belum sepenuhnya inklusif. Kota dirancang untuk fungsi tertentu, tetapi kehidupan nyata sering melampaui desain itu.

Dari sisi ekonomi politik, PKL mencerminkan ketimpangan akses. Mereka yang tidak memiliki modal, pendidikan, atau jaringan akhirnya menciptakan ruangnya sendiri di luar sistem formal.

Sementara itu, ditilik dari sudut pandang sosiologi, PKL adalah bentuk adaptasi. Mereka menyesuaikan diri dengan tekanan ekonomi. Jadi, bukan melawan aturan semata.

Katup pengaman

Dalam teori pembangunan, sektor informal sering disebut sebagai safety valve alias katup pengaman yang menyerap tekanan sosial akibat keterbatasan lapangan kerja . Tanpa sektor ini, tekanan pengangguran bisa jauh lebih besar.

Kendati begitu, katup pengaman bukanlah solusi permanen. Ia hanya menunda ledakan, bukan menghilangkan sumber tekanan.

Masalahnya, banyak kebijakan pemerintah masih berfokus pada gejala, bukan pada sebab utama. PKL ditertibkan, tetapi jika akar masalah -- keterbatasan pekerjaan formal -- tidak terselesaikan, maka persoalannya tidak akan pernah tuntas.

Artinya, selama struktur ekonomi tidak berubah, PKL akan terus muncul. Bahkan, jika satu kawasan bersih, kawasan lain mungkin akan menjadi titik baru bagi menjamurnya PKL.

Karena itu, penertiban PKL tanpa strategi ekonomi hanya akan menciptakan siklus tanpa akhir: muncul, ditertibkan, muncul lagi. Begitu seterusnya.

Solusi yang lebih realistis barangkali bukan menghilangkan PKL sama sekali, tetapi mengelolanya. Jadi, bukan sekadar memindahkan, tetapi mengintegrasikan mereka ke dalam tata ruang kota melalui zonasi yang jelas dan fleksibel, ke dalam sistem transportasi sebagai bagian dari simpul mobilitas tanpa mengorbankan hak pejalan kaki, ke dalam ekosistem ekonomi melalui akses bertahap ke sistem formal seperti pembayaran digital dan rantai pasok, ke dalam kebijakan sosial yang memberi perlindungan bagi kelompok rentan, serta ke dalam identitas kota itu sendiri sebagai ruang hidup yang dinamis dan berlapis.

Dengan pendekatan intergrasi tersebut, PKL tidak lagi diposisikan sebagai masalah yang harus disingkirkan, melainkan sebagai bagian sah dari kehidupan kota yang perlu ditata agar dapat hidup berdampingan secara tertib, adil, dan berkelanjutan.

Tentu, langkah integrasi ini tidak gampang. Ia membutuhkan pemahaman mendalam tentang pola dagang, perilaku konsumen, dan dinamika ruang kota.

Kebijakan juga perlu mengakui bahwa tidak semua PKL bisa “naik kelas” ke ruang formal. Bagi sebagian, fleksibilitas justru adalah kekuatan utama.

Di sisi lain, PKL juga perlu beradaptasi. Keteraturan bukan semata tuntutan pemerintah, tetapi juga bagian dari keberlanjutan usaha itu sendiri.

Kota bukan hanya menyangkut soal bangunan dan aturan. Kota menyangkut pula soal manusia, dengan segala keterbatasan dan upayanya untuk survive.

Persoalan PKL menunjukkan kepada kita bahwa aktivitas ekonomi warga tidak selalu membuat kota rapi. Namun, justru disitulah tantangannya, yakni bagaimana menata kota tanpa mematikan mereka, dan bagaimana menertibkan PKL tanpa menghilangkan harapan mereka. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)