Trotoar, PKL, dan Keadilan Ruang Kota

6 menit baca
erni driyantini
Ditulis oleh erni driyantini diterbitkan
Warga berjalan di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Warga berjalan di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Keberhasilan sebuah kebijakan publik sering kali diukur dari capaian yang tampak di permukaan. Trotoar kembali lapang, lapak-lapak dibongkar, dan ruang publik terlihat lebih tertib. Namun, ukuran sesungguhnya dari sebuah kebijakan bukan terletak pada keberhasilan sesaat, melainkan pada kemampuannya bertahan dalam jangka panjang.

Di Bandung, optimisme sedang mengiringi langkah Pemerintah Kota (Pemkot) setelah penataan pedagang kaki lima (PKL) di sejumlah kawasan, mulai dari Cicadas hingga relokasi ratusan pedagang ke Basemen Alun-alun. Akan tetapi, tantangan yang lebih berat sesungguhnya baru berada di depan mata, yakni penataan kawasan Dipatiukur dan Gelap Nyawang di sekitar Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kawasan ini berbeda dari pusat perdagangan ataupun destinasi wisata. Di sana, aktivitas ekonomi informal telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mahasiswa selama puluhan tahun. Karena itu, penataan PKL di kawasan pendidikan bukan hanya urusan memindahkan gerobak atau membersihkan trotoar. Yang dipertaruhkan adalah kemampuan pemerintah mengelola ruang publik tanpa memutus ekosistem sosial dan ekonomi yang telah tumbuh secara organik.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan pernah menyebut persoalan PKL sebagai akibat dari pembiaran yang berlangsung bertahun-tahun. Lapak permanen maupun semi permanen dibiarkan berdiri di atas fasilitas publik hingga akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Padahal, fungsi trotoar tidak pernah berubah. Ia merupakan ruang yang disediakan untuk pejalan kaki. Ketika trotoar beralih menjadi ruang usaha, terjadi pergeseran hak yang perlahan dianggap sebagai kewajaran sosial.

Secara regulatif, Bandung sebenarnya tidak kekurangan instrumen hukum. Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2011 dan Peraturan Wali Kota Nomor 32 Tahun 2019 telah mengatur zonasi PKL melalui pembagian zona merah, kuning, dan hijau. Persoalannya bukan terletak pada ketiadaan aturan, melainkan pada konsistensi penerapannya.

Ketika pelanggaran berlangsung terlalu lama, ruang publik yang semestinya menjadi milik bersama berubah menjadi ruang yang diklaim oleh kelompok tertentu. Pada titik itulah penegakan aturan kerap memunculkan resistensi. Benturan antara aparat dan pedagang yang beberapa kali terjadi menunjukkan bahwa penataan ruang publik bukan hanya persoalan hukum, melainkan juga persoalan sosial.

Kawasan Pendidikan yang Berbeda

Penataan di sekitar kampus memiliki tingkat kompleksitas yang berbeda dibandingkan kawasan lain. PKL di sekitar Dipatiukur dan Gelap Nyawang bukan hanya penyedia barang dan jasa murah. Mereka juga menjadi bagian dari ritme kehidupan mahasiswa.

Warung makan sederhana, kedai kopi kecil, hingga lapak kebutuhan sehari-hari telah menjadi penopang aktivitas ribuan mahasiswa. Kehadiran mereka membentuk ruang interaksi sosial yang sulit digantikan oleh bangunan formal atau pusat kuliner yang tertata rapi.

Karena itu, pendekatan yang semata-mata berorientasi pada penertiban berisiko menimbulkan persoalan baru. Jika kebutuhan mahasiswa tetap ada sementara ruang ekonominya dihilangkan, aktivitas perdagangan informal berpotensi kembali muncul dalam bentuk lain. Fenomena "kucing-kucingan" antara pedagang dan aparat akan terus berulang.

Pengalaman relokasi PKL ke Basemen Alun-alun memberikan pelajaran penting. Keberhasilan relokasi tidak hanya ditentukan oleh tersedianya tempat baru, tetapi juga oleh keberadaan arus konsumen yang mampu menjaga keberlangsungan usaha para pedagang. Tanpa jaminan aktivitas ekonomi yang memadai, relokasi berpotensi berubah menjadi pemindahan masalah dari satu lokasi ke lokasi lain.

Sejumlah spanduk penolakan pembangunan jalur BRT yang dipasang oleh para pedagang terlihat di depan lapak PKL, Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, (17/12026). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah spanduk penolakan pembangunan jalur BRT yang dipasang oleh para pedagang terlihat di depan lapak PKL, Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, (17/12026). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Menjaga Keberlanjutan

Dalam banyak kasus, penataan PKL sering dianggap selesai ketika trotoar berhasil dikosongkan. Padahal, tantangan sebenarnya justru dimulai setelah proses penertiban berakhir.

Keberlanjutan kebijakan menjadi faktor yang kerap diabaikan. Sebuah kawasan tidak mungkin dijaga terus-menerus oleh aparat dalam jumlah besar. Karena itu, keberhasilan penataan harus diukur dari kemampuan menciptakan kepatuhan yang tumbuh dari kesadaran bersama, bukan semata-mata karena pengawasan.

Pandangan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bahwa hak pejalan kaki harus dikembalikan pada tempatnya patut diapresiasi. Ruang publik memang tidak boleh kehilangan fungsi utamanya. Namun, ketegasan tersebut perlu berjalan beriringan dengan pendekatan dialogis yang selama ini dikedepankan Pemkot Bandung.

Pengalaman di Cicadas menunjukkan bahwa komunikasi yang intensif mampu mengurangi konflik dan membangun kesepahaman. Dalam konteks kawasan pendidikan, pendekatan semacam ini menjadi semakin penting karena yang dihadapi bukan hanya pedagang, melainkan juga komunitas mahasiswa dan institusi pendidikan yang menjadi bagian dari ekosistem kawasan.

Penataan PKL di kawasan pendidikan membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif.

Pertama, perlu ada integrasi antara perencanaan kampus dan perencanaan kota. Kebutuhan mahasiswa terhadap akses makanan dan layanan terjangkau tidak dapat dipisahkan dari kebijakan penataan ruang di sekitar kampus. Karena itu, perguruan tinggi perlu dilibatkan sebagai mitra strategis dalam merumuskan solusi.

Kedua, pemerintah dapat mempertimbangkan model penggunaan ruang yang lebih fleksibel. Alih-alih membiarkan bangunan permanen berdiri di atas trotoar, aktivitas berdagang dapat diatur berdasarkan waktu tertentu dengan prinsip bongkar-pasang yang disiplin sehingga fungsi ruang publik tetap terjaga.

Ketiga, pendataan dan formalisasi pedagang perlu terus didorong. Status usaha yang lebih jelas akan memudahkan pemerintah melakukan pembinaan sekaligus menumbuhkan tanggung jawab bersama dalam menjaga ketertiban dan kebersihan lingkungan.

Keempat, proses komunikasi harus menghasilkan kesepakatan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dialog tidak boleh berhenti pada forum diskusi, melainkan diterjemahkan menjadi komitmen yang dipahami dan dipatuhi semua pihak.

Warga beraktivitas di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Warga beraktivitas di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Keadilan Ruang Publik

Di balik perdebatan mengenai penataan PKL, sesungguhnya terdapat persoalan yang lebih mendasar, yakni keadilan dalam penggunaan ruang publik. Ruang kota bukan hanya bentang fisik berupa jalan, trotoar, taman, atau alun-alun. Ia adalah ruang sosial yang menjadi arena perjumpaan berbagai kepentingan warga.

Dalam perspektif keadilan ruang publik, tidak ada satu kelompok pun yang dapat mengklaim ruang bersama untuk kepentingannya sendiri. Pejalan kaki memiliki hak untuk berjalan dengan aman dan nyaman. Pedagang memiliki hak untuk mencari nafkah secara layak. Mahasiswa membutuhkan ruang yang mendukung aktivitas akademik dan sosialnya. Sementara pemerintah memiliki kewajiban memastikan seluruh hak tersebut dapat berjalan secara seimbang.

Persoalannya muncul ketika satu hak berkembang dengan mengorbankan hak yang lain. Trotoar yang dipenuhi lapak memang membuka peluang ekonomi bagi sebagian warga, tetapi pada saat yang sama menghilangkan akses bagi pejalan kaki, penyandang disabilitas, lansia, maupun pengguna ruang publik lainnya. Dalam situasi seperti ini, negara tidak boleh bersikap netral. Negara harus hadir untuk mengembalikan fungsi ruang publik sesuai peruntukannya.

Namun, keadilan ruang publik juga tidak dapat dimaknai sebagai pengusiran semata. Penertiban yang hanya berorientasi pada pengosongan ruang tanpa menyediakan alternatif yang layak berpotensi menciptakan ketidakadilan baru. Ruang publik memang harus dikembalikan kepada masyarakat, tetapi proses pengembaliannya tidak boleh menghilangkan kesempatan hidup kelompok yang selama ini menggantungkan penghasilan dari ruang tersebut.

Karena itu, ukuran keberhasilan penataan PKL bukanlah seberapa banyak lapak yang berhasil dibongkar, melainkan sejauh mana pemerintah mampu menciptakan keseimbangan antara ketertiban ruang kota dan keberlangsungan ekonomi masyarakat. Keadilan ruang publik menuntut pemerintah untuk tidak memilih salah satu pihak, melainkan memastikan seluruh warga memperoleh haknya secara proporsional.

Pada akhirnya, penataan PKL bukan hanya proyek mempercantik kota atau menegakkan aturan zonasi. Yang sedang dipertaruhkan adalah kemampuan pemerintah menghadirkan keadilan ruang publik bagi seluruh warga.

Bandung membutuhkan trotoar yang kembali ramah bagi pejalan kaki, tetapi juga membutuhkan kebijakan yang tidak memutus mata pencaharian masyarakat kecil. Di sinilah esensi kepemimpinan kota diuji yaitu mampu menghadirkan keteraturan tanpa menghilangkan keberpihakan pada kemanusiaan.

Jika penataan di Dipatiukur dan Gelap Nyawang mampu menjawab kedua kebutuhan tersebut, Bandung tidak hanya berhasil menata PKL, tetapi juga memberi contoh bagaimana ruang kota dapat dikelola secara adil. Sebab kota yang berkeadilan bukanlah kota yang hanya tertib dan indah dipandang, melainkan kota yang mampu memastikan setiap warganya memiliki ruang yang layak untuk hidup, bergerak, belajar, dan bekerja.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

erni driyantini
Tentang erni driyantini
Pengamat Publik

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)