Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

4 menit baca
Sri Maryati
Ditulis oleh Sri Maryati diterbitkan
Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)

Pemerintah Kota Bandung tengah gencar menata iklim usaha guna memperlancar proses bisnis dan investasi. 

 Dengan komitmen mengurai hambatan regulasi yang saling berkelindan, magnet investasi Kota Kembang diproyeksikan terus meningkat. Namun, memuluskan keran investasi dan perizinan barulah satu sisi koin. Sisi koin lainnya yang tidak kalah krusial bagi korporasi adalah kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam mewujudkan tipe karyawan flourish.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan flourish? Di era persaingan bisnis yang semakin ketat, setiap korporasi tentu mendambakan pekerja dengan produktivitas tinggi. Sebaliknya, manajemen berupaya keras mengikis perilaku negatif seperti fake productivity (produktivitas semu) maupun toxic productivity.

Fake productivity secara sederhana tercermin dari perilaku karyawan yang seolah-olah sangat sibuk dan tenggelam dalam tumpukan tugas, namun gagal menyelesaikan pekerjaan yang esensial.

Fenomena ini kian mengkhawatirkan. Survei ketenagakerjaan dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa Indonesia sedang menghadapi tantangan berat terkait jam kerja, di mana 1 dari 4 pekerja terperangkap dalam kondisi overwork atau bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Ironisnya, jam kerja yang berlebihan ini tidak berkorelasi positif dengan efektivitas, melainkan memicu burnout dan terjebak dalam toxic productivity.

Produktivitas merupakan aset terbesar sekaligus kata kunci utama bagi perusahaan untuk dapat survive dan mencetak laba. Sayangnya, aspek ini kerap terhambat oleh dimensi psikologis karyawan yang tidak berjalan optimal. Riset terbaru dari Jobstreet by SEEK (Salary Pulse) menyoroti pergeseran masif pada psikologis pekerja modern, hasilnya mayoritas tenaga kerja kini secara tegas menolak kompromi dengan budaya kerja yang toxic.

Faktanya, hanya 3 persen pekerja yang rela bertahan di lingkungan kerja toxic meski diiming-imingi kenaikan gaji. Tekanan psikologis di tempat kerja menjadi alarm bahaya yang secara sistemik akan menurunkan performa organisasi jika terus diabaikan.

Di sinilah aspek flourishing memegang peranan vital. Seorang karyawan dikategorikan flourish jika secara emosional merasa bahagia menekuni pekerjaannya dan mampu berfungsi secara optimal dalam setiap tugas. Mereka memiliki motivasi intrinsik yang tinggi untuk terus belajar, bekerja, dan berkembang.

Flourishing bertindak sebagai faktor protektif atau benteng psikologis. Karyawan dengan tingkat flourishing yang tinggi tidak akan mudah ambruk oleh faktor eksternal yang tidak menguntungkan, seperti stres kerja atau beban komunikasi digital yang berlebihan.

Kondisi job flourishing ini sangat dipengaruhi oleh dua pilar, yakni konteks personal dan konteks kerja. Konteks personal meliputi tipe kepribadian, karakteristik psikologis, dan kompetensi individu.

Sementara kepribadian cenderung menetap, aspek personal lainnya sangat bisa dilatih dan ditingkatkan. Di sisi lain, konteks kerja mencakup sistem sosial yang suportif, kepemimpinan yang memberdayakan (empowering leadership), iklim positif, serta lingkungan kerja yang "bernutrisi". Kolaborasi harmonis antara konteks personal dan kerja inilah yang akan memantik motivasi, yang pada gilirannya menentukan tinggi rendahnya tingkat flourishing karyawan.

Mengingat tingginya biaya finansial akibat kesalahan rekrutmen, yang menurut data industri HR dapat merugikan perusahaan hingga 3–5 kali lipat dari nilai gaji posisi tersebut akibat lost productivity, maka tidak heran jika korporasi kini semakin selektif. Tren rekrutmen modern telah bergeser dari sekadar mencocokkan CV ke arah asesmen terpadu berbasis data. 

Bagi para pencari kerja, baik fresh graduate maupun profesional yang tengah memperebutkan posisi manajerial, tahapan Psikotes dan Profile Assessment (PA) sering kali menjadi fase yang paling menegangkan dan menggugurkan banyak kandidat.

Kedua tes ini umumnya dirancang oleh konsultan psikologi independen dengan metode modern, seperti Harrison Assessment Profiling, Multidimensional Aptitude Battery Test, Focus Group Discussion (FGD), hingga wawancara mendalam.

Rangkaian instrumen tersebut, yang meliputi consistency test, suitability test, multi-aptitude test, serta group test, diterapkan bukan hanya untuk memotret kompetensi teknis semata. Lebih dari itu, metode ini dirancang guna membedah karakter laten, tingkat integritas, hingga kematangan emosional (maturity) kandidat.

Melalui Harrison Assessment, misalnya, perusahaan dapat mengukur konsistensi dan kesesuaian sifat (traits) kandidat untuk posisi kepemimpinan. Sementara multidimensional aptitude battery test akan menguji daya tangkap, berpikir analitis (analytical thinking), stabilitas emosi, ketekunan, hingga hubungan sosial (social relationship).

Terdapat benang merah yang kuat antara tahapan psikotes tradisional dengan Profile Assessment modern. Kedua fase ini sangat menguras energi dan emosi karena penuh dengan "jebakan" psikologis, terutama pada instrumen seperti Edwards Personal Preference Schedule (EPPS). Namun, ketakutan ini sebenarnya bisa diredam. Kandidat yang berhasil lolos umumnya adalah mereka yang secara proaktif mempelajari pola dan berlatih mengerjakan soal-soal asesmen jauh-jauh hari sebelum jadwal tes tiba.

Secara umum, target dari asesmen psikologi ini bermuara pada tiga aspek fundamental.

Pertama, Aspek Kecerdasan. Untuk mengukur kapasitas kognitif umum maupun spesifik, seperti kemampuan berhitung cepat dan ketajaman analisa.

Kedua, Aspek Kepribadian. Untuk memetakan tingkat kepercayaan diri serta kelenturan adaptasi karyawan terhadap lingkungan baru maupun penugasan yang dinamis. 

Ketiga, Aspek Sikap atau Cara Kerja. Untuk meneropong determinasi, semangat kerja, motivasi berprestasi, inisiatif, hingga kapasitas kepemimpinan dalam kerja tim.

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi bagi korporasi, maka sektor industri harus menyambutnya dengan kesiapan internal. Melalui sistem rekrutmen yang presisi, korporasi di Bandung akan mampu menyaring dan membentuk karyawan tipe flourish yang notabene merupakan generasi pekerja yang tidak hanya sibuk di permukaan, tetapi juga tangguh, bahagia, dan produktif secara substansial. (SRI)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)