Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

7 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Keberagaman teknik pengolahan yang terekam dalam naskah-naskah kuno menunjukkan bahwa pangan di Tatar Sunda adalah representasi dari dinamika sosial yang dinamis, di mana ketersediaan sumber daya alam dikelola dengan kecerdasan intelektual yang tinggi.

  • Identitas gastronomi Sunda dibangun melalui proses adaptasi budaya yang cerdas terhadap pengaruh luar. Naskah Siksa Kandang Karesian mendokumentasikan bagaimana masyarakat Sunda mengadopsi konsep Sadrasa (enam rasa) dari tradisi India, namun memberikan interpretasi lokal yang unik.

  • Gastronomi Sunda adalah entitas hidup yang terus bertransformasi. Masuknya Islam secara signifikan menggeser peta konsumsi daging masyarakat. Daging babi, yang pada catatan Tomé Pires (1512) masih umum dikonsumsi, kini menjadi pantangan mutlak dan digantikan sepenuhnya oleh sumber protein yang sesuai dengan syariat.

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan. Sebagai seni dalam memilih, mengolah, dan menikmati hidangan, gastronomi melampaui imperatif biologis menuju sebuah ekspresi mendalam dari kegeniusan ekologis dan sosial masyarakat Parahyangan. Memahami sejarah dan konsep rasa bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan fondasi strategis dalam mengukuhkan identitas bangsa di tengah pusaran globalisasi.

Merujuk pada perspektif Riadi Darwis (2019), setiap peradaban memiliki tanda tangan sensorik yang dipengaruhi oleh lanskapnya. Jika kuliner Eropa secara historis bersandar pada lemak hewani seperti mentega dan krim, maka peradaban Sunda memposisikan beras (sangu) dan rempah-rempah sebagai pilar utama arsitektur cita rasanya. Keberagaman teknik pengolahan yang terekam dalam naskah-naskah kuno menunjukkan bahwa pangan di Tatar Sunda adalah representasi dari dinamika sosial yang dinamis, di mana ketersediaan sumber daya alam dikelola dengan kecerdasan intelektual yang tinggi.

Pangan dalam Hierarki Kehidupan Sunda Kuno

Dalam kosmologi masyarakat Sunda kuno, pangan menempati hirarki paling fundamental dalam struktur kehidupan. Legitimasi filologis mengenai hal ini terekam jelas dalam naskah Sasana Mahaguru, yang merinci konsep kepemilikan atau properti yang dikenal dengan istilah boga.

Naskah tersebut membagi struktur kepemilikan masyarakat ke dalam tiga tingkatan secara hierarkis. Tingkat paling mendasar adalah boga, yang mencakup kebutuhan utama berupa makanan dan minuman (pangan inum). Di atasnya terdapat pariboga, yakni kepemilikan tingkat menengah yang meliputi pelayan (hulun kuri) serta hewan ternak seperti kerbau dan sapi. Adapun puncak dari hirarki ini adalah rupaboga, tingkatan tertinggi yang mencakup barang-barang mewah seperti emas, permata, dan kain halus (dodot malit) yang menjadi atribut kemuliaan seorang raja. Penempatan pangan (boga) sebagai fondasi paling utama—melampaui pelayan maupun harta benda—mencerminkan etika konsumsi berorientasi pada stabilitas hidup.

Bagi masyarakat Sunda lampau, kedaulatan pangan adalah prasyarat mutlak berdirinya sebuah peradaban. Tanpa terpenuhinya boga, tingkatan kepemilikan lainnya serta-merta kehilangan relevansi. Filosofi ini menegaskan bahwa kesejahteraan sejati bermula dari kecukupan pangan, sebuah prinsip yang membentuk karakter masyarakat Sunda untuk senantiasa menghargai dan menjaga sumber daya alamnya.

Adaptasi Konsep Sadrasa dan Keunikan Rasa Gurih (Pelem)

Identitas gastronomi Sunda dibangun melalui proses adaptasi budaya yang cerdas terhadap pengaruh luar. Naskah Siksa Kandang Karesian mendokumentasikan bagaimana masyarakat Sunda mengadopsi konsep Sadrasa (enam rasa) dari tradisi India, namun memberikan interpretasi lokal yang unik.

Keenam rasa tersebut meliputi lavana yang dimaknai sebagai asin (pangset), katuka sebagai pedas (lada), tikta sebagai pahit (pahit), amla sebagai asam (hasem), kasaya sebagai gurih (pelem), serta madhura yang mewakili rasa manis (amis).

Terdapat sebuah pergeseran sensorik yang sangat menarik pada istilah kasaya. Dalam bahasa Sansekerta, kasaya bermakna "kesat" atau "astringent", namun dalam konteks lidah Sunda, makna ini berevolusi menjadi pelem atau gurih. Penekanan pada rasa gurih dan asin ini menjadi garis demarkasi identitas yang tegas; hingga hari ini, masyarakat Sunda cenderung mengkritik hidangan sayur atau lauk yang terlalu manis sebagai "mirip masakan Jawa". Keunikan rasa pelem ini bukan sekadar preferensi rasa, melainkan batas-batas budaya yang membedakan identitas gastronomi Tatar Sunda dengan wilayah tetangganya.

Keragaman Bahan Pangan: Lanskap Flora dan Fauna

Kekuatan ekonomi dan ketersediaan pangan di Tatar Sunda telah diakui secara internasional sejak abad ke-16. Tome Pires dalam Suma Oriental (1512–1515) mencatat bahwa Sunda merupakan eksportir beras yang signifikan dengan kapasitas mencapai sepuluh muatan kapal jung per tahun.

Hidangan khas Priangan di Dapur Sunda, Jl. Cipete Raya No. 13, Jakarta Selatan. (Sumber: www.tripadvisor.co.id | Foto: H17K)
Hidangan khas Priangan di Dapur Sunda, Jl. Cipete Raya No. 13, Jakarta Selatan. (Sumber: www.tripadvisor.co.id | Foto: H17K)

Beras (sangu) memang tetap menjadi inti dari setiap hidangan, dengan proses pengolahan yang dipandang sebagai aktualisasi ibadah yang sistematis—mulai dari ngisikan (membersihkan), ngagigihan (memasak setengah matang), ngasakeun (mematangkan), hingga ngakeul (mendinginkan untuk mencapai tekstur memulen). Menariknya, karakter "vegetaris" masyarakat Sunda juga berakar dari mitologi; Dayang Sumbi dalam legenda Sangkuriang dikisahkan tetap awet muda karena hanya mengonsumsi beubeutian (umbi-umbian) dan bongborosan (tunas muda).

Budaya lalapan kian mengukuhkan hubungan erat ini melalui penggunaan sekitar 50 spesies dari 19 famili tumbuhan. Tanaman seperti pohpohan, reundeu, dan kemangi tidak hanya berfungsi sebagai herba aromatik, tetapi juga penyeimbang gizi yang selaras dengan ekologi lanskap Parahyangan yang subur.

Selain unsur nabati, masyarakat Sunda juga memiliki akses protein yang melimpah dari perairan dan daratan. Naskah Swawar Cinta mencatat berbagai jenis ikan yang ditangkap melalui teknik saapan atau parakan, seperti paray, lendi, hikeu, kancra, lele, dan deleg. Sementara itu, unggas seperti ayam tidak sekadar menjadi lauk (deungeun sangu), melainkan juga media spiritual. Hayam camani, misalnya, dimanfaatkan dalam ritual penyucian tanah pada Warugan Lemah—menegaskan bahwa pangan dalam tradisi Sunda memiliki dimensi nutrisi sekaligus sakral.

Teknik Memasak Kuno dan Peran Juru Masak

Sejak abad ke-15, masyarakat Sunda telah menguasai metodologi pengolahan makanan yang sangat kompleks. Naskah Siksa Kandang Karesian mencatat sedikitnya 14 teknik memasak yang mencerminkan kekayaan kosakata kuliner kuno. Pengolahan bahan pangan mencakup teknik penyiapan seperti nyupar-nyapir (menyuwir daging), hahanyangan (mencincang daging), dan raramësann (mencampur bahan). Untuk teknik pematangan, dikenal metode bëbëlëman (membakar), papanggangan (memanggang), serta rara mandi (memasak dengan kuah atau sayur berkuah).

Selain itu, masyarakat Sunda kuno sangat memperhatikan cita rasa dan aroma melalui teknik nyopong koneng (memasukkan kunyit, serupa teknik betutu), nyayang ku pëdës (mengolah dengan lada dalam jumlah banyak), nyësëngit atau diruruum/di-amis-amis (memberi aroma wewangian dan rasa manis), hingga nyocobek (mengolah makanan di atas cobek).

Ragam metodologi ini makin diperkaya oleh teknik khusus seperti nyarëngsëng (mengangkep hingga daging mengembang), nyanglarkën, serta kakasian—sebuah teknik memasak khusus yang bahkan jejaknya telah ditemukan sejak prasasti abad ke-10.

Kemahiran memasak juga menjadi indikator maturitas sosial. Dalam Carita Pantun Nyi Sumur Bandung, terdapat kritik humoris mengenai "masakan buruk" sebagai tanda ketidaksiapan sosial, seperti membuat wajit menggunakan terasi atau pencok menggunakan jaringao.

Secara profesional, dapur Sunda kuno mengenal pembagian fungsi yang ketat, terutama dalam konteks hajatan atau rumah tangga bangsawan: Pangéjo (urusan nasi), Panutu (urusan kayu bakar), Tunggu Dapur (penjaga api), dan Hareup Catra (juru masak utama). Pembagian kerja ini mencerminkan struktur organisasi dapur yang efisien dan terspesialisasi.

Dinamika Kuliner Sunda: Lintas Agama, Kolonialisme, dan Zaman

Gastronomi Sunda adalah entitas hidup yang terus bertransformasi. Masuknya Islam secara signifikan menggeser peta konsumsi daging masyarakat. Daging babi, yang pada catatan Tomé Pires (1512) masih umum dikonsumsi, kini menjadi pantangan mutlak dan digantikan sepenuhnya oleh sumber protein yang sesuai dengan syariat.

Aktivitas pemetikan teh di Jawa Barat pada kurun 1920–1940. Perkebunan teh di Jawa Barat saat itu melahirkan identitas rasa baru bagi masyarakat Sunda. (Sumber: KITLV)
Aktivitas pemetikan teh di Jawa Barat pada kurun 1920–1940. Perkebunan teh di Jawa Barat saat itu melahirkan identitas rasa baru bagi masyarakat Sunda. (Sumber: KITLV)

Interaksi pada masa kolonial turut membentuk identitas rasa baru. Masuknya cabai dari benua Amerika perlahan menggantikan lada (pedes) sebagai bahan pedas utama. Di sisi lain, kebijakan Preangerstelsel atau sistem tanam paksa kopi yang diberlakukan oleh VOC di wilayah Parahyangan sejak awal abad ke-18 (sekitar tahun 1720), melahirkan tradisi minum teh dan kopi yang mengakar kuat. Fenomena amis kopi—yakni rasa manis alami dari kulit buah kopi matang—menjadi bukti nyata bagaimana kebijakan ekonomi kolonial merasuk hingga ke memori rasa masyarakat.

Peran K.F. Holle melalui bukunya, Mitra Noe Tani (1871), juga menghadirkan diskusi akademik yang menarik. Holle memperkenalkan tanaman pangan baru seperti kentang dan jagung demi meningkatkan kedaulatan pangan rakyat. Hal ini memicu pertanyaan tersendiri: apakah Holle sekadar menyesuaikan diri dengan pola makan vegetaris Sunda yang sudah ada, ataukah diseminasi teknik bertaninya yang justru memperkuat budaya konsumsi sayur-mayur di Parahyangan? Bagaimanapun, intervensinya menjadi salah satu fase krusial dalam modernisasi pertanian setempat.

Warisan Peradaban yang Masih Terpelihara

Gastronomi Sunda adalah sebuah dokumen peradaban yang masih bisa dicicipi hingga hari ini. Kelentingan budaya ini terbukti dari ketahanan teknik-teknik kuno yang berasal dari era Maharaja di Pakuan, seperti kéré (ikan/daging kering), disaratén (sate), dan pais (pepes).

Memahami sejarah pangan Sunda adalah memahami sejarah adaptasi manusia terhadap semesta. Dari struktur kepemilikan boga hingga reinterpretasi rasa pelem, gastronomi Sunda membuktikan bahwa identitas sebuah bangsa tidak hanya tertulis dalam naskah, tetapi juga tersaji di atas piring sebagai manifestasi filosofis yang terus hidup melintasi zaman. (*)

Referensi:

  • Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Barat. (2025). ENSIKLOPEDIA KI SUNDA JILID 2. Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP2D) Provinsi Jawa Barat.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)