Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

7 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan. Sebagai seni dalam memilih, mengolah, dan menikmati hidangan, gastronomi melampaui imperatif biologis menuju sebuah ekspresi mendalam dari kegeniusan ekologis dan sosial masyarakat Parahyangan. Memahami sejarah dan konsep rasa bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan fondasi strategis dalam mengukuhkan identitas bangsa di tengah pusaran globalisasi.

Merujuk pada perspektif Riadi Darwis (2019), setiap peradaban memiliki tanda tangan sensorik yang dipengaruhi oleh lanskapnya. Jika kuliner Eropa secara historis bersandar pada lemak hewani seperti mentega dan krim, maka peradaban Sunda memposisikan beras (sangu) dan rempah-rempah sebagai pilar utama arsitektur cita rasanya. Keberagaman teknik pengolahan yang terekam dalam naskah-naskah kuno menunjukkan bahwa pangan di Tatar Sunda adalah representasi dari dinamika sosial yang dinamis, di mana ketersediaan sumber daya alam dikelola dengan kecerdasan intelektual yang tinggi.

Pangan dalam Hierarki Kehidupan Sunda Kuno

Dalam kosmologi masyarakat Sunda kuno, pangan menempati hirarki paling fundamental dalam struktur kehidupan. Legitimasi filologis mengenai hal ini terekam jelas dalam naskah Sasana Mahaguru, yang merinci konsep kepemilikan atau properti yang dikenal dengan istilah boga.

Naskah tersebut membagi struktur kepemilikan masyarakat ke dalam tiga tingkatan secara hierarkis. Tingkat paling mendasar adalah boga, yang mencakup kebutuhan utama berupa makanan dan minuman (pangan inum). Di atasnya terdapat pariboga, yakni kepemilikan tingkat menengah yang meliputi pelayan (hulun kuri) serta hewan ternak seperti kerbau dan sapi. Adapun puncak dari hirarki ini adalah rupaboga, tingkatan tertinggi yang mencakup barang-barang mewah seperti emas, permata, dan kain halus (dodot malit) yang menjadi atribut kemuliaan seorang raja. Penempatan pangan (boga) sebagai fondasi paling utama—melampaui pelayan maupun harta benda—mencerminkan etika konsumsi berorientasi pada stabilitas hidup.

Bagi masyarakat Sunda lampau, kedaulatan pangan adalah prasyarat mutlak berdirinya sebuah peradaban. Tanpa terpenuhinya boga, tingkatan kepemilikan lainnya serta-merta kehilangan relevansi. Filosofi ini menegaskan bahwa kesejahteraan sejati bermula dari kecukupan pangan, sebuah prinsip yang membentuk karakter masyarakat Sunda untuk senantiasa menghargai dan menjaga sumber daya alamnya.

Adaptasi Konsep Sadrasa dan Keunikan Rasa Gurih (Pelem)

Identitas gastronomi Sunda dibangun melalui proses adaptasi budaya yang cerdas terhadap pengaruh luar. Naskah Siksa Kandang Karesian mendokumentasikan bagaimana masyarakat Sunda mengadopsi konsep Sadrasa (enam rasa) dari tradisi India, namun memberikan interpretasi lokal yang unik.

Keenam rasa tersebut meliputi lavana yang dimaknai sebagai asin (pangset), katuka sebagai pedas (lada), tikta sebagai pahit (pahit), amla sebagai asam (hasem), kasaya sebagai gurih (pelem), serta madhura yang mewakili rasa manis (amis).

Terdapat sebuah pergeseran sensorik yang sangat menarik pada istilah kasaya. Dalam bahasa Sansekerta, kasaya bermakna "kesat" atau "astringent", namun dalam konteks lidah Sunda, makna ini berevolusi menjadi pelem atau gurih. Penekanan pada rasa gurih dan asin ini menjadi garis demarkasi identitas yang tegas; hingga hari ini, masyarakat Sunda cenderung mengkritik hidangan sayur atau lauk yang terlalu manis sebagai "mirip masakan Jawa". Keunikan rasa pelem ini bukan sekadar preferensi rasa, melainkan batas-batas budaya yang membedakan identitas gastronomi Tatar Sunda dengan wilayah tetangganya.

Keragaman Bahan Pangan: Lanskap Flora dan Fauna

Kekuatan ekonomi dan ketersediaan pangan di Tatar Sunda telah diakui secara internasional sejak abad ke-16. Tome Pires dalam Suma Oriental (1512–1515) mencatat bahwa Sunda merupakan eksportir beras yang signifikan dengan kapasitas mencapai sepuluh muatan kapal jung per tahun.

Hidangan khas Priangan di Dapur Sunda, Jl. Cipete Raya No. 13, Jakarta Selatan. (Sumber: www.tripadvisor.co.id | Foto: H17K)
Hidangan khas Priangan di Dapur Sunda, Jl. Cipete Raya No. 13, Jakarta Selatan. (Sumber: www.tripadvisor.co.id | Foto: H17K)

Beras (sangu) memang tetap menjadi inti dari setiap hidangan, dengan proses pengolahan yang dipandang sebagai aktualisasi ibadah yang sistematis—mulai dari ngisikan (membersihkan), ngagigihan (memasak setengah matang), ngasakeun (mematangkan), hingga ngakeul (mendinginkan untuk mencapai tekstur memulen). Menariknya, karakter "vegetaris" masyarakat Sunda juga berakar dari mitologi; Dayang Sumbi dalam legenda Sangkuriang dikisahkan tetap awet muda karena hanya mengonsumsi beubeutian (umbi-umbian) dan bongborosan (tunas muda).

Budaya lalapan kian mengukuhkan hubungan erat ini melalui penggunaan sekitar 50 spesies dari 19 famili tumbuhan. Tanaman seperti pohpohan, reundeu, dan kemangi tidak hanya berfungsi sebagai herba aromatik, tetapi juga penyeimbang gizi yang selaras dengan ekologi lanskap Parahyangan yang subur.

Selain unsur nabati, masyarakat Sunda juga memiliki akses protein yang melimpah dari perairan dan daratan. Naskah Swawar Cinta mencatat berbagai jenis ikan yang ditangkap melalui teknik saapan atau parakan, seperti paray, lendi, hikeu, kancra, lele, dan deleg. Sementara itu, unggas seperti ayam tidak sekadar menjadi lauk (deungeun sangu), melainkan juga media spiritual. Hayam camani, misalnya, dimanfaatkan dalam ritual penyucian tanah pada Warugan Lemah—menegaskan bahwa pangan dalam tradisi Sunda memiliki dimensi nutrisi sekaligus sakral.

Teknik Memasak Kuno dan Peran Juru Masak

Sejak abad ke-15, masyarakat Sunda telah menguasai metodologi pengolahan makanan yang sangat kompleks. Naskah Siksa Kandang Karesian mencatat sedikitnya 14 teknik memasak yang mencerminkan kekayaan kosakata kuliner kuno. Pengolahan bahan pangan mencakup teknik penyiapan seperti nyupar-nyapir (menyuwir daging), hahanyangan (mencincang daging), dan raramësann (mencampur bahan). Untuk teknik pematangan, dikenal metode bëbëlëman (membakar), papanggangan (memanggang), serta rara mandi (memasak dengan kuah atau sayur berkuah).

Selain itu, masyarakat Sunda kuno sangat memperhatikan cita rasa dan aroma melalui teknik nyopong koneng (memasukkan kunyit, serupa teknik betutu), nyayang ku pëdës (mengolah dengan lada dalam jumlah banyak), nyësëngit atau diruruum/di-amis-amis (memberi aroma wewangian dan rasa manis), hingga nyocobek (mengolah makanan di atas cobek).

Ragam metodologi ini makin diperkaya oleh teknik khusus seperti nyarëngsëng (mengangkep hingga daging mengembang), nyanglarkën, serta kakasian—sebuah teknik memasak khusus yang bahkan jejaknya telah ditemukan sejak prasasti abad ke-10.

Kemahiran memasak juga menjadi indikator maturitas sosial. Dalam Carita Pantun Nyi Sumur Bandung, terdapat kritik humoris mengenai "masakan buruk" sebagai tanda ketidaksiapan sosial, seperti membuat wajit menggunakan terasi atau pencok menggunakan jaringao.

Secara profesional, dapur Sunda kuno mengenal pembagian fungsi yang ketat, terutama dalam konteks hajatan atau rumah tangga bangsawan: Pangéjo (urusan nasi), Panutu (urusan kayu bakar), Tunggu Dapur (penjaga api), dan Hareup Catra (juru masak utama). Pembagian kerja ini mencerminkan struktur organisasi dapur yang efisien dan terspesialisasi.

Dinamika Kuliner Sunda: Lintas Agama, Kolonialisme, dan Zaman

Gastronomi Sunda adalah entitas hidup yang terus bertransformasi. Masuknya Islam secara signifikan menggeser peta konsumsi daging masyarakat. Daging babi, yang pada catatan Tomé Pires (1512) masih umum dikonsumsi, kini menjadi pantangan mutlak dan digantikan sepenuhnya oleh sumber protein yang sesuai dengan syariat.

Aktivitas pemetikan teh di Jawa Barat pada kurun 1920–1940. Perkebunan teh di Jawa Barat saat itu melahirkan identitas rasa baru bagi masyarakat Sunda. (Sumber: KITLV)
Aktivitas pemetikan teh di Jawa Barat pada kurun 1920–1940. Perkebunan teh di Jawa Barat saat itu melahirkan identitas rasa baru bagi masyarakat Sunda. (Sumber: KITLV)

Interaksi pada masa kolonial turut membentuk identitas rasa baru. Masuknya cabai dari benua Amerika perlahan menggantikan lada (pedes) sebagai bahan pedas utama. Di sisi lain, kebijakan Preangerstelsel atau sistem tanam paksa kopi yang diberlakukan oleh VOC di wilayah Parahyangan sejak awal abad ke-18 (sekitar tahun 1720), melahirkan tradisi minum teh dan kopi yang mengakar kuat. Fenomena amis kopi—yakni rasa manis alami dari kulit buah kopi matang—menjadi bukti nyata bagaimana kebijakan ekonomi kolonial merasuk hingga ke memori rasa masyarakat.

Peran K.F. Holle melalui bukunya, Mitra Noe Tani (1871), juga menghadirkan diskusi akademik yang menarik. Holle memperkenalkan tanaman pangan baru seperti kentang dan jagung demi meningkatkan kedaulatan pangan rakyat. Hal ini memicu pertanyaan tersendiri: apakah Holle sekadar menyesuaikan diri dengan pola makan vegetaris Sunda yang sudah ada, ataukah diseminasi teknik bertaninya yang justru memperkuat budaya konsumsi sayur-mayur di Parahyangan? Bagaimanapun, intervensinya menjadi salah satu fase krusial dalam modernisasi pertanian setempat.

Warisan Peradaban yang Masih Terpelihara

Gastronomi Sunda adalah sebuah dokumen peradaban yang masih bisa dicicipi hingga hari ini. Kelentingan budaya ini terbukti dari ketahanan teknik-teknik kuno yang berasal dari era Maharaja di Pakuan, seperti kéré (ikan/daging kering), disaratén (sate), dan pais (pepes).

Memahami sejarah pangan Sunda adalah memahami sejarah adaptasi manusia terhadap semesta. Dari struktur kepemilikan boga hingga reinterpretasi rasa pelem, gastronomi Sunda membuktikan bahwa identitas sebuah bangsa tidak hanya tertulis dalam naskah, tetapi juga tersaji di atas piring sebagai manifestasi filosofis yang terus hidup melintasi zaman. (*)

Referensi:

  • Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Barat. (2025). ENSIKLOPEDIA KI SUNDA JILID 2. Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP2D) Provinsi Jawa Barat.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)