Jangan Sepelekan Buah Sukun

4 menit baca
bram herdiana
Ditulis oleh bram herdiana diterbitkan
Buah sukun. (Sumber: Pexels | Foto: Quang Nguyen Vinh)
Buah sukun. (Sumber: Pexels | Foto: Quang Nguyen Vinh)

Di Kota Bandung tanaman sukun atau breadfruit sekarang ini sedang berbuah, dibeberapa tempat atau pinggir jalan banyak terlihat buah sukun yang mulai tumbuh dan membesar, seperti di kawasan Lapangan Saparua, Diponegoro atau Cicendo. Namun tidak diketahui informasinya, siapa atau bagaimana supaya masyarakat dapat memanfaatkan buah sukun tersebut ? padahal sukun bisa menjadi sumber karbohidrat selain beras atau umbi-umbian lainnya.

Sudah saatnya masyarakat perkotaan melirik sukun sebagai sumber pangan alternatif. Selain mengandung berbagai zat gizi, sukun berpotensi membantu mengurangi ketergantungan terhadap beras sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Beras telah menjadi makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak masyarakat Kota Bandung khususnya, merasa belum makan apabila tidak menyuapkan nasi. Kebiasaan ini begitu kuat sehingga beras seolah-olah menjadi satu-satunya sumber karbohidrat yang layak dikonsumsi. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan sumber pangan lokal yang beragam, salah satunya adalah sukun.

Ketika harga beras melambung, masyarakat perlu mulai memikirkan pilihan pangan yang lebih beragam dan terjangkau. Kenaikan harga beras dapat menambah beban pengeluaran rumah tangga, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah di perkotaan. Di tengah kondisi tersebut, sukun layak mendapat perhatian sebagai salah satu alternatif pangan yang dapat membantu mengurangi konsumsi beras.

Seperti kutipan ini, sukun dapat menghasilkan buah hingga 200 buah per pohon per tahun. Masing-masing buah beratnya antara 400-1200 gr, tetapi ada pula varietas yang buahnya mencapai 5 kg. Nilai energinya antara 470-670 kJ per 100 gram. Tidak mengherankan bila sukun menarik minat para penjelajah Barat, yang kemudian mengimpor tanaman ini dari Tahiti ke Karibia pada sekitar akhir 1780-an untuk menghasilkan makanan murah bagi para budak di sana.

Sukun bukanlah tanaman asing bagi masyarakat kawasan tropis seperti Indonesia. Pohonnya tumbuh di berbagai wilayah nusantara termasuk di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan sejumlah daerah lainnya. Buahnya dapat diolah menjadi beragam makanan, mulai dari sukun kukus, sukun rebus, sukun panggang, hingga tepung sukun untuk bahan berbagai produk pangan.

Sayangnya, potensi sukun belum sepenuhnya dimanfaatkan, khususnya oleh masyarakat perkotaan. Di pasar modern, pusat perbelanjaan, dan kawasan permukiman padat, beras tetap menjadi pilihan utama, sedangkan sukun sering kali hanya dipandang sebagai makanan selingan atau camilan tradisional. Padahal, jika diolah dan diposisikan dengan tepat, sukun dapat menjadi bagian dari menu utama keluarga.

Salah satu alasan sukun pantas dikembangkan sebagai alternatif pangan adalah kandungan gizinya. Sukun mengandung karbohidrat yang dapat menjadi sumber energi bagi tubuh. Selain itu, buah ini menyediakan serat pangan, sejumlah vitamin, dan mineral, termasuk kalium, magnesium, serta fosfor dalam jumlah yang bervariasi sesuai varietas, tingkat kematangan, dan cara pengolahannya.

Meskipun demikian, kandungan zat gizi sukun tidak berarti bahwa buah ini otomatis lebih unggul daripada beras dalam semua aspek. Keduanya memiliki karakteristik gizi yang berbeda. Sukun dapat menjadi sumber karbohidrat alternatif, sedangkan kebutuhan protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral lainnya tetap perlu dipenuhi melalui makanan yang beragam.

Masyarakat Kota Bandung menghadapi tantangan pangan yang berbeda dibandingkan masyarakat yang tinggal di wilayah pedesaan. Keterbatasan lahan, kesibukan bekerja, serta kebiasaan berbelanja di pasar dan supermarket membuat banyak keluarga bergantung pada bahan pangan yang mudah diperoleh dan praktis diolah.

Waktu sekarang dengan melimpahnya buah sukun ataupun di masa mendatang, maka masyarakat Kota Bandung harus bisa memanfaatkannya sebagai sumber pangan. Tanaman sukun yang ada di Kota Bandung tersebut tumbuhnya bisa dimana saja seperti di pinggir jalan raya, di kawasan-kawasan untuk umum, halaman-halaman kantor, sehingga hal ini perlu perijinan buat masyarakat yang mau mengambil atau memanfaatkan sukun tersebut. Ketika buah sukun makin matang sekali banyak berjatuhan sehingga tidak dapat dimanfaatkan karena masyarakat masih bingung karena belum ada aturan tentang pemanfaatan buah sukun oleh masyarakat umum.

Masyarakat mungkin melihat buah sukun yang jatuh di pinggir jalan sebagai buah yang tidak bertuan. Akan tetapi, buah yang berada di ruang publik tidak otomatis bebas diambil tanpa izin. Status kepemilikan pohon, status lahan, aturan pengelola, dan keadaan harus diperiksa.

Karena itu, pemerintah perlu menciptakan mekanisme peraturan yang membedakan agar tidak ada tuduhan pencurian atau perbuatan kriminal, misalnya mengambil buah sukun yang ada di lokasi atau kawasan-kawasan tersebut di atas secara resmi diperbolehkan.

Dengan kebijakan yang transparan, warga tidak perlu menebak-nebak apakah tindakan mereka diperbolehkan. Pemerintah juga perlu mengenalkan kebijakan tersebut kepada petugas keamanan, petugas kebersihan, Satpol PP, dan pengelola fasilitas umum agar pelaksanaannya konsisten.

Apabila terjadi kesalahpahaman, petugas sebaiknya memeriksa kronologis dan menjelaskan ketentuan atau aturan yang berlaku. Tidak setiap pengambilan buah otomatis merupakan tindak pidana, penilaian hukumnya bergantung pada data-data dan unsur hukum yang diepakati.

Hayu ahh,,,,gaaasskeun ngala Sukun! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Nov 2026, 10:22

Jangan Sepelekan Buah Sukun

Saat ini pohon Sukun di Kota Bandung sedang berbuah sementara pohon-pohonnya tersebar dan berada di pinggir jalan, raya,, di tempat-tempat umum dan perkantoran.

Buah sukun. (Sumber: Pexels | Foto: Quang Nguyen Vinh)
Ayo Netizen 06 Nov 2026, 08:49

Ngopi Tahun 1980-an

Banyak warung kopi sederhana yang menjadi tempat mangkal untuk menikmati secangkir kopi tubruk di Kota Bandung pada dekade tahun 1980-an.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 20:21

Potensi Hutan Babakan Siliwangi Bandung sebagai Destinasi Wisata

Bandung menjadi salah satu kota yang masih memiliki hutan kota. Hutan Babakan Siliwangi Bandung berpotensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata, selain penyeimbang udara bersih dari polusi.

Hutan Kota Babakan Siliwangi, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 20:09

Karhutla dan Kabut Asap Menjadi Berita Utama Surat Kabar Daerah-Nasional hingga Internasional

Besarnya perhatian terhadap bencana ekologis tercermin dari pemberitaan berbagai surat kabar daerah, nasional, hingga internasional.

Sejumlah surat kabar daerah yang menyoroti peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 19:08

Dari Papua ke Jawa Barat: Karhutla dan Peran Warga Bandung

Dari karhutla Papua hingga kejadian di Bandung, mari jaga lingkungan lewat 4 langkah sederhana pencegahan kebakaran di sekitar rumah.

Ilustrasi kebakaran hutan di Papua. (Sumber: AI Generator | Foto: Ilustrasi AI)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 18:23

Hanya Sepekan: Asap Karhutla Kembali Penuhi Langit Palangkaraya

Baru saja genap sepekan langit Palangka Raya bersih karena sudah turun hujan. Namun kabar baik tersebut tidak berlangsung lama setelah pembakaran hutan kembali terjadi.

Asap Karhutla kembali penuhi langit Palangkaraya. (Sumber: Instagram| info.kalteng)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 17:25

10 Netizen Terpilih Oktober 2026: Menangkap Isu Hujan, Bencana, dan Wajah Kota Bandung

10 penulis terbaik Ayo Netizen Oktober 2026 diumumkan. Dari isu hujan dan bencana hingga wajah kota Bandung, total hadiah Rp1,5 juta.

Banjir yang menggenangi Jalan Raya Pluto, Margahayu, Kota Bandung, Rabu 14 Mei 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 16:45

Apakah Buku Fisik Mulai Menjadi Bagian dari Masa Lalu?

Analisis kebiasaan membaca digital mahasiswa Indonesia beserta tiga keterbatasan data yang perlu dicermati sebelum menyimpulkan nasib buku cetak.

Contoh buku fisik berjudul Pride and Prejudice karya Jane Austen. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Dila Ananda Pratama)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 13:57

Menemukan Manisnya Ketan Susu Bang Zul, Hidden Gem Kuliner di Ujung Berung

Ketan Susu Bang Zul, salah satu hidden gem kuliner di Ujung Berung, Bandung. Sajian ketan susu dengan beragam topping, menawarkan perpaduan rasa manis, gurih, dan tekstur yang menggugah selera.

Ketan Susu Bang Zul. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 12:24

Éling ka Wiwitan, Sadar ka Wekasan: Membangun Bandung Tangguh Bencana

Kota tangguh bencana tidak dibangun ketika bencana datang, melainkan jauh sebelumnya melalui kesadaran mengenali risiko dan keberanian melakukan mitigasi.

Pembangunan kota harus dimulai dengan kesadaran bersama terhadap risiko bencana. (Sumber: pexels | Foto: alfian light)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 11:11

Lagu ‘Halo-Halo Bandung’ Kala Persib Tandang di Negeri Orang

Tanpa harus merencanakan sebuah pertunjukan kebudayaan, para bobotoh Persib membawa salah satu simbol sejarah Bandung ke hadapan publik internasional.

Pemain Persib merayakan kemenangan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 07:57

Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor: Merawat Welas Asih dari Jalanan

Di tengah rezim yang sewenang-wenang, Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor kembali menyatukan suara korban yang diabaikan dan menjaga nyala welas asih sebagai napas panjang perlawanan di jalanan.

Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor di Braga, 29 Agustus 2026 (Foto: Iqa Kinanti Nandakasih)
Mitra 04 Nov 2026, 20:29

Dari 475 Pendaftar, 35 Jurnalis Terpilih Raih Beasiswa S2 BRI Fellowship Journalism 2026

BRI resmi mengukuhkan 35 jurnalis sebagai penerima beasiswa pascasarjana lewat Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026.

BRI resmi mengukuhkan 35 jurnalis sebagai penerima beasiswa pascasarjana lewat Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026. (Sumber: Dok. BRI)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 19:59

Setelah Kedua Arca Kebun Binatang Ditemukan, Lantas Apa dan Bagaimana?

Berbulan-bulan lamanya kita seolah sibuk mencari, lalu apa? Kenapa kita mencari? Apa yang kita cari? Apa bedanya saat "hilang" dan saat sudah ditemukan jika perlakuan terhadapnya tak banyak berubah?

(Ilustrasi Arca) Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 16:40

Bagaimana Album Tigapagi Menjaga Nyala Ingatan Kolektif di Nusantara Dharma Book Festival 7.0

Di hadapan Indonesia yang kian karut-marut, penampilan Tigapagi di NDBF 7.0 menjadi ruang merawat akal sehat dan luka sejarah, mengajak kita menatap trauma tanpa kehilangan harapan untuk bertahan.

Penampilan Tigapagi pada malam penutupan Nusantara Dharma Book Festival 7.0 (Sumber: NDBF 7.0 | Foto: Tim dokumentasi NDBF 7.0)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 16:11

Bandung dan Hujannya yang Selalu Bikin Was-Was

Bandung di musim hujan memang memberikan kesegaran udara tapi selalu menunjukkan was-was karena menyebabkan banjir dan potensi kehilangan nyawa.

Kondisi  Langit Bandung menjelang Hujan di Soekarno Hatta. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 15:19

Review Film The Love Hypothesis: Film Rom-com Kampus yang Menguji Cinta

Review film The Love Hypothesis yang memadukan pola fake dating dan grumpy x sunshine dengan latar akademik. Meski alurnya mudah ditebak, kedekatan tokohnya tetap menghibur.

Poster Film The Love Hypothesis. (Sumber: Primevideo)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 14:12

Jabar Juara Judol, Sungguh Memprihatinkan dan Mencemaskan

Besarnya jumlah pemain judol di Jabar semakin terasa ketika melihat duit yang terlibat. Sepanjang tahun 2024, ditaksir deposit judol di Jabar mencapai Rp5,97 triliun.

Ilustrasi judi online. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:39

Ironi-Ironi dalam Nikah Siri

Refleksi pernikahan siri di Indonesia.

irono-Ironi dalam Nikah Siri (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:15

Istilah Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Pelajari istilah besar guncangan gempa bumi dalam Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta. Temukan kekayaan kosakata tradisional untuk tingkatan getaran bencana alam kuno Nusantara di sini!

Gempa Bumi Dahsyat (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)