Ngopi Tahun 1980-an

4 menit baca
bram herdiana
Ditulis oleh bram herdiana diterbitkan
Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung)
Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung)

Menyeruput secangkir kopi atau ngopi pada tahun 1980-an tentu sangat kontras dengan tempat ngopi masa sekarang. Banyak kenangan tentang Kota Bandung dekade 1980-an yang bisa saja tidak ditemukan lagi dalam kehidupan kota sekarang.

Pada masa itu, menikmati kopi bukan sekadar kegiatan untuk menghilangkan tunduh, namun merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Warung kopi menjadi tempat singgah bagi banyak kalangan, mulai dari tukang becak, sopir angkutan kota, pedagang, buruh, pegawai hingga orang-orang yang ingin menghabiskan waktu berbincang-bincang dengan siapapun yang ada di warung kopi, sambil bermain catur, gapleh atau remi.

Kalau membayangkan nuansa Bandung tahun 1980-an, warung kopi biasanya berdiri di tempat yang strategis. Tidak perlu bangunan permanen atau ruangan nan sejuk. Cukup sebuah bangunan kecil dengan tiang kayu, dinding dari papan, bilik atau anyaman bambu, dan atap sederhana. Lokasinya sering berada di perempatan jalan, dekat pangkalan becak, terminal, pasar tradisional, atau persimpangan tempat orang banyak berlalu-lalang.

Ketika pagi udara Bandung masih terasa dingin dan sering berkabut, warung kopi sudah mulai buka. Di depan warung, beberapa tukang becak biasanya sudah berkumpul. Ada yang sedang menunggu penumpang, ada yang baru selesai mengantar seseorang ke pasar, dan ada pula yang sekadar ingin menikmati kopi sebelum kembali mengayuh becaknya mencari penumpang.

Meracik kopinya juga masih sederhana. Peralatan dan bahan hanya kompor minyak tanah, teko besar atau panci, gelas-gelas kaca, stoples kopi bubuk dan gula pasir. Kompor minyak tanah menjadi bagian penting, api kecilnya menyala untuk menjaga air selalu panas. Teko besar atau panci yang digunakan untuk merebus dan menyimpan air panas.

Kopi yang disajikan umumnya kopi hitam. Tidak banyak pilihan seperti sekarang. Tidak ada istilah espresso, latte, americano, atau kopi dengan berbagai campuran rasa. Cukup kopi bubuk, air panas, dan gula pasir, karena saat itu belum populer kopi es. Pemilik warung memasukkan beberapa sendok kopi, gula ke dalam gelas, kemudian menuangkan air panas. aroma kopi langsung menyebar terasa. Bagi para penikmatnya, aroma itu mampu membangkitkan kembali gairah hidupnya.

Ada pelanggan yang meminta kopi pahit tanpa gula. Ada pula yang menyukai kopi dengan gula pasir cukup banyak. Sebagian memilih tambahan susu kental manis agar rasa kopi menjadi lebih lembut dan manis. Takaran penggunaannya disesuaikan dengan selera pelanggan. Kopi kemudian diaduk menggunakan sendok kecil hingga gula dan susu tercampur rata.

Biji kopi Arabika asal Jabar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Biji kopi Arabika asal Jabar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Pelanggan biasanya memegang bagian atas gelas dengan hati-hati karena panas. Ada yang langsung menyeruput sedikit demi sedikit, ada pula yang menunggu beberapa menit sampai suhunya lebih nyaman diminum. Menariknya, kopi di warung seperti ini sering kali terasa lebih nikmat ketika diminum sambil duduk di bangku panjang dan menyaksikan kesibukan masyarakat sekitarnya.

Obrolan biasanya dimulai dari hal-hal sederhana. Tentang cuaca Bandung yang dingin, kondisi jalan yang mulai ramai, harga beras, harga minyak tanah, atau kabar tentang pasar yang sedang ramai pembeli. Warung kopi bukan hanya tempat minum. Di sinilah berbagai macam materi percakapan berlangsung. Ketika suasana mulai ramai, pembicaraan bisa berkembang ke mana-mana.

Ada yang membicarakan pertandingan sepak bola, terutama klub kesayangan mereka. Persib Bandung menjadi salah satu bahan pembicaraan yang menarik. Kemenangan atau kekalahan Persib bisa menjadi topik yang diobrolkan cukup panjang. Tidak jarang pula muncul perdebatan kecil mengenai politik, kebijakan pemerintah, keadaan ekonomi, atau berita yang masyarakat ketahui melalui TVRI, radio dan surat kabar.

Menariknya, percakapan di warung kopi berlangsung tanpa harus membuat janji. Siapa pun boleh bergabung. tidak terhalang oleh jabatan, pekerjaan, atau status sosial. Seorang pedagang bisa duduk berdampingan dengan pegawai kantor, tukang becak, atau sopir angkutan kota.

Ngopi tentu terasa kurang lengkap tanpa makanan kecil. Warung kopi Bandung pada masa itu biasanya menyediakan berbagai jenis kue tradisional dan gorengan seperti bakwan. Untuk pilihan kue, ada bolu kukus, kue lapis, onde-onde, nagasari, lemper, dan beberapa jajanan pasar lainnya. Jenis makanan yang tersedia bergantung pada pemilik warung dan pemasok kue dari pasar sekitar.

Cara orang menikmati kopi juga berubah, kopi pun punya filosofi. Kopi tidak lagi sekadar minuman hitam dengan gula pasir atau susu kental manis. Kopi telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup perkotaan. Namun, ada sesuatu yang mungkin tidak bisa digantikan oleh berbagai kemewahan kedai kopi masa kini yaitu suasana obrolan dan kebersamaan yang tumbuh secara alami di warung kopi sederhana. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Nov 2026, 10:22

Jangan Sepelekan Buah Sukun

Saat ini pohon Sukun di Kota Bandung sedang berbuah sementara pohon-pohonnya tersebar dan berada di pinggir jalan, raya,, di tempat-tempat umum dan perkantoran.

Buah sukun. (Sumber: Pexels | Foto: Quang Nguyen Vinh)
Ayo Netizen 06 Nov 2026, 08:49

Ngopi Tahun 1980-an

Banyak warung kopi sederhana yang menjadi tempat mangkal untuk menikmati secangkir kopi tubruk di Kota Bandung pada dekade tahun 1980-an.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 20:21

Potensi Hutan Babakan Siliwangi Bandung sebagai Destinasi Wisata

Bandung menjadi salah satu kota yang masih memiliki hutan kota. Hutan Babakan Siliwangi Bandung berpotensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata, selain penyeimbang udara bersih dari polusi.

Hutan Kota Babakan Siliwangi, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 20:09

Karhutla dan Kabut Asap Menjadi Berita Utama Surat Kabar Daerah-Nasional hingga Internasional

Besarnya perhatian terhadap bencana ekologis tercermin dari pemberitaan berbagai surat kabar daerah, nasional, hingga internasional.

Sejumlah surat kabar daerah yang menyoroti peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 19:08

Dari Papua ke Jawa Barat: Karhutla dan Peran Warga Bandung

Dari karhutla Papua hingga kejadian di Bandung, mari jaga lingkungan lewat 4 langkah sederhana pencegahan kebakaran di sekitar rumah.

Ilustrasi kebakaran hutan di Papua. (Sumber: AI Generator | Foto: Ilustrasi AI)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 18:23

Hanya Sepekan: Asap Karhutla Kembali Penuhi Langit Palangkaraya

Baru saja genap sepekan langit Palangka Raya bersih karena sudah turun hujan. Namun kabar baik tersebut tidak berlangsung lama setelah pembakaran hutan kembali terjadi.

Asap Karhutla kembali penuhi langit Palangkaraya. (Sumber: Instagram| info.kalteng)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 17:25

10 Netizen Terpilih Oktober 2026: Menangkap Isu Hujan, Bencana, dan Wajah Kota Bandung

10 penulis terbaik Ayo Netizen Oktober 2026 diumumkan. Dari isu hujan dan bencana hingga wajah kota Bandung, total hadiah Rp1,5 juta.

Banjir yang menggenangi Jalan Raya Pluto, Margahayu, Kota Bandung, Rabu 14 Mei 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 16:45

Apakah Buku Fisik Mulai Menjadi Bagian dari Masa Lalu?

Analisis kebiasaan membaca digital mahasiswa Indonesia beserta tiga keterbatasan data yang perlu dicermati sebelum menyimpulkan nasib buku cetak.

Contoh buku fisik berjudul Pride and Prejudice karya Jane Austen. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Dila Ananda Pratama)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 13:57

Menemukan Manisnya Ketan Susu Bang Zul, Hidden Gem Kuliner di Ujung Berung

Ketan Susu Bang Zul, salah satu hidden gem kuliner di Ujung Berung, Bandung. Sajian ketan susu dengan beragam topping, menawarkan perpaduan rasa manis, gurih, dan tekstur yang menggugah selera.

Ketan Susu Bang Zul. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 12:24

Éling ka Wiwitan, Sadar ka Wekasan: Membangun Bandung Tangguh Bencana

Kota tangguh bencana tidak dibangun ketika bencana datang, melainkan jauh sebelumnya melalui kesadaran mengenali risiko dan keberanian melakukan mitigasi.

Pembangunan kota harus dimulai dengan kesadaran bersama terhadap risiko bencana. (Sumber: pexels | Foto: alfian light)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 11:11

Lagu ‘Halo-Halo Bandung’ Kala Persib Tandang di Negeri Orang

Tanpa harus merencanakan sebuah pertunjukan kebudayaan, para bobotoh Persib membawa salah satu simbol sejarah Bandung ke hadapan publik internasional.

Pemain Persib merayakan kemenangan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 07:57

Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor: Merawat Welas Asih dari Jalanan

Di tengah rezim yang sewenang-wenang, Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor kembali menyatukan suara korban yang diabaikan dan menjaga nyala welas asih sebagai napas panjang perlawanan di jalanan.

Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor di Braga, 29 Agustus 2026 (Foto: Iqa Kinanti Nandakasih)
Mitra 04 Nov 2026, 20:29

Dari 475 Pendaftar, 35 Jurnalis Terpilih Raih Beasiswa S2 BRI Fellowship Journalism 2026

BRI resmi mengukuhkan 35 jurnalis sebagai penerima beasiswa pascasarjana lewat Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026.

BRI resmi mengukuhkan 35 jurnalis sebagai penerima beasiswa pascasarjana lewat Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026. (Sumber: Dok. BRI)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 19:59

Setelah Kedua Arca Kebun Binatang Ditemukan, Lantas Apa dan Bagaimana?

Berbulan-bulan lamanya kita seolah sibuk mencari, lalu apa? Kenapa kita mencari? Apa yang kita cari? Apa bedanya saat "hilang" dan saat sudah ditemukan jika perlakuan terhadapnya tak banyak berubah?

(Ilustrasi Arca) Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 16:40

Bagaimana Album Tigapagi Menjaga Nyala Ingatan Kolektif di Nusantara Dharma Book Festival 7.0

Di hadapan Indonesia yang kian karut-marut, penampilan Tigapagi di NDBF 7.0 menjadi ruang merawat akal sehat dan luka sejarah, mengajak kita menatap trauma tanpa kehilangan harapan untuk bertahan.

Penampilan Tigapagi pada malam penutupan Nusantara Dharma Book Festival 7.0 (Sumber: NDBF 7.0 | Foto: Tim dokumentasi NDBF 7.0)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 16:11

Bandung dan Hujannya yang Selalu Bikin Was-Was

Bandung di musim hujan memang memberikan kesegaran udara tapi selalu menunjukkan was-was karena menyebabkan banjir dan potensi kehilangan nyawa.

Kondisi  Langit Bandung menjelang Hujan di Soekarno Hatta. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 15:19

Review Film The Love Hypothesis: Film Rom-com Kampus yang Menguji Cinta

Review film The Love Hypothesis yang memadukan pola fake dating dan grumpy x sunshine dengan latar akademik. Meski alurnya mudah ditebak, kedekatan tokohnya tetap menghibur.

Poster Film The Love Hypothesis. (Sumber: Primevideo)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 14:12

Jabar Juara Judol, Sungguh Memprihatinkan dan Mencemaskan

Besarnya jumlah pemain judol di Jabar semakin terasa ketika melihat duit yang terlibat. Sepanjang tahun 2024, ditaksir deposit judol di Jabar mencapai Rp5,97 triliun.

Ilustrasi judi online. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:39

Ironi-Ironi dalam Nikah Siri

Refleksi pernikahan siri di Indonesia.

irono-Ironi dalam Nikah Siri (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:15

Istilah Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Pelajari istilah besar guncangan gempa bumi dalam Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta. Temukan kekayaan kosakata tradisional untuk tingkatan getaran bencana alam kuno Nusantara di sini!

Gempa Bumi Dahsyat (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)