Setelah Kedua Arca Kebun Binatang Ditemukan, Lantas Apa dan Bagaimana?

4 menit baca
Garbi Cipta Perdana
Ditulis oleh Garbi Cipta Perdana diterbitkan
(Ilustrasi Arca) Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
(Ilustrasi Arca) Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)

Jelas saya senang saat mengetahui dua arca yang berbulan-bulan bikin heboh karena dilaporkan hilang dari Kebun Binatang Bandung akhirnya diserahkan kembali kepada Pemerintah Kota Bandung.

Berdasarkan pemberitaan Koran Gala (8 Oktober 2026), penyerahan arca Durga Mahisasuramardini dan Agastya itu berlangsung di Sekretariat Angkatan Muda Siliwangi (AMS) Jalan Braga setelah melalui proses mediasi.

Pihak keluarga Raden Ema Bratakusumah mengklarifikasi bahwa kedua arca tersebut tidak dicuri, melainkan berinisiatif "diamankan dan dibersihkan" dari kediaman internal karena sebelumnya tergeletak di tempat yang tidak layak—bahkan sempat berada di bawah kompor.

Beberapa hari lalu saya mendapat tugas untuk mengunjungi Jalan Seram Nomor 2. Kantor tersebut ternyata menjadi tempat kedua arca itu disimpan.

Kepada seorang rekan sejawat saya menanyakan keberadaan arca itu. Ia lantas mengajak saya memasuki satu ruangan.

Di situlah saya menyaksikan dengan kedua mata saya yang dibantu oleh kacamata untuk melihat secara langsung Arca Agastya dan Arca Durga dari Derenten untuk pertama kalinya.

Pengalaman itu saya tulis dalam catatan pribadi saya:

Inilah kebudayaan itu: keranjang sampah biru berlapis kantong plastik hitam, di sebelah timurnya terdapat Arca Durga dan Arca Agastya. Di antara kedua arca tersebut terdapat sejoli sandal jepit yang sama-sama beralaskan kardus lusuh—mencirikan penggunaan ulang demi menerapkan prinsip ramah lingkungan. Mana yang lampau, mana yang kini. Mana yang sakral, mana yang profan. Mana yang adiluhung, mana yang picisan. Inilah kebudayaan itu: bukti bahwa nilai ditentukan oleh ruang, dan tentu saja oleh manusia. Acak corak, campur aduk. Bahu-membahu mencipta konteks yang baru, memicu tafsir yang tidak satu, yang terus melaju. Mencerminkan cara pandang/hidup manusia di belakangnya, tentang apa dan bagaimana dunia dipijak dan dimaknai dari waktu ke waktu oleh manusianya."

Peristiwa di ujung sore itu memicu pertanyaan dalam isi kepala saya. Setelah ditemukan, lantas apa dan bagaimana yang seharusnya perlu dilakukan selanjutnya?

Berbulan-bulan lamanya kita seolah sibuk mencari, lalu apa? Kenapa kita mencari? Apa yang kita cari? Apa bedanya saat "hilang" dan saat sudah ditemukan jika perlakuan terhadapnya tak banyak berubah?

Saya pun cukup tergelitik untuk berkomentar. Tapi agak sungkan karena takut dikira cari panggung, cari kerjaan, atau iri karena teu kapake. Tapi tak apa.

Langkah perangkat daerah yang membidangi kearsipan dalam mengamankan arca ini patut diapresiasi sebagai tindakan penyelamatan darurat. Namun, agar prosesnya tuntas secara peraturan perundang-undangan yang berlaku, tahapan berikutnya memerlukan pengambilalihan teknis oleh perangkat daerah yang membidangi kebudayaan.

Sebagaimana pernah saya ulas dalam tulisan Telusur Arca Derenten: Ikonografi Durga-Agastya, Omon-Omon dari Kebun Binatang ke Museum Kota di AyoBandung.id, kedua arca batu andesit tersebut secara ikonografi merupakan manifestasi Durga Mahisasuramardini dan Agastya dari era klasik.

Keberadaan kedua arca di Kebun Binatang Bandung sejak masa Hindia Belanda adalah bagian dari daur hidup artefak fisik yang tentunya membutuhkan pelestarian oleh lembaga yang tepat.

Dalam kerangka Pemajuan Kebudayaan (UU No. 5/2017), peran perangkat daerah yang mengampu kebudayaan dan kearsipan sebenarnya sudah terbagi presisi jika kita menakarnya lewat Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK).

Ada pun IPK Kota Bandung pada tahun 2023 masih berada di angka 52,57 meningkat menjadi 55,88 pada 2024. Meski capaian ini sedikit melampaui rata-rata Jawa Barat (55,50), posisinya masih berada di bawah rerata nasional (57,13). Ketertinggalan ini wajar terjadi ketika kami di birokrasi belum sepenuhnya memahami indikator penilaiannya.

Urusan pendaftaran, penetapan, dan pengasuhan artefak fisik adalah beban langsung Dimensi Warisan Budaya di bawah perangkat daerah yang membidangi kebudayaan sesuai UU No. 11/2010 tentang Cagar Budaya. Sementara kearsipan berfokus pada Dimensi Literasi dan dokumen rekam informasi sesuai UU No. 43/2009.

Ketika arca batu justru disimpan di kantor kearsipan, batas peran teknis antar-instansi malah jadi membingungkan. Memang, dalam perkembangan kekinian muncul konsep baru yang dikenal dengan GLAM (Galleries, Libraries, Archives, and Museums) yang memadukan fungsi keempat tempat tersebut menjadi satu padu pusat kebudayaan.

Namun, dalam konteks tata kelola birokrasi kita saat ini, ketegasan pembagian fungsi dan pengampuan regulasi tetap menjadi kunci agar proses pelestariannya tidak terhenti di tengah jalan. Sebab, kembali lagi ke poinnya adalah bahwa pelestarian tidak selesai hanya pada saat menyimpan saja. Perlu ada pengembangan, perlu ada pemanfaatan, agar keberadaan warisan budaya ini dapat kita rasakan.

Oke. Ini mungkin beberapa catatan yang perlu kita lakukan. Pertama-tama, kita perlu mendaftarkan kedua arca ini ke dalam Data Pokok Kebudayaan (Dapobud) dan Registrasi Nasional Cagar Budaya, lalu disusul sidang kajian akademis oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) untuk dijadikan dasar dalam menerbitkan Keputusan Wali Kota.

Sebab, penyelamatan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) tidak boleh berhenti pada aksi seremonial pengembalian dari pihak keluarga. Pemerintah Kota Bandung harus segera mengambil langkah konkret dan terukur.

Tak kalah penting adalah riset mendalam soal asal-usul (the origin of the object) untuk merekonstruksi jejaknya yang minim dalam arsip-arsip zaman penjajah, mengingat artefak batu era klasik tergolong sangat langka di wilayah Kota Bandung.

Tahapan ini lantas bermuara pada konservasi fisik serta komunikasi publik—dua hal yang menjadi tugas utama dari sebuah museum.

Oleh karena itu, pemindahan kedua arca ke Museum Sejarah Kota Bandung di Jalan Aceh Nomor 47 merupakan langkah yang sangat strategis.

Seperti yang sempat saya sentil terdahulu, museum tersebut selama ini terancam menjadi galeri statis—bahkan dikritik beberapa rekan dari Datinfo sebagai "museum printing" karena didominasi dinding cetak tanpa kehadiran artefak riil.

Dengan memboyong Arca Durga dan Agastya ke sana, museum tersebut akhirnya memiliki koleksi fisik otentik.

Kehadiran kedua arca ini akan mengubah Museum Sejarah Kota Bandung dari sekadar "tempat" menjadi lembaga kebudayaan yang bernyawa dan menjalankan fungsi utamanya secara utuh sesuai amanat UU Cagar Budaya dan PP No. 66/2015 tentang Museum. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Mitra 04 Nov 2026, 20:29

Dari 475 Pendaftar, 35 Jurnalis Terpilih Raih Beasiswa S2 BRI Fellowship Journalism 2026

BRI resmi mengukuhkan 35 jurnalis sebagai penerima beasiswa pascasarjana lewat Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026.

BRI resmi mengukuhkan 35 jurnalis sebagai penerima beasiswa pascasarjana lewat Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026. (Sumber: Dok. BRI)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 19:59

Setelah Kedua Arca Kebun Binatang Ditemukan, Lantas Apa dan Bagaimana?

Berbulan-bulan lamanya kita seolah sibuk mencari, lalu apa? Kenapa kita mencari? Apa yang kita cari? Apa bedanya saat "hilang" dan saat sudah ditemukan jika perlakuan terhadapnya tak banyak berubah?

(Ilustrasi Arca) Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 16:40

Bagaimana Album Tigapagi Menjaga Nyala Ingatan Kolektif di Nusantara Dharma Book Festival 7.0

Di hadapan Indonesia yang kian karut-marut, penampilan Tigapagi di NDBF 7.0 menjadi ruang merawat akal sehat dan luka sejarah, mengajak kita menatap trauma tanpa kehilangan harapan untuk bertahan.

Penampilan Tigapagi pada malam penutupan Nusantara Dharma Book Festival 7.0 (Sumber: NDBF 7.0 | Foto: Tim dokumentasi NDBF 7.0)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 16:11

Bandung dan Hujannya yang Selalu Bikin Was-Was

Bandung di musim hujan memang memberikan kesegaran udara tapi selalu menunjukkan was-was karena menyebabkan banjir dan potensi kehilangan nyawa.

Kondisi  Langit Bandung menjelang Hujan di Soekarno Hatta. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 15:19

Review Film The Love Hypothesis: Film Rom-com Kampus yang Menguji Cinta

Review film The Love Hypothesis yang memadukan pola fake dating dan grumpy x sunshine dengan latar akademik. Meski alurnya mudah ditebak, kedekatan tokohnya tetap menghibur.

Poster Film The Love Hypothesis. (Sumber: Primevideo)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 14:12

Jabar Juara Judol, Sungguh Memprihatinkan dan Mencemaskan

Besarnya jumlah pemain judol di Jabar semakin terasa ketika melihat duit yang terlibat. Sepanjang tahun 2024, ditaksir deposit judol di Jabar mencapai Rp5,97 triliun.

Ilustrasi judi online. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:39

Ironi-Ironi dalam Nikah Siri

Refleksi pernikahan siri di Indonesia.

irono-Ironi dalam Nikah Siri (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:15

Istilah Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Pelajari istilah besar guncangan gempa bumi dalam Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta. Temukan kekayaan kosakata tradisional untuk tingkatan getaran bencana alam kuno Nusantara di sini!

Gempa Bumi Dahsyat (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)