Beberapa waktu yang lalu saya melihat postingan dari Andrew Kalaweit selaku aktivis lingkungan juga konten kreator yang berasal dari Kalimantan Tengah yang mengabarkan bahwa sejak 3 Nov 2026 langit Palangkaraya telah kembali membiru sejak seminggu sebelumnya turun hujan.
Langit sudah mulai membiru, tetapi perjuangan masih belum selesai. Kebakaran hutan masih terjadi di beberapa tempat. Semoga hujan segera turun dan semua titik api bisa segera dipadamkan
Hujan dan Kuasa Tuhan memang bisa memadamkan api karhutla secara maksimal. Namun apa kerja pemerintah, jika mereka tidak berikhtiar sebagaimana layaknya seorang manusia. Menunggu hujan bukan satu-satunya cara yang bisa diandalkan. Karena hujan adalah fenomena alam maka kehadirannya tidak bisa dipaksakan.
Mendengar kondisi Palangkaraya yang kini jauh dari kepulan asap kuning pekat yang menyesakan dada juga membuat perih penglihatan, tentu saya senang. Mereka bisa kembali beraktifitas secara normal, melihat langin yang cerah dan yang terpenting bisa menghirup udara yang jauh lebih sehat.
Namun ternyata kabar baik itu tidak berlangsung lama karena saat keesokan harinya saya melihat snapgram dari narasumber saya sebelumnya yang menginformasikan asap karhutla telah kembali datang. Lewat story yang di unggahnya terdapat video yang bersumber dari info_kalteng yang memperlihatkan bagaimana asap karhutla kembali menutupi ruas jalan pun mengganggu jarak pandang saat berkendara.
Menurut deskripsi dari video tersebut dikatakan bahwa Warga Palangka Raya kembali harus menghirup udara pekat setelah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti wilayah pemukiman pada Rabu (4/11/26). Yang lebih membuat sedih adalah berdasarkan pantauan data kualitas udara dan air tercatat masuk dalam status "BERBAHAYA".
Untuk memastikan hal tersebut, saya kembali menyambung komunikasi dengan narasumber sebelumnya.
"Siang, ka, Bagaimana kondisi Palangka Raya sekarang? Sempet lihat di medsos katanya sudah mulai membaik sejak turun hujan."
"Siang, per hari ini kembali berasap lagi. Cuman seminggu aja cerahnya."

Kemudian saya memastikan dan menkonfirmasikan alasan asap karhutla kembali datang, apakah karena sisa pembakaran dari gambut yang kemarin belum selesai atau memang ada kebakaran kembali. Agak sesak ketika mendengar jawabannya karena beliau mengatakan: "Ada yang membakar baru ini".
Hingga detik pesan itu narasumber belum kembali merespon pertanyaan lanjutan dari saya.
Saya membayangkan bagaimana kondisi masyarakat disana yang kembali harus bejibaku dengan asap pekat. Semoga tak hanya hujan yang menjadi solusi melainkan aksi nyata pemerintah dan segenap jajarannya untuk benar-benar mengusut tuntas, siapa yang harus bertanggung jawab dengan kejadian ini. Juga bagaimana korban-korban harus mendapatkan rehabilitasi. Pun paling penting adalah bagaimana pemangku kebijakan bisa melakukan mitigasi bencana terhadap karhutla yang terjadi setiap tahunnya. (*)