Menjelajah Gastronomi Pasundan dalam Mustikarasa: Kesegaran Alami di Lanskap Kuliner Nusantara

5 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Ilustrasi Sukarno dan buku Mustikarasa. (Sumber: Ayobandung.id)
Ilustrasi Sukarno dan buku Mustikarasa. (Sumber: Ayobandung.id)

Pada tahun 1967, atas arahan Presiden Soekarno, terbitlah sebuah karya monumental bertajuk Mustikarasa. Buku setebal lebih dari 1.200 halaman ini bukan sekadar kumpulan resep, melainkan dokumentasi politik kebudayaan yang mencatat kekayaan kuliner dari Sabang sampai Merauke. Dari ribuan resep yang terhimpun, tradisi kuliner Tatar Pasundan (Sunda) hadir membawa warna yang sangat kontras dan istimewa di tengah lanskap gastronomi Nusantara.

Ketika mayoritas masakan Nusantara didominasi oleh teknik slow-cooking bersantan kental atau rempah-rempah tajam, masakan Sunda justru melangkah ke arah sebaliknya: menjunjung tinggi kesegaran alami, kejujuran bahan, dan harmoni rasa yang ringan.

Merekam Hidangan Sunda dalam Mustikarasa

Buku Mustikarasa mengelompokkan resep berdasarkan bahan dasar serta teknik pengolahannya. Di buku itu, hidangan Sunda terbagi dalam beberapa kategori utama yang autentik, di mana olahan nasi (sangu) menduduki posisi sentral. Bagi masyarakat Sunda, nasi bukan sekadar karbohidrat pendamping, melainkan pusat dari hidangan itu sendiri.

Keahlian mengolah nasi ini terlihat dari sajian Nasi Liwet Sunda yang dimasak langsung bersama rempah aromatik seperti serai, daun salam, bawang merah, cabai rawit, serta imbuhan ikan asin atau jambal roti yang gurih. Selain itu, hadir pula Nasi Tutug Oncom yang menyajikan kehangatan nasi bertumbuk (ditutug) yang diaduk bersama gurihnya oncom bakar berpadu kencur dan bawang, serta Nasi Timbel yang dibungkus rapat dengan daun pisang muda hingga menghasilkan aroma alami yang membangkitkan selera.

Selain keanekaragaman olahan nasinya, tradisi mengonsumsi sayuran mentah juga menjadi identitas paling menonjol dari kuliner Pasundan yang dicatat dalam Mustikarasa. Kekayaan hidangan sayur ini diwakili oleh Karedok, yaitu aneka sayuran mentah renyah—seperti kacang panjang, terong hijau bulat, tauge, kol, dan daun kemangi—yang disiram bumbu kacang gurih dengan aksen kencur yang kuat.

Jika Karedok menyajikan kesegaran mentah, Lotek hadir sebagai versi sayuran yang direbus sebentar lalu diaduk bersama bumbu kacang cair beraroma kencur dan asam jawa. Sebagai pelengkap sajian sayur, hadir Sayur Asem Sunda yang menonjolkan sup sayuran berkuah bening segar dengan dominasi rasa asam alami dari asam jawa muda atau belimbing wuluh.

Keistimewaan gastronomi Sunda semakin lengkap dengan ragam olahan protein pepes serta tumisan yang unik. Salah satu teknik memasak yang paling terkemuka adalah Pais (Pepes) Ikan Mas, yang memanfaatkan teknik mematangkan bahan makanan bermarinasi rempah halus dalam bungkus daun pisang; proses pengukusan atau pembakaran ini membuat bumbu meresap sempurna tanpa kehilangan kelembapan (juiciness) daging ikan.

Di sisi lain, kekayaan rasa fermentasi dan bahan lokal tecermin dalam Ulukutek Leunca, sebuah tumisan khas yang memadukan gurihnya oncom dengan rasa pahit-segar buah leunca serta cabai hijau. Rangkaian hidangan protein ini ditutup dengan kelezatan Soto Bandung, yaitu soto berkuah bening berisi irisan daging sapi empuk, kesegaran lobak putih, dan taburan kacang kedelai goreng yang renyah.

Profil Rasa: Harmoni Kencur, Surawung, dan Fermentasi

Buku Mustikarasa. (Sumber: Istimewa)
Buku Mustikarasa. (Sumber: Istimewa)

Jika dianalisis secara gastronomi, masakan Sunda memiliki profil rasa (flavor profile) yang sangat spesifik dan mudah dikenali. Karakteristik khas ini lahir dari perpaduan harmonis antara tiga elemen utama: penggunaan bahan baku yang segar atau mentah, sentuhan aroma herbal kencur dan kemangi, serta kedalaman rasa umami dari produk fermentasi lokal.

Identitas aroma masakan Sunda sangat ditentukan oleh kehadiran duo aromatik, yaitu kencur dan daun kemangi (surawung). Penggunaan kedua bahan ini secara royal memberikan dimensi aroma yang hangat (warm), kaya nuansa tanah (earthy), sekaligus memberikan sensasi segar bak jeruk (citrusy-aromatic) yang membangkitkan selera.

Selain kekuatan aromanya, masakan Sunda menawarkan kedalaman rasa gurih (deep umami) yang unik melalui bahan-bahan hasil fermentasi. Penggunaan oncom—yang terbuat dari fermentasi bungkil tahu atau kacang—serta terasi memberikan cita rasa gurih khas yang tidak ditemukan pada tradisi kuliner daerah lain.

Keseluruhan karakter rasa ini ditutup oleh keseimbangan antara sensasi asam, pedas, dan gurih. Rasa pedas menggigit dari sambal dadak (sambal yang diulek mendadak) tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu disempurnakan oleh kesegaran rasa asam alami dari perasan jeruk nipis atau asam jawa.

Mengapa Gastronomi Sunda Terasa Istimewa?

Dalam konteks kuliner Nusantara, ada beberapa alasan utama yang menjelaskan mengapa tradisi makan masyarakat Pasundan memiliki tempat yang sangat unik. Alasan pertama terletak pada prinsip kejujuran bahan (integrity of ingredients). Masakan Sunda enggan menutupi rasa asli bahan makanan dengan bumbu yang terlalu pekat (overpowering).

Jika bahan utamanya adalah ikan gurame segar atau pucuk dedaunan liar, maka profil rasa asli itulah yang dirayakan dan ditonjolkan. Bumbu-bumbu yang digunakan hadir sekadar untuk menajamkan rasa alami tersebut, bukan untuk memanipulasi atau menutupinya.

Keistimewaan kedua lahir dari keseimbangan tekstur (textural harmony) yang dihadirkan dalam setiap sajian. Menikmati hidangan ala Sunda adalah sebuah pengalaman sensori yang kaya. Dalam satu suapan atau satu piring yang sama, Anda dapat merasakan kelembutan nasi hangat serta pepes ikan, keriuk renyah kacang kedelai pada Soto Bandung, kesegaran lalapan mentah, hingga sensasi unik buah leunca yang "meletus" saat dikunyah. Perpaduan tekstur yang beragam ini menciptakan dinamika bersantap yang tidak membosankan.

Selain itu, keunikan kuliner Pasundan sangat berakar pada filosofi ngala di buruan, yang menjadikannya sebagai pionir eco-gastronomy lokal. Tradisi memetik dedaunan segar di pekarangan rumah—seperti daun poh-pohan, sintron, hingga genjer—menunjukkan betapa erat dan tulusnya hubungan masyarakat Sunda dengan lingkungan sekitar. Jauh sebelum tren plant-forward dan konsep keberlanjutan (sustainability) populer di dunia modern, masyarakat Pasundan telah menghidupi gaya hidup harmonis bersama alam ini selama berabad-abad.

Pada akhirnya, sebagaimana tergambar dalam buku Mustikarasa, kuliner Indonesia adalah sebuah simfoni rasa yang kaya warna. Jika kuliner Sumatra menonjolkan kekayaan rempah kering dan santan kental, serta kuliner Jawa Tengah mengedepankan kehangatan rasa manis-gurih yang pekat, maka gastronomi Sunda hadir sebagai angin segar. Ia merayakan kesederhanaan, kejujuran rasa, dan kedekatan yang tulus dengan keasrian alam pegunungan Pasundan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)