Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

4 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Rak-rak buku memenuhi ruang sempit di kawasan Dipatiukur, Bandung. Buku agama, politik, sejarah, hingga buku-buku lama bertumpuk rapat memenuhi dinding toko. Di tengah tumpukan itu, Wagino M Putra masih setia menjaga lembar demi lembar pengetahuan yang baginya belum boleh kalah oleh layar ponsel.

Usianya sudah 62 tahun. Namun hampir setiap hari, ia masih datang membuka toko bukunya. Menata buku, menyapu, mengangkat kardus, atau sekadar berbincang dengan pelanggan lama yang kadang datang kembali setelah puluhan tahun berlalu.

“Kalau disuruh berhenti, saya sudah disuruh sama anak. Katanya di rumah aja, gendong cucu, istirahat. Tapi saya malah pegal kalau diam. Kalau di sini kan bisa nyapu, ngepel, nata buku, keluar keringat. Saya juga enggak punya keahlian lain,” ujar Wagino sambil tertawa kecil.

Sudah sekitar 25 tahun ia berjualan buku. Namun perjalanan itu tidak dimulai dari toko buku besar atau latar belakang akademik. Wagino mengaku dirinya hanyalah orang kampung yang dulu terbiasa bekerja sebagai petani.

“Saya ini dulu tukang nyangkul di kampung. Datang ke Bandung mau nyangkul juga enggak ada tempatnya. Awalnya dagang beras dulu di koperasi mahasiswa. Baru setelah lihat toko buku di depan Salman ITB, saya penasaran. Kok buku dibeli orang terus, isinya apa? Dari situ mulai tertarik.”

Ketertarikan sederhana itu perlahan mengubah jalan hidupnya. Awalnya ia menjual buku sedikit demi sedikit, bahkan hanya dibawa memakai tas. Ia mengaku tidak memahami ilmu dagang maupun pemasaran. Yang ia lakukan hanya membaca buku-buku yang dijualnya, lalu bercerita kepada pembeli.

“Enggak ngerti marketing saya. Saya dagang itu enggak ada marketing. Paling saya baca dulu bukunya. Misalnya buku Soekarno, saya baca. Ada yang bagus, saya ceritain lagi. Orang jadi senang ngobrol.”

Dulu, kehidupan toko buku di sekitar kampus Bandung jauh berbeda dengan sekarang. Wagino pernah merasakan masa ketika buku menjadi kebutuhan utama mahasiswa.

Ia pernah berjualan di depan Masjid Salman ITB, menggelar buku-buku bekas secara sederhana di pinggir jalan. Namun dari lapak sederhana itu, mahasiswa berdatangan.

“Saya ngampar aja di ITB dulu sudah dapat Rp500 ribu zaman itu. Buku bekas dibeli semua. Orang dulu benar-benar nyari ilmu. Ada buku baru, buku lama, dibeli aja. Buku agama laku, buku pergerakan laku, buku skripsi juga dicari.”

Rak-rak buku tua memenuhi toko milik Wagino M Putra di Dipatiukur, Bandung, yang hingga kini masih bertahan di tengah perubahan budaya membaca digital. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Rak-rak buku tua memenuhi toko milik Wagino M Putra di Dipatiukur, Bandung, yang hingga kini masih bertahan di tengah perubahan budaya membaca digital. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Bahkan, menurutnya, ada masa ketika toko buku di kawasan dekat ITB bisa menghasilkan omzet puluhan juta rupiah sehari.

“Dulu ramai sekali. Per hari bisa puluhan juta. Menjelang kampus-kampus ujian masih banyak di sini, mahasiswa cari buku terus. Buku perdata ditaruh 50 saja enggak sampai setengah jam habis. Karena memang diwajibkan kampus juga.”

Bagi Wagino, toko buku bukan hanya tempat transaksi. Ia menyebut banyak mahasiswa yang datang bukan semata membeli, tetapi membaca, berdiskusi, bahkan sekadar menumpang menghabiskan waktu.

“Ada yang enggak punya uang tapi tetap datang. Kadang cuma baca-baca aja, nongkrong, ngobrol. Ada juga yang akhirnya jadi akrab. Sampai sekarang masih ada yang ketemu di jalan, ‘Mas Wagino ya?’ katanya. Ada yang ketemu lagi setelah 30 tahun.”

Namun wajah mahasiswa Bandung yang ia kenal perlahan berubah. Perubahan itu semakin terasa sejak internet berkembang dan pandemi Covid-19 datang. Menurut Wagino, mahasiswa masih ada yang membaca, tetapi tidak sebanyak dulu. Banyak kebutuhan informasi kini berpindah ke layar ponsel, laptop, atau pencarian instan di internet.

“Sekarang yang senang baca masih ada, tapi enggak sebanyak dulu. Sejak corona berubah total. Orang jadi maunya paket online, belajar dari HP, dari laptop. Makanya saya ikut bikin online juga, Shopee, Tokopedia, biar yang malas datang tetap bisa beli.”

Meski beradaptasi dengan platform digital, ada satu hal yang tetap ia pegang kuat: ponsel tidak boleh menggantikan buku.

“HP jangan dijadikan buku. HP itu nunjang buku. Karena Indonesia ini berdiri berkat orang yang baca buku, bukan karena enggak baca. Saya selalu ngingetin itu ke mahasiswa.”

Kalimat itu bukan sekadar kritik nostalgia seorang penjual buku tua yang rindu masa lalu. Bagi Wagino, membaca adalah bagian dari menjaga kesadaran. Ia percaya, buku masih punya tempat di tengah perubahan zaman, meskipun pembelinya tak lagi seramai dulu.

“Kalau ditanya toko begini bakal hilang enggak? Menurut saya enggak. Pada zaman penjajahan aja orang masih nyari buku. Masa sekarang sudah merdeka malah enggak mau baca?”

Harapannya sederhana. Ia ingin mahasiswa Bandung tetap kembali menemukan kebiasaan membaca, bukan karena kewajiban kampus semata, melainkan karena kesadaran mencari pengetahuan.

“Baca buku itu bersyukur paling tinggi. Mau jadi pemimpin, mau jadi wali kota, gubernur, apa pun, kalau enggak baca buku gimana? Harus ada pondasi dari orang-orang dulu.”

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)