Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Selasa 19 Mei 2026, 16:25 WIB
Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Rak-rak buku memenuhi ruang sempit di kawasan Dipatiukur, Bandung. Buku agama, politik, sejarah, hingga buku-buku lama bertumpuk rapat memenuhi dinding toko. Di tengah tumpukan itu, Wagino M Putra masih setia menjaga lembar demi lembar pengetahuan yang baginya belum boleh kalah oleh layar ponsel.

Usianya sudah 62 tahun. Namun hampir setiap hari, ia masih datang membuka toko bukunya. Menata buku, menyapu, mengangkat kardus, atau sekadar berbincang dengan pelanggan lama yang kadang datang kembali setelah puluhan tahun berlalu.

“Kalau disuruh berhenti, saya sudah disuruh sama anak. Katanya di rumah aja, gendong cucu, istirahat. Tapi saya malah pegal kalau diam. Kalau di sini kan bisa nyapu, ngepel, nata buku, keluar keringat. Saya juga enggak punya keahlian lain,” ujar Wagino sambil tertawa kecil.

Sudah sekitar 25 tahun ia berjualan buku. Namun perjalanan itu tidak dimulai dari toko buku besar atau latar belakang akademik. Wagino mengaku dirinya hanyalah orang kampung yang dulu terbiasa bekerja sebagai petani.

“Saya ini dulu tukang nyangkul di kampung. Datang ke Bandung mau nyangkul juga enggak ada tempatnya. Awalnya dagang beras dulu di koperasi mahasiswa. Baru setelah lihat toko buku di depan Salman ITB, saya penasaran. Kok buku dibeli orang terus, isinya apa? Dari situ mulai tertarik.”

Ketertarikan sederhana itu perlahan mengubah jalan hidupnya. Awalnya ia menjual buku sedikit demi sedikit, bahkan hanya dibawa memakai tas. Ia mengaku tidak memahami ilmu dagang maupun pemasaran. Yang ia lakukan hanya membaca buku-buku yang dijualnya, lalu bercerita kepada pembeli.

“Enggak ngerti marketing saya. Saya dagang itu enggak ada marketing. Paling saya baca dulu bukunya. Misalnya buku Soekarno, saya baca. Ada yang bagus, saya ceritain lagi. Orang jadi senang ngobrol.”

Dulu, kehidupan toko buku di sekitar kampus Bandung jauh berbeda dengan sekarang. Wagino pernah merasakan masa ketika buku menjadi kebutuhan utama mahasiswa.

Ia pernah berjualan di depan Masjid Salman ITB, menggelar buku-buku bekas secara sederhana di pinggir jalan. Namun dari lapak sederhana itu, mahasiswa berdatangan.

“Saya ngampar aja di ITB dulu sudah dapat Rp500 ribu zaman itu. Buku bekas dibeli semua. Orang dulu benar-benar nyari ilmu. Ada buku baru, buku lama, dibeli aja. Buku agama laku, buku pergerakan laku, buku skripsi juga dicari.”

Rak-rak buku tua memenuhi toko milik Wagino M Putra di Dipatiukur, Bandung, yang hingga kini masih bertahan di tengah perubahan budaya membaca digital. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Rak-rak buku tua memenuhi toko milik Wagino M Putra di Dipatiukur, Bandung, yang hingga kini masih bertahan di tengah perubahan budaya membaca digital. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Bahkan, menurutnya, ada masa ketika toko buku di kawasan dekat ITB bisa menghasilkan omzet puluhan juta rupiah sehari.

“Dulu ramai sekali. Per hari bisa puluhan juta. Menjelang kampus-kampus ujian masih banyak di sini, mahasiswa cari buku terus. Buku perdata ditaruh 50 saja enggak sampai setengah jam habis. Karena memang diwajibkan kampus juga.”

Bagi Wagino, toko buku bukan hanya tempat transaksi. Ia menyebut banyak mahasiswa yang datang bukan semata membeli, tetapi membaca, berdiskusi, bahkan sekadar menumpang menghabiskan waktu.

“Ada yang enggak punya uang tapi tetap datang. Kadang cuma baca-baca aja, nongkrong, ngobrol. Ada juga yang akhirnya jadi akrab. Sampai sekarang masih ada yang ketemu di jalan, ‘Mas Wagino ya?’ katanya. Ada yang ketemu lagi setelah 30 tahun.”

Namun wajah mahasiswa Bandung yang ia kenal perlahan berubah. Perubahan itu semakin terasa sejak internet berkembang dan pandemi Covid-19 datang. Menurut Wagino, mahasiswa masih ada yang membaca, tetapi tidak sebanyak dulu. Banyak kebutuhan informasi kini berpindah ke layar ponsel, laptop, atau pencarian instan di internet.

“Sekarang yang senang baca masih ada, tapi enggak sebanyak dulu. Sejak corona berubah total. Orang jadi maunya paket online, belajar dari HP, dari laptop. Makanya saya ikut bikin online juga, Shopee, Tokopedia, biar yang malas datang tetap bisa beli.”

Meski beradaptasi dengan platform digital, ada satu hal yang tetap ia pegang kuat: ponsel tidak boleh menggantikan buku.

“HP jangan dijadikan buku. HP itu nunjang buku. Karena Indonesia ini berdiri berkat orang yang baca buku, bukan karena enggak baca. Saya selalu ngingetin itu ke mahasiswa.”

Kalimat itu bukan sekadar kritik nostalgia seorang penjual buku tua yang rindu masa lalu. Bagi Wagino, membaca adalah bagian dari menjaga kesadaran. Ia percaya, buku masih punya tempat di tengah perubahan zaman, meskipun pembelinya tak lagi seramai dulu.

“Kalau ditanya toko begini bakal hilang enggak? Menurut saya enggak. Pada zaman penjajahan aja orang masih nyari buku. Masa sekarang sudah merdeka malah enggak mau baca?”

Harapannya sederhana. Ia ingin mahasiswa Bandung tetap kembali menemukan kebiasaan membaca, bukan karena kewajiban kampus semata, melainkan karena kesadaran mencari pengetahuan.

“Baca buku itu bersyukur paling tinggi. Mau jadi pemimpin, mau jadi wali kota, gubernur, apa pun, kalau enggak baca buku gimana? Harus ada pondasi dari orang-orang dulu.”

News Update

Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:18

Membaca di Kota yang Sibuk

Selama Hari Buku Nasional terus diperingati setiap tahun, budaya membaca justru perlahan semakin tersingkir di tengah kehidupan kota yang serba cepat.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 19:00

Demi Anak dan Istri, Setiap Hari Mang Amir Ngegas Motornya ‘Membelah Subuh’ Jualan Bubur Ayam

Mang Amir terus mengais rezeki dengan nge-gas motor Honda Beatnya menjajakan bubur ayam keliling komplek.

Mang Amir terus mengais rezeki dengan nge-gas motor Honda Beatnya menjajakan bubur ayam keliling komplek. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dudung Ridwan)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 18:20

Menelusuri Jejak Gastronomi Legendaris di Kota Bandung

Metamorfosis Bandung menjadi pusat kuliner bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan simfoni akulturasi yang telah berjalan selama lebih dari satu abad.

Suasana Kopi Purnama yang jadi tempat ngopi legendaris di Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Bob Yanuar)
Wisata & Kuliner 18 Mei 2026, 17:43

Jelajah Gunung Lembu Purwakarta, Jalur Batu Purba dengan View Waduk Jatiluhur

Jelajahi Gunung Lembu Purwakarta, monolit batu purba dengan jalur berbatu curam dan panorama Waduk Jatiluhur.

Pemandangan Waduk Jatiluhur dari Gunung Lembu, Purwakarta.
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 13:18

Dari 'Teknik' ke 'Rekayasa: Sekadar Ganti Nama atau Perubahan Paradigma?

Perubahan nomenklatur “Teknik” menjadi “Rekayasa” memunculkan diskusi tentang internasionalisasi, identitas keilmuan, dan arah pendidikan engineering di Indonesia.

Kemendiktisaintek tetapkan perubahan nama prodi "teknik" jadi "rekayasa". (Foto: Istimewa)
Wisata & Kuliner 18 Mei 2026, 11:36

Wisata Bukit Gronggong, Lanskap Kota Cirebon dari Koridor Perbukitan Selatan

Bukit Gronggong di Cirebon menawarkan panorama kota dari ketinggian, lengkap dengan kafe, kuliner, dan suasana malam dengan gemerlap lampu urban.

Bukit Gronggong, Cirebon. (Sumber: Pemkab Cirebon)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 11:14

Semula, Ada Pandai Kuningan di Sayang dan di Bojongsayang

Di Jawa Barat, banyak toponim yang memakai kata sayang.

Contoh bokor yang dibuat dari kuningan. Tempat pembuatannya disebut sayang. (Sumber: Istimewa)
Beranda 18 Mei 2026, 10:43

Saat Manusia Asing dengan Tanahnya Sendiri dan Nama Tempat Tinggalnya

T. Bachtiar menjelaskan bagaimana nama tempat menyimpan jejak alam dan budaya, sekaligus mengungkap krisis ingatan manusia terhadap ruang hidupnya.

Pemandangan kota Bandung, jembatan Pasupati dengan latar belakang Gunung Tangkuban Parahu, Rabu 20 Juli 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)