Jejak Sejarah Kabupaten Bandung, Lahir 1641 karena Pemberontakan Dipati Ukur

4 menit baca
Fira Nursyabani
Ditulis oleh Fira Nursyabani diterbitkan
Foto para wedana di Banjaran sebelum tahun 1880. (Sumber: KITLV)
Foto para wedana di Banjaran sebelum tahun 1880. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Tanggal 20 April 1641 tercatat sebagai hari lahir Kabupaten Bandung. Catatan itu muncul lewat Piagam Sultan Agung, raja besar Mataram yang saat itu tengah menata ulang wilayah Priangan. Di balik tanggal tersebut, ada kisah pemberontakan, pengkhianatan, hingga urusan siapa yang berhak memimpin Tatar Ukur, daerah subur yang kelak jadi jantung Priangan.

Pemicunya adalah pemberontakan Dipati Ukur. Tokoh ini tadinya orang kepercayaan Mataram, diberi tugas memimpin pasukan ke Batavia untuk menggempur VOC. Namun, entah karena hitung-hitungan politik atau urusan gengsi, Dipati Ukur berbalik arah, lalu melawan Mataram. Sultan Agung yang terkenal dengan disiplin keras tak mau tinggal diam. Pemberontakan Dipati Ukur berhasil dipadamkan, meski menyisakan ketidakpercayaan raja terhadap sistem pemerintahan lama di Priangan.

Untuk mencegah hal serupa terulang, Sultan Agung mengambil keputusan drastis. Ia memecah wilayah Priangan menjadi tiga kabupaten baru: Kabupaten Bandung, Kabupaten Parakanmuncang, dan Kabupaten Sukapura. Inilah cara raja Mataram mengendalikan Priangan, sekaligus memastikan tidak ada satu pemimpin lokal yang bisa terlalu berkuasa.

Piagam Sultan Agung tanggal 9 Muharram tahun Alif atau 20 April 1641 bukan sekadar simbol. Dari piagam itu, lahirlah bupati pertama Kabupaten Bandung: Ki Astamanggala, umbul Cihaurbeuti yang kemudian digelari Tumenggung Wiraangunangun. Ia memimpin selama empat dekade, dari 1641 hingga 1681, sebuah masa jabatan yang panjang bahkan menurut standar modern.

Baca Juga: Jejak Kehidupan Prasejarah di Gua Pawon Karst Citatah Bandung Barat

Sebagai bupati baru, Tumenggung Wiraangunangun mesti menentukan pusat pemerintahan. Pilihannya jatuh pada Karapyak, wilayah yang kini lebih dikenal sebagai Dayeuhkolot. Alasannya sederhana, tapi masuk akal pada masanya: dekat Sungai Citarum, sungai besar yang menjadi jalur transportasi vital di Priangan. Dengan begitu, urusan logistik, perdagangan, dan komunikasi bisa lancar.

Karapyak kemudian dikenal sebagai Bumi Tatar Uur Gede. Dari sana, kendali pemerintahan dijalankan. Luas wilayah Kabupaten Bandung pada masa awal juga tidak main-main. Catatan sejarah menyebut daerah kekuasaannya meliputi Timbanganten, Gandasoli, Adiarsa, Cabangbungin, Banjaran, Cipeujeuh, Majalaya, Cisondari, Rongga, Kopo, Ujungberung, Kuripan, Sagaraherang, hingga Tanahmedang. Kalau hari ini orang Bandung suka bilang “jauh-jauh masih Kabupaten Bandung,” mungkin ada benarnya, sebab sejak dulu wilayah ini sudah sangat luas.

Seiring waktu, kekuasaan Mataram di Priangan mulai melemah. Pada akhir 1677, Kabupaten Bandung resmi terlepas dari cengkeraman Mataram. Saat itulah giliran Belanda masuk, lewat bendera VOC, untuk menguasai wilayah ini. Bandung pun tak bisa lepas dari arus kolonialisme yang sedang menggulung Nusantara.

Selama di bawah pengaruh VOC, kursi bupati silih berganti diisi oleh tokoh-tokoh yang masih berhubungan darah dengan pendahulunya. Setelah Tumenggung Wiraangunangun wafat, tampuk kepemimpinan jatuh ke Tumenggung Ardikusumah (1681–1704). Lalu diteruskan oleh anaknya, R. Ardisuta, yang bergelar Tumenggung Anggadireja I (1704–1747). Nama ini juga dikenal dengan sebutan Dalem Gordah.

Baca Juga: Sejarah Gelap KAA Bandung, Konspirasi CIA Bunuh Zhou Enlai via Bom Kashmir Princess

Berlanjut kemudian ke Demang Hatapradja yang bergelar Tumenggung Anggadireja II (1747–1763). Setelah itu, kepemimpinan diambil alih R. Anggadireja III dengan gelar R.A. Wiranatakusumah I (1763–1794). Dari generasi ke generasi, jabatan bupati tampak seperti urusan keluarga besar, sebuah dinasti kecil di tengah kepungan kekuatan kolonial.

Situasi Nagreg sekitar tahun 1910an. (Sumber: KITLV)
Situasi Nagreg sekitar tahun 1910an. (Sumber: KITLV)

Perpindahan Ibu Kota

Perubahan besar datang pada masa R.A. Wiranatakusumah II (1794–1829). Ia dikenal sebagai bupati yang mengambil keputusan paling menentukan dalam sejarah Kabupaten Bandung: memindahkan ibu kota dari Karapyak ke tepi Sungai Cikapundung.

Terdapat dua alasan utama di balik keputusan ini. Pertama, Karapyak dianggap sudah tidak layak lagi sebagai pusat pemerintahan. Lokasinya rawan banjir, jalurnya pun makin sulit dijangkau. Kedua, pemindahan ini sejalan dengan proyek ambisius Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yang sedang membangun Jalan Raya Pos atau Grote Postweg. Jalan sepanjang Anyer–Panarukan itu menjadi jalur vital militer dan perdagangan.

Baca Juga: Hikayat Ledakan Bom ATM Dipatiukur Bandung 2011, Kado Pahit Ultah Polisi

Supaya tidak tersisih dari percaturan jalur besar itu, pusat Kabupaten Bandung dipindahkan ke tempat yang lebih strategis. Lokasi pilihan jatuh di sekitar alun-alun yang kini menjadi jantung Kota Bandung. Dari sinilah perkembangan Bandung sebagai kota bermula, dengan alun-alun sebagai pusat pemerintahan sekaligus titik temu ekonomi.

Kabupaten Bandung yang terbentuk dari keputusan Sultan Agung dan diperkuat oleh para bupati penerusnya bukan sekadar nama wilayah administratif. Sejak awal, ia memegang peran penting sebagai simpul ekonomi Priangan. Sungai Citarum menjadi jalur distribusi, sawah dan ladang di dataran subur menjadi lumbung pangan, sementara letaknya yang strategis membuatnya jadi rebutan kekuasaan, baik Mataram maupun Belanda.

Dari generasi ke generasi, bupati-bupati Bandung memainkan peran menjaga agar wilayah tetap terkendali. Sebagian besar adalah tokoh lokal, yang meski tunduk pada VOC, tetap berusaha mempertahankan identitas daerahnya. Perpindahan ibu kota ke Cikapundung menjadi tonggak penting, sebab dari situlah lahir wajah baru Bandung yang kini dikenal.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)