Jejak Kehidupan Prasejarah di Gua Pawon Karst Citatah Bandung Barat

5 menit baca
Restu Nugraha Sauqi
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi diterbitkan
Foto Gua Pawon antara tahun 1920-1932. (Sumber: Tropenmuseum)
Foto Gua Pawon antara tahun 1920-1932. (Sumber: Tropenmuseum)

AYOBANDUNG.ID - Di jalur kapur Citatah, antara Padalarang dan Cianjur, berdiri bukit-bukit karst yang penuh rongga. Salah satu rongga itu bernama Gua Pawon. Dari luar, gua ini tidak lebih dari lubang besar di bukit. Namun siapa sangka, di balik stalaktit dan debu putihnya, tersimpan kisah panjang manusia purba yang pernah menjejak ribuan tahun silam.

Ekskavasi di Gua Pawon sudah dilakukan sejak 2003. Setiap kali tanahnya dikupas, ada saja yang muncul: fragmen tulang, perkakas batu, bahkan kerangka manusia. Para arkeolog Jawa Barat bekerja tekun, seolah sedang menyusun puzzle besar yang tercerai-berai di dalam tanah.

Puzzle itu bukan mainan, melainkan potongan sejarah tentang manusia Pawon—penghuni gua yang hidup sejak akhir Pleistosen hingga awal Holosen.

Baca Juga: Jejak Sejarah Gempa Besar di Sesar Lembang, dari Zaman Es hingga Kerajaan Pajajaran

Pada penggalian 2021, Kepala Tim Arkeologi Jabar, Lutfi Yondri, menjelaskan bahwa Gua Pawon bukan sekadar tempat tinggal. “Karena gua cukup luas, bisa disimpulkan bahwa tempat ini multifungsi. Ada aktivitas mengolah makanan, membuat alat, hingga mengubur kerabat,” katanya.

Jadi, Gua Pawon bukan cuma rumah, tapi juga dapur, bengkel, sekaligus pemakaman.

Di kedalaman sekitar 3,2 meter, ditemukan sisa-sisa aktivitas harian manusia Pawon. Ada pecahan tulang hewan buruan, ada juga alat dari obsidian yang didatangkan jauh-jauh dari Garut atau Nagreg.

Bayangkan betapa repotnya membawa batu obsidian menyeberangi perbukitan hanya untuk dipukul-pukul menjadi perkakas. Namun begitulah, manusia purba tidak kalah rajin dari kurir zaman modern.

Yang paling mengejutkan adalah tulang anak gajah di kedalaman dua meter. Gajah dewasa tentu sulit dimasukkan ke gua sempit di tebing. Jadi yang berhasil diseret masuk hanyalah anaknya. Agaknya, pesta makan gajah bukan hal mustahil bagi penghuni Gua Pawon. Seperti halnya kita sekarang meributkan pesta daging kurban, mereka mungkin juga punya tradisi pesta gajah kecil.

Baca Juga: Batulayang Dua Kali Hilang, Direbus Raja Jawa dan Dihapus Kompeni Belanda

Selain gajah, ada pula tulang rusa, tapir, babi hutan, kera, dan fragmen moluska. Menu mereka beragam, tidak monoton. Hari ini makan rusa, besok mungkin kerang, lusa ganti babi hutan. Manusia Pawon jelas bukan vegetarian. Tapi tidak melulu karnivor, karena mereka juga menggali umbi-umbian. Semua itu dikerjakan dengan perkakas sederhana dari batu gamping.

Kerangka manusia menjadi temuan paling berharga. Sampai sekarang sudah tujuh kerangka berhasil ditemukan, dengan usia berbeda-beda. Kerangka ketiga diperkirakan berumur 7.300 tahun, kerangka keempat sekitar 9.500 tahun, sedangkan kerangka ketujuh mencapai 12.000 tahun.

Beberapa kerangka masih utuh dari kepala hingga kaki. Seakan-akan mereka sedang tidur panjang, lalu tiba-tiba lampu senter arkeolog membangunkan.

Bagi peneliti, kerangka itu menjawab pertanyaan besar: sejak kapan manusia mendiami wilayah Bandung. Usia belasan ribu tahun menunjukkan bahwa daerah ini sudah jadi hunian lama sebelum kerajaan-kerajaan Sunda berdiri. Bahkan ketika Danau Bandung purba masih membentang luas, manusia Pawon sudah hidup di tepiannya, memanfaatkan segala sumber daya alam yang tersedia.

Temuan Kapak Perimbas Batu Gamping

Dari semua temuan, yang paling menarik perhatian adalah kapak perimbas dari batu gamping. Di pelajaran sejarah sekolah, kapak perimbas biasanya digambarkan berbahan andesit. Namun di Gua Pawon, bahan yang dipakai justru batu kapur. Ini mengejutkan sekaligus masuk akal. Daerah Citatah kaya batu kapur, sementara obsidian atau andesit harus didatangkan dari jauh. Jadi lebih praktis memakai bahan lokal.

Baca Juga: Hikayat Dukun Digoeng Bantai Warga Cililin, Gegerkan Wangsa Kolonial di Bandung

Penanda lokasi Gua Pawon di kawasan Karst Citatah, Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Penanda lokasi Gua Pawon di kawasan Karst Citatah, Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

Kapak perimbas batu gamping dipakai dengan cara digenggam. Fungsinya banyak: menusuk hewan, memotong daging, menggali tanah. Kapak genggam ini multifungsi, mirip pisau lipat zaman modern. Bedanya, kapak perimbas tak bisa dilipat dan cukup berat jika dipakai berlama-lama. Namun bagi manusia Pawon, alat itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Lutfi Yondri mengatakan temuan ini menandakan bahwa budaya di Gua Pawon punya jalur tersendiri. Di gua-gua kars Sulawesi, batu gamping baru populer pada masa mesolitik.

Tapi di Gua Pawon, batu gamping sudah dipakai sejak paleolitik. Artinya, manusia Pawon lebih cepat beradaptasi. Mereka tidak menunggu datangnya “zaman baru”, melainkan langsung mengolah bahan yang tersedia.

Selain kapak perimbas, ditemukan juga kapak penetak dan lancipan besar. Ukurannya tidak main-main. Jika kapak genggam masih muat di tangan, lancipan besar ini mungkin lebih cocok disebut tombak pendek. Alat semacam ini jelas berguna saat berburu binatang besar. Satu tusukan bisa melumpuhkan tapir atau rusa, bahkan mungkin anak gajah yang malang itu.

Temuan lain berupa tulang belulang binatang juga memperkuat gambaran kehidupan sehari-hari. Bayangkan suasana gua ribuan tahun lalu: api unggun menyala, beberapa orang sibuk menajamkan batu gamping, sementara yang lain memanggang daging di sudut. Anak-anak berlarian, mungkin sambil mengunyah kerang. Sesekali terdengar suara keras dari tulang dipukul untuk dijadikan perhiasan. Gua Pawon bukan sekadar tempat gelap, tapi panggung kehidupan yang ramai.

Baca Juga: Wajit Cililin, Simbol Perlawanan Kaum Perempuan terhadap Kolonialisme

Perhiasan dari tulang memberi bukti bahwa manusia Pawon bukan hanya memikirkan isi perut. Mereka juga peduli pada penampilan. Ada yang memakai tulang sebagai kalung, ada pula yang menghias tubuh dengan serpihan tulang hewan buruan.

Di balik kesederhanaan, ada jiwa seni yang tidak bisa diabaikan. Ternyata, hasrat tampil keren sudah ada sejak belasan ribu tahun lalu.

Ekskavasi tahun 2021 juga mengungkap gigi manusia dewasa. Meski hanya sepasang gigi, temuan itu cukup penting. Gigi bisa memberi petunjuk usia, pola makan, hingga kondisi kesehatan.

Siapa tahu, dari gigi itu bisa diketahui apakah manusia Pawon lebih suka mengunyah daging keras atau kerang lembek. Gigi bisa menjadi “arsip pribadi” yang tersimpan lebih baik daripada catatan medis zaman modern.

Bahan perkakas tidak semuanya lokal. Ada obsidian, rijang, khalsedon, bahkan andesit yang jelas berasal dari luar Citatah. Artinya, manusia Pawon tidak hidup terisolasi. Mereka bergerak, bepergian, atau mungkin menjalin pertukaran dengan kelompok lain. Dengan kata lain, sudah ada semacam “jalur logistik” sederhana ribuan tahun lalu. Kalau sekarang ada jalur distribusi logistik via jalan tol, dulu manusia Pawon sudah lebih dulu punya jalurnya sendiri.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)