Batulayang Dua Kali Hilang, Direbus Raja Jawa dan Dihapus Kompeni Belanda

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Batulayang dalam peta di buku Priangan De Preanger-Regentschappen onder het Nederlandsch Bestuur tot 1811
Batulayang dalam peta di buku Priangan De Preanger-Regentschappen onder het Nederlandsch Bestuur tot 1811

AYOBANDUNG.ID – Batulayang mungkin terdengar seperti nama tempat wisata alam atau curug yang belum viral. Tapi pada akhir abad ke-18, Batulayang adalah nama kabupaten resmi di pedalaman Priangan, lengkap dengan sistem pemerintahan sendiri. Ia muncul di antara catatan arsip sejarah dan kisah lisan masyarakat barat Bandung. Dan seperti banyak entitas lokal yang kalah oleh kolonialisme, ia pun tenggelam, menyisakan kenangan tentang dinasti, kopi, dan cerita tentang gajah yang datang jauh-jauh dari Palembang.

Dalam artikel Kopi dari Batulayang, 1777–1802 di Ayobandung, nama Batulayang merujuk pada sebuah kabupaten tua yang pernah berdiri di sekitar Bandung Raya. Ia merupakan sebuah wilayah otonom kecil yang punya bupati dan ibu kota. Wilayah administratifnya terdiri atas tiga distrik besar: Kopo, Rongga, dan Cisondari—yang hari ini dikenal sebagai wilayah Cililin, Ciwidey, dan Gunung Halu. Sumber lain menyebut bahwa Cihea, sebuah daerah yang lebih dekat ke Cianjur, juga sempat masuk ke dalam administrasi Batulayang.

Keberadaannya tercatat dalam berbagai arsip sejarah, termasuk catatan F. De Haan (1910–1912), juga disebut oleh Edi S. Ekadjati dalam Ceritera Dipati Ukur (1982), dan dikonfirmasi dalam Ensiklopedi Sunda yang disunting Ajip Rosidi (2000). Batulayang lahir pada abad ke-18 dan resmi bubar tahun 1802. Namanya memang tak setenar Sumedang Larang atau Bandung, tapi ia pernah ada.

Kisah Batulayang, seperti banyak kisah kerajaan lokal, dimulai dengan tokoh semi-legendaris. Namanya Prabu Sang Adipati Kertamanah. Ia disebut sebagai putra seorang pangeran Sunda dan tinggal di suatu tempat bernama Papakmanggu. Tempat ini sekarang mungkin sudah jadi kebun kol atau malah kompleks vila, tapi pada zamannya, ia adalah pusat kuasa.

Dari Kertamanah, kekuasaan Batulayang diwariskan turun-temurun. Anak lelakinya naik jadi pemimpin, begitu pula cucunya. Nama-nama seperti Tumenggung Suradirana, Wira Anom, hingga Rangga Abdulgalip muncul. Lalu diteruskan oleh Yudanagara dan Rangga Abdurahman, yang konon mendirikan ibu kota Batulayang di suatu tempat bernama Gajah atau Gajah Palembang.

Cetakan panduan wisata Bandung zaman kolonial Gids van Bandoeng en Midden-Priangan (1927) mencatat nama Gajah sebagai ibu kota Batulayang tersebut. "Gajah berarti sepotong kecil sejarah Priangan dan itu karena pada waktu itu merupakan ibu kota bekas kabupaten Batulayang."

Buku Pesona Sejarah Bandung: Perkebunan di Priangan (2022) yang ditulis Ryzki Wiryawan menyebutkan nama Gajah warisan ibu kota Batulayang masih hidup dalam nama sebuah desa: Gajahmekar, yang masuk wilayah Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung. Tak jauh dari sana, pernah dibangun tempat pemandian gajah yang kemudian dikenal sebagai Leuwigajah. Tempat itu kini menjelma menjadi sebuah kelurahan di Kota Cimahi.

Jabatan terakhir Bupati Batulayang dipegang oleh Tumenggung Rangga Adikusuma (1794–1802). Setelah itu, tirai ditutup. Kabupaten Batulayang tinggal nama.

Pemecatan Bupati Batulayang oleh Pemerintah Kolonial

Gids van Bandoeng menyebut Bupati Batulayang dipecat gegara “kelakuan buruk dan perilaku bejat”. Bukan hanya diberhentikan, tapi juga “ditahan” di Batavia. Bupati Bandung kala itu harus menanggung semua utangnya dan memberikan uang tunjangan sebesar 50 rijksdaalder tiap bulan.

Dalam Priangan: De Preanger-Regentschappen (1910), sejarawan F. de Haan mencatat bahwa pemecatan Tumenggung itu bukan keputusan mendadak. Sejak 1797, Kompeni telah mengendus kebiasaannya yang kurang pantas. Ia mendapat peringatan keras karena “menyelundupkan opium secara rakus”. Surat-surat peringatan itu terus berlanjut hingga 1801.

“Usulan dari pejabat yang diberi wewenang [Gecommitteerde] untuk mencopotnya diajukan pada 24 Desember 1801, karena ia terlalu sering mabuk dan kecanduan opium,” tulis de Haan.

Tapi VOC menunda pencopotannya hingga panen kopi berikutnya usai. Kolonial tampaknya masih berharap, dalam logika dagang khas mereka, bahwa mabuk pun bisa dimaafkan asal panen tetap masuk gudang. Tapi panen berikutnya justru mengukuhkan nasibnya.

Potret pribumi pekerja kopi di Jawa tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)
Potret pribumi pekerja kopi di Jawa tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)

Laporan Kumitir Pribumi, Pieter Engelhard pada Oktober 1802, mencatat produksi kopi Batulayang hanya 1.489 pikul—jumlah yang jauh dari harapan pemerintah kolonial. Kegagalan ini disebut-sebut sebagai puncak kekecewaan VOC pada Bupati Batulayang.

Pada 16 April 1802, Kompeni resmi memberhentikannya dengan alasan kelakuan buruk dan perilaku bejat seperti yang dinukil Gids van Bandoeng. Ia pun ditahan dan diasingkan ke Batavia, kemungkinan di salah satu perkampungan milik Kompeni, dengan penghidupan yang disubsidi 50 rijksdaalder per bulan oleh Bupati Bandung.

Cerita Tumenggung Rangga Adikusuma tak bisa dilihat semata dari kaca mata moral kolonial. Menurutnya Rizky, kegagalan dalam mengelola perkebunan kopi yang menjadi tulang punggung sistem tanam paksa di wilayah Priangan, bisa jadi bentuk perlawanan diam terhadap kekuasaan.

“Bisa disimpulkan bahwa ada faktor lain yang membuat Bupati Batulayang terakhir dihukum, kemungkinan karena ia bermasalah dengan Pieter Engelhard dan melawan dengan cara menelantarkan perkebunan kopi."

Batulayang di Era Tatar Ukur

Di awal 1630-an, nama Batulayang bukan sekadar kampung sunyi di Priangan. Ia adalah sebuah umbul—wilayah kekuasaan lokal—yang dipimpin oleh seorang Tumenggung. Dan pemimpinnya waktu itu bukan orang sembarangan: Ki Tumenggung Batulayang adalah salah satu dari sembilan kepala wilayah yang setia kepada Dipati Ukur, tokoh pemberontak dari Tatar Ukur yang menentang Sultan Agung dari Mataram.

Saat serangan Mataram ke Batavia gagal pada 1629, Dipati Ukur memilih tidak kembali ke Jawa. Ia membangkang. Pemberontakan dimulai. Gunung Lumbung di wilayah Batulayang dijadikan markas pertahanan. Di sanalah Ki Tumenggung Batulayang menunjukkan kesetiaan: ikut mempertahankan wilayah selama lebih dari dua tahun dari kepungan pasukan Mataram.

Pada tahun 1632, kekuatan mereka runtuh. Setelah pengepungan panjang oleh pasukan Tumenggung Bahuraksa, Dipati Ukur dan para umbul-nya menyerah. Mereka digiring ke Mataram. Di sanalah akhir tragis itu terjadi. Ki Tumenggung Batulayang dijatuhi hukuman mati yang kejam: direbus hidup-hidup dalam air mendidih. Ia menjadi simbol dari nasib pemberontak yang kalah—dihukum tak hanya untuk dibinasakan, tapi juga untuk dijadikan peringatan. Kisah Tumenggung Batulayang jadi salah satu yang paling diingat karena kekejamannya yang nyaris tak masuk akal.

Setelahnya, Batulayang dipecah. Wilayahnya diserahkan kepada loyalis Mataram. Kekuasaan lokal hilang, nama Tumenggung Batulayang tenggelam, dan tempat itu perlahan hanya jadi nama kampung biasa.

Kini, nama Batulayang dihidupkan kembali. Ia diusulkan sebagai pengganti Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang katanya kurang bagus dari segi branding. Ia pernah tenggelam dalam kabut kolonialisme, dikoyak perang dan intrik, hanya tersisa dalam catatan arsip dan dongeng tua. Kini, Batulayang kembali diseru, seolah sejarah itu sendiri enggan dibiarkan mati. Akankah ia hidup kembali?

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)