Sejarah Kawasan Tamansari, Kampung Lama yang Tumbuh di Balik Taman Kolonial Bandung

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Suasana pemukiman di kawasan Tamansari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)
Suasana pemukiman di kawasan Tamansari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Tamansari hari ini berdiri sebagai salah satu kawasan paling padat di Kota Bandung, menempel pada Sungai Cikapundung dan dilingkupi cerita panjang tentang tata ruang, kampung kota, serta konflik antara warga dan kekuasaan. Namun sebelum dikenal sebagai kawasan yang sesak oleh rumah berhimpitan dan gang sempit, Tamansari pernah hidup sebagai desa agraris yang rapi, sunyi, dan terlindung di balik halaman luas rumah orang Eropa.

Sejarah Tamansari bukan kisah kampung liar yang tumbuh tanpa arah, melainkan cerita panjang tentang kota kolonial yang melebar dan menelan desa, tanpa pernah benar benar mengelolanya secara utuh.

Jejak awal Tamansari dapat dilacak sejak Bandung berkembang pesat di akhir abad ke 19. Kota kecil di dataran Priangan itu berubah menjadi pusat ekonomi perkebunan setelah kebijakan liberal kolonial membuka peluang sewa tanah bagi swasta.

Teh, kopi, dan kina menjadikan Bandung simpul perdagangan penting. Para pemilik perkebunan menghabiskan uangnya di kota yang kemudian dijuluki Parijs van Java. Dari uang teh itulah villa, jalan raya, dan taman dibangun, terutama di bagian utara kota yang berhawa sejuk.

Di balik wajah Eropa itu, desa-desa lama tetap bertahan. Salah satunya adalah Sukajadi, wilayah yang kini masuk dalam kawasan Tamansari. Desa ini terletak di lembah Sungai Cikapundung dan diapit dua jalan utama kolonial, Lembangweg dan Van Houten Parkweg, yang sekarang dikenal sebagai Jalan Cihampelas dan Jalan Tamansari.

Pada masa itu, Tamansari tidak tampak sebagai kawasan kampung dari luar. Yang terlihat hanyalah rumah besar, kebun luas, kolam ikan, dan pepohonan yang rimbun milik warga Eropa kelas menengah.

Baca Juga: Hikayat Terminal Cicaheum, Gerbang Perantau Bandung yang jadi Sarang Preman Pensiun

Kenyataan di baliknya berbeda. Di antara kebun dan halaman belakang itulah kampung hidup. Warga menanam padi, mengelola kebun kakao, memelihara ikan, dan mengambil air dari Cikapundung yang jernih. Hak atas tanah ditentukan oleh garapan, sesuai hukum adat. Rumah dibuat dari kayu dan anyaman bambu, bertiang, dengan atap ringan.

Jalan bukan aspal, melainkan tanah dan batu. Nama kampung seperti Cimaung dan Liang Maung mencatat memori fauna liar yang pernah hidup di kawasan itu.

Gambaran ini muncul jelas dalam risalah Foreign Counsel di ABNR Counsellors, Gustaaf Reerink, berjudul From Autonomous Village to Informal Slum. Reerink menelusuri Tamansari sebagai contoh bagaimana desa adat terserap ke dalam kota kolonial tanpa pernah sepenuhnya dijadikan bagian dari sistem perkotaan modern.

Kampung dibiarkan mengatur dirinya sendiri melalui kebijakan desa autonomie, sebuah prinsip kolonial yang memisahkan hukum Eropa dan hukum adat demi efisiensi pemerintahan.

Otonomi ini membuat kampung seperti Soekadjadi hidup relatif mandiri. Administrasi, hukum, dan tata ruang ditentukan warga setempat. Selama kota masih longgar dan penduduk belum padat, sistem ini berjalan tanpa gejolak.

Permasalahan mulai muncul ketika Bandung berkembang pesat di awal abad ke 20. Pembukaan jalur kereta api pada 1884, rencana pemindahan pusat pemerintahan dari Batavia ke Bandung, serta reputasi Bandung sebagai kota pensiunan Eropa mendorong lonjakan penduduk.

Urbanisasi turut mempercepat tekanan pada kampung. Di wilayah Priangan, kepemilikan tanah terkonsentrasi pada segelintir elite lokal, pedagang, dan pemilik modal. Petani kecil kehilangan lahan dan bergerak ke kota. Bandung menyedot tenaga kerja, dan kampung menjadi tempat paling mudah untuk menetap. Tamansari menerima arus ini, walau ruangnya terbatas oleh sungai dan properti Eropa.

Baca Juga: Hikayat Konflik Lahan dan Penggusuran Tamansari Bandung 2019

Secara spasial, kota kolonial membelah diri. Bagian utara didominasi permukiman Eropa dengan kepadatan rendah, sementara selatan menampung mayoritas penduduk pribumi dengan lahan terbatas. Data kolonial mencatat bahwa orang Indonesia menempati sebagian besar populasi Bandung, namun hanya menguasai porsi tanah yang lebih kecil.

Tamansari berada di wilayah utara, tetapi status kampungnya membuat kawasan ini tersembunyi di balik fasad Eropa.

Suasana permukiman padat penduduk di pinggir Sungai Cikapundung, Tamansari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Suasana permukiman padat penduduk di pinggir Sungai Cikapundung, Tamansari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Situasi ini menciptakan paradoks. Kampung berada dekat pusat kekuasaan kota, tetapi luput dari perhatian serius. Pemerintah kota melihat persoalan kebersihan, kesehatan, dan kepadatan, tetapi terbentur hukum desa autonomie. Kota tidak memiliki kewenangan penuh untuk mengubah kampung tanpa mencederai kebijakan kolonial sendiri.

Otonomi Kampung dan Gagalnya Kendali Kota

Upaya pemerintah kolonial memperbaiki kampung dilakukan setengah langkah. Pada 1919, Bandung meluncurkan program perumahan sosial. Rumah dibangun dan ditawarkan melalui sewa atau cicilan. Namun harga tetap berada di luar jangkauan warga kampung berpenghasilan rendah. Program ini lebih dinikmati lapisan bawah kelas menengah, bukan penduduk Tamansari yang bergantung pada sektor informal.

Kebijakan zonasi pada 1926 yang menetapkan wilayah selatan sebagai kawasan pribumi mempertegas segregasi, tetapi tidak menyelesaikan persoalan kampung di utara. Tamansari tetap berada di ruang abu abu. Kampung ini tumbuh berdampingan dengan properti Eropa, tetapi tidak memperoleh fasilitas yang sepadan.

Pemerintah kota kemudian mengambil langkah berani pada 1927 dengan memulai program perbaikan kampung secara sepihak. Jalan diperkeras, drainase dibangun, fasilitas umum dipasang. Kebijakan ini melanggar prinsip desa otonomi, tetapi dijalankan demi alasan kesehatan dan ketertiban.

Baca Juga: Hikayat Kiaracondong, Tujuan Urbanisasi Kaum Pekerja Zaman Baheula

Baru pada 1934, pemerintah kolonial memberi dasar hukum lewat Kampong Improvement Ordinance. Negara mengizinkan intervensi kampung jika dampaknya meluas ke kota, terutama soal sanitasi dan perumahan.

Kendati demikian, hasilnya terbatas. Reerink mencatat bahwa proyek perbaikan sering berjalan lambat dan hanya menyentuh aspek fisik dangkal. Di beberapa tempat, perbaikan justru memicu gentrifikasi. Warga miskin terdesak oleh pendatang yang mampu membayar sewa lebih tinggi. Upaya membatasi pembangunan rumah sederhana memicu kekurangan hunian murah, sehingga satu rumah dihuni beberapa keluarga.

Kampung tumbuh lebih cepat daripada kemampuan kota mengawasinya. Bahkan menjelang akhir masa kolonial, otoritas sendiri mengakui kesulitan menentukan batas kewenangan dalam kampung. Krisis ekonomi memperburuk situasi. Anggaran menyusut, pengawasan melemah, dan kampung berkembang melalui mekanisme sosialnya sendiri.

Ketika pendudukan Jepang dan Revolusi Indonesia berlangsung, urusan kampung bukan prioritas. Setelah kemerdekaan, Indonesia berusaha menata ulang sistem pemerintahan, tetapi warisan otonomi kampung tetap bertahan. Negara baru menghadapi persoalan besar, dan kampung kota seperti Tamansari bertahan tanpa penataan menyeluruh.

Sejak dekade 1970-an, tekanan meningkat. Pertumbuhan penduduk Bandung membuat ruang semakin sempit. Tamansari, terutama di bantaran Cikapundung, dipadati bangunan semi permanen. Gang menyempit, rumah berhimpitan, dan infrastruktur tertinggal. Status tanah menjadi persoalan krusial. Banyak warga bermukim berdasarkan hak garapan adat, sementara sistem hukum modern menuntut sertifikasi formal.

Dalam kerangka Reerink, kondisi ini bukan penyimpangan, melainkan konsekuensi logis dari kegagalan negara mengontrol kampung sejak masa kolonial. Kampung tidak pernah benar benar diintegrasikan ke dalam perencanaan kota. Ia dibiarkan mandiri, lalu dituntut tertib saat kota berubah.

Saat memasuki era reformasi, Tamansari berubah menjadi panggung konflik ruang. Pemerintah berbicara tentang penataan, revitalisasi, dan pengurangan risiko bencana. Warga berbicara tentang rumah, sejarah, dan hak hidup. Di mata pemerintah kota, Tamansari perlahan dilihat sebagai kawasan yang harus “ditata”.

Baca Juga: Hikayat Hantu Dua Duo yang Gentayangan di Konflik Lahan Kota Bandung

Sejak 2007, Tamansari mulai masuk peta penataan kota Bandung. Kawasan kampung yang tumbuh rapat itu dianggap perlu diremajakan, mula-mula lewat rencana rusunawa, lalu berganti rupa menjadi rumah deret seiring perubahan arah kepemimpinan. Istilahnya lebih halus, kesannya lebih modern, seolah pembaruan ruang bisa dirapikan dengan mengganti nama proyek.

Pada 2017, rencana rumah deret disosialisasikan secara resmi. Pemerintah menjanjikan pembangunan tanpa penggusuran. Warga disebut hanya akan dipindahkan sementara, lalu kembali ke hunian baru. Skemanya terdengar tertib, nyaris tanpa cela.

Rumah deret Tamansari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Rumah deret Tamansari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Tapi di lorong-lorong Tamansari, cerita berkembang berbeda. Sosialisasi dianggap timpang, sementara status tanah tak pernah betul-betul selesai. Pemerintah mengklaim aset daerah, warga merasa hidup di sana turun-temurun. Ketegangan pun tumbuh pelan-pelan, berubah menjadi penolakan.

Saat proses hukum berjalan, alat negara justru datang lebih dulu. Penggusuran terjadi pada Desember 2019. Warga melawan, bentrokan pun tak terhindarkan. Tamansari kemudian berubah wajah, tapi konflik lahannya tak ikut selesai.

Hari ini, Tamansari tetap berdiri, memeluk sungai dan kepadatan. Kampung itu menyimpan lapisan sejarah yang jarang dibaca utuh. Dari sawah dan kebun kakao hingga rumah berhimpitan dan gang sempit, Tamansari menjadi bukti bahwa kota tumbuh bukan hanya lewat rencana besar, tetapi juga lewat ruang kecil yang dibiarkan berjalan sendiri terlalu lama.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)