Jika Kebun Binatang Bandung Hilang, Apa yang Tersisa dari Kota Ini?

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Rabu 04 Feb 2026, 09:42 WIB
Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Di bawah bayang-bayang pohon Karet Kebo yang menjulang di kawasan Tamansari, Yudi Hamzah tertegun. Pagi itu, ia sengaja datang lebih awal untuk mengamati setiap sudut “museum alam” yang kini menjadi sorotan di Kota Bandung. Bagi Yudi, Kebun Binatang Bandung (KBB) lebih dari sekadar ruang rekreasi. Tempat ini merupakan rangkaian panjang sejarah dan ungkapan cinta warga kota yang telah terbangun sejak satu abad lalu.

“Secara kultural, kebun binatang ini milik warga. Tidak ada kepemilikan pribadi si A atau si B. Ini warisan kolektif kota,” ujar Yudi saat ditemui dalam pertemuan rutin Bandung Heritage di Gedung Indonesia Menggugat.

Yudi baru saja menyelesaikan riset mendalam yang kemudian dibukukan dalam karya berjudul Kado untuk Bandung: Dari Taman Jadi Kebun Binatang. Penerbitan buku tersebut dilatarbelakangi oleh kegelisahan sekaligus romantisme sejarah. Jika pada 1931 Pemerintah Kota menghadiahkan Jubileumpark untuk peringatan 25 tahun Bandung, maka pada 2025–2026 ini, Yudi menghadirkan bukunya sebagai kado bagi peringatan HUT Kota Bandung ke-215.

Kebun Binatang Bandung menjadi salah satu destinasi favorit warga Bandung Raya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Kebun Binatang Bandung menjadi salah satu destinasi favorit warga Bandung Raya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Dari Jubileumpark ke Tamansari

Dalam tulisannya, Yudi menelusuri kembali Bandung pada 1931. Saat itu, pemerintah kota mengambil keputusan yang dianggap penuh empati. Alih-alih menghabiskan anggaran untuk perayaan sesaat, mereka memilih membangun taman yang dapat diwariskan lintas generasi.

Pada masa tersebut, Bandung telah dikenal sebagai “Kota Taman” dengan tiga tipe ruang hijau utama.

Pertama, park, yaitu taman rekreasi seperti Molkenpark. Kedua, plein, berupa ruang terbuka di perempatan atau kompleks permukiman. Ketiga, plantsoen, yakni taman pembibitan.

Namun, di balik reputasi itu, terdapat paradoks. Pada dekade 1920-an, Bandung justru dijuluki “Meksiko di Priangan” atau “pasar tanpa pohon” karena pepohonan yang masih kecil dan belum rindang.

“Baru pada tahun 1950–1960-an, pohon-pohon yang ditanam pada 1920-an tumbuh besar dan Bandung menjadi sejuk. Jadi, Jubileumpark pada 1 April 1931 merupakan investasi kesejukan jangka panjang,” jelas Yudi.

Transformasi taman menjadi kebun binatang juga memiliki sejarah panjang. Kebun binatang pertama di Bandung berdiri di Dago pada 1928, milik Tuan Vogelpoel. Namun, krisis ekonomi global pada 1930 membuat pengelolaannya terpuruk. Sebagian hewan sempat dipindahkan ke Hotel Ruston di Cimindi, tetapi upaya tersebut tidak mampu menyelamatkan seluruh koleksi.

Pada akhirnya, paguyuban Bandung Vooruit mengambil alih pengelolaan. Koleksi hewan disatukan dan dipindahkan ke sebagian lahan Jubileumpark pada Mei 1933, yang kemudian berkembang menjadi Kebun Binatang Bandung di Tamansari.

Museum Alam dan Ancaman Hilangnya Memori

Ketua Bandung Heritage, Aji Bimarsono, menilai nilai historis kawasan KBB kerap terabaikan karena perhatian publik lebih banyak tertuju pada satwa.

“Masyarakat sering lupa bahwa tempat ini awalnya adalah Jubileumpark, taman untuk mengoleksi tanaman tropis dan langka. Dulu bahkan kabarnya pernah ada bunga bangkai di sana,” ungkap Aji.

Bagi Aji dan komunitasnya, merawat KBB bukan sekadar soal kesejahteraan satwa, tetapi juga pelestarian ekosistem botani yang telah berusia hampir satu abad.

“Binatang memiliki usia terbatas, tetapi pohon bisa hidup ratusan tahun. Tanaman langka di sana harus didata agar tidak hilang ketika perhatian hanya tertuju pada satwa,” ujarnya.

Kekhawatiran meningkat ketika pemerintah mengajukan wacana menutup kebun binatang dan mengalihfungsikannya menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) murni. Yudi menilai opsi tersebut berpotensi menghapus memori kolektif warga.

Ia mengingat pengalaman lintas generasi, mulai dari siswa SD Santa Melania pada 1936 hingga pelajar era 1970-an, yang menjadikan KBB sebagai ruang belajar luar kelas untuk mengenal alam secara langsung.

“Kalau satwanya hilang, tempat ini akan setara dengan taman biasa seperti Tegalega. Padahal di sini ada edukasi, rekreasi, dan memori. Jika semua itu lenyap, identitas Bandung ikut terkikis. Ibarat Persib tanpa Maung, atau Bandung tanpa Gedung Sate,” tegasnya.

Solusi Konkret Mengembalikan Jati Diri

Alih-alih menutup KBB, Bandung Heritage menawarkan pendekatan restoratif. Aji menyoroti kondisi kawasan yang kini dipenuhi area parkir dan kios.

“Keberadaan hewan dan taman perlu dipertahankan, tetapi harus disesuaikan dengan daya dukung. Jangan memaksakan koleksi jika ruang hidupnya tidak layak. Area parkir dan kios juga terlalu mendominasi, sebaiknya direlokasi,” ujar Aji.

Ia mengusulkan pemindahan parkir ke kawasan luar, seperti Sabuga atau lahan ITB, sembari mendorong penggunaan transportasi umum.

“Dulu orang botram di sini naik angkot. Ke depan, perlu ada halte khusus agar kendaraan pribadi tidak menumpuk di kawasan bersejarah ini. Biarkan lahannya dimaksimalkan untuk ruang hijau dan satwa,” katanya.

Warga memanfaatkan waktu liburan untuk berkumpul dan makan bersama di Kebun Binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Warga memanfaatkan waktu liburan untuk berkumpul dan makan bersama di Kebun Binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Menyembuhkan Luka dengan Kesadaran Sejarah

Polemik KBB sempat memuncak setelah pernyataan Pemerintah Kota Bandung pada 12 Januari 2026. Namun, tekanan dari aktivis sejarah dan jurnalis mulai memengaruhi sikap pemerintah. Pada 15 Januari, pemerintah menyatakan akan mempertimbangkan aspek sejarah dan ekologi dalam pengambilan kebijakan.

Dalam bukunya, Yudi mengingatkan bahwa Bandung telah kehilangan banyak warisan, mulai dari Pemandian Cihampelas, Gedung Miramar, hingga perubahan wajah Alun-alun.

“Sejarah bukan hanya tentang masa lalu, tetapi tentang cara memahami diri hari ini. Menghilangkan kebun binatang berarti menghapus jejak empati yang dibangun pendahulu,” tulis Yudi.

Buku Kado untuk Bandung kini berdiri sebagai pengingat bahwa kepedulian terhadap warisan kota masih hidup. Pada usia ke-215, masa depan Kebun Binatang Bandung kembali berada di persimpangan kebijakan: dipertahankan sebagai ruang sejarah hidup, atau perlahan dibiarkan kehilangan maknanya.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Beranda 04 Feb 2026, 09:42 WIB

Jika Kebun Binatang Bandung Hilang, Apa yang Tersisa dari Kota Ini?

Tempat ini merupakan rangkaian panjang sejarah dan ungkapan cinta warga kota yang telah terbangun sejak satu abad lalu.
Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 09:39 WIB

Aan Merdeka Permana Penulis Spesialis Tema Padjadjaran

Yayasan Kebudayaan Rancagé menetapkan sastrawan Sunda senior Aan Merdeka Permana sebagai peraih Hadiah Jasa 2026.
Buku-buku karya Aan Merdeka Permana. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 08:04 WIB

Ngabuburit dari Masa ke Masa

Ngabuburit di kota Bandung mengalami pergeseran nilai dan aktifitas serta cara melakukannya.
Masjid Al-Jabar di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Andry Sasongko)
Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:33 WIB

Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Kawasan Pasteur Bandung tumbuh dari pusat riset vaksin kolonial menjadi simpul penting ilmu kesehatan nasional yang jejaknya masih bertahan hingga kini.
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:31 WIB

Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

Didirikan di Bandung pada 1912, Indische Partij menjadi organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh dari kekuasaan kolonial Belanda.
Logo Indische Partij.
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 15:13 WIB

Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

Di tengah kecemasan, kisah “Nihilist Penguin” bertemu tekanan hidup kota. Dari luka personal lahir Florist Project dan lagu “Cemas”, seni yang tak menggurui, tapi menemani manusia belajar bertahan.
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Bandung 03 Feb 2026, 12:52 WIB

Berlari Menjemput Cahaya Pendidikan: Jejak Kebaikan di Balik DH Run 2026

Di balik kemeriahan medali dan garis finis, DH Run 2026 membawa misi sosial yang menyentuh akar kehidupan.
Konferensi pers DH Run 2026 yang membawa misi sosial untuk menyentuh akar kehidupan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 12:43 WIB

Raih Hadiah Jasa Rancage, Aan M.P. Sebut KDM Tidak Senang Bantu Sastrawan Miskin

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa.
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 11:11 WIB

Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Tema ini menjadi ajakan terbuka bagi para penulis Ayo Netizen untuk mengirim tulisan terbaik.
Ayo Netizen Ayobandung.id mengangkat tema "Bandung Raya dan Bulan Puasa: Tradisi, Ekonomi, dan Realita Saat Ini" untuk edisi Februari 2026. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT)
Bandung 03 Feb 2026, 10:58 WIB

Dari Kaki Lima ke Ruko Lantai Tiga: Strategi Awug Cibeunying Bertahan di Tengah Zaman

Rizky turut serta menjaga kualitas dan kuantitas awug supaya tetap terjaga meski pasang-surut perubahan zaman telah dihadapi bersama keluarga besarnya selama membangun bisnis ini.
Kios Awug Cibeunying. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 09:36 WIB

Kian Banyak Tertemper Kereta Api, Perlintasan Sebidang Titik Paling Mematikan

Setelah perlintasan sebidang dibangun jalan layang atau terowongan, ternyata kebijakan daerah sangat lemah.
Perlintasan sebidang di Cimindi yang sangat rawan. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Bandung 03 Feb 2026, 09:19 WIB

Digitalisasi Jejak Karbon: Menakar Teknologi Berkelanjutan dalam Layanan Pelanggan Singapore Airlines

Penumpang dan pelanggan kargo SIA dapat menghitung dan mengimbangi emisi karbon penerbangan mereka, baik sebelum maupun setelah terbang.
Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: Singapore Air)
Beranda 03 Feb 2026, 07:12 WIB

Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini.
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 19:47 WIB

Susah Payah Menjaga Tertib Bahasa Dicengkram Mesin Algoritma

Standar Bahasa Indonesia perlahan tidak lagi dibentuk oleh komunitas diskusi, melainkan oleh mesin berbasis data global.
Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 17:43 WIB

Quo Vadis BKKBN dalam Kepungan Patologi Sosial

Jika fenomena YOLO, FOMO, dan FOPO dihubungkan, muncul gambaran yang lebih luas mengenai bagaimana komunikasi digital mempengaruhi kesehatan mental individu.
Ilustrasi perubahan perilaku generasi milenial dan Z. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)