Jika Kebun Binatang Bandung Hilang, Apa yang Tersisa dari Kota Ini?

4 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Di bawah bayang-bayang pohon Karet Kebo yang menjulang di kawasan Tamansari, Yudi Hamzah tertegun. Pagi itu, ia sengaja datang lebih awal untuk mengamati setiap sudut “museum alam” yang kini menjadi sorotan di Kota Bandung. Bagi Yudi, Kebun Binatang Bandung (KBB) lebih dari sekadar ruang rekreasi. Tempat ini merupakan rangkaian panjang sejarah dan ungkapan cinta warga kota yang telah terbangun sejak satu abad lalu.

“Secara kultural, kebun binatang ini milik warga. Tidak ada kepemilikan pribadi si A atau si B. Ini warisan kolektif kota,” ujar Yudi saat ditemui dalam pertemuan rutin Bandung Heritage di Gedung Indonesia Menggugat.

Yudi baru saja menyelesaikan riset mendalam yang kemudian dibukukan dalam karya berjudul Kado untuk Bandung: Dari Taman Jadi Kebun Binatang. Penerbitan buku tersebut dilatarbelakangi oleh kegelisahan sekaligus romantisme sejarah. Jika pada 1931 Pemerintah Kota menghadiahkan Jubileumpark untuk peringatan 25 tahun Bandung, maka pada 2025–2026 ini, Yudi menghadirkan bukunya sebagai kado bagi peringatan HUT Kota Bandung ke-215.

Kebun Binatang Bandung menjadi salah satu destinasi favorit warga Bandung Raya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Kebun Binatang Bandung menjadi salah satu destinasi favorit warga Bandung Raya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Dari Jubileumpark ke Tamansari

Dalam tulisannya, Yudi menelusuri kembali Bandung pada 1931. Saat itu, pemerintah kota mengambil keputusan yang dianggap penuh empati. Alih-alih menghabiskan anggaran untuk perayaan sesaat, mereka memilih membangun taman yang dapat diwariskan lintas generasi.

Pada masa tersebut, Bandung telah dikenal sebagai “Kota Taman” dengan tiga tipe ruang hijau utama.

Pertama, park, yaitu taman rekreasi seperti Molkenpark. Kedua, plein, berupa ruang terbuka di perempatan atau kompleks permukiman. Ketiga, plantsoen, yakni taman pembibitan.

Namun, di balik reputasi itu, terdapat paradoks. Pada dekade 1920-an, Bandung justru dijuluki “Meksiko di Priangan” atau “pasar tanpa pohon” karena pepohonan yang masih kecil dan belum rindang.

“Baru pada tahun 1950–1960-an, pohon-pohon yang ditanam pada 1920-an tumbuh besar dan Bandung menjadi sejuk. Jadi, Jubileumpark pada 1 April 1931 merupakan investasi kesejukan jangka panjang,” jelas Yudi.

Transformasi taman menjadi kebun binatang juga memiliki sejarah panjang. Kebun binatang pertama di Bandung berdiri di Dago pada 1928, milik Tuan Vogelpoel. Namun, krisis ekonomi global pada 1930 membuat pengelolaannya terpuruk. Sebagian hewan sempat dipindahkan ke Hotel Ruston di Cimindi, tetapi upaya tersebut tidak mampu menyelamatkan seluruh koleksi.

Pada akhirnya, paguyuban Bandung Vooruit mengambil alih pengelolaan. Koleksi hewan disatukan dan dipindahkan ke sebagian lahan Jubileumpark pada Mei 1933, yang kemudian berkembang menjadi Kebun Binatang Bandung di Tamansari.

Museum Alam dan Ancaman Hilangnya Memori

Ketua Bandung Heritage, Aji Bimarsono, menilai nilai historis kawasan KBB kerap terabaikan karena perhatian publik lebih banyak tertuju pada satwa.

“Masyarakat sering lupa bahwa tempat ini awalnya adalah Jubileumpark, taman untuk mengoleksi tanaman tropis dan langka. Dulu bahkan kabarnya pernah ada bunga bangkai di sana,” ungkap Aji.

Bagi Aji dan komunitasnya, merawat KBB bukan sekadar soal kesejahteraan satwa, tetapi juga pelestarian ekosistem botani yang telah berusia hampir satu abad.

“Binatang memiliki usia terbatas, tetapi pohon bisa hidup ratusan tahun. Tanaman langka di sana harus didata agar tidak hilang ketika perhatian hanya tertuju pada satwa,” ujarnya.

Kekhawatiran meningkat ketika pemerintah mengajukan wacana menutup kebun binatang dan mengalihfungsikannya menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) murni. Yudi menilai opsi tersebut berpotensi menghapus memori kolektif warga.

Ia mengingat pengalaman lintas generasi, mulai dari siswa SD Santa Melania pada 1936 hingga pelajar era 1970-an, yang menjadikan KBB sebagai ruang belajar luar kelas untuk mengenal alam secara langsung.

“Kalau satwanya hilang, tempat ini akan setara dengan taman biasa seperti Tegalega. Padahal di sini ada edukasi, rekreasi, dan memori. Jika semua itu lenyap, identitas Bandung ikut terkikis. Ibarat Persib tanpa Maung, atau Bandung tanpa Gedung Sate,” tegasnya.

Solusi Konkret Mengembalikan Jati Diri

Alih-alih menutup KBB, Bandung Heritage menawarkan pendekatan restoratif. Aji menyoroti kondisi kawasan yang kini dipenuhi area parkir dan kios.

“Keberadaan hewan dan taman perlu dipertahankan, tetapi harus disesuaikan dengan daya dukung. Jangan memaksakan koleksi jika ruang hidupnya tidak layak. Area parkir dan kios juga terlalu mendominasi, sebaiknya direlokasi,” ujar Aji.

Ia mengusulkan pemindahan parkir ke kawasan luar, seperti Sabuga atau lahan ITB, sembari mendorong penggunaan transportasi umum.

“Dulu orang botram di sini naik angkot. Ke depan, perlu ada halte khusus agar kendaraan pribadi tidak menumpuk di kawasan bersejarah ini. Biarkan lahannya dimaksimalkan untuk ruang hijau dan satwa,” katanya.

Warga memanfaatkan waktu liburan untuk berkumpul dan makan bersama di Kebun Binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Warga memanfaatkan waktu liburan untuk berkumpul dan makan bersama di Kebun Binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Menyembuhkan Luka dengan Kesadaran Sejarah

Polemik KBB sempat memuncak setelah pernyataan Pemerintah Kota Bandung pada 12 Januari 2026. Namun, tekanan dari aktivis sejarah dan jurnalis mulai memengaruhi sikap pemerintah. Pada 15 Januari, pemerintah menyatakan akan mempertimbangkan aspek sejarah dan ekologi dalam pengambilan kebijakan.

Dalam bukunya, Yudi mengingatkan bahwa Bandung telah kehilangan banyak warisan, mulai dari Pemandian Cihampelas, Gedung Miramar, hingga perubahan wajah Alun-alun.

“Sejarah bukan hanya tentang masa lalu, tetapi tentang cara memahami diri hari ini. Menghilangkan kebun binatang berarti menghapus jejak empati yang dibangun pendahulu,” tulis Yudi.

Buku Kado untuk Bandung kini berdiri sebagai pengingat bahwa kepedulian terhadap warisan kota masih hidup. Pada usia ke-215, masa depan Kebun Binatang Bandung kembali berada di persimpangan kebijakan: dipertahankan sebagai ruang sejarah hidup, atau perlahan dibiarkan kehilangan maknanya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)