Hikayat Konflik Lahan Bandung Zoo, Kala Satwa jadi Korban Perebutan Hak Kebun Binatang

Gilang Fathu Romadhan Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan , Hengky Sulaksono diterbitkan Senin 29 Des 2025, 18:08 WIB
Karyawan Bandung Zoo menggelar aksi di depan gedung BBKSDA Jawa Barat, Kamis, 18 Desember 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Karyawan Bandung Zoo menggelar aksi di depan gedung BBKSDA Jawa Barat, Kamis, 18 Desember 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

AYOBANDUNG.ID - Kebun Binatang Bandung, atau yang lebih akrab disebut Bandung Zoo, sejak lama bukan sekadar tempat melihat singa menguap dan rusa mengunyah wortel. Ia adalah artefak hidup dari sejarah Kota Bandung. Ia dibangun pada era kolonial, bertahan melewati pendudukan Jepang, revolusi kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, hingga zaman media sosial. Namun memasuki dekade ketiganya di abad ke-21, kebun binatang ini justru lebih sering menjadi bahan berita hukum ketimbang cerita edukasi satwa.

Konflik lahan Bandung Zoo tidak muncul tiba-tiba seperti harimau dari balik semak. Ia tumbuh perlahan, berlapis-lapis, dan mengendap selama puluhan tahun. Masalahnya bukan hanya soal siapa pemilik sah tanah seluas sekitar 14 hektare di jantung Kota Bandung, tetapi juga tentang bagaimana negara, yayasan, keluarga pendiri, dan aparat hukum saling tarik-menarik kepentingan. Di tengah pusaran itu, ratusan satwa dan pekerja menjadi pihak yang paling jarang diajak bicara, tetapi paling sering menanggung akibat.

Jejak konflik ini bahkan bisa ditarik ke masa kelam tahun 1942, ketika pasukan Jepang mengepung Bandung. Kala itu, pengelolaan kebun binatang nyaris lumpuh. Orang-orang Belanda ditahan, kota kacau, dan satwa-satwa kehilangan pengurus. Di tengah kekosongan itu, seorang tokoh lokal bernama Raden Ema Bratakusuma mengambil alih pengelolaan dengan sumber daya yang serba terbatas. Banyak hewan mati, kandang tak terawat, dan kawasan kebun binatang perlahan menyerupai hutan liar yang kehilangan tuan.

Baca Juga: Sejarah Jatinangor, Perkebunan Kolonial yang jadi Pabrik Sarjana di Timur Bandung

Selepas kemerdekaan Indonesia, roda sejarah berputar lagi. Orang-orang Belanda dibebaskan, termasuk Hoogland, tokoh penting dalam pengelolaan kebun binatang era kolonial. Melihat kondisi yang porak-poranda, Bandoengsche Zoologisch Park dibubarkan dan asetnya dilikuidasi. Dari puing-puing itulah lahir Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT), yang didirikan secara resmi pada 22 Februari 1957 melalui akta notaris. Raden Ema Bratakusuma memimpin yayasan tersebut hingga wafat pada 1984, lalu tongkat estafet diteruskan oleh keturunannya.

Sejak titik itu, Bandung Zoo berjalan dalam ruang abu-abu yang panjang. Ia dikelola yayasan, tetapi berdiri di atas lahan yang status hukumnya tak pernah benar-benar selesai dibereskan. Selama puluhan tahun, masalah ini seperti kandang tua yang pintunya berderit tapi tak pernah diganti: diketahui bermasalah, tetapi dibiarkan.

Baca Juga: Sejarah Kebun Binatang Bandung yang Sempat Jadi Hutan, dari Jubileumpark ke Bazooga

Sertifikat, Sewa, dan Tuduhan Korupsi

Persoalan mulai mengeras ketika Pemerintah Kota Bandung secara resmi mengklaim lahan Bandung Zoo sebagai Barang Milik Daerah. Klaim ini tercatat dalam Kartu Inventaris Barang sejak 2005. Menurut versi Pemkot dan Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, lahan tersebut diperoleh melalui pembelian dua belas bidang tanah dan satu bidang hasil tukar-menukar. Puncaknya terjadi pada Februari 2025, ketika Pemkot Bandung mengantongi Sertifikat Hak Pakai atas lahan tersebut.

Di sisi lain, Yayasan Margasatwa Tamansari menolak klaim tersebut. Yayasan berpegang pada penguasaan historis sejak 1933 dan berbagai dasar hukum perdata yang mengakui kepemilikan atas tanah yang dikuasai secara terus-menerus, terbuka, dan tanpa sengketa selama puluhan tahun. Bagi yayasan, Bandung Zoo bukan sekadar tempat usaha, melainkan warisan sejarah yang dibangun dan dirawat lintas generasi.

Ketegangan memuncak pada 2020 ketika Pemkot Bandung menagih sewa lahan yang disebut menunggak sejak 2007 dengan nilai mencapai Rp13,5 miliar. Surat peringatan dilayangkan berulang kali, disertai ancaman penyegelan. Bandung Zoo yang selama ini dikenal sebagai ruang rekreasi keluarga mendadak berubah menjadi objek sengketa administrasi dengan aroma politik dan hukum.

Belum selesai soal sewa, muncul pula klaim kepemilikan pribadi dari seorang bernama Stephen Partana. Proses hukum berjalan, menambah daftar panjang pihak yang merasa punya hak atas tanah kebun binatang. Situasi kian ruwet ketika Kejaksaan Tinggi Jawa Barat menetapkan dua petinggi Yayasan Margasatwa Tamansari sebagai tersangka dugaan korupsi penguasaan lahan. Tuduhan ini berkembang menjadi perkara besar yang menyeret nama-nama penting, termasuk mantan Sekda Kota Bandung.

Baca Juga: Hikayat Konflik Lahan Dago Elos yang jadi Simbol Perlawanan di Bandung

Sejumlah siswa dan siswi Taman Kanak-kanak beserta orang tua mengunjungi Bandung Zoo. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Sejumlah siswa dan siswi Taman Kanak-kanak beserta orang tua mengunjungi Bandung Zoo. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Keterangan Kejati Jabar, yayasan tetap memanfaatkan lahan milik Pemkot Bandung setelah masa sewa berakhir tanpa membayar kewajiban ke kas daerah. Nilai kerugian negara ditaksir mencapai puluhan miliar rupiah, mencakup sewa tanah, Pajak Bumi dan Bangunan, serta penerimaan lain yang tidak disetorkan. Pada awal 2025, sejumlah aset bangunan di kawasan kebun binatang disita, mulai dari kantor operasional hingga rumah sakit hewan.

Langkah hukum ini memicu reaksi keras dari pihak yayasan, yang menilai proses tersebut cacat prosedur. Praperadilan diajukan, badan hukum yayasan dibekukan, dan pada Oktober 2025 pengadilan menjatuhkan vonis penjara terhadap dua petinggi yayasan. Konflik lahan Bandung Zoo pun resmi naik kelas dari sengketa administratif menjadi perkara pidana dengan palu hakim sebagai penutup babak tertentu meski bukan akhir cerita.

Baca Juga: Hikayat Jejak Kopi Jawa di Balik Bahasa Pemrograman Java

Dualisme Pengurus dan Satwa yang Jadi Korban

Saat persoalan hukum belum reda, masalah internal pengelolaan justru meledak. Pasca wafatnya Romly S. Bratakusuma, muncul klaim kepengurusan baru yang mengaku sebagai penerus sah berdasarkan dokumen lama. Di saat yang sama, kepengurusan lama masih berjalan. Dualisme ini membuat Bandung Zoo seperti kandang dengan dua pawang yang memberi perintah berbeda.

Dampaknya langsung terasa pada operasional. Kebun binatang sempat ditutup berbulan-bulan. Pengunjung datang dan pulang dengan wajah kecewa. Pedagang kehilangan mata pencaharian. Yang paling tragis, satwa-satwa menghadapi krisis pakan dan perawatan. Dalam rentang beberapa bulan, sejumlah hewan dilaporkan mati. Stres, gangguan makan, dan lemahnya koordinasi disebut sebagai faktor utama.

Kisruh memuncak pada awal Juli 2025, ketika terjadi pengambilalihan kantor dan operasional oleh salah satu kubu. Laporan ke kepolisian dilayangkan, tuduhan perusakan dan pengambilan barang bukti mencuat, dan Bandung Zoo kembali ditutup mendadak. Garis polisi melintang di gerbang yang biasanya dipenuhi tawa anak-anak. Ironisnya, semua ini terjadi di ruang yang seharusnya menjadi tempat belajar tentang kehidupan dan keseimbangan alam.

Baca Juga: Sejak Kapan Pohon Cemara Digunakan jadi Hiasan Natal?

Pemerintah Kota Bandung akhirnya mengambil sikap lebih tegas. Surat peringatan pengosongan lahan dilayangkan, dan Wali Kota Bandung menyatakan tidak ingin lagi menjadi mediator konflik yang tak kunjung usai. Jalur hukum dipilih sebagai satu-satunya arena penyelesaian. Di sisi lain, aparat kepolisian membuka kembali akses kebun binatang secara terbatas demi memastikan satwa tetap dirawat.

Jelang akhir 2025, konflik lahan Bandung Zoo masih menggantung. Putusan pidana memang sudah ada, tetapi pertanyaan mendasar tentang siapa seharusnya mengelola, dengan skema apa, dan untuk kepentingan siapa, belum terjawab tuntas. Pada libur Natal dan Tahun Baru 2025–2026, kebun binatang dibuka kembali secara terbatas tanpa tiket masuk. Pengunjung diminta berdonasi sukarela untuk pakan satwa. Antrean panjang warga menjadi pemandangan yang menyentuh sekaligus menyindir: publik masih membutuhkan ruang ini, sementara para pengelolanya masih sibuk berkonflik.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)
Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 13:14

Dari Sampah Menjadi Penjernih Sungai

Mahasiswa Tel-U menggagas website edukasi Ecoenzyme untuk atasi banjir Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 12:03

Doktrin Pemikiran Manusia

Dalam konteks apapun, doktrin menjadikan sebuah pemikiran otak manusia menjadi lebih aktif dalam berbagai permasalahan.

Ilustrasi manusia. (Sumber: Pexels | Foto: beytlik)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 11:18

Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 09 Apr 2026, 09:55

Menjembatani Kesenjangan Internet: Antara Fiber, FWA, dan Harapan 5G

Kesenjangan akses internet di Indonesia masih tinggi, sehingga kombinasi fiber optik, 4G, 5G, dan FWA serta kolaborasi pemerintah dan operator jadi kunci pemerataan broadband.

Suasana Seminar Teknologi FTTH, FWA & Mobile Broadband di Aula Timur ITB Kampus Ganesa, yang membahas strategi pemerataan akses internet di tengah kesenjangan infrastruktur digital di Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 09:54

Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Rambu pudar, tertutup, dan marka hilang meningkatkan risiko kecelakaan di Bandung. Masalah ini menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)