Hikayat Konflik Lahan Bandung Zoo, Kala Satwa jadi Korban Perebutan Hak Kebun Binatang

5 menit baca
Gilang Fathu Romadhan Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan , Hengky Sulaksono diterbitkan
Karyawan Bandung Zoo menggelar aksi di depan gedung BBKSDA Jawa Barat, Kamis, 18 Desember 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Karyawan Bandung Zoo menggelar aksi di depan gedung BBKSDA Jawa Barat, Kamis, 18 Desember 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

AYOBANDUNG.ID - Kebun Binatang Bandung, atau yang lebih akrab disebut Bandung Zoo, sejak lama bukan sekadar tempat melihat singa menguap dan rusa mengunyah wortel. Ia adalah artefak hidup dari sejarah Kota Bandung. Ia dibangun pada era kolonial, bertahan melewati pendudukan Jepang, revolusi kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, hingga zaman media sosial. Namun memasuki dekade ketiganya di abad ke-21, kebun binatang ini justru lebih sering menjadi bahan berita hukum ketimbang cerita edukasi satwa.

Konflik lahan Bandung Zoo tidak muncul tiba-tiba seperti harimau dari balik semak. Ia tumbuh perlahan, berlapis-lapis, dan mengendap selama puluhan tahun. Masalahnya bukan hanya soal siapa pemilik sah tanah seluas sekitar 14 hektare di jantung Kota Bandung, tetapi juga tentang bagaimana negara, yayasan, keluarga pendiri, dan aparat hukum saling tarik-menarik kepentingan. Di tengah pusaran itu, ratusan satwa dan pekerja menjadi pihak yang paling jarang diajak bicara, tetapi paling sering menanggung akibat.

Jejak konflik ini bahkan bisa ditarik ke masa kelam tahun 1942, ketika pasukan Jepang mengepung Bandung. Kala itu, pengelolaan kebun binatang nyaris lumpuh. Orang-orang Belanda ditahan, kota kacau, dan satwa-satwa kehilangan pengurus. Di tengah kekosongan itu, seorang tokoh lokal bernama Raden Ema Bratakusuma mengambil alih pengelolaan dengan sumber daya yang serba terbatas. Banyak hewan mati, kandang tak terawat, dan kawasan kebun binatang perlahan menyerupai hutan liar yang kehilangan tuan.

Baca Juga: Sejarah Jatinangor, Perkebunan Kolonial yang jadi Pabrik Sarjana di Timur Bandung

Selepas kemerdekaan Indonesia, roda sejarah berputar lagi. Orang-orang Belanda dibebaskan, termasuk Hoogland, tokoh penting dalam pengelolaan kebun binatang era kolonial. Melihat kondisi yang porak-poranda, Bandoengsche Zoologisch Park dibubarkan dan asetnya dilikuidasi. Dari puing-puing itulah lahir Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT), yang didirikan secara resmi pada 22 Februari 1957 melalui akta notaris. Raden Ema Bratakusuma memimpin yayasan tersebut hingga wafat pada 1984, lalu tongkat estafet diteruskan oleh keturunannya.

Sejak titik itu, Bandung Zoo berjalan dalam ruang abu-abu yang panjang. Ia dikelola yayasan, tetapi berdiri di atas lahan yang status hukumnya tak pernah benar-benar selesai dibereskan. Selama puluhan tahun, masalah ini seperti kandang tua yang pintunya berderit tapi tak pernah diganti: diketahui bermasalah, tetapi dibiarkan.

Baca Juga: Sejarah Kebun Binatang Bandung yang Sempat Jadi Hutan, dari Jubileumpark ke Bazooga

Sertifikat, Sewa, dan Tuduhan Korupsi

Persoalan mulai mengeras ketika Pemerintah Kota Bandung secara resmi mengklaim lahan Bandung Zoo sebagai Barang Milik Daerah. Klaim ini tercatat dalam Kartu Inventaris Barang sejak 2005. Menurut versi Pemkot dan Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, lahan tersebut diperoleh melalui pembelian dua belas bidang tanah dan satu bidang hasil tukar-menukar. Puncaknya terjadi pada Februari 2025, ketika Pemkot Bandung mengantongi Sertifikat Hak Pakai atas lahan tersebut.

Di sisi lain, Yayasan Margasatwa Tamansari menolak klaim tersebut. Yayasan berpegang pada penguasaan historis sejak 1933 dan berbagai dasar hukum perdata yang mengakui kepemilikan atas tanah yang dikuasai secara terus-menerus, terbuka, dan tanpa sengketa selama puluhan tahun. Bagi yayasan, Bandung Zoo bukan sekadar tempat usaha, melainkan warisan sejarah yang dibangun dan dirawat lintas generasi.

Ketegangan memuncak pada 2020 ketika Pemkot Bandung menagih sewa lahan yang disebut menunggak sejak 2007 dengan nilai mencapai Rp13,5 miliar. Surat peringatan dilayangkan berulang kali, disertai ancaman penyegelan. Bandung Zoo yang selama ini dikenal sebagai ruang rekreasi keluarga mendadak berubah menjadi objek sengketa administrasi dengan aroma politik dan hukum.

Belum selesai soal sewa, muncul pula klaim kepemilikan pribadi dari seorang bernama Stephen Partana. Proses hukum berjalan, menambah daftar panjang pihak yang merasa punya hak atas tanah kebun binatang. Situasi kian ruwet ketika Kejaksaan Tinggi Jawa Barat menetapkan dua petinggi Yayasan Margasatwa Tamansari sebagai tersangka dugaan korupsi penguasaan lahan. Tuduhan ini berkembang menjadi perkara besar yang menyeret nama-nama penting, termasuk mantan Sekda Kota Bandung.

Baca Juga: Hikayat Konflik Lahan Dago Elos yang jadi Simbol Perlawanan di Bandung

Sejumlah siswa dan siswi Taman Kanak-kanak beserta orang tua mengunjungi Bandung Zoo. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Sejumlah siswa dan siswi Taman Kanak-kanak beserta orang tua mengunjungi Bandung Zoo. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Keterangan Kejati Jabar, yayasan tetap memanfaatkan lahan milik Pemkot Bandung setelah masa sewa berakhir tanpa membayar kewajiban ke kas daerah. Nilai kerugian negara ditaksir mencapai puluhan miliar rupiah, mencakup sewa tanah, Pajak Bumi dan Bangunan, serta penerimaan lain yang tidak disetorkan. Pada awal 2025, sejumlah aset bangunan di kawasan kebun binatang disita, mulai dari kantor operasional hingga rumah sakit hewan.

Langkah hukum ini memicu reaksi keras dari pihak yayasan, yang menilai proses tersebut cacat prosedur. Praperadilan diajukan, badan hukum yayasan dibekukan, dan pada Oktober 2025 pengadilan menjatuhkan vonis penjara terhadap dua petinggi yayasan. Konflik lahan Bandung Zoo pun resmi naik kelas dari sengketa administratif menjadi perkara pidana dengan palu hakim sebagai penutup babak tertentu meski bukan akhir cerita.

Baca Juga: Hikayat Jejak Kopi Jawa di Balik Bahasa Pemrograman Java

Dualisme Pengurus dan Satwa yang Jadi Korban

Saat persoalan hukum belum reda, masalah internal pengelolaan justru meledak. Pasca wafatnya Romly S. Bratakusuma, muncul klaim kepengurusan baru yang mengaku sebagai penerus sah berdasarkan dokumen lama. Di saat yang sama, kepengurusan lama masih berjalan. Dualisme ini membuat Bandung Zoo seperti kandang dengan dua pawang yang memberi perintah berbeda.

Dampaknya langsung terasa pada operasional. Kebun binatang sempat ditutup berbulan-bulan. Pengunjung datang dan pulang dengan wajah kecewa. Pedagang kehilangan mata pencaharian. Yang paling tragis, satwa-satwa menghadapi krisis pakan dan perawatan. Dalam rentang beberapa bulan, sejumlah hewan dilaporkan mati. Stres, gangguan makan, dan lemahnya koordinasi disebut sebagai faktor utama.

Kisruh memuncak pada awal Juli 2025, ketika terjadi pengambilalihan kantor dan operasional oleh salah satu kubu. Laporan ke kepolisian dilayangkan, tuduhan perusakan dan pengambilan barang bukti mencuat, dan Bandung Zoo kembali ditutup mendadak. Garis polisi melintang di gerbang yang biasanya dipenuhi tawa anak-anak. Ironisnya, semua ini terjadi di ruang yang seharusnya menjadi tempat belajar tentang kehidupan dan keseimbangan alam.

Baca Juga: Sejak Kapan Pohon Cemara Digunakan jadi Hiasan Natal?

Pemerintah Kota Bandung akhirnya mengambil sikap lebih tegas. Surat peringatan pengosongan lahan dilayangkan, dan Wali Kota Bandung menyatakan tidak ingin lagi menjadi mediator konflik yang tak kunjung usai. Jalur hukum dipilih sebagai satu-satunya arena penyelesaian. Di sisi lain, aparat kepolisian membuka kembali akses kebun binatang secara terbatas demi memastikan satwa tetap dirawat.

Jelang akhir 2025, konflik lahan Bandung Zoo masih menggantung. Putusan pidana memang sudah ada, tetapi pertanyaan mendasar tentang siapa seharusnya mengelola, dengan skema apa, dan untuk kepentingan siapa, belum terjawab tuntas. Pada libur Natal dan Tahun Baru 2025–2026, kebun binatang dibuka kembali secara terbatas tanpa tiket masuk. Pengunjung diminta berdonasi sukarela untuk pakan satwa. Antrean panjang warga menjadi pemandangan yang menyentuh sekaligus menyindir: publik masih membutuhkan ruang ini, sementara para pengelolanya masih sibuk berkonflik.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)