Hikayat Konflik Lahan Dago Elos yang jadi Simbol Perlawanan di Bandung

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Forum Dago Melawan di Depan Polrestabes Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Forum Dago Melawan di Depan Polrestabes Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Tak ada yang lebih ironis daripada hidup di kota yang dijuluki kreatif, tapi harus berhadapan dengan kreativitas paling absurd: kreativitas mafia tanah menghidupkan lagi sertifikat Belanda tahun 1870. Begitulah nasib warga Dago Elos, kampung di jantung Bandung, yang tiba-tiba dituding menempati lahan orang lain. Padahal rumah mereka sudah berdiri sebelum mal, hotel, dan kafe-kafe hipster memenuhi kota.

Seperti kisah klasik, semuanya berawal dari lembaran kertas kolonial bernama eigendom verponding dan berujung pada aksi massa, gas air mata, hingga konser solidaritas. Dari rumah-rumah warga hingga ruang sidang, Dago Elos menjelma simbol perlawanan terhadap keserakahan modal. Lahan seluas sekitar 6,3 hingga 6,9 hektare itu sejak 2014 menjadi rebutan antara warga dengan mereka yang mengaku pewaris Belanda dan perusahaan properti. Sengketa ini tidak hanya mempersoalkan siapa pemilik sah tanah, melainkan juga membuka borok panjang tentang mafia tanah di Indonesia.

Duduk perkara akar masalah dari konflik lahan di Dago Elos ini berawaldari zaman kolonial. Sekitar tahun 1870, seorang administratur perkebunan Belanda bernama Georgius Hendrikus Wilhelmus Müller memiliki lahan di Dago Elos. Tiga lembar dokumen eigendom verponding bernomor 3740, 3741, dan 3742 menjadi bukti kepemilikan. Pada masa kolonial, kertas itu ibarat kitab suci.

Tapi, semua berubah setelah Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) 1960 berlaku. Undang-undang itu mewajibkan konversi hak tanah kolonial menjadi hak milik Indonesia paling lambat 24 September 1980. Bila tidak, tanah otomatis menjadi tanah negara, terbuka bagi rakyat yang menguasai dan mengolahnya. Itulah yang terjadi di Dago Elos. Sejak 1960-an, warga membangun rumah, masjid, sekolah, dan fasilitas umum. Sebagian kemudian memperoleh Sertifikat Hak Milik (SHM) dari BPN, sah menurut hukum nasional.

Para pemuda yang bersolidaritas membentangkan spanduk penolakan mafia tanah di Dago Elos. (Sumber: Instagram @dagomelawan)
Para pemuda yang bersolidaritas membentangkan spanduk penolakan mafia tanah di Dago Elos. (Sumber: Instagram @dagomelawan)

Baca Juga: Hikayat Hantu Dua Duo yang Gentayangan di Konflik Lahan Kota Bandung

Di kampung ini, kehidupan berjalan normal. Anak-anak berlarian, pedagang membuka warung, dan komunitas tumbuh dengan identitas yang kuat. Lahan Müller tinggal jadi nama dalam dokumen tua, tersimpan di arsip sejarah.

Ketenangan buyar pada 2014. Tiga orang muncul dengan nama belakang Müller: Heri Hermawan, Dodi Rustandi, dan Pipin Supendi. Mereka mengantongi Surat Pernyataan Ahli Waris (PAW) dari Pengadilan Agama Cimahi, nomor 687/Pdt.P/2013. Dengan percaya diri, mereka menyatakan diri sebagai pewaris sah Georgius Müller.

Tidak berhenti sampai di situ, mereka menggandeng PT Dago Inti Graha, perusahaan properti milik Jo Budi Hartanto. Tujuannya membangun proyek mewah seperti The MAJ Collection Hotel & Residence. Pada Desember 2016, gugatan dilayangkan ke PN Bandung terhadap 335 warga yang dituduh menempati tanah secara melawan hukum.

Warga menolak. Bagi mereka, dokumen kolonial kadaluarsa sejak UUPA berlaku. Mereka sudah tinggal puluhan tahun dan mengantongi sertifikat sah. Dari penolakan itu lahirlah Forum Dago Melawan, wadah perlawanan yang berisi warga, mahasiswa, aktivis, hingga seniman.

Diskusi publik digelar, mural muncul di tembok, konser kecil diadakan. Media lokal dan nasional menyoroti konflik ini. Kampung kecil di Dago berubah jadi panggung besar perlawanan.

Pertarungan Hukum yang Panjang

PN Bandung pada 2017 mengabulkan gugatan pihak Müller. Warga dinyatakan menduduki lahan tanpa hak. Putusan itu membuat ratusan keluarga cemas kehilangan rumah. Namun perjuangan berlanjut. Banding diajukan ke Pengadilan Tinggi Jawa Barat, lalu kasasi ke Mahkamah Agung.

Pada 2019, MA menolak gugatan Müller lewat putusan Nomor 934.K/Pdt/2019. Kemenangan ini dirayakan dengan syukuran sederhana di kampung. Warga merasa keadilan berpihak. Tetapi pengalaman panjang dalam kasus agraria di Indonesia membuat mereka sadar kemenangan bisa berbalik. Mafia tanah jarang berhenti setelah satu kekalahan.

Solidaritas pun makin kuat. Seniman Bandung menggelar konser solidaritas, mahasiswa turun ke jalan, dan tagar #DagoElosMelawan bertebaran di media sosial.

Kekhawatiran warga terbukti. Pada 2022, pihak Müller mengajukan Peninjauan Kembali (PK). Hasilnya mengejutkan: putusan kasasi yang memenangkan warga dibatalkan. Putusan Nomor 109/PK/Pdt/2022 memerintahkan warga mengosongkan lahan, bahkan dengan bantuan aparat bila perlu.

Warga menilai ada kejanggalan. Akta kelahiran Müller tidak tercatat di sistem kependudukan nasional, dan dokumen eigendom tidak pernah muncul di BPN. Namun aparat tetap bersiap mengeksekusi.

Solidaritas untuk warga dalam bentuk gigs musik di Dago Elos. (Sumber: Instagram @dagomelawan)
Solidaritas untuk warga dalam bentuk gigs musik di Dago Elos. (Sumber: Instagram @dagomelawan)

Baca Juga: Sejarah Gelap KAA Bandung, Konspirasi CIA Bunuh Zhou Enlai via Bom Kashmir Princess

Puncak eskalasi terjadi 14 Agustus 2023. Warga memblokir jalan menuju kampung. Polisi merespons dengan gas air mata dan pentungan. Empat orang luka, tujuh ditangkap. Media nasional menyoroti kericuhan ini, memunculkan simpati publik. Dago Elos pun kian dikenal sebagai simbol perlawanan terhadap mafia tanah dan kekuasaan yang memihak modal.

Laporan warga akhirnya berbuah. Pada 2024, Heri Hermawan dan Dodi Rustandi Müller ditetapkan sebagai tersangka pemalsuan dokumen. Persidangan di PN Bandung membuka fakta bahwa dokumen warisan Müller penuh kejanggalan.

Pada 14 Oktober 2024, keduanya divonis 3 tahun 6 bulan penjara. Hakim menyatakan negara mengalami kerugian hingga Rp546 miliar. Putusan itu menghapus klaim Müller atas lahan Dago Elos.

Kabar tak terduga muncul tak lama kemudian. Dodi Rustandi meninggal karena serangan jantung di Rutan Kebonwaru. Status hukumnya gugur, namun kasus mafia tanah sudah terbuka terang-benderang. Warga Dago Elos merasa lega, meski tetap waspada terhadap PT Dago Inti Graha yang disebut masih punya kepentingan.

Hingga September 2025, konflik Dago Elos belum berakhir. Pada Mei, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyatakan Pemkot tidak akan menggusur warga dan siap bekerja sama dengan BPN untuk menyelesaikan alas hak. Meski begitu, PK kedua masih berjalan, dengan warga mengajukan memori PK berbasis vonis pidana Müller.

Solidaritas tetap menyala. Pada April, warga Dago Elos mendukung perjuangan warga Sukahaji dan kasus sengketa lahan SMAN 1 Bandung. Pada Mei, mereka ikut aksi May Day 2025, menuding mafia tanah sebagai biang konflik agraria.

Gelaran seni dan budaya menjadi sarana lain. All Ages Vol. 2 – Solidaritas Dago Elos pada 7 September 2025 menghadirkan konser, bazar, dan diskusi. Dua minggu kemudian, aksi September Hitam digelar dengan yel-yel “Dago Melawan Tak Bisa Dikalahkan.”

Selama sembilan tahun, konflik ini menghadirkan drama panjang: dari ruang sidang, jalanan penuh demonstran, hingga panggung musik. Dago Elos kini identik dengan perlawanan agraria.

Baca Juga: Sejarah Kegagalan Program Pembersihan Sungai Citarum, dari Orde Baru sampai Era Jokowi

Jadi Simbol Perlawanan

Dago Elos kini melampaui batas kampung di Bandung utara. Konflik ini menjadi rujukan dalam memahami sengketa agraria di Indonesia. Ada kesamaan dengan kasus Rempang di Kepulauan Riau atau Bara-Baraya di Makassar: rakyat kecil berhadapan dengan modal besar dan negara yang sering kali absen.

Puluhan warga Dago Elos yang tergabung dalam Forum Dago Melawan melakukan aksi memperingati hari buruh internasional atau MayDay di Taman Cikapayang, Kota Bandung, Rabu 1 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Puluhan warga Dago Elos yang tergabung dalam Forum Dago Melawan melakukan aksi memperingati hari buruh internasional atau MayDay di Taman Cikapayang, Kota Bandung, Rabu 1 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Yang membuat Dago Elos menonjol adalah daya tahan warganya. Mereka tidak hanya mengandalkan jalur hukum, tetapi juga solidaritas sosial dan budaya. Aksi seni, mural, konser, hingga sidang rakyat menjadikan perlawanan mereka penuh warna. Bandung, kota yang terkenal kreatif, memberi sentuhan khas pada konflik agraria ini.

Walau jalannya masih panjang, Dago Elos sudah tercatat dalam sejarah perlawanan agraria Indonesia. Dari lembaran eigendom verponding abad ke-19 hingga aksi September Hitam abad ke-21, kisahnya menunjukkan rakyat kecil bisa melawan, bahkan ketika berhadapan dengan modal besar dan dokumen kolonial yang dihidupkan kembali.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)