Sejarah Kegagalan Program Pembersihan Sungai Citarum, dari Orde Baru sampai Era Jokowi

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Sungai Citarum lautan sampah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Sungai Citarum lautan sampah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

AYOBANDUNG.ID - Sungai Citarum adalah sungai yang panjangnya kira-kira 300 kilometer, membelah Jawa Barat dari hulu di Gunung Wayang sampai bermuara ke Laut Jawa. Ia bukan sungai sembarangan. Airnya menyuplai Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur yang memasok listrik dan air bersih jutaan orang, dari orang Bandung yang doyan ngopi sampai orang Jakarta yang tak pernah mau tahu asal-usul air minumnya. Sawah-sawah di Karawang, Indramayu, sampai Subang juga hidup dari irigasi Citarum.

Tapi, seperti banyak sungai di negeri berkembang, nasib Citarum berubah tragis. Ia bukan lagi sungai yang jernih seperti digambarkan dalam buku geografi zaman SD. Sejak akhir 1980-an, ia mendapat gelar tidak resmi: salah satu sungai paling tercemar di dunia. Warna airnya kadang cokelat, kadang hijau, bahkan bisa ungu atau merah muda jika pabrik tekstil sedang rajin membuang limbah. Bau anyirnya bisa bikin siapa saja yang lewat ingin cepat-cepat menutup hidung.

Citarum adalah wajah pembangunan ala Indonesia: di atas kertas gagah, di lapangan bikin pusing kepala. Sejak Orde Baru hingga Jokowi, ia sudah berkali-kali dijanjikan untuk dibersihkan. Dari program Prokasih, Citarum Bergetar, Citarum Bestari, sampai Citarum Harum. Namanya keren-keren, tapi hasilnya lebih mirip cerita sinetron panjang yang tak kunjung tamat.

Baca Juga: Bandung Teknopolis di Gedebage, Proyek Gagal yang Tinggal Sejarah

Dari Prokasih yang Gagal Tegas sampai Bestari yang Setengah Hati

Tahun 1989, Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup meluncurkan Program Kali Bersih (Prokasih). Orde Baru kala itu sedang rajin membuat proyek akbar. Dari program keluarga berencana sampai program transmigrasi, semua diatur dari pusat. Jadi, membersihkan sungai pun tak ketinggalan. Prokasih melibatkan banyak sungai, dan Citarum termasuk prioritas.

Konsepnya sederhana: industri wajib mengolah limbah sebelum dibuang. Ada standar kualitas air, ada inspeksi, dan ada target hingga 2005. Kalau ini dijalankan dengan serius, mungkin Citarum bisa lebih bersih dari sekarang. Sayangnya, Orde Baru punya penyakit klasik: suka keras kepada rakyat kecil, tapi lembek kepada pengusaha besar.

Pabrik tekstil di sepanjang Bandung Raya tetap membuang limbah cair penuh zat kimia. Warnanya kadang lebih cantik dari cat dinding, tapi jelas tidak baik buat ikan. Prokasih lebih banyak berhenti di slogan ketimbang aksi nyata. Pihak industri dilindungi, aparat tak berani menindak, sementara masyarakat dibiarkan percaya bahwa gotong royong mengangkat sampah plastik bisa menyelesaikan masalah.

Pada 1990-an, kualitas air Citarum tetap saja buruk. Ia tidak lagi sekadar “tercemar ringan,” tapi naik kelas menjadi “cemar berat.” Istilah ilmiahnya mungkin terdengar keren, tapi artinya sederhana: airnya tidak bisa dipakai, bahkan untuk mandi sekalipun. Prokasih pun menjadi contoh awal bagaimana proyek lingkungan di Indonesia bisa gagal sebelum sempat berbuah.

Reformasi 1998 membawa angin baru. Gubernur Jawa Barat kala itu meluncurkan Citarum Bergetar sekitar 2001. Namanya heroik: Bergetar, seolah-olah seluruh Jawa Barat siap bergerak. Program ini mencoba memperbaiki DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum lewat reboisasi lahan gundul, pengerukan sedimentasi, dan pembersihan spot-spot tertentu.

Baca Juga: Sungai Citarum Diterjang Banjir Sampah, Hanyut dalam Tumpukan Program

Sungai Citarum lautan sampah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)
Sungai Citarum lautan sampah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)

Problemnya, program ini miskin anggaran. Bergantung pada APBD, tanpa sokongan besar dari pusat atau swasta. Skalanya pun kecil. Pembersihan dilakukan di beberapa titik, tapi sungai sepanjang 300 kilometer jelas terlalu luas untuk sekadar mengandalkan kerja bakti massal.

Selain itu, perilaku masyarakat tidak berubah. Orang tetap buang sampah ke sungai, dari kasur butut sampai popok sekali pakai. Di hulu, deforestasi jalan terus. Industri tetap melenggang. Alhasil, Citarum Bergetar lebih seperti kampanye politik lokal ketimbang program penyelamatan lingkungan yang serius.

Sepuluh tahun berselang, 2013, muncul Citarum Bestari. Program ini didesain lebih modern, katanya belajar dari kegagalan sebelumnya. Ada pembangunan IPAL komunal, ada reboisasi, ada kampanye edukasi di sekolah, bahkan ada dana triliunan rupiah.

Untuk sesaat, optimisme muncul. Di beberapa titik memang ada perbaikan. Beberapa IPAL dibangun, masyarakat diajak ikut menanam pohon. Namun, pola lama kembali muncul: koordinasi antarinstansi buruk, pengawasan lemah, dan industri tetap jadi raja. Banyak IPAL tidak berfungsi, pohon yang ditanam tidak dipelihara, dan warga masih membuang sampah sembarangan.

Bestari akhirnya jadi transisi gagal. Ia bukan total bencana, tapi juga tidak menyelesaikan masalah. Sungai tetap bau, air tetap tercemar, dan predikat “sungai paling kotor” tetap melekat.

Jokowi, Tentara, dan Janji Sungai Harum

Pada 2018, Presiden Joko Widodo memutuskan turun tangan langsung. Ia meluncurkan Citarum Harum lewat Perpres No. 15/2018. Program ini jelas-jelas lebih ambisius daripada pendahulunya. Targetnya dalam tujuh tahun: air Citarum bisa diminum langsung.

Bedanya, Jokowi menurunkan TNI ke lapangan. Tentara diperintahkan mengawasi pabrik, membersihkan sungai, bahkan patroli di bantaran. Pendekatannya militeristik: disiplin dan cepat. Dunia internasional sempat terkesima, apalagi Citarum Harum dipamerkan di berbagai forum air global.

Dana yang digelontorkan pun fantastis: hingga Rp15 triliun. Infrastruktur dibangun, mulai dari IPAL besar, normalisasi sungai, reboisasi lahan kritis, hingga program edukasi masyarakat. Sesekali publikasi menampilkan prajurit TNI mengangkat kasur busuk dari sungai, atau menertibkan warga yang buang sampah.

Baca Juga: Tragedi Longsor Sampah Leuwigajah 2005: Terburuk di Indonesia, Terparah Kedua di Dunia

Presiden RI, Joko Widodo meninjau titik nol Sungai CItarum di Desa Tarumajaya, Kertasari, Kabupaten Bandung, saat peresmian Citarum Harum 22 Februari 2018. (Sumber: Biro Setpres)
Presiden RI, Joko Widodo meninjau titik nol Sungai CItarum di Desa Tarumajaya, Kertasari, Kabupaten Bandung, saat peresmian Citarum Harum 22 Februari 2018. (Sumber: Biro Setpres)

Tapi, seiring waktu, janji besar itu mulai menguap. Pada 2024, laporan menunjukkan Indeks Kualitas Air memang membaik sedikit: dari cemar berat jadi cemar sedang. Tapi target air minum masih jauh. Hanya sekitar 20 persen pabrik yang punya IPAL memadai. Limbah domestik tetap menumpuk. Sampah plastik kembali menghiasi permukaan sungai, seperti tidak pernah ada tentara yang diturunkan.

Tak sedikit yang menyebut program ini gagal total. Alasannya klasik: anggaran tidak transparan, penegakan hukum lemah, partisipasi masyarakat minim, dan pendekatannya terlalu top-down. Pada Februari 2025, program resmi berakhir. Pengelolaan diserahkan kembali ke pemerintah daerah tanpa evaluasi independen.

Citarum Harum akhirnya lebih mirip proyek mercusuar. Ada kemajuan, tetapi tidak sesuai janji. Sungai memang tidak lagi sekotor dulu, tapi jauh dari layak minum. Sungai itu tetap bau, tetap kotor, dan tetap jadi bukti bahwa jargon politik lingkungan di negeri ini sering berakhir sebagai pepesan kosong.

Pada akhirnya, sejarah Citarum adalah sejarah kegagalan kolektif. Pemerintah gonta-ganti program, tapi masalah intinya tidak pernah disentuh serius: penegakan hukum terhadap industri nakal dan perubahan perilaku masyarakat. Dari Orde Baru sampai Jokowi, pola kegagalannya sama: lebih banyak pidato daripada aksi, lebih banyak proyek daripada perawatan.

Sungai Citarum seolah-olah menertawakan semua janji itu. Ia tetap keruh, tetap berbau, tetap jadi etalase betapa susahnya Indonesia mengurus lingkungannya sendiri. Program datang dan pergi, tapi sampah dan limbah tetap mengalir.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)