Wayang Windu Panenjoan, Tamasya Panas Bumi Zaman Hindia Belanda

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Wayang Windu Panenjoan. (Sumber: Tiktok @wayangwindupanenjoan)
Wayang Windu Panenjoan. (Sumber: Tiktok @wayangwindupanenjoan)

AYOBANDUNG.ID - Wayang Windu Panenjoan hari ini identik dengan pemandangan kebun teh yang menenangkan. Di media sosial, tempat ini tampil sebagai lokasi yang membuat siapa pun merasa sudah cukup bahagia hanya dengan berdiri di atas jembatan kayu sambil memandangi kabut yang bergulung lambat. Padahal dulunya, sebelum menjadi ajang swafoto, kawasan ini lebih sering didekati dengan langkah ragu, terutama oleh mereka yang mendengar cerita tentang kawah panas, uap putih, dan aroma yang tidak pernah sopan kepada hidung.

Kawasan Wayang dan Windu berada di dataran tinggi yang tidak pernah benar-benar tenang. Di balik hamparan hijau yang hari ini terasa jinak tersimpan sejarah panjang tentang tanah yang berdenyut, batuan yang memucat oleh uap belerang, dan jalur setapak yang pernah membuat orang Eropa merasa sedang menjalani ujian ketahanan tubuh dan mental. Para pelancong dari benua lain datang bukan demi pemandangan yang instagramable, melainkan demi sensasi yang mengingatkan bahwa bumi Priangan punya dapur panas sendiri.

Pandangan orang Eropa terhadap Wayang Windu mulai tercatat rapi ketika buku panduan wisata Gids van Bandoeng en Midden-Priangan terbit tahun 1927. Buku ini menjadi semacam pedoman resmi bagi siapa pun yang mengaku petualang dan ingin mengetahui apa saja yang tersembunyi di balik udara dingin Pangalengan. Meski namanya Wayang Windu Panenjoan belum populer saat itu, kawasan yang dikenal luas adalah Kawah Wayang yang berada dalam satu rangkaian lanskap yang kini dikunjungi ribuan orang setiap akhir pekan.

Baca Juga: Gunung Tangkubanparahu, Ikon Wisata Bandung Sejak Zaman Kolonial

Panduan itu menyarankan rute yang terdengar santai kalau dibaca sambil duduk, tapi terasa sangat berbeda ketika dijalani. Perjalanan dimulai dari Pengalengan melewati jalur yang disebut Syndicaatsweg. Dari sana, wisatawan harus menyeberangi jurang Tjibeureum yang cukup membuat tapak sepatu mendadak terasa licin. Setelah itu barulah mereka tiba di Kertamanah, perkebunan kina yang bertengger di ketinggian 1552 meter dengan pohon-pohon kina tua peninggalan Junghuhn. Pada masa itu, tidak ada yang datang ke sini hanya untuk foto. Mereka datang untuk merasakan apa itu udara yang bercampur antara dingin dataran tinggi dan hangat sulfur yang merambat pelan.

Perjalanan sesudah Kertamanah memaksa turis Eropa melepaskan segala kenyamanan. Jalan kaki menjadi satu-satunya cara mencapai kawasan kawah, karena akses kendaraan tidak selalu dibuka administratur perkebunan. Selama berjalan, para pelancong akan menemui sungai kecil yang mengalir cepat, awal dari Sungai Cisangkuy. Airnya tenang di dekat hutan, tapi berubah liar saat memasuki lembah Bandung.

Setapak menuju kawah dipenuhi pakis raksasa, pohon puspa menjulang, dan anggrek jatuh yang menghadirkan drama kecil di jalur perjalanan; seperti kalau hujan turun, bukan hanya sepatu yang basah, tapi juga ego para turis yang menganggap diri lebih kuat dari alam tropis.

Baca Juga: Tamasya Bandung Tempo Dulu, Curug Jompong dalam Imajinasi Kolonial

Gunung Wayang dan Windu. (Sumber: Tropenmuseum)
Gunung Wayang dan Windu. (Sumber: Tropenmuseum)

Baru setelah berjalan kira-kira satu jam lebih, Kawah Wayang menampakkan dirinya. Inilah titik di mana langkah orang Eropa berubah dari gagah menjadi ragu. Kawah itu berwarna keputihan, memantulkan cahaya seperti batu kapur yang sedang terkena sorotan panggung. Uap belerang keluar dari celah-celah tanah, menimbulkan suara desis yang konstan, seolah kawah sedang mengeluh tetapi enggan diam. Aliran kecil bernama Cikesed membawa air asam berwarna abu-abu keruh dengan suhu yang kadang mencapai 90 derajat Celsius. Tidak sedikit turis yang harus menahan diri agar tidak terlalu dekat, karena satu langkah ceroboh bisa mengubah perjalanan wisata menjadi kunjungan medis darurat.

Di banyak tempat, tanah mengeluarkan uap panas yang membawa bunga-bunga belerang berwarna kuning muda, menempel pada batu seperti dekorasi alami. Pada solfatara yang lebih besar, batuan trakit berubah warna akibat endapan yang dibawa uap vulkanik. Pemandangan ini membuat para pelancong Eropa merasa sedang mengunjungi laboratorium geologi yang terbuka lebar tanpa pintu dan tanpa aturan keselamatan kerja.

Sulfatara Kawah Manuk menjadi atraksi alami yang istimewa. Dari sini, awan putih terus naik tanpa jeda, seperti cerobong raksasa yang tak pernah kehabisan tenaga. Tidak jauh dari situ terdapat Kawah Seeng, yang menyambut pengunjung dari jalur hutan dengan suara dan aroma khasnya. Kawasan ini berada pada ketinggian sekitar 1900 meter, dan dari atasnya terlihat dataran Pangalengan yang hijau dengan kilau Situ Cileunca di kejauhan, memberikan kontras yang memanjakan mata setelah berjam-jam berada di antara batuan panas.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Wisata Bandung Zaman Kolonial, Plesiran Orang Eropa dalam Lintasan Sejarah

Turis yang lebih tertarik sejarah ketimbang geologi juga tidak pulang dengan tangan kosong. Di punggungan Gunung Wayang terdapat batu-batu kasar yang dipahat dan kumpulan penanda kubur tua, bukti bahwa kawasan ini telah dihuni sejak era Hindu. Temuan seperti kapak batu, pecahan tembikar, sampai martavan kuno memperkuat kesan bahwa jalur beruap ini tidak hanya menyuguhkan panas bumi, tetapi juga jejak manusia masa lalu. Namun bagi pemandu lokal, kawasan itu keramat; mereka sering pura-pura tidak tahu lokasinya ketika ditanya, membuat turis Eropa kadang tersesat bukan karena alam, tetapi karena tradisi menjaga batas kesakralan.

Dengan segala ceritanya, Wayang Windu Panenjoan hari ini terlihat sangat jinak dibanding versi yang dicatat dalam panduan wisata kolonial. Dulu, orang Eropa datang dengan rasa penasaran yang besar, siap menghadapi bau belerang, jalur menanjak, dan batuan panas. Sekarang, orang datang dengan kamera ponsel yang baterainya harus penuh. Namun satu hal tidak berubah: pesona Wayang Windu tetap bertahan, entah sebagai laboratorium geologi yang beruap atau sebagai panggung panorama yang membuat siapa pun merasa sedang berdiri di tempat yang sudah lama mengundang kagum para pendatang dari jauh.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 07 Agu 2026, 15:20

Jelajah Sungai Cigerendong, Surga Tersembunyi di Dusun Cukanggaleuh Pangandaran

Jelajahi Sungai Cigerendong di Desa Parakanmanggu dengan air jernih berwarna toska, pepohonan rindang, dan suasana yang masih alami.

Sungai Cigerendong Pangandaran. (Sumber: TikTok @cigerendongpangandaran)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 13:53

Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan

Apakah masyarakat kita memang masih menonton film di bioskop dengan cara yang sama seperti sebelumnya?

Ilustrasi Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan. (Sumber: Mochamad Arbani)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 11:58

Cipatat dan Krisis Kesehatan yang Tak Terlihat

Negara wajib memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dibangun di atas kesehatan dan penderitaan masyarakat. 

Beberapa truk bayawak pengangkut batu kapur terparkir di wilayah Cipatat Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ananda)
Ikon 07 Agu 2026, 11:15

Alun-alun Kota Cimahi, Pusat Pertemuan antara Warga dengan Ojol

Alun-alun Kota Cimahi menjadi pusat aktivitas warga, tempat bersantai, berolahraga, hingga titik berkumpul para driver ojol.

Rindang, strategis, dan nyaman, Alun-alun Kota Cimahi menjadi ruang publik sekaligus titik berkumpul para driver ojol setiap hari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 08:40

Saat Pohon Tumbang dan Rasa Aman Dipertaruhkan

Bandung sedang menghadapi ujian besar. Ujian yang menuntut respons yang tegas, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) melakukan pemangkasan sejumlah pohon di ruas jalan Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 20:09

Menyambut Hari Kemerdekaan 2026, Deretan Ide Tulisan dari Semangat Kemerdekaan hingga Dinamika Kota Bandung

Tema tulisan tetap tidak dibatasi. Selama relevan dengan isu yang berkembang, setiap penulis bebas menentukan sudut pandang yang ingin diangkat.

Warga Kampung Pengkolan Pasang Bendera Merah Putih Sepanjang 540 Meter pada tahun 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 18:33

Rahasia Komunikasi Digital yang Bikin Sebuah Merek Kecantikan Mudah Diingat

Menganalisis komunikasi iklan melalui website resmi dan media sosial Instagram yang menunjukkan adanya upaya perusahaan dalam membangun komunikasi yang saling terhubung.

Ilustrasi komunikasi digital merek kecantikan.
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 18:07

Jelajah Gunung Salak Bogor: Pendakian, Kawah Ratu, Harga Tiket, dan Cara Booking Online

Panduan lengkap Gunung Salak mulai jalur pendakian, Kawah Ratu, harga tiket, booking online, hingga cara menuju kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Gunung Salak Bogor. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 16:17

Berita Yudha: Potret Sejarah dari Lembaran Surat Kabar Lawas

Kini, setelah 56 tahun berlalu, Berita Yudha tetap memiliki daya tarik yang kuat sebagai sumber sejarah.

Surat kabar Berita Yudha, salah satu harian berpengaruh pada era Orde Baru yang diterbitkan oleh TNI Angkatan Darat. (Sumber: Koleksi: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 15:59

Curug Panetean Tasikmalaya, Surga Tersembunyi dengan Leuwi Jernih

Temukan pesona Curug Panetean yang terkenal dengan kolam batu alami, air sejernih kaca, dan pengalaman berendam di tengah alam.

Curug Panetean Tasikmalaya. (Sumber: Instagram @r_dony26)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 15:27

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (bagian 1)

Hal-hal yang jarang diketahui khalayak menjelang proklamasi kemerdekaan pada 1945 di Kota Bandung.

Menjelang masa agresi militer di Bandung 1945- 1946. (Sumber: Album Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 14:43

Pabrik Boleh Berpindah, tetapi Kehidupan Buruh Tidak Semudah Itu Dipindahkan

Kala terjadi PHK, opsi untuk beralih profesi tidak selalu terbuka luas. Ini membuat ketergantungan pada industri garmen semakin kuat, sekaligus mempersempit ruang negosiasi buruh.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Agu 2026, 11:40

Jelajah Cigondewah, Pusat Perdagangan Kain Kerakyatan di Bandung

Cigondewah menjadi pusat kain di Bandung sejak 1980-an. Ketahui sejarah, daya tarik, dan perkembangan bisnis tekstilnya.

Cigondewah Bandung, pusat belanja kain eceran hingga grosir yang legendaris. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 11:26

Mahalnya Ongkos Kemerdekaan

Negeri kita memiliki sejarah yang wajib diproklamirkan tidak hanya di bulan kemerdekaan. Sejatinya mesti dijaga dan dirawat dengan sangat baik di pikiran bukan sekadar di buku pelajaran.

Beragam bendera merah putih yang dijual para pedagang selama bulan Agustus. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 08:33

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 2): Kesegaran Tradisi dan Kekayaan Cita Rasa

Berikut adalah 5 hidangan berikutnya dari daftar 10 kuliner Jawa Barat terbaik versi Taste Atlas.

Karedok (salad sunda) di Indonesia. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)